Yang Di Atas

Bertujuan untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah

Sering kita dengar ungkapan untuk menyerahkan sesuatu kepada Allah ta’ala dengan ungkapan “serahkan sama Yang di atas”

“di atas” bukan dalam pengertian tempat atau arah ataupun jarak karena Allah ta’ala tidak diliputi ruang maupun waktu

“di atas” maksudnya adalah “Uluww al-Martabah”, “علوّ المرتبة”; “derajat yang tinggi” untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah

Ulama Hanbali yang ternama, Al-Imam al-Hafizh al Alamah Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin al-Jawzi as- Shiddiqi al-Bakri atau yang lebih dikenal dengan Ibn al Jawzi dalam kitab berjudul Daf’u syubah at-tasybih bi-akaffi at-tanzih contoh terjemahannya pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2012/12/dafu-syubah-imam-ibn-al-jauzi.pdf meluruskan kesalahpahaman ulama Hanbali lainnya seperti

1. Abu Abdillah al-Hasan bin Hamid bin Ali al-Baghdadi al-Warraq, wafat 403 H, guru dari Abu Ya’la al-Hanbali
2. Muhammad bin al Husain bin Muhammad bin Khalaf bin Ahmad al-Baghdadi al-Hanbali, dikenal dengan sebutan Abu Ya’la al-Hanbali. Lahir tahun 380 H, wafat 458 H
3. Abu al-Hasan Ali bin Abdullah bin Nashr az-Zaghuni al-Hanbali, wafat 527 H

Ibn al Jawzi menjelaskan contoh kesalahpahaman mereka sebagai berikut

***** awal kutipan ***** Continue reading

Menghapus File yg Tidak bisa dihapus

“Memori gue banyak kesedot file yang gak bisa dihapus, gimana dong?” Pertanyaan ini sempat menggelayuti saya untuk beberapa waktu. Coba klik kanan cari kemungkina menghilangkan ‘lock’-nya kemudian coba hapus lagi. Gatot alias gagal total. Tidak bisa dan file tersebut tetap nongkrong dengan manis di tempat semula. Coba lagi dengan cara memindahkan ke folder lain. File ke copy ke tempat lain namun tetap tidak bisa dihapus. Ugghhh… bikin kesal!

Sebenarnya file/folder tidak bisa dihapus disebabkan infeksi virus. Menjengkelkan karena virus tidak/belum bisa dihapus. Yang lebih menjengkelkan file yang terjangkit virus juga ikut2an tidak bisa dihapus. Ada beberapa pesan yang muncul seperti yang saya copy-paste dari blog Agungmacnet.blogspot.com :

- Cannot delect File: It is being used by another person or program. Close any programs that might be using the file and try again.
- Cannot delete file: the file is in use by the other program
- Cannot delete file: There has been a sharing violation
- Cannot delete file: The file is in use by another program or user
- Cannot delete file: Disk is not full or write-protected and that the file is not currently in use
- Cannot delete file: The source or destination file may be in used

Masalahnya adalah file itu kadang-kadang adalah file sistem yang juga berbahaya bagi sistem operasi ketika dibuang. Untuk itu lakukan langkah-langkah dibawah ini:

1. download software freeware “Unlocker” (Silakan donwload di sini)
2. Jalankan set up ‘Unlocker
3. Setelah diinstall, cari file yang ingin di-delete, klik kanan pada file tersebut dan pilih ‘Unlocker’.
4. Selanjutnya Anda akan diberi tahu bahwa file itu sedang digunakan oleh program yang lain.
5. Sekarang klik ‘Unlock all’ dan Anda akan diberi akses untuk mendelete file tersebut.

Berbekal informasi dari blog mas Agungmacnet tsb, saya segera download dan install di laptop. Ikuti instruksi yg diberikan, hasilnya terhapus! Alhamdulillah memory yang terpakai dan file/folder yang lama ‘ngendon’ di laptop bisa dihapus dengan sempurna. Tidak perlu jampi2 atau cipratan air sumur kembang setaman :) Selamat menikmati…

Syaikh Ibnu Taimiyah Al Harrani

Masih banyak dikalangan orang awam menyebut Ibnu Taymiyyah dengan sebutan Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah, namun apa yang terjadi dikalangan Para ‘Ulama/ silahkan simak berikut:

الحافظ السخاوي في كتابه الضوء اللامع في أعيان القرن السابع يقول بأن الفقيه الحنفي علاء الدين البخاري قال : من سمّى ابن تيمية شيخ الاسلام فهو كافر ( أي الذي يعرف من هو ابن تيمية ويعرف ضلالاته ثم قال عنه شيخ الاسلام هذا يكفر .)

“Siapa yang menyebutkan ibnu taimiyah dengan Syaikhul islam maka ia telah KAFIR!, tegasnya sebagaimana yang telah diketahui, dimana Ibnu Taymiyyah berpijak setelah diketahui pula kesesatannya?”

Didalam kitabya yang berjudul ( الدرر الكاملة ) betapa seriusnya Imam Ibnu Hajar mengomentari Ibnu Taymiyah, sebagai contoh, bagai mana Ibnu Taymiyyah ini meremehkan atau menghina sahabat yang mulia dan yang telah di beri kabar gembira dengan surga..

ذكر الحافظ ابن حجر العسقلاني – أن العلماء نسبوا ابن تيمية إلى النفاق لقوله في علي كرم الله وجه ما يأتي :

* إن عليا أخطأ في سبعة عشر شيئا خالف فيها النص .( الدرر الكاملة 1/155

“Telah menceritakan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani ” Sesunguhnya Para Ulama Telah menisbatkan (MENYEBUT) Ibnu Taymiyyah kepada (GOLONGAN) orang2 munafiq karena ucapa beliau (Ibnu Taymiyyah) atas Ali “Sesungguhnya Ali telah Salah di 17 perkara Yang bertentangan dengan nas (Al-Qur’an(“

قال الحافظ في الدرر الكامنة(1/154) إن ابن تيمية خطأ عمر في شيء . وقال أيضا : إن عثمان كان يحب المال (1/155

“Ibnu Taymiyyah menyalahkan Umar dalah suatu perkara…dan berkata Ibnu Taymiyyah “Sesungguhnya Usman mencintai Harta“ Continue reading

Hadits Jariyah Menurut Imam Nawawi

Sebuah Hadits yang biasa digunakan Salafi Wahabi untuk menipu ummat demi membenarkan aqidah sesat mereka, siasat sesat ini memang sangat efektif untuk menyesatkan orang awam, karena mereka berdusta atas nama Rasulullah SAW, yaitu satu kisah seorang hamba (jariyah) yang terdapat dalam satu Hadits, ketika Rasul bertanya kepada hamba tersebut “Dimana Allah” lalu hamba tersebut menjawab “di atas langit”. Tentu saja bila diartikan dengan hawa nafsu, kisah tersebut sudah cukup meyakikan bahwa “Allah berada di atas langit” dengan tanpa menghiraukan bagaimana pemahaman dan penjelasan para ulama tentang kisah jariyah tersebut, dan ternyata tidak ada satupun ulama salaf atau khalaf yang berdalil dengan kisah jariyah ini seperti cara berdalil nya Salafi Wahabi, bahkan kisah jariyah tersebut terdapat kontroversi yang banyak baik pada sanad nya maupun pada matan nya, dan terlepas dari segala kontroversi yang ada pada nya, bila ingin berpegang dengan kisah tersebut, tentu harus melihat dan mempertimbangkan bagaimana cara Ulama memahami kisah jariyah itu, kecuali bagi mereka yang lebih mendahulukan hawa nafsu nya atas pemahaman para Ulama.

Imam Nawawi menuliskan tentang pemahaman kisah jariyah menurut Ahlus Sunnah dalam Syarah Shohih Muslim jilid 5 halaman 24 sebagai berikut :

 هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الايمان أحدهما الايمان به من غير خوض في معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات والثاني تأويله بما يليق به فمن قال بهذا قال كان المراد امتحانها هل هي موحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده وهو الذي اذا دعاه الداعي استقبل السماء كما اذا صلى المصلي استقبل الكعبة وليس ذلك لأنه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة بل ذلك لأن السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين أو هي من عبدة الأوثان العابدين للأوثان التي بين أيديهم فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان قال القاضي عياض لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالى أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليست على ظاهرها بل متأولة عند جميعهم

“Hadits ini sebagian dari Hadits-Hadits sifat, dan tentang nya ada dua Madzhab yang telah disebutka beberapa kali pada bab Iman, yang pertama adalah beriman dengan nya tanpa masuk dalam makna nya, serta meyakini bahwa Allah taala tidak sama dengan sesuatu pun, dan mensucikan-Nya dari tanda-tanda makhluk, dan yang kedua adalah menta’wilnya dengan makna yang layak dengan Allah, maka orang yang berpendapat dengan pendapat ini (pendapat Ta’wil) berkata maksud Hadits tersebut adalah menguji nya (mencari tahu) adakah ia seorang yang bertauhid yang mengakui bahwa yang menciptakan lagi yang mengatur lagi yang maha perkasa adalah Allah semata, dan Dia Allah apabila seorang berdoa kepada-Nya, ia menghadap (tangan nya) ke langit, sebagaimana bila seorang sholat, ia menghadap (dada nya) ke Ka’bah, dan bukanlah demikian karena bahwa Allah berada di langit sebagaimana Allah tidak berada di arah Ka’bah, tetapi demikian karena bahwa langit adalah Kiblat orang berdoa, sebagaimana bahwa Ka’bah adalah Kiblat orang sholat , ataukah ia adalah sebagian dari penyembah berhala yang ada di hadapan mereka, maka manakala ia menjawab “atas langit” Rasulullah tahu bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah bukan penyembah berhala. berkata al-Qadhi ‘Iyadh : tidak ada khilaf antara kaum muslimin seluruhnya, baik ulama fiqih, dan ulama Hadits, dan ulama Tauhid, dan Mujtahid dan Muqallid, bahwa makna dhohir yang datang dengan menyebutkan Allah taala di langit seperti firman-Nya “adakah kamu merasa aman dengan yang (berkuasa) di langit ….dan seterusnya“dan seumpama nya, bukanlah maksud sebagaimana dhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua kaum muslimin”.

PERHATIKAN SCAN KITAB DI BAWAH INI

هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الايمان

“Hadits ini sebagian dari Hadits-Hadits sifat, dan tentang nya ada dua Madzhab yang telah disebutka beberapa kali pada bab Iman”

Maksudnya : Nash-nash tentang sifat Allah, baik Hadits atau Al-Quran, ada dua pendapat yang kedua pendapat tersebut adalah pendapat Ahlus Sunnah, sementara pendapat ketiga yakni pendapat Salafi Wahabi tidak termasuk dalam salah satu dari dua Madzhab tersebut, membuktikan bahwa Salafi Wahabi bukan saja menyalahi Madzhab Salaf, tapi juga menyalahi seluruh Ahlus Sunnah baik Salaf maupun Khalaf, dan di sini dapat dipahami bahwa metode memahami ayat dan hadits sifat tidak mesti dengan satu metode yang sama, karena ini adalah masalah khilaf, dan metode Salafi Wahabi telah menyimpang dari khilafiyah.

أحدهما الايمان به من غير خوض في معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات

”yang pertama adalah beriman dengan nya tanpa masuk dalam makna nya, serta meyakini bahwa Allah taala tidak sama dengan sesuatu pun, dan mensucikan-Nya dari tanda-tanda makhluk”

Maksudnya : Madzhab atau Manhaj Ahlus Sunnah yang pertama dalam memahami nash-nash sifat adalah beriman dengan tanpa memasuki dalam pemaknaan nya, tidak mentafsirkan nya dan tidak mentakwilkan nya, artinya beriman dengan kata yang disebutkan oleh Allah untuk diri-Nya tanpa menentukan makna tertentu, serta meyakini bahwa Allah tidak sama dengan sesuatu pun, dan tidak ada sifat-sifat makhluk pada-Nya, artinya wallahu a’lam hanya Allah yang tahu dengan makna maksudnya, dan meyakini bahwa makna yang dimaksud oleh Allah adalah makna yang layak dengan keagungan-Nya, bukan makna yang terdapat keserupaan dengan makhluk, karena telah ada nash bahwa Allah tidak sama dengan sesuatu pun. Inilah Hakikat Manhaj kebanyakan para ulama Salaf, yang perlu digaris-bawahi di sini adalah “beriman dengan tidak memaknai nya” inilah yang disebut Tafwidh atau Ta’wil Ijmali. Sementara Manhaj Salafi Wahabi adalah beriman dengan makna dhohir nya. Inilah fakta penyimpangan Salafi Wahabi terhadap Manhaj Salaf.

والثاني تأويله بما يليق به

“dan yang kedua adalah menta’wilnya dengan makna yang layak dengan Allah”

Maksudnya : Madzhab atau Manhaj Ahlus Sunnah yang kedua dalam memahami nash-nash sifat adalah : Menta’wilnya atau memaknai nya dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, artinya dengan makna yang telah ada nash bahwa Allah boleh bersifat dengan sifat tersebut, inilah yang di sebut Ta’wil Tafsili, dan inilah Manhaj sebagian ulama Salaf dan Asy’ariyah dan Maturidiyah, dan Manhaj ini tidak menyalahi Manhaj pertama di atas, karena sama meyakini dengan makna yang layak dengan keagungan Allah, bedanya Manhaj pertama tidak menentukan apa makna yang layak tersebut, dan Manhaj kedua ini menentukan makna yang layak tersebut, dan Salafi Wahabi juga menyalahi Manhaj ini, bahkan mereka sangat anti dengan Manhaj ini, karena Salafi wahabi memaknainya dengan makna dhohir yang di situ terdapat penyerupaan dan tidak layak dengan keagungan Allah, dan Tasybih yang ada pada makna dhohir itu tidak akan hilang meskipun di tepis dengan seribu kali berkata “tapi tidak sama dengan kaifiyat makhluk”. Maka Manhaj Salafi Wahabi meyalahi dua Manhaj Ahlus Sunnah dalam masalah ini.

فمن قال بهذا قال كان المراد امتحانها هل هي موحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده

“maka orang yang berpendapat dengan pendapat ini (pendapat Ta’wil) berkata maksud Hadits tersebut adalah menguji nya (mencari tahu) adakah ia seorang yang bertauhid yang mengakui bahwa yang menciptakan lagi yang mengatur lagi yang maha perkasa adalah Allah semata”

Maksudnya : Setelah Imam Nawawi menguraikan dua Madzhab Ahlus Sunnah dalam menanggapi nash-nash sifat, di sini Imam Nawawi juga menjelaskan bagaimana menerapkan nya dalam masalah Hadits Jariyah ini, dan karena pada pendapat atau Madzhab yang pertama adalah “beriman dengan tidak memaknai nya” maka tidak ada penjelasan lebih lanjut untuk Madzhab pertama, maka atas Madzhab pertama ketika Rasul bertanya “aina Allah” tidak berarti Rasul bertanya dimana tempat Allah, dan juga ketika hamba tersebut manjawab “fis sama’ “ juga tidak menunjukkan Allah berada atau bersemayam di langit, karena sebagaimana telah digariskan di atas bahwa Madzhab pertama “beriman dengan tidak memaknai nya”. Imam Nawawi hanya menjelaskan panjang lebar tentang memahami Hadits Jariyah atas Madzhab yang kedua yakni “memaknai nya dengan makna yang layak” atau di sebut dengan Ta’wil Tafsili, maka maksud Rasullullah bertanya “dimana Allah” hanya untuk mengetahui apakah hamba tersebut Muslim atau Kafir, Rasulullah bukan mempertanyakan apakah ia mayakini Allah berada di langit atau meyakini Allah ada tanpa tempat atau meyakini Allah ada dimana-mana, cuma ketika Tuhan-Tuhan yang disembah saat itu adalah berhala, maka ketika ia menjawab “di atas langit” dapatlah diketahui bahwa ia bukan penyembah berhala, maka jawaban nya tersebut adalah caranya mengingkari berhala, bukan untuk menyatakan sebuah Aqidah bahwa Allah berada di atas langit.

وهو الذي اذا دعاه الداعي استقبل السماء كما اذا صلى المصلي استقبل الكعبة

“dan Dia Allah apabila seorang berdoa kepada-Nya, ia menghadap (tangan nya) ke langit, sebagaimana bila seorang sholat, ia menghadap (dada nya) ke Ka’bah”

Maksudnya : Ini adalah sebagai alasan atau hubungan kenapa ketika hamba tersebut manjawab “di atas langit”  dapatlah dipahami bahwa ia bukan penyembah berhala tapi ia adalah orang yang percaya kepada Allah, karena orang yang berdoa meminta kepada Allah, ia menggangkat tangan ke langit, tapi tidak berarti Allah berada di langit, karena ketika orang sholat menyembah Allah, justru menghadap Ka’bah, dan fakta nya Allah tidak berada di Ka’bah, begitu juga Allah tidak berada di atas langit.

وليس ذلك لأنه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة

“dan bukanlah demikian karena bahwa Allah berada di langit sebagaimana Allah tidak berada di arah Ka’bah”

Maksudnya : Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa mengangkat tangan ke langit bukan karena Allah berada di langit sebagaimana menghadap Ka’bah ketika Sholat bukan karena Allah berada di Ka’bah.

بل ذلك لأن السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين

“tetapi demikian karena bahwa langit adalah Kiblat orang berdoa, sebagaimana bahwa Ka’bah adalah Kiblat orang sholat”

Maksudnya : Kenapa mengangkat tangan ke atas langit ketika berdoa bila Allah bukan berada di atas langit, jawaban nya adalah karena langit adalah Kiblat orang berdoa sebagaimana Kiblat orang Sholat adalah Ka’bah, maka ketika Sholat menghadap Ka’bah tidak berarti Allah berada di Ka’bah, begitu juga ketika berdoa mengangkat tangan ke langit tidak berarti Allah berada di atas langit, inilah akidah Ahlus Sunnah waljama’ah, Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat, Allah tidak bertempat di langit sebagaimana Allah tidak bertempat di bumi.

أو هي من عبدة الأوثان العابدين للأوثان التي بين أيديهم

“ataukah ia adalah sebagian dari penyembah berhala yang ada di hadapan mereka”

Maksudnya : ini adalah sambungan dari ..هل هي موحدة Artinya Rasulullah bertanya kepada nya untuk mengetahui apakah ia menyembah Allah atau penyembah berhala, yang tentu saja ia akan menjawab di bumi atau di rumah nya bila ia adalah penyembah berhala.

فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان

“maka manakala ia menjawab “atas langit” Rasulullah tahu bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah bukan penyembah berhala”

Maksudnya : Dari jawaban hamba tersebut “di atas langit” Rasulullah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang percaya kepada Allah, dan inilah tujuan Rasullah bertanya “dimana Allah”. Rasulullah ingin mengetahui Islamkah dia atau bukan, Rasulullah bukan ingin mengetahui bertauhidkah dia atau tidak, dan hubungan nya sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa Allah memerintahkan orang berdoa mengangkat tangan ke atas langit ketika berdoa, dan ini bukan berarti Allah berada di atas langit, maka ketika hamba tersebut menjawab kepada Rasulullah dengan “di atas langit”  maka Rasulullah tahu bahwa ia beriman kepada Allah, maka Hadits ini bukan sebagai bukti atau dalil bahwa Allah berada di atas langit.

قال القاضي عياض لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالى أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليست على ظاهرها بل متأولة عند جميعهم

“berkata al-Qadhi ‘Iyadh : tidak ada khilaf antara kaum muslimin seluruhnya, baik ulama fiqih, dan ulama Hadits, dan ulama Tauhid, dan Mujtahid dan Muqallid, bahwa makna dhohir yang datang dengan menyebutkan Allah taala di langit seperti firman-Nya “adakah kamu merasa aman dengan yang (berkuasa) di langit ….dan seterusnya“dan seumpama nya, bukanlah maksud sebagaimana dhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua kaum muslimin”.

Maksudnya : Sebagai penguat sekaligus rujukan terhadap apa yang telah diuraikan oleh Imam Nawawi, beliau menampilkan pernyataan al-Qadhi ‘Iyadh tentang kata “fis sama’ “ yang ada dalam al-Quran, al-Qadhi ‘Iyadh berkata : tidak ada khilaf atau telah Ijma’ semua Ulama bahwa makna dhohir dari ayat yang menunjukkan Allah di atas langit bukan maksud dhohir nya, tetapi dita’wilkan menurut semua Ulama, artinya Ijma’ wajib Ta’wil nash-nash Mutasyabihat, baik dengan Ta’wil Ijmali (Tafwidh) atau dengan Ta’wil Tafsili, dan memahami dan beriman dengan makna dhohir sebagaimana Manhaj Salafi Wahabi berarti telah melangkahi Ijma’ dan melangkahi pemahaman Ulama demi pemahaman sendiri, dan dari uraian di atas dapatlah dipastikan bahwa tidak ada satu pun Ulama Salaf dan Khalaf yang berdalil dengan Hadits jariyah seperti cara berdalil nya Salafi Wahabi, tidak ada satupun Ulama Salaf atau Khalaf yang mengatakan bahwa Hadits Jariyah adalah dalil Allah bersemayam di atas langit, na’uzubillah

Maha suci Allah dari arah dan tempat.

source : suaraaswaja

Pandangan Mengenai ‘Dimana Alloh’ antara Ahlus Sunnah dan Wahhabiyah

Dalam video yang di-upload di youtube ini ditampilkan antara dua pendapat yang belakangan hangat dibicarakan, yakni mengenai AYNA ALLOH atau Dimana Alloh SWT. Dalam video yang berdurasi selama 8 menit dan 6 detik dijelaskan mengenai pandangan antara Ahlus Sunnah dan Wahhabiyah terkait dengan hal yang sangat asasi ini. Keduanya melandaskan apa yang dibicarakannya dengan Al Qur’an dan Hadits Rasululloh SAW. Yang membedakannya dalam video ini adalah rujukan yang menjadi penjelas dari apa yang disampaikan.

Seperti yang kita sering dengan bahwa Wahhabi keukeuh (bersiteguh/istiqomah) Alloh ada di langit berdasarkan hadits Jariyah ketika Rasul SAW bertanya kepada seorang budak wanita tentang Ayna Alloh? (Dimana Alloh?) Maka jariyah tersebut menunjuk ke arah langit. Lantas Rasul SAW bertanya kembali man ana? (Siapa aku?) Maka dijawab : Anta Rasululloh (Engkau Rasululloh). Kemudian syaikh Jiel Shadiq menjelaskan tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan hadits jariyah ini. Syaikh Jiel Shadiq menerangkan bahwa pertanyaan yang diajukan Rasul SAW kepada budak perempuan ini bukanlah terkait dengan arah atau tempat dimana Alloh melainkan arah para hamba ke dalam ‘menghadap’ kepada Rabbnya, bukan menunjukkan pada keberadaan Dzat Alloh SWT. Demikian seperti yang dituliskan Syaikh As Sindi dalam Hasyiyahnya.

Imam as Suyuthi dalam syarah kitab sunan Imam an Nasai menjelaskan tentang hadits jariyah, berkata imam an Nawawi : Ini adalah ayat tentang shifat Alloh dan terdapat dua pendapat mengenai hal ini :
1. Mengimaninya tanpa tawfidh dengan mengi’tiqodkan Alloh SWT tidak sama dengan makhlukNYA
2. Menta’wil dengan sesuatu yang sesuai dengan maksud yang dituju

Wahhabi mengetangahkan salah satu ayat dalam surah Al Mulk guna mendukung hadis jariyah dengan menyebutkan ayat : A amintum man fis samaa’  Apakah kalian tidak beriman kepada yang dilangit (QS. Al Mulk ayat 17). Sekali lagi syaikh Jiel Shadiq mengemukakan argumennya dengan menyebutkan kitab Shahih Muslim yang disyarah oleh Imam an Nawawi ra. berkata al Qodhi ‘Iyadh tidak terjadi ikhtilaf di antara kaum muslimin terkait dengan kata as Samaa-i seperti dalam kalimat a amintum man fis samaa-i dan yang semisalnya bukanlah dimaknai atas dzohirnya. Juga terkait dengan hal ini Imam Al Qurthubi  dalam tafsirnya mengatakan bahwa ini (a amintum man fis samaa-i) adalah isyarah bagi malaikat yakni Jibril yang bertindak sebagai wakil dari malaikat adzab. Jadi maknanya adalah : apakah kalian merasa aman kepada yang menciptakan man fis samaai (Jibril atau malaikat)  akan menjungkirbalikkan bumi sebagaimana telah dijungkirbalikkan bumi terhadap Qorun.

Berkata imam Abu Mashur al Baghdadi dalam kitabnya yang masyhur : Al Farqu bayna al Firoq :

Dan Ahlus Sunnah wal Jama`ah telah ijma` bahawasanya Allah s.w.t. tidak bertempat dan tidak berlaku atas-Nya masa, berbeda dengan pegangan golongan al-Hisyaamiyyah dan al-Karaamiyyah yang mendakwa Allah bertempat di arasyNya. Dan telah berkata Amirul Mu’minin ‘Ali r.a.: “Sesungguhnya Allah ta`ala telah menciptakan arasy untuk memperlihatkan kekuasaanNya dan bukan untuk dijadikan tempat bagi DzatNya”. Baginda SAW juga berkata: “Dan adalah Allah ta`ala ada tanpa tempat dan Dia berada sekarang sebagaimana sediakalanya”.

http://www.youtube.com/watch?v=xelYVyXbQkU