Sekedar Catatan

Sholawat Nariyah

Posted on: March 30, 2007

اللهم صل صلاة كاملة، وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذى تنحل به العقد، وتنفرج به الكرب، وتقضى به الحوائج، وتنال به الرغائب، وحسن الخواتم وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم، وعلى أله وصحبه فى كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك

Allohumma sholli ‘sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taaamman ‘ala sayyidina Muhammadinilladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil qurobu wa tuqdho bihil hawaaiju wa tunalu bihir roghooibu wa husnul khowaatimu wa yustasqol ghomamu biwajhihil kariem wa ‘ala aalihi wa shohbihi fie kulli lamhatin wa nafasim bi’adadi kulli ma’lumin laka

[download]
Artinya : Ya Alloh berilah sholawat dengan sholawat yang sempurna dan berilah salam dengan salam yang sempurna atas penghulu kami Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan, hujan diturunkan, berkat dirinya yang pemurah, juga atas keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak hitungan segala yang ada dalam pengetahuanMU

Sholawat ini pernah diijazahkan oleh ustadz Mawardi, salah seorang muthowwif jamaah hajji Tazkia yang sudah menetap lama di Saudi. Sholawat ini hendaknya dibaca 11 kali setelah sholat fardhu. Sholawat ini banyak faedahnya

Belakangan setelah beberapa waktu berlalu saya membaca kitab terjemahan Afdhal al Salawat ‘ala Sayyid as Sadat karangan Yusuf bin Ismail an Nabhani (diterjemahkan oleh Muzammal Noer dengan judul Bershalawat untuk mendapat keberkahan hidup, dengan penerbit Mitra Pustaka, Cetakan I Desember 2003 hal 302)

Imam Ad Dinawari berkata : Siapa saja membaca shalawat setiap selesai sholat sebanyak 11 kali dan ia menjadikannya sebagai bacaan rutin maka rizkinya tidak akan pernah putus dan ia mendapatkan derajat yang tinggi…

Berita terkait : http://id.wikipedia.org/wiki/Kyai_hamid_pasuruan

558 Responses to "Sholawat Nariyah"

tdnya gw pkr nyari sholat nariyah ini rd sulit, ternyata gampang bgt!!! thanx’s God.
asli gw seneng bgt, krena gw bth bgt ama ini artikel
makasih bgt ma yg masukin artikel ini ke website, jadi bisa bermanfaat bgi smua umat muslim, amin

om dwi,

Kemampuan ketuhanan yang tersurat dalam solawatan itu hanya dimiliki Allah sahaja.

Sholawat itu baik, mari kita berlomba-lomba memperbanyak sholawat kepada nabi. Dengan sholawat yang telah nabi ajarkan kepada kita.

Nabi yang mulia..Sholallaahu ‘alaihi wasallam.

Sumber : http://muslim.or.id/aqidah/shalawat-nariyah.html

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Shalawat Nariyah cukup populer di banyak kalangan dan ada yang meyakini bahwa orang yang bisa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat menghilangkan kesulitan-kesulitan atau demi menunaikan hajat maka kebutuhannya pasti akan terpenuhi. Ini merupakan persangkaan yang keliru dan tidak ada dalilnya sama sekali. Terlebih lagi apabila anda mengetahui isinya dan menyaksikan adanya kesyirikan secara terang-terangan di dalamnya. Berikut ini adalah bunyi shalawat tersebut:”

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن الخواتيم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى آله وصحبه عدد كل معلوم لك

Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumin laka

Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, Begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, Berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, Semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.”

Syaikh berkata:
“Sesungguhnya aqidah tauhid yang diserukan oleh Al-Qur’an Al Karim dan diajarkan kepada kita oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kepada setiap muslim untuk meyakini bahwa Allah semata yang berkuasa untuk melepaskan ikatan-ikatan di dalam hati, menyingkirkan kesusahan-kesusahan, memenuhi segala macam kebutuhan dan memberikan permintaan orang yang sedang meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berdoa kepada selain Allah demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang di serunya adalah malaikat utusan atau Nabi yang dekat (dengan Allah). Al-Qur’an ini telah mengingkari perbuatan berdoa kepada selain Allah baik kepada para rasul ataupun para wali. Allah berfirman yang artinya:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Bahkan sesembahan yang mereka seru (selain Allah) itu justru mencari kedekatan diri kepada Rabb mereka dengan menempuh ketaatan supaya mereka semakin bertambah dekat kepada-Nya dan mereka pun berharap kepada rahmat-Nya serta merasa takut akan azab-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (QS. Al-Israa’: 57). Para ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berdoa kepada Isa Al-Masih atau memuja malaikat atau jin-jin yang saleh (sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir).”

Beliau melanjutkan penjelasannya:
“Bagaimana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa merasa ridha kalau beliau dikatakan sebagai orang yang bisa melepaskan ikatan-ikatan hati dan bisa melenyapkan berbagai kesusahan padahal Al-Qur’an saja telah memerintahkan beliau untuk berkata tentang dirinya:

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: Aku tidak berkuasa atas manfaat dan madharat bagi diriku sendiri kecuali sebatas apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku memang mengetahui perkara ghaib maka aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak ada keburukan yang akan menimpaku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raaf)

Pada suatu saat ada seseorang yag datang menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”, Maka beliau menghardiknya dengan mengatakan, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakan: Atas kehendak Allah semata.” Nidd atau sekutu artinya: matsiil wa syariik (yang serupa dan sejawat) (HR. Nasa’i dengan sanad hasan)

Beliau melanjutkan lagi penjelasannya:
“Seandainya kita ganti kata bihi (به) (dengan sebab beliau) dengan bihaa (بها) (dengan sebab shalawat) maka tentulah maknanya akan benar tanpa perlu memberikan batasan bilangan sebagaimana yang disebutkan tadi. Sehingga bacaannya menjadi seperti ini:

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد التي تحل بها العقد
Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Allati tuhillu bihal ‘uqadu (artinya ikatan hati menjadi terlepas karena shalawat)

Hal itu karena membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah yang bisa dijadikan sarana untuk bertawassul memohon dilepaskan dari kesedihan dan kesusahan. Mengapa kita membaca bacaan shalawat bid’ah ini yang hanya berasal dari ucapan makhluk biasa sebagaimana kita dan justru meninggalkan kebiasaan membaca shalawat Ibrahimiyah (yaitu yang biasa kita baca dalam shalat, pent) yang berasal dari ucapan Rasul yang Ma’shum?”

Penulis: Muhammad Jamil Zainu
Diterjemahkan oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel http://www.muslim.or.i
Dari artikel Shalawat Nariyah — Muslim.Or.Id by null

sholawat nariyah itu sanad dari pengarangnya itu jelas,,,sesuai yang diterangkan oleh syekh abu daud ubaid, istambul, bahwasanya pengarang sholawat nariyah itu berasal dari kota taza, 100 Km dari kota fez, Maroko, nama pengarangnya yaitu Syekh Abu ishak Ibrohim Attazi, adapun silsilah beliau itu sampai pada ahlu bait rosul,,, أبو إسحاق إبراهيم التازي بن علي بن مالك بن عبد الله بن أحمد بن عيسى الرضى بن موسى المرتضى بن عبد الله بن أبي جعفر الصادق بن محمد الناطق بن علي زين العابدين بن عبد الله بن حمزة بن إدريس بن عبد الله الكامل بن الحسن المثنى بن الحسن السبط بن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه([]).

Yang biasa omong bid’ah dan mengkafirkan orang ya biarin aja……… Kalo syurga merasa mereka sendiri yang berhak masuk ya biarkanlah… Karna Alloh yang Maha Tahu dan bisa membaca Hati tiap masing-masing Makhluknya dan Alloh Sungguh Maha Adil menghisab amalan-amalan Hambanya……..

Wahabby jangan asal ngaku Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ya… Karna Utsaimin dan Dul Wahab hanya Sok memakai Sunnah dengan Jama’ah “baru” bentukannya wkwkwkwkw

banyak bacot, ,ilmu baru secuil dh bidah2 in orang. .jalanin agama pake hati jgn pake mata????////?

Amien. Makasih juga mas Dwi dah mampir ke sini. Seneng baca komentar mas Dwi. Salam kenal…

ALhamdulillah , tadinya aku pikir juga shalawat nariyah itu panjang. Tnyata nggak yaa…Insya Allah pengen aku amalkan setiap sholat fardhu. AMin

Alhamdulilah…

Alhamdulillah, semoga Alloh mudahkan niat baik mbak Widya. Terima kasih sudah mampir dan memberi komentar.

tunggu.. tunggu.. tidak disebutkan harus shalawat nariyah kan? dengan “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad” kan juga shalawat? dikatakan apabila membaca sholawat minimal 10x setiap hari..
oleh Jibril: “aku akan membimbing tangannya melewati Shirat Al-Mustaqim seperti halilintar”.
oleh Mikail: “aku akan memberikan dia tenaga”
oleh Isrofil: “aku tidak akan angkat sujud sebelum Allah mengampuninya”
oleh Izroil: “aku akan mencabut ruhnya seperti mencabut ruhnya para nabi”

janganlah kita membicarakan apa yang kita tidak tahu tentang apa yang kita bicarakan. karena sesungguhnya itulah dusta yang sering kita tidak menyadarinya.

Apakah shalawat yang di ajarkan Rasulullah belum sempurna maka harus ada shalawat nariah.
A’uzubillahi min zalik

Hadeuh… Yang bilang tidak sempurna siapa? Agak sulit menjelaskan kalau malas membaca. Jangan mau disuapin aja dong mas. Iqro! Makanya baca lagi diskusi di atas yah. Monggo…

Betul mas Prima Adi, tidak mesti sholawat Nariyah. Semua bentuk shalawat adalah baik dan bermanfaat di dunia dan akhirat. Mari kita galakkan shalawat dalam kehidupan kita. semoga Aalloh memberikan keberkahan kepada kita melalui shalawat kepada Rasulullah saw, keluarga dan para sahabatnya. amien

Sip-sip…
eh, tapi, sholawat nariyah ini bukan dari Hadits nabi ya?

Sholawat kan pujian kepada Nabi Muhammad, Kalo Anda tahu arti Sholawat berarti tahu dong maksudnya, tapi tidak semua kalo diartikan bisa langsung difahami…ada banyak yang tersirat dalam kandunngan sholawat itu sendiri. hanya Allah yang Maha tahu.
dari pentingnya sholawat itu nanti bisa merubah diri menjadi orang yang bisa berakhlakuk karimah, tidak suka mengkafirkan orang, tidak suka membid’ahkan orang….karena yang terkandung dalam sholawat adalah himpunan ilmu dan akhlak yang sangat terpuji.
bila belum mengerti pelajari sedalam-dalamnya arti dari sholawat. dari segala penjuru….Insya Allah bisa bermanfaat. maaf bila ada yang salah.

kang abdi dalem,

yang ditanya tu ini bukan dari hadits nabi bukan. koq malah jawaban orang sakit hati denger bid’ah. berarti sakit hati juga dong denger hadits nabi ttg bid’ah. wah bisa gini ya akibat solawat nar(api) ini.

Alhamdulillah saya mendapatkan sholawat nariyah, tadinya saya bingung karena ibu telepon saya suruh baca sholawat nariyah sementara di tempat agak sulit dicari dan saya bisa menemukan disini …….berikut penjelasannya terima kasih ya…Allah…

sholawat nariyah, tadinya aku gak ngerti kok ada sholawat nariyah yang artinya api, Rosul SAW. sendiri tidak pernah ngajarin sholawat macam ini. tapi kok dimana-mana pada sholawatan nariyah. Dari mana mereka yang membuat sholawat ini ngerti, jika di baca 4444 x bisa memberikan manfaat keselamatan dan di mudahan dari kesusahan. kok kayaknya ada ibadah baru di luar yang di syariatkan Rosul SAW. Gw jadi bingung neeh… Apa lagi dari berbagai sumber sholawat ini termasuk kelewat batas dalam menempatkan derajat Rosul. Karena itu Gw takut sholawatan nariyah takut menyekutukan Allah. gimanapun Rosul SAW hanya hamba dan pesuruh Allah dan tak lebih, jangan di sejajarkan dengan Allah. Dalami artinya dong jangan asal sholawat.

jaga mulut ente bozz……..kl anti sholawat jgn ngajak2….sndirian aje sono ma klrga ente

maksud mas perduli bukan sholawat mas zacky, tapi solawatan nariyah yang dibawakan kang Lukman.

Banyak sekali sholawat yang tidak beresiko sirik besar seperti itu kang zack…seperti yang telah diajarkan kanjeng nabi kita.

Beda tho..

Apa dasar hukum shalawat Nariyah, apakah shalawat yg diajarkan oleh Rasulullah belum sempurna maka hrs membaca shalawat nariyah.
A’uzubillahi min zalik.

Menurut saya kalau mo coba amalkan sholawat Nariyah,lakukan aja. Yang penting kewajiban kita sebagai umat jangan ditinggalkan,jangan sampai sholawat Nariyah lebih diutamakan daripada shalat 5waktu dan kewajiban yang lainnya

Syukron. atas tanggapan mas Akupeduli dan mas Budi. Kembali ke masing2 aja, bagi yang mau membacanya silakan (asal tidak beri’tiqod bahwa nabi Muhammad SAW. dapat melakukan dengan dirinya sendiri. Padahal hakikat hanya di tangan Alloh SWT). Bagi yang tidak masih banyak shalawat lain yang masyru’ (sesuai dengan yang ada di hadits). Semoga kita dapat berlomba dalam mengamalkan hal2 yang baik dan utama serta diperintahkan oleh Alloh dan NabiNYA. amien

oow… mending kita sholawat yang lebih masyru’ aja mas, sholawat ini kan kata seorang ulama saja, bukan anjuran rosul

loe ini dengki amat ama amalan orang biarin aja sih … gitu koq repot… coba bersihkan hati loe dulu tuh… sama2 muslim ribut2.. dasar gak punya otak!!!!

coba dicamkan betul makna dari sholawat nariyah, masak rasul dikultuskan. membaca sholawat adalah “Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa’ala alihi muhammad adalah merupakan ibadah” sebagaimana tuntunan dari beberapa hadist. Tapai masalah sholawat nariyah tidak ada satupun nash yang menyebutkan, apalagi diembel-embeli dengan faedah-faedah yang disebutkan. Jangan-jangan mengamalkan sholawat nariyah kita bisa mendapatkan predikat musyrik. wallohu a’lam.

loe ini dengki amat ama amalan orang biarin aja sih … gitu koq repot… coba bersihkan hati loe dulu tuh… sama2 muslim ribut2.. dasar gak punya otak!!!! Jangan2 loe ini misionaris ataw non muslim yg mo ngadu domba ya….? hati2 ya….

tull mas preman tobat….orang begini ga bedanye ma misionaris…dh bnyak skrng gerakan anti solawat…wat tmn2,,kudu bner2 hrs ati2 ma orng bgini ya….

anda berdua bodoh jawaban anda dogmatis, saya setuju butuh penjelasan bukan kah agama Islam sebuah ilmu pengethuan buat yang berakal, jgn ngotot, ini adalah sebuah forum islami!!

Terima kasih mas Kadek atas masukkannya. Memang yang terdapat dalam hadits tidak sebanyak salawat2 yang muncul belakangan. Namun ungkapan salawat selain yang ada dalam hadits bukan merupakan penyimpangan, kecuali memang menyatakan tentang adanya ilah selain Alloh SWT.

Mengenai kultus individu saya pikir tidak. Lihat bagaimana ada sahabat yang meminum darah bekas bekam Rasululloh SAW. Apa ini tidak keterlaluan? Ada juga yang berebutan mengambil air sisa wudhu Rasululloh SAW. bahkan mengusapkannya ke seluruh tubuh. Kultus individukah mereka ke pribadi Rasululloh SAW? Musyrik-kah mereka? Tentu tidak.

Allohu a’lamu. BTW. Makasih banyak atas komentar mas Kadek

sholawat itu memberi salam dan peng hormatan kpd rosul sbg utusan yg terakhir dan makhluk ter indah dan terbaik yang pernah di ciptakan oleh ALLAH bahkan ALLAH pun bersholawat[maha suci AKU] untuk apa kita memperdebatkan orang2 yg membaca & tdk mbaca. kenyataanya para ulama dari dulu bahkan ratusan taun yg lalu mereka adalah ahli 2 sholawat. nah …apakah kita merasa lebih ngerti di bandingkan beliau2 yg telah mendahului kita……

Waduh dasar bodo…, gak nyimak ya komen2 sebelum anda.

makanya jgn terus2an bodo dong… coba belajar spt keluar dari ke-bodo-an. udah bodo.. ngaku lagi.. sakit ya pak. setau saya sebodo-bodo orang ga ada yang ngaku bodo. Berarti anda ini bodo-nya udah ga ketulungan lagi, ganti nama ya pak… kesian orang bodo koq komentar ttg agama yang mulia ini. Gak pantes ya pak bodo.

Perhatikan pak, sholawat itu baik. Tidak ada yg mengingkarinya disini. Jelas yang membaca mendapat kebaikan. Sedangkan yang di-publish Kang Lukman ya,, ini namanya Solawatan Nariyah, bukan sholawat tapi pemujaan berlebihan kepada Nabi kita spt orang Kristen terhadap Yesus mereka. Pantas saja dikasi nama Nariyah, krn memang panas sekali sperti api (nar) yang akan membakar orang-orang yang syirik.

Kenyataannya malah tidak ada ulama yang mengamalkan ataupun buat2 sholawat seperti ini. Seperti Imam Empat atau Imam seperti Ibn Hajar atan Imam Nawawi yg sama2 kita ketahui sebagai Imam yang diakui bersama oleh ahlussunnah di seluruh dunia Islam. Mungkin yg dimaksud ulama oleh Wong Bodo adalah ulama BODO juga, atau Majhul (tidak dikenal) spt syeh nariyah… panass…

Bodo gpp si… mungkin kita semua masih bodoh.. tapi jangan ngaku2 bodo ya pak… kesian nanti bener2 ga bisa jadi lebih pinter.

Waduuuuh mas ko kasar sekali bahasanya,,, saya sendiri masih dangkal pengetahuan mengenai hal ini,, jd sy tetap mengamalkan shalawat yg ada dalam bacan shalat ketimbang nariyah yg banyak pro kontranya,, krn dengan adanya pro kontra artinya masih gambling antara boleh tidaknya. Jd mending yg pasti2 aja. Tp yg sy tahu bahwa mengatakan hal buruk terhadap orang lain ,, berkata bodoh atau penipu itu tidak baik. Bukankah dalam ajaran Islam itu berbuat baik antar sesama diharuskan… Islam adalah agama yg penuh kedamaian. Perbedaan pendapat itu wajar maka hadapilah dngan sewajarnya

Itu bukan mengkultuskan tapi mengharapkan keberkahan dari ‘manusia yg paling sempurna, yg tuhan saja bersholawat atasnya’. jelas bedalah manusia dengan tuhan. Allah.swt-lah diatas segala galanya.
allomumma sholli ‘ala sayyidina muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wabarik wasallim. mari kita sama2 banyak bersolawat.

Assalamu a’laikum warohmatullah.
coba akhi fahami terjemahannya, jgn sampai ketika kt mengamalkan shalawat justru kt terjerumus kpd kemusyrikan. ana setuju banget apa yg antum bilang Allah swt segala2 nya, tp dlm shalawat nariyah: siapa yg melepaskan ikatan, siapa yg melenyapkan kesedihan, siapa yg memenuhi kebutuhan, siapa yg membrikan kesenangan, siapa yg mengakhiri kebaikan, dan siapa yg menurunkan hujan? apakah Nabi Muhammad saw? hati2 sdrku

Allohumma sholli wa sallim wa barik ‘alayhi wa ‘ala aalih, wa ash habih.
Shodaqta ya akhi. Jazakallohu khoir.

Re:shalawat nariyah – 2007/08/22 18:58 Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Rahmat dan Cahaya keridhoan Nya swt semoga selalu mengiringi hari hari anda,

saudaraku yg kumuliakan,
mengenai shalawat nariyah, tidak ada dari isinya yg bertentangan dg syariah, makna kalimat : yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta”, adalah kiasan, bahwa beliau saw pembawa Alqur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yg dg itu semualah terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah swt, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga,

ini adalah kiasan saja dari sastra balaghah arab dari cinta, sebagaimana pujian Abbas bin Abdulmuttalib ra kepada Nabi saw dihadapan beliau saw : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417), tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yg terlihat mata, namun kiasan tentang kebangkitan risalah.

Sebagaimana ucapan Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah, bila kami dihadapanmu maka jiwa kami khusyu” (shahih Ibn Hibban hadits no.7387), “Wahai Rasulullah, bila kami melihat wajahmu maka jiwa kami khusyu” (Musnad Ahmad hadits no.8030)

semua orang yg mengerti bahasa arab memahami ini, Cuma kalau mereka tak faham bahasa maka langsung memvonis musyrik, tentunya dari dangkalnya pemahaman atas tauhid,

mengenai kalimat diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, adalah cermin dari bertawassul pada beliau saw para sahabat sebagaimana riwayat shahih Bukhari.

mengenai anda ingin membacanya 11X, atau berapa kali demi tercapainya hajat, maka tak ada dalil yg melarangnya,

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a’lam

http://majelisrasulullah.org

Thanks Muhibin !! great explanation …

terimakasih, mas. jawaban yang sangat bagus dan memuaskan…

Habib munzir ya…, itu mah bukan majelis rasulullah tapi majelis habib.

Pak munzir itu penipu.., kasian sekali orang yang ikut pengajian pak munzir ini. ambil potong2an perkataan ulama lalu digunakan untuk memperkuat hawa nafsunya.

Na’uudzu billaahi min dzaalik.

Pake nama majelis rasulullah lagi. sudah ga ada lagi majelis rasulullah itu pak muhib. itu majelis yang hanya bisa dihadiri oleh sahabat nabi yang memang rasulullah. pak munzir ini memang ghuluw sekali, seolah2 dia jadi nabi-nya… wiih merinding sekali..

Coba majlis ini diganti nama jadi majelis habib munzir, mungkin lebih membuat sang habib dan pengikutnye lebih tawadhu di depan manusia dan bertakwa kepada Allah. dan tidak ada lagi kibar2 bendera dengan sombongnya di depan sama-sama kaum muslimin.

wah …,

perkataan2 sahabat itu danyang lainnya ga ada syirik2nya pisan bang.. koq mo disamain sama perkataan syirik si syeih nariyah ini. waduh…

banding2in lagi deh…

ulang2 lagi baca sholawat nariyah tsb lau baca lagi perkataan sahabat nabi..

Jazakallohu khoir ya akhie. Penjelasan ini lebih dari cukup untuk mengkanter pendapat2 miring yang tidak jelas juntrungannya atas nama tauhid.

Wah.. saya mah klo masalah tauhid katro banget, tapi mendengar bahwa kita umat islam saling mengisi bagi mereka yang kurang paham sangat membuat saya bersyukur. Banyak sekali yang saya pelajari dari bahasan ini. so buat akh ahmad lukman dan akhi2 yang lain, syukron. Never give up !!!

@ Akh Fiendra Shiroi: Ane setuju ama antum. Terima aksih dah mampir dan memberi komentar. Semoga antum tambah berkah dunia akhirat. Amien

Melakukan kebaikan..dan bersalawat yang memang di sunatkan oleh rasul Allah juga..perlu..tapi hati2..jangan sampai kita melakukan hal yang memang tidak jelas aturanya..baik di Qur’an maupun dalam hadis…karena selain Amalan kita jadi gak jelas nilainya..salah2 bisa jadi musrik karena menyekutukan Allah..

loe ini dengki amat ama amalan orang biarin aja sih … gitu koq repot… coba bersihkan hati loe dulu tuh… sama2 muslim ribut2.. dasar gak punya otak!!!! Jangan2 loe ini misionaris ataw non muslim yg mo ngadu domba ya….? hati2 ya….

@ mbak Risma yg baik :
Kata2 atau kalimat yg dapat membuat musyrik dlm sholawat nariyah yg mana, boleh tolong disebutkan?
Jazakillah khoiron katsiero.

Alhamdulillah, sudah lama saya tahu salawat Nariyah. tapi selain tidak hafal, berat untuk mengamalkannya..n ketika ada “masalah” tiba2 ada suara yg memberitahu baca salawat nabi…. dan tanpa sadar saya membuka article ini …. Ya Allah semoga beliau2 mendapat balasan dariMu…yg sudah membuat saya Lapang, tenang n Ridho padaMu . Ya Allah Matur Nuwun……

Ass Wr Wb,
Saya mohon bantuan kepada Saudara-Saudari Muslim .Saya tinggal di Negara yg sulit mendapatkan buku2 tentang Islam. Saya sdg mencari bacaan Do’a Nurbuah dengan artinya sekali. Terima kasih sebelumnya.

Mbak Laila ada di mana sekarang?

saya baru pindah ke Singapore beberapa bulan yang lalu, mungkin tahun depan ke US mengikuti suami berpindah dari satu negara ke negara lain.Salam kenal mas Lukman.

Ass..
saya saat ni pny masalah yg bgtu berat menurut saya..pda suatu ketika saya tanya ama orang tua trus beliau bilang sruh baca SHOLAWAT NARIYAH sebnyak 11 kali sehabis sholat fardhu gtu ama sehabis sholat malam baca surat AL-MUZAMIL secara istiqomah….nti pda suatu ketika akn bnyk manfaat setelah baca amalan tsb…
sampe sekarang saya mulei membacanya…
semoga dgn membaca SHOLAWAT ini kita bsa mndapatkn safa’atNYA…Amiiin !!

@buat yg takut musyrik

Sholawat itu tanda cinta pada Rosulillah, tanda terimakasih yg tak terhingga, karena kita bisa bertauhid mengenal Alloh Azza wa Jall.
Kalau dgn Pak RT aja bisa hormat, apalagi pada Rosulillah SAW?
Gak bisa dibandingkan sebenarnya.

Maka, buat Anda yg berhati kecil, takut musyrik, what a pity…

كاسيهان ديه لو ……..!
سالاه سنديري ترجروموس وهابي !

Bagi yang belum bisa baca Arab gundul di atas, saya terjemahkan (ini tulisan Arab melayu)
Kasihan deh lo!
Salah sendiri terjerumus Wahabi!

@ akh Doni : teruskan kebiasaan baik antum. Smg kt mendapat syafaatnya di akhirat. Syafa’ati yawmal qiyamati haqqun. Fa man lam yu’min lam yakun min ahliha. Syafaatku pd hari kiamat adalah benar adanya. Siapa yg tdk mempercayainya, tidak termasuk di dalamnya.

@ akh Dzulfikar : Yukhsarul mar’u ma’a man ahabba. Kelak manusia akan dikumpulkan bersama orang yg dicintainya.

Shalawat salah satu bukti cinta. Smg kita dikumpulkan dlm panji Junjungan Muhammad al Musthofa saw. Amien

Ass…
Saya turut simpaty dg masalah yg anda hadapi, semoga dg banyak SHOLAWAT anda mendapat safa’atnya dan dikeluarkan dari segala kesulitan.

Saya pun punya masalah yg cukup berat. Saya hidup dan tinggal dg banyak orang Non Muslim di sekitar saya.Mereka mengucilkan dan memandang rendah kami karena mereka tahu kami Muslim dan dari Indonesia.Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kami kekuatan iman.

Tetap semangat mb. Laila, insya 4JJI mbak dan kel senantiasa diberi kemudahan. 4JJI SWT tidak akan pernah memberikan beban diluar kemampuan.

Amiin Allohumma amin..
sabar ya mbak Laila..mgkin dgn adanya maslah ini kita ditempa untuk jdi yg lbih baek…
Alloh swt psti pnya rencana baek bwt mbak Laila…
klo kata orang tua saya..”suruh banyak dzikir” !!!
semoga Alloh swt meridhoi kita semua…amin

sebenarnya kalo ada orang suka mempermasalahkan ayat2 alquran atau hadist2 nabi, itu spt ktk jaman nabi isa dulu, tjd pertentangan shg ada yg percaya ato tdk, maka akan tjd permusuhan; inilah yg diinginkan para musuh islam, islam bentrok dng islam sendiri gara2 pembenaran alirannya sendiri. mari kita tingkatkan ukhuwah islamiyah, jk dia sahadat sholat puasa zakat dan haji berarti islam tp jk tdk melakukan ke-5 rukun islam td berarti kafir dan musrik…Allahu Akbar

tolong, ikut di doakan…untuk suami temanku yang sudah 4 hari tidak pulang kerumah. segala permasalahan bisa diselesaikan, bahwa kita memang tidak boleh berani terhadap orang tua, namun dengan meninggalkan anak dan istri, sebagai suami sudah meninggalkan tanggung jawabnya.
tolong ikut didoakan, supaya terbuka jalan pikiran yang terang dan bisa diberikan kebahagiaan.

Insya Alloh, kami bantu mbak. Semoga Alloh SWT membuka mata hati suami teman mbak Dinda, al faatihaaah…

Alhamdulillah,terima kasih sekali buat shalawat nariyah nya di website ini.Udah lama saya tidak baca shalawat nariyah,akhirnya lupa.Terima kasih sekali lagi

Sami2 mbak Erika. Semoga tambah berkah kehidupan mbak Erika dengan rajin membaca shalawat.

Sholluuuuu ‘alaaaa Muhammad..!
Allohumma sholli wa sallim wa baarik ‘alayhi wa ‘ala aalihi.

saya dulu mengamalkan shalawat nariyah, sekarang lebih favorite shalawat konvensional.
yg saya bingung koq jadi gontok2 kan ya antara pengamal nariyah vs non nariyah, padahal kan masing2 niatnya sama.
hayu aja atuh masing2, gak usah saling gontok2an lah, udah gak jaman.

Betul mas Oe (gak enak terusin, ganti yang bagus atuh). Kalau ada kalimat dalam shalawat Nariyah yang mengantarkan kepada kultus berlebihan dan jatuh pada syirik, tolong tunjukkan dengan argumen yang jelas. Makasih mas Oe.

Amin,terima kasih mas Lukman.Hal yang sama juga saya do’akan buat mas Lukman.

Alhamdulillah, saya bisa baca sholawat nariyah dari sini. Dan menurut saya lebih baik istiqomah dalam mengamalkan bacaan sholawat ini daripada meributkan artinya. Kebetulan saya besok ada interview di kedutaan untuk ambil visa study ke US, kalau bisa tolong didoakan agar dipermudah oleh Allah

Amien. Semoga Alloh permudah urusan antum akhie.

fungsinya lom paham banget nih

assalammualaikum wr.wb

saya bingung tentang shalawat nurbuat ?
adakah yang bisa menjelaskannya ?

kalau pengin lebih paham semuanya ikuti pengajian Majelis Rasulullah di Masjid Al Munawar Pancoran Jl. Raya Pasar Minggu tiap Senin Malem Selasa

Terima kasih informasinya akhi…

Silakan yang di Jabotabek dan sekitarnya yang punya waktu dan kesempatan, untuk menghadirinya.

mas lukman saya mau tanya tentang bacaan sholawat nariyah yang apabila di baca sebanyak 4444x itu akan dimudahkan segala urusannya oleh Allah SWT.

ada juga yang mengamalkan di barengi dengan puasa mutih. nah ini gimana hukumnya dengan puasa mutih itu sendiri.

[…] on Ina Desianacilvi_anggraini on Ina Desianaemaknyamaxi on PengajianAli Imron on Sholawat NariyahAli Imron on Sholawat NariyahIna’92 on […]

Masya Allah. Kok ada ya orang nggak takut dg perbuatan syirik. kalo aku boleh memilih, zinah masih jauh lebih uenakkk ketimbang syirik. syirik adalah dosa terbesar yg tak terampuni dan penghapus smua amal kebaikan kita. Kalo mau sholawatan, baca aja sholawat ibrahimiyah yang spt kita baca dalam sholat setiap hari. Insya sholawat ini jauh lebih afdlol. jangan tertipu rayuan syetan dengan kedok sholawat nariyah. insya Allah sholawat tsb tidak ada dasar dalilnya sama sekali. Yaa Allah aku berlindung kepadamu dari hal2 yang tidak aku ketahui dan yg bisa menjerumuskan aku kedlm lembah kemusyrikan tanpa aku sadari karena hanya menerima apa yang diberikan oleh seseorang tanpa aku mengetahui dasarnya. Amiin.

Hamba Allah yg Bodoh

Ass

buat Mas Nazir ,

janganlah kita mengatakan segala sesuatu yang belum kita ketahui dengan kata-kata bid’ah , syirik dlsb , itu karena kita tidak tahu ataupun kedangkalan ilmu kita , salahkah kita bersholawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang selama ini menjadi suri tauladan bagi umat Islam diseluruh dunia bahkan malaikat saja bersholawat kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW

Wassalam

kata2 penyampain ente ja udah ngk bener,bgi mna ente mau yakin bersolawat, Klo ngk tau mending diem ja.ituh lebih baik

SAUDARAKU MF YG SEBESAR2NYA KLO NGK TAU SEJARAH N RIWAYATNYA MENDING DIAM ITU LEBIH BAIK…JANGAN BERDEBAT
PERBEDAAN PENDAPAT DI JADIKAN ALASAN. BUKAN KAH PERBEDAAN ITU ADALAH RAHMAT DARI ALLAH.SESUMGGUHNYA ISLAM TIDAK MENYUSAHKAN UMATNYA TETAPI UMATNYA SENDIRI YG MENYUSAKAN .LEBIH BAIK KITA BERSATU PADU UNTUK KEMAJUAN ISLAM.SELAGI TUHAN KITA ALLAH S.W.T DAN NABI KITA MUHAMMAD S.A.W DAN KITABULLAH AL-QUR”AN TIADA LG YG HARUS DI PERDEBATKAN (INADINA INDULLAHIL ISALAM)
JGN FAKUM DENGAN GOLONGAN YAH,N JGN MENYAMPAIKAN SESUATU MENURUT AKAL FIKIRAN SAJA”””””””””””””””””@LFAKIR

loe ini dengki amat ama amalan orang biarin aja sih … gitu koq repot… coba bersihkan hati loe dulu tuh… sama2 muslim ribut2.. dasar gak punya otak!!!! Jangan2 loe ini misionaris ataw non muslim yg mo ngadu domba ya….? hati2 ya….
atau loe ini yg sebenarnya dibilangin dajjal modern…

memohon ke presien aja harus ada prantara satpam supaya permohonannya bisa disampaikan ke presiden

memohon kepada pesuruh presiden dulu dong, kalo pesuruh allah siapa?

Nazir, kalau belum sampe ilmunya, jangan bicara masalah syirik. Makanya belajarnya yang rajin dan berguru yang benar. Sudah tahu dan mengaku bodoh kok menilai?

Coba Nazir lihat dan rasakan, mana ada sistem kerajaan dalam Islam. Itu bid’ah gak? Kenapa justru negara berpaham wahabi menerapkan sistem kerajaan sampai sekarang? Apakah salaf as soleh mengajarkan demikian? Apa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, ada dalam Al Qur’an, para sahabat radhiyallohu ‘anhum menjalankan?

Jadi Nazir dan para pemuja Wahabi, harus belajar dengan guru yang benar, jangan hanya mengaku dirinya mengikut manhaj salaf tapi wala’nya ke Amerika. He he he

Alangkah baiknya kita mengambil hikmah dari apa yang telah dilakukan oleh orang yang ditimpa kesulitan dan mendapat kemudahan dengan mengamalkan sholawat nariyah.
Saya sedang mengamalkannya, itu yang penting.
Doakan semoga tetap istiqomah, dan doakan juga semoga segala kesulitan yang sedang saya hadapi berbuah kemudahan. Amiin.

alhamdulillah akhirya sy ketemu dgn forum ini, sy pengamal shalawat nariah, jadi lebih mantap mengamalkannya ( akhir2 ini gundah takut syirik ),
bismillah ………

Sdr. Ahmad Lukman

Sholawat Tafrijah dengan terjemahan diatas apabila dibaca oleh orang yang beriman maka berdiri bulu kuduk karena keharuan, saya sangat percaya apabila didawamkan sesuai yang diharapkan oleh manusia pasti akan Allah SWT kabulkan bahkan hal yang positip yang tidak mungkin pun dapat terkabulkan berkat kemurahan Allah SWT sebagai yang pernah dilakukan oleh Ibu dari nabi Ismail berusaha lari-lari kesana kemari diantara dua bukit gersang tidak ada penghuninya tetapi manusia hanya bisa berusaha akan tetapi Allah SWT Maha menentukan hal yang tak mungkin menjadi mungkin maka munculah air yang tidak putus-putusnya sampai akhir jaman yang dinamakan sumur Zam-zam. siapapun yang berhadap disertai perbuatan/usaha Insyaallah Allah SWT akan mengabulkan termasuk salah satunya mendawamkan Sholawat Tafrijah Insyaallah.

Assalamu’alaikum………
Salam kenal semuanya, semoga Alloh memudahkan pintu2 masuk surga untuk kita semua.

Sholawat Nariyah memang kalau dirunut kebelakang banyak yang tidak mengetahui asal muasalnya, masalah ibadah seharusnya kita lebih mengedepankan yang sudah masru’/ dicontohkan atau diperintahkan oleh Rosululloh SAW (mengutip kata akh Ahmad Lukman) karena kita bisa dapat pahala dobel, pahala kitaittiba'(mengikut) rosul juga pahala dari kita melakukan amal sholih tersebut. Saya yakin kita sudah banyak sekali menghapal sholawat yang diajarkan Rosululloh SAW. Saya berkeyakinan sholawat yang diajarkan oleh Rosululloh jauh lebih afdhol(utama) untuk di amalkan dan lazimkan, daripada sholawat yang dirangkai oleh seorang ahli ilmu sekalipun(mohon maaf kalau tak sependapat) walaupun didalamnya terhindar dari kesyirikan. Sholawat yang paling utama adalah sholawat ibrani (sebagaimana yang kita baca ketika tahiyat dalam sholat) mohon diluruskan kalau ada salah dan khilaf, mohon maaf karena masih manusia yang dhoif.
Mari kita sama-sama hidupkan sunnah untuk kejayaan umat Islam. Assalamu’alaikum….

Assalamu’alaikum….
Afwan semuanya ada yang ketinggalan. Ana berpesan untuk semuanya….Jangan sampai kita terjebak dengan ibadah yang menghabiskan waktu kalau itu belum kita ketahui dicontohkan/diperintahkan oleh baginda Rosululloh SAW. Misalnya kita membaca do atau sholawat tertentu jumlahnya 2222 kali, karena selain waktunya yang lama bisa membuat kita ketinggalan atau malah tidak sempat melakukan sunnah2 Rosul yang lebih utama. Misal tilawah Alqur’an, Qiyamullail(tahajjud) dan sholat2 sunnah lainnya. Mungkin itu pesan dari ana, mohon maaf kalau ada khilaf. Assalamu’alaikum

Bagi mereka yang sudah rajin latihan, bermain sepakbola amat menyenagkan. 90 menit bahkan terasa sangat pendek dan kurang. Bagi yang tidak pernah latihan akan termehek-mehek dan sangat membosankan.

Al Gazhali sering menyebutnya Riyadhoh. Selamat berlatih, jangan hiraukan orang yang belum tahu nikmatnya beribadah mengganggumu.

Alhamdulillah,ini semua adalah rohmat dr Allah utk kite semua.krn pd hakikatnya cinta kpd apa2 yg dicintai Allah,itu adalah cinta kpd Allah,semakin banyak cinta adalah makin baik.Allah adalah apa sangka hambanya.thx

Assalamu’alaikum

(Quote from Muhibin, on November 19th, 2007 at 7:11 pm)
mengenai shalawat nariyah, tidak ada dari isinya yg bertentangan dg syariah, makna kalimat : yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta”, adalah kiasan, bahwa beliau saw pembawa Alqur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yg dg itu semualah terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah swt, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga,

Saya masih belum nyambung dengan apa yang panjenengan jelaskan sebagai kiasan. terutama pada kata-kata “berkat dirinya yang pemurah”. apa artinya bukan malah semua itu (terlepas segala ikatan, lenyap kesedihan, terpenuhi kebutuhan, bahkan hujan yang diturunkan) adalah kehendak Nabi Muhammad SAW, bukan kehendak Allah? padahal Nabi kan hanya manusia biasa, kok bisa menurunkan hujan?

itu yang pertama. kemudian saya mendapati jumlah hitungan shalawat nariyah di atas, ada yang 10x, 2222x, 11x terus terang juga membuat saya bingung. dari mana asbab/asal hitungan angka-angka ini? kenapa harus 2222? atau 11? apakah ada dalil khusus mengenai angka-angka tersebut?

lantas fadhilah yang dijanjikan, (dimudahkan segala urusan dsb) apakah memang benar? dari manakah sumbernya? jika memang dari sholawat nabi, kenapa fadhilah itu dikhusukan HANYA untuk shalawat nariyah?

dan (mohon maaf jika kata2 saya lancang, karena saya mengharapkan kejelasan) bagaimana bisa begitu berani (penyusun shalawat ini) menjanjikan fadhilah yang begitu luar biasa, sementara Rasulullah SAW saja tidak pernah berkata seperti itu? (perlu diingat, pedoman utama Islam Al-qur’an dan as-sunnah. dan segala sumber di bawah dua sumber itu jika tidak ada/tidak sesuai, bisa dikatakan SALAH)

mohon penjelasan.
dan mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan.

wassalamu’alaikum…

Nabi Muhammad SAW itu bukan manusia biasa!!!
berhati2lah

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Rahmat dan Cahaya keridhoan Nya swt semoga selalu mengiringi hari hari anda,

saudaraku yg kumuliakan,
mengenai shalawat nariyah, tidak ada dari isinya yg bertentangan dg syariah, makna kalimat : yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta”, adalah kiasan, bahwa beliau saw pembawa Alqur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yg dg itu semualah terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah swt, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga,

ini adalah kiasan saja dari sastra balaghah arab dari cinta, sebagaimana pujian Abbas bin Abdulmuttalib ra kepada Nabi saw dihadapan beliau saw : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417), tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yg terlihat mata, namun kiasan tentang kebangkitan risalah.

Sebagaimana ucapan Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah, bila kami dihadapanmu maka jiwa kami khusyu” (shahih Ibn Hibban hadits no.7387), “Wahai Rasulullah, bila kami melihat wajahmu maka jiwa kami khusyu” (Musnad Ahmad hadits no.8030)

semua orang yg mengerti bahasa arab memahami ini, Cuma kalau mereka tak faham bahasa maka langsung memvonis musyrik, tentunya dari dangkalnya pemahaman atas tauhid,

mengenai kalimat diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, adalah cermin dari bertawassul pada beliau saw para sahabat sebagaimana riwayat shahih Bukhari.

mengenai anda ingin membacanya 11X, atau berapa kali demi tercapainya hajat, maka tak ada dalil yg melarangnya,

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a’lam

sumber : http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=5&func=view&catid=9&id=6450&lang=id

sgl sesuatu harus ada sumber ilmunya, jg sampai apa yg kita lakukan sia2. Guru hanyalah sebagai fasilitator kita dalam berilmu, bukan untuk dijadikan sbg nabi baru. Keika ada saudara kita yg mengingatkan, maka dengarkan dan pahami terlebih dahulu kemudian cari kebenarannya, buak dengan emosi kita melawan dia karena tdk sesuai dg nafsu kita

Ilmu itu luas. Apakah ilmu yang luas itu sudah Anda pahami Badrul? Sehingga Anda menggangap Anda dan kelompok Anda lah sang lautan ilmu itu sendiri. Anda seolah telah menjeljahi semua ilmu dan ditangan Anda dan kelompok Anda lah kebenaran. Hah, ego Anda terlalu tinggi Badrul.

Su’udz dzon Anda terhadap kaum muslimin terlalu picik. Tahu apa Anda tentang ilmu balaghoh? Anda tak lain seorang muqollid yang berlagak sebagai seorang ulama atau mufti.

Sahabatku, ilmu sangat……tttttttttttttttttttttttttttttttttttt luas. bahkan saya tidak tau ilmu ttg permesinan. Karena tdk tau, makannya ketika kendaraan saya rusak, maka saya serahkan kepada ahlinya, tukang bengkel.

Saya tidak memiliki kelompok apapun, karena ISLAM sangat luas. saya bergaul dengan siapapun, karena agama ini tumbuh dengan perbedaan yang ada. Ketika saya melihat suatu perbedaan dalam Islam, maka saya bersyukur, karena dalam islam masih banyak orang-orang yang senantiasa perduli dengan Agamanya. Ketika saya mendapatkan suatu ilmu yang baru, dan sumber dasarnya itu jelas (qur’an dan haditsnya), maka saya hanya berusaha untuk mengamalkannya. Ketika amalan itu ada sesuatu yang meragukan, maka saya lebih suka untuk menghindarinya..

Mungkin mas Badru bisa lebih spesifik ttg shalawat di atas yg meragukan dan bertentangan dgn Al Qur’an dan hadits, ijma dan qiyas? Sehingga perlu dihindari.

Oh ya bisa beri contoh konkret orang yg menjadikan guru menjadi Nabi baru. Tentu bukan orang yg mengaku2 mjd nabi baru spt A. Mushadek dlsb. Sehingga yg antum katakan punya alasan dan bukti yg jelas, tidak hiperbolis.

Syukron. Mari bersholawat dan perindah sholawat kita. Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam senantiasa menjawab shalawat dan salam kita & itu salah satu bukti cinta.

Syaiton lebih mencintai bid’ah daripada maksiat
karena jika orang melakukan maksiat ia tahu bahwa itu terlarang, tetapi jika ia melakukan bid’ah seakan akan ia merasa dekat dengan dengan Allah padahal sesungguhnya ia sangat jauh dengan-Nya
—————-

dalilnya? atau ini pendapat sendiri?

Assalamu’alaikum semuanya

Salam kenal buat mas Ahmad Lukman. InsyaAllah, Allah swt melimpahkan barokah_nya kepada anda. Amin. Salut buat Anda.
Saya setuju sekali kita harus memperindah dan memperbanyak sholawat. Karena saya yakin RasuluLLah Muhammad SAW pasti akan menjawab sholawat kita. MasyaAllah berarti kita pun bisa berdo’a dan diamini oleh Rasul Muhammad SAW. Allahu Akbar.
Namun kayaknya lebih baik mari kita semuanya mencari persamaan di antara kita. Kalau lah ada perbedaan satu dua di sana sini, biarlah itu terjadi dan kita kerjakan mana yang kita mantep untuk mengerjakannya. Itu saja
Lha wong orang-orang di luar situ yang jelas-jelas memusuhi kita saja tidak pernah kita usik kok. Kok kita malah sibuk mencari perbedaan di antara kita.
Bismillah InsyaAllah, Allah SWT dengan kemuliaan NAbi-Nya selalu menunjuki kita jalan-jalan keselamatan amin.

Assalamu’alaikum Wr Wb
Masih saja di zaman sekarang ini orang mengaku dirinya paling benar yang lain pada salah. Padahal pada saat kita mengatakan kita yang paling benar, maka pada saat itulah kita menjadi makhluk yang paling hina disisi Allah. Hidayah, Taufik dan inayah itu hanya milik Allah. Dan perlu kita semua tahu bahwa menggapai hidayah, taufik dan inayah itu tidak datang dengan sendirinya. Yang paling penting buat kita sekarang ini adalah UKHUWAH ISLAMIYAH, rasa persaudaraan yang eratlah yang mampu memikul beban yang akan diletakkan ke atas pundak kita
afwan
hamba fakir

hamba yang fakir

kok aku lain yah…
kalau mau doa dg tulus..pasti Allah kasih.. itu sepanjang pengalaman hidupku…

jadi berdoa saja dengan hati jangan dengan harapan….

Berdo’alah dengan hati dan penuh harap.

Assalamu’alaikum akhina Ahmad Lukman,

Ane tiap abis sholat baca nih sholawat nariyah, kadang sholawat Munjiyyah, ane cuman gedeg aje ame orang yang merespon Shalawat Nariyah itu syirik, atawa bid’ah atawa gag diajarkan Rasulullah SAW, nah ane mo tanya sama mereka, apakah Khutbah Jumat dijaman Rasulullah SAW itu menggunakan Bahasa Indonesia yah, ato menggunakan bahasa inggris ato bahasa urdu?? kalo shalawat nariyah ini bid’ah, mereka gag sadar padahal mereka berbuat bid’ah.
Sesungguhnya semua itu hanya kedangkalan ilmu mereka saja yang bertaklid buta dengan Wahabi.

Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad….

Shollu ‘alaih

Nama asli dari Do’a Nur Buwwah adalah Nuurun Nubuwwah atau Cahaya Kenabian, do’a ini dibawa oleh malaikat Jibril dan diajarkan secara langsung oleh para Rasul kepada para sahabat.
Kepada para sodara sekalian yang seumur hidup belum pernah mengenal do’a ini janganlah langsung mengatakan do’a ini tidak bener atau tidak valid JUSTERU SODARALAH YANG MESTI NANGIS TERSEDU-SEDU KARENA SUDAH SETUA INI BARU KALI INI DENGER DO’A YANG SANGAT MULIA INI.
JADI SELAMA INI NGAPAIN AJA.
INGAT, JIKA ADA SESUATU YANG ANDA TIDAK KETAHUI BUKAN BERARTI IA TIDAK ADA, TAPI PENGETAHUAN ANDALAH YANG BELUM SAMPAI KESANA WAHAYY SODARA.

Konon kesuksesan Syech Puji dalam bisnis karena beliau rajin mengamalkan sholawat ini…btw amalkan saja karena niatnya karena Allah lho ya bukan karena pengen jadi syech Puji yang kaya raya itu…be yourself deh

loe ini dengki amat ama amalan orang biarin aja sih … gitu koq repot… coba bersihkan hati loe dulu tuh… sama2 muslim ribut2.. dasar gak punya otak!!!! Jangan2 loe ini misionaris ataw non muslim yg mo ngadu domba ya….? hati2 ya….
Ni orang perlu kasih germo dulu

Pak Ustadz Yth,

Saya lagi mencari dalil / hujah tentang salawat NARIYAH apakah ini dicontohkan oleh Rosululloh saw ???

Bukankah ibadah kita harus ittiba kepada Rosulluloh saw ??

Ass. Ada beberapa hal yg membuat sy bingung kenapa sholawat sll dikaitkan dng faedah/manfaat,apa benar sholawat nariyah bisa memberikan faidah seperti yg tertulis,saudaraku jangan kita tertuju pd faedah, ingat sholawat adalah do’a,sedang yg bisa mengabulkan do’a hanya ALLAH yg lain tidak bisa.
Maka jangan kau agungkan apapun selain ALLAH.
Jika kita membaca sholawat/apapun hanya keridloanNYA yg kita harapkan, karena hanya ALLAH bisa memberi manfaas atas segala sesuatu,maaf jika tidak berkenan
Wass

akhirny ak dpt jg sholawat nariyah..
makacih artikelny,mga tmbh b’manfaat..
Amiinn…

@ Cahyajati ; ada apa dengan faedah? Jika ukhti bicara tentang hakikat, maka tidak ada yang kuasa tanpa izin dari siapa pun kecuali hanya Alloh SWT. Untuk mendekatkan diri kepada Alloh [keredhaanNya tentunya], Alloh memerintahkan kepada kita untuk mencari wasilah. Kenapa Alloh menyuruh kita memusyrikkan diriNya dengan suatu perantaraan [wasilah]. Kontradiktif kan? Kok Alloh menyuruh kita musyrik.

Ketika kita berbicara bahwa orang yang bersedekah akan dihindarkan bala/mushibah. Hakikatnya hanya Alloh yang dapat menghindarkan segala bala/ mushibah, bukan sedekah itu. Sedekah hanya sebagai wasilah, hakikat kembali kepada Alloh.

Ketika kita bershalawat dan diiming2ngi faedah, yakinlah bahwa bukan shalawat itu yang berkuasa memberi faedah, namun kembali kepada Alloh SWT.

Banyak orang yang picik dan gemar menebarkan fitnah ke sana ke mari tentang amalan orang lain dengan sebutan bid’ah, musyrik dlsb. Jamaah yang selalu mengklaim paling murni tauhidnya, sementara yang lain cacat. Bahkan mereka mudah mencap orang kafir. Semoga Alloh meluruskan mereka.

Allohu a’lamu

Ass Kyai Saad

Boleh minta info ttg history Shalawat Nariyah? Ada sejak jaman Rasulullah apa ada sejak Beliau wafat?

Trims

salam,
saya dukung pertanyaan Mas Budi. sebenernya siapa yha yang bikin shalawat nariyah jadi tambah beken terutama di blog ini, sampe kita2 jadi “geger” begini..?! :roll:

yang jelas bahasa arab bukan bahasa indonesia,dan gak semua bahasa bisa difahami kecuali oleh para ahli bahasa, yangga?! :lol:

kalo inget Rasulullah saw pernah bilang gini: da’ ma yaribuk ila ma la yaribuk (HR. Tirmidzi). kalo merasa ga yakin yaudah tinggalin aja..;)

:cry:
Kalimatu al haqq yuridu biha al baathilu
Perkataan/dalil yang benar yang digunakan untuk sesuatu yang batil.

Gak usah ragu untuk menunjukkan cinta kita kepada junjungan nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam. Ungkapan cinta kita dalam bentuk shalawat tidak akan menjadikan kita musyrik. Tidak usah bingung dengan statement yang tidak memiliki dasar yang kuat.

Yukhsaru al mar’u ma’a man ahabba
Kelak manusia dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.

Tolong carikan sejarah shalawat Nariyah yang antum perdebatkan itu, dengan dalil dan pertanggungan jawab nanti di depan Allah bahwa yang antum terangkan itu betul dan bukan karangan yang mengada-ada, kalau ada ana akan beriman kepada penjelasan antum.

Jangan sewot dan sombong ustadz. Belajarlah ilmu dan kearifan. Insya Alloh ustadz akan dapat ilmunya.

Katanya orang yang sombong akan jauh dari syurga. Katanya loh, saya sih tidak punya dalil seperti ustadz Abd. Basir hafidzahullah.

Keep smilling…

Kalau antum punya dalil yang melarang orang mengungkapkan rasa cintanya yang mendalam kepada Nabinya, silakan tuliskan, gak usah sombong, seolah semua ilmu antum sudah ketahui.

Bid’ah kah dan musyrik kah orang yang berteriak : Fidaaka anta abi wa ummi ya Rasulalloh! [Aku tebus Engkau, dengan jiwa raga bapak dan ibuku wahai Rasululloh]

Ilmu itu bak samudra ustadz Abd. Basir. Sudahkan antum jelajahi semua tepinya? Allohu yahdik

Keep smiling…

AsSalamu’alaikum

ane awalny mengangGap Shalawat yg menjunJung tingGi sayyidina MuhamMad SAW i2 suatU bid’ah atau syirik . . Namun i2 hnya pRasangka dan keangkuhan krna kdangkalan ilmuku . .

Stelah aku tahu adanya tawassul , , aku yakin ini tdkLah syirik . .

Kalian pRnah nyadar gk ?
KLo org sedang jaTuh cinta ke lawan jenis , sejuTa kata indah kita rangkai karna untUk mendptkan cinta dari lawan jenis terSebut dan mMbuktikan qta cinta lwn jenis tsBt . .
(gk usah di coNtohin , yakin d dah pada jago )

nah , junjunglah MuhamMad SAW setingGi-tingGinya dan jangan meminta kepada MuhamMad SAW atas sgala hajat . .

Kalo qta ragu brtawasul , gunakan shalawat untuk nunjukin cinta qta pada rasul aja . .
N smuga di akhrat rasul melirik kita unTuk di beri syafaAt darinya krna RAsUL sudah di beri izin Oleh Allah SWT untk memberi syafAat .

N gw cman mau nglurusin pndpt yg memandang , n kata2 pd shalawat nariyah i2 berlbhan . .

Gni :
“sesungGuhnya MuhamMad itu berada pada Akhlak yang Agung ”
gw lupa Qur’an surat apa ayat brP .
Tapi intiny Allah SWT memuji Muhammad SAW dgn kata ADZHIM atau Agung .
Bukan mulia , terhormat ,or etc .

Allah SWT aja memuji Muhammad SAW . . Lhah qta yg masi pada bnyk dosa kuq gk mau memuji Muhammad SAW . .
(memuji bukan memuja y kwan ^^)

Sholu a’la Muhammad !

Mari kita nyatakan cinta qta kepada Muhammad SAW dgn shalawat karna Muhammad SAW yg telah memperkenalkan qta PAda Allah SWT ,Zat yg dibutuhkan adanya , Zat yg pantas disembAh . .

1x lage . . Sholu a’la Muhammad

Allohumma sholli wa sallim wa baarik ‘alayh wa ‘ala aalih wa ash-habih

Ya Allah Ya Rabbana Ya Kariim…
Segala puji hanya milik Engkau, hanya milik Engkau. Pencipta alam beserta segenap isinya. Sungguh hamba ini adalah makhluk Engkau yang dho’if, hambaMu yang sangat membutuhkan bimbinganMu.. hamba yang sangat perlu akan petunjukMu..
Hamba berterima kasih kepada Engkau.
Telah Engkau kirim seorang Rosul Mulya, insan terkasih, sungguh telah datang seorang nabi yang sangat mencintai ummatnya. berat terasa baginya derita yang dipikul ummatnya. haram bagi hamba mencintai yang lain sebelum dengan segenap jiwa hamba mencintai beliau. Dialah Rosulullah Sayidina wahabibina Muhammad salallahu’alaihi wa’alihi wassalam. Rahmatan lil alamin. Cahaya bagi seluruh alam. Yang dengan kehadirannya di muka bumi menjadi rembulan bagi kami, menjadi penyejuk bagi kami dikala kami duka. Sungguh cinta Engkau adalah manakala kami mencintai beliau.
Ya Allah limpahkanlah segenap kebahagiaan, keberkahan, kemulyaan dan derajat yang tinggi untuk beliau beserta keluarga dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Karena dengan mencintai beliau dan mengikuti segala sunnah beliau Insya Allah akan selamatlah hidup kami baik di dunia maupun di akhirat.
Ya Allah…
Sampaikan salam kami…
Sampaikah rasa cinta kami …
Insya Allah kami adalah pengikut beliau…
Kami laksanakan shalat sebagaimana beliau shalat,
Kami akan bersaum sebagaimana belaiu saum,
Kami akan berucap sebagaimana belai bertutur kata,
Kami akan makan sebagaimana beliau makan,
Kami akan bersikap sebagaimana beliau bersikap,
Ya Allah …
Bimbinglah kami…
Agar kami mampu mengikuti sunnah beliau, beliau adalah cinta kami di dunia ini dan beliau pemberi syafaat kami di akhirat nanti…
Beliau adalah hamba Allah termulya…

Ya Allah Ya Rabbana Ya Kariim…
Segala puji hanya milik Engkau, hanya milik Engkau. Pencipta alam beserta segenap isinya. Sungguh hamba ini adalah makhluk Engkau yang dho’if, hambaMu yang sangat membutuhkan bimbinganMu.. hamba yang sangat perlu akan petunjukMu..
Hamba berterima kasih kepada Engkau.
Telah Engkau kirim seorang Rosul Mulya, insan terkasih, sungguh telah datang seorang nabi yang sangat mencintai ummatnya. berat terasa baginya derita yang dipikul ummatnya. haram bagi hamba mencintai yang lain sebelum dengan segenap jiwa hamba mencintai beliau. Dialah Rosulullah Sayidina wahabibina Muhammad salallahu’alaihi wa’alihi wassalam. Rahmatan lil alamin. Cahaya bagi seluruh alam. Yang dengan kehadirannya di muka bumi menjadi rembulan bagi kami, menjadi penyejuk bagi kami dikala kami duka. Sungguh cinta Engkau adalah manakala kami mencintai beliau.
Ya Allah limpahkanlah segenap kebahagiaan, keberkahan, kemulyaan dan derajat yang tinggi untuk beliau beserta keluarga dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Karena dengan mencintai beliau dan mengikuti segala sunnah beliau Insya Allah akan selamatlah hidup kami baik di dunia maupun di akhirat.
Ya Allah…
Sampaikan salam kami…
Sampaikah rasa cinta kami …
Insya Allah kami adalah pengikut beliau…
Kami laksanakan shalat sebagaimana beliau shalat,
Kami akan bersaum sebagaimana belaiu saum,
Kami akan berucap sebagaimana belai bertutur kata,
Kami akan makan sebagaimana beliau makan,
Kami akan bersikap sebagaimana beliau bersikap,
Ya Allah …
Bimbinglah kami…
Agar kami mampu mengikuti sunnah beliau, beliau adalah cinta kami di dunia ini dan beliau pemberi syafaat kami di akhirat nanti…
Beliau adalah hamba Allah termulya…
Namun beliau tetaplah seorang hamba Allah, … Hamba Allah … Hamba Allah yang membawa risalah Allah, …
Hamba Allah yang dicintai oleh segenap alam..

Lelaki agung itu berdiri di tengah ummatnya, senja telah tiba, semilir angin senja menerpa wajah mulya, semburat cahaya jingga terpancar di sela – sela awan berarak keperakan. Menyaksikan semangat ibadah para sahabat beliau, peluh bercucuran membasahi bumi makkah di sekitar Ka’bah, seakan berucap terima kasih atas diinjak-injaknya bereka oleh kaki-kaki suci.
Tawaf, sebagai salah satu rukun haji telah dilaksanakan oleh Rosulullah beserta sahabat beliau.
Para sahabat berkumpul, berdesakan namun tetap tertib dan hidmat, karena sang Rosul akan menyampaikan wahyu , sebagai firman dari Sang Maha Pencipta.”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.”
Itu adalah wahyu terakhir yang mereka terima, kemudian Rosulullah juga berpesan :” Hai manusia, ringankan beban pembantumu, mulyakanlah istri-istrimu, …
Dengan seksama para sahabat mendengarkan nasehat tersebut,
Tak tertahankan rasa gembira para sahabat mendengatkan wahyu, karena Sang Maha Kasih telah menyempurnakan segala aturan hidup mereka dan meridhoinya sebagai the way of life.
Secercah kesedihan tampak dari raut Abu Bakar Ash Shiddieq. beliau adalah salah seorang sang sangat dekat dengan laki-laki suci itu.
Selesai pertemuan beliau segera bergegas ke kediaman.
Tangis hisak dan kepedihan terpancar jelas di raut wajah beliau, sehingga menjadi perhatian beberapa orang sahabat terdekat rosulullah.
Ada apa dengan engkau wahai Ash Shiddieq? mengapa engkau tidak mengekspresikan kebahagiaan? Bukankah hahyu terakhir telah turun? Bukankah agama kita telah diridhoi olehNya? beberapa para sahabat bertanya tentang duka yang dialami oleh Abu Bakkar.
Tidakkah engkau sadari puncak dari pada pertemuan adalah perpisahan? Tidakkah kalian fahami wahyu terakhir adalah detik-detik akhir pertemuan kita dengan Baginda Rosulullah Muhammad saw yang amat kita cintai?
Bukankah wahyu terakhir merupakan tanda berakhirnya tugas beliau?
Dengan suara berat Abu Bakkar berkata :” Kita akan berpisah dengan lautan kasih…
Spontan ucapan Abu Bakar menghentak kesadaran para sahabat yang selama ini terbawa oleh pesona arus kebahagiaan.
“Apakah maksud engkau Rosulullah akan wafatya Ash Shiddieq?”
Abu Bakar terdiam, wajah wibawa itu tertunduk, tak kuasa ditegakkannya.sementara linangan air mata terus mengalir membasahi keriput pori-pori pipi beliau.
“Maksudmu rosulullah akan meninggalkan kita Ya Ash Shiddieq?!”
Tanya para sahabat penasaran.
Beberapa pertanyaan tak mampu dijawabnya, akhirnya para sahabat sergegas pergi setelah mengucapkan salam.
Berita tersebut cepat tersebar ke segenap penjuru.
Yang mereka tangkap adalah Baginda mulya akan wafat.
Berita yang menggelisahkan membuat kota Madinah dan Mekkah tampak seperti kota yang memendam seribu misteri.
Hendak bertanya, namun tak kuasa, tidak bertanya beban begitu berat.
Puncak daripada itu semua akhirnya beberapa sahabat berkumpul, bermaksud menanyakan beban berat yang menghimpit jiwa mereka, puluhan, belasan, dan ratusan akhirnya jumlah mereka bergegas menuju ke kediaman Rosul yang merupakan bagian dari belahan hidup mereka.
Rosulullah bersama istri beliau pada saat itu, melihat para sahabat beliau datang, dengan senyum bahagia beliau menyambut mereka. Namun tak seorangpun para sahabat menunjukan wajah bahagia. Baginda tidak mengerti apa yang terjadi dengan para sahabat beliau.
“Ada apa dengan kalian wahai para sahabatku?
Mengapa kalian tampak begitu khawatir?..
Semua membisu, lidah mereka kelu , tak seorangpun yang mampu menengadahkan wajahnya.
“Apa salahku wahai saudaraku, apakah aku membuat kalian duka?”
Para sahabat tetap terpaku, sementara degup dijantung mereka berdetak kuat, keringat bercucuran, hendak mereka katakan namun tak kuasa menerima jawaban.
Akhirnya terlontar pula sepatah katya….
A,a, apakah engkau akan meninggalkan kami ya rosulullah?.. Apakah wahyu terakhir adalah tanda engkau akan wafat, ya Nabiallah?..
Rosulullah terhentak namun segera tertunduk, “Siapa yang berucap demikian?”
ABU BAKKAR !!! Ya rosulullah, setengah berteriak beberapa sahabat menjawab. Seakan mereka ngionginkan jawaban yang berseberangan dengan ucapan Ash Shiddieq.
Sambil tertunduk rosulullah berkata : “Abu Bakkar, .. ti.. tidak, sa, salah….
Spontan bumi yang mereka pijak saat itu pula basah, basah dengan keringat, terlebih dengan cucuran air mata para sahabat ….

Kelelahan dan kepayahan terpancar dari wajah suci itu, rambut lusuh beliau tampak basah oleh peluh yang terus mengalir dari kening dan kulit kepala beliau. Demam tinggi sudah beberapa hari menyelimuti tubuh mulya itu, beberapa luka terlihat jelas di beberapa organ tubuh beliau.
Kegelisahan yang amat dahsyat tampak dari raut wajahnya. Ada hal yang amat penting yang seolah menjadi tiang penghalang beliau untuk menghadap Illahi Robbi. Dua lembar selimut tak mampu menjadi penghangat demam yang beliau derita. Ke kiri dan ke kanan wajah beliau palingkan, sementara Jibril hanya mampu diam membisu.
”Jibril, mengapa engkau tak mampu mengobati kegelisahan hatiku? Apakah engkau malu melihatku seperti ini?” Suara parau beliau keluar dari sela sela bibir.
Jibril yang sejak lama mendampingi beliau tak mampu menatap wajah yang begitu berkharisma, seolah mengatakan telah tuntas melaksanakan tugas mengemban risalah kenabian.
”Tidak ya rosulullah”…
”Aku hanya tidak tega melihat engkau, yang merupakan kekasih Allah begitu menderita di saat sakaratul maut seperti ini.”
Tidak mengapa ya Jibril, … Sekira begini sakitnya sakaratul maut, aku mohon limpahkan sakit seluruh sakaratul maut ummatku kepadaku…
Yang terpenting bagiku bagaimana ummatku sepeninggalku nanti ya Jibril..
Bagaimana ummatku ya Jibril?…
Malaikat yang selalu setia menemani Baginda tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan yang beliau lontarkan.
Segera Jibril melesat menuju kehadirat Illahi Robbi, bertanya tentang kondisi ummat Rosulullah Muhammad saw.
Kemudian di sampaikan berita langit bahwa Allah akan mengharamkan ummat – ummat yang lain masuk ke Syurga sebelum ummat Muhammad terlebih dahulu memasukinya..!!!
Keceriaan tampak membias di wajah baginda.
Seraya berucap : Ummati, … ummati …. ummati….
Ruh suci itu menghadap ke Illahi…

Ya rosulullah…
Hingga air mata ini kering, ..
Hati ini takkan pernah berhenti mencinatu engkau ..
Ya Kekasih Hati..

Izinkah kami berjumpa dengan mu di akhirat nanti ya habibana..
Wa syafi’ana wamaulana ….

Kelelahan dan kepayahan terpancar dari wajah suci itu, rambut lusuh beliau tampak basah oleh peluh yang terus mengalir dari kening dan kulit kepala beliau. Demam tinggi sudah beberapa hari menyelimuti tubuh mulya itu, beberapa luka terlihat jelas di beberapa organ tubuh beliau.
Kegelisahan yang amat dahsyat tampak dari raut wajahnya. Ada hal yang amat penting yang seolah menjadi tiang penghalang beliau untuk menghadap Illahi Robbi. Dua lembar selimut tak mampu menjadi penghangat demam yang beliau derita. Ke kiri dan ke kanan wajah beliau palingkan, sementara Jibril hanya mampu diam membisu.
”Jibril, mengapa engkau tak mampu mengobati kegelisahan hatiku? Apakah engkau malu melihatku seperti ini?” Suara parau beliau keluar dari sela sela bibir.
Jibril yang sejak lama mendampingi beliau tak mampu menatap wajah yang begitu berkharisma, seolah mengatakan telah tuntas melaksanakan tugas mengemban risalah kenabian.
”Tidak ya rosulullah”…
”Aku hanya tidak tega melihat engkau, yang merupakan kekasih Allah begitu menderita di saat sakaratul maut seperti ini.”
Tidak mengapa ya Jibril, … Sekira begini sakitnya sakaratul maut, aku mohon limpahkan sakit seluruh sakaratul maut ummatku kepadaku…
Yang terpenting bagiku bagaimana ummatku sepeninggalku nanti ya Jibril..
Bagaimana ummatku ya Jibril?…
Malaikat yang selalu setia menemani Baginda tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan yang beliau lontarkan.
Segera Jibril melesat menuju kehadirat Illahi Robbi, bertanya tentang kondisi ummat Rosulullah Muhammad saw.
Kemudian di sampaikan berita langit bahwa Allah akan mengharamkan ummat – ummat yang lain masuk ke Syurga sebelum ummat Muhammad terlebih dahulu memasukinya..!!!
Keceriaan tampak membias di wajah baginda.
Seraya berucap : Ummati, … ummati …. ummati….
Ruh suci itu menghadap ke Illahi…

Ya rosulullah…
Hingga air mata ini kering, ..
Hati ini takkan pernah berhenti mencintai engkau ..
Ya Kekasih Hati..

Izinkah kami berjumpa dengan mu di akhirat nanti ya habibana..
Wa syafi’ana wamaulana ….

alhamdulillah, shalawat nariyah ini masih digemakan. mengingat sekarang ada aliran tertentu yang menganggap shalawat nariyah ini sesat. tapi itu hanya argumen yang dangkal. insa allah shalawat ini banyak fadilahnya. semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan berkahnya pada kita semua. amiin

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘ali Muhammad…
Fitnah Wahabi memang kejam……

Doa Menundukkan Lawan
Oleh: Syamsuri Rifai

Imam Ali bin Abi Thalib (sa): Sesungguhnya orang yang membaca doa ini tujuh kali setiap hari sebelum matahari terbit, dan meniup ke enamarah, ia akan terjaga dari kejahatan musuh-musuhnya dan tidak terkenabahayanya, dan mereka tidak akan mampu menundukkannya

اَللَّهُمَّ سَخِّرْلِي اَعْدَآئِي كَمَاسَخَّرْتَ الرِّيْحَلِسُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُوْدَ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ، وَلَيِّنْهُمْ لِيكَمَا لَيَّنْتَ الْحَدِيْدَ لِدَاوُوْدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ،وَذَلِّلْهُمْ لِي كَمَاذَلَّلْتَ فِرْعَوْنَ لِمُوْسَى عَلَيْهِالسَّلاَمُ، وَاقْهَرْهُمْ لِى كَمَا قَهَرْتَ اَبَاجَهْلٍ لِمُحَمَّدٍصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ بِحَقِّ كهيعص حمعسق صُمُّ بُكْمٌ عُمْيٌفَهُمْ لاَيَرْجِعُوْنَ، صُمُّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَيُبْصِرُوْنَ،صُمُّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَيَعْقِـلُوْنَ، فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَصَلَى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِمُحَمَّدٍ وَآلِهِ اَجْمَعِيْنَ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِبِحُرْمَةِ كهيعص حمعسق وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِالْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.

Allâhumma sakhkhirlî a’dâî kamâ sakhkhartar rîha li-Sulaymânabni Dâwûda ‘alayhimas salâm, wa layyinhumlî kamâ layyantal hadîda li-Dâwûda ‘alayhis salâm, wa dzallilhumlî kamâ dzalalta Fir`awna li-Mûsâ’alayhis salâm, waqharhumlî kamâ qaharta Abâ Jahlin li-Muhammadinshallallâhu ‘alayhi wa âlihi bihaqqi kâf-hâ-yâ-‘âyn-shâd hâ-mîm-‘âyn-sîn-qâf; shummun/m bukmun ‘umyun fahum lâ yarji’ûn, shummun/m bukmun’umyun fahum lâ yubshirûn, shummun/m bukmun ‘umyun fahum lâ ya’qilûn,fasayakfîkahumullâhu wa Huwas Samî’ul ‘Alîm wa shallallâhu ‘alâ khayrikhalqihi Muhammadin wa âlihi ajma’în. Bismillâhir Rahmânir Rahîmbihurmati Kâf-hâ-yâ-`ayn-shâd hâ-mîm-`ayn-sîn-qâf wa lâ hawla walâquwwata illâ billahil ‘Aliyyil ‘Azhîm.

Ya Allah, tundukkan padaku musuh-musuhku sebagaimana Kau tundukkanangin pada Sulaiman bin Dawud (a.s), lunakkan mereka padakusebagaimana Kau lunakkan besi pada Dawud (a.s), hinakan mereka dihadapanku sebagaimana Kau hinakan Fir’aun di hadapan Musa (a.s), dankalahkan mereka padaku sebagaimana Kau kalahkan Abu Jahal padaMuhammad saw dengan hak Kâf-hâ-yâ-`âyn-shâd Hâ-mîm-`âyn-sîn-qâf;mereka tuli, bisu dan buta sehingga mereka tidak akan kembali; merekatuli, bisu dan buta sehingga mereka tidak akan melihat; mereka tuli,bisu dan buta sehingga mereka tidak mampu berpikir; maka Allahmelindungi kamu dari mereka, dan Dia Maha Mendengar dan MahaMengetahui. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat kepadamakhluk yang terbaik Muhammad dan seluruh keluarganya. Dengan namaAllah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang dengan kemuliaan Kâf-hâ-yâ-`âyn-shâd Hâ-mîm-`âyn-sîn-qâf , tiada daya dan kekuatan kecualidengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. (Kitab MujarrabatImamiyah).

dari kemarin cari sholawat nariyah, baru keingetan sekarang. asline aku apal ama sholawat nariyah, cuma aku takut ada lafal yang salah, makane aku cari2. dan di buku berjanji ku, ternyata udah ga ada, jadi altrernativ lain cari ke internet dan ketemu, ternyata aku ga salah. bener… wong aku udah apal dari lamaaaaaaa banget, alhamdulillah.
bot sholawat nariyah yang sesat, ga tau. coz setauku, aku selalu suka baca dan nyanyi, sholawatan pas ngaji pake sholawat. agak2 lupa wong itu zaman masih sregep ke masjid, waktu kecil, jadi …

Semoga tambah cinta pada salawat. Amien

hihihi… ernyata di buku yang aku punya ada. baru aja aku buka lagi ternyata ada tek, hihihi…. tp tq dweh.

siapa punya mp3 doa nurbuat mohon saya dikirimi:
nyunyup@yahoo.com

semogaaq dapatmengamalkannya

semoga cepet q amalkan

ternyata mengamalkan shalawat nariyah itu membuat hati jadi tenang.aku dulu juga nanggap klo mengamalkanya sulit tp trnyata nggak.

Ada kaidah ” sekiranya perbuatan itu baik tentulah mereka (para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, imam yang 4) telah mendahului kita dalam mengamalkannya”

kalau sekiranya sholawat nariyah ini baik pastilah nabi sholallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada sahabatnya. pastilah sahabat-sahabat seperti abu bakar, umar, usman, ali, ibnu umar, ibnu abbas dll mengamalkan sholawat nariyah. Pastilah tersebar pula dalam kitab-kitab Hadits, pastilah dibahas oleh ulama-ulama besar Islam seperti An-Nawawi dalam al adzkarnya atau Ibnu Sunni dalam amalul yaumi wal lailah nya atau ulama ulama yang secara khusus mengumpulkan hadits mengenai sholawat semisal Ibnul Qayyim dalam Jala-ul afhaam fish shalati was salaami ‘ala Khairil anaam atau As Sakhawiy dalam al qaul Badi’ fish shalati ‘ala habibisy syafi.

Sayang 1000 sayang sholawat nariyah ini sekedar buatan tangan seorang umat muhammad yang tentunya tidak bisa dimasukkan ke dalam bagian syariat. karena telah jelas syariat ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya.
Dimana ucapan berkonotasi syirik dalam sholawat nariyah ?
1. yang dengannya (muhammad) segala ikatan menjadi lepas –> yang menyelesaikannya nabi muhammad bukan Allah
2. Segala kesedihan akan lenyap karenanya (muhammad) –> seharusnya karena pertolongan dan rahmat Allah
3. dan dengannya segalacita-cita tercapai
4. dan dengannya segala kebutuhan akan terpenuhi
5. dan dengan wajahnya (muhammad) yang mulia awan berubah menjadi hujan

diujung sholawat nariyah ada kalimat “sebanyak seluruh apa yang engkau ketahui” –> kalimat ini sifatnya membatasi pengetahuan Allah, jelas sebuah kesalahan

kita tau Allah berfirman dalam Qs. Saba: 22
“Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarah pun dilangit dan dibumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada diantara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.”

Nabi sholallahu alaihi wa sallam pun tidak ridha dikatakan sebagai orang yang bisa melepaskan segala ikatan (kesulitan) dan melenyapkan segala kesedihan. karena Allah telah memerintahkan kepada Nabi-Nya dalam Alqur’an untuk menyatakan satu peringatan. Allah berfirman:
“katakanlah:”aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudhoratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudhorotan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman (Qs. Al A’raf :188)

Rasulullah bersabda: “janganlah engkau memujiku secara berlebihan sebagaimana nashara telah memujiku secara berlebihan terhadap (Isa) Ibnu Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah maka katakanlah “hamba Allah dan rasul-Nya.” HR. Bukhari no.3445

seandainya sholawat itu bisa dibuat siapapun termasuk sahabat rasulullah tentulah mereka akan membuat sholawat versi mereka sendiri-sendiri. tetapi yang kita dapati sebaliknya, lihat petikan hadits-hadits dibawah ini:

Imam Bukhari dan lainnya telah meriwatkan hadits dibawah ini dari jalan Ka’ab bin Ujrah
, … maka bagaimanakah (cara) kami (yakni para sahabat) bersholawat kepadamu? beliau sholallahu alaihi wa salam menjawab: “ucapkanlah oleh kalian Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad
kama shollaita ‘ala Ibrahim wa’ala ali Ibrohim
innaka hamidummajid
Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad
Kama baarakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrohim
innaka hamidummajid.

demikian juga hadits-hadits yang lain semisal dari jalan sahabat Abu Humaid As-Saa’idiy, Abi Mas’ud al Anshary, abu Said al khudry, dan Abu Hurairah telah mengabarkan bahwasanya para sahabat bertanya : “Ya rasulullah, bagaimana (caranya) kami bersholawat kepadamu?” kemudian Rasulullah mengajarkan bacaan sholawat kepada mereka

Jelaslah bahwa bacaan sholawat itu tidak ditetapkan berdasarkan akal pikiran seseorang namun berdasarkan nash dan wahyu. karenaya sudah semestinya kita mengambil apa yang Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam ajarkan mengenai bacaan sholawat, dan itu telah mencukupi bagi kita.
jika saudara kita pengamal sholawat nariyah itu introspeksi maka ia akan menyadari bahwasanya ia telah melalaikan banyak ragam bacaan sholawat yang sah bersumber dari Nabi Muhammad Sholallahu alaihi wa sallam.

Jubah Nabi Muhammad SAW.
Asma binti Abi Bakr berkata : “Jubah ini pernah dipakai Nabi SAW lalu kami membasuhnya untuk orang sakit agar bisa sembuh dengan jubah tersebut”
(HR. Muslim, lihat Al Ajwibah Al Gholiyah Fii ‘Aqidatil Firqotin Naajiyah bab Tabarruk (Ambil Berkah) Bi Aa-tsaarish Sholihin (Dengan Bekas Orang Sholeh))

Adakah Asma binti Abu Bakar sedang mempropagandakan kesyirikan dengan kalimat tsb?

Rambut Nabi Muhammad SAW.
Kholid bin Walid pernah meletakkan rambut Nabi SAW di dalam pecinya. Lalu pernah pecinya terjatuh di salah satu perangnya, lalu Kholid bin Walid bersungguh-sungguh mengambilnya sehingga para sahabat mengingkarinya karena sebab perbuatan Kholid banyak para sahabat yang gugur. Maka berkatalah Kholid : Saya tidaklah melakukannya karena sebab peci itu tetapi karena di dalam peci itu terdapat rambut Nabi SAW agar tidak hilang berkahnya dan tidak jatuh ke tangan orang-orang musyrik.
(Kitab Asy Syifa karangan Qodi ‘Iyadh)

Jatuhkah sang Pedang Alloh ke dalam jurang kesyirikan dengan perbuatannya ini? Adakah sehelai rambut mampu memberi keberkahan sehingga mati2an mempertahankannya?

Air Wudhu’ Nabi Muhammad SAW.
Diriwayatkan dari Abi Juhayfah : “Aku melihat Bilal mengambil air wudhu’nya Nabi SAW dan manusia (para sahabat) pun cepat-cepat mengambil air wudhu’ Nabi tersebut. Lalu siapa saja yang mendapatkan air wudhu’ Nabi tersebut mereka mengusapkan air wudhu’ Nabi tersebut (ke tubuhnya), sedangkan yang tidak mendapatkan air wudhu’ Nabi tersebut, mereka mengambil dari basahan di tubuh para sahabat Nabi (yang berhasil mengambil air wudhu’ Nabi)”
(HR. Bukhori dan Muslim, yaitu untuk tabarruk dan memohon kesembuhan)

Adakah seluruh sahabat rusak akidahnya [dan HANYA wahabi yang murni akidahnya] dengan perbuatan ‘bodoh’ memperebutkan air bekas wudhu Nabi Muhammad SAW?
Tidakkah mereka tahu bahwa kesembuhan itu hanya hak Alloh dan tidak berkaitan dengan air bekas wudhu Nabi Muhammad SAW?

Ini hanya berkaitan dengan atsar [sisa atau bekas] dari Nabi Muhammad yang begitu diagungkan dengan pengagungan yang amat sangat. Yang melakukannya para sahabat yang dijamin syurga. Adakah wahabi dan para pemujanya mencela perbuatan sahabat dengan menyatakananya sebagai para musyrikin karena berbuat/bertindak seperti itu? Na’udzubillah. Wahabi tidak henti2nya mudah menuduh muslim sebagai kafir, mu’min sebagi musyrik.

Itu hanya sekedar peninggalan Nabi Muhammad. Bagaimana lagi dengan diri beliau yang begitu agung. Fidaaka abi wa ummi anta ya Rasululloh “aku tebus engkau dengan jiwa raga ayah dan ibuku wahai Rasululloh”

Anda silakan tanya kepada semua muslim yang membaca dan mengamalkannya, wahai Abdullah, adakah mereka meyakini dengan i’tiqad bahwa Nabi Muhammad lah yang melakukannya sendiri tanpa Alloh? Adakah mereka berakidah Nabi Muhammad lah yang berkuasa mutlak dan bukan Alloh?
Pasti jawabannya tidak.

Tahu makna kiasan dan balaghoh dari salawat tsb? Hakikatnya hanya Alloh yang melakukan itu semua, ya wahabi. Nabi Muhammad hanyalah wasilah. Sama seperti hujan yang diturunkan oleh malaikat Mikail. Adakah hakikatnya Mikail yang berkuasa penuh menurunkan hujan? Adakah semua muslim berakidah bahwa Mikail lah yang berkuasa menurunkannya?

Sesungguhnya kedudukan Rasululloh di sisi Alloh sangat agung. Namun tidak pernah ada seorang muslim pun yang menyatakan bahwa Rasululloh adalah Tuhan yang berkuasa sebagaimana Alloh berkuasa.

Hakikat kembali kepada Aalloh SWT.

Berpikir tenanglah wahai wahabi

Suhanallah… syukron atas penjelasannya ya akhi…

Sama2 ya akhie. Terima kasih atas kunjungan antum

saya mauminta tulisan arabnya yang pakek harokat yaaa??.,';][=

Assalamu alaikum warohmatullah
pa Ahmad yang saya hormati, menurut bapak mana yang lebih baik Sholawat yang telah sah Rasulullah Sholallahu alaihi wa sallam ajarkan kepada umatnya atau sholawat yang saya atau pa ahmad atau fulan bin fulan buat ?
jawabnya : Pasti sholawat yang telah sah datangnya dari Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam. Sholawat- sholawat yang sah datangnya dari baginda Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam ini anehnya malah terabaikan, kurang diperhatikan dibanding sholawat yang dibuat-buat.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.

Sholawat yang telah sah berasal dari nabi kita nabi muhammad sholallahu alaihi wa sallam inilah yang memuat keutamaan-keutamaan yang disebutkan dalam banyak hadits, seperti sabda rasulullah sholallahu alaihi wa sallam yang berbunyi ” Barang siapa yang bersholawat kepadaku satu kali sholawat niscaya Allah akan bersholawat kepadanya 10 x dan dihapuskan darinya 10 kesalahan serta diangkat baginya 10 derajat.” Hadits shahih ini diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam Sunannya juga dalam amalul yaum wal lailah, Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, ibnu hibban dalam shahihnya serta al hakim dalam al mustadrak.

Rasulullah telah mengajarkan kepada kita ragam sholawat, namun banyak saudara-saudara kita tidak memperhatikannya malah mencari bentuk-bentuk sholawat yang tidak rasulullah ajarkan. Hak siapa untuk melegalkan suatu sholawat ? hak siapa yang mengatakan sholawat ini berpahala ? hak siapa untuk membuat syariat dalam agama ini ?
Jawabnya : Allah serta rasulnya

kalau kita membuka kitab-kitab Ulama seperti Al Umm karya Imam Syafi’i atau Syarah Al Muhadzdzab karya Imam An-Nawawi, perhatikan ! Adakah sholawat nariyah disana? tidak ada, yang ada adalah sholawat yang sah yang telah rasulullah ajarkan kepada sahabat-sahabatnya dan hal ini tersebar dalam kitab-kitab hadits yang masyhur.
Beranikah mereka mengarang-ngarang sholawat ?
Jawab: mereka diatas (Imam Syafi’i dan Imam An-nawawi) tidak akan melakukan perbuatan nista seperti itu. justru mereka memuliakan sholawat yang sah dari rasulullah, mereka jelaskan hukumnya, keutamaannya, maksudnya dan sanadnya.

Sebagian orang yang demen dengan sholawat nariyah biasanya bersembunyi dibalik kata kiasan. Bahwa ungkapan -ungkapan itu adalah kiasan dalam memuji rasulullah sholallahu alaihi wa sallam sebagai ungkapan cinta menurut balaghah bahasa arab. tetapi bagaimana orang awam bisa memahami masalah ini ? Dan bukanlah agama ini menuntunkan untuk menghukumi sesuai lahiriyahnya ? bagaimana kita berdo’a kepada Allah memohonkan sholawat seraya menyematkan sifat-sifat ketuhanan (rububiyah) kepada makhluknya ? ketika kita berdo’a kepada Allah agar memberikan sesuatu kepada Muhammad , sementara sifat Muhammad tersebut tidak seperti yang dikehendaki oleh Allah dan Muhammad sholallahu alaihi wa sallam sendiri, lantas siapakah yang dimaksud dengan nama Muhammad dalam sholawat itu ?

mari kita amalkan sholawat yang telah Rasulullah ajarkan, karena itulah agama
berikut sholawat yang sah dari rasulullah sholallahu alaihi wa sallam

pertama
Allahumma sholli alaa muhammad. wa ‘alaa aali muhammad. kamaa sholaita ‘alaa ibroohiim wa ‘alaa aali ibroohiim. Innaka hamiidum majiid
Allahumma baarik ‘alaa muhammad. wa ‘alaa aali muhammad. Kamaa baarokta ‘alaa ibroohiim wa ‘alaa aali ibroohiim. innaka hamiidum majiid.
[Hr. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan lainnya dari jalan sahabat Ka’ab bin Ujrah ra]

Kedua
Allahumma sholli alaa muhammad. wa ‘alaa aali muhammad. kamaa sholaita ‘alaa aali ibroohiim.
wa baarik ‘alaa muhammad. wa ‘alaa aali muhammad. Kamaa baarokta ‘alaa aali ibroohiim wa ‘alaa aali ibroohiim. fil ‘aalamina innaka hamiidum majiid.
[Hr. Muslim, Abu Daud, Tirmiddzi dan lainnya dari jalan sahabar Abu Mas’ud Al Anshori ra]

Ketiga
Allahumma sholli ‘alaa muhammad. wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyatihi. kamaa sholaita ‘alaa aali ibroohim.
wa baarik ‘alaa muhammad wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyatihi. kamaa barokta ‘alaa aali ibroohiim. innaka hamiidum majiid.
[Hr. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan lainnya dari jalan sahabat Abu Humaid As-Sa
idi ra ]

keempat
Allahumma sholli ‘alaa muhammad ‘abdika wa rosuulika. Kamaa shollaita ‘alaa aali ibroohiim.
wa baarik ‘alaa muhammad. wa ‘alaa aali muhammad. kamaa baarokta ‘alaa aali ibroohiim.
[Hr. Bukhari, Nasa’i Ibnu Majah dan lainnya dari jalan sahabat Abu sa’d al Khudry ra]

kelima
Allahumma sholli alaa muhammad. wa ‘alaa aali muhammad. wa baarik ‘alaa muhammad. wa ‘alaa aali muhammad. Kamaa Shollaita wa baarokta ‘alaa ibroohiim wa aali ibroohiim. innaka hamiidum majiid.
[Hr. Nasa’i dalam Amalul Yaumi wal Lailah, juga diriwayatkan oleh Ath-Thahawi dalam musykil al atsar dari jalan sahabat Abu Hurairah ra]

keenam
Allahumma sholli alaa muhammad. wa ‘alaa aali muhammad. kamaa sholaita ‘alaa ibroohiim wa aali ibroohiim. Innaka hamiidum majiid
wa baarik ‘alaa muhammad. wa ‘alaa aali muhammad. Kamaa baarokta ‘alaa ibroohiim wa aali ibroohiim. innaka hamiidum majiid.
[Hr. Nasa’i, Ahmad dan Abu Nu’aim dari jalan Thalhah bin Ubaidullah ra]

ketujuh
Allahumma sholli alaa muhammadin nabiyyil umiyyi. wa ‘alaa aali muhammad. kamaa sholaita ‘alaa ibroohiim wa ‘alaa aali ibroohiim.
wa baarik ‘alaa muhammadin nabiyyil ummiyyi. wa ‘alaa aali muhammad. Kamaa baarokta ‘alaa ibroohiim wa ‘alaa aali ibroohiim. innaka hamiidum majiid.
[Hr.Abu Daud, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, ibnu hibbad dan lainnya dari jalan Uqbah bin ‘Amr al Anshary ra]

kedelapan
Allahumma sholli alaa muhammad. wa ‘alaa ahli baitihi wa ‘alaa azwaajihii wadzurriyatihi. kamaa sholaita ‘alaa aali ibroohiim. innaka hamiidum majiid.
wa baarik ‘alaa muhammad. wa ‘alaa ahli baitihi wa ‘alaa azwaajihii wadzurriyatihi. Kamaa baarokta ‘alaa ibroohiim. innaka hamiidum majiid
[Hr. Ahmad dan Abdurrazaq dari seorang laki-laki sahabat nabi sholallahu alaihi wa sallam]

—— demikian sholawat-sholawat yang sah datangnya dari rasulullah sholallahu alaihi wa sallam —

wahai saudaraku
Allah berfirman : “katakanlah , ‘Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku (muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ dan Allah maha pengampun, maha penyayang.”
Qs. Ali Imran :31
Imam Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala berkata: “ayat yang mulia ini sebagai pemutus hukum atas setiap orang yang mengaku mencintai Allah tetapi tidak berada di atas jalan nabi Muhammad sholallahu alaihi wa sallam, maka ia dusta dalam pengakuannya mencintai Allah sampai ia mengikuti syariat dan agama yang dibawa Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa sallam dalam setiap perkataan, perbuatan dan keadaannya.

disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam bersabda ‘ barag siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunan dari kami, amalan tersebut tertolak.

Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam bersabda: ” Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, kecuali wajib baginya untuk menunjukkan kebaikan yang diketahuinya kepada ummatnya dan memperingatkan mereka terhadap keburukan yang diketahuinya kepada mereka.”
[Hr. Muslim]

Orang yang benar-benar mencintai Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam adalah orang yang menampakkan tanda-tanda tertentu pada dirinya. Diantaranya adalah:
1. Mengikuti Nabi sholallahu alaihi wa sallam, mentauhidkan Allah, menjauhi syirik, mengerjakan sunnahnya, mengikuti perkataan dan perbuatan Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam, beradab dengan adabnya.
2.Lebih mendahulukan perintah dan syariat rasulullah sholallahu alaihi wa sallam daripada hawa nafsu dan keinginan dirinya.
3. Banyak bersholawat untuk Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam sesuai dengan sunnahnya.
4. mencintai orang yang dicintai nabi sholallahu alaihi wa sallam, baik keluarganya maupun sahabatnya yang muhajrin dan anshar serta memusuhi orang-orang yang memusuhi rasulullah sholallahu alaihi wa sallam dan membenci orang yang membencinya.
5. mencintai Alqur’an yang diturunkan kepada beliau sholallahu alaihi wa sallam, mencintai sunnahnya dan mengetahui batasnya.

wassalamu alaikum warohmatullah

Allah lebih tahu dari pada kita, shalawat banyak sekali lebih dari itu ada ratusan ribu bacaan shalawat, 1 saja sudah seru ya???.he..he..he

Mereka hanya tahu itu dan membatasi, lebih2 melarang yang lain dengan jahil. Padahal tidak ada larangan selama tidak bertentangan dengan syariat. Dalil yg dipaksakan untuk mendukung pendapat mereka, jauh panggang dari api. Itulah ciri khas Wahhabiyyun atau pengekor Wahhabi yang meletakkan dalil tidak pada tempatnya.

ass…
dari comment diatas,semua serasa ingin menang….
menurut saya,hidup adalah konsekuensi so yang mau ngamalin ya ngamalin yg enggak ya gk usah judge seseorang telah melakukan salah…toh semua cuma proses hidup….
maaf kelancangan saya…tapi islam terlalu indah untuk dicerai berai….islam terlalu istimewa untuk dipermusuhkan…bersatu…ok…

Semoga sholawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad Sholalallahu alaihi wasalam dan keluarganya amiin

setuju.
Semoga kita selalu disayang Allah.
Sy pribadi kl mau berkomentar selalu inget satu hal ini:
Kalau sy mati nanti, berapa hari dan berapa orang yng akan selalu mengingat saya.??
Paling2 cuman diinget waktu hari meninggal saja.
Artinya: SAYA BUKAN APA2.
Dibanding dng kanjeng nabi?? aduuuh ampun deh, gak ada apa2nya saya. Dibandingkan saja sudah tidak pantas.

Satu hal saja, dng dilahirkannya kanjeng nabi, beliau telah menyelamatkan saya.

Kalimat terakhir yang mas Nur sebutkan :

Satu hal saja, dng dilahirkannya kanjeng nabi, beliau telah menyelamatkan saya.

bisa dituduh syirik loh oleh Wahhabi loh. Padahal saya yakin mas Nur tidak sedang mendakwakan bahwa Nabi Muhammad SAW lah yg benar2, dengan kuasanya sendiri, menyelamatkan mas Nur.
Hati2 ada yang marah2 dengan kalimat mas Nur. he he he

wa’alaykum salam

Ada kerancuan dalam menetapkan bahwa yang sah dan boleh -selainnya tidak- adalah salawat yang berasal dari Rasululloh shallalohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam. Anda membuat perumpamaan yang tidak logis dan tidak argumentatif. Pendapat Anda tambal sulam sama seperti pemahaman para wahabi lainnya.

Asbabul wurud tentang ucapan sami’allohu liman hamidah ketika bangkit dari rukuk, ente tahu ya Abdulloh? Kalau belum tolong cari sendiri. Bagaimana Rasululloh menerima dan menjadikannya sebagai bacaan dalam sholat.

Siapa yang menggagas lafal Ash sholatu khoirun minan naum ya Abdalloh? Adakah Rasul Shalallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam mengajarkan Bilal ra. untuk mengucapkan itu?

Adakah Hubaib bin Adi ra. [cmiww] berlaku bodoh dengan sholat dua rakaat sebelum eksekusi mati, lantaran TIDAK PERNAH Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam contohkan dan perntahkan? Sungguh lancang sahabat tsb ra. melakukan bid’ah justru sebelum dirinya menghadap sang Khalik. Tidak kah sahabat tsb ra. tahu bahwa tiap sesuatu yang baru itu bid’ah dan tiap bid’ah itu sesat dan tiap sesat adalah neraka?

Tidak kah para ulama telah membangkang terhadap Rasul shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam dan para Sahabat dengan menambah tanda baca, harakat, dlsb dalam ayat2 Al Qur’an dimana tidak pernah satu sahabat pun menuliskannya dan memerintahkan untuk menuliskannya?

Adakah sahabat Dzun Nuroin, Utsman bin Affan ra. berlaku aniaya dengan membakar habis mushaf selain mushaf Utsmani? Adakah Rasululloh secara leterleks memerintahkan untuk membakar semua lembaran Qur’an selain lembaran yang telah disusun olehnya?

Adakah satu hadits yang secara khusus memerintahkan sholat tarawih berjamaah? Menghatamkan Al Qur’an dalam shalat tarawih dengan membaca 1 juz tiap malam di malam2 Ramadhan, seperti yang dilakukan di dua tanah haram? Tidak kah anda memprotes ustadz2 WAHABI anda dengan hal ini?

Adakah Rasul, sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’ien, imam yang empat, imam Bukhari, imam Muslim dan para ulama lainnya menyunnahkan untuk membagi2kan buku sesat pemahaman wahabi kepada semua jamaah haji yang akan pulang ke kampung halamannya? Kitabnya terkenal, tapi saya malas membacanya. Itu kitab suci wahabi tentang utsul tsalatsah. Mana hadits, atsar, ucapan ulama tentang perbuatan tsb? Ini dilakukan tiap tahun dengan dana yang luar biasa besar. Anda beserta ustadz2 Wahabi Anda tidak pernah protes bid’ah seperti ini. Karena hal baru bagi Wahabi bukanlah bid’ah tetapi hal baru bagi muslim lainnya adalah bid’ah yang berarti neraka.

Adakah memasang foto raja2 di ruang terima tamu kerjaan dilakukan Rasululloh, para sahabat, tabi’ien dan para ulama salafus sholeh, bahkan ibnu taymiyah, imam Wahabi? Adakah ini sunnah atau bid’ah?

Anda tahu kiswah?
Adakah itu di zaman Rasul dan para salafus shalih. Adakah kiswah yang sekarang sama dengan kiswah pada zaman dahulu? Adakah Rasul dan para salafus shalih memerintahkan menyulam kaligrafi arab di kiswah dengan benang emas? adakah sahabat yang bertanya : dengan benang apa kami menyulam kiswah ya Rasululloh? dijawab Rasul : dengan benang emas???
Adakah hal tersebut ya abdalloh?

Jadi saya tidak perlu menanggapi argumen aneh Anda.

=Bersalawatlah dan perbaguslah salawat kalian wahai pecinta Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam=

Ada kolom tanya jawab kiayi Mustofa Bisri tentang hal ini :

http://www.gusmus.net/page.php?mod=interaksi&sub=1&id=237

___________________________________________________________

dhomir “hi” pada sholawat nariyah

apakah dhomir “hi” (alladzi tanhalu bihi al khurobu….. bihi al khawaiju dst) pada sholawat nariyah itu di tujukan kepada pribadi atau fisik Nabi, atau gimana???
karena, temen temen wahabi saya bilang, dhomir “Hi” pada sholawat nariyah itu syirik karena itu berarti memohon kepada Nabi untuk melepaskan diri dari ikatan kesusahan, dan sabagainya… padahal yang berhak dimintai kan Allah thok…. maka dari itu,sholawat itu Haram hukumnya untuk di amalkan… kecuali kalok dhomir “hi” itu du ganti dengan “ha”.. maka gak papa.

pripun Niki Gus??

Penanya : muhammad muflih mukafi (kafi) pada 27 September 2006 21:25:41

Jawab:

Orang Wahabi memang banyak yang suka sekali mensyirik-syirikkan. apalagi yang anyaran, masih semangat-semangatnya. Silakan saja tanya mereka yang suka baca selawat Nariyah, apakah mereka memohon kepada Nabi atau kepada Allah. Jangan tanyakan orang Wahabi.

Bila ada orang sakit mengatakan aku mau ke dokter untuk mengobati sakit saya, biar sembuh. Tanyakan padanya, apa dia mohon kesembuhan kepada dokter. Jangan tanyakan kepada orang Wahabi, nanti dibilang syirik

________________________________________________________

Disebutkan dalam sebuat blog “cahaya diatas cahaya” bahwa tulisan dibawah ini adalah asal muasal shalawat nariyah ( kalau menggunakan google dengan kata kunci shalawat nariyah maka letaknya dibawah blog pa ahmad ).

Sholawat Nariyah adalah sebuah sholawat yang disusun oleh Syekh Nariyah. Syekh yang satu ini hidup pada jaman Nabi Muhammad sehingga termasuk salah satu sahabat nabi. Beliau lebih menekuni bidang ketauhidan. Syekh Nariyah selalu melihat kerja keras nabi dalam menyampaikan wahyu Allah, mengajarkan tentang Islam, amal saleh dan akhlaqul karimah sehingga syekh selalu berdoa kepada Allah memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk nabi. Doa-doa yang menyertakan nabi biasa disebut sholawat dan syekh nariyah adalah salah satu penyusun sholawat nabi yang disebut sholawat nariyah.
Suatu malam syekh nariyah membaca sholawatnya sebanyak 4444 kali. Setelah membacanya, beliau mendapat karomah dari Allah. Maka dalam suatu majelis beliau mendekati Nabi Muhammad dan minta dimasukan surga pertama kali bersama nabi. Dan Nabi pun mengiyakan. Ada seseorang sahabat yang cemburu dan lantas minta didoakan yang sama seperti syekh nariyah. Namun nabi mengatakan tidak bisa karena syekh nariyah sudah minta terlebih dahulu.
Mengapa sahabat itu ditolak nabi? dan justru syekh nariyah yang bisa? Para sahabat itu tidak mengetahui mengenai amalan yang setiap malam diamalkan oleh syekh nariyah yaitu mendoakan keselamatan dan kesejahteraan nabinya. Orang yang mendoakan Nabi Muhammad pada hakekatnya adalah mendoakan untuk dirinya sendiri karena Allah sudah menjamin nabi-nabiNya sehingga doa itu akan berbalik kepada si pengamalnya dengan keberkahan yang sangat kuat.

WAH BOHONGNYA SANGAT KETERLALUAN .
Si penulis kisah diatas berani berdusta dengan mengatakan syekh nariyah sahabat nabi sholallahu alaihi wa sallam ? kemudian menisbatkan sholawat ini diakui/dilegalkan oleh Nabi sholallahu alaihi wa sallam.tidak tahukah berdusta atas nama nabi sholallahu alaihi wa sallam berbeda dengan berdusta atas si fulan dan si fulan.
Allahu Akbar.
Tak ada satupun biografi sahabat Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam yang bernama syekh Nariyah.. Tidak ada satupun hadits shahih dimuka bumi ini yang menceritakan cerita diatas. Jika ada wahai saudaraku sesame muslim tunjukkan dalam kitab hadits mana dan bagaimana sanadnya, Jika kebenaran ada dipihak anda saya akan ruju’ dari pendapat saya namun bagaimakah jika kebenaran belum berpihak pada anda akankah anda ruju’ ?

Bagaimana menurut pa Ahmad ? sudahkah menemukan nama syekh Nariyah sebagai seorang sahabat nabi sebagaimana cerita diatas ?
Saya yakin pa Ahmad mengetahui dan sepakat bahwa cerita diatas adalah dusta bin batil. Kecuali jika ada sesuatu dalam diri pa Ahmad ( tidak perlu saya sebutkan )

Ada lagi jawaban yang disampaikan oleh tokoh yang lebih senior. Tokoh senior itu ditanya tentang dhamir hi pada sholawat ‘alladzi tanhalu bihi al ‘uqodu …
Jawaban dari dua pertanyaan berbeda tersebut disampaikan oleh tokoh senior tersebut. Namun yang disayangkan jawabannya tidak menunjukkan kedewasaan ilmiah kenapa tidak cukup mendudukkan persoalan dengan menguraikan teks shalawat yang ditanyakan ? Justru ungkapan emosional dengan menyalahkan pihak yang mengkritisi. Tidak jarang pada orang yang mengkritisi teks shalawat-shalawat tertentu kemudian divonis sebagai pihak yang anti shalawat alias tidak cinta dan hormat kepada Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam. Betulkah ?

Pa Ahmad yang saya hormati , tentu bapak mengetahui hadits ini “aku tinggalkan kepada kamu 2 perkara yang selama-lamanya kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang dengan keduanya, yaitu : kitabullah (Alqur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.”

Salah satu faidah dari hadits ini ialah bahwa kita akan tersesat dan tetap berada dalam kesesatan selama-lamanya apabila kita meninggalkan Alqur’an dan As-Sunnah meskipun pada lahirnya yang kita tinggalkan itu hanya satu. Karena meninggalkan salah satunya berarti telah meninggalkan kedua-duanya sekaligus.
Yang saya herankan pa Ahmad justru berani-beraninya melegalkan shalawat yang bukan diajarkan Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam atau dengan kata lain tidak menyandarkan shalawat itu kepada Sunnah Nabi-Nya yang mulia. Beranikah pa ahmad memakainya di dalam tasyahud Sholat ? di dalam sholat jenazah setelah takbir kedua ? sesudah mendengarkan adzan?

Anehnya pak Ahmad berdalil dengan hadits-hadits yang bapak sebutkan namun hal ini justru menunjukkan bagaimana pa Ahmad dalam :
1.Beristidlal / beristimbath (menarik kesimpulan)
2.Memahami sumber hukum Islam (Alqur’an, Al Hadits dan Ijma kaum muslimin)
3.Pengetahuan dalam bidang ilmu Hadits
4.Pengetahuan dalam bidang ilmu ushul fiqih dan fiqih
5.Pengetahuan untuk menggolongkan ini sunnah dan yang ini bukan sunnah

Saya tidak ingin berpanjang lebar mengomentari argumen pa Ahmad diluar konteks Shalawat karena hal itu akan menjadikan bahasan shalawat nariyah ini akan kabur dan lari kemana-mana, namun saya ambilkan satu contoh saja pertanyaan pa Ahmad yang menunjukkan pengetahuannya dibidang hadits

Pa Ahmad bertanya :
Adakah satu hadits yang secara khusus memerintahkan sholat tarawih berjamaah?
Jawab:
Ada dan tidak hanya satu

Pertama
Pertama, Hadits Aisyah ra, “sesungguhnya Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam pada suatu malam sholat di masjid lalu para sahabat mengikuti sholatnya, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) beliau sholat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti sholat nabi), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam ke empat. Maka Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya beliau sholallahu alaihi wa sallam bersabda: “sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali aku khawatir akan diwajibkan pada kalian, dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhon
Hr. Bukhari dan Muslim
Dari hadits diatas bahwa sholat tarawih berjama’ah secara terus menerus adalah sunnah hukumnya, ini dikarenakan yang menjadikan Nabi sholallahu alaihi wa sallam tidak meneruskan sholat tarawih berjama’ah pada hari ketiga dan ke empat dan juga seterusnya ialah rasa khawatir beliau sholallahu alaihi wa sallam akan diturunkannya wahyu yang mewajibkan sholat tarawih, sehingga akan memberatkan umatnya. Bukan karena beliau sholallahu alaihi wa sallam tidak mau lagi atau tidak mengizinkan lagi hal itu. Oleh karena itu dalam teks hadits ini, nabi sholallahu alaihi wa sallam tidak berwasiat kepada para sahabatnya agar tidak mengulangi di kemudian hari perbuatan menjalankan sholat tarawih dengan berjama’ah.

Kedua
Abu Dzar menceritakan : “kami dahulu melakukan puasa bersama Rasulullah sholallalhu alaihi wasallam di bulan Romadhon. Namun beliau tidak turut sholat bersama kami hingga tersisa tujuh hari dari bulan tersebut. Saat itu baru beliau sholat bersama kami hingga berakhir sepertiga malam. Pada saat bersisa enam hari lagi dari bulan Romadhon, beliau kembali tidak sholat bersama kami. Sementara pada saat tinggal tersisa lima hari lagi, beliau sholat bersama kami hingga berakhir separuh malam. Kami berkata : “wahai Rasulullah, andaikata engkau sudi menghabiskan sisa malam ini dengan sholat sunnah bersama kami?”
Beliau menanggapi : “sesungguhnya barang siapa yang sholat (qiyamul lail) bersama imam hingga sholat usai, Allah akan menuliskan baginya pahala sholat satu malam suntuk.”
Dalam riwayat lain : “akan dituliskan baginya pahala sholat satu malam suntuk.” Ketika tinggal tersisa empat hari lagi, beliau kembali tidak sholat bersama kami. Saat Romadhon tinggal bersisa tiga hari, beliau mengumpulkan seluarga beliau dan istri-istri beliau, lalu sholat bersama kami hingga kami khawatir tertinggal waktu falah.” Aku bertanya : “apa yang dimaksudkan dengan waktu falah?” Beliau menjawab : “waktu sahur.” Kemudian, pada hari-hari yang tersisa, beliau kembali tidak sholat bersama kami lagi.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnad kemudian para penulis kitab sunan ( Abu Daud dalam bab Qiyam Romadhon Tirmidzi, An-Nasa’i dalam bab sholat malam di bulan romadhon dan Ibnu Majah dalam bab riwayat tentang sholat di malam Romadhon) dan yang lainnya dari Abu Dzar

Hadits ini sekaligus juga memberikan anjuran agar melakukan sholat tarawih secara berjamaah dan mengikuti imam hingga selesai sholat.
An-Nawawi menegaskan dalam syarah shahih Muslim: “para ulama bersepakat bahwa sholat tarawih itu dianjurkan.”
Ibnu Qudamah dalam al Mughni berkata : “Tidak diragukan lagi bahwa sholat tarawih itu hukumnya sunnah muakkad, yang pertama kali menetapkan sunnahnya dengan ucapan dan perbuatan Rasulullah sholallahu alaihi wasallam”

Ketiga
Perbuatan Umar bin Khaththab dan para sahabat lainnya. Ketika Umar bin Khathathab ra melihat manusia sholat di masjid pada malam bulan Romadhon, maka sebagian mereka ada yang sholat sendirian dan adapula yang sholat secara berjama’ah kemudian beliau mengumpulkan manusia dalam satu jama’ah dan dipilihlah Ubai bin Ka’ab sebagai imam
Hr. Bukhari dalam kitab sholat tarawih

Keempat
Dari Muhammad bin yusuf, dari As-Saib bin Yazid bahwasanya beliau menuturkan : “Umar memerintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari untuk mengimami manusia (sholat tarawih) 11 raka’at.” Beliau melanjutkan: “dan kala itu, seorang qori/imam biasa membaca ratusan ayat sehingga kami terpaksa bertelekan pada tongkat kami karena terlalu lama berdiri. Lalu kami baru bubar sholat menjelang fajar.”

Hr. Imam Malik dalam Al Muwattha dari Muhammad bin Yusuf, dari As-Saib bin Yazid. Al-Albani, As-Suyuthi dan As-Subkhi menshahihkannya. lalu dari jalur sanad Imam Malik juga, Abu Bakar An-Naisaburi mengeluarkan hadits itu dalam Al-Fawaid, Al-Firyabi dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra. Riwayat Malik tentang tarawih 11 raka’at tadi memiliki penguat dari Yahya bin Sa’id Al Qatthan, Isma’il bin Umayyah, Usamah bin Za’id, Muhammad bin Ishaq oleh imam An-Naisaburi; juga dengan riwayat Isma’il bin Ja’far Al Madani oleh Ibnu Khuzaimah dalam hadits Ali bin Hajar

Sehingga atas dasar-dasar diatas, Imam Syafi’i dan sebagian besar sahabatnya, juga pendapat Abu Hanifah dan Imam Ahmad dan disebutkan oleh Ibnu qudamah dalam Al-Mughni serta sebagian pengikut Imam Malik dan lainnya sebagaimana yang telah disebutkan Imam Nawawi dalam syarh Shahih Muslim berpendapat untuk menetapkan sunnahnya berjama’ah dalam sholat tarawih dan witir (sholat malam dibulan ramadhan dengan berjama’ah)

Kembali lagi kepada masalah shalawat nariyah,

saya menduga pa Ahmad mengetahui hadits dibawah ini
“Barang siapa yang hidup diantara kamu sesudah (wafat)ku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak sekali. Maka wajiblah kamu berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafa Ar Raasyidin Al Mahdiyyin. Berpeganglah dengannya dan gigitlah (kuat-kuat) dengan gigi gerahammu! Dan awaslah kamu dengan perkara-perkara/urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya setiap (urusan) yang baru/muhdats (di dalam urusan agama) itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Demikian yang disabdakan Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam, Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya.

Dalam hadits yang mulia ini terdapat rahasia yang dalam sekali ketika Nabi sholallahu alaihi wa sallam tidak mencukupkan sabda beliau sholallahu alaihi wa sallam hanya sampai perkataan, “hendaklah kamu berpegang dengan Sunnahku.” Akan tetapi terdapat hikmah yang dalam sekali ketika beliau sholallahu alaihi wa sallam melanjutkan dan mengkaitkan sunnah beliau sholallahu alaihi wa sallam dengan perjalanan para sahabat, “dan hendaklah kamu berpegang dengan sunnah Al Khulafa Ar Rasyidin Al Mahdiyyin !”

Namun adakah para sahabat Nabi sholallahu alaihi wa sallam membuat sholawat dan membaca sholawat selain yang diajarkan oleh nabi Sholallahu alaihi wa sallam ? justru pertanyaan mereka kepada Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam berkenaan dengan cara bershalawat kepadanya, sebagaimana yang telah saya jelaskan ditulisan sebelumnya.
Mereka bertanya tentang cara bershalawat yang sesuai dengan syariat, yang tidak mungkin diketahui kecuali dengan penjelasan Pembuat syari’at Yang Maha Bijaksana dan Maha mengetahui. Hal ini sama ketika sahabat bertanya tentang cara sholat fardhu dalam firman Allah “Dan dirikanlah Sholat”
Qs. Al-Baqoroh :110.
Sungguh pengetahuan sahabat tentang asal makna sholat menurut bahasa, tidak bisa mencukupi mereka untuk tidak bertanya tentang cara sholat secara syar’i. Masalah ini sudah sangat jelas, tidak ada kesamaran padanya.

Pa Ahmad dapatkah menunjukkan sholawat-sholawat buatan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali?
Yang dimana kita diperintahkan mengikuti sunnahnya mereka pula sebagaimana dalam penetapan Abu Bakar dalam pembukuan Alqur’an demikian pula penetapan Umar untuk sholat tarawih berjama’ah, penetapan usman terhadap satu bacaan Alqur’an pada zamannya untuk memudahkan kaum muslimin ketika itu dalam membaca Alqur’an serta menghindarkan dari perselisihan yang berkepanjangan dalam kitabullah sebagaimana sabda nabi sholallahu alaihi wa sallam diatas.

Pegang kaidah ini baik-baik
“Lau kaana khairan lasabaquuna ilaih”
– Seandainya perbuatan itu baik niscaya mereka (para sahabat) telah mendahului kita dalam mengamalkannya –

Pa Ahmad pernahkah mendapati sholawat yang dibuat sendiri dan dikarang oleh Imam Syafi’i, imam Malik, Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah ?
Kita sepakat mereka semua dari sisi keilmuan dan ketaqwaan lebih berhak membuat sholawat versi mereka dari sholawat buatan kita. Namun mereka tidak membuatnya. Hal ini menunjukkan pemahaman mereka bahwa sholawat itu adalah termasuk Ibadah yang hanya bisa ditetapkan berdasarkan nash bukan logika serta hawa nafsu.
Mereka yakni Imam yang empat tahu sekali kedudukan sunnah Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam sehingga mereka memuliakan, menjaga dan tidak berani berbuat lancang terhadapnya.
Mereka telah mengetahui dengan pemahaman yang benar bahwa agama Islam ini telah sempurna, yang tidak memerlukan tambahan atau pengurangan sedikitpun juga dan dari siapapun juga. Sebagaimana firman Allah
“..Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…”
Qs. Al-Maidah : 3

Imam Ibnu Katsir memberi penjelasan kepada ayat diatas “ ini merupakan nikmat Allah yang terbesar yang diberikan umat ini, tatkala Allah menyempurnakan agama mereka. Sehingga, mereka tidak memerlukan agama lain dan tidak pula Nabi lain selain nabi mereka, yaitu nabi Muhammad sholallahu alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Sehingga , tidak ada yang halal kecuali yang beliau halalkan, tidak ada yang haram kecuali yang diharamkannya, dan tidak ada agama kecuali yang disyariatkannya. Semua yang dikabarkannya adalah haq, benar, dan tidak ada kebohongan, serta tidak ada pertentangan sama sekali.

Dengan membuat-buat sholawat versi sendiri-sendiri misal bapak Agus membuat sholawat sendiri dengan mengkombinasikan berbagai pujian dari berbagai kitab dzikir dan do’a dan menetapkan bilangan yang mesti dibaca sebanyak 212 kali karena terpengaruh komik wiro sableng, Pak Beni (dosen Statistika) tidak mau kalah juga lalu membuat sholawat dan mengklaim manfaat serta fadhilahnya bahkan berani menunjukkan buktinya dengan data statistik dengan tingkat keyakinan 100%, ibu yeni (lulusan S3 sastra Arab Kairo mesir) membuat juga karena tidak mau kalah dengan syekh Nariyah “emang saya tidak bisa seperti syekh Nariyah ujarnya”
mereka beragama selain dengan akal semata seperti diatas, juga dengan perasaan mereka, meskipun wahyu telah sampai kepada mereka baik berupa perintah atau larangan, tapi seringkali kita mendengar mereka bermain-main dengan perasaan, seperti kata-kata mereka:
“apa salahnya?!”
“bukankah ini baik?!”
“niat kami kan baik?!”
“Daripada..?!”

Pa Ahmad, Seperti itukah Agama kita ? begitukah agama Islam ini dibangun ?
Tidak, sekali kali tidak
Hal itu akan menimbulkan kesan bahwa Allah belum menyempurnakan agama ini, sehingga perlu dibuat ibadah lain untuk menyempurnakannya. Juga menimbulkan kesan, Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam belum tuntas menyampaikan agama ini kepada umatnya sehingga perlulah dibuat ibadah-ibadah baru dalam agama ini. Padahal Allah telah menyempurnakan agama dan nikmat-Nya bagi hamba-hamba-Nya sebagaimana dalam Qs. Al Maidah ayat 3

Berikut ucapan Imam Syafi’i rahimahullahu ta’ala:

“Apabila kalian menjumpai dalam kitabku hal yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam, maka berpendapatlah kalian sesuai dengan sunnah Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam, dan tinggalkan apa yang aku katakan.”
Disebbutkan oleh Al Harawi dalam Dzammul Kalaam, Al-Khatib dalam al Ihtijaaj bisy Syafi’i, An Nawawi dalam Al Majmu’ dan lain-lain.

Saya yakin pa Ahmad akan sepakat dengan saya bahwa bentuk lafazh bacaan sholawat yang diajarkan oleh Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam merupakan sebaik-baik cara dalam bersholawat kepada nabi, karena beliau sholallahu alaihi wa sallam tidak akan memilihkan bagi mereka –begitu juga untuk dirinya- kecuali yang lebih utama dan mulia. Dengan demikian telah benar perkataan Imam An-Nawawi rahimahullahu ta’ala dalam ar-Raudhah bahwasanya jika ia bersumpah untuk bershalawat kepada nabi dengan seutama-utama sholawat, maka dia tidak akan memenuhinya kecuali dengan menggunakan lafazh shalawat yang diajarkan tersebut. Imam as-Subkhi membenarkan hal tersebut dengan alasan bahwasanya barang siapa yang bershalawat dengan bentuk sholawat tersebut, maka dia telah bershalawat kepada Nabi sholallahu alaihi wa sallam dengan yakin, dan barang siapa yang bershalawat dengan lafazh selainnya, maka dia telah melaksanakan shalawat yang dituntut itu dengan keraguan, karena para sahabat telah bertanya: “Bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu?” beliau sholallahu alaihi wa sallam menjawab: “ucapkanlah..” Maka beliau telah menetapkan cara sahabat bersholawat kepadanya dengan bacaan seperti itu.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:
“dan barang siapa yang menentang/memusuhi Rasul sesudah nyata baginya hidayah (kebenaran) dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, niscaya akan kami palingkan (sesatkan) dia kemana dia berpaling (tersesat) dan akan kami masukkan dia ke dalam jahannam dan (jahannam) itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”
Qs. An-Nisaa:115

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :
…Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Alqur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.”
Qs. An-Nisaa : 59

Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Jauhilah sikap berlebih-lebihan, karena orang-orang sebelum kalian hancur binasa karena sikap berlebih-lebihan.” Hr. Muslim

Dari anas ra, dari nabi Sholallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “seseorang diantara kamu tidak beriman (dengan sempurna) sehingga dia mencintai untuk saudaranya semua (kebaikan) yang dia cintai untuk dirinya.”
Hr. Bukhari dan Muslim

Pa Ahmad yang saya hormati, saya meminta maaf sekiranya ada tulisan saya yang kasar dan menyinggung harga diri pa Ahmad, insya Allah tidak ada niatan di dalam hati saya untuk itu , justru pa Ahmad adalah saudara saya, alhamdulillah kita sebagai muslim bisa bertemu walaupun dalam dunia maya untuk saling nasehat menasehati dalam menaati kebenaran dan nasihat menasehati supaya menetapi kesabaran. Tentunya kita bisa saling mendoakan.
mudah-mudahan Allah Subhaanahu wa ta’ala memberi kebaikan yang banyak kepada pa Ahmad sekeluarga di dunia dan di akherat serta menunjuki kita bersama untuk tetap berada di jalan yang Allah ridhoi.

ente yg buat tuh cerita kali,,suka ngarang wae ah,,,

Tentang Syaikh Nariyah, saya baru tahu dari mas Abdullah. Kisahnya tidak masyhur dan sarat dengan hal yang mengada ada.

Paparan mas Abdul cukup panjang dan pasti kita tidak ketemu. Mulai dari terminologi bid’ah sendiri, kita tidak akan nyambung. Makanya silakan mas Abdul kembali kepada keyakinan mas Abdul dan kami kapada keyakinan kami. Salawat bagi kami, seindah apa pun bentuknya, tidak membuat kami menjadikan Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam sebagai Tuhan selain Alloh. Kami menempatkan beliau shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam di tempat yang layak dan agung bagi beliau shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam.

Adab terhadap Junjungan shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam bagi kami lebih utama, sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar radhiyallohu ‘anhu ketika ‘menolak’ perintah mengimami jamaah yang di dalamnya terdapat Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam, juga seperti Imam Ali karromallohu wajhah yang ‘membangkang’ menghapus nama Rasululloh, ketika terjadi perjanjian Hudhaibiyah.

Saya meyakini seluruh muslim yang mengagungkan Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam tidak sampai menyembah dan menjadikannya sembahan/berhala selain Alloh. Ada pun kekhawatiran sebagian orang tentang perbuatan muslimin jatuh kepada kesyirikan, itu merupakan kekhawatiran berlebihan dan tidak memiliki hujjah yang kuat.

Saya tetap mengamalkan salawat seperti yang rasul shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam sabdakan selain salawat yang para ulama ajarkan. Saya tahu mana yang namanya majaz yang terdapat dalam salawat nariyah yang hakikat sepenuhnya semua kembali kepada Alloh semata. Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam tidak lain adalah hambaNYA yang memiliki keagungan yang tinggi. Keagungannya tidaklah menyilaukan saya dan muslimin sehingga menyembahnya dan menjadikannya sebagaimana nasrani memperlakukan Isa putra Maryam.

Terima kasih atas diskusinya.

اللهم صل صلاة كاملة، وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذى تنحل به العقد، وتنفرج به الكرب، وتقضى به الحوائج، وتنال به الرغائب، وحسن الخواتم وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم، وعلى أله وصحبه فى كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك

Ajaran yang dibawa Rasulullah sudah final, Yang ada di Qur an dan Hadits sudah complet, masih kurang apa, karena sudah sempurna. Islam tidak mengajarkan wihdatul wujud. Hakikat dan tasawuf hanya sekedar memperdalam dan untuk dirasakan, bukan untuk untuk mengkultuskan, apalagi untuk diri sendiri, seperti manunggaling kawula dan Gusti, kita kembalikan lagi bahwa kita hanya sebagai mahluk yang diciptakan oleh Allah,

Ya Alloh… Ya Rosulalloh… Ya rohmatan lil ‘alamin… Perdebatan hanya akan meredupkan cahaya iman.. Tidak ada pertemanan yg tulus yg muncul dari perdebatan… Hormatilah Mas Lukman yg memiliki blog ini… Bagi teman-teman yg setu pandangan, dukunglah usahanya… bagi yang tidak satu pandangan, janganlah mengeruhkan suasana ‘sahabat’ yg dibangun di forum ini.. Buat forum lain yg juga bisa membangun ‘kebersamaan’ dg yang memiliki kesamaan pandangan… Rahmat Allah maha luas, jangan dibuat sempit… Allah and His Prophet love you ALL…

Alhamdulillah, ga rugi lho mengamalkan shalawat nariyah ini, setelah tahu faedahnya… luar biasa… setiap manusia pasti akan diberikan ujian oleh-Nya, tergantung dari kitanya bisa tidak ikhlas menghadapinya. Salah satu shalawat yaitu shalawat nariyah ini misalnya, ini yang membantu saya untuk dapat lebih bersabar, ikhlas, ridha dalam menghadapi ujian – ujian dari Allah SWT, keajaiban – keajaiban itu akhirnya datang tanpa saya sadari. Dan kebiasaan mengamalkan ini saya tularkan kepada temen – temen dan saudara – saudara..

Terima kasih sudah ditayangkan juga mengenai Shalawat Nariyah ini…..

Saya yakin seyakin-yakinnya mbak Vitia tidak berkeyakinan bahwa semua yang dapat dilakukan olehnya karena kekuatan Nabi Muhammad dan tanpa izin/kekuasaan dari Alloh, yang dengan keyakinan salah seperti itu mbak Vitria layak dituduh sebagai Musyrik. Ini pun keyakinan seluruh muslimin kalangan ahlus sunnah sebenar, bahwa nabi Muhammad memiliki kedudukan yang mulia di sisi Alloh namun hakikat semua kembali kepada Alloh. Kekhawatiran sebagian kaum tentang syirik adalah sesuatu yang dipaksakan.

Aallohumma sholli sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman ‘ala sayyidina Muhammad…

Monggo silakan diamalkan

Panjang lebar saudara2 menjelaskan di atas, tapi ada yg aku ketahui seperti ini :

Rasul saw bersabda : “Dan aku demi Allah tidak merisaukan kalian akan musyrik setelah aku wafat, tapi yg kutakutkan adalah keluasan duniawi atas kalian” (Bukhari Muslim)

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam perkara baru yang baik maka baginya pahala dari perbuatan tersebut juga pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang sedikitpun pahala mereka, dan barang siapa merintis dalam Islam perkara baru yang buruk maka baginya dosa dari perbuatan tersebut juga dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dosa-dosa mereka sedikitpun” (H.R. Muslim) .

Bagaimana tolong tanggapanya

Seperti halnya di negara kita, adanya kebiasaan tasyukuran, atao memperingaki hari kematian keluarga, tidak ada juga di contohkan nabi, tapi itu baik untuk kekeluargaan dan bermasyarakat dan tidak bertentangan dengan agama.

Arti shalawat : “Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Mu-hammad dan kepada keluarga Muhammad, di kalangan orang-orang dulu maupun orang-orang setelahnya, serta di alam arwah sampai Hari Kiamat.”

Penjelasan :

Imam Al-Sya’rânî menuturkan bahwa seorang laki-laki menghadap Rasulullah Saw. ketika beliau sedang duduk di dalam masjid. Orang itu berkata, Assalâmu ‘alaykum, wahai ahli kemuliaan!”
Orang itu lalu didudukkan oleh Nabi Saw di tengah-tengah. yaitu antara beliau dan Abu Bakar r.a. Orang-orang yang hadir ketika itu menjadi heran menyaksikan hal itu hingga Nabi Saw. menjelaskan. “Jibril a.s. telah datang kepadaku memberitahukan bahwa orang ini telah memberi shalawat kepadaku dengan shalawat yang belum pemah dibaca oleh seorang pun sebelumnya.”
Lalu Abu Bakar bertanya. “Bagaimana shalawatnya ya Rasulullah? Kemudian Rasulullah Saw. menyebutkan sha-lawat tersebut di atas.

aslm…alhamdulillah setelah sy buka web ini, sy semakin pahan dgn membaca shalawat, tahlilan dll,tadinya sy ragu2 karena belum dpt ilmunya & dalilnya lalu setelah mengetahui penjelasan dari saudara2 sekalian semkin yakin akan membaca shalawat lbh2 pada shalawat nariyah, karena pada menjelang adzan maghrib, isya & shubuh sy selalu membaca shalawat nariyah menggunakan pengeras suara terlebih dahulu…jazaakumulloh khairon

perbanyaklah baca sholawat….semoga yang membaca sholawat nariyah mendapatkan berkah..amiiiin

Salam serta sholawat tetap tercurahkan kepada sayyidina muhammad dan keluarganya, sahabat2, para aulia allah, muslimin muslimat semuanya. ayo kita melakukan bidah dng memperbanyak sholawat apa aja, ziarah, tahlilan, tawassul, dll yg penting hati kita tetep kepada allah swt, jadikan indonesia menjadi bumi allah yg selalu melantunkan sholawat nabi.

akhi Abdullah, kita doakan saudara2 kita yang belum d fahamkan oleh Allah di beri pemahaman dalam baragama yang haq sesuai alquran dan sunnah tidak mengikuti cara ibadah dari lafadz yang mengada-ada.dari sahabat yang mengaku nariyah yang tidak di tunjukkan dasar atau dari mana riwayat kesohihannya.hidayah milik Allah SWT.asal cinta ama Allah katanya, tapi Allah dan Rasulnya tidak pernah menganjurkan,itu sia2.jangan putus asa untuk belajar saudara2ku cari tau ilmunya sebelum beramal.sekali lagi hidayah milik Allah SWT.penguasa langit dan bumi

Amien, semoga mbak Bulqis dan mas Abdullah diberi juga pemahaman tentang sunnah yang sebenar oleh Alloh subhana wa ta’ala dan kita mendapat keberkahan hidup dunia dan akhirat dengan kemuliaan shalawat kepada Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Makasih mbak Bulqis dan mas Abdullah… Allohu yahdikuma

ikhtilafi ummatii rohmatan, perbedaan dalam umatku adalah rahmat.rosululloh muhammad saw mengatakan demikian. bila dantara kita masih ada saling olok-olokan itu namanya hasut.sudah bukan pembenaran.mari kita sama sama tolabul ilmi, bersilaturahim, saling mengisi ,islam itu luas.. sayang,mari kita berlomba -lomba dalam kebaikan dan bertawakalah kepada Alloh SWT. syukron

ASSALAMUALAIKUM WR.WB
SAYA BERSAMA SYEIKH PUJI, DAN SELURUH ROMO KYAI SE JAWA TENGAH DAN JAWA TIMUR SETIAP MUJAHADAH MEMBACA SHOLAWAT NARIYAH SEBAGAI PERANTARA HAJAT. DAN ALHAMDULILLAH PERUSAHAAN KALIGRAFI KAMI MAMPU EKSIS WALAUPUN BANGSA INI SEDANG TERPURUK. KARYAWAN KAMI RATA-RATA DARI KELUARGA ORANG YANG TIDAK MAMPU EKONOMINYA.SETIAP TAHUN KAMI ZAKAT MAL. TIDAK SEDIKIT YANG KAMI KELUARKAN,BUKAN JUTAAN…TAPI MILYARAN. PRINSIP KAMI HARTA ADALAH TITIPAN. 1000 SANTRI KAMI GRATISSSSS TIDAK KAMI PUNGUT SEDIKITPUN BIAYA ADMINISTRASI.KALAU MEMANG APA YANG KAMI LAKUKAN INI BERTENTANGAN SEPERTI YANG DIKATAKAN ORANG2 YANG TDK TAHU MASALAH INI, MAKA KAMI TIDAK AKAN DIRESTUI OLEH KYAI2 DARI LIRBOYO, PLOSO MOJO KEDIRI,BANGKALAN MADURA, DEMAK DAN LAIN SEBAGAINYA. SIAPA SAJA YANG MENGHARAMKAN SHOLAWAT NARIYAH, SAYA ANJURKAN LEBIH BAIK DIAM, DAN BELAJARLAH LEBIH DALAM LAGI MASALAH AGAMA.MATUR SUWUN

bagaimana dgn ini ?

http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/26605

yg benar yg mana ? mksih

salah satu isinya :
>>Aqidah tauhid yang kepadanya Al-Quranul Karim menyeru, dan yang dengannya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam mengajarkan kita, menegaskan kepada setiap muslim agar meyakini bahwa hanya Allah semata yang kuasa menguraikan segala ikatan. Yang menghilangkan segala kesedihan. Yang memenuhi segala kebutuhan dan memberi apa yang diminta oleh manusia ketika ia berdo’a.<<

Wahabi meyakini bahwa muslimin yang membaca shalawat nariyah BERKEYAKINAN bahwa Nabi Muhammad SAW yang berkuasa dengan dirinya sendiri, sehingga menjadikannya mempunyai kuasa selain kuasa Alloh SWT.
Satu kesimpulan yang sangat jauh dan aneh.

Anda tanya pada orang yang bershalawat nariyah adakah mereka meyakini/beri'tiqod spt ini? Setinggi apa pun muslimin memuji Rasululloh, tidaklah mereka menyematkan sifat keTUHANan dalam diri pribadi Rasululloh yang suci. Alloh-lah yang memberikan kelebihan2 itu pada kekasihNya, Nabi Muhammad SAW.

Wahhabiyyun bermain2 dengan prasangka…

Assalamu’alaikum,
Perbedaan adalah rahmat..marilah semua bersatu untuk memperjuangkan Islam ini. Jangan karena masalah Sholawat nariyah,mslh tahlilan,mslh doa qunut shubuh kita lupa akan kewajiban kita sendiri kepada Allah SWT. Yang tidak benar itu/yang salah adalah seorang moslem yang tidak mau membaca sholawat,seorang moslem yang tidak sholat shubuh,seorang moslem yang tidak mau mendoakan orang tuanya yang sdh meninggal.Orang yg lidahnya selalu basah dengan bacaan sholawat nariyah,insya Allah akan diberikan ketabahan,kesabaran,diberikan pertolongan jalan keluar dari kesukaran oleh Allah SWT. Buat ms Albar, jgn emosi dulu yah…!!!! saya tahu posisi anda dan rekan2 di management syeikh puji.Semoga Allah selalu membimbing semua yang buka web ini. Amin

Alhamdulliah akhir nya kesamaam falsafah membuat aku teringat akan masa lalu dimana aku sama temen-temen mendawamkan shalawat tsb tiap mlm jum’at 4400x dan hasilnya apa yg kita maksudkan berhasil gemerlang!!!

Aku lagi cari cara pembacaan shalawat nariyah yang benar dalam bentuk mp3, kira-kira punya apa tdk ya? atau mungkin ada referensi bisa cari dimana?

Assalamualaikum,

saya ingin menanyakan apakah masih bisa disebut sebagai sholawat nariyah jika mengganti kata “bihi” dengan “biha”?
dan apakah sudah pernah ada yg mengamalkan dgn menggunakan kata “biha”? dan apakah ada fadhilahnya?

Terima Kasih.
Wassalamualaikum

Assalamualaikum,

saya pernah membaca sebuah hadist, tetapi mohon maaf saya lupa diriwayatkan oleh siapa.

pokok dari hadist tsb yaitu pernah suatu ketika seorang Yahudi datang menghadap Rasullullah SAW dan mengutarakan persoalannya yaitu bahwa ontanya telah dicuri seorang Muslim. Dan si Yahudi tsb mendatangkan 4 saksi dari kalangan Munafik yg membenarkan tuduhannya.

kemudian Rasullullah SAW memanggil orang Muslim yg dituduh dan menanyakan tentang kebenaran berita tersebut. Muslim tersebut menjawab bahwa dia tidak pernah mencuri unta si Yahudi tsb tetapi dia tidak memiliki saksi.

Kemudian Nabi memerintahkan supaya Muslim tersebut dihukum potong tangan dan mengembalikan unta si Yahudi.

Kemudian Muslim tersebut berdoa kepada Allah lalu meminta Rasullullah untuk menanyakan kepada untanya.
Ajaibnya unta tersebut dapat berbicara dan mengatakan kepada Rasullullah bahwa dia adalah milik si Muslim dan si Yahudi itulah yg berdusta. Nabi kemudian membebaskan sahabat tersebut dari hukuman dan mengembalikan onta miliknya.

Rasullullah kemudian bertanya kepada sahabat tersebut amalan apakah yg dia lakukan. Sahabat tersebut kemudian menjawab bahwa dia selalu bershalawat kepada Nabi 10x sebelum tidur malam.

Mohon penjelasan barangkali ada yg tahu bunyi sholawat yg selalu dibaca oleh sahabat tersebut?

Terima Kasih.
Wassalamualaikum

Wahabi…wahabi..dari dulu selalu begini.dari jaman aku SD ampe dah punya anak masih aja Nyela muslim..
selalu sama yang diperdebatkannya dengan orang Non Muslim yang selalu mempertanyakan Kalo TUHAN itu ALLAH coba tunjukan dimana ALLAH itu…???(itu pertanyaan anak kecil NonMuslim yang sedang ribut dengan teman muslimnya mengenai Agamanya masing2)

Saya sudah membuktikan faedah shlawat nariyah ini, suatu ketika saya dalam keadaan yg sudah sangat terjepit kesulitan keuangan yg membuat saya tak berdaya, sehingga saya membaca shalawat ini sebanyak 313 kali, alhmdlh…hanya dlm beberapa menit saja doa saya langsung terkabul. Ya Allah…sungguh Dahsyat manfaatnya.

Kalau seseorang ditanya : “Apakah engkau mencintai Allah?” Dijawab :”Ya” (Bohonglah ia, sebelum ia mencintai Rasulullah). Dan Bila seseorang ditanya : “Apakah engkau mencintai Rasulullah?”. Dijawab : “YA” (Bohonglah ia juga, kalau ia sendiri tidak mau bersalawat pada Rasulullah)
Dari atas sampai kebawah banyak macam penjelasan a s/d z, dan berbagai-macam dalil. Bila kau minum sirup, kau akan mengatakan itu manis, sebab kau sudah mencicipinya. Tapi bila kau berargumen dengan orang yang belum pernah mencicipi dan tidak mau mencicipi sirup tersebut, sampai kapanpun tidak akan tahu hasilnya. Biarkanlah ia tidak mau mencicipi syrup, karena ia memang tidak mau atau mungkin ia belum diberikan keinginan dan kemampuan olehNya untuk mencicipi syrup tsb.
Rahmat dan Hidayah milik Allah SWT semata, saat kita diberi Rahmatnya, hendaklah kita pegang teguh seraya berdo’a “Ya Rabb kuatkan dan tancapkanlah Rahmat yang telah Engkau berikan didada (Hati,red) hambaMu ini, dan jangan Engkau ambil kembali Rahmat yang telah Engkau berikan itu Ya Rabb.
Karena bisa saja kita diberi Rahmat oleh Alla Ta’ala, tapi kita tidak merasakannya, yang kemudian Rahmat tersebut diambil kembali oleh pemiliknya yakni Allah SWT.
Salahkah Ustad Fulan berpendapat ini dan itu. Tidak ! kenapa? Karena memang disitulah maqamnya, terus yang salah siapa, dan yang benar siapa?, yang salah ya jelas doong… orang yang tidak mau sholat, dan terus yang benar tentu doong … Allah SWT.

kenapa kalau ada beda pendapat selalu di cap wahabi? Padahal belum tentu kita lebih benar dari mereka. Saya sarankan majelis ini ditutup ajah. Saya khawatir forum ini cuma jadi arena saling umpat, caci dan sumpah serapah. Karena pemilik blog sudah pakem hatinya dgn shalawat nariyah maka apapun pendapat dan dalil yang beda dengan keyakinannya pasti akan akan ditepisnya. Siapa itu AHMAD LUQMAN? Dia itu kan cuma seorang hamba ALLAH sama seperti kita. Sama2 sedang belajar ilmu agama. Samä2 sedang merenangi ilmu ALLAH yang luas tak bertepi. Saya yakin beliau juga belum berapa jauh dari pantai. Tapi forum ini tak menyediakan tempat untuk beda pendapat dan selalu memberi cap wahabi bagi lawan pendapat. Bahayanya forum ini jadi media bagi munafiq penghasut, musriqun dan kafirun penyusup untuk membelah dari dalam dan memecah mengadu domba antar kita hingga akhirnya kekuatan kita hilang. Saya khawatir kita dipanas-panasin dgn örang yg mengaku sbg pengamal shalawat nariyah contohnya yg mengaku bersama syech puji dan para romo kyai. Kenapa kita gak curiga? Hanya karena pengakuan bahwa mereka pengamal nariyah pengasuh blog diam. Jadi, menurut pendapat saya lebih baik forum ini tutup dari pada cuma jadi tempat kita selisìh pendapat yg tak berujung karena kita termasuk AHMAD LUQMAN bukan apa apa dan bukan siapa siapa. Lebih banyak mudharat daripada mamfaat yg kita dapat blog ini. Sekali lagi hati2 jangan sampai blog ini jadi media bagi para penghasut dan penyusup untuk meluluhlantakan kita dari dalam apalagi sang pengasuh bukanlah seorang berilmu yang bijak dan alergi thdp beda pendapat dan cenderung menyalahkan pembeda pendapat sbg wahabi. Terimakasih.

Mbok ya kalo usul yang produktif gitu mas. Lah kok malah tutup blog saya. Sampeyan buat aja blog sendiri, yang sampeyan isi untuk bela Wahabi. Yang menyelisihi Ahlus Sunnah itu siapa,kok sampeyan malah muter2.

Kalo sampeyan gak setuju dengan syekh Puji, langsung aja protes. Saya juga bingung, yang sampeyan tidak suka dari syekh Puji itu pribadinya, poligaminya, salawat nariyahnya atau apa? Berargumen yang fokus lah mas, jangan membabi buta. Babi gak buta aja haram, apalagi babi buta. :)

Kalo sampeyan benci pribadi syekh Puji, itu urusan pribadi sampeyan. Kalo keberatan sampeyan karena aturan poligami, monggo protes Dzat yang telah menghalalkannya (dengan berbagai syarat dan ketentuan poligami tentunya), kalo sampeyan mbulet menolak solawat nariyah, ya silakan, gak usah sampeyan amalin. Lanaa a’malunaa wa lakum a’malukum. Gitu aja kok repot?

Kok malah mau nutup blog saya? Cerdas dikit lah mas.

Kpd saudara saudraku pencinta shalawat.tak perlu mencari dalil pembenaran terhadap shalawat naria apakah sah adanya atau tidak, karena hanya akan memperbanyak ruang tempat dan sejarah panjang untuk kita salin mencaci dan memaki.pendapat saya jika kita masih sama sama mengucapkan dua kalimat Syahadat berarti tidak ada yang perlu persoalkan,karena apapun pendapat anda pasti akan gugur jua dan musnah dihadapan kalimat mulia itu.inti persoalanya adalah kembali kepada diri sendiri.siapa tau hari ini kita menganggap salah shalowat naria tapi esok lusa kita pula yang membenarkan….(karena Allah lah yang punya segalanya)
Menurut yang kuketahui (maaf) Al Quran yang suci juga tak ada perintah dan dalil yang mendasari untuk ditulis dan kumpulkan seperti Al Quran sekarang ini tapi toh ummat islam sedunia menerimanya sebagai kitab suci yang dimuliakan, walaupun tidak lagi tertulis pada tulang tulang binatang maupun pelepah daun kurma seperti aslinya ketika pada jaman Rasulullah SAW.
Saudara-saudaraku para pencinta Rasulullah SAW.sekedar ilustrasi jika kita teramat rindu pada seseorang karena telah berjasa dan memberikan sesuatu yang sangat berarti bagi hidup dan kehidupan kita dan seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.tentu kita selalu mengingatnya, jika saya adalah seorang penyair mungkin saya akan membuat syair untuk mengingatnya sebagi bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa,apatalagi Jika itu adalah seorang Rasul dan kekasih Allah,seribu bahkan mungkin lebih jari jari tanganmu ingin merangkai kata demi untuk menulis syair istimewa untuk memuliakanya.
Apakah salah Sholawat Naria itu? wallahuallam, tapi pada dasarnya ia adalah salam penghormatan atas kemuliaan Rasulullah SAW,dan layak Rasulullah SAW untuk mendapatkanya dan itupun sangat kecil artinya jika dibandingkan dengan jasa-jasa beliau yang telah diberikan kepada kita.
(Tidak kuciptakan Alam ini beserta isinya (kecuali Allah) jika bukan engkau Muhammad),saudaraku pencinta Rasulullah camkan ini ………… agar setiap desah nafas kita senantisa bershalawat kepadanya.dan mari kita rangkai syair syair pujian kepadanya……
kEPADAMU YA NABI…YA rASULULLAH
“ENGKAULAH AIR MANCUR KEHIDUPANKU,
TAMPAKKANLAH KEMURAHAN HATIMU,KARENA
KEHAUSAN TELAH MELEBIHI BATASNYA”

Assalamualaikum,saya haturkan banyak terima kasih atas penerangan Sholawat Nariyah ini,daripada meributkan perbedaan2 yang membuat kita bingung (maklum saya masih awam) kenapa kita tidak tanyakan kepada yang Maha Tahu yaitu ALLOH?menurut saya, ALLOH dari sejak penciptaan alam semesta ini,hingga penciptaan Adam,Hawa sampai dengan sekarang ini kan masih sama,tidak pernah mengantuk tertidur untuk mengawasi,melindungi memberi rezeki kepada seluruh mahluk yang terbesar hingga sebesar plangton pun semuanya terpantau.ALLOH Maha Melihat walau tak bermata,ALLOH maha Mendengar walau tak bertelinga & ALLOH berbicara walau tak berbibir.semoga saudara sekalian mulai membuka mata,perbedaan harus diseiramakan jangan sampai menjadi bom waktu. Wassalam

Saya sangat menyukai salawat ini(Nariyah):

Ya Allah curahkanlah (rahmat) kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. sebab, dengan rahmat itulah menjadikan terlepasnya keruwetan, hilangnya kesusahan (duka cita), terpenuhinya segala kebutuhan, tercapailah semua yang disukai, menjadikan husnul khatimah, turunnya hujan dari awan. Semua itu berkat keagungan-Mu yang Maha Mulia, yang Engkau berikan kepada keluarga, sahabat dan pada tiap-tiap yang berpandangan (mempunyai mata) serta tiap-tiap jiwa yang bernafas dengan jumlah yang Engkau ketahui.

Jika anda ragu dengan arabnya, baca artinya.
Saya pernah googling dan kaget, ternyata banyak yang baik tulisan arab maupun artinya tidak sesuai dengan apa yang sudah saya hafalkan selama ini.

Bukan Nabi Muhammad yang memberikan semua itu tapi Rahmat dari Allah.

Banyak yang membandingkan dengan ayat2 lain agar salawat ini gugur / dianggap bid’ah dsb. Tapi alangkah baiknya jika tidak hanya sepotong yang diambil terus dijadikan alat menjatuhkan yang lainnya. Karena hal itu seperti DPR di Majelis yang sering mengambil potongan ayat Al-quran seperti potongan roti.

Apakah arti diatas merupakan tanda2 kesyirikan saudaraku?

Sekali lagi, jika tidak bisa mengartikan bahasa arabnya baca artinya, jadi anda tahu apa yang anda ucapkan.

Allahu Akbar!

alhamdulillah…..smua menjadi lebih terarah hidup saya……..
walaupun sempat ragu….. tapi banyaknya referensi dari para habib……… membuat saya yakin……..
insya Alloh dengan membaca solawat kita akan benar2 menjadi cinta Rasulullah saaw dan Rasul pun cinta pada kita amin…….

Dzurriyah Rasululloh itu tetap ada hingga kini, mereka lah yang disebut dalam hadits Ats-Tsaqollayn : Kitabulloh wa ‘ithroty. Di samping hadits Amroyn : Kitabulloh wa sunnatiy.

Mencintai ahly bayt merupakan manifestadi dari kecintaan kepada Rasululloh SAWW.

Saya perhatikan bahwa mereka, saudara-saudara kita yang tidak sepakat dengan pengamal shawalat nariah langsung di cap sebagai wahabi. Sebenarnya apa itu wahabi, dan siapa itu wahabi?

Inggris (baca : penjajah) menggelari wahabi kepada pengikut syeikh muhammad bin abdul wahab. Namun penisbatan tersebut adalah penisbatan yang keliru. kenapa? karena nama beliau adalah muhammad bukan abdul wahab. abdul wahab adalah ayah beliau. Penisbatan yang benar adalah muhammadiyyah.

Dan hebatnya, penyebutan wahabi diikuti oleh para penjajah bumi muslim lainnya, seperti Belanda dan Perancis. Belanda menyebut wahabi kepada pejuang muslim Imam Bonjol dan pengikutnya.

Jauh sebelum syeikh muhammad bin abdul wahab lahir, sudah ada wahabi. Namun wahabi ini sudah dihukumi sesat oleh jama’ah ulama ahlus sunnah. karena wahabi ini mengerjakan bid’ah, maksiat dan mengkultuskan ahlul bait setinggi-tingginya, yang tidak dibenarkan oleh syari’at islam yang agung. wahabi ini hidup di masa bani fathimiyyah dan berpaham syi’ah, sekitar abad ke 4 hijriyyah. Dan Qadarullah, wahabi ini habis diberantas oleh Sultan Saladdin (Salahuddin al ayyubi rahimahullah) sebelum meletusnya perang salib.

Lalu atas dasar apa, penentang shalawat nariah di cap sebagai wahabi?

Semalam ada pengajian ibu-ibu dirumah tentang Shalawat Nariah yang di pimpin oleh Ustad Bpk. Sariman, dan saya rekam dalam format MP3. hasilnya silahkan di download di

[audio src="http://www.symmetry-multiline.com/download/sholawat_nariah_pengajian_ibu2_sinarluas_lampung.mp3" /]

Catatan : MP3 tersebut sudah dicut untuk memperkecil ukuran filenya

Assalamualaikum, semoga kita mendapatkan syafaatnya dan menjadi umat yang terbaik…

asl,,,ya ahli jannah (amiin)
islam itu indah,,indah sekali banyak tolern d dalam na,,
seakn memudah kan umat nya untuk melakukan sbuah ibadah,,
tapi betapa rugi na umat islam saat ini ,,
yang saling d sibukkan dgn berbagai macam perbedaan,,bukan untuk saling bertukar pkran tapi justru untuk saling menjatuhkan satu sama lain,,
ukhty wa akhi perbedaan 2 indah sangat indah sekali kalo kt mampu menyikapi na,,,
kalau semua d katakan bid’ah bagaimana PENULISAN AYAT SUCI AL-QUR’AN,,,?
bukan kah 2 jg merpakn BID’AH ?
krn penulisan al-qur’an d buat pd ZAMAN SAHABAT ABU BAKAR,,,
pa 2 jg sesat,,,?
afwan tpi mnurut ane gak smua bid’ah 2 seset dan cnth BID’AH KHASANAH 2 td pnlsan al-quran,,,
syukron,,,,
waskum

orang aneh,, yang bilang bid’ah siapa eh dijawab sendiri,, yg bilang bid’ah kn ente,, kok nyalahin orang lain,,

Memperbaiki diri adalah keutamaan. Memperbaiki hati dan pikiran akan membantu mewujudkan perilaku syariah yang lebih baik. Dijalankan shalatnya ( Wajib maupun sunnah ), diperbanyak amalnya, mengurangi syukur2 menghilangkan penyakit batin, seperti iri dengki,sombong, amarah dan penyakit batin lainnya. Dimulai dari sebagai rutinitas dan sekedar kewajiban umat, Dan pada akhirnya apa yg kita lakukan pada tingkatan lahir dan batin, ruh wajasadi.
Bisa mempertanggung jawabkan apa yg telah kita lakukan dan jalani selama di dunia kepada Yang Maha Kuasa. Menyelesaikan kontrak di dunia dg Sang Khalik secara sempurna dan Elegant, akan lebih berarti dan lebih bermakna. Dan saa dipanggilpun tida aan ada keraguan dan penyesalan, dengan kata lain ikhlas… amien.

Ada makna yang lebih hakiki dibandingkan dengan sekedar mempertahankan atau memperdebatkan yang sebetulnya tidak perlu. Diyakini apa yang menjadi keyakinan, hingga tingkatan hakikatul hakikat, Ibarat memegang bola, kita merasakan sampai isi dari bola tersebut, bukan sekedar menyenuh kulit luarnya bola.

Tahapan kesempurnaan ataupun keikhlasan hidup Insya Allah akan bisa kita raih walau hanya menyentuhnya.

Aku Kepingin tau Mengapa ada sholawat kok Namanya Nariyah. Nar itu kan maknanya Neraka kalo dalam Kamus. Mohon jawaban nya.

He he he, lucu dan lugu pertanyaannya mas. Nar itu harus neraka artinya ya mas? Oh… :)

Orang nanya kok di bilang Lucu Gimana MAs sa’d

Ya weis, kalo mas Aqib mau menerjemahkan Nar mesti Neraka ya silakan. Itu kan kamus mas Aqib. Jadi kalo Nar sama dengan Neraka, lantas Nariyah jadi apa? Monggo dibuka kamusnya lagi mas Aqib. Orang boleh beda tho? Lah mas Aqib kan taqlid ama kamus Nar itu. Aku moh taqlid ma kamus Nar itu. He he he. Gitu aja kok ribut. Piiisss mas. Semoga Alloh memasukkan ke syurga Firdaus yg paling tinggi berkat syafaat Junjungan SAW. Amien

As.wr.wb. saudaraku kita memang diwjbkan sholawt kpd nabi oleh Alloh, tapi kt jg harus merasa cukup dengan apa yg diajarkan Rosulloh saw termasuk bagaimana bersholwt kpdnya, krn agm ini sudah sempurna, sempurna artinya tdk boleh dikurangi sedikitpun dan ditambah sedikitpun ajarannya sudah komplit. ini adalah sikap yg paling selamat.

Kesempurnaan agama ini jelas dan kita sedang membahas mengenai itu. Kita sama2 mafhum bahwa shalawat Nariyah bukan mempunyai makna bahwa ia menjadi penyempurna agama yang tanpanya agama ini belum/tidak sempurna. Mas Sri -maaf- terlalu paranoid dengan hal ini

Membaguskan shalawat adalah perintah:
“Ketika kamu sekalian membaca shalawat kepadaku, maka perbaguslah (susunan) bacaan shalawatmu itu, karena Sesungguhnya kamu sekalian tidak mengerti sekiranya hal tersebut di perlihatkan kepadaku”

(HR: Dailami dari Ibnu Mas’ud)

Adakah jika saya membaca shalawat yang saya karang sendiri dengan susunan bahasa saya sendiri lantas kemudian saya merasa tidak cukup dengan shalawat yang ada dan saya telah menambah2 dalam urusan agama ini?

Selama kaidah bershalawat tidak dilanggar, hukumnya sunnah. Karena memperbagus shalawat adalah bagian dari perintah.

Mencukupkan diri dengan shalawat yang ma’tsur, juga sunnah.

Lantas salahnya dimana?

Jadi monggo kalau mau mengamalkan shalawat Nariyah.

Makasih masukannya mas Sri.

Allahu Akbar, maju terus pantang mundur menegakkan Islam. MOHON DOA RESTUNYA UNTUK PEMBANGUNAN PONDOK PESANTREN KAMI ‘PESANTREN MIFTAHUL JANNAH’ yang mencetak hafidh dan hafidhoh Al Qur’an, kami masih membuka pendaftaran santri,GRATISSS .semua biaya ditanggung sampai khatam.

Semoga menjadi amal shalih yang diterima Alloh SWT. Makasih atas jerih payahnya.

Allohu al musta’an

Mas Saad yang sy hormati, anda mengutip HR Dailami, sebagai hujjah pembenaran penyusunan sholawat sak maunya sendiri. Mari kita cermati kalimat sebenarnya dari hadits itu,……. PERBAGUSLAH BACAAN SHOLAWATMU……..tanpa kata tambahan dari anda sendiri yaituPENYUSUNAN. Kata PERBAGUSLAH dari kata dasar BAGUS= kata sifat, kata ini mensifati dari kata benda yaitu BACAAN SHOLAWATMU jadi makna kalimat dari hadits ini yg sebenarnya adalah PERINTAH MEMBAGUSKAN BACAAN SHOLAWAT ITU SENDIERI, bukan perintah menyusun sholawat sakpenakne dewe saudaraku . Dalam memahami agama ini sebaiknya anda menggali bagaimana generasi awal/salaf itu(Sahabat) dalam memahami agama. bukan memahami agama dengan hawa nafsunya sendiri. Sebab merekalah yang paling paham dengan agama ini. Contohnya tentang sholawat, adakah atsar dari mereka bahwa mereka menyusun sholawat sendiri? Kalo tidak ada berita dari mereka berbuat seperti itu berarti kita jangan melakukan!!!
Sebab dalam shohih Muslim”Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebagus-bagusnya tuntunan adalah tuntunan Mnbammad dan urusan yang paling jelek adalah sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) dan setiap yang diada-adakan (dalam agama) itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setap kesesatan itu (tempatnya) di neraka.” [Dikeluarkan dengan lafadz ini oleh An- Nasa’i dalam As-Sunan 3/188 dan asal hadits dalam Shahih Muslim 3/153.].
Dalam riwayat lain “Barangsiapa mengada-ada (sesuatu) dalam urusan (agama) kami ini, padahal bukan termasuk bagian di dalamnya, maka dia itu tertolak.” [Hadits Riwayat Al-Bukhari 5/301 no. 2697, Muslim 12/61 dan lafadz ini milik Muslim] Kedudukan hadits
Hadits ini sangat agung kedudukannya karena merupakan dasar penolakan terhadap seluruh bentuk bidh yang menyelisihi syarit, baik bidh dalam aqidah, ibadah, maupun mumalah.[Lihat Ringkasan Syarah Arbain An-Nawawi – Syaikh Shalih Alu Syaikh Hafizhohulloh] Juga hadits ini merupakan timbangan amal dari sisi LAHIR sedang timbangan sisi BATIN adalah innamal a’malu binniat.jadi amal ibadah akan ditrima apabila niatnyan ikhlas dan mencotoh/ittiba’.
Saudaraku Untuk bersholawat saja anda ingin menyusun sendiri sholawat itu, apa anda ingin mengatakan bahwa sholawat2 yg diajarkan oleh Nabi saw kurang bagus?, kurang sempurna? Pahalanya kurang banyak?. Atau anda ingin mengatakan bahwa anda lebih pandai dari Nabi saw? MASSYAALLOH………!!!!!!
Aku khawatir saudaraku, orang berwawasan seperti anda ini termasuk orang yang disebut2 dalam hadits dari Hudzaifaf r.a.” …….Apakah dakhanun itu?” Beliau menjawab: “Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah.” Aku bertanya: “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?” Beliau bersabda: “Ya. Da’i – da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya……[HR. al-Bukhari dan Muslim].
ini jelas sekali, anda menyuruh manusia untuk bersholawat dgn sholawat nariyah bukannya sholawat tuntunannya Rosulloh saw, yang jelas2 diamalkan para salafus sholeh.
Coba anda fikirkan tentang fadilah sholawat nariyah, Disitu sudah nyata dan jelas kebohongannya, memangnya pengarang sholawat nariyah itu siapa? sehingga bisa menentukan kadar pahala, kadar keutamaan, bahkan membuat syareat tersendiri tentang jumlah membacanya.
Kadar keutamaan suatu amalan hanya Alloh dan NabiNya yg tahu dan yang berhak menentukan, betul tidak? siapa yang berani bilang bahwa manusia biasa/syehk/kyai/wali boleh menentukan? wallohu’alam
mohon maaf kalo ada kata2 yang tidak mengenakan hati saudaraku.

Mas AWW yang juga saya hormati. Sandaran kita meskipun sama namun memahaminya berbeda. Pengambilan hujjah berdasarkan pendapat fulan dan fulan boleh diterima boleh ditolak. Sebagian meyakini bertaqlid dengan fulan ya silakan, mengambil pendapat fulan juga ya silakan. Antum punya pendapat, yang lain pun punya pendapat. Mana yang sharih? Antum pasti yakin bahwa antum lah yang sharih. Karena ilmu antum mengatakan seperti itu.

Saya pikir ini tidak akan ada habisnya. Kita tasamuh saja tanpa menghakimi. Saya yakin mas AWW tidak sependapat. Saya sadar bahwa saya tidak dapat memaksakan pendapat saya kepada semua orang.

Mungkin antum benar dan saya salah. Jazakalloh mas AWW

subhanallah…jazakallah buat saudaraku yg mfasilitasi blog ini.. Saya lg ingin mengetahui makna dibalik shalawat nariyah.. di blog ini pula… Tangisan ta’ tertahankn..meleleh2..apalagi pas, rasulullah mengucap..’umatku..umatku’…btapa cinta beliau kpd umatnya.. Sdg aku…malu aku.. Baru seberapa aku membalas cintanya…yg sedemikian tulus kpd umat2nya.. Yg menyedihkan buat ku, disaat bershalawat hati ni nda kubawa serta.. Biasa2 sj.. Ga ada bergetar.. Datar.. Nda ada rasa takziim… ampuni aku ya Robb.. Smakin kusadari… Untuk mengenal.. keindahanMu & RasulMu..tdk bisa pakai akal sj..tp juga hati yg ikut merasakan… wallahu alam bissawab..

EY :

subhanallah…jazakallah buat saudaraku yg mfasilitasi blog ini.. Saya lg ingin mengetahui makna dibalik shalawat nariyah.. di blog ini pula… Tangisan ta’ tertahankn..meleleh2..apalagi pas, rasulullah mengucap..’umatku..umatku’…btapa cinta beliau kpd umatnya.. Sdg aku…malu aku.. Baru seberapa aku membalas cintanya…yg sedemikian tulus kpd umat2nya.. Yg menyedihkan buat ku, disaat bershalawat hati ni nda kubawa serta.. Biasa2 sj.. Ga ada bergetar.. Datar.. Nda ada rasa takziim… ampuni aku ya Robb.. Smakin kusadari… Untuk mengenal.. keindahanMu & RasulMu..tdk bisa pakai akal sj..tp juga hati yg ikut merasakan… wallahu alam bissawab..

Yukhsarul mar’u ma’a man ahabba
(Kelak manusia dikumpulkan bersama orang yang dicintainya)

Semoga kita dikumpulkan bersama Rasululloh SAW, keluarganya, sahabat2nya dan semua ummatnya. Amien

amiiin….
terus semangat mas lukman… :D

terima kasih sudah atas artikelnya, saya nambah mantap mengamalkan, semoga menjadi amal kita bersama amin. tks

koja :

terima kasih sudah atas artikelnya, saya nambah mantap mengamalkan, semoga menjadi amal kita bersama amin. tks

Amien ya robbal ‘alamien

Alhamdulillah 2 tahun yang lalu,saya mendapat cobaaaaaaaaaan…… yang sangaaaaatttt beratzzzzzzzzz (saking beratnya), perut saya nyaris tidak terisi nasi, berat badan ambruk drastis… sekalian saya puasa aja sekalian, sambil gak putus sholat 5 waktu. Saya ingat dulu pernah ikut pengajian, yg setiap malam jumat baca shalawat nariah 4444 x, sampai pagi. Saya tidak pernah hapal, saya teringat dan Alhamdulillah saya bisa mendapatkannya lewat internet pake HP saya, mulailah saya tertatih2 membacanya, kemudian mencoba menghapalkannya, sampai akhirnya saya dapat merampungkan 4444x, hampir 2 minggu baru kelar. Mukjizat…….. ketika rampung, saat itu juga saya mendapat “jalan yang terbaik”. Kalau tidak, mungkin saat ini saya sudah ada di dalam penjara seumur hidup. Cobaan berat belum dan tidak pernah berakhir, tp saya dapat melewatinya dengan tenang, mantap dan yakin. entah sudah berapa kali saya merampungkan 4444x, Tasbeh nyaris tidak pernah lepas dari leher saya, setiap ada kesempatan, saya selalu berusaha melafalkannya. Memang saya punya banyak bacaan, untuk diamalkan, tp saat ini, inilah yg mantap di hati saya. semoga pengalaman saya berguna buat teman2 yg lain, Amin.

Terima kasih banyak sharingnya mas Oluk. Semoga semakin mantap dan semakin cinta dengan shalawat. Amien

Astagfirullahalazim, ternyata kita mudah sekali menghujat dan marah…
bukankah segala sesuatunya tergantung niat, jika kita masih bersahadat, shalat ,zakat dan puasa bukankah kita masih bersaudara, jika kita berbeda pendapat sedikit anggaplah hal itu untuk memperkaya pengetahuan kita, semoga Allah SWT senantiasa menurunkan hidayah Nya untuk kita semua Amiin

وسيتشقى kenapa tulisan rumi tulis yustasqol. dan wa nafasin or wa nafsin?

smoga kita semua yg sudah biasa mengamalkan shalawat nariyah,,,mndapat rahmat dan hidayahnya dari Allah,,dan apa yg di cita2 kan,tercapai….amien….

Amien ya robbal ‘alamien

Alhamdulilah…akhir aku ketemu dengan blog ini…jadi tambah maantaf…..:-)

Alhamdulillah….
masih banyak yg mengenal Sholawat Naariyah

Ass.wr.wb,

Salam kenal mas.
Ane izin untuk ditampilkan di situs ane.

Matur Nuwun.

salam kenal juga mas Ilham. Silakan dan semoga bermanfaat.

Syukron

Assalamualaekum,

Boleh tanya dong, sekalian salam kenal juga.
Kalau ingin mengamalkan salawat Nariyah ini, perlu di ijazahkan ngak yah? dari seorang guru ke muridnya. Atau cukup niat dan langsung mengamalkannya saja?
Masalahnya saya tinggal di negara yg…well, jauh dari kalangan muslim.
Makasih, Wassalam…

Assalamualaikum wr.wb

Salam kenal buat mas pemilik blog ini…saya jadi bisa baca sharing dari semua teman2 tentang Shalawat ini. Dan semua ilmu2 yang bermanfaat bisa saya ambil dan di terapkan untuk saya…mohon doanya semua juga karena saat sekarang saya dan keluarga sedang mendapat ujian dari Allah yang cukup hebat (menurut ukuran saya), semoga saya beserta kel bisa melewatinya…dan mudah2an dengan Shalawat ini Allah bukakan pintu keajaiban…Amin..

terima kasih, wassalam…

Semoga Alloh SWT ringankan segala mushibah dan menjadi penggugur salah dan dosa kita. Semoga keberkahan semakin bertambah dengan kecintaan kepada shalawat kepada hamba dan kekasihNYA. Amien

mari kita selalu bersholawat, dengan sholawat buktti cinta kita pada rasulullah SAW. lanjut mas Ahmad lukman… seseorang yang sudah apriori tidak akan mau menerima sekalipun itu benar adanya..

Makasih dukungannya mas Tunere. Semoga kita mendapat syafaat Rasululloh Shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa shohbihi wa baarik wa sallam. Amien

Assalam ‘alaikum wr wb. Terima kasih Sdr Ahmad Lukman, sebelumnya saya belum tergerak untuk mengamalkan membaca sholawat nariyah ini tetapi setelah ada teman ngajak dan setelah buka di website nya Sdr Ahmad Lukman , saya tergerak untuk mengamalkan nya. Sekali lagi terima kasih mohon didoakan agar apa yang saya lakukan di ridloi oleh Alloh dan lancar. Amiin. Wassalamu ‘alaikum wr.wb

Amien. Semoga mas Susanto dan muslimin lainnya tambah barokah hidupnya. Dalam hadits dikatakan agar kita mengajarkan anak2 kita untuk mencintai 3 hal : Cinta Nabi Muhammad SAW, Cinta Al Qur’an dan Cinta pada ahli kerabat (Ahlul Bayt) Rasululloh SAW.
Semoga kita semua mendapat syafaat Rasululloh SAW di yawmil akhir. Amien

Assalamualaikum WBT En.Saad,

Bolehkah saya bertanya pada tuan selain dari tajuk ini? Saya ingin bertanya berkenaan perkahwinan Nabi Muhammad dan Mariatul Qibtiyah,apakah ada kitab yang menyatakan nabi berkahwin dengan Mariatul Qibti tanpa bernikah? Apakah tuan mengetahuinya dan ada membaca kitabnya tentang perkara ini dan adakah perkara ini benar?

Saya ini masih jahil dan sering ingin mencari ilmu tetapi selalunya di internet ini hanya sekadar maklumat sahaja dan tentunya kita semua inginkan bukti yang sahih. Mungkin tuan atau ada sesiapa yg dpt membantu. Terima Kasih yaa..

ta Rob aku tak ingin terpisah denganMU

he,,he,,he,, melihat seluruh postingan di atas, saya jadi tertawa bagaimana pendapat satu sama lain di paksakan kepada lawan bicara, percis tipikal orang yang berbicara tentang garam dan gula berdebat panjang lebar rasanya gula asin dan warnanya putih dan orang yg satu bilang warnanya putih rasanya manis,

Ada baiknya Dicicipi,,,dirasakan,,,,bukankah bila yakin dengan Alloh akan mendapatkan petunjuk bila memang salah dan benar ? katanya jangan taklid buta kepada guru,?? he,,he,,

berbagai orang datang menceritakan pengalaman spiritual pribadi mereka ketika mengamalkan shalawat ini, bahkan yang tidak perlu testing dulu sudah ada bukti,,,tapi masih juga diyakinkan dengan argumentasi lain, lha bukankah isinya tinggal mengendalikan rasa/yakin bahwa segala sesuatu penyebabnya adalah Alloh, dan bukan karena siapapun,,,

Shalawat nya adalah sarana,,,kalau sarananya haram apa iya bakalan barokah,,,apa iya bakalan terbukti,

Ada baiknya sebelum menghakimi sesat, diperiksa dan dijalani dulu karena agama ini berdasarkan laku,,,bukan teori dan perdebatan, orang sunda bilang POK dan PEK harus sesuai,,,,Alhamdulillah ,

Jumlah dan bacaan sesuai keyakinan masing- masing yang sesuai kenyamanan masing – masing, yang penting shalawat

karena yg sampai bukan bacaannya tapi getaran kerinduan/kecintaan kepada beliau dan kepadaNya lah, kalo shalawat sambil pikiran melayang-layang lha ibarat ngobrol tapi muka berpaling ,,he,,he,,,

Salam sejahtera bagi kita semua fidunya wal akhirah pecinta dan pencari cinta Allah dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam semoga yang salah dibimbing kepada kebenaran dan yang benar diberi ketawaduan untuk tidak merasa paling benar, mohon maaf sebelumnya kepada semua,,,,,

Wassalam
KnC

Hatur nuhun pencerahannya Kang

assalamualaikum,
knp soalan saya tak da siapa yang jawap?

betapa meruginya orang yang meragukan sholawat nariyah ini! semoga dengan ini kita mendapat keberkahan rosulullah.

ketika membaca tanggapan dari kangencep saya merasa lucu juga sama ketika kang encep membaca tulisan2 diatasnya.

Lucunya adalah agama Islam ini artinya diserahkan kepada perasaan masing-masing manusia. Bila betul/sreg menurut perasaaannya maka bisa dibilang BETUL. Lucu, lucu sekali dengan demikian maka orang nashrani yang sangat sreg dengan nyanyian memuja kristus-nya itu bisa dibilang OK karena memang sangat dihayati, diresapi dan dinikmati oleh orang-orang musyrik tsb. Lalu dalil yang tidak sesuai dengan perasaan masing-masing.. monggo di tepikan.

Sekian komen thd kang ncep, karena yang akan saya sampaikan ini jauh lebih penting dari perasaan dari Kang Ncep.

=======================================

Berdasarkan solawatan Nariyah diatas secara bahasa dapat disimpulkan beberapa sifat ketuhanan yang dimiliki nabi Muhammad yang merupakan hamba dan utusan Allah azza wa jalla. yaitu

yaitu bahwa nabi Muhammad yang dengannya:

1. terlepas segala ikatan,
2. lenyap segala kesedihan,
3. terpenuhi segala kebutuhan,
4. tercapai segala kesenangan,
5. semua diakhiri dengan kebaikan,
6. hujan diturunkan,

Ke-enam hal diatas adalah semata-mata atas kehendak Allah. dan tidak seorang makhluq-pun yang mempunyai kekuasaan yang demikian. Tidak nabi yang paling mulia atau pun utusan Allah yanng paling dekat.

KATANYA seorang tokoh mereka (para ahli solawatan ini) bahwa ke-enam point diatas adalah kiasan bahwa yang dimaksud dengan Muhammad diatas adalah bukan Muhammad tetapi risalah yang dibawa oleh nabi Muhammad yang dengannya tercapailah ke-enam hal diatas. Disini terlihat kiasan yang dimaksud adalah mengganti nabi muhammad itu dengan Alquran atau risalah yang dibawa oleh nabi.

Dengan alasan “KIASAN” ini maka dapatlah kita karang-karang KIASAN perkataan orang-orang Nasrani: KAMI adalah ANAK-ANAK TUHAN.

Lalu mari kita bandingkan dengan perkataan para sahabat yang mulia:

1. Perkataan ‘Abbas ra:
“… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya”

2. ucapan Abu Hurairah ra:
“Wahai Rasulullah, bila kami dihadapanmu maka jiwa kami khusyu” (shahih Ibn Hibban hadits no.7387), “Wahai Rasulullah, bila kami melihat wajahmu maka jiwa kami khusyu”

MANA yang menunjukkan nabi memiliki sifat2 ketuhanan???

-Apakah karena nabi memiliki cahaya, maka nabi dikatakan memiliki sifat Ketuhanan?? Bahkan malaikat diciptakan dari cahaya. DAN..Cahaya adalah makhluq.

-Apakah karena para sahabat melihat wajah nabi lalu menjadi khusyu’ maka ada unsur ketuhanan didalam nabi?? Bahkan manusia biasa-pun bisa seperti itu karena salah satu tanda kedekatan seseorang dengan Allah adalah ketika kita melihatnya kita menjadi ingat kepada allah.

Sungguh tidak layak sama sekali perkataan syirik diatas tadi disejajarkan dengan perkataan sahabat nabi yang Allah ridha dengan mereka. Dan ingat, perkataan dua sahabat tsb sama sekali tidak perlu dikiaskan dengan APAPUN.

Dan ingat ini tidak ada samasekali hubungannya dengan TAWASSUL, karena syirik dari solawatan ini berhubung dengan memasukkan sifat-sifat Allah kepada makhluq. Bukan syirik dari sisi meminta (berdoa)

Wallohu A’lam, semoga kita mendapat petunjuk.

assalamualaikum,
sungguh kecewa sekali, islam hipokrit, saya bertanyakan kpd tuan saad berkenaan perkahwinan nabi itu, tidak ada seorg pun yg menjawab.kalau tidak boleh tanya isu lain, bagi tahu lah.sangat hipokrit.

Mengenai pertanyaan tuan pernikahan Nabi Muhammad dengan Maria al Qibtiyah, saya tidak tahu kitab yang membahas tentang itu. Mohon maaf tuan Miza, ilmu yang saya miliki sangatlah sedikit.

Mungkin tuan bisa searching terkait pertanyaan tuan. Beberapa link berikut mungkin boleh membantu tuan :

http://zeinhaekal.multiply.com/journal/item/7

http://books.google.co.id/books?id=i_o88FhR7l0C&pg=PA58&lpg=PA58&dq=siap+itu+Maria+aL-Qibthiyah&source=bl&ots=DX7gw8Txia&sig=ziO4G0_ujwVAbWoKdUps0pF73CQ&hl=id&sa=X&oi=book_result&resnum=3&ct=result#v=onepage&q&f=false

Mohon maaf dan terima kasih

Alhamdulillah..sy sdh hampir delapan thun mengamalkan shalawat nariah dengan bimbingan seorang guru…semenjak sy mengikuti guru saya dan bersentuhan dengan para ulam dan kyai di pilau jawa, tidak ada satupun yg mengharamkan shalawat nariah ini..bahkan mereka mengamalkannya….bacaan shalawat nariah ada di dalam kitab salaf…sy pernah membacanya ttp saat ini lupa pengarangnya…
Apa seh yg tidak di bid’ahkan oleh wahabi smua bid’ah…Rosul SAW tdk nyuruh tuh sahabat abu bakar mengumpulkan Alqur’an lalu di bakar oleh beliau lalu di buat mushaf yg baru…Rosul jg gak nyuruh tuh Utsman bin Affan memberikan titik pd huruf di Alqur’an sebagai pembeda satu huruf dengan huruf yg lainnya agar mudah di baca…..berarti Abu bakar siddiq ra dan utsman ra ahli bid ah dong…..berarti kita semua baca AlQr’an ahli bid’ah donk…
astaghfirullah…
wahabi…belajar dulu yg bener ..jangan asal cari guru..jadi keblinger deh…
“Al haqqu mirrobbika”
afwan..

Alhamdulliah ..setalah membaca forum ini ..seolah2 beban yg sy pikul agak berkurang..
jadi jgn lg kita perdebatkan…ibarat ad orang mau tenggelam, kita hanya ribut teori bagaimana cara menolongnya sedangkan orang tersebut butuh pertolongan secepatnya…yg kita butuhkan adalah tindakan bgaimna menyelamaykan orang tersebut lebih dahulu…terlepas kita menolong melalui media alat apapun selama niat kita baik dan tidak keluar dari jalur agama..(.Allah pun memaklumi bahwa kita hanya manusia yg tak sempurna,dan Diapun Maha Mengetahui Segalanya )

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (terjemahan QS An Nisâ’: 59)

Dari ayat ini maka jelaslah bila kita tidak sependapat, maka jalan keluar satu-satunya adalah kembali kepada dalil (baik alquran maupun sunnah yang shahihah).

Dan apabila setelah panjang lebar membahas dalil lalu dikembalikan lagi kepada perasaan masing-masing, kepada ustadz masing-masing, kepada ulama masing-masing, kiyai masing-masing. Nah bila kita balik lagi kepada tokoh masing2 maka segala persoalan perselisihan tidak akan selesai. Karena tokoh masing-masing akan membela golongan masing-masing. Sedangkan quran dan sunnah, insyaallah tidak memihak bila kita memahaminya dengan pemahaman yang benar.

Semoga kita diberi menjadi orang-orang yang beriman dengan kembalinya kita kepada persamaan kita semua yaitu alquran dan sunnah yang shahih.

Tidak ada lagi label-label seperti nahdiyyin, muhammadiyah, salafi, wahabi, persis, hizbuttahrir, dan lain-lain golongan islam. karena pasti dengan label ini maka akan menimbulkan persepsi negatif sedangkan yang kita lihat seharusnya adalah dalil (hujjah) yang disampaikan dan bukan kelompok mana dia berasal, sedangkan semua kelompok-kelompok tadi adalah SEMUANYA berNOTABENE ISLAM.

Yang penting bagi kita menurut hemat saya adalah.. MEMBAHAS argumen-argumen yang datang dari berbagai kelompok ini. Dengan tidak menghubungkannya kepada kelompok. Bila kita sudah mencurahkan perhatian kepada pembahasan materi dengan dalil-dalil dan disertai dengan niat mencari kebenaran maka insyaallah pembicaraan kita akan ada menfaatnya.

Tetapi bila cara kita membahas sudah saling mencaci dan mengibarkan bendera masing-masing, lalu ditambah lagi dengan hawa nafsu kebencian kepada suatu kelompok lalu membangga-banggakan kelompoknya sendiri. Maka saya pikir tidak perlu ada pembicaraan, karena tidak akan pernah bisa bertemu pemahamannya.

Mudah-mudahan pesan saya ini bisa bermanfaat buat diri saya pribadi dan saudara-saudara sekalian.

KALO ITU MEMANG AJARA ROSULULLAH TERANG KANH HADISNYA JANGAN BIKIN BINGUNG UMAT KITA JANGAN THKLID BILA TAK TAHU DASARNYA

Sholawat nariyah ini menurut saya tidak punya dasar karena memang tidak dinukil dari sunnah. Jadi tidak bisa disamakan dengan sholawat yang memang diajarkan nabi dan disunnahkan kita mengamalkannya.

Bahkan sholawat ini bertentangan dengan akidah kita dan menyalahi akidah seorang mu’min yang mentauhidkan sifat-sifat Allah yang hanya Allah memiliki kekuasaan-kekuasaan tsb yang disebutkan diatas, yakni,

Hanya dengan kekuasaan Allah-lah semua hal ini bisa terjadi:

1. terlepas segala ikatan,
2. lenyap segala kesedihan,
3. terpenuhi segala kebutuhan,
4. tercapai segala kesenangan,
5. semua diakhiri dengan kebaikan,
6. hujan diturunkan,

Semoga keimanan kita bersih dari kesyirikan kepada Allah.

loe ini dengki amat ama amalan orang biarin aja sih … gitu koq repot… coba bersihkan hati loe dulu tuh… sama2 muslim ribut2.. dasar gak punya otak!!!! Jangan2 loe ini misionaris ataw non muslim yg mo ngadu domba ya….? hati2 ya….
jangan sombong dengan ilmu yg sedikit

Assalamu’alaikum wr. wb.
segala puji bagi Allah SWT yang telah menciptakan dunia beserta isinya. Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpah curahkan kepada bimbingan kita Muhammad SAW, keluarganya, para sahabatnya dan seluruh pengikutnya yang setia mengikuti sunah beliau sampai akhir zaman. Amin Allahumma Amin…
salam kenal saudara-saudaraku sekalian, Alhamdulillah perbedaan itu diciptakan oleh allah dalam agama yang kita cntai yaitu Islam sehingga agama ini menjadi begitu indah. namun jnganlah perbedaan itu kita jadikan suatu masalah apalagi sampai saling menghujat dan membuat tersinggung antar sesama muslim. menurut saya banyak hal lain yang lebih besar yang harus kita lakukan yaitu dakwah Islam untuk negeri tercinta ini. contohnya masih banyak saudara-saudara kita yang belum mengenal rukun islam dan kewajiban sebagai umat islam. itu yang perlu kita galakan. kalo saya pribadi selama orang itu islam maka ia saudara saya dan apabila ia menasehati tentang ilmu saya dengarkan lalu kalo saya yakin dijalankan selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah. mari kita perketat ukhuwah islamiyah.

Belajar lagi mas,apa itu Wahabi…? Wahabilah yang menyelamatkan orang dari kesyirikan,salawat Nariyah buatan orang Sufi ,sufi bukan dari Islam,dari Yahudi (Abdullah bin Saba),antum menyarankan orang membaca salawat Nariyah berarti antum mengajak kepada syirik ,antum tulis terjemahan salawat nariyah tapi antum nggak tau artinya,atau antum memang nggak bisa baca (hanya copy paste dari web orang),

yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan, hujan diturunkan, berkat dirinya yang …. (di salawat bid’ah ini Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam dapat melepaskan kesusahan,dapat memenuhi kebutuhan dan macem-2 lagi) berarti sama dengan orang kristen,minta segalanya ke Nabi Isa.

Minta ke selain Allah Syirik,dalam Alquran kalau antum buat Syirik Allah akan hapus amal antum,puasa,zakat haji yang antum pernah buat hilang semua,dan Allah tidak mengampuni dosa syirik.!

makanya Al Quran bukan cuma untuk di baca ,tapi kita disuruh mempelajarinya juga ,salawat -2 bidah bertentangan dengan al Quran surat Al ‘araaf -188

Ingat dalam .SETAN LEBIH MENYUKAI PEMBUAT BID’AH DARIPADA PEMBUAT MAKSIAT (pembuat maksiat biasanya dia tahu kalau maksiat itu dosa ,tetapi pembuat bid’ah tidak akan merasa berdosa) ,Hadis Bukhari-Muslim setiap bid’ah sesat antum mau sembunyikan kemana..???

Yang wajib masih banyak belum dikerjai malah cari-2 amal yang bida’h
mencintai Rasulullah bukan dengan baca-2 salawat bida’h,ikuti perintahnya dan tinggalin apa yang dilarang.
Mencintai Rasulullah ikut apa yang disuruh,tinggalkan apa yang dilarang.buat bid’ah dilarang ,salawat bid’ah timbulnya belakangan,zaman sahabat nggak ada,apakah amalan-2 antum lebih hebat dari sahabat..? apakah sahabat tidak tahu cara untuk mencintai Rasulullah..?

Ingat ,penyebar kesyirikan ada 4: SUFI,DUKUN,TAKLID BUTA dan ADAT
Waullahu alam.

http://www.4shared.com/dir/nzoFqoHJ/sharing.html

alhamdulillah,

sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada junjungan kita nabi Muhammad

Kepada sdr Ahmat,

Perbedaan dalam Islam adalah bukan rahmat sejauh yang saya ketahui, Hadits yang menunjukkan ini tidak bisa dijadikan hujjah karena kelemahannya (silahkan dicari tulisan-tulisan tentang ini, karena cukup luas pembahasannya). Perbedaan yang merupakan keindahan yang saya tahu adalah seperti perbedaan warna kulit, bahasa, dan lain-lain di luar syariat Islam yang disana kita disyariatkan untuk saling kenal satu sama lain antar manusia.

Justru perbedaan dalam syariat Islam yang kita temui merupakan ujian bagi kita apakah kita dapat memilih mana yang lebih sesuai kepada Alquran dan Assunnah, dengan tidak merasa benar dengan apa yang ada pada golongan kita, mazhab kita, suku kita, daerah kita, apa kebiasaan nenek moyang kita. Sehingga dengan ini maka makin terujilah iman kita sesuai dengan firman Allah yang saya singgung diatas di surat Annisa:59, bukan malah tetap berada pada keadaan menyelisihi Al-quran dan Assunnah, apalagi merasa indah dengan perbedaan yang seperti itu.

Setelah semua dalil masing-masing diberikan dan diberi penjelasan yang cukup baik, lalu didiskusikan kembali pemahamannya, dengan niat mencari kebenaran dan tidak lagi melihat label-label kelompok, maka insya allah perbedaan itu akan sangat bisa diminimalisir. Terutama dalam perkara akidah, yang merupakan masalah yang sulit kita cari terdapat perbedaannya di kalangan salafusoleh (terlebih lagi para sahabat nabi yang mulia yang Allah ridha terhadap mereka semua.

Menurut hemat saya untuk masalah pengagungan terhadap nabi ini, saya kira tidak ada sama sekali perbedaan yang harusnya terjadi karena ini perkara akidah kita terhadap nabi kita. Yang mana nabi adalah manusia seperti kita yang tidak mempunyai sama sekali sifat-sifat ketuhanan. Yang mana nabi kita adalah hamba Allah dan rasulnya. Tidak mengetahui yang ghaib sama sekali kecuali yang telah diwahyukan kepada beliau. Pengagungan kita terhadap nabi Muhammad sudah jelas merupakan suatu keharusan. Tetapi tidak pula dengan tujuan tersebut kita menempatkan nabi kita yang mulia pada posisi yang tidak selayaknya yakni memiliki sifat-sifat yang hanya Allah memiliki sifat tsb. Kebiasaan pengagungan yang berlebihan kepada nabi dan orang sholeh ini merupakan sifat umat-umat terdahulu yang menyebabkan mereka melakukan syririk besar kepada Allah.

Ingatlah wahai saudara-saudaraku, bukankah berhala-berhala yang bernama Wad, tsuwa, yaghuts ,dan lain-lain adalah tadinya merupakan orang-orang sholih pada zaman sebelum Nuh yang dipuja kemudian disembah. Lalu lihatlah nabi ‘Isya bin Maryam yang dutuhankan oleh umatnya karena mereka berlebih-lebihan kepada nabi mereka. lalu lambat laun akhirnya mereka menyembah ‘Isya bin Maryam.

Mudah-mudahan kita mendapat petunjuk.

Saya sependapat dengan Sunnis

Barang siapa membaca sesuatu karena mengharap sesuatu selain ridho Allah, dengan tujuan tertentu, itu tak ubahnya seperti mantra yg sering kubaca karena tujuan dan maksud tertentu. Karena mantra yg kubaca juga sebagian bercampur dengan untaian puji-pujian dalam bahasa Arab.

loe ini dengki amat ama amalan orang biarin aja sih … gitu koq repot… coba bersihkan hati loe dulu tuh… sama2 muslim ribut2.. dasar gak punya otak!!!! Jangan2 loe ini misionaris ataw non muslim yg mo ngadu domba ya….? hati2 ya….
doa koq dibilang mantra, salawat dibilang jampe2 tolol nih orang atw memang misionaris ya…. ngaku aja ntar kita sambangin

Terimakasih rekan sekalain.
Kepada yg beranggapan atau mensyirikkan membaca Shalawat Nariyah Cobalah pahami maknanya…. dari sisi mana yang menyekutukan Allah…,

Dari awalnya sudah dikatakan…. “Ya Allah… limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan yg sempurna atas junjungan kami Nabi Muhammad Saw dst…”
Bagi saya jelas ini bukan bentuk menyekutukan Allah dengan Nabi Muhammad Saw. Anda pahami bahwa ini memintakan sesuatu untuk Muhammad kepada Allah (dari sisi mana yg menyamakan/sekutu?).

Kalau dipahami isinya ini adalah seruan terimakasih yg tidak terhingga atas Nur kenabian Muhammad Saw yang telah menyinari kita (menuntun) hati kita menjadi terbuka atas keberadaan Allah Swt dan segala petunjuk-Nya.

Yang menjadi kurang sejalan adalah embel2 bahwa kalau membaca 11 x akan mendapatkan mobil, kalau membaca 22x akan mendapatkan sepeda motor….!

Shalawat ini adalah ungkapan terimakasih yg dalam/tulus/tinggi atas nabi Muhammad Saw dan doa kepada Allah untuk Muhammad Saw. Mau jadi apa diri kita ini kalau tidak ada Nur Muhammad Saw?, Seharusnya ini ihlas… Nol… bersyukur… tidak berharap yg boten-boten (mobil dan motor diatas).

Mengenai anda yg bilang “jangan berlebihan atas Muhammad Saw… beliau itu hanyalah mahluk seperti kita….”
Tanggapan saya adalah: tidak ada yg berlebihan mas… itu sudah sepantasnya…., coba bayangkan akan sesat seperti apa kita2 ini kalau tidak ada Nur kenabian Muhammad Saw?

Salam.

Saudaraku Dien Mas,

Mudah-mudahan kecintaan anda kepada Nabi kita yang mulia mendapat ganjaran dari Allah.

Tetapi yang anda sebutkan adalah muqaddimah-nya saja dari shalawat nariyah. Kalau itu memang diserahkan kepada masing-masing bila tetap ingin menggunakan redaksi yang persis seperti contoh dari nabi kita dan para sahabatnya.

Sedangkan yang kita tidak bisa tolerir adalah isi dari sholawat tsb setelahnya yang mengungkapkan sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Allah. Tidak syak lagi bahwa nabi adalah manusia yang paling mulia yang patut kita sanjung dan kita bersholawat kepadanya. Tetapi tidaklah kemuliaan beliau kita pangkas lagi secara besar-besaran karena kita sematkan sifat-sifat Allah tsb kepada beliau.

Coba anda renungkan siapakah yang mampu melakukan hal-hal berikut:

1. melepaskan segala ikatan,
2. melenyapkan segala kesedihan,
3. memenuhi segala kebutuhan,
4. memberi segala kesenangan,
5. mengakhiri sesuatu dengan kebaikan,
6. menurunkan hujan,

Siapakah yaang mampu selain Allah?

Mari kita renungkan Firman-firman Allah dalam beberapa surah sebagai berikut:

Yunus(10):ayat 31

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”

Al Mu’minuun (23): ayat 84-89

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”
Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”
Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?”
Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”
Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”
Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?”

Al-Jinn(72): ayat 19-23
Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.
Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya.”
Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan.”
Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.”
Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

Al-Kahfi (18): ayat terakhir (110):
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”

Akhirul Kalaam…,

Nah saudaraku, semoga kita semua dirahmati Allah. Cobalah anda baca baik-baik isi dari sholawat tsb dari awal sampai akhir. Mudah-mudahan kita bisa mengambil kebaikan dan melepaskan kemudharatan dari segala hal yang kita temui.

Pak, minta ijin publis di site q ye.. Thanks

Silakan, semoga bermanfaat. Tks

Salamualaikum……
Wahai……bapak-bapak yang terhormat…mohon kami di jelaskan sebelum membaca salawat nariah apa yang harus dibaca terlebih dahulu ya….pak…

Assalamualaikum for All

Saya mau tanya apa kegunaan membaca shalawat nariyah, dan waktu membacanya kapan saja…???? terimakasih….

amel

Ingat Saudaraku…, IBLIS LEBIH SUKA MANGAJAK manusia kepada Ibadah yg dibuat buat/ diada-adakan = BID’AH, daripada mengajak manusia berbuat maksiat.., karena manusia tau maksiat itu jelas dosanya.., sedangkan BID’AH ibarat VIRUS MEMATIKAN YG SUSAH OBATNYA.., Kembalilah kepada AJARAN MUHAMMAD SHALLALLAHU’ALAIHI WASALLAM YG SHOHIH WAHAI SAUDARAKU..

@Dien Mad

Saudaraku Dien Mas,

Mudah-mudahan kecintaan anda kepada Nabi kita yang mulia mendapat ganjaran dari Allah.

Tetapi yang anda sebutkan adalah muqaddimah-nya saja dari shalawat nariyah. Kalau itu memang diserahkan kepada masing-masing bila tetap ingin menggunakan redaksi yang persis seperti contoh dari nabi kita dan para sahabatnya.

Sedangkan yang kita tidak bisa tolerir adalah isi dari sholawat tsb setelahnya yang mengungkapkan sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Allah. Tidak syak lagi bahwa nabi adalah manusia yang paling mulia yang patut kita sanjung dan kita bersholawat kepadanya. Tetapi tidaklah kemuliaan beliau kita pangkas lagi secara besar-besaran karena kita sematkan sifat-sifat Allah tsb kepada beliau.

Coba anda renungkan siapakah yang mampu melakukan hal-hal berikut:

1. melepaskan segala ikatan,
2. melenyapkan segala kesedihan,
3. memenuhi segala kebutuhan,
4. memberi segala kesenangan,
5. mengakhiri sesuatu dengan kebaikan,
6. menurunkan hujan,

Siapakah yaang mampu selain Allah?

Mari kita renungkan Firman-firman Allah dalam beberapa surah sebagai berikut:

Yunus(10):ayat 31

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”

Al Mu’minuun (23): ayat 84-89

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”
Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”
Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?”
Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”
Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”
Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?”

Al-Jinn(72): ayat 19-23
Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.
Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya.”
Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan.”
Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.”
Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

Al-Kahfi (18): ayat terakhir (110):
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”

Akhirul Kalaam…,

Nah saudaraku, semoga kita semua dirahmati Allah. Cobalah anda baca baik-baik isi dari sholawat tsb dari awal sampai akhir. Mudah-mudahan kita bisa mengambil kebaikan dan melepaskan kemudharatan dari segala hal yang kita temui.

maaf maksud saya @Dien Mas,
bukan @Dien Mad

minta ijin nyedot ilmu bos zaw…….,suwun…..!!!

Sholawat Nariyah adalah sebuah sholawat yang disusun oleh Syekh Nariyah. Syekh yang satu ini hidup pada jaman Nabi Muhammad sehingga termasuk salah satu sahabat nabi. Beliau lebih menekuni bidang ketauhidan. Syekh Nariyah selalu melihat kerja keras nabi dalam menyampaikan wahyu Allah, mengajarkan tentang Islam, amal saleh dan akhlaqul karimah sehingga syekh selalu berdoa kepada Allah memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk nabi. Doa-doa yang menyertakan nabi biasa disebut sholawat dan syekh nariyah adalah salah satu penyusun sholawat nabi yang disebut sholawat nariyah.

Suatu malam syekh nariyah membaca sholawatnya sebanyak 4444 kali. Setelah membacanya, beliau mendapat karomah dari Allah. Maka dalam suatu majelis beliau mendekati Nabi Muhammad dan minta dimasukan surga pertama kali bersama nabi. Dan Nabi pun mengiyakan. Ada seseorang sahabat yang cemburu dan lantas minta didoakan yang sama seperti syekh nariyah. Namun nabi mengatakan tidak bisa karena syekh nariyah sudah minta terlebih dahulu.

Mengapa sahabat itu ditolak nabi? dan justru syekh nariyah yang bisa? Para sahabat itu tidak mengetahui mengenai amalan yang setiap malam diamalkan oleh syekh nariyah yaitu mendoakan keselamatan dan kesejahteraan nabinya. Orang yang mendoakan Nabi Muhammad pada hakekatnya adalah mendoakan untuk dirinya sendiri karena Allah sudah menjamin nabi-nabiNya sehingga doa itu akan berbalik kepada si pengamalnya dengan keberkahan yang sangat kuat.

Jadi nabi berperan sebagai wasilah yang bisa melancarkan doa umat yang bersholawat kepadanya. Inilah salah satu rahasia doa/sholawat yang tidak banyak orang tahu sehingga banyak yang bertanya kenapa nabi malah didoakan umatnya? untuk itulah jika kita berdoa kepada Allah jangan lupa terlebih dahulu bersholawat kepada Nabi SAW karena doa kita akan lebih terkabul daripada tidak berwasilah melalui bersholawat.

Inilah riwayat singkat sholawat nariyah. Hingga kini banyak orang yang mengamalkan sholawat ini, tak lain karena meniru yang dilakukan syekh nariyah. Dan ada baiknya sholawat ini dibaca 4444 kali karena syekh nariyah memperoleh karomah setelah membaca 4444 kali. Jadi jumlah amalan itu tak lebih dari itba’ (mengikuti) ajaran syekh.

Agar bermanfaat, membacanya harus disertai keyakinan yang kuat, sebab Allah itu berada dalam prasangka hambanya. Inilah pentingnya punya pemikiran yang positif agar doa kita pun terkabul. Meski kita berdoa tapi tidak yakin (pikiran negatif) maka bisa dipastikan doanya tertolak.

Inilah bacaan sholawat nariyah yang terkenal itu :

“Allohumma sholli shollatan kamilah wa sallim salaman. Taman ‘ala sayyidina Muhammadiladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil kurobu. Wa tuqdhobihil hawa iju wa tunna lu bihiro ‘ibu wa husnul khowatim wa yustaqol ghomawu biwaj hihil kariim wa ‘ala aalihi washosbihi fii kulli lamhatin wa hafasim bi’adadi kulli ma’luu mi laka ya robbal ‘aalamiin”

Artinya :

“Ya Allah Tuhan Kami, limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Semoga terurai dengan berkahnya segala macam buhulan dilepaskan dari segala kesusahan, ditunaikan segala macam hajat, tercapai segala keinginan dan khusnul khotimah, dicurahkan rahmat dengan berkah pribadinya yang mulia. Kesejahteraan dan keselamatan yang sempurnah itu semoga Engkau limpahkan juga kepada para keluarga dan sahabatnya setiap kedipan mata dan hembusan nafas, bahkan sebanyak pengetahuan Engkau, Ya Tuhan semesta alam”

Dibaca : 32767 kali

@al-akhHasyim,

Mohon maaf sebelumnya bila kata-kata saya kurang berkenan.

Kalau sekedar cerita, saya pikir anak-anakpun pun bisa saja bikin cerita apa saja yang sesuai dengan keinginan mulai dari SMP sampai Professor, bahkan mungkin anak SD yang berbakat bisa saja melakukan hal tersebut.

Sebutlah kita mau bikin cerita tentang keutamaan atau fadhilah membaca sholawat “Hasyimiyah”. Sholawat ini disusun oleh Syaikh Hasyim seorang sahabat nabi yang sangat menginginkan keselamatan dan kesejahteraan nabinya……dst.

Kita tidak perlu membaca sampai 32767 kali seperti sholawat nariyah, tapi cukup 1379 kali kita sudah bisa mencapai pahalan 100x lipat dari membaca sholawat nariyah, atau bila tidak sempat cukup dibaca 3x paling sedikit dalam setiap sholat… DST…dst..dst.. Mari kita karang terus sampai terlihat indah di hati.

Gampang kan?

Untuk itu saya ingin menyampaikan seorang perkataan tabi’it Tabi’in besar yang bernama Abdullah bin Mubarok:

“Sanad, termasuk bagian dari agama. kalau tidak ada isnad, maka siapapun bisa berbicara semaunya.”

Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah kitab Shahih beliau rahimahullah.

Mudah-mudahan kita bisa memetik pelajaran.

mudah2han bermanfaat dan di coba kedepannya agar banyak memperoleh manfaat

jangan bicara tentang sesat,syirik atau musrik bung!! alloh SWT beserta para malaikatNya semua bersolawat kepada nabi muhammad SAW. ane ngamalin solawat itu, para haba,ib pun semua mengamali.. Allohuakbar…. kalo ilmu msh pada cetek jngn asal jeblag!! berkata syeh saman abdul kodir jaelani “jika kalian tanya berapa banyak ilmu saya, maka ambillah jarum dan celupkan ke dalam air lalu teteskan air itu dari jarum, maka itu lah ilmu ku.
jadi ente malu lah dan TOBAT

alhamdulilah atas izin Alloh berkat saya mengamalkannya jiwa saya menjadi tenang, dan selalu dapat kemudahan. dan bagi yang bilang musrik,syirik atau kontra ya biarin aja lah, mereka ngomong begitu karna pengetahuan yang sempit. mungkin sekolahnya di bawah pohon bambu. he3x…

@itempoeti dan @cyber_muslim,

Saya pahami mengapa anda senang kepada amalan anda itu. orang-orang pemuja yesus itu-pun sangat senang dengan apa yang mereka amalkan. Yakni memuja-muja Yesus tsb. Memberikan predikat Tuhan kepada manusia. Itulah pekerjaannya syaithon yang membuat indah perbuatan dosa manusia, apalagi syirk tentu saja menjadi perioritas pertama Iblis.

Ingat agama ini bukan milik kita atau habib kita atau ustadz kita atau syaikh kita, imam kita atau tokoh kita dan seterusnya…, tapi agama ini milik Allah. Agama Allah ini berdasarkan dalil yakni dari Alquran dan Sunnah yang Allah turunkan kepada kita.

Jadi bila sudah disampaikan dalil-dalil, tidaklah selayaknya kita gugurkan dengan alasan kebiasaan kita, kebiasaan ustadz kita dan seterusnya.

Apakah tidak kontradiksi, ketika anda satu sisi memuja nabi setinggi-tingginya, tetapi ketika dibawakan Alquran dan Al-Hadits yang jelas-jelas diberikan nabi kepada kita, anda malah membantahnya dengan perbuatan atau perasaan anda, habib anda, syaikh anda, imam anda… dst?

Mudah2an kita bisa memetik pelajaran.

assalaamu ngalaikum…sedulur sedulur.saya selalu membaca sholawat nariah.pada suatu hari saya mengalami kesulitan yang sangattt..jauh dari orang tua dan pokoknya kacau.terus malam hari pukul dua pagi saya mulai tahajud dan hajat 2 jam saya bersila diam tak bergerak walaupun gatal,penat…tak kuhiraukan…dan pagi tanpa ku tunggu tiba2 kakakku telp…subkhaanawwoh..3 kali sama macam itu.pada suatu pagi waktu saya lihat di matahari terbit tanpa sadar aku nampak sinar putih naik ke langit subkhaanawwoh…terserah sedulur sangka apa itu sinar kayak bintang melesat ke langit…tapi kalo saya boleh sarankan jangan ikut hitungan pakailah jam..maksudnya berapa jam sedulur2 amalkan.ingat kita berhadapan dengan satu dzat yang maha segalanya…badan akan bergetar kalau betul sedulur amalkan …wassalaaamualaikum.

Karomah adalah kejadian luar biasa yang diperlihatkan Allah kepada para hamba-Nya yang sholeh, sedang sihir adalah keluar biasaan yang biasa diperlihatkan para tukang sihir dari orang-orang kafir dan atheis dengan maksud untuk menyesatkan manusia dan mengeruk harta-harta mereka. Karomah bersumber pada keta’atan, sedang sihir bersumber pada kekafiran dan ma’shiyat. Sedangkan Syirik adalah ma’shiyat yang paling besar dan tidak ada dosa yang lebih besar ma’shiyat-nya dari pada SYIRIK.

saya jadi bingung…
gak pernah komentar disini, tapi kok bisa ada dua komentar muncul.

dari susunan kalimatnya, jelas itu bukan pilihan kata yang saya gunakan. mohon maaf atas kesalah pahaman yang terjadi.

Bagi yang suka melaksanakan Sholawat Nariyah silahkan saja dan itu lebih baik daripada orang yang tidak suka bersholawat sama sekali tp jangan di jadikan Sholawat Nariyah itu sebagai suatu yang utama.

Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya bagi kita semua
dan jadikan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh hidup kita dalam menjalani kehidupan duniawi yang tidak nyata ini.

Ass Wr Wb.
Terima Kasih Kepada akang Lukman yg tlh memuat sholawat naariyah. Semoga Alloh menambahkan Rahmat bagi orang beriman yg senantiasa bersholawat kepada Rosul-Nya.
terlepas dari perbedaan yg ada, maka ijinkan kami mengundang saudara-saudara ku sekalian untuk bisa hadir dlm acara kegiatan dzikir akbar sholawat naariyah dlm rangka menyambut thn baru islam 1432H. yg akan di selenggarakan pada :

tgl : 6 Desember 2010
hari : senin mlm selasa
waktu : pukul 20.00 s/d selesai
tempat : Stadion Bima kota Cirebon jawabarat

dzikir sholawat naariyah akbar ini Insya Alloh akan menambah keimanan kita kepada Alloh SWT. dan bagi yg berseberangan mudah2an akan di bukakan pintu hatinya. Sesungguhnya bersholawat adalah perintah Alloh SWT (al-ahzab ayat 56)

Sholawat –> baik (Pahala)

Sholawat + Syirik –> Pahala + Dosa yang paling besar

Sebesar apapun amal kita TETAPI kalau kita tidak bertobat dari kesyirikan maka Allah tidak akan mengampuni kita. Dan bila Allah tidak mengampuni maka kita tidak akan selamat dari neraka selama-lamanya. Karena Allah sendiri yang mengatakan demikian di dalam AlQuran mengenai tidak ada ampun bagi dosa syirik.

Pada hakekatnya semua orang Islam selalu bersholawat kepada nabi pada setiap sholatnya, dan sholawat seperti dalam sholat itulah yang diajarkan oleh nabi kita. Bila kita merasa ingin tambah membaca sholawat tentu baik sekali, maka sebaik-baik contoh atau lafazh sholawat adalah yang diajarkan nabi kita.

Saran saya, kalau benar-benar mau sholawat, silahkanlah bersholawat, hal ini sangat baik sesuai dengan perintah Allah dan jangan jatuhkan diri kita dalam waktu yang sama, ke dalam dosa yang paling besar ketika kita menjalankan perintah Allah yang mulia tsb .

Semoga bermanfaat.

mas Sunnis yg mudah-mudahan senantiasa mendapatkan petunjuk dari Alloh SWT. Yg berhak menentukan amaliah kita syirik adalah Alloh. maka kenalilah lebih dekat semua amaliah dengan lebih teliti. karena ketika kita memvonis sebuah amaliah dgn tergesa-gesa bukankah kita yg akhirnya menentang perintah Alloh.

tambahan,
saya mengikuti pembicaraan ini dari awal. saya coba untuk cermati dan bila memang harus berbeda pemahaman tentang sholawat naariyah itu silahkan saja. yg terpenting bagi kami meyakini bahwa yang kami amalkan adalah sebuah ibadah yang Insya Alloh bermanfaat dunia wal akhiroh.

@jama’ah sholawat naariyah

Apakah anda tidak bisa menilai menyembah batu itu Syirik?
Bila saudara anda sesama muslim menyembah batu maka apakah anda akan mengatakan “Yg berhak menentukan amaliah menyembah batu masuk ke dalam syirik adalah Alloh”.

Tidak kan?

Apakah menurut anda, ada selain Allah yang bisa sebagai berikut:

1. melepaskan segala ikatan,
2. melenyapkan segala kesedihan,
3. memenuhi segala kebutuhan,
4. memberi segala kesenangan,
5. mengakhiri sesuatu dengan kebaikan,
6. menurunkan hujan,

Ada?

Wahai jama’ah sholawat naariyah, ada baiknya anda sebelum beramal, memahami dulu apa yang anda amalkan baik berupa khususnya mengenai bacaan yang memang bukan bahasa yang anda pahami.

Anda begitu mudah menjatuhkan hukum takfir kepada orang beriman hanya karena Anda tidak setuju dengan shalawat Nariyah. Anda dengan kecerdasan dan keluasan ilmu yang Anda miliki, seolah mempunya kata akhir untuk menetukan dia muslim dan dia kafir. Sandaran Anda adalah logika berfikir dan keilmuan yg Anda miliki.

Imam Abu Bakar Al Baqillani telah berkata;
“Sesungguhnya memasukkan seribu orang kafir ke dalam Islam di-karenakan satu tanda misteri kelslam-an, lebih ringan dari pada mengkafirkan seorang muslim dengan seribu tanda misteri kekafiran “.

Anda tahu apa itu ilmu balaghoh? Apa arti majas/kiasan? Anda mampu berbahasa Arab dengan fasih? Mengetahui ilmu mantiq serta seluk beluk bahasa Arab? Atau Anda hanya tahu terjemahannya kemudian mengolah dengan pikiran Anda dan dengan mudah memutuskan siapa muslim dan siapa kafir?

Kalau Anda sakit apa yang Anda lakukan? Ke Dokter, ke Puskesmas, ke Tabib, ke Shinshee, beli obat, tebus resep? Anda tidak yakin bahwa penyakit dan sembuh hanya Alloh lah yang mampu mendatangkan dan menghilangkannya. Tidakkah Anda yakin dengan firman Alloh bahwa : Jika aku sakit, maka Dia lah menyembuhkan. ? Musyrikkah Anda yang percaya ucapan dokter untuk menebus obat yang dengan obat itu hilang penyakit Anda? Bolehkan saya katakan Anda musyrik ketika saya melihat Anda pergi ke dokter guna mencari kesembuhan?

Mata hati Anda tertutup dari ilmu agama yang luas ini. Fanatik buta Anda terhadap paham Wahhabi (mungkin Anda bukan Wahhabi namun inilah paham Wahhabi yang Anda bawa) membuat Anda terlalu mudah mengkafirkan orang lain.
==================
Mengenai shalawat nariyah tidak ada dari isinya yang bertentangan dengan syariah. Makna kalimat : “yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik”, adalah makna kiasan bahwa beliau saw. pembawa Alqur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yang dengan itu semua terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan (yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka), dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah swt, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga. Ini adalah kiasan saja dari sastra balaghah arab dari cinta, sebagaimana pujian Abbas bin Abdulmuttalib ra kepada Nabi saw dihadapan beliau saw : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang – benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam
tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya”
(Mustadrak ‘ala Shahihain hadits No.5417)

Tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yang terlihat mata, namun kiasan tentang kebangkitan risalah. Sebagaimana semua orang yang mengerti bahasa arab memahami ini, cuma kalau mereka tak faham bahasa maka langsung memvonis musyrik karena dangkalnya pemahaman atas tauhid.

Mengenai kalimat diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, adalah cermin dari bertawassul pada beliau saw. para sahabat sebagaimana riwayat Shahih Bukhari.

Mengenai bacaan 4444X atau lainnya itu adalah ucapan sebagian ulama, tidak wajib dipercayai dan tidak ada larangan untuk mengamalkannya. Shalawat ini bukan berasal dari Rasul saw, namun siapapun boleh membuat shalawat atas Nabi saw, Sayyidina Abubakar Asshiddiq ra membuat shalawat atas Nabi saw, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw membuat shalawat, juga para Imam dan Muhadditsin, shalawat Imam Nawawi, Shalawat Imam Shazili, dan banyak lagi, bahkan banyak para Muhadditsin yang membuat maulid, bukan hanya shalawat.

Syirik?, yah.. syirik tentunya bagi mereka saja, mereka memang tak diperuntukkan untuk mendapat kemuliaan shalawat, kasihan juga kalau Abubakar Asshiddiq dibilang syirik, juga Ali bin Abi Thalib kw, juga para muhadditsin lainnya, karena mereka membuat shalawat. Tawassul adalah diajarkan oleh Nabi saw tawassul pada beliau saw dan pada amal shalih dan pada orang shalih, demikian riwayat Shahih Bukhari dari Umar bin Khattab ra dan lainnya.

Lalu bagaimana dengan Abubakar Asshiddiq ra yang menangis dan mencium dan bicara pada Jenazah Rasul saw setelah Rasul saw wafat (Shahih Bukhari), tentunya dalam faham wahabi hal ini musyrik juga Umar bin Khattab ra wasiat minta dikuburkan dekat kubur Nabi saw seraya berkata : “Tidak ada yang lebih kudambakan selain pembaringan disebelah Nabi itu”, (Shahih Bukhari), tentunya dalam faham wahabi hal ini musyrik. Para sahabat pun semuanya akan divonis musyrik, karena berebutan potongan rambut Rasul saw, (Shahih Bukhari) dan Asma binti Abubakar Asshiddiq ra pun akan difitnah musyrik karena bila ada yang sakit ia membasuh jubah Nabi saw lalu airnya diminumkan pada yang sakit (Shahih Muslim)

Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau saw ketika ada yang sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin Tuhan kami” (Shahih Bukhari hadits No.5413, dan Shahih Muslim hadits No.2194) Hanya mereka saja yang mengingkarinya dari dangkalnya pemahaman mereka pada tauhid dan ilmu hadits. Dan mengenai tabarruk pun merupakan sunnah Rasul saw, dan Rasul saw mengajari Tabarruk bahkan Istighatsah.
source : MajelisRasululloh

Wahai saudara Lukman,

Anda sepertinya kurang teliti dalam membaca komentar orang lain. Dalam komentar anda di awal ini sudah menunjukkan keterbatasan saudara dalam menangkap sesuatu. Nah sebaiknya dengan keterbatasan ini, anda lebih berhati-hati dengan kegemaran anda dengan sholawat yang membahayakan keselamatan anda di dunia dan akhirat.

Perhatikan baik-baik ya.

Saya tidak pernah menghukumi kafir orang lain.

Yang saya katakan adalah sholawat nariyah berisi kesyirikan. Nah yang mengamalkan sholawat ini tentu saya beresiko jatuh kepada kesyirikan. Saya sangat mewanti-wanti saudara sesama muslim agar tidak terjatuh kepada ke-syirikan ini.

Ingat, yang saya katakan musyrik adalah sholawat nariyah-nya. Tolong dipahami ya. Yang saya katakan syirik adalah AMALANNYA. Ini tentu saja bisa kita katakan dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sedangkan yang mengamalkan sholawat ini, apakah LANGSUNG menjadi MUSYRIK atau KAFIR, bukanlan menjadi wewenang kita. Karena butuh kepada persyaratan-persyaratan lain.

Termasuk kepada Lukman atau majlis solawat yang ada di mana-mana dibumi ini. Walaupun anda pengamal berat dari solawatan nariyah ini, tidak serta merta mengeluarkan anda dari Islam. Tetapi solawatan ini berPOTENSI BESAR memasukkan anda ke dalam lembah KESYIRIKAN.

Apa ente ga ada amalan lain ya man? Yang sudah shahih datangnya dari nabi yang bisa ente amalin… yang sudah pasti tidak syirik. Hmm??

Mengenai kiasan yang anda maksudkan, sudah pernah ditanggapi diatas. Silahkan anda baca dan tanggapi.

Sampeyan terlihat ngilmiyah, namun hakikatnya mbulet alias mencla mencle.
1. Yang saya katakan musyrik adalah sholawat nariyahnya. => coba sampeyan teliti kalimat sampeyan. Sudah benar pemakaian kata musyrik di situ?
2. Syirik adalah amalannya. => sampeyan malah mbulet. Sholawat dan amalan berbeda.
3. Mengamalakan shalawat nariyah tidak otomatis memasukkan orang tersebut menjadi musyrik atau kafir. => ini menunjukkan ketidak-konsisten-an sampeyan sebagai -katakanlah- penjaga kemurnian Tauhid. Jika sampeyan keukeuh dengan shalawat nariyah menjatuhkan orang kepada kemusyrikan, lha kok sekarang ngambang. Aneh tho jalan pikiran sampeyan.

Sebenarnya sampeyan mau mengatakan bahwa shalawat nariyah berbahaya karena di dalamnya mengandung pemujaan ketuhanan, sebagaimana pemujaan yang dilakukan nasrani kepada Yesus Kristus (komentar sampeyan sebelumnya). Orang yang mengamalkannya akan jatuh pada lembah kesyirikan namun pengamalnya tidak otomatis menjadi musyrik.

Lha kok bisa?

Gaya berpikir sampeyan goncang alias ya itu mencla mencle. Tegas dong bilang. Hey sedulur kabeh, nariyah itu mengandung kesyirikan. Pengamalnya musyrik. Orang musyrik tidak akan diampuni dosanya dan menjadi penghuni neraka selamanya. Pengamal nariyah mirip dengan pemuja kristus yang kafir itu.

Itu lebih elegan sekaligus membuka wajah sampeyan seluruhnya.

Ngomong2 sampeyan bisa bahasa Arab. Tahu makna majasi?

astagfirulloh
Mas Sunnus………….
Seorang muslim yg baik tidaklah seperti itu. jika Anda merasa lebih pandai & hebat.Harusnya tdk begitu mudahnya mengklasifikasikan sholawat nariyah adalah termasuk syirik. coba kaji lebih mendalam. kalau ngaji jangan tanggung, sehingga anda tidak menjadi ulama yg banyak menyesatkan umaaaat karena cara berfikir anda yg sempit. sholawat nariyah tdk sedikitpun menjadikan kita syirik. karena kita tetap menuhankan Alloh & Muhammad adalah rosululloh.

jika anda penganut faham yg menentang sholawat itu silahkan saja.
saya setuju dngan Mas Lukman.

-jika anda berfikir segala jenis ibadah harus seperti diajarkan oleh Nabi Muhammad. lantas bagaimana dng perintah Alloh yg menyuruh orang yg beriman agar bersholawat & ucapkanlah salam penghormatan.

-jika di jaman rosul orang bepergian naik onta maka anda harus naik sapi.
-jika di jaman rosul tidak pakai listrik anda harus pakai lampu cempor
-jika di jaman rosul tidak ada komputer kenapa anda pakai
-jika semua harus seperti di jaman rosul sebaikanya anda hidup dijamanya. karena saya yakin anda tidak akan bisa.
maka fahamilah dng hati yg lapang semua perbedaan masing2 akan dipertanggung jawabkan. biarkanlah kami dngan keyakinan kami jgn engkau yg memusyrikan. karena kami tetap bersyahadat

-aku bersaksi Bahwa Alloh adalah tuhan kami
-dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Alloh.

@sinnus

Tolong anda pahami, amalan kafir atau syirik yang dilakukan seorang muslim tidak serta merta menjatuhkan seseorang muslim tsb ke dalam STATUS Musyrik atau Kafir.

@fulan
Ingat syahadat pertama kita bukan : “Alloh adalah tuhan kami”, tetapi (artinya): Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah. Jadi Allah lah satu-satunya Tuhan. Perhatikan, peniadaan Tuhan lain selain Allah ini yang merupakan pesan dari syahadat kita.

Kita bersaksi bukan hanya di bibir kan? Bukan sekedar slogan-slogan kan? Iya.. ya harusnya. Artinya harus dipahami dan juga diamalkan dengan perbuatan.

Sekarang pertanyaannya:

Apakah ada yang memberi segala kesenangan selain Tuhan?

koreksi:
perlu saya koreksi pernyataan saya mengenai syahadat.

Pengertian yang dimaksud dari syahadat pertama adalah berkaitan dengan Tuhan yang diibadahi. Jadi tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah. Ini yang disebut sebagai Tauhid uluhiyah.

Sedangkan Tauhid secara rububiyah yakni dalam artian yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala manfaat dan menolak segala mudharat dan lain-lain tidak termasuk dalam maksud Syahadat kita. Karena dalam Tauhid ini orang orang musyrik di zaman nabi-pun, mengakuinya.

Sunnis…..
klo begitu anda termasuk kedalam golongan yang mana………………………..?
jika mengklasifikasikan sholawat nariyah kedalam perbuatan syirik.
sedang anda sendiri tidak hidup di jaman Nabi.
alangkah dangkalnya pemikiran anda sehingga salah satu jenis ibadah anda katakan syirik karena tdk diajarkan oleh Rosululloh.
klo seperti itu adanya
-adalah syirik jika anda bisa mengendarai motor karena tdk di contohkan & diajarkan oleh nabi.
-adalah syirik jika anda menggunakan HP karena tdk di contohkan & diajarkan oleh nabi.
-adalah syirik jika anda berbahasa indonesia karena tdk di contohkan & diajarkan oleh nabi.

ilmu itu luas tdk bertepi. maka bila kita berbeda jgn sibuk menvonis syirik. masih banyak hal yg perlu kita pikirkan demi kemajuan islam. jangan seperti katak dlm tempurung.

mas Sunnis banyak2 belajar ya…..biar tdk buta memandang islam kedalam. Bersyukurlah & bertaubatlah agar anda bisa melihat & merasakan kebesaran & rahmat-Nya.

@Sunnis Tolong anda pahami, amalan kafir atau syirik yang dilakukan seorang muslim tidak serta merta menjatuhkan seseorang muslim tsb ke dalam STATUS Musyrik atau Kafir.

contohnya amalan kafir apa?
contoh amalan syirik apa?

Saya sama sekali tidak mengerti pola pikir sampeyan juga argumentasi yang sampeyan sampaikan.

Apakah ada yang memberi segala kesenangan selain Tuhan?

Sampeyan sedang berargumentasi atau mengajukan pertanyaan bodoh? Adakah muslimin dalam benak sampeyan (wa bil khusus pengamal shalawat Nariyah) mengakui dan beri’tiqod bahwa hakikat yang memberi kesenangan ada yang lain selain Alloh. Buruk sekali sangkaan sampeyan terhadap kaum muslimin.

Ini lah yang saya katakan, jika sampeyan sakit dan berobat ke dokter. Apakah beralasan saya mengatakan bahwa sampeyan adalah pelaku syirik karena mengakui yang ada kekuatan lain yang mampu menyembuhkan selain Alloh. Sungguh dangkal dan praduga yang tidak memiliki hujjah.

Adakah saya boleh men-cap sampeyan terjun bebas ke dalam jurang kesyirikan lantaran sampeyan meminta tukang bengkel memperbaiki kendaraan sampeyan yang mogok. Bukankah meminta hanya boleh kepada Alloh?

@musafir,

yang anda katakan itu bid’ah bukan syirik. antum harus tahu perbedaannya. menurut saya sholawat nariyah itu berisi kesyirikan. itu yang saya tekankan. mengenai bid’ah… hal ini adalah hal lain lagi. mungkin kita bisa buka pembicaraan itu di tempat lain bukan disini.

ingat saudaraku musafir, dosa syirik jauh lebih besar dari dosa bid’ah. Sebanyak-banyak bid’ah yang anda lakukan, kalau anda tidak bertobat, masih mungkin anda selamat dari neraka (kalau bukan bid’ah yang syirik juga ya). Sedangkan kalau kita berbuat kesyirikan walaupun sekali dan kita sadar dengan kesyirikan yang kita lakukan dan kita tidak bertobat, maka kita terancam besar tidak akan selamat dari api neraka.

Jadi tolong anda bedakan bobot syirik dan bid’ah ini sehingga kita seharusnya fokus dulu kepada syirik karena ini jauh lebih penting dari dosa-dosa lainnya.

@Sinnus

untuk lebih gampang, saya mau tanya anda:

Apakah seseorang yang melakukan perbuatan yang berisi kesyirikan atau kekafiran baik sedikit atapun banyak, maka akan serta merta mengakibatnya pelakunya MUSYRIK atak KAFIR?

Coba antum renungkan dalam-dalam dulu baru jawab, jangan anda jawab dengan hawa nafsu amarah anda.

@sinnus
justru anda ini lucu, sibuk menyatakan orang lain ini perbuatan syirik. sdng anda tidak pernah memikirkan diri sendiri. makanya kalo ngaji jangan ngambang atau ngantuk nak jadi apa yg diajarkan, anda artikan sesederhana itu sendiri.
sampai kapan pun anda adalah seorang muslim yg senantiasa merasa paling hebat sehingga dng mudahnya mengatakan bahwa hal ini syirik, ini bid’ah dsb.
coba renungkan………………..!
“ada seseorang menulis surat cinta kepada kekasihnya dng begitu indah. karena saking bagusnya bahasa itu sehingga banyak menirukan surat tersebut. Tapi bila membaca surat itu dng sepintas lalu. Apakah akan tahu isi (MAKNA) surat TERSEBUT.
Apalagi anda yg hidup di Indonesia yg baru ngerti bahasa arab sekarang -sekarang ini. Begitu sombongnya anda yg telah mendahului ketentuan Alloh. Sdh sejauh mana anda faham bacaan sholawat naariyah. terus sdh sehebat apa ilmu anda sehingga menyatakan bahwa sholawat naariyah adalah sebuah perbuatan syirik.
Sholawat naariyah banyak diamalkan oleh para ulama terdahulu.

@musafir,

Tadinya anda tidak bisa membedakan antara bid’ah dan syirik, tapi sekarang anda berbicara hal lain lagi. Yakni menuduh orang lain tidak pernah memikirkan diri sendiri, ngaji ngambang, ngantuk, merasa paling hebat.

Jadi sepertinya respon kepada komentar anda sama sekali tidak ada gunanya, bahkan membuat anda tambah kesal. Mungkin pak musafir perlu istirahat dulu sebelum melanjutkan safar-nya. Dan coba merespon email lebih baik.

mas klo boleh tau .. apa sih manfaatnya klo kasih pernyataan/komentar salawat nariyah itu bid’ah, apakah ini termasuk dakwah..? atau hanya utk menunjukkan bahwa akulah yg paling benar..? atau bagaimana..? bukankah lebih baik kita saling menghargai pendapat ataupun paham masing2 sesama muslim. artinya ada hal yg harus dijaga agar tidak menyakiti perasaan orang2 yang menganut paham salawat nariyah. bagaimana bila mas sendiri yang di salahkan oleh orang2 itu …
cermin jangan dibalik ke orang lain..mas

thank gan..

Alhamdulillah..
shalawat adalah salah satu bentuk kecintaan kita pada rasul Allah Muhammad SAW…

pertama2 saya ucapkan makasih kepada mas lukman yang sudah muat sholawatan nariyah,mudah rahmat allah swt melimpakanya..amienn

maaff nih saya orang bodo mau ikut comenn ahhh….

ass wr. aku mengajak saudara2ku untuk mengkaji dengan teliti antara yang melegalkan dan menghukumi syirik sholawat nariyah itu, mari kita bandingkan keilmihannya. sebab kalo salah taruhannya adalah keselamatan kita nanti di akherat. blog ini mungkin bisa kita jadikan pembanding

http://muslim.or.id/aqidah/shalawat-nariyah.html/comment-page-1#

semoga bermanfaat

ini hanya copy paste tapi semoga ada manfaatnya

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Shalawat Nariyah cukup populer di banyak kalangan dan ada yang meyakini bahwa orang yang bisa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat menghilangkan kesulitan-kesulitan atau demi menunaikan hajat maka kebutuhannya pasti akan terpenuhi. Ini merupakan persangkaan yang keliru dan tidak ada dalilnya sama sekali. Terlebih lagi apabila anda mengetahui isinya dan menyaksikan adanya kesyirikan secara terang-terangan di dalamnya. Berikut ini adalah bunyi shalawat tersebut:”

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن الخواتيم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى آله وصحبه عدد كل معلوم لك

Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumin laka

Artinya:

“Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, Begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, Berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, Semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.”

Syaikh berkata:

“Sesungguhnya aqidah tauhid yang diserukan oleh Al-Qur’an Al Karim dan diajarkan kepada kita oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kepada setiap muslim untuk meyakini bahwa Allah semata yang berkuasa untuk melepaskan ikatan-ikatan di dalam hati, menyingkirkan kesusahan-kesusahan, memenuhi segala macam kebutuhan dan memberikan permintaan orang yang sedang meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berdoa kepada selain Allah demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang di serunya adalah malaikat utusan atau Nabi yang dekat (dengan Allah). Al-Qur’an ini telah mengingkari perbuatan berdoa kepada selain Allah baik kepada para rasul ataupun para wali. Allah berfirman yang artinya:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Bahkan sesembahan yang mereka seru (selain Allah) itu justru mencari kedekatan diri kepada Rabb mereka dengan menempuh ketaatan supaya mereka semakin bertambah dekat kepada-Nya dan mereka pun berharap kepada rahmat-Nya serta merasa takut akan azab-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (QS. Al-Israa’: 57). Para ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berdoa kepada Isa Al-Masih atau memuja malaikat atau jin-jin yang saleh (sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir).”

Beliau melanjutkan penjelasannya:

“Bagaimana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa merasa ridha kalau beliau dikatakan sebagai orang yang bisa melepaskan ikatan-ikatan hati dan bisa melenyapkan berbagai kesusahan padahal Al-Qur’an saja telah memerintahkan beliau untuk berkata tentang dirinya:

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: Aku tidak berkuasa atas manfaat dan madharat bagi diriku sendiri kecuali sebatas apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku memang mengetahui perkara ghaib maka aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak ada keburukan yang akan menimpaku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raaf)

Pada suatu saat ada seseorang yag datang menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”, Maka beliau menghardiknya dengan mengatakan, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakan: Atas kehendak Allah semata.” Nidd atau sekutu artinya: matsiil wa syariik (yang serupa dan sejawat) (HR. Nasa’i dengan sanad hasan)

Beliau melanjutkan lagi penjelasannya:

“Seandainya kita ganti kata bihi (به) (dengan sebab beliau) dengan bihaa (بها) (dengan sebab shalawat) maka tentulah maknanya akan benar tanpa perlu memberikan batasan bilangan sebagaimana yang disebutkan tadi. Sehingga bacaannya menjadi seperti ini:

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد التي تحل بها العقد

Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Allati tuhillu bihal ‘uqadu (artinya ikatan hati menjadi terlepas karena shalawat)

Hal itu karena membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah yang bisa dijadikan sarana untuk bertawassul memohon dilepaskan dari kesedihan dan kesusahan. Mengapa kita membaca bacaan shalawat bid’ah ini yang hanya berasal dari ucapan makhluk biasa sebagaimana kita dan justru meninggalkan kebiasaan membaca shalawat Ibrahimiyah (yaitu yang biasa kita baca dalam shalat, pent) yang berasal dari ucapan Rasul yang Ma’shum?”

Mas Eka, sumber link mas Eka jelas Wahhabi (muslim.or.id). Syaikh Ibnu Jamil Zainu juga syaikh Wahhabi. Di dunia Arab Wahhabi gak laku. Hanya berkembang di Saudi dengan kekuatan dana kerajaan.

Banyak ulama Ahlus Sunnah sejak mulai dakwahnya Ibnu Abdul Wahhab sampai Utsiamin yang menolak kebathilan paham ini. Landasan seruan Wahhabi adalah pemurnian ‘tauhid’, namun hakikatnya mereka tidak memahami tauhid kecuali berdasarkan hawa nafsu dan jauh dari aroma ilmu.

Hal yang sudah disepakati kebolehannya oleh ulama Ahlus Sunnah malah dibid’ahkan dan dinyatakan syirik oleh mereka yang mengklaim pengikut salaf. Tawassul, Syafaat, Istighosah, Isti’anah dll didefinisikan Wahhabi dengan serampangan tanpa dasar ilmu yang kuat.

Jadi dalil dan landasan yang mas Eka bawa adalah landasan dan dalil yang rapuh dan sudah dibahas dalam banyak komentar di sini. Jangan silau dengan Wahhabi dan dakwahnya. Hanya khawarij yang dengan mudah berani memvonis syirik/kafir kepada muslimin bahkan terhadap amirul mukminin imam Ali bin Abi Tholib. Sekarang pun ada golongan yang memiliki paham sama seperti khawarij, meskipun mereka menisbahkan dirinya sebagai Ahlus Sunnah dan pengikut Salaf. Jangan tertipu dan terpedaya.

Semoga Alloh melindungi kita dari fitnah Wahhabi. Amien ya robbal ‘alamien

kalimat awal sholawat nariyah adalah:
ALLAAHUMMA… (YAA ALLAAH…) dari arti kalimat ini aja anak2 kecil jg pada tau siapa YANG kita seru.. siapa YANG kita mintain… siapa YANG kita harapkan agar mengabulkan doa2 kita…
heran padahal artinya udah jelas2 ditulis diatas…

kalimat yang artinya:
BIHI (Yang dengannya)
itu adalah tawasul … kalo ga ngatri tawasul, cari tau dulu deh…

Dari Usman bin Hanif ra bahwa seorang lelaki sakit datang pd nabi saw dan berkata :
“Wahai Rasulullah (saw), doakan agar aku sembuh”, Rasul saw menjawab : “bila kau menundanya itu baik bagimu, namun bila kau mau maka kudoakan sekarang?”, seraya menjawab : “berdoalah sekarang”, maka Rasul saw memerintahkan agar ia berwudhu lalu shalat dua rakaat dengan baik dan lalu Rasul saw memerintahkannya berdoa dengan doa ini:
“Wahai Allah, sungguh aku memohon pada Mu dan meminta kepada Mu, Demi Nabi Mu Muhammad (saw) Nabiy yg Rahmat, wahai Muhammad sungguh aku meminta denganmu kepada Tuhanku untuk hajatku ini maka kabulkanlah bagiku, wahai Allah bantulah ia agar mensyafaatiku dan syafaatilah aku dengannya” (Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim).

Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yg diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu berdoa kepada Allah dg doa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yg melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dg derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan hadits no.3507).

mengenai siapa perangkai sholawat dan asal muasal nama nariyah, sbb:

Sholawat ini berasal dari Maghribi (Maroko).
Konon, dgn bimbingan Rasululloh, Syech Abd Wahab At-Tazi Al-Maghribi, seorang wali yang tinggal di Maroko pada abad pertengahan, merangkai sholawat ini. Para ahlul asrar, aulia yang mendapat pengetahuan ttg sebagian kecil rahasia Allah, menjuluki sholawat ini sebagai “Miftahul kanzil muhith linaili muradil’abid”, (kunci perbendaharaan yang lengkap, untuk meraih cita-cita hamba).
Ada banyak nama yang diberikan pada sholawat ini, diantaranya Nariyah, yang dipopulerkan oleh penduduk Maghribi, berarti api, karena sifatnya yg mustajab. Segala hajat akan segera terkabul laksana jerami yang terbakar oleh kobaran api.
Sholawat ini juga dinamakan Tafrijiyyah yang berarti melapangkan kesulitan, Kamilah yang sempurna, dikutip dari isi sholawat ini sendiri. At-Taziyah, diambil dari nama perangkai pertamanya. Qurtubiyyah, diambil dari nama imam Qurthubi, sbg salah satu narasumber yang paling banyak meriwayatkan sholawat ini, demikian yang diriwayatkan oleh Sayyid Muhammad Haqqin Nazili dan Syech Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam kitabnya Afdholus Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat (sholawat2 utama atas pemuka sekalian junjungan).

@ashabul kahfi,

Mengenai tawassul, apakah syririk atau tidak sepertinya tidak tepat dibahas di sini. walaupun berhubungan dengan syirik. Yang saya ketahui, tawassul dengan amal sholeh termasuk hal yang diperbolehkan berdasarkan nash yang ada.

Tetapi masalahnya yang lebih penting dalam kasus sholawat nariyah ini. Apakah lafazh HI pada bihi, adalah merujuk kepada sholawat atau merujuk kepada nabi.

Kalau merujuk kepada amalan sholawat itu sendiri tentu saja hal ini menjadi lebih ringan, walaupun perlu dipertanyakan dari berbagai sisi.

Sedangkan bila merujuk kepada nabi, maka hal ini merupakan hal yang berat sekali yang dapat menjatuhkan kita kepada dosa yang tidak akan bisa diampuni.

Tambahan, Lafazh Allahumma dalam sholawat tadi, kalau diperhatikan bukanlah untuk meminta hal-hal yang kita butuhkan, tetapi masuk dalam lafazah sholawat itu sendiri yaitu meminta kepada Allah untuk memberi sholawat kepada nabi. Dan meminta hal-hal seperti:

1. terlepas segala ikatan,
2. lenyap segala kesedihan,
3. terpenuhi segala kebutuhan,
4. tercapai segala kesenangan,
5. semua diakhiri dengan kebaikan,
6. hujan diturunkan,

TIDAKLAH DIMINTA kepada Allah berdasarkan dari lafazh sholawat tsb.

Pada sholawat tsb, setelah meminta Allah memberikan sholawat kepada nabi, kita mengungkapkan bahwa dengan perantara nabi-lah ke-enam hal tsb bisa dicapai.

Padahal kan tidak demikian.

Wahai saudara-saudaraku sekalian, hendaknya kita jangan ambil resiko untuk hal-hal yang berpotensi kepada kesyirikan.

Insya Allah dengan sholawat yang kita amalkan dalam sholat sudah cukup apabila kita benar-benar menghayatinya. Sholawat tsb merupakan warisan dari nabi yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan dan tidak berasal dari riwayat yang KONON. Apabila kita merasa kurang dengan sholawat dalam sholat tsb tentu saja kita bisa tambahkan dengan sholawat yang memang dicontohkan nabi yang merupakan sebaik-baik contoh. Saya pikir apa yang telah diajarkan nabi tidaklah kurang bahkan sudah sangat mencukupi bagi kita untuk bisa bersholawat sebanyak yang kita inginkan. Dan tentu saja yakin dan pasti bersih dari syirik.

Mengenai tawassul, apakah syririk atau tidak sepertinya tidak tepat dibahas di sini. walaupun berhubungan dengan syirik. Yang saya ketahui, tawassul dengan amal sholeh termasuk hal yang diperbolehkan berdasarkan nash yang ada.

Oh Tawassul itu berhubungan dengan syirik ya, kecuali dengan amal shaleh?

Capek ngejelasin ke mereka yang PARNO (baca : apriori tanpa landasan ilmu dan hujjah kuat) bahwa hakikat tawassul adalah meminta kepada selain Alloh.

Beberapa sudah diajukan mengenai dalil namun saking PARNO-nya mereka tertutup dari kebenaran.

Sebenarnya selain tawassul yang ditolak Wahhabi adalah juga tabarruk. Lagi2 mereka PARNO (alergi) dengan amalan para sahabat, salafus sholih, imam mazhab dan ijma’ kaum muslimin. Padahal mereka menisbahkan diri sebagai pengikut salaf (para salaf berlepas diri dari klaim sepihak mereka)

Berikut beberapa dalil tentang tawassul (terkait di dalamnya tabarruk) dimana aktifitas yang dilakukan ditujukan murni kepada Alloh. Objek yang menjadi tawassul dan tabarruk adalah objek yang punya kedudukan yang agung di sisi Alloh SWT. Orang yang bertawassul/bertabarruk pun meyakini bahwa semua kembali kepada Alloh. Tawassul dan tabarruk hanya sarana untuk mendekatkan diri dan dikabulkannya hajat. TIDAK ADA KEHARUSAN melakukan tawassul/tabarruk. Hanya saja para sahabat, salafus shalih, imam mazhab dan ulama Islam serta kaum muslimin sering melakukannya.

Tarikh Baghdad

Karya al Imam al Hafizh Abu Bakr Ahmad bin Ali; yang lebih dikenal dengan al Khathib al Baghdadi (w 463 H)

Berikut ini adalah terjemahan yang di tandai:

— dengan sanadnya —- berkata: Aku mendengar Imam asy Syafi’i berkata: Sesungguhnya saya benar-benar melakukan tabarruk (mencari berkah) kepada Imam Abu Hanifah, aku mendatangi makamnya setiap hari untuk ziarah, jika ada suatu masalah yang menimpaku maka aku shalat dua raka’at dan aku mendatangi makam Imam Abu Hanifah, aku meminta kepada Allah agar terselesaikan urusanku di samping makam beliau, hingga tidak jauh setelah itu maka keinginanku telah dikabulkan”.

Disebutkan bahwa di sana (komplek makam Imam Abu Hanifah) terdapat makam salah seorang anak Sahabat Ali bin Abi Thalib, dan banyak orang menziarahinya untuk mendapatkan berkah di sana.

Imam Ibrahim al Harbi berkata: “Makam Imam Ma’ruf al Karkhi adalah obat yang mujarab”.

Dalam lembaran scan ke tiga disebutkan beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa di komplek pemakaman tempat Imam Abu Hanifah dikuburkan (Kufah) terdapat salah salah seorang anak cucu dari Imam Ali bin Abi Thalib yang sering dijadikan tempat ziarah dan mencari berkah oleh orang-orang Islam.

Tarikh Baghdad
Tarikh Baghdad
Tarikh Baghdad

Siyar A’lam Nubala’
Adz-Dzahabi; dalam karyanya; Siyar A’lam an-Nubala’, jld. 9, cet. 9, tentang biografi Imam Ma’ruf al-Karkhi; beliau adalah Abu Mahfuzh al-Baghdadi. Dari Ibrahim al-Harbi berkata: “Makam Imam Ma’ruf al-Karkhi adalah obat yang paling mujarab”. Adz-Dzahabi berkata:

“Yang dimaksud ialah terkabulnya doa di sana yang dipanjatkan oleh orang yang tengah kesulitan, oleh karena tempat-tempat yang berkah bila doa dipanjatkan di sana akan terkabulkan, sebagaimana terkabulkannya doa yang dipanjatkan di waktu sahur (sebelum subuh), doa setelah shalat-shalat wajib, dan doa di dalam masjid-masjid……”.

Siyar A’lam an-Nubala’, jld. 12, cet. 14, tentang biografi Imam al-Bukhari (penulis kitab Shahih); beliau adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahim al-Bukhari, dalam menceritakan tentang wafatnya. simak tulisan adz-Dzahabi berikut ini:

Abu ‘Ali al-Gassani berkata: “Telah mengkhabarkan kepada kami Abu al-Fath Nasr ibn al-Hasan as-Sakti as-Samarqandi; suatu ketika dalam beberapa tahun kami penduduk Samarqand mendapati musim kemarau, banyak orang ketika itu telah melakukan shalat Istisqa’, namun hujan tidak juga turun. Kemudian datang seseorang yang dikenal sebagai orang saleh menghadap penguasa Samarqand, ia berkata: “Saya punya pendapat maukah engkau mendengarkannya? Penguasa tersebut berkata: “Baik, apa pendapatmu?”. Orang saleh berkata: “Menurutku engkau harus keluar bersama segenap manusia menuju makam Imam Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari, makam beliau berada di Kharatnak, engkau berdoa meminta hujan di sana, dengan begitu semoga Allah menurunkan hujan bagi kita”. Sang penguasa berkata: “Aku akan kerjakan saranmu itu”. Maka keluarlah penguasa Samarqand tersebut dengan orang banyak menuju makam Imam al-Bukhari, banyak sekali orang yang menangis di sana, mereka semua meminta tolong kepada Imam al-Bukhari. Kemudian Allah menurunkan hujan yang sangat deras, hingga orang-orang saat itu menetap di Kharatnak sekitar tujuh hari, tidak ada seorangpun dari mereka yang dapat pulang ke Samarqand karena banyak dan derasnya hujan. Jarak antara Samarqand dan Kharatnak sekitar tiga mil”.

Tawassul dalam pengertian Agama adalah berdoa kepada Allah SWT dengan menggunakan perantara sesuatu yang mempunyai nilai lebih. Tawassul berarti menjadikan sesuatu sebagai perantara dalam usahanya untuk memperoleh kedudukan yang tinggi disisi Allah SWT, atau untuk mewujudkan keinginan dan cita citanya. Berdoa dengan bertawassul maksudnya memohon kepada Allah dengan menyebutkan sesuatu yang dicintai dan diridloi-Nya.

Tawassul merupakan salah satu cara atau metode serta bentuk dalam memohon yang diarahkan dan dihadapkan kepada Allah SWT, dengan menggunakan “kelebihan” sesuatu dalam do’a tersebut. Sedang hakikat dalam berdo’a dengan bertawassul adalah menghadap yang sebenar benarnya kepada Allah SWT. Orang yang bertawassul itu sama dengan berdo’a dengan menggunakan media atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, kalau terjadi keyakinan selain ini (hanya sekedar media / wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah) maka orang yang berdoa telah melakukan Syirik.

Orang melakukan tawassul atau berperantara dengan seseorang karena dia mencintainya dan punya keyakinan bahwa Allah juga mencintai orang tersebut (seseorang yang menjadi perantara tersebut) karena juga sebagai orang yang Sholih. Namun bertawassul bukan merupakan keharusan dalam berdo’a, bukan merupakan syarat dalam berdo’a, bukan penyebab terkabulkan do’a, hanya sekedar menambah kemantapan (dalam perasaan) untuk terkabulkan doanya, sedangkan dalam berdo’a secara mutlak adalah permohonan yang tertuju khusus kepada Allah SWT.

Semua ulama sepakat bertawassul kepada Allah SWT dengan menggunakan amal Sholeh sendiri, sangat dianjurkan, seperti kita melakukan sholat, berpuasa, baca Alqur’an atau bersedekah kemudian berdo’a kepada Allah dan bertawassul dengan puasanya, sholatnya, sedekahnya atau bacaan Alqur’anya. Bertawassul seperti ini sangat diharapkan untuk bisa terkabulkan do’anya dan memperoleh yang diminta. Dasar dari ungkapan ini adalah hadits Nabi yang menceritakan tiga orang yang sedang berlindung didalam gua tapi guanya tertutup dengan batu, sehingga mereka tidak bisa keluar, mereka sepakat memohon kepada Allah sambil bertawassul dengan Amal shalih yang pernah mereka lakukan sebelumnya, yang satu bertawassul dengan perbuatan berbakti kepada kedua orang tuanya, yang satu lagi bertawassul dengan pernah menjauhi perbuatan dosa atau maksiyat dan yang terakhir bertawassul dengan pernah menanggung amanat orang lain tanpa pamrih sedikitpun. Hadits secara lengkap adalah sebagai berikut:


عَنْ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما عن النَبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: خَرَجَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ يَمْشُوْنَ، فَأَصَابَهُمْ المَطَرُ، فَدَخَلُوْا فِِي غَارٍ فِي جَبَلٍ، فَانْحَطَتْ عَلَيْهِِمْ صَخْرَةٌ، قَالَ: فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: ادْعُوا اللهَ بِأَفْضَلَ عَمَلٍ عَمِلْتُمُوهُ، فَقَالَ أَحَدُهُمْ: اَللهُمَّ إِنِّي كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ، فَكُنْتُ أَخْرُجُ فَأَرْعَى، ثُمَّ أَجِيْءُ فَأَحْلِبُ، فَأَجِيْءُ بِالحِلاَبِ، فَآتِي بِهِ أَبَوَيَّ فَيَشْرَبَانِ، ثُمَّ أَسْقِي الصِبْيَةَ وَأَهْلِي وَامْرَأَتِي، فَاحْتُبِسْتُ لَيْلَةً فَجِئْتُ فَإِذاً هُمَا نَائِمَانِ، قَالَ: فَكَرِهْتُ أَنْ أُوْقِظَهُمَا، وَالصِّبْيَةُ يَتَضَاغُوْنَ عِنْدَ رِجْلِي، فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ دَأْبِي وَدَأْبُهُمَا حَتَى طَلَعَ الفَجْرُ، اللهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا فُرْجَةً نَرَى مِنْهَا السَمَاءَ، قَالَ: فَفُرِجَ عَنْهُمْ، وَقَالَ الآخَرُ: اللهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي كُنْتُ أُحِبُّ امْرَأةً مِنْ بَنَاتِ عَمّي، كَأَشَدِّ مَا يُحِبُّ الرَّجُلُ النِّسَاءَ، فَقَالَتْ: لاَ تَنَالُ ذَلِكَ مِنْهَا، حَتَى تُعْطِيَهَا مِائَةَ دِيْنَارٍ، فَسَعَيْتُ فِيْهَا حَتَى جَمَعْتُهَا، فَلَمَا قَعَدْتُ بَيْنَ رِجْلَيْهَا، قَالَتْ: اِتَّقِ اللهَ، وَلاَ تَفُض الخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ، فِقُمْتُ وَتَرَكْتُهَا، فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا فُرْجَةً، قَالَ: فَفُرِجَ عَنْهُمْ الثُلُثَيْنِ، وَقَالَ الآخَرُ: اللهُمَّ إِنُ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي اسْتَأْجَرْتُ أَجِيْراَ بِفِرَقٍ مِنْ ذُرَّةٍ، فَأَعْطَيْتُهُ وَأَبَى ذَاكَ أَنْ يَأْخُذَ، فَعَمِدْتُ إِلَى ذَلِكَ الفِرَقِ فَزَرَعْتُهُ حَتَى اشْتَرَيْتُ مِنْهُ بَقَرًا وَرَاعِيْهَا، ثُمَّ جَاءَ، فَقَالَ: يَا عَبْدَ الله أَعْطِنِي حَقِّي، فَقُلْتُ اِنْطَلِقْ إِلَى تِلْكَ البَقَرِ وَرَاعِيْهَا، فَإِنَّهَا لَكَ، فَقَالَ: أَتَسْتَهْزِئُ بِي؟ قَالَ: فَقُلْتُ: مَا أَسْتَهَزِئُ بِكَ وَلَكِنّهَا لَكَ، اللهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنِّي فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا، فَكُشِفَ عَنْهُمْ.
روواه البخاري في كتاب البيوع حديث رقم: 603

Dari Ibn Umar RA dari Nabi SAW berkata: ada tiga oranng sedang melakukan perjalanan, kemudian datang hujan, mereka berteduh di dalam gua disebuah gunung, dan runtuhlah sebuah batu besar menutup (pintu) gua tersebut ,-Nabi bercerita- maka sebagian dari mereka mengatakan: Berdoalah kalian dengan bertawassul / berperantara amal terbaik kalian, maka berdoalah seseorang dari mereka: Allahumma, saya mempunyai dua orang tua yang telah renta, pekerjaan saya menggembala (disiang hari), pulang dan merah susu untuk mereka, aku bawakan susu kepada mereka untuk diminum, kemudian untuk anak anak dan isteriku. Suatu malam aku terlambat pulang dan mereka telah tidur, -Nabi SAW bercerita- saya tidak berani membengunkan mereka, anak anaku di kakiku iri dengan mereka, begitu itu sampai fajar menyingsing. Ya Allah, Engkau tahu bahwa itu aku lakukan untuk mencari ridlo-Mu, maka bukakan batu ini sehingga kami melihat langit. -Nabi SAW bercerita- maka dibukakanlah batu tersebut sedikit. Yang lain berdoa: Ya Allah, Engkau tahu aku mencinta seorang perempuan dari sepupuku, seperti orang sedang dimabuk cinta pada wanita, dia mengatakan: kamu tidak akan mendapatkan tubuhku kecuali memberi uang seratus dinar. Aku usahakan untuk mengumpulkanya, sampai kuperolehnya, dan disaat aku sudah duduk diantara kedua pahanya, dia berkata: Takutlah kamu kepada Allah, Jangan lah kamu lobangi cincin itu kecuali dengan hak haknya. Aku berdiri dan meninggalkanya.Ya Allah, Kamu tahu aku melakukan itu karena mencari ridlo-Mu, maka bukakanlah batu ini. Maka terbukalah batu tersebut dua pertiga. Dan yang lain berdoa: Ya Allah, Engkau tahu aku mempekerjakan seorang dengan bayaran segantang jagung, pada waktu aku berikan upah kerjanya dia menolak dan pergi. Kemudian aku tanam jagung tersebut dan berkembang sampai bisa untuk membeli sapi dan kandangnya. Beberapa tahun kemudian dia datang sambil berkata: Hai Abdullah, berikan hak saya yang dulu, aku jawab: ambillah sapi itu, dia berkata: jangan mengejekku, -Nabi bercerita-: aku menjawab: bukan aku mengejekmu, tapi itu milikmu. Ya Allah, ku lakukan itu karena mencari ridlo-Mu, maka bukakanlah batu itu. Dan terbukalah batu tersebut. (HR Bukhori:603)

Namun yang menjadi permasalahan disini adalah bertawassul bukan dengan amal shalih sendiri, tapi menggunakan keberadaan atau kepribadian orang lain, atau bertawassul dengan para Nabi, dengan para Wali Allah, dengan orang Shalih dan lain sebagainya seperti;
Ya Allah saya bertawasul kepada-Mu dengan keagungan Nabi-Mu Muhammad SAW,
Ya Allah saya bertawasul kepada-Mu dengan Shahabat Nabi-Mu Abu Bakar Shidiq,
Ya Allah saya bertawasul kepada-Mu dengan Kekasih-Mu Wali-Mu Syekh Abdul Qodir Jaelani,
Ya Allah selamatkan umat ini dengan Ahli perang Badar dan seterusnya, tawassul semacam ini dikatakan oleh sebagian orang sebagai hal terlarang, yang bid’ah dan yang melakukanya menjadi musyrik.
Kalau kita perhatikan sejenak, bertawassul dengan keberadaan orang lain tersebut hakikatnya kita bertawassul dengan amal kita sendiri, kita punya keyakinan bahwa seseoramg yang kita hormati dan kita cintai adalah orang yang dicintai oleh Allah SWT, karena beliau adalah orang yang berjihad menegakkan agama Allah, Rasa cinta kita kepada orang tersebut merupakan amal kita, dalam berdo’a dan bertawassul tersebut seperti kita mengatakan: “Ya Allah, saya mencintai dia, dia telah mencintai-Mu, dia secara ikhlas berjuang menegakkan agama-Mu, dan saya percaya Engkau mencintainya, Engkau ridlo atas perbuatanya, maka dengan ini aku bertawassul / berperantara dengan cintaku padanya dan dengan keyakinanku bahwa Engkau mencintainya agar Engkau memberiku ………”. Ungkapan ini dengan ungkapan diatas tadi adalah sama, sehingga tidak ada larangan dari siapapun dalam melaksanakan do’a dengan tawassul seperti contoh contoh diatas.

Bahkan bertawassul merupakan ajaran yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan, dan adakalanya menyampaikan dalam sebuah cerita yang menjadi teladan atau beliau sendiri juga melakukan. Beberapa dalil hadits berikut sebagai contoh tawassul:

A. Nabi Adam bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW.

عَنْ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رضي الله عنه قال: قال رسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: “لَمَا اقْتَرَفَ آدَمُ الخَطِيْئَةَ، قَالَ: يَا رَبِّ ! أَسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لِمَا غَفَرْتَ لِي، فَقَالَ الله: يَا آدَمُ ! كَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أَخْلُقُهُ ؟ قَالَ: يَا رَبِّ ! ِلأَنَّكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيَدِكَ، وَنَفَخْتَ فِيّ مِنْ رُوْحِكَ، رَفَعَََََََََََََََْتُ رَأْسِي فَرَأَيْتُ عَلَى قَوَائِمِ العَرْشِ مَكْتُوْبًا: لااِلَهَ الا الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله، فَعَلِمْتُ أَنَّكَ لَمْ تُضِفْ اِلَى اسْمِكَ إِلاَ اَحَبَّ الخَلْقِ اِلَيْكَ، فَقَالَ الله: صَدَقْتَ يَا آدَمُ، إِنَّهُ لأَحَبُّ الخَلْقِ اِلَيَّ، ادْعُنِي بِحَقِّهِ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ، وَلََََََوْلا مُحَمَدٌ مًا خَلَقْتُكَ ”
أخرجه الحاكم في المستدرك وصححه 2/615

Dari Umar ibn Khathab RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: ketika Adam melakukan kesalahan, berdoa: Ya Tuhanku, saya memohon dengan keberadaan Muhammad, agar Engkau mengampuniku. Allah bertanya: Hai Adam, Bagaimana kamu mengenal Muhammad padahal Aku belum menciptakanya ? Jawab Adam: Ya Tuhanku, sewaktu Engkau menciptakanku, dan meniupkan Ruh kepadaku, aku mengangkat kepalaku dan kulihat tulisan di tiang Aresy : Lailaha illa Allah, Muhammad Rasulullah, dari situ aku ngerti bahwasanya Engkau tidak menyandingkan ke Asma Mu kecuali makhluk yang paling Engkau cintai. Allah berfirman: Kamu benar hai Adam, dia adalah makhluk yang paling aku cintai, berdoalah dengan (bertawassul) keberadaanya maka Aku ampuni kamu, seandainya tidak ada Muhammad aku tidak menciptakanmu.” (HR Al Hakim 2\615)

Dalam hadits ini diceritakan oleh Rasulullah SAW bahwa Nabi Adam bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW, maka ada kesimpulan yang bisa dipetik sebagai berikut:
1. Nabi Adam bertawassul dengan makhluk yang belum diciptakan (Muhammad), berarti boleh melakukan tawassul dengan orang yang tidak atau belum hidup.
2. Boleh bertawassul dengan keberadaan orang, bukan hanya dengan amal shalih.
3. Bertawassul dengan orang yang mempunyai nilai tinggi disisi Allah.

B. Orang Yahudi bertawassul dengan Nabi Muhammad SAW.


وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلىَ الذِيْنَ كََفَرُوْا، فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهِ فَلَعْنَةُ اللهِ عَلَى الكَافِرِيْنَ {البقرة 89 }

“Dan setelah datang kepada mereka Alqur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka memohon (dengan bertawassul kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah lah atas orang kafir”. (QS 2:89)

Dalam ayat ini Allah menceritakan ulah kaum Yahudi yang mengingkari kedatangan seorang Nabi yang mereka tunggu dengan membawa Kitab yang membenarkan / meluruskan kitab milik mereka, dimana sebelumnya mereka selalu bertawassul / berperantara dengan Nabi yang akan datang memohon kepada Allah untuk diberi kemenangan dalam setiap berperang melawan orang orang kafir.

C. Tawassul dengan Nabi SAW semasa hidupnya.


عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حَنِيْفٍ، أَنَّ رَجُلاً ضَرِيْرَ البَصَرِ أَتَى النَّبِيَ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ: ادْعُ اللهَ أَنْ يُعَافِيَنِي، قَالَ: إِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ وَإِنْ شِئْتَ صَبَرْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ، قَالَ: فَادْعُهُ، قَالَ: فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ، وَيَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ، اللهُمَّ إِنِي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ، لِتَقْضِىَ لِي، اللهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ.
رواه الترمذي في كتاب الدعوات حديث رقم: 16604 قَال الترمذي: حديث حسن صحيح

Dari Utsman ibn Hanif, bahwasanya ada seorang lelaki buta menghadap Nabi SAW seraya berkata: Doakanlah kepada Allah agar menyembuhkan kebutaanku. Nabi berkata: kalau memang kamu mau akan aku doakan, dan kalau kamu bersabar akan lebih baik bagimu. Orang tersebut berkata: doakanlah. Nabi memerintahkan agar mengambil air wudlu dengan sempurna, kemudian meminta kepada Allah dengan doa seperti ini: Ya Allah, saya memohon dan menghadap kepada Mu dengan perantara Nabi Mu Muhammad, Nabi pembawa rahmat, saya menghadap denganmu (Muhammad) kepada Tuhanku dalam urusanku agar dikabulkan untukku, Ya Allah kabulkanlah untukku. (HR Tirmidzi 16604, haditsnya Hasan Shahih)

Dalam hadits riwayat Tirmidzi ini, Nabi mengajarkan bagaimana sebaiknya tawassul itu dilakukan, diajarkan agar melakukan tawassul dengan dirinya, tapi doa tetap tertuju kepada Allah SWT. Berdoa memang bisa langsung kepada Allah, bisa minta kepada orang yang lebih shalih untuk mendoakan untuknya, tapi juga bisa dilakukan sendiri dan bertawassul dengan Nabi seperti cerita kedatangan orang tersebut kepada Nabi agar beliau berkenan mendoakan dan menjadi perantara / wasilah, atau juga do’a bisa dilakukan dengan tanpa tawassul, tapi bertawassul lebih baik bagi yang berdo’a seperti yang diajarkan oleh beliau.

D. Tawassul dengan barang bekas dari Nabi SAW.


عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ خَاتَمُ النَبِي صلى الله عليه وسلم فِي يَدِهِ، وَفِي يَدِ أَبِي بَكْرٍ بَعْدَهُ، وَفِي يَدِ عُمَرَ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ، فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ جَلَسَ عَلَى بِئْرِ أَرِيْسَ، قَالَ: فَأَخْرَجَ الخَاتَمَ، فَجَعَلَ يَعْبَثُ بِهِ فَسَقَطَ، قَالَ: فَاخْتَلَفْنَا ثَلاَثَةَ أَيَامٍ مَعَ عُثْمَانَ، فَنُزِحَ البِئْرُ، فَلَمْ يَجِدْهُ.
رواه البخاري في كتاب اللباس حديث رقم: 5429

Dari Anas berkata: Cincin Nabi SAW dulu berada di tangan beliau, setelah itu berada pada tangan Abu Bakar, terus berada pada tangan Umar setelah Abu Bakar, pada masa Utsman sewaktu beliau duduk dipinggir sumur Aris – Anas bercerita – beliau melepas cincin tersebut, namun cincin tersebut terlepas dan masuk kedalam sumur, selama tiga hari kami mencari dengan Utsman, sampai sumur dikuras cincin tersebut tidak ditemukan. (HR Bukhori:5429)

Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa barang bekas pakai oleh Nabi SAW bisa dibuat tawassul, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman, mereka memakai cincin Nabi SAW untuk apa kalau bukan untuk bertawassul disetiap langkah dan setiap aktivitas agar memperoleh perlindungan Allah SWT, lebih jelasnya kita lihat hadits
(باب مَا أَكْرَمَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ بَعْدَ مَوْتِهِ)

berikut ini:

عن عبدالله عَنْ أَسْمَاءَ فَقَالَتْ هَذِهِ جُبَّةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَأَخْرَجَتْ إِلَىَّ جُبَّةَ طَيَالَسَةٍ كِسْرَوَانِيَّةً لَهَا لِبْنَةُ دِيبَاجٍ وَفَرْجَيْهَا مَكْفُوفَيْنِ بِالدِّيبَاجِ فَقَالَتْ هَذِهِ كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ حَتَّى قُبِضَتْ فَلَمَّا قُبِضَتْ قَبَضْتُهَا وَكَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَلْبَسُهَا فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى يُسْتَشْفَى بِهَا.
صحيح مسلم – (ج 14 / ص 23

Dari Abdullah berkata: Asma menunjukkan jubbah lorek lorek yang sakunya terbuat dari sutera tebal yang biasa diperuntukkan para raja Kisra (Persia), dengan model terbelah depanya, Asma mengatakan: ini Jubbah Rasulullah SAW yang biasa dipakainya, dulu ada pada Aisyah, namun setelah Aisyah wafat aku pegang untukku, dan kami mencucinya kalau ada orang sakit untuk pengobatan agar sembuh. (HR Muslim 14:23)

Beberapa sahabat Nabi bertawassul dengan jubbah beliau dalam urusan pengobatan untuk setiap orang yang sakit, hal itu dikatakan dengan kata “Nahnu” yang artinya kami, membuktikan bahwa dalam kepercayaan para sahabat terhadap barang barang yang ditinggalkan oleh Nabi SAW adalah mempunyai nilai lebih dibandingkan barang biasa yang juga bisa digunakan tawassul, selain jubbah dan cincin tersebut masih ada juga mereka berebut rambut Nabi, helai perhelai disimpannya, bahkan air bekas wudlu beliaupun diperebutkan disaat beliau masih hidup tanpa ada larangan dari beliau.

E. Tawassul dengan orang yang punya nilai lebih.


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَابِ رضي الله عنه كَانَ إِذَا قَحَطُوْا اِسْتَسْقَى بِالعَبَاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَلِّبِ فَقَالَ: اللهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْنَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا، قَالَ: فَيُسْقَوْنَ.
رواه البخاري في كتاب الجمعة حديث رقم: 954

Dari Anas ibn Malik bahwasanya Umar ibn Khathab apabila mengalami paceklik (kekeringan) meminta hujan kepada Allah sambil bertawassul dengan Abbas ibn Abdul Muthalib, beliau berdoa: Ya Allah, dulu kami meminta kepada Mu sambil bertawassul dengan Nabi Mu, tapi kini kami memohon kepada Mu sambil bertawassul dengan paman Nabu Mu, maka turunkanlah hujan. Anas berkata: maka turunlah hujan. (HR Bukhari:954)

ولفظ الحديث كاملا: عن عبد الله بن عمر قال: استسقى عمر بن الخطاب – عام الرمادة – بالعباس بن عبد المطلب فخطب الناس فقال: يا أيها الناس ! إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يرى للعباس ما يرى الولد للوالد، فاقتدوا أيها الناس برسول الله صلى الله عليه وسلم في عمه العباس، واتخذوه وسيلة الى الله، ادع يا عباس! فكان من دعائه رضي الله عنه: اللهم انه لم ينزل بلاء الا بذنب ولم يكشف الا بتوبة، وقد توجه القوم بي اليك لمكاني من نبيك، وهذه ايدينا اليك بالذنوب، ونواصينا اليك بالتوبة، فاسقنا الغيث واحفظ اللهم نبيك في عمه، فارخت السماء مثل الجبال حتى اخصبت الأرض وعاش الناس.

Teks hadits secara lengkap adalah sebagai berikut: dari Abdullah ibn Umar berkata: Umar ibn Khathab ditahun Rimadah (tidak ada hujan sehingga banyak debu) melakukan upacara sholat istisqo (minta hujan) bertawassul dengan Abbas ibn Abdul Mutholib. Umar berkhotbah: Hai orang orang, Rasulullah SAW memperlakukan Abbas seperti seorang anak terhadap orang tuanya, maka ikutilah,- hai orng orang – Rasululllah dalam memperlakukan pamanya, dan jadikanlah (pamanya) sebagai wasilah / perantara kepada Allah. Berdoalah hai Abbas!. Diantara doa Abbas adalah: Ya Allah, musibah tidak akan Engkau turunkan kecuali karena dosa, musibah tidak Engkau angkat kecuali dengan Taubat. Kaum ini menghadapEngkau dengan perantara aku, karena kedudukanku dimata Nabi Mu, inilah tangan tangan kami yang berlumuran dosa, dan inilah ubun ubun kami menghadap Engkau untuk bertaubat, maka turunkanlah hujan, dan jagalah Nabi Mu terhadap pamanya. Maka langitpun menggelantung awan untuk menurunkan hujan sehingga suburlah tanah dan manusia kembali bersemangat untuk hidup.

Begitulah para sahabat Nabi SAW memperlakukan Abbas paman Nabi sebagai orang yang mempunyai nilai lebih dibanding dengan yang lain, sehingga memperoleh keistimewaan dijadikan sebagai wasilah yang menghubungkan dengan Allah SWT. Ide pelaksanaan itu dari Umar Ibn Khothob yang dilakukan di hadapan mayoritas sahabat saat itu, dan tanpa mendapat sedikitpun protes maupun penolakan dari yang lain.

F. Tawassul dengan kubur Nabi SAW.


عَنْ أَبِي الجَوْزَاء أَوْسِ بْنِ عَبْدِ الله قَالَ: قَحَطَ أَهْلُ المَدِيْنَةِ قَحْطًا شَدِيْدًا، فَشَكَوْا إِلَى عَائِشَةَ، فَقَالَتْ: انْظُرُوْا قَبْرَ النَّبِي صَلىَّ الله عليه وَسَلَّمَ، فَاجْعَلُوْا مِنْهُ كِوًى إِلَى السَّمَاءِ حَتىَّ لاَ يَكُوْنَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ سَقْفٌ، قَالَ: فَفَعَلُوْا فَمُطِرْنَا مَطَرًا حَتىَّ نَبَتَ العُشْبُ وَسَمِنَتْ الإِبِلُ، حَتىَ تَفَتَقَتْ مِنَ الشَّحْمِ فَسُمِيَ عَامُ الفَتَقِ.
رواه الدارمي في المقدمة حديث رقم: 92

Dari Abi al Jauza Aus ibn Abdillah bercerita: Penduduk Madinah dilanda kekeringan sangat parah, mereka mengadu kepada Aisyah (Isteri Rasulullah), maka saran beliau: lihatlah kuburan Rasulullah SAW dan jadikanlah (dalam doa kalian) sebagai kunci (tawassul) ke langit, sehingga antara kuburan dan langit tidak ada atap yang menghalangi. Abu al Jauza berkata: mereka melakukan saran tersebut, maka diturunkanlah hujan sampai rumput tumbuh, dan onta gemuk, sehingga penuh dengan lemak, akhirnya disebut tahun yang subur. (HR Dailami:92)

Demikianlah beberapa dasar yang digunakan legalisasi terhadap amaliyah tawassul, masih banyak dasar lain yang tidak mungkin kita sebutkan satu persatu didalam lembaran yang sangat terbatas ini, dan perlu diketahui bahwa ulama mengajarkan bertawassul bukan berarti menyuruh mereka mengkultuskan kuburan atau penghuni kubur yang telah menjadi bangkai dan hancur itu, namun kita dianjurkan bertawassul untuk memberi penghormatan dan pengakuan atas kedudukan dan kemuliaan seorang alim, mengenang jasa dan jihad mereka dalam menegakkan agama Allah.

Soal: Selain Tawassul tersebut diatas, bolehkah kita memohon kepada orang yang telah meninggal untuk mendoakan kita?

Jawab: Dalam tradisi kita sering melakukan tawassul dengan menjadikan seseorang yang punya nilai lebih tidak hanya sekedar sebagai wasilah seperti yang dijelaskan diatas, namun meminta kepadanya agar mendoakan kepada Allah SWT, mengingat dalam introsepeksi diri (muhasabah nafs) kita adalah manusia yang banyak dosa, berlipatkan kesalahan, tidak luput dari perbuatan maksiyat, maka menghadap kepada orang yang dianggap lebih bersih dari pribadi kita, orang yang lebih bertakwa, orang yang lebih dicintai oleh Allah (walaupun telah meninggal) agar memintakan kepada Allah apa yang kita inginkan.
Diantara saudara kita banyak yang berziyarah ke makam para wali, makam ulama dan kiyai, dalam berziyarah tersebut mereka meminta (berdo’a sambil bertawasssul) kepada para wali, ulama, dan kiyai yang telah meninggal tersebut untuk memohonkan kepada Allah atas hajat dan kebutuhan mereka. Dalam doanya mereka mengatakan: Ya Sunan Kalijaga aku menghadap kepadamu memohon engkau berkenan memintakan hajat dan kebutuhan saya kepada Allah, atau ungkapan doa: Romo kyai, kulo sowan nyuwun dumateng jenengan kersoho nyuwunaken dumateng Alloh supados kulo diparingi…….

Ini merupakan tawassul yang dilakukan oleh sebagian masyarakat kita, yang merasa dirinya berlumurkan dosa dan kesalahan sehingga tidak layak meminta langsung kepada Allah Yang Maha Suci, mereka bertawassul pada para wali, kiyai, atau ulama untuk dimintakan kepada Allah SWT.
Hal itu sebagaimana terjadi pada masa Kholifah Umar ibn Khathab ketika dilanda kekeringan yang berkepanjangan, yang menyebabkan kelaparan, paceklik, paila, atau sejenisnya dengan cerita:

عَنْ مَالِكٍ الدَّارِي قَالَ: أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِِ الخَطَّابِ، فَجَاءَ رَجُلٌ اِلَى قَبْرِ النَّبِي صَلَّى الله عَليه وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْل الله، اِسْتَََسْقِ اللهَ ِلأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا، فَأَتَاهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ، فَقَالَ: اِئْتِ عُمَرَ فَاقْرَئْهُ مِنّيِ السَّلاَمَ، وَاَخْبِرْهُمْ اَنَّهُمْ مُسْقُوْنَ، وَقُلْ لَهُ:عَلَيْكَ بِالكَيِّسِ الكَيِّسِ، فَأَتَى الرَّجُلُ فَأَخْبَرَ عُمَرَ، فَقَالَ: يَا رَبِّ، مَا آلوْ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ.
رواه البيهقي وابن ابي شيبة باسناد صحيح وقال ابن حجر في فتح الباري 2/415 اسناده صحيح.

Dari Malik al Dari berkata: pada masa Umar ibn Khathab terjadi kekeringan yang menyebabkan kelaparan, seseorang mendatangi kuburan Nabi SAW sambil berkata: Ya Rasulallah, mintakanlah hujan kepada Allah untuk kepentingan ummatmu, karena mereka telah hancur (karena kekeringan). Rasulullah SAW mendatanginya dalam mimpi dan mengatakan: datanglah kepada Umar, sampaikan salam dariku, dan sampaikan mereka akan diturunkan hujan, serta katakan kamu akan mendapat balasan pahalanya. Orang tersebut mendatangi dan mengabarkan pada Umar, beliau berkata: Ya Tuhanku, saya tidak akan berlebih lebihan kecuali sesuai kemampuanku. (HR Baihaqi dan ibnu Abi Syaibah serta Al Bukhori dalam kitab al Tarikh))

Kedatangan seorang sahabat Nabi yang bernama Bilal bin al Harits al Muzani ke kuburan Nabi SAW dan minta kepada Nabi untuk memohonkan kebutuhan umat kepada Allah, yang kemudian dalam cerita tersebut tidak mendapat tentangan dan larangan dari sahabat yang lain, hadits ini merupakan dasar dari tawassul minta didoakan oleh para wali atau kiyai yang telah meninggal.

Dengan demikian berarti segala jenis dan cara bertawassul yang sesuai dengan apa yang telah kami tulis diatas adalah sesuai dengan ajaran syariah Islam, bukan merupakan hal yang bid’ah apalagi syirik.

Dari penjelasan tersebut, dapat kita ambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Bertawassul adalah berdo’a kepada Allah SWT dengan menggunakan perantara / wasilah. Dan wasilah dalam doa ini bisa bermacam macam.
2. Doa dengan Tawassul ini tidak ada nilai tambah dibanding doa langsung kepada Allah SWT, namun untuk memperkuat keyakinan bahwa doa kita akan terkabulk an oleh Allah, karena banyak kita temukan dasar yang menyatakan diantaranya bila kita selesai mengkhatamkan Alqur’an maka doa saat itu akan terkabulkan. Sehingga kita dalam berdoa bertawassul dengan khatam Alqur’an untuk terkabulkan doanya
3. Bertawassul dengan Amal Saleh sendiri adalah sangat dianjurkan, mengingat hal itu diceritakan oleh Nabi SAW sebagai contoh bukti amal baik.
4. Sarana yang bisa digunakan Wasilah atau Tawassul adalah:
a. Orang yang mempunyai nilai lebih, mempunyai nilai tinggi disisi Allah, dalam keadaan hidup; seperti Nabi, Wali, Kyai, dan lain sebagainya.
b. Orang yang telah meninggal dunia namun disaat hidupnya dia mempunyai nilai lebih. Seperti jenazah para wali atau ulama dan lainya.
c. Barang peninggalan yang terkait langsung dengan pribadi yang punya nilai lebih tersebut. Seperti senjata peninggalan para wali, pakaian para Wali dan seterusnya.
d. Tempat yang pernah dipakai sosok tersebut diatas. Seperti petilasan Nabi SAW, Kuburan Nabi SAW, Kuburan Wali, tempat bertapa / semedi (goa Hiro’) dan lain sebagainya.
e. Secara teori, ada dasar bahwa sesuatu tersebut punya nilai lebih, seperti air Zam zam, Hajar Aswad, Multazam, Raudloh dan seterusnya.
f. Amal baik dari seseorang, terutama amal yang teristimewa baginya, sangat mendorong untuk terkabulkan doanya, karena diiringi perasaan yang mantap dalam berdoa akan terkabulkan doanya.
g. Keagungan, kehebatan atau keistimewaan orang lain, seperti tawassul dengan Ahli Badr, Tawassul dengan “Jah” Rasulullah.
5. Boleh meminta kepada orang yang telah meninggal dunia untuk memohonkan kepada Allah SWT atas hajatnya. Orang yang meninggal dunia mendengar salam kita, mengenal kita, bahkan mendengar ucapan kita (lihat pembahasan Ziyarah Kubur), mereka bila sebagai orang saleh, maka akan memohonkan kepada Allah SWT atas apa yang kita inginkan.
6. Sebagai manusia yang tak lepas dari dosa, berlumurkan dosa, penuh dengan khilaf, kiranya kurang layak bila meminta langsung kepada Sang Kholik, namun kita menjadikan orang yang saleh, yang bersih dari dosa, yang lebih taat dari kita unt7uk memintakan dan memohonkan hajat kita kepada Allah SWT.
7. Bertawassul merupakan ajang silaturrohim dari yang masih hidup dengan yang telah meninggal, bila yang meninggal itu punya nilai lebih dibanding yang masih hidup, maka kedatangan yang masih hidup merupakan sowan dan menghadap.

source : ini

assalamualaikum….

nice sharing..

sukron…

fani, dumai, riau

Tawassul TIDAK berhubungan langsung dengan sholawat nariyah. Walupun sinnus menjelaskan aneka warna tawassul, tetap yang berhubungan dengan sholawat nariyah ini adalah tawassul dengan amal sholeh. Karena sholawat nariyah “DIANGGAP” sebagai amal sholeh oleh pecinta amalan sholawat ini. Membahas TAWASSUL dengan KUBURAN tentu jauh sekali dari topik sholawat nariyah. Paham ga pak sinnus?

Menurut saya, menghubungkan tawassul dengan sholawat nariyah termasuk upaya untuk “membersihkan” amalan sholawat nariyah yang bertendensi sekali kepada SYIRIK.

Terhadap para pecinta amalan ini, hendaknya anda takut kepada Allah. Timbanglah resiko segala sesuatu, antara manfaat yang didapat dan resiko mudharat yang dari amalan-amalan kita.

Tidak sama sekali seumur hidup mengamalkan amalan ini tidak akan menjauhkan kita sejengkal-pun dari neraka, asalkan kita tetap bersholawat kepada nabi dengan sholawat yang telah diajarkan beliau sholallahu ‘alayhi wasallam.

Sedangkan mengamalkan sholawat nariyah ini, bisa saja membuat kita tidak akan masuk surga selama-lamanya. Alias kekal selama-lamnya di neraka atas dosa yang paling besar ini dan tidak akan diampuni karena menyekutukan Allah dalam sifat rububiyahnya.

Semoga Allah menolong kita.

Perlu saya tekankan sekali lagi, masalahnya yang lebih penting dalam kasus sholawat nariyah ini. Apakah lafazh HI pada bihi, adalah merujuk kepada sholawat atau merujuk kepada nabi.

Bila merujuk kepada nabi, maka hal ini merupakan hal yang berat sekali yang dapat menjatuhkan kita kepada dosa yang tidak akan bisa diampuni.

Lafazh Allahumma dalam sholawat tadi, kalau diperhatikan bukanlah untuk meminta hal-hal yang kita butuhkan, tetapi masuk dalam lafazah sholawat itu sendiri yaitu meminta kepada Allah untuk memberi sholawat kepada nabi.

Dan meminta hal-hal seperti:

1. terlepas segala ikatan,
2. lenyap segala kesedihan,
3. terpenuhi segala kebutuhan,
4. tercapai segala kesenangan,
5. semua diakhiri dengan kebaikan,
6. hujan diturunkan,

TIDAKLAH DIMINTA kepada Allah berdasarkan dari lafazh sholawat tsb.

Pada sholawat tsb, setelah meminta Allah memberikan sholawat kepada nabi, kita mengungkapkan bahwa dengan perantara nabi-lah ke-enam hal tsb bisa dicapai.

Padahal kan tidak demikian.

Mari kita baca lagi terjemahan diatas yakni:

Ya Alloh berilah sholawat dengan sholawat yang sempurna dan berilah salam dengan salam yang sempurna atas penghulu kami Muhammad,

Yang dengan”nya” terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan, hujan diturunkan, berkat dirinya yang pemurah, juga atas keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak hitungan segala yang ada dalam pengetahuanMU

“NYA” (HI dalam lafazh arabnya) disini secara bahasa hanya bisa dinisbatkan kepada nabi sesuai dengan kaidah bahasa arab karena menggunakan lafazh HI.Karena bila dirujuk kepada sholawat itu sendiri maka tidak menggunakan lafazh HI.

Walaupun yang kita hendak “MENCOBA” membersihkan unsur kesyirikan dalam sholawat nariyah ini, yakni dengan mengatakan bahwa HI tsb merujuk kepada tawassul. Nah bila maksudnya demikian (yakni tawassul), tetap yang digunakan BUKANLAH HI. Karena bila maksudnya demikian maka NYA (HI) tsb tetap dikembalikan kepada sholawat, karena yang digunakan untuk tawassul adalah sholawat itu sendiri. Sedangkan lafazh HI tsb tidak bisa dikembalikan kepada sholawat berdasarkan kaidah bahasa arab.

KECUALI….. bila anda para pecinta sholawat nariyah tidak menggunakan bahasa arab dalam bersholawat nariyah ini. Tentu saja NYA disini bisa kita pleset-kan kepada apa saja. Bisa kepada habib(baik yang masih hidup ataupun yang sudah dikubur), sholawat, tawassul atau apa saja sehingga kesan SYIRIK dalam sholawat ini bisa diminimalisir.

Na’uudzu billaah..,

Wallaahu Musta’aan.

Apa yang disampaikan Sunnis pada intinya adalah menolak Tawassul kecuali Tawassul kepada yg telah dia dan Wahhabi yakini sambil men-syirikkan pelaku Tawassul di luar klaim Tawassul Syar’i.

Berikut beberapa contoh Tawassul sebagai pembuka cakrawala kita untuk menguatkan hukum kebolehan Tawassul :

1. Sufyan bin Uyainah (198 H / 813 M)
Sufyan bin Uyainah berkata: ada dua laki2 saleh yg dpt menurunkan hujan dg cara bertawassul dg mereka yaitu Ibnu ‘Ajlan dan Yazid bin Yadzibin jabir. Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. (kitab al-‘illal wa Ma’rifah al-Rijal juz I hal. 163-164 karya Ahmad bin Hanbal)

2 Imam Abu Hanifah (80-150 H/ 699-767 M)
perkataan Abu Hanifah ketika berziarah ke Madinah dan berdiri di hadapan makam Rosulullah saw. yaitu:
“Hai orang yg termulya di antara manusia dan jin dan sebaik-baik makhluk, berilah aku kemurahanmu dan ridloilah aku dg ridlomu. Aku merindukan kemurahan darimu, engkaulah satu2nya harapan Abu Hanifah”
(kitab al-Ziyaroh Nabawiyah hal. 56 karya Sayyid Muhammad al-Maliki)

3. Imam Syafii (150-204 H/ 767-819 M)
“Dari Ali bin Maimun beliau berkata: Aku telah mendengar Imam Syafii berkata: Aku selalu bertabarruk dg Abu Hanifah dan mendatangi makamnya dg berziarah setiap hari. Jika aku mempunyai hajat, maka aku menunaikan sholat 2 rokaat, lalu aku datangi makam beliau dan aku memohon hajat itu kepada Allah di sisi makamnya,sehingga tdk lama kemudian hajatku segera terkabulkan” (kitab Tarikh al-Baghdad juz I hal. 123 dg sanad yg shohih, karya al-Hafidz Abi Bakr Ahmad bin Ali)

4. Abu Ishaq bin Ibrahim bin Ishaq al-Harby (198-285 H/813-898 M)
Ibrahim al-Harby berkata: Makam Ma’ruf al-Karkhy adalah obat penawar yg sangat mujarab (maksudnya datanglah ke makam Ma’ruf al-Karkhy, sebab berdo’a di sisinya banyak manfaatnya dan dikabulkan (Kitab Tarikh al-Islam hal.1494 karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman)

5. Ibnu Taimiyah (salah satu rujukan utama Wahhabi) berkomentar dlm kitabnya Al-Kawakib Al Durriyah juz 2 hal. 6 yaitu:
“Tidak ada perbedaan antara orang hidup dan orang mati seperti yg dianggap sebagian orang. Jelas shohih hadits riwayat sebagian sahabat bahwa telah diperintahkan kpd orang2 yg punya hajat di masa Kholifah Utsman untuk bertawasul kpd nabi setelah beliau wafat (berdo’a dan bertawasul di sisi makam Rosulullah) kemudian mereka bertawasul kpd Rosulullah dan hajat mereka terkabul, demikian diriwayatkan al-Thabary”

Alloh memberi petunjuk kepada siapa yg Ia kehendaki

Wahhabiyun laytsa min Ahlis Sunnah! Wa Ahlus Sunnah baro-un minhum

Allohu a’lam

Adz-Dzahabi; dalam karyanya; Siyar A’lam an-Nubala’, jld. 9, cet. 9, tentang biografi Imam Ma’ruf al-Karkhi; beliau adalah Abu Mahfuzh al-Baghdadi. Dari Ibrahim al-Harbi berkata: “Makam Imam Ma’ruf al-Karkhi adalah obat yang paling mujarab”. Adz-Dzahabi berkata:

“Yang dimaksud ialah terkabulnya doa di sana yang dipanjatkan oleh orang yang tengah kesulitan, oleh karena tempat-tempat yang berkah bila doa dipanjatkan di sana akan terkabulkan, sebagaimana terkabulkannya doa yang dipanjatkan di waktu sahur (sebelum subuh), doa setelah shalat-shalat wajib, dan doa di dalam masjid-masjid……”.

Siyar A’lam an-Nubala’, jld. 12, cet. 14, tentang biografi Imam al-Bukhari (penulis kitab Shahih); beliau adalah Abu Abdillah Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahim al-Bukhari, dalam menceritakan tentang wafatnya. simak tulisan adz-Dzahabi berikut ini:

“Abu ‘Ali al-Gassani berkata: “Telah mengkhabarkan kepada kami Abu al-Fath Nasr ibn al-Hasan as-Sakti as-Samarqandi; suatu ketika dalam beberapa tahun kami penduduk Samarqand mendapati musim kemarau, banyak orang ketika itu telah melakukan shalat Istisqa’, namun hujan tidak juga turun. Kemudian datang seseorang yang dikenal sebagai orang saleh menghadap penguasa Samarqand, ia berkata: “Saya punya pendapat maukah engkau mendengarkannya? Penguasa tersebut berkata: “Baik, apa pendapatmu?”. Orang saleh berkata: “Menurutku engkau harus keluar bersama segenap manusia menuju makam Imam Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari, makam beliau berada di Kharatnak, engkau berdoa meminta hujan di sana, dengan begitu semoga Allah menurunkan hujan bagi kita”. Sang penguasa berkata: “Aku akan kerjakan saranmu itu”. Maka keluarlah penguasa Samarqand tersebut dengan orang banyak menuju makam Imam al-Bukhari, banyak sekali orang yang menangis di sana, mereka semua meminta tolong kepada Imam al-Bukhari. Kemudian Allah menurunkan hujan yang sangat deras, hingga orang-orang saat itu menetap di Kharatnak sekitar tujuh hari, tidak ada seorangpun dari mereka yang dapat pulang ke Samarqand karena banyak dan derasnya hujan. Jarak antara Samarqand dan Kharatnak sekitar tiga mil”.

@ahmad lukman dan @sinnus,

Terserahlah anda mau men-CAP orang-orang yang tidak setuju dengan amalan anda dengan wahabiy atau cap lainnya yang anda senangi. Saya sendiri tidak tertarik dengan gelar-gelar yang memang tidak ada dasarnya. Saya kira tidak perlu membersihkan diri saya dari wahabiy atau gelar lainnya karena tolak ukur saya bukan Muhammad bin Abdul Wahab dan orang-orang yang tidak anda sukai. Dan tentu saja apalagi ustadz Mawardi atau Imam Ad Dinawari yang tentu saja sangat-sangat anda-anda sukai, jauh-jauh sekali dari tolak ukur yang pantas menurut saya. Siapa yang jadi tolak ukur kita? Tentu saja tuan-tuan disini sudah tahu jawabannya.

Sepertinya saya tidak perlu panjang-panjang dalam berkata karena sedikit saja celah bisa anda masuki untuk membahas sesuatu yang bukan topik sebenarnya yang sesuai. Saya sebenarnya senang dan ingin sekali membahas topik tawassul yang anda bawakan yang tentu saja dengan dalil dan argumen yang insya Allah lebih baik dari yang telah anda berdua sampaikan. Tetapi tentu saja melakukan hal itu sudah mengeluarkan kita dari pembahasan yang berkenaan langsung dengan ke-SYRIK-an dalam sholawat nariyah ini.

Saya juga perlu sampaikan kepada saudara-saudara, bahwa cara debat seperti ini tidak ada gunanya karena tidak akan selesai-selesai karena tidak meng-KERUCUT. Dengan cara anda-anda ini, maka pembicaraan akan melebar dan akan tidak jelas apa sebenarnya yang ingin kita cari. Tidak disepakati dulu apakah ada syirik dalam sholawat ini, lalu kita sudah membahas hal lain yaitu Tawassul yang lebih luas dari pada perkaran sholawat ini. Lalu saya yakin sekali nantinya, dengan cara seperti ini tidak selesai BAB tawassul ini, nanti pasti akan melebar ke pembahasan BID’AH. Dan terus lagi berkembang kepada Wahabi dan lain-lain.

Apakah ini yang anda-anda inginkan? Tentu tidak saya pikir.

Setuju ga bila kita tunda dulu pembahasan tawassul ini dan kita kembali kepada hal yang lebih spesifik yakni KEMUSYKILAN yang ada di dalam amalan sholawat naariyah ini?

Saya anggap setuju ya, baik saya mulai.

Memang…, sholawat ini di-klaim sebagai cara untuk tawassul oleh sinnus dan para pecinta amalan ini. Tetapi terlepas dari pro kontra apakah tawassul dengan cara seperti ini boleh atau tidak, berpahala atau tidak. Yang menjadi kunci keberatan dalam sholawat nariyah ini adalah LAFAZHnya. Saya sudah singgung ini sebenarnya dalam comment saya, tetapi entah mengapa tidak digubris sama sekali. Tetapi baiklah saya ulang lagi.

Kalau memang maksud HI dalam BIHI adalah tawassul, tentu hal ini tidak tepat. MENGAPA?? Karena tetap, bila yang dimaksud tawassul maka yang dimaksud dengan tawassul itu adalah AMALAN SHOLAWAT NARIYAH itu sendiri. Yang mana untuk tujuan itu harus digunakan BIHAA. Dan barang TENTU yang digunakan bukan HI. Karena HI tidak bisa digunakan untuk SHOLAATAN atau SHOLAWAT.

Jadi kalau anda bersikeras menganggap amalan ini adalah TAWASSUL, maka silahkan anda rubah dulu LAFAZH-LAFAZH “BIHI” pada sholawat NARIYAH ini. Dengan ini barulah tepat sholawat ini disebut AMALAN TAWASSUL.

Bila anda ENGGAN merubahnya, maka janganlah anda katakan ini tawassul. Karena dengan tetapnya lafazh HI tsb, anda lebih tepatnya bukan berTAWASSUL, tetapi anda telah memuji nabi kepada derajat yang sudah TERLAMPAU BATAS, yakni sampai kepada derajat KETUHANAN karena HI tersebut tidak lain kembali kepada nabi.

Siap merubah lafazhnya? Kalau bersedia, maka selesai masalah sholawat nariyah ini dan kita sambung dengan pembahasan TAWASSUL yang lebih luas.

Siapa pun Anda, jelas arah pemikiran Anda sebangun dengan gaya pemikiran Wahhabi. Jadi gak usah berkelit. Meskipun Anda mengaku bukan Wahhabi, namun Anda mengusung paham khawarij Wahhabi yang dengan mudah menghukumi orang dengan Syirik, Kafir, Bid’ah dlsb. Tak perlu pengakuan, toh gaya berpikir Anda sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan siapa Anda.

Shalawat Nariyah adalah salah satu bentuk shalawat yang ditujukan untuk mengagungkan Nabi Muhammad SAW. Pengagungan muslimin dimana pun sampai kini tidak ada yang menyakininya bahwa Rasululloh SAW sama dengan Tuhan/Alloh, atau mempunyai kekuasaan yang sebanding dengan Alloh. Na’udzubillah min dzalik. Hanya orang2 yang sakit hatinya yang menuduh bahwa kalimat sanjungan adalah atau sama dengan kalimat ketuhanan. Makanya kalau Anda baca dengan seksama komentar dari awal adalah : kalimat2 sanjungan kepada Nabi Muhammad hakikatnya kembali kepada Alloh.

Coba Anda renungkan kalimat yang Anda tulis di komentar sebelumnya. Luruskan hati Anda dan jangan su’udz dzon.

1. terlepas segala ikatan,
2. lenyap segala kesedihan,
3. terpenuhi segala kebutuhan,
4. tercapai segala kesenangan,
5. semua diakhiri dengan kebaikan,
6. hujan diturunkan,

Sudah dikatakan bahwa semua ungkapan di atas adalah sarana bukan hakikat. Bahwa terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, diakhiri dengan kebaikan serta diturunkannya hujan HAKIKATNYA SEMUA KARENA ALLOH. Sekali lagi Hakikatnya semua karena Alloh. Rasululloh adalah sebagai perantara.

Anda sudah diberi contoh yang paling sederhana :
“Bantu/tolong saya dokter, ibu saya sakit keras”
Musyrik kah orang yang meminta tolong kepada dokter? Bukankah meminta tolong hanya kepada Alloh?

HAKIKAT PERTOLONGAN hanya dari Alloh. Dokter hanya merupakan perantara. Jelas ora Son?

Musyrik kah Imam Syafi’ie ra. ketika berkata :
“Kalau bukan KARENA -imam- Malik dan -imam- Sufyân ibnu ‘Uyainah, sungguh akan HILANG ilmu negeri Hijaz.”(Tarikh Al Kamal,11/189)

Bukan kah yang menjaga ilmu itu hakikatnya Alloh SWT? Sungguh imam Syafi’ie lebih paham mengenai hakikat dari pada Wahhabi dan para muqollidnya.

Sekali lagi, Muslimin itu tidak bodoh. Mereka tahu hakikat semua kembali kepada Alloh. Ketakutan dan kekhawatiran Anda tidak terbukti. Anda paranoid ya Sunnis.

Shalawat Nariyah bukan sebuah KEHARUSAN. Kami mengakui bahwa shalawat yang paling utama adalah shalawat yang diajarkan langsung oleh Rasululloh SAW (shalwat Ibrahimiyyah salah satunya). Shalawat Nariyah adalah salah satu shalawat yang jaiz. Boleh dibaca dan boleh ditinggalkan. Yang wajib adalah membaca shalwat setidaknya sekali seumur hidup mengingat perintah bershalawat dalam Al Qur’an. Ukuran sebanyaknya terserah Anda. Mau 11, 44, 1000, 4444 terserah. Karena amalan ini jaiz. Boleh2 saja dan BUKAN KEHARUSAN!

Jika Anda arif, maka Anda dapat mencerna kalimat2 sederhana ini.
1. Semua kembali kepada Alloh SWT. Kalimat2 dalam shalawat nariyah adalah kalimat sanjungan yang tidak membawa pembacanya/pengamalnya kepada kesyirikan
2. Kekhawatiran Anda lemah dan tidak berdasar
3. Ulama Ahlus Sunnah tidak ada yang meragukan keilmuan imam Syafi’ie dan menuduhnya pelaku syirik lantaran mengatakan sesuatu yang dalam kadar Anda telah jatuh ke lembah syirik

Ya Alloh hancurkanlah Wahhabi sebagaimana Engkau telah menghancurkan pasukan gajah!

Hi Sinnus,

Jadi anda mengakui bahwa lafazh HI dalam sholawat nariyah yang anda cintai adalah MERUJUK KEPADA ‘alayhissholaatu wassalaam ??

Masalah hakikat, tawassul, perkataan al-imaam asy-Syaafi’i bisa kita bahas SETELAH JELAS apakah LAFAZH HI tsb merujuk kepada nabi atau bukan.

Satu-satu dulu ya mas sinnus, simpan dulu semangat anda yang besar untuk membahas tawassul, perkataan imam, dll atau semangat anda yang memuncak sekali kepada orang yang tidak sepaham dengan anda (baca:wahabby).

Wallahu Musta’aan..

Anda tahu kaidah bahasa Arab tidak? Anda yang ingin mengubah kata ganti HI menjadi HA dengan alasan HI merujuk kepada Nabi Muhammad sementara HA kembali kepada Shalawat.

Tidak ada hak saya mengganti HI menjadi HA. Ini logika dangkal Wahhabi karena aqidah agama Wahhabi menyatakan bahwa HI itu syirik sementara HA tidak.

Ada yang salah dengan kekuasaan yang Alloh anugerahkan kepada Nabi pilihanNya Muhammad SAW yang dengannya maka :
1. terlepas segala ikatan,
2. lenyap segala kesedihan,
3. terpenuhi segala kebutuhan,
4. tercapai segala kesenangan,
5. semua diakhiri dengan kebaikan,
6. hujan diturunkan ???

Tidak ada yang salah, karena hakikat semua kembali kepada Alloh. Inilah beberapa logika dan hujjah yang saya bawakan kepada Anda dan orang yang berdiskusi di sini bahwa HAKIKAT semua kembali kepada Alloh.

Jadi bukan HA melainkan HI. Karena lafadz shalawat Nariyah memang seperti itu. Wahhabi mencoba mengakalinya dengan mencoba mengutak-atik HI menjadi HA. Sehingga syirik menjadi tauhid. Logika aneh Neo Khawarij.

Oleh karenanya : Syirik kah imam Syafi’ie yang mengatakan : “Kalau bukan KARENA -imam- Malik dan -imam- Sufyân ibnu ‘Uyainah, sungguh akan HILANG ilmu negeri Hijaz.”(Tarikh Al Kamal,11/189)

Loh kok imam Syafi’ie tidak berhati2 dengan kalimatnya? Bagaimana tauhid imam Syafi’ie yang sampai pada kesimpulan K A R E N A Malik dan Sufyan bin ‘Uyainah lah ilmu negeri Hijaz tidak hilang? Kenapa imam mazhab yang harum namanya ini bengkok tauhidnya tidak seperti tauhid agama Wahhabi?

Tidakkah imam Syafi’ie tahu bahwa yang menjaga ilmu tetap ada di negeri Hijaz adalah Alloh SWT?

Mmmmmuuuusssyyyyyyyrriiiiiiiiiiiiiiiiikkkk!!!!!

Ganti dong kalimatnya sesuai kalimat agama Wahhabi. Kira2 begini yang sesuai dengan akidah agama Wahhabi : Kalau tidak karena Alloh maka lenyaplah ilmu di negeri Hijaz. Ini baru benar. Ini tauhid murni.

Berani gak Anda mengganti kalimat yang dalam tauhidnya dengan kalimat imam yang telah musyrik dimata agama Wahhabi?

Itu lah bro maksudnya. Imam Malik dan imam Ibnu ‘Uyainah adalah imam yang menjaga ilmu yang benar (sunnah). Berkat kedua imam itulah cahaya sunnah tetap bersinar di negeri Hijaz. Imam Syafi’ie paham betul dengan hal ini. Namun ketika beliau mengatakan : JIKA TIDAK KARENA, ini kembali kepada kuasa Alloh. Bukan berarti semata2 kekuasaan yang datang dari diri kedua imam Ahlus Sunnah itu di luar kuasa Alloh. Dengan demikian imam Syafi’ie tidak melakukan kesyirikan dengan kalimat yang diucapkannya.

Imam Syafi’ie lebih tahu tauhid ketimbang agama Wahhabi. Meskipun banyak yang taqlid buta terhadap Wahhabi. Alhamdulillah Alloh jadikan kita pengikut Ahlus Sunnah dan menjaga kita dari fitnah Wahhabi. Dana Saudi yang berlimpah memudahkan mereka menyebarluaskan agama Wahhabi. Namun kuasa Alloh lah yang dapat mencegah tipu daya agama sesat ini.

Berikut saya copas dari jawaban mas Lukman mengenai dhomir HI dalam shalawat tertanggal 4 April 2009
__________________________________________________
dhomir “hi” pada sholawat nariyah
apakah dhomir “hi” (alladzi tanhalu bihi al khurobu….. bihi al khawaiju dst) pada sholawat nariyah itu di tujukan kepada pribadi atau fisik Nabi, atau gimana???
karena, temen temen wahabi saya bilang, dhomir “Hi” pada sholawat nariyah itu syirik karena itu berarti memohon kepada Nabi untuk melepaskan diri dari ikatan kesusahan, dan sabagainya… padahal yang berhak dimintai kan Allah thok…. maka dari itu,sholawat itu Haram hukumnya untuk di amalkan… kecuali kalok dhomir “hi” itu du ganti dengan “ha”.. maka gak papa.

pripun Niki Gus??

Penanya : muhammad muflih mukafi (kafi) pada 27 September 2006 21:25:41

Jawab:

Orang Wahabi memang banyak yang suka sekali mensyirik-syirikkan. apalagi yang anyaran, masih semangat-semangatnya. Silakan saja tanya mereka yang suka baca selawat Nariyah, apakah mereka memohon kepada Nabi atau kepada Allah. Jangan tanyakan orang Wahabi.

Bila ada orang sakit mengatakan aku mau ke dokter untuk mengobati sakit saya, biar sembuh. Tanyakan padanya, apa dia mohon kesembuhan kepada dokter. Jangan tanyakan kepada orang Wahabi, nanti dibilang syirik.
________________________________________________

Tawassul, Tabarruk, Istighosah adalah hal yang sudah dilakuakn sejak zaman sahabat sampai kini. Namun agama Wahhabi menolaknya atas nama tauhid. Pelakunya dianggap melakukan syirk, kafir dlsb. Berikut penjelasan kegiatan yang sudah dilakukan oleh generasi salaf yang diingkari Wahhabi

Jangankan cuma shalawat Nariyah yang pelakunya dihukumi sebagai musyrikin oleh Wahhabi. Bahkan imam Bukhari pun dianggap kafir mu’aththil

Berbahagialah karena Alloh SWT memberi kita hidayah dan menghindarkan kita dari fitnah Wahhabi. Musang berbulu domba!

Pertanyaan saya simple

Jadi HI merujuk kepada nabi atau bukan?

Notes:
Anda tidak perlu meng-COPAS jawabannya Lukman yang terdahulu karena memang jawaban tsb tidak menjawab. Usaha anda jauh lebih baik dari Lukman karena paling tidak anda berusaha merespon sesuai apa yang ingin ditanyakan. Sedangkan jawaban yang Lukman jawab bukanlah respon yang sesuai melainkan tuduhan kepada Wahabi yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan yang ditanyakan.

Diskusi dengan sampeyan memang mbulet mas. Nabi itu mu’annats atau mudzakkar? Hi itu dhomir untuk apa dan Ha untuk apa?

Ya sudah jawab sendiri. Mas Sinnus pun sudah secara gamblang menjelaskan posisi Nabi sebagai perantara (wasilah). Tidak ada perbedaan ketika beliau hidup maupun setelah wafatnya.

Haqqul yakin ulama Wahhabi mengharamkan tawassul seperti ini. Lha sampeyan mengaku mengambil langsung dari Nabi padahal itu taqlid ke ulama Wahhabi. Debat cara sampeyan ndak ngilmiyah mas.

Mas Sinnus sudah dengan sambar memberikan contoh dan analogi. Ya dasarnya gak suka kebenaran, ya gitu. Ndak papa, pembaca tahu siapa mas Sunnis, siapa mas Sinnus dan benang merah diskusi ini. Siapa yg bicara dengan dalil dan hujjah dan siapa pula yg bicara berdasarkan hawa nafsu dan perasaan.

Silakan lanjut…

Assalamu’alaikum wr. wb.

Pak ustadz Lukman atau ikhwan dan ukhti yang lain,

Ada yang tahu dan bisa memberi penjelasan mengenai TAUHID TRINITAS…???

Dan apakah bedanya dengan TAUHID TRINITAS versi agama Kristen…..???

Mohon bisa dibabar di forum ini, karena saya sedang kebingungan…

Terima kasih

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Mohon maaf ada tulisan yang kurang, maksudnya TAUHID TRINITAS
yang diyakini oleh saudara kita dari sekte Wahabi.

@ Budak Awam,

Anda cari kemanapun, tidak akan menemukan trinitas dalam sekte yang anda sebut sebagai wahabi. Kecuali anda tidak mengerti apa itu trinitas. Coba anda pahami dulu apa itu trinitas, baru menggunakan kata tsb sesuai dengan tempatnya. Jangan sampai kebencian anda terhadap wahabi membuat anda asal bunyi dengan hawa nafsu.

@ahmad lukman,

Anda ga perlu muter-muter jawabnya. Siapa pun tahu (kalau sudah belajar bahasa arab) bahwa HI untuk muzakkar. Anda ini memang suka menganggap remeh orang yang tidak sejalan dengan anda. Bukan itu maksud pertanyaan saya.

Yang saya maksud adalah, apakah HI di dalam sholawat ini adalah untuk nabi atau yang lain. YANG TENTUnya adalah muzakkar yang lain. Karena anda dan sin tidak mau merubah satu hurufpun amalan yang dibuat manusia yang telah terlanjur anda berdua cintai tsb.

Saya hanya ingin mendapatkan jawaban jelas dan singkat dan tidak bertele-tele. Yakni ketegasan langsung, boleh dari ahmad lukman maupun sinnus, apakah dhomir HI tsb kepada nabi atau bukan.

Cukup dengan IYA atau TIDAK, dan kalau TIDAK.. kepada siapakah HI tsb merujuk??

Setelah itu mari kita bahas tawassul setelah jelas lafazh tsb mau anda bawa kemana.
Paham?

Assalamu’alaikum wr. wb

Bukan saya sok tahu atau apa, mungkin ini sedikit bisa memberikan argumen untuk mencari kesamaan dalam hal yang di permasalahkan.
Inti yang saya dapat kan bahwa yang dipermasalahkan adalah kalimat “..yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala…”, mungkin seharusnya yang dipahami adalah keseluruhan konteks kalimat.. dari hal yang bisa saya tangkap bahwa makna sesungguhnya dari shalawat ini adalah :

“Ya Alloh berilah sholawat dengan sholawat yang sempurna dan berilah salam dengan salam yang sempurna atas penghulu kami Muhammad yang dengannya (sholawat dan salam tersebut) terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan, hujan diturunkan, berkat Allah Yang Maha Agung (Al Karim, salah satu nama Allah dalam Asmaul Husna) *1, juga (sholawat dan salam) atas keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak hitungan segala yang ada dalam pengetahuanMU”

kata “dengannya” bukan sebagai kata orang untuk Nabi Muhammad SAW. tapi lebih menunjuk kepada Sholawat dan Salam yang ditujukan ke pada Nabi.

*1 :
Dalam sahih Bukhari, Abdullah bin Umar ra. menceritakan bahwa sebelum masuk kedalam mesjid, Nabawi, Nabi SAW biasa mengucapkan: “A’udzu billaahil azhiim wa biwajhihil karim wa shulthanihil qadim minasy syaithaanir rajiim” (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dengan Wajah-Nya yang Maha Qadim dari godaan setan yang terkutuk).

sehingga makna yang tersirat adalah, Kita memohon kepada Allah, agar menyampaikan Sholawat dan Salam kita kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang dengan Sholawat dan Salam itu, kita juga berharap segala kesulitan kita dapat segera di mudahkan oleh Allah Yang Maha Agung.

sebaiknya tidak perlu kita saling mengecap seseorang dengan berbagai sebutan, seperti kafir atau wahabi atau ahlul bid’ah ataupun yang lainnya.. karena setiap perkataan kita akan dipertanggung jawabkan nantinya.

tidak perlu juga kita saling mengatakan kita yang paling benar, karena yang paling benar itu adalah Allah, janganlah kita dengan sombong mengatakan kita yang paling benar, karena salah satu dosa yang pertama kali dilakukan oleh mahluk Allah adalah Sombong, yang menyebabkan Iblis dikeluarkan dari surga dan menjadi calon penghuni neraka.

wassalamu’alaikum wr. wb.

Mengapa saya perlu tegaskan hal ini?

Karena tanggapan dari:
ashabul kahfi
Jan 02, 2011 @ 00:46:34

Katanya dia:
“…
kalimat yang artinya:
BIHI (Yang dengannya)
itu adalah tawasul … kalo ga ngatri tawasul, cari tau dulu deh…
..”

Jadi HI menurut ashabul kahfi (salah satu AHLI amalan sholawat ini seperti Ahamad Lukman dan Sinnus) adalah merujuk kepada TAWASUL, BUKAN nabi. Yang mana merupakan jawaban terhadap tanggapannya Eka (yang berupa copas dari pendapat syaikh zainu(baca:wahhaby katanya)) yang mengatakan kalau menggunakan HI berarti merujuk kepada nabi.

Artinya kan jelas sekali menurut AH (ashabul kahfi) bahwa kalau merujuk kepada nabi TIDAKlah berarti tawassul.

Sedangkan menurut anda (AL dan sin) ( yang saya pahami) bahwa HI tsb merujuk kepada nabi (bener ga?).

Walaupun ujung-ujungnya sama yakni tawassul, tetapi pemahaman anda berdua dan AH, BERBEDA. Berbeda dalam memaknai lafazh HI tsb.

Nah saya hanya ingin tahu LEBIH JELAS apakah anda berdua (AL dan sin) sebenarnya berpendapat seperti AH atau tidak, karena anda semua BERTIGA adalah SAMA-SAMA pecinta dan pembela amalan nariyah ini. Ditambah-tambah lagi, AL dan Sin pun sebenarnya tidak secara tegas mengatakan YA atau TIDAK ketika ditanyakan apakah lafazh HI tsb merujuk kepada nabi atau bukan. Tetapi dijawab dengan penjelasan tentang tawassul yang belum dibutuhkan oleh pertanyaan yang sederhana.

Apakah karena perasaan solidaritas kepada AH sehingga anda tidak katakan secara JELAS dan terang bahwa HI tsb BUKAN merujuk kepada TAWASSUL, yang mana berarti menjelaskan KEBODOHAN yang NYATA dari AH terhadap bahasa arab.Sehingga anda tidak dapat secara TEGAS mengatakan bahwa HI merujuk kepada nabi.

Yang saya mau kejelasan dari anda adalah ketegasan anda apakah anda tetap bisa berlaku objektif walaupun kawan pecinta nariyah anda tampak bahlul.

Saya ulang deh sekali lagi,

Apakah lafazh HI pada sholawat nariyah merujuk kepada nabi atau bukan?

Mari kita lihat apakah AH dan SIN bisa menjawab dengan tegas dan tidak bertele-tele. Yakni jawaban YA atau TIDAK.

Sorry, ralat :

Al Karim : Yang Maha Pemurah.

@Teddy

Alhamdulillah saudara Teddy berusaha memberikan kesejukan dalam pembicaraan masalah ini. Semoga Allah memberikan ganjaran yang baik atas niat anda.

Tetapi, saudara Teddy. Sayang sekali, inilah salah satu kelebihan bahasa arab. Kata ganti NYA dalam bahasa arab tidak sama dengan bahasa kita. Dua diantaranya adalah HI dan HA yang dua-duanya berarti NYA dalam bahasa kita, tetapi berbeda penggunaannya untuk yang digantikan. Bagi yang sudah belajar sedikit banyak bahasa arab mungkin ini tidak asing lagi.

Sedikit saya ulas sedikit dengan cara yang disederhanakan bagi yang belum pernah belajar bahasa arab tetapi ingin tahu bagaimana aplikasinya khusus untuk sholawat nariyah ini. HI adalah NYA dalam bahasa arab yang digunakan untuk menggantikan kata benda(noun) tunggal yang bertipe muzakkar(jenis laki-laki). Sedangkan HA digunakan untuk yang bertipe muannats(jenis perempuan).

Contoh kata (benda) (isim) muzakkar antara lain : masjid(masjidun), kuda(hishoonun), meja (maktabun), pintu (baabun), kunci (miftah), pena, dll termasuk NABI(nabiyyun) dan Muhammad (muhammadun)

Contoh kata (benda) (isim) muannats: Matahari (Asy-syams), Madiinah (madiinatun), Aisyah, sapi (baqarah) dan kata-kata lain yang umumnya (saya tidak tahu kalau mungkin ada pengecualian) berakhiran dengan ta marbutoh. Jadi kalau ada kata yang berakhiran ta marbutoh maka bisa kita anggap kata tsb adalah muannats dan kata gantinya adalah HA dalam bahasa arab TERMASUK sholaat atau sholawaat. Karena menggunaka ta marbutoh.

Jadi dalam lingkup sholawat nariyah ini berdasarkan kaidah bahasa arab, HI tsb tidak dapat tidak, hanya dapat mengacu (REFER TO) kepada nabi. Sedangkan kalau memang mengacu kepada sholawatnya sendiri, maka tidak digunakan HI oleh si pembuat sholawat ini. Ini awalnya sudah dicopas oleh Eka dari penjelasan syaikhnya.

Menjawab hal ini, dengan tergesa-gesa menurut Ashabul Kahfi, HI tsb merujuk kepada tawassul. Ini jelas keliru dan menunjukkan kebodohan dalam bahasa arab karena kata tawassul tidak disebutkan dalam sholawat ini sehingga HI tidak menggantikan apa-apa dalam untaian kata-kata yang ada dalam sholawat nariyah. Padahal.. kata sholawaat sendiri yang disebutkan dalam nariyah ini adalah salah satu bentuk tawassul. Dan.. mengganti HI kepada tawassul menjadi lebih terlihat bodoh lagi kalau kita melihat pendapat ahmad lukman dan sinnus, karena kalau maksudnya tawassul (menurut versi AL dan Sinnus), HI tetaplah mengacu kepada Nabi karena yang demikian itu adalah tawassul juga yang dicontohkan salaf.

Jadi pecinta sholawat denga versi AH mentakwil-kan lafazh HI dengan tawassul untuk membenarkan sholawat ini, dan setelah jelas kebodohan penakwilan ini, lalu AL dan Sinnus menetapkan HI untuk kata ganti nabi sendiri dan meluaskan tawassul untuk hal tsb dengan mengambil contoh salaf.

Pendapat AH sudah jelas terlihat bodoh, tidak perlu kita bahas. Tetapi menetapkan HI (NYAT tsb) adalah mengacu kepada nabi. Apakah ini bukan masalah besar wahai saudara Teddy?

Assalamu’alaikum wr. wb

Sodara Sunnis, terima kasih atas penjelasannya. dari penjelasan saudara sunnis saya jadi mengetahui lebih banyak tentang bahasa arab.

keutamaan sholawat sendiri adalah membuka hijab antara Allah dengan hamba-Nya, dan dengan terbukanya hijab tersebut, kita dapat menyampaikan doa dan pengharapan kita kepada Allah SWT. dan doa itupun tidak harus di ucapkan dalam bahasa arab.

tentang sholawat nariyah, awalnya tentu adalah untuk pribadi pembuat shalawat itu sendiri, oleh karena itu hanya pembuat shalawat lah yang memahami makna dari sholawat yang diucapkannya.

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). ” Al Baqarah:269

dan dengan kadar ilmu yang kita miliki, kita masih sangat jauh dari sekedar faham tentang Al-Quran dan As Sunnah.

maka dari itu marilah kita kembali ke niat kita masing-masing ketika ber-sholawat baik dengan sholawat nariyah atau pun bacaan sholawat yang lain apakah kita berniat musryik atau lillahi ta’ala, kepada siapa kita berharap atas kemudahan dari segala kesulitan kita, dan tentunya hanya kepada Allah kita berharap.

benar atau tidaknya, musryik atau tidaknya kalau kita bersholawat dengan sholawat nariyah, wallahu a’lam, kita serahkan semuanya kepada Allah SWT, karena Allah lebih mengetahui apa yang ada didalam hati manusia dan Allah pasti akan memberikan ganjaran atas apa yang dilakukan oleh umatnya.

hanya Allah yang berhak menentukan seseorang itu termasuk dalam golongan orang-orang Musryik atau Kafir, bukan manusia. saya hanya mencoba mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam kesombongan dengan mengatakan kitalah yang paling benar, hasutan syaithon itu sangat halus, sangat halus sampai kita tidak dapat menyadarinya. semoga kita tidak digolongkan sebagai orang-orang yang sombong. Tidak perlu saling klaim siapa yang paling benar, karena kebenaran itu datangnya dari Allah.

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” Al Mu’minuun:71

sekiranya, permasalahan ini tidak perlu lagi diperdebatkan, karena dapat menjadi pemecah umat. selama kita masih memegang teguh kalimat syahadat, dan terus meningkatkan ibadah dan keimanan kita, Insya Allah, kita tetap digolongkan sebagai orang-orang muslimin.

Wassalamu’alaikum wr. wb

@Teddy,

Perlu anda ketahui, saya tidak samasekali mencap orang-orang yang mengamalkan sholawat nariyah ini MUSYRIK. Yang perlu saya tegaskan dalam halaman blog ini bahwa sholawat ini BERISI KESYIRIKAN. Apakah pengamal sholawat ini langsung terjatuh MUSYRIK atau TIDAK, tidak ada hak sama sekali bagi saya.

Dan ingat, jangan anda ikut-ikutan kebiasaan suka memvonis orang lain. Anda sepertinya tidak suka orang lain menuduh tanpa dasar. Tetapi anda sendiri sudah menuduh orang lain dengan mengatakan merasa dirinyalah paling benar. Saya pikir baik yang pro maupun kontra dalam masalah ini (termasuk Teddy saya pikir), TIDAK ADA yang merasa paling benar. Yang ada hanyalah orang-orang yang merasa benar sesuai dengan pemahaman masing-masing. Dan setiap orang yang sudah merasa benar tsb, punya potensi untuk dapat mengikuti kebenaran yang hakiki tergantung dari rahmat Allah kepada orang tersebut.

Anda sudah jelas sekali BERBURUK SANGKA kepada sesama muslim dengan pikiran anda itu.

Terlepas dari perasaan saudara Teddy terhadap pendapat-pendapat yang menurut Teddy merasa dirinya paling benar. Ada berapa pertanyaan kepada sdr Teddy.

1. Apakah saudara Teddy yakin benar dengan pendapat Teddy dalam blog ini?
2. Apakah sesuatu amalan bisa dinilai baik hanya dengan melihat dari NIATnya saja?

Mau dijawab atau tidak adalah hak Teddy, tetapi yang penting untuk saya adalah saudara-saudara paham dengan apa maksud dari pertanyaan sayatsb.

@Sunnis+Sinnus+Teddy
Saya pikir kita berbeda dan silakan tasamuh dalam perbedaan. Hujjah sudah disampaikan, silakan bersikap sesuai keyakinan.

-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸‎ τ н ∂ и κ ч ö ü •̸Ϟ•̸‎-̶̶•-̶̶

Assalamu’alaikum wr. wb.

Saudara Sunnis,

Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika saya dianggap telah berburuk-sangka kepada saudara-saudara sekalian. tidak ada niat ataupun hak bagi saya untuk memvonis sesuatu apapun disini.

kalau memang sholawat nariyah mengandung kesyirikan, bukankah pengamalnya juga dapat terjerumus dalam kesirikan, sehingga secara tidak langsung, anda mengatakan orang yang mengamalkan sesuatu yang mengandung kesyirikan, adalah orang syirik. ini jika berdasarkan argumen anda yang mengatakan bahwa sholawat nariyah berisi kesyirikan. ini hanya pendapat saya secara logika, dan bukan sebagai vonis terhadap anda. karena saya percaya, bahwa tidak ada maksud dari saudara sunnis untuk mengatakan siapapun itu telah berlaku syirik.

bila disini ada pro dan kontra, lalu dimana saya? karena saya tidak menyalahkan yang Pro atau pun menyalahkan yang kontra.
bukankah sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa saya hanya sekedar mengingatkan saja, agar dalam diskusi ini kita tidak menjadi berlebihan dalam masalah ini yang pada akhirnya kita saling mengucapkan sebutan yang tidak layak kepada sesama muslim. dan saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, jika niat dan apa yang saya lakukan tidak berkenan bagi saudara2 sekalian.

dari pertanyaan saudara sunnis,
1. Ilmu yang saya miliki masih terlalu dangkal untuk permasalahan ini, saya tidak merasa paling benar ketika menyampaikan pendapat saya. tentang siapa yang benar dan siapa yang kurang benar, wallahu a’lam, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.
2. Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Al-Khaththab). saya tidak memiliki hak untuk menyatakan sesuatu tentang amalan itu baik atau tidak walaupun saya mengetahui akan niat seseorang.

Saya tidak memandang siapapun diforum ini sebagai orang yang salah, karena saya beranggapan kita semua sedang berlomba-lomba dalam kebaikan. fastabiqul khoirot. semoga apa yang kita lakukan ini mendapat manfaat dari Allah SWT.

Sekali lagi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika apa yang saya sampaikan tidak berkenan, tidak ada sedikitpun dalam benak saya untuk berburuk sangka terhadap sesama muslim.

Wassalamu’alaikum wr. eb.

@Teddy,

Perlu anda ketahui, ketika seseorang itu melakukan amalan kesyirikan, kekafiran, bid’ah tidak serta merta membawa status seseorang kepada musyrik, kafir atau ahli bid’ah. Perlu persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi terhadap orang tsb dalam memvonis hal demikian. Hal ini sudah ada pembahasannya di kalangan ulama kalau anda ingin mencarinya dan bukan tempatnya disini saya membahasnya.

Respon saya terhadap jawaban anda:
1. Saya tidak menanyakan anda yakin paling benar, yang saya tanyakan adalah apakah anda yakin benar atau tidak. Berbeda antara merasa paling benar dan merasa benar. Yang pertama ada unsur konotatif sedangkan yang kedua merupakan suatu hal yang harus dalam diskusi. Tentu saja seseorang harus menyadari bahwa yang disampaikannya adalah kebenaran, barulah dia berhak mengeluarkan pendapatnya itu. Bila tidak maka pelajari dulu, sampai paham dan anda yakin benar barulah kita sampaikan. INGAT, anda akan dipertanyakan tentang apa yang anda sampaikan. Jadi paham dulu, yakin dulu baru sampaikan.

Dan juga perlu disadari, dengan merasa benarnya kita, tidak membuat kita menutup mata dan hati terhadap pendapat orang lain. Karena kebenaran memang tidak mutlak ada pada masing-masing kita. Bisa jadi kali ini kita benar dan bisa jadi keliru. Dan kita harus kembali kepada kebenaran bila menyadari TERNYATA yang tadinya kita anggap benar adalah SALAH. Ini memerlukan jiwa besar tentunya dan merupakan kekurangan kita.

Di lain sisi, kalau memang ternyata yang kita yakini MEMANG BENAR, maka sudah sepantasnya juga dipertahankan. Dan sampaikanlah kebenaran tsb kepada saudara-saudara kita. Tidak malah dengan alasan persaudaraan kita buat kebenaran itu menjadi kelabu. Justru karena kita sama-sama saudara karena sama-sama muslim sehingga diperlukan nasehat kepada kebaikan. Ingat, kita akan senantiasa berada dalam kerugian bila tidak ada saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

2. Mengenai amal apakah sudah cukup dengan niat. Hal ini harus anda cari jawabannya. Ini bukan masalah hak atau tidak dalam menentukan baik atau tidak suatu amalan. Tetapi kita sebagai muslim HARUS TAHU dan YAKIN apakah suatu amalan itu baik atau buruk. Harus tahu berarti kita harus bisa menilai. Dari sini baru nanti muncul apakah amalan tsb patut diamalkan atau tidak. Bila RAGU maka sudah sepantasnya amalan tsb ditinggalkan karena masih banyak segudang amal yang sudah jelas baik yang tentunya belum kita kerjakan. Bila YAKIN BAIK maka sudah sepantasnya kita kerjakan. Karena anda akan dipertanyakan tentang amal yang anda kerjakan.

Mengenai hadits tentang niat yang anda sampaikan, itu bukan menjelaskan bahwa hanya dengan niat saja suatu amalan dinilai. TETAPI menjelaskan bahwa niat yang ikhlash kepada Allah adalah SALAH SATU SYARAT amal diterima.

Ini mungkin tanggapan saya yang sudah umum diluar topik tentang sholawat nariyah. Sekedar meluruskan saudara Teddy.

@sdr AL,

Kali ini saya setuju dengan anda, hujjah sudah disampaikan oleh masing-masing. Pembaca bisa menilai mana yang mau diikuti atau ditinggalkan.

Semoga bermanfaat dan mudah-mudahan Allah mengampuni bila terdapat kekurangan dan kekeliruan dalam apa yang saya sampaikan.

Setelah mengikuti diskusi di milis ini perihal Sholawat Nariyah dan topik
lainnya, saya membayangkan bahwa disini sangat kental dengan aura
kesombongan, hawa nafsu, saling menghujat dan ingin saling mengalahkan.

Jadi untuk apa saling berjidal …..
Saya yakin 101%, diskusi seperti ini tidak akan menghasilkan kebaikan dan
manfaat, bahkan cenderung membawa mudarat, karena sudah disisipi
oleh iblis dan setan laknatullah.
Karena dasarnya bukan dari hati untuk saling mengisi dan mengingatkan, tapi didasari oleh hawa nafsu untuk saling mengalahkan.

Coba kalian masing-masing baca lagi postingan ini sejak dari awal sampai dengan yang terkahir,
kemudian coba rasakan apa yang terbersit dan terasakan didalam hati:
ada rasa marah, emosi, dongkol, tidak terima, ingin membalas dll….
Kalau itu yang dirasakan di dalam hati, menunjukkan bahwa diskusi ini
sudah disusupi oleh setan iblis laknatullah, karena tugasnya untu membuat hati menjadi resah.

Jadi…….
Sekali lagi hentikan berjidal……….
Lebih baik hidup masing-masing saja, jangan saling menyalahkan, jalankan saja apa yang menjadi keyakinan masing-masing.
Perbaiki sholat kalian… karena sholat akan mencegah perbuatan munkar termasuk berjidal.
Perbaiki sedekah kalian…… berikanlah sedekah yang terbaik yang kalian miliki sesuai dengan sunnah Rasul. Jangan sampai memperbanyak debat sunnah Rasulnya, tapi sedekahnya tidak dilaksanakan.

Bicaralah dengan “HATI” bukan dengan emosi……..
Hidup ini hanya sekali, mengapa harus saling menyakiti…..
Ingatlah besok lusa kita akan mati, apa bekal yang akan kita bawa nanti menghadap Illahi……

Tapi harap diingat saja :

KETIKA ANDA MENGARAHKAN TELUNJUK KE ORANG LAIN DENGAN MENGATAKAN

“KAMU BID’AH, KAMU SYIRIK, KAMU KAFIR, KAMU MUNAFIK DSB..”,

SESUNGGUHNYA, EMPAT JARI YANG LAIN MENGARAH KE DIRI ANDA SENDIRI.

JADI KITA MASING-MASING BERBANYAKLAH INSTROSPEKSI DIRI.

BANGUNLAH PADA SEPERTIGA MALAM TERAKHIR, SHOLAT DAN MOHON
KEPADA ALLAH SWT. UNTUK MENUNJUKKAN JALAN YANG BENAR.

Wassalam

Untuk ustadz Ahmad Lukman,

Terima kasih atas berbagai informasinya yang ada di site ini, saya sangat menikmatinya.
Mudah-mudahan Allah SWT membalas kebaikan anda dengan pahala
yang berlipat ganda. Dan Insya Allah anda akan kebagian pahala dari orang yang membaca dan mengamalkannya

Amin.

@Pribados Teu Ngartos

Anda yang mengatakan telah “MENGIKUTI” diskusi ini saya pikir telah mengikuti dengan hawa nafsu juga.

Perhatikan baik-baik, TIDAK ada seseorangpun yang mengatakan ataupun bermaksud mengatakan:

“KAMU BID’AH, KAMU SYIRIK, KAMU KAFIR, KAMU MUNAFIK DSB..”,

Pemahaman yang anda dapat setelah membaca diskusi sholawatan ini telah jelas disisipi setan yang menyebabkan anda ber-BURUK SANGKA terhadap sebagian orang-orang yang memberi pendapat di dalam diskusi ini.

Coba anda baca lagi semua pendapat dengan baik dan benar-benar netral dan mencari kebenaran.

Ingat, apa yang anda tulis sebagai pendapat anda diatas telah menunjukkan bahwa secara tidak langsung anda telah menjidal orang lain dengan cara yang buruk walaupun anda selipi dengan nasehat yang baik, dan bahkan lebih buruk yaitu MENUDUH orang lain tanpa hak atas sebab kurang jelinya anda membaca pendapat-pendapat yang ada.

Semoga dapat memberi manfaat. Dan kalau ada yang keliru, mudah-mudahan Allah mengampuni saya.

Tambahan buat Pribados,

Kata pribados:
“Lebih baik hidup masing-masing saja, jangan saling menyalahkan, jalankan saja apa yang menjadi keyakinan masing-masing.”

Ini adalah perkataan munkar yang perlu kita waspadai, karena akan mematikan dakwah dan bertentangan dengan perintah Allah untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Ingat pribados, menasehati dalam kebenaran bukan hanya meyuruh sholat dan zakat dan apa-apa yang hanya ada di kepala anda. Menasehati disini punya makna yang luas, jangan anda sempitkan dengan pemahaman anda. Dengan panasnya kuping dan hati anda terhadap nasehat-nasehat yang tidak sesuai dengan yang anda pahami tidak berarti akan menggugurkan atau menyempitkan perintah tsb. Mudah-mudahan hati anda lebih terbuka terhadap hal yang tidak sesuai dengan adat istiadat dan kebiasaan anda.

Cobalah timbang segala sesuatunya atas Alkitab dan Assunnah, dan jangan kalahkan kedua ini dengan perasaan anda.

Sunnis,
Anda sangat sensitif dan reaktif sekali, padahal dalam tulisan saya, saya tidak menyinggung anda, tidak menuduh anda dan tidak menyalahkan
anda.

Ada apakah gerangan……dengan hati anda………….???

Dengan tulisan anda diatas jelas-jelas anda sangat menyakiti hati saya..

Walaupun di akhir tulisan anda sudah mohon ampun sama Allah, tapi saya
yang telah anda sakiti belum memaafkan anda, karena anda belum minta maaf sama saya.

Selama anda belum minta maaf, saya akan terus berdoa :
“Yaa Allah saya telah disakiti oleh saudara Sunnis, untuk itu saya mohon kepadaMU Ya Robb, pindahkanlah amal kebaikannya ke diri saya dan
pindahkan amal keburukan saya kepadanya”. Amin

Tenang Pribados,

Saya hanya sekedar menasehati anda, walaupun anda tidak merasa menuduh, tetapi cobalah anda baca-baca lagi tulisan anda kalau memang anda yang menulis. Walaupun anda tidak secara langsung menuduh saya, tetapi paling tidak anda secara tidak langsung menuduh paling tidak satu orang yang memberi pendapat dalam diskusi ini. Coba baca lagi baik-baik apa yang anda tulis.

Tentang doa anda kepada saya, mudah-mudahan tidak dikabulkan Allah. Karena saya menegaskan kekeliruan anda dalam rangka menjalankan perintah Allah. Karena didalam perkataan anda terdapat pemahaman yang batil.

Bisa sekali doa anda sdr Pribados itu terkabulkan kalau memang saya menuduh anda tanpa haq. Dan kalau yang sebenarnya adalah sebaliknya, yakni anda (pribados) telah menuduh saya tanpa haq. Maka anda yang akan menanggun dosa-dosa saya.

Semoga Allah mengampuni anda saudara pribados, saya dan semua. yang tentunya bila tidak melakukan syirik kepada Allah. Dan juga semoga Allah memberi petunjuk kepada kita untuk beramal sholeh dan juga agar selalu mendoakan kebaikan kepada orang lain.

Amin.

Akhlak yg baik tidak kepada semua Alloh anugerahkan.

Ya Alloh anugerahkanlah kami akhlak yg baik dengan haq NabiMU Muhammad SAW. Amien

Semoga Alloh memberkahi kehidupan mas dengan keberkahan Nabi Muhammad SAW. Amien

oiya sdr pribados,

bila anda katakan saya reaktif, mungkin benar. Tetapi kalau sensitif, saya pikir anda jauh lebih sensitif daripada saya.

Sekedar mengingatkan anda, agar anda bisa melihat keadaan anda sendiri.

PEACE..

Saudara Sunnis,

Kalau anda tersinggung, saya mohon maaf, karena itulah kewajiban saya untuk meminta maaf kepada orang yang merasa saya sakiti.
Mudah-mudahan dengan demikian Allah akan mengampuni dosa dan kesalahan saya.

Apakah anda akan memaafkan saya dan juga apakah anda akan
meminta maaf kepada saya, itu terserah anda lah….

Saya pikir tidak ada yang perlu sakit hati di forum seperti ini. Mudah-mudahan kita bisa lebih dewasa.

Kita seharusnya bebas mengeluarkan pendapat kita, tetapi yang penting kita bisa mempertanggung-jawabkan apa yang kita ungkapkan.

Anda bisa menjelaskan kekeliruan saya… silahkan.. saya dengan senang hati mendengarnya. Kalau memang tepat sasarannya. Kan saya juga berhak mempertahankan pendapat saya.

Tapi kalau anda sekedar sensitif dengan komentar orang lain, maka sebaiknya anda tidak usah berkomentar, kan lebih aman bagi perasaan dan harga diri anda.

Semoga saudara pribados tidak tambah sensitif dan bisa membuat lebih berjiwa besar bagi saya dan sdr pribados, terimakasih.

HUJJAH YANG BERTENTANGAN DIANTARA SHEIK WAHABI

Sheik Albani Vs Sheik Bin Baz Vs Sheik Utsaimin
1. SHEIK Al-ALBANI mengatakan shalat ba’diyah asar itu adalah Sunnah (lihat silsilah al-Ahadits ash-Shahihah juz 6 halaman 1013-1014). Jika SUNNAH berarti MENDAPAT PAHALA
2. SHEIK BINBAZ mengatakan shalat ba’diyah asar itu Haram (lihat Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Mutranawwiyah Syaihk bin Baz Juz 11 Hal. 286). Jika HARAM berarti MENDAPAT DOSA
3. SHEIK UTSAIMIN berkata: “Shalat asar itu tidak memiliki rawatib baik qobliyah maupun ba’diyah. Yang disunnatkan bagi manusia adalah shalat dua rakaat sebelumnya sebagai shalat mutlaq. Dan apabila anda tidak mendapatkan shalat tersebut sebelum shalat asar, anda jangan mengerjakannya setelah asar karena diharamkan kepada siapapun menunaikan sholat sunnat pada waktu-waktu yang terlarang kecuali shalat yang memiliki sebab berdasarkan sabda Nabi: Tidak ada sholat setela asar hingga terbenam matahari”. Lihat Majmu’ Fatawa Wal-Rasail syekh Utaimin juz 14 hal. 343-344). Karena tidak ada dalilnya maka disebut BIDAH.
NAH BINGUNG KAN ?
Di dalam satu mazhab saja banyak kontroversi. Dan Ummat ini mau dibawa kemana Oleh Wahabiyun bila Syeikh-syeikhnya saja tidak jelas?

Jika info dari Renungan benar adanya, kepada siapa pengikut faham Wahhabi mesti bertaqlid? Karena ketiga nama yg disebutkan merupakan ulama Wahhabi yg menjadi rujukan. Albani, bin Baz dan Utsaimin merupakan sandaran yg sangat kredibel bagi mereka. Namun dalam hal ini mereka berbeda pandangan.

Mengutip tulisan mas Sunnis : Tidak ada setelah kebenaran kecuali kebatilan.

Apakah dalam hal ini bisa diterapkan?

Allohu a’lamu

TUHAN…

Ampuni dosa-dosa yang terkadang aku tidak tahu kalau itu dosa…

Tuntun dan bimbinglah aku ke jalanMU yang lurus ini,

Bimbinglah diri yang lemah ini agar tetap lurus dalam BERGURU

Serta tuntun juga orang-orang yang selalu besertaku dalam membesarkan namaMU

Terima kasih atas semua karunia yang ENGKAU berikan hingga usiaku yang ke ….. bulan

TUHAN…

Jangan ENGKAU berikan kekayaan yang membuat aku sombong

Jangan ENGKAU berikan kemulyaan yang membuat aku lalai

Jangan ENGKAU berikan kekuatan yang membuat aku angkuh

Jangan ENGKAU berikan kesenangan yang membuat aku lupa

Jangan ENGKAU berikan kenikmatan yang membuat aku kufur

Jangan ENGKAU berikan tahta yang membuat aku terpedaya

Jangan ENGKAU berikan pahala yang membuat aku tidak ihklas.

TUHAN…

Andai ENGKAU berkenan…

Berikan aku semua dengan kasih dan sayang MU

Hingga aku semakin tahu diri dan mensyukuri segala yang ENGKAU berikan…

TUHAN…

Berikan daku sahabat-sahabat yang selalu setia dalam menggapaiMU

Yang tangguh dan tabah dalam segala kesulitan

Yang tidak menjauh bila diberi kesenangan, tidak mengeluh bila diberi cobaan

Berilah saudara-saudaraku karunia yang membuat mereka selalu bersyukur kepadaMu,

Janganlah kami ENGKAU pecah belah

Janganlah kepada kami ENGKAU titipkan dendam kesumat, iri dengki dan sifat-sifat tercela,

Tapi titipkanlah di hati kami sifat saling menyayangi dan mencintai sesama…

Hari ini dan untuk selamanya

TUHAN…

Perkenankanlah doa hamba ini….

Monggo mas Sunnis dibabar info dari Saudara Renungan diatas…….

Apakah mengikuti Albani, BinBaz atau Utsaimin.

Kalau ikut Albani, berarti BinBaz dan Utsaimin sesat…
Kalau ikut BinBaz berarti Albani dan Utsaimin sesat…..
Kalau ikut Utsaimin berarti Albani dan BinBaz sesat…..

Pokonya mah lieur….!!!!!!

Hendaknya yang kita bahas disini adalah mengenai sholawat nariyah. Dan yang kira-kira yang berhubungan dengan itu.

Kalau anda-anda disini ada yang tertarik dengan perbedaan pendapat syaikh-syaikh yang sebagian orang disini cap sebagai wahabbi, boleh saja. Saya coba komentari, tetapi tidak di halaman ini. Silahkan anda buka posting baru. Bisa saudara Lukman disini atau yang lain yang punya blog yang mudah dibaca dan bebas seperti blog saudara Ahmad Lukman.

Saya kira mengenai sholawat nariyah ini-pun banyak hal yang perlu dikomentari, sehingga cocok dengan judul (sesuai topik).

Setuju?

Tidak setuju

maaf,

Kalau saya tidak setuju membahas sesuatu yang tidak sesuai dengan topik. Harapan saya agar diskusi menjadi efektif. Bila kita terjebak dengan hal-hal yang meluas, maka akan semakin kecil kemungkinan mendapatkan gambaran diskusi yang moga-moga bermanfaat bagi manusia.

Kalau saya sich manut saja sama ustadz Ahmad Lukman sebagai pemilik Blog ini.
Karena beliaulah yang memiliki otoritas untuk menentukan peraturan dalam blognya.

Jadi dalam hal ini saya tidak akan sok ngatur-ngatur, apalagi sampai terjadi menyalahkan Ustadz Ahmad Lukman dalam pengaturan blognya.

shalawat nariyah mengandung kesyirikan: baca terjemahannya..orang2 yg tidak bahasa arab pun bisa paham dari artinya:

Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan, hujan diturunkan, berkat dirinya yang pemurah,

hanya Alloh yg mengatur semuanya bukan Nabi Muhammad..dan banyak ulama’ yg sudah membahasnya..bahwa shalawat nariyah adlah bid’ah..

Sabar bang A. Aziz. Jangan emosi, ndak baik itu ;)

Gini aja, nanti kalo bang sampeyan sakit gak usah ke dokter. Sebab haram hukumnya alias syirik alias masuk neraka alias kekal di dalamnya bagi orang yg MINTA TOLONG kepada Makhluk. Kan jelas minta tolong dan kesembuhan hanya kepada Alloh. Gimana mas?

Kalo saya ya ke dokter/tabib lah. Karena saya yakin pertolongan dan kesembuhan itu datangnya dari Alloh. Jadi gak perlu sampeyan memarahi saya dan muslimin lainnya karena aqidah yg kami miliki tak akan sedangkal sangkaan sampeyan itu. Orang yg gak bisa bahasa Arab aja tahu kok mas yang nyembuhin itu bukan dokter. Mas aja yang PARNO dan kurang bersih istinja

Paham ora Son?

@saudara ahmad lukman,

Kiranya tidak terlihat adanya amarah dalam kata-kata saudara abdul aziz. Pak Abdul Aziz pun tidak terlihat marah-marah seperti yang anda lihat dari kata-kata yang dicopas BUDAK AWAM dari Abu Syafiq.

Apa yang dikatakan Abdul Aziz adalah memperingatkan bahwa ada bahaya kesyirikan dalam Sholawat nariyah.

Mengenai perbandingannya dengan minta tolong sama dokter, tentu saja tidak sama dengan sholawat nariyah. Jauh sekali kalau mau dibandingkan. Coba anda banding-bandingkan lebih kritis lagi.

Yang saya hargai Abdul Aziz,

Pernyataan anda tidak didukung dengan kapasitas keilmuan anda.
Kalau anda berilmu cukup tentu anda akan mengemukakan alasan-alasan
berdasarkan ilmu yang anda kuasai.

Sholawat nariyah dibuat oleh Ulama yang memiliki ilmu yang cukup tinggi
dan sangat mengetahui hukum-hukum dalam agama Islam.

Pernyataan anda lebih mengarah kepada tuduhan. Kalau anda menganggap sholawat nariyah mengandung kesyirikan, berarti secara tidak langsung anda menuduh orang yang menyusun sholawat nariyah telah melakukan kesyirikan.
dan apakah anda yakin bahwa ilmu anda lebih tinggi dari ulama yang menyusun sholawat nariyah tersebut……?????
Ingatlah :”janganlah anda menuduh seorang muslim itu kafir/syirik, karena tuduhan tersebut akan berbalik kepada anda sendiri”.

Setinggi-tinggi ulama siapa pun itu, tetap saja ulama tsb bisa salah dan bisa benar. Bisa dibenarkan ataupun disalahkan. Ini bisa berlaku kepada ulama mana saja semisal Imam Empat dan lainnya. Apalagi ulama yang hanya diakui oleh kalangan tertentu saja dan bukan sama sekali dianggap ulama oleh kalangan lain, tentu saja lebih bisa dibantah.

Dan Abdul Aziz tidak hanya asal tuduh, sudah jelas alasan dari Abdul Aziz yang bisa dengan gampang dicerna oleh bahkan orang awam-pun.

Bila budak awam tidak setuju, maka bolehlah dijawab argumentasi tsb dengan argumentasi yang membuktikannya salah. Dan tentu saja bukan malah dengan menuduh Abdul Aziz secara tidak langsung menganggap pembuat sholawat nariyah ini sebagai musyrik dan lainnya.

Logika darimana ini? Tidak serta merta hal tsb menjadi demikian.. paham?

Ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi sebelum meng-klaim seseorang itu syirik. Sedangkan amalan, tentu saja lebih mudah menilainya apakah hal tsb berisi syirik atau tidak, karena kita sudah sama-sama tahu artinya (sholawat tsb).

Memang bisa dikatakan sdr Abduk Aziz menuduh, tetapi yang harus kita hindarkan adalah, menuduh TANPA BUKTI (TANPA HAQ).

Siapakah yang menuduh tanpa alasan yang nyata???

Sholawat Nariyah adalah sebuah sholawat yang disusun oleh Syekh Nariyah. Syekh yang satu ini hidup pada jaman Nabi Muhammad sehingga termasuk salah satu sahabat nabi. Beliau lebih menekuni bidang ketauhidan. Syekh Nariyah selalu melihat kerja keras nabi dalam menyampaikan wahyu Allah, mengajarkan tentang Islam, amal saleh dan akhlaqul karimah sehingga syekh selalu berdoa kepada Allah memohon keselamatan dan kesejahteraan untuk nabi. Doa-doa yang menyertakan nabi biasa disebut sholawat dan syekh nariyah adalah salah satu penyusun sholawat nabi yang disebut sholawat nariyah.

Suatu malam syekh nariyah membaca sholawatnya sebanyak 4444 kali. Setelah membacanya, beliau mendapat karomah dari Allah. Maka dalam suatu majelis beliau mendekati Nabi Muhammad dan minta dimasukan surga pertama kali bersama nabi. Dan Nabi pun mengiyakan. Ada seseorang sahabat yang cemburu dan lantas minta didoakan yang sama seperti syekh nariyah. Namun nabi mengatakan tidak bisa karena syekh nariyah sudah minta terlebih dahulu.

Mengapa sahabat itu ditolak nabi? dan justru syekh nariyah yang bisa? Para sahabat itu tidak mengetahui mengenai amalan yang setiap malam diamalkan oleh syekh nariyah yaitu mendoakan keselamatan dan kesejahteraan nabinya. Orang yang mendoakan Nabi Muhammad pada hakekatnya adalah mendoakan untuk dirinya sendiri karena Allah sudah menjamin nabi-nabiNya sehingga doa itu akan berbalik kepada si pengamalnya dengan keberkahan yang sangat kuat.

Jadi nabi berperan sebagai wasilah yang bisa melancarkan doa umat yang bersholawat kepadanya. Inilah salah satu rahasia doa/sholawat yang tidak banyak orang tahu sehingga banyak yang bertanya kenapa nabi malah didoakan umatnya? untuk itulah jika kita berdoa kepada Allah jangan lupa terlebih dahulu bersholawat kepada Nabi SAW karena doa kita akan lebih terkabul daripada tidak berwasilah melalui bersholawat.

Inilah riwayat singkat sholawat nariyah. Hingga kini banyak orang yang mengamalkan sholawat ini, tak lain karena meniru yang dilakukan syekh nariyah. Dan ada baiknya sholawat ini dibaca 4444 kali karena syekh nariyah memperoleh karomah setelah membaca 4444 kali. Jadi jumlah amalan itu tak lebih dari itba’ (mengikuti) ajaran syekh.

Agar bermanfaat, membacanya harus disertai keyakinan yang kuat, sebab Allah itu berada dalam prasangka hambanya. Inilah pentingnya punya pemikiran yang positif agar doa kita pun terkabul. Meski kita berdoa tapi tidak yakin (pikiran negatif) maka bisa dipastikan doanya tertolak.

Inilah bacaan sholawat nariyah yang terkenal itu :

“Allohumma sholli shollatan kamilah wa sallim salaman. Taman ‘ala sayyidina Muhammadiladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil kurobu. Wa tuqdhobihil hawa iju wa tunna lu bihiro ‘ibu wa husnul khowatim wa yustaqol ghomawu biwaj hihil kariim wa ‘ala aalihi washosbihi fii kulli lamhatin wa hafasim bi’adadi kulli ma’luu mi laka ya robbal ‘aalamiin”

Artinya :

“Ya Allah Tuhan Kami, limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Semoga terurai dengan berkahnya segala macam buhulan dilepaskan dari segala kesusahan, ditunaikan segala macam hajat, tercapai segala keinginan dan khusnul khotimah, dicurahkan rahmat dengan berkah pribadinya yang mulia. Kesejahteraan dan keselamatan yang sempurnah itu semoga Engkau limpahkan juga kepada para keluarga dan sahabatnya setiap kedipan mata dan hembusan nafas, bahkan sebanyak pengetahuan Engkau, Ya Tuhan semesta alam”

Shalawat Nariyah ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Dengan suatu keyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya:
اللهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تآمًا عَلَى سَيِّدِنَا مًحَمَّدٍ الَّذِي تُنْحَلُ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ عَدَدَ كَلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
“Ya Allah , berikanlah shalawat dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Nabi Muhammad, yang dengannya terlepas semua ikatan kesusahan dan dibebaskan semua kesulitan. Dan dengannya pula terpenuhi semua kebutuhan, diraih segala keinginan dan kematian yang baik, dan dengan wajahnya yang mulia tercurahkan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih. Semoga shalawat ini pun tercurahkan kepada keluarganya dan para sahabatnya sejumlah seluruh ilmu yang Engkau miliki.”

untuk faham artinya kita harus tau keutamaan rasulullah, dlm hadis banyak disebutkan :
hadits qudsi Allah berfirman :”Kalau bukan karena kamu wahai muhammad, kami (Allah) tidak ciptakan dunia”
jadi dengan asbab nabi muhammad Allah ciptakan dunia.

jadi Allah jadikan dunia dan segala isinya, juga segala kejadian, kesenangan, kesedihan, sorga, neraka dan semua makhluq ini karena berkat nabi muhammd SAW…. (keberkatan nabi muhammad saw)
jadi kalo lafadz sholawat saya ganti :
““Ya Allah , berikanlah shalawat dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Nabi Muhammad, yang dengannya engkau ciptakan dunia, yang dengannya engkau ciptakan kesedihan dankesenangan….dsb…”

maka itu tidak menyalahi aqidah dan syar’i….jadi apa masalahnya?
Hadits nabi : “barangsiapa menghukumi perkara agama tanpa ada ilmu, maka ia akan mendapatkan laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya…( HR imam suyuti)

@budak awam

syaikh nariyah ini shohih ga riwatnya ya?

atau orang yang meriwayatkan kisah dari syaikh ini shohih ga riwayatnya.

Dari kitab ulama mana bisa didapatkan kisah tentang syaikh nariyah ini. Tentu saja yang shohih ya..?

Karena tentu saja untuk maslalah fiqh, harus dengan riwayat yang shohih. Setuju kan budak awam?

Pak Ustadz Ahmad Lukman,
Saya minta izin untuk men-copas dari milis tetangg…….
Al-Albani mendakwa: Nabi Muhammad SESAT. na’uzubillah!
Oleh: Abu Syafiq 006 012 2850578

WAHHABI BUKAN SAHAJA SUKA MENGHUKUM KE ATAS ULAMA ISLAM DAN UMATNYA SEBAGAI SESAT. BAHKAN NABI YANG TERMULIA NABI KITA MUHAMMAD TURUT TIDAK TERLEPAS DIHINA DAN DIHUKUM SEBAGAI SESAT OLEH WAHHABI. AL-ALBANI AL-WAHHABI SEORANG TOKOH WAHHABI TERKEMUKA MENGHUKUM NABI MUHAMMAD SEBAGAI SESAT na’uzubillah. (Rujuk Fatawa AL-ALBANI m/s 432)

Inilah parahnya apabila sifat ghuluw melanda pada diri seorang insan. Mereka akan bertindak melampaui batas dalam banyak perkara. Sedangkan Nabi kita Muhammad kerap mengawasi dari sifat ghuluw (melampau) ini antara sabda baginda bermaksud: “Jangan sama-sekali kamu semua (ghuluw)melampau sesungguhnya telah binasa golongan pelampau sebelum kamu”.R.Muslim.

Selain sifat ghuluw itu terdapat faktor lain yang mendorong seseorang itu menghina Nabi Muhammad dan menghukum baginda sebagai sesat iaitu faktor “sengaja menyalah tafsir al-Quran”.
Ya, oleh kerana sifat tidak merujuk kepada ahli tafsir al-Quran yang mu’tabar hanya mentafsirkan ayat al-Quran itu mengikut hawa nafsu sendiri maka berlakulah penghinaan kepada Nabi Muhammad dan menghukum baginda sebagai sesat pula. Samalah dengan mereka yang menyamakan Allah dengan makhluk berpunca dari sifat takabbur hanya mentafsir al-Quran mengikut hawa nafsu sendiri dan padahnya mereka berpegang dengan aqidah tashbih menyamakan Allah dengan makhluk seperti Wahhabi, Ayah Pin selainnya.

NABI MUHAMMAD TIDAK SESAT (LAISA DHOL)
Saiduna Nabiyuna Muhammad solllahu ‘alaihiwassalam merupakan seorang insan yang paling mulia disisi seluruh umat Islam dan makhluk yang paling mulia disisi Allah. Muhammad bin Abdullah tidak pernah berpegang dengan aqidah yang sesat samaada sebelum kenabian mahupun selepas diturunkan wahyu dan dilantik sebagai nabi dan rasul.
Baginda beriman dengan Allah dan berada atas kepercayaan yang tidak sesat sebelum kenabian dan selepasnya.

Amat melampau bagi mereka sengaja menyalahkan tafsir firman Allah lantas menghukum Nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran. Ya Allah! segerakanlah balasanMu terhadap mereka yang menghina NabiMu mempergunakan ayatMu secara salah.
Ya saya (abu syafiq) mengatakan: Sesiapa mendakwa Nabi Muhammad sesat dari kebenaran adalah satu penghinaan kepada Nabi Muhammad dan ulama telah bersepakat bahawa sesiapa yang menghina Nabi maka aqidah dalam bahaya.
Manakala tafsir firman Allah dalam surah Ad-Dhuha ayat 7

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى

adalah bererti: ” Dan didapati pada mulanya engkau dalam keadaan tidak mengetahui segala & seluruhan isi kitab al-Quran dan selainnya kemudian engkau diberi petunjuk kepada mengetahui semua itu”.
Dan ia adalah tafsiran yang sama pada firman Allah:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا

Bererti: ” Dan begitu juga diwahyukan kepadamu (muhammad) pengisian dari kami ketika itu kamu (muhammad) tidak mengetahui keseluruhan isi kitab dan keseluruhan ilmu keimanan…”

Maka jelas! bukanlah surah Ad-Dhoha ayat 7 itu memberitahu Nabi Muhammad adalah sesat dari kebenaran. Tidak sama sekali. Nabi Muhammad tidak sesat dari kebenaran samaada sebelum kenabian mahupun selepasnya. Tetapi ia bererti Nabi Muhammad pada permulaannya tidak mengetahui keseluruhan isi kandungan kitab al-Quran kemudian diberi petunjuk dengan diturunkan al-Quran keseluruhannya. Memberi petunjuk tidak bererti Nabi Muhammad sesat dari kebenaran sebelum itu.

Dalam tafsiran yang lain Imam Qurtubi menjelaskan : ”ayat itu bererti : Dan didapati engkau tidak sepertimana engkau ketika ini, dan tafsiran lain adalah : Dan didapati engkau berada dalam perkarangan dan kawasan kaum kamu yang sesat maka Allah memberi petunjuk dan jalan keluar”.
Lihat! ulama tafsir tidak menyandarkan SESAT ke atas Nabi Muhammad sama sekali bahkan sekiranya hendak dikatakan sesat disitu adalah kaum baginda yang sesat ketika itu bukan nabi yang sesat.

Ini semua membuktikan seluruh ulama tafsir al-Quran yang mu’tabar tidak menghukum nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran samaada sebelum atau sesudah kenabian. Akan tetapi ayat itu mempunyai tafsiran yang menepati bahasa arab yang tinggi kesusasteraan dan kehebatannya dan boleh dirujuk tafsiran ulama Islam mu’tabar yang lain.

PERINGATAN! Tidak boleh dan tidak harus mengunakan ayat tersebut untuk menghukum nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran.Tidak boleh sama sekali!.

AL-ALBANI MENGHUKUM NABI MUHAMMAD SEBAGAI SESAT DARI KEBENARAN
Malangnya semua tokoh Wahhabi antaranya Al-Albani telah menghukum ke atas Nabi Muhammad sebagai sesat dan sesat dari kebenaran. Walaupun ulama tafsir telah menjelaskan makna ayat 7 dalam surah Ad-Dhoha tersebut bukan bererti begitu.
Mari kita lihat pada teks kenyataan Nasiruddin Al-Albani Al-Wahhabi yang menghukum nabi Muhammad sebagai sesat:
” Saya katakan kepada mereka yang bertawassul dengan wali dan orang soleh bahawa saya tidak segan sama sekali menamakan dan menghukum mereka sebagai SESAT dari kebenaran, tidak ada masaalah untuk menghukum mereka sebagai sesat dari kebenaran dan ini selari dengan penghukuman Allah ke atas nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran sebelum nuzulwahyu Ad-Dhuha ayat 7″. Rujuk kenyataan oleh Al-Albani tadi dalam Fatawa Al-Albani mukasurat 432.

Lihat bagaimana Al-Albani mempergunakan firman Allah pada bukan tempatnya. Amat jelas Al-Albani menghukum sesat terhadap umat Islam yang bertawassul dan samakan penghukuman sesat dia itu pula dengan penghukuman Allah terhadap nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran seperti yang didakwa oleh Al-Albani.

Hakikatnya umat Islam yang bertawassul tidaklah sesat bahkan harus amalan tawassul itu.
Sekiranya Al-Albani mahu sangat menghukum mereka sebagai sesat mengapa disamakan penghukumannya dengan firman Allah ta’ala?! dan mengapa Al-Albani mendakwa nabi Mumammad juga sesat dari kebenaran dan jelas lagi terang Al-Albani mengatakan “nabi Muhammad sebagai SESAT (DHOLLUN)! dan ditambah lagi oleh Al-Albani bahawa Nabi Muhammad sesat dari kebenaran! na’uzubillah.

Belagak pandai! ghuluw! pelampau! tidak amanah dalam ilmu! Takfir! Tadhlil! Tabdi’
Itulah pangkat yang selayaknya dengan insan begini. Jika mahu sangat menghukum umat Islam sebagai sesat mengapa nak dikaitkan kesesatan itu pada nabi Muhammad pula?! bukankah engkau sendiri wahai Wahhabi mengucap Wa Asyhadu anna Muhammad Rasulullah?! mengapa menghina Rasulullah pula?! mengapa mendakwa Rasulullah sesat dari kebenaran??! tak kiralah sebelum atau sesudah kenabian. Bukankah ulama tafsir telah menjelaskan?! Apa lagi penghina kamu wahai Wahhabi kepada insan yang mulia ini (Nabi Muhammad)? lalai? sesat? apa lagi?! ………..

Ya Allah! percepatkan balasanMu terhadap penghina nabiMu.

Amin ya Allah

@budak awam

anda terlihat semangat sekali dengan paham yang anda anggap sebagai wahhabi.
boleh-boleh saja sih. tapi tentu saja tidak sesuai dengan topik blog ini.

yang perlu anda ketahui, syaikh al-albani adalah manusia biasa. Yang bisa diambil dan dibuang perkataannya.

@Sunnis

Selama penganut faham Wahabi, masih getol dan agresif membid’ahkan dan mensyirikan sesama Muslim, maka selama itu pula
akan timbul semangat untuk membongkar dan mengekspos apa dan bagaimana faham Wahabi dalam menyesatkan umat Muslim.
Hal ini dilakukan agar Umat Muslim memiliki pemahaman yang
utuh mengenai ajaran/faham Wahabi ini dan tidak terkecoh.

Bagi umat Muslim yang telah melek teknologi dan memiliki akses ke dunia internet, mungkin tidak terlalu bermasalah.
Sebab banyak situs-situs yang telah menjelaskan dengan detil bagaimana sepak terjang faham Wahabi ini.

Tetapi alangkah kasihannya masyarakat yang tidak memiliki akses informasi, ketika selesai sholat maghrib dan yasinan langsung didatangi
oleh penganut Wahabi dan dibilang “Kamu bid’ah, kamu sesat dan kamu telah berbuat kesyirikan” tanpa mereka bisa memberikan argumen bantahan.

Jadi kami juga sebagai umat muslim punya kewajiban untuk menyebarkan
informasi ke masyarakat apa dan bagaimana faham wahabi ini dan
bagaimana cara mereka membelokan/menyesatkan pemahaman masyarakat.

@budak awam,

saya sebenarnya ingin komentar pandangan anda yang buruk sekali terhadap orang-orang yang anda anggap wahabi. tetapi maaf sepertinya kurang tepat dibahas disini.

mungkin anda punya blog atau blog lain yang anda tahu, yang mana memang topiknya wahabi? Mari kita bikin blog baru.

@Sunnis,

Banyak sekali blog yang membahas tentang Wahabi ini, beberapa diantaranya

1. http://forum.ub.ac.id
pilih serba serbi, kemudian pilih topik “Wahabi dibela Wahabi dicela”
debat disitu sudah berlangsung selama tiga tahun.

2. http://salafytobat.wordpress.com

3. Kalau anda masih punya nyali silahkan masuk ke situs

http://abusalafy.wordpress.com

Abu Salafy ini yang juga pengarang buku “MADZHAB WAHABI, Monopoli Kebenaran
dan keimanan ala Wahabi”

4. Kalau nyali anda masih juga tersisa, silahkan masuk kesitusnya NU

Dan masih banyak lagi situs yang lainnya yang membahas mengenai Wahabi ini.

Atau silahkan anda cari di Google dengan kata kunci “kesesatan Wahabi”, disitu akan
muncul ratusan blog yang membahas mengenai Wahabi.
Silahkan anda posting dan berdiskusi dengan orang-orang yang sanghat ahli dalam
memberikan dalil dan hujjah yang kuat yang membuktikan kesesatan wahabi.

Tapi kuncinya anda harus membuka mata hati dan fikiran anda sehingga kebenaran
dapat menyinari anda.
Saya berdoa semoga anda mendapat hidayah dari Allah SWT. Amin

Alhamdulillah saya sangat merasa bersyukur kepada alloh….saya ingat benar ketika saya msih SMA dar kelas 2 hingga saya lulus saya selalu membaca solawat nariyah sehabis sholat maghrip. Saya berdoa smg stelah saya lulus nanti saya di beri kemudahan mencari kerja karena saya berfikir saya tidak akan bisa kuliah karena saya anak orang tidak mampu…Dan ketika saya lulus sekolah, sungguh luar biasa begitu mudahnya saya mencari kerja,,empat kali saya berpindah kerja saat saya melamar kerja dl tanpa harus tes yang sulit bahkan yang keduanya tanpa melamar malah saya yang di minta untuk bekerja dan lamaran sya belakangan di berikan……alhamdulillah hingga akhirnya saya bisa kuliah di sebuah peguruan lebih menariknya lagi baru 1 semester saya sudah bisa mengajar di sebuah SD hingga sekarang,, ini hanyalah sebuah cerita dari saya….betapa maknanya solawat nariyah itu luar biasa,,karena sesungguhnya semua kehendak adalah milik alloh dan melalui solawat nariyah doa kita lbh mudah untuk sampai ke alloh……semoga ini jadi manfaat bagi teman-teman semua.amin

Makasih info tambahan yg bermanfaat mbak/mas Wienayoe. Saya haqqul yakin bahwa ketika mbak/mas melazimkan membaca shalawat Nariyah (atau shalwat lainnya), mbak/mas tidak sedang meminta atau -maaf- menuhankan Rasululloh SAW. Sebab saya yakin mbak/mas (atau muslimin lainnya) tidak senaif yang dituduhkan Wahhabi.

Semoga tambah barokah hidupnya.

Dari Ubai aku berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh aku memperbanyak membaca shalawat kepadamu, berapa seharusnya aku jadikan shalawat ku untukmu?”
Beliau bersabda: “Terserah kamu”
Maka aku katakan: “seperempatnya”
Beliau bersabda: “Terserah kamu, namun bila kamu menambahinya maka itu lebih baik”
maka aku katakan: “Separuhnya”
Beliau bersabda: “Terserah kamu, namun bila kamu menambahinya maka itu lebih baik”
Maka Ubay berkata: “Aku akan jadikan shalawatku seluruhnya untukmu” Beliau bersabda: “Kalau begitu, seluruh keluhanmu akan dicukupi dan seluruh dosamu akan diampuni” (HR. Ahmad)

Alhamdulillah,, Akhirnya ketemu jg Blognya…

aku nukilkan penggalan shalawat diatas

“…..atas penghulu kami Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan, hujan diturunkan, berkat dirinya yang pemurah,….”

allahul musta’an
aku membacaya saja sudah geleng2 kepala, tdk habis pikir ada orang yg mengkultuskan nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam secara berlebihan sebagaimana orang nasrani mengkultuskan isa. yaitu pengkultusan yg mensejajarkan dengan Allah subhanahu wata’ala.

Bukankah hanya Allah semata yang mempunyai kemampuan untuk melepaskan semua ikatan kesusahan dan kesulitan, yang mampu memenuhi segala kebutuhan dan memberikan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih ?

kalo begitu ini adalah bentuk kesyirikan kepada Allah.
maka KETAHUILAH !!!
Syirik adalah Kezhaliman yg sangat Besar dan merupan dosa yg tidak diampuni oleh Allah bagi yg tdk bertaubat kemudian meninggal.

namun bila yg tdk sepakat dg apa yg aku pahami, maka datangkanlah dalil tentang di syariatkannya shalawat nariyah tsbt. bukankah suatu amalan yg tdk ada tuntunanya maka amalan tsbt tertolak ? apalagi mengandung unsur keSYIRIKAN.

kalo aku, kalo tdk ada tuntunanya mending banget aku tinggalin daripada udah komat kamit mulut mengucapkannya namun taruhannya adalah NERAKA dan TIDAK ADA JANJI SURGA, apalagi Keridhaan ALLAH. sementara kalo ga aku amalin ga ada ancaman NERAKA.

orang yg mau di anggap cerdas harus bisa berpikir cerdas.

Apa yang mas Ryan pikirkan sama seperti yang menjadi mainstream Wahhabi bahwa Sholawat ini mengandung kesyirikan. Sholawat ini bid’ah, sebab tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sholawat ini mengkultuskan Nabi Muhammad sampai ke tingkat Dewa atau Tuhan selain Alloh SWT.

Karena tolak pikirnya seperti itu maka sulit memberi pemahaman hatta dengan nalar sederhana. Semua muslimin sepakat bahwa hanya Alloh yang patut disembah dan tidak ada sekutu bagiNYA. Semua muslimin sepakat bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Alloh SWT yang memiliki keistimewaan dengan risalahnya yg unuversal. Muslimin juga sepakat bahwa apa yg tidak DIPERINTAH Rasululloh SAW tidak SERTA-MERTA menjadi Larangan atau HARAM dikerjakan [untuk kasus ini Wahhabi punya argumen yg tidak sama dengan kaum muslimin].

Apa yang terkadung dalam bait2 shalawat Nariyah hakikatnya semua kembali kepada Alloh SWT. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Alloh SWT [Laa hawla wa laa quwwata illa billah]. Muslimin menyadari itu semua. Nabi Muhammad bukanlah CAUSA PRIMA alias Sebab Utama, melainkan hanya sebagai sebab antara.

Sudah diberikan analogi sederhana bahwa jika seseorang sakit dan pergi ke dokter, apa yang ada dalam benak kita? Gegabahkah kita melontarkan fitnah bahwa si fulan MUSYRIK! Karena percaya kepada dokter dan meminta tolong kepadanya. Bukankah iman dan isti’anah hanya kepada Khaliq dan bukan kepada makhluq?

Tentu bagi yang paham hanya tersenyum dan memaklumi.

Yang mengatakan orang yang pergi ke dokter untuk kesembuhan hakikatnya menduakan Alloh dan mengkultuskan dokter sampai ke taraf menjadikan tandingan selain Alloh, tentu belum paham. Saya haqqul yakin dan husnudz dzon kepada semua yang berobat kepada dokter [atau tabib] hanya menjadikan mereka [dokter/tabib] sebagai sarana [wasilah] untuk kesembuhan. Yang menyembuhkan HANYA ALLOH SWT. Ini sesuai dengan firman Alloh, terkait peristiwa Nabi Ibrahim : Jika aku sakit, Dia lah yang menyembuhkan.

Ke dokter atau tidak, kalau Alloh tidak sembuhkan juga percuma! Namun usaha adalah wajib. Hasil kita serahkan kepada Alloh SWT.

Paham mas Ryan?

Jadi gak perlu geleng-geleng kepala seperti orang minum ectasy. Bukalah dada mas Ryan. Cerna lah ilmu dengan hati yg lapang. Jangan fanatik terhadap Wahhabi. Ikutilah jalan para ulama Ahlus Sunnah sebenarnya. Hati2, sekarang banyak yang mengaku Ahlus Sunnah wal Jama’ah, padahal sejatinya Wahhabi.

Berikut beberapa contoh Tawassul sebagai pembuka cakrawala kita untuk menguatkan hukum kebolehan Tawassul :

1. Sufyan bin Uyainah (198 H / 813 M)
Sufyan bin Uyainah berkata: ada dua laki2 saleh yg dpt menurunkan hujan dg cara bertawassul dg mereka yaitu Ibnu ‘Ajlan dan Yazid bin Yadzibin jabir. Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. (kitab al-’illal wa Ma’rifah al-Rijal juz I hal. 163-164 karya Ahmad bin Hanbal)

2 Imam Abu Hanifah (80-150 H/ 699-767 M)
perkataan Abu Hanifah ketika berziarah ke Madinah dan berdiri di hadapan makam Rosulullah saw. yaitu:
“Hai orang yg termulya di antara manusia dan jin dan sebaik-baik makhluk, berilah aku kemurahanmu dan ridloilah aku dg ridlomu. Aku merindukan kemurahan darimu, engkaulah satu2nya harapan Abu Hanifah”
(kitab al-Ziyaroh Nabawiyah hal. 56 karya Sayyid Muhammad al-Maliki)

3. Imam Syafii (150-204 H/ 767-819 M)
“Dari Ali bin Maimun beliau berkata: Aku telah mendengar Imam Syafii berkata: Aku selalu bertabarruk dg Abu Hanifah dan mendatangi makamnya dg berziarah setiap hari. Jika aku mempunyai hajat, maka aku menunaikan sholat 2 rokaat, lalu aku datangi makam beliau dan aku memohon hajat itu kepada Allah di sisi makamnya,sehingga tdk lama kemudian hajatku segera terkabulkan” (kitab Tarikh al-Baghdad juz I hal. 123 dg sanad yg shohih, karya al-Hafidz Abi Bakr Ahmad bin Ali)

4. Abu Ishaq bin Ibrahim bin Ishaq al-Harby (198-285 H/813-898 M)
Ibrahim al-Harby berkata: Makam Ma’ruf al-Karkhy adalah obat penawar yg sangat mujarab (maksudnya datanglah ke makam Ma’ruf al-Karkhy, sebab berdo’a di sisinya banyak manfaatnya dan dikabulkan (Kitab Tarikh al-Islam hal.1494 karya Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman)

5. Ibnu Taimiyah (salah satu rujukan utama Wahhabi) berkomentar dlm kitabnya Al-Kawakib Al Durriyah juz 2 hal. 6 yaitu:
“Tidak ada perbedaan antara orang hidup dan orang mati seperti yg dianggap sebagian orang. Jelas shohih hadits riwayat sebagian sahabat bahwa telah diperintahkan kpd orang2 yg punya hajat di masa Kholifah Utsman untuk bertawasul kpd nabi setelah beliau wafat (berdo’a dan bertawasul di sisi makam Rosulullah) kemudian mereka bertawasul kpd Rosulullah dan hajat mereka terkabul, demikian diriwayatkan al-Thabary”

Alloh memberi petunjuk kepada siapa yg Ia kehendaki

Cerna lagi dengan hati dan niat yang bersih. Jauhkan su’udzon yang tidak berdasar kepada muslimin. Jangan terpukau dengan diri sehingga merasa palih bersih akidahnya dan selainnya rusak. Belajar lagi ke ulama2 yang benar yang menuntun kita pada kesantunan dan jalan menuju syurga.

YANG PERLU DIINGAT bahwa penjelasan yang panjang lebar dalam diskusi mengenai Shalawat ini TIDAK MENGINDIAKSIKAN kepada kewajiban membaca shalawat nariyah. Shawalat Nariyah seperti shalawat lainnya. Jika mau dibandingkan dengan shalawat Ibrahimiyah, tentu shalawat Ibrahimiyah jauh lebih baik, namun bukan berarti shalawat Nariyah ini shalawat yg penuh kesyirikan. Bagi yang ingin mengamalkan silakan, bagi yg tidak juga silakan. Yang mengamalkan akan mendapat kebaikan. Yang tidak juga tidak berdosa.

Semoga mas Ryan diselamatkan Alloh SWT dari fitnah Wahhabi

Ya Robbi bil Musthofa
Balligh maqoshidana
Waghfir lanaa maa madho
Ya Wasi’al karomi…

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلً

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya. (an-Nisaa’:59)

Hai orang- orang yang beriman , bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah yang mendekatkan diri kepada- Nya dan berjihadlah pada wasilah – Nya , supaya kamu mendapat keberuntungan
QS : Al Ma’idah ayat 35

Ya Robbi bil Musthofa
Balligh maqoshidana
Waghfir lana ma madho
Ya Waasi’al karomi

kenapa mlh jd perdebatan..?? ALLAH maha mengetahui..

Akhi Luqman dan lain-lain yang berniat mengagungkan nabi dan mudah-mudahan juga mencintai nabi dan para sahabatnya,

Tidak syak lagi bagi semua muslimin akan WAJIB-nya, sunnahnya, mulianya, pahalanya dan seterusnya.. bersholawat kepada sholallaahu ‘alayhi wasallam nabi Muhammad ‘abduhuu wa rosuuluhuu..
HAMBA-Nya dan RASUL-Nya…

Masalah bukanlah terletak pada sholawatnya ataupun wasilahnya, tetapi kepada pemujaan kepada nabi yang telah melewati kadarnya yang semestinya bagi beliau sholalaahu ‘alayhi wa sallam. Mana dalil untuk hal ini?

Mohon diperhatikan dengan seksama agar waktu dan tenaga kita tidak terbuang sia-sia. Mudah2an kita bisa lebih efektif dan efisien sehingga dapat dicapai manfaat bagi diri kita maupun orang lain.

Maha suci Allah dan segala puji bagiNya.

Akhi Yulisar aka Sunnis, taqlid dan ‘kekhusyu’an’ antum terhadap pendapat Wahhabi telah membuat tabir sehingga penjelasan dan hujjah kuat yg diberikan tidak mampu membawa antum pada hakikat kebenaran. Pengagungan pada ‘Tauhid’ ala Wahhabi memang melenakan banyak kalangan, padahal di bumi Arab dagangan Wahhabi tidak laku terjual (boleh tanya ustadz2 antum yg lulusan Saudi tentang Wahhabi di belahan Arab lainnya)

Pengagungan mana yg menurut antum yg tidak pantas buat Rasululloh? Sudah berkali2 dijelaskan bahwa kami, Ahlus Sunnah, tidak meletakkan Rasululloh SAW sebagai tujuan. Rasululloh SAW adalah MAKHLUQ bukan KHOLIQ. Jelas akhi? Tidak dapat memberi manfaat dan mudharat sedikit pun kecuali atas kehendak dan izin Alloh SWT. Itu sudah dipahami Ahlus Sunnah sejak dari generasi awal sampai kini. Kemudian datang fitnah dari Najd sebagaimana yg sudah diprediksi Rasululloh tentang Qorn al Syaython, tempat berseminya dakwah ilan nar, Muhammad bin Abdul Wahhab, yg mengkafirkan aktifitas Ahlus Sunnah tanpa ilmu.

Sederhananya, kita bersimpuh menghadap Ka’bah setiap hari, setiap waktu. Adakah kita menyembah Ka’bah? Ka’bah disebut Baytulloh tanpa ada yg menyelisihinya. Adakah itu rumah Alloh secara hakikat? Di situkah Alloh bertempat tinggal? Mencium hajar Aswad pun kita sadar bahwa batu itu tidak mampu mendatangkan keuntungan dan bahaya. Sahabat Umar ra pun telah mengatakannya. Hakikat semua kembali kepada Alloh SWT ya akhi.

Yang dengannya,,, begini dan begitu dalam kalimat2 shalawat bukan bicara hakikat. Semua muslimin tahu hal itu kecuali Wahhabi.

Imam al Hafidz Ibnu Katsier (Wahhabi sangat mengaguminya. Ahlus Sunnah pun menghormati dan mengaguminya) menafsirkan surat An Nisaa ayat 64 sebagai berikut :

“Alloh SWT memberi petunjuk kepada orang2 yg berbuat maksiat dan berbuat dosa, apabila diantara mereka melakukan kesalahan dan kemaksiatan supaya MENDATANGI Rasululloh SAW,meminta ampun kepada Alloh di SISInya dan memohon kepada beliau agar memohonkan ampun buat mereka. Karena apabila mereka melakukan hal itu, maka Alloh akan mengabulkan taubatnya, mengasihinya dan menyayanginya. Banyak ulama menyebutkan seperti al Imam Abu Mansyur as Sabbagh dalam as Syamil, cerita yg populer dari al ‘Utbi. Beliau berkata : “Aku duduk di samping makam Rasululloh SAW, kemudian datang seorang a’robi dan berkata : “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun untuk mereka tentulah mereka mendapati Alloh maha penerima taubat lagi maha penyayang (QS. 4:64). Aku datang kepadamu dengan memohon ampun karena dosaku dan memohon PERTOLONGANMU kepada Tuhanku”. Kemudian ia mengucapkan syair :

“Wahai sebaik-baik orang yg jasadnya disemayamkan di tanah ini
Sehingga semerbaklah tanah dan bukit KARENA JASADMU
Jiwaku sebagai penebus bagi TANAH tempat persemayamanmu
Di sana terdapat kesucian, kemurahan dan kemuliaan”

Kemudian a’robi tsb pergi. Kemudian aku tertidur dan bermimpi bertemu Rasululloh SAW dan beliau berkata: “Wahai ‘Utbi, kejarlah dia tadi, sampaikan berita gembira kepadanya, bahww Alloh telah mengampuni dosanya”. (Al Hafidz Ibn Katsier, Tafsir al Qur’an al Azhiem, 1/492)

Kisah al ‘Utbi ini juga diriwayatkan oleh al Hafidz An Nawawi dalam al Idhah fi Manasik al Hajj (hal 498), Ibn Qudamah al Maqdisi al Hambali dalam Al Mughni (3/556), Abu Faraj Ibn Qudamah dalam Syarh al Kabir (3/495), Al Syaikh al Buhuti dalam Kasysyaf al Qina’ (5/30) dan lain lain.

Silakan antum cek rujukan yg ana bawakan ke ustadz2 Wahhabi yg antum taqlid buta padanya. Tentu Wahhabi sangat mengagumi Imam al Hafidz Ibnu Katsier. Coba akhi Yulisar aka Sunnis cerna dan pahami kalimat per kalimat yg disampaikan Imam Ibnu Katsier.

Bahkan al ‘Utbi sendiri tidak meriwayatkan dalam mimpinya perkataan Rasululloh SAW yg menghardik a’robi karena ucapan, tindakan dan akidahnya serta pengagungannya yg kelewat batas atas tanah, makam dan jasad Rasululloh SAW. Bayangkan jika Wahhabi yg meriwayatkan hal ini?!

Semoga Alloh membuka hati antum dan menunjukkan siapa Ahlus Sunnah sebenarnya.
Ya Alloh, lindungi kami dan muslimin dari fitnah Wahhabi dan pengikut setianya. Bi jaahi Thoha al Amien wal hamdu lillahi robbil aalamien

Akhi Lukman,

Mungkin anda melihat saya dan kawan-kawan lain yang menganggap sholawatan ini syirik besar, buta mata hatinya disebabkan tidak bisa melihat bahwa praktek tawassul yang anda agungkan itu merupakan penjelasan atas BENARNYA memuja nabi yang kita muliakan, DENGAN pemujaan yang berlebihan.

Berlebihan? Justru kekhawatiran antum yg tidak berdasar dan berlebihan

Semoga sholawat dan salam selalu tercurah atas beliau nabi kita Muhammad.

Ini shalawat Bathro atau Shalawat Buntung, yg tidak diajarkan oleh Rasululloh Shallallohu ‘alayhi wa sallam

Kalau kita benarkan BERLEBIH-LEBIHAN dalam solawatan ini atas dalih hakikat, maka cukup sederhana sekali untuk membenarkan anak-anak kecil nasrani yang mengatakan: “Kami bangga jadi anak Tuhan…”. Hm…, kok bisa???

He he he… Kami bangga menjadi anak Tuhan Muhammad? Ada2 aja antum ya syaikh

Ya iyalah, boleh-boleh saja lah bilang spt itu, kan pada hakekatnya kita semua tahu bahwa kita bukan anak secara biologis dari Tuhan.., dan seterusnya.. Dan apapun.. bisa kita halalkan dengan dalih hakikat. Na’uudzu billaah.. Apakah nashoro itu menganggap mereka anak Tuhan secara biologis??? Atau anak secara keturunan??? atau anak Tuhan secara langsung yang bisa ditangkap oleh akal…

Beda keyakinan Nasrani akan ketuhanan Isa putra Maryam ‘alayhis salam dengan sanjungan yang indah kepada junjungan alam. Sampai kapan pun Muslimin tidak menempatkan Nabi Muhammad shallalollohu ‘alayhi wa sallam seperti yg dilakukan Nasrani kepada Isa putra Maryam ‘alayhis salam. Hadza buhtanun ‘adziem

Tidak, sekali lagi tidak wahai saudara-saudaraku, Mereka meng-klaim bahwa mereka anak Tuhan karena mereka mengakui Yesus sebagai anak Tuhan dan dengan itu mereka yakin akan selamat dari siksa. Mereka mengatakan demikian karena mereka disayang oleh Tuhan, karena sayangnya Tuhan kepada mereka maka mereka katakan mereka adalah anak Tuhan. Inilah hakekat anak Tuhan bagi Nashooroo.

Isa putra Maryam ‘alayhis salam itu bagian dari trinitas menurut keyakinan Nasrani sampai akhir zaman. Beda akhi

Kalau anda perhatikan, sebelum ini saya sudah pernah menyinggung ini, coba anda lihat2 lagi diatas, mungkin saudara Lukman dan lain-lain lupa karena tidak lama setelah itu muncul lagi bertubi-tubi komen2 yang tidak relevan sama sekali dengan kemusykilan yang ada di dalam solawatan nariyah ini. Sehingga tidak banyak manfaat yg bisa kita dapat karena komen2 yang ngenlantur.

Yang sering ngelantur itu biasanya Wahhabi dan muqollidnya akhi. Coba antum buka forum2 diskusi di internet

Sedikit menyinggung hakikat baitullah yang diutarakan oleh al-akh Lukman, Akh Lukman mengatakan: baitullah apakah benar benar-benar secara hakikat Allah bertempat tinggal di masjidil haram?
Al-Jawaab:
Kalaulah Allah seperti saudara Lukman atau seperti saya, mungkin bisa dipertanyakan apakah Allah bertempat tinggal di Masjidil Haraam? Bahkan.. jangankan Allah ‘Azza wa Jallaa, bila misalnya saudara Lukman adalah orang terkaya di Jakarta, punya rumah 33, villa 11, hotel 77, salah satunya ada di Lombok, apakah saudara Lukman bertempat tinggal di rumahnya yang Lombok???. Nah ini saudara Lukman pun kita tidak bisa menjawabnya.., apalagi Allah!!.. Subhanallah.. wallaahu Akbar… (Laisa Kamitslihii syai’un). Dengan mempertanyakan itu, maka otomatis akhi Lukman sudah menyerupakan Allah dengan makhluq-nya secara tidak sadar. Istigfar yaa akhii.

Itu permisalan akhi. Bahwa Baitulloh itu secara arti Rumah Alloh. Namun keyakinan Ahlus Sunnah, Alloh ada tanpa tempat. Tidak seperti pemahaman Wahhabiyah Mujassimah yang menjadikan langit tempat buat Dzat Alloh

Baik saya lanjutkan komentar saya atas alasan-alasan saudara Lukman yang tidak menyertai unsur-unsur hakikat, dalam rangka membela amalan solawatan ini. Agar lebih terfokus kepada pemujaan thd nabi ini dan tidak tercampur dengan tawassul, saya perjelas maksud anda yang anda tulis dengan huruf besar:

Tawassul, Istighosah, Tabarruk saling berkaitan. Dalam shalawat ada unsur tawassulnya akhi. Ingat dengan BIHI dan BIHA yg coba ingin diganti dalam sholawat Nariyah

1. Menghadap Ka’bah
2. Mencium Hajar Aswad.
3. MENDATANGI Rasululloh SAW ketika hidup .. memohon PERTOLONGANMU (kepada nabi).
4. Semerbaklah tanah dan bukit KARENA JASADMU (nabi).
5. Jiwaku sebagai penebus bagi TANAH tempat persemayamanmu – Di sana terdapat kesucian, kemurahan dan kemuliaan.

Point 1,
Kita diperintah untuk sholat menghadap ke arah masjid al-haram. Dan Ka’bah adalah pusat dari masjid haram. Allah menjadikan Ka’bah sebagai arah untuk menghadap Allah, dan bukan untuk disembah bangunan ka’bahnya. Dan orang yg telah tahu bahwa Ka’bah sebagai arah, TIDAK AKAN berpikir MENYEMBAH Ka’bahnya. Sama ketika kita diprintah nabi untuk sholat menghadap sutroh, bukan untuk disembah tapi sebagai batas. Saya pikir argumen akhi Lukman dengan menghadap Ka’bah dihubung-hubungkan dengan menyembah Ka’bah merupakan permisalan yang memprihatinkan bahkan bagi orang awam-pun yang sudah tahu tentang arti QIBLAT.

Itu lah maksud ane akhi. Jangan melihat fisik orang sujud ke Ka’bah kemudian mengartikan orang menyembah Ka’bah. Ka’bah bukan tujuan tapi sarana mempersatukan arah untuk menyembah Dzat yang maha menciptakan. Begitu pun kalimat2 di dalam shalawat Nariyah. Bukan hakikatnya Rasululloh yang dengan kemampuan Ketuhanannya melakukan hal tsb. Fahim?

Point 2,
Mencium Hajar Aswad. Ini pun tidak kalah memprihatinkannya. Tidak berarti ketika kita mencium sesuatu berarti kita menyembah. Apakah ketika kita mencium ibu kita berarti kita menyembah ibu kita atau sama dengan memuji ibu kita sebagai pengurai segala ikatan?? Apakah sama??

Pengurai segala ikatan itu yang antum pahami apa sih? Kalau ada hamba Alloh yang diberi anugerah oleh Alloh mampu mengurai segala ikatan, kemudian kita katakan hal tsb, syirik? Apa yg diuraikan oleh Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa sallam? Bukankah belenggu kebodohan, kesyirikan, kemunafikan dlsb yang diurai sehingga terlepas semua ikatan2 itu? Siapa hakikat yg mengurainya? Tentu Alloh Jalla wa ‘Ala. Melalui tangan siapa Alloh mengurai berbagai ikatan tsb?

Point 3,
MENDATANGI Rasululloh SAW ketika hidup ataupun ketika beliau sudah wafat, sama sekali ini tidak berarti menyembah atau dapat disamakan dengan memuji nabi bisa menurunkan hujan ataupun memutuskan segala ikatan. Kan ini tawassul, Ingat yaa akhii, tawassul berarti kita menjadikan sesuatu itu perantara, bukan meng-klaim perantara itu sebagai zat yang mampu melakukan hal-hal yang merupakan kekuasaan Allah atau dijadikan sembahan.

Saya gak habis pikir dengan apa yg antum khawatirkan ya akhi. Menurunkan hujan hakikatnya Alloh SWT yang melakukannya. Kalau Alloh mampu untuk melakukannya buat apa Alloh menugaskan Mikail mengurus hujan? Ketika sahabat ra mengadu ke makam Rasululloh SAW : Ya Rasululloh, isytasqi li ummatika, fa innahum qod halakuu. Kemudian hujan lebat turun. Hakikatnya apakah sahabat Rasul tidak tahu bahwa yg menurunkan hujan itu Alloh semata? Lantas kenapa dia meminta Rasululloh untuk menolong ummatnya dengan curahan hujan? Semua kembali kepada Alloh ya akhi. Pemahan antum tentang hal ini, sulit untuk diurai :)

Point 4,
Semerbaklah tanah dan bukit KARENA JASADMU (nabi).
Memang demikianlah jasad para nabi. tidak berarti/tidak sama dengan mengatakan nabi sebagai zat yang mampu melakukan hal-hal yang merupakan kekuasaan Allah atau dijadikan sembahan.

Yang mampu melakukan tanpa bantuan hanya semata Alloh SWT. Karena Alloh berkuasa atas segala sesuatu. Rasululloh adalah perantara. WASILAH ya akhi. Mengenai kalimat ini kenapa antum tidak mengatakan syirik? Masak Jasad mampu membuat semerbak tanah dan bukit? Yang mampu membuat tanah dan bukit semerbak adalah Alloh SWT bukan jasad orang, hatta Rasululloh. Tidak konsisten antum ya akh

Point 5.
Jiwaku sebagai penebus bagi TANAH tempat persemayamanmu – Di sana terdapat kesucian, kemurahan dan kemuliaan.
Pujian kepada nabi seperti ini masih dalam koridor yang sewajarnya. Sekali lagi, tidak berarti/tidak sama dengan mengatakan nabi sebagai zat yang mampu melakukan hal-hal yang merupakan kekuasaan Allah atau dijadikan sembahan.

Masak sih gak syirik? Coba tanya Wahhabi lainnya. Pasti syirik. Masak jiwa dijadikan penebus buat tanah. Antum di luar koridor Wahhabi akhi. Atau belum sempurna kewahhabian antum? Masak kesucian, kemurahan dan kemuliaan ada di tanah. Aneh? [Yang aneh jalan pikiran Wahhabi]

Semoga Allah meberi kita taufik dan hidayahNya

Semoga Alloh menjaga kaum muslimin dari fitnah Wahhabi dan para pengikutnya

Maha suci Allah dan segala puji bagiNya.

Maha suci Alloh yang telah mengutus Nabi Muhammad yang dengannya terurai segala ikatan…

Komen balasan langsung di dalam komen akh Sunnis. Tks

Sebelum saya komentari komentar dari saudara kita Ahmad Lukman, saya pikir ada baiknya perlu saya sampaikan adab dalam berkomentar atau berdiskusi atau membahas sesuatu. Ini penting menurut saya agar mudah-mudahan diskusi atau komentar yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi kita ataupun orang lain.

Ada satu hal yang penting diantara beberapa adab lain yang perlu dihindari dalam blog-blog seperti ini yakni:

Kita tidak sepatutnya menyandarkan/menuding pihak lawan diskusi dengan sandaran kepada kelompok/mazhab tertentu. Terlebih lagi bila sudah tertanam perspektif negatif kepada kelompok tersebut. Dan terlebih lagi gelar kelompok tersebut memang tidak diakui oleh yang tertuding.

Kita ambil misal:

Wahabi, di satu sisi saat ini sudah merupakan suatu gelar kelompok yang bercitra sangat negatif terutama bagi orang-orang yang se-mazhab dengan saudara Ahmad Lukman dan kawan-kawannya. Walaupun sudah ada beberapa tokoh besar maupun kecil dari kalangan ulama di Indonesia yang sudah berusaha membersihkan istilah wahabi ini, tetapi tetap ada sampai sekarang baik dari luar maupun dalam negeri Indonesia yang tetap berusaha mendiskreditkan apa yang dikenal dengan istilah wahabi.

Nah bila sudah terpancang image negatif bagi si lawan diskusi, maka saya yakin yang dominan lebih dilihat bukanlah apa yang disampaikan, melainkan bendera wahabi yang ada di kepala si lawan bicara. Hal ini saya pikir sedikit banyak mempengaruhi objektifitas kita dalam membahas atau berdiskusi.

Alangkah baiknya, bila kita buang jauh-jauh label-label yang dapat memberi jarak antara kaum muslimin terutama bila memang label itu berunsur negatif bagi diri kita.

Tergantung niat kita sebenarnya apakah kita ingin menjadikan blog ini sebagai wadah untuk memuaskan hawa nafsu mencaci atau menghina kelompok tertentu atau sebagai wadah untuk dapat sharing pengetahuan yang dapat memberi manfaat bagi kita semua.

Tidak masalah kita mengatakan sesuatu yang berkesan marah, kesal atau benci terhadap sesuatu yang disampaikan oleh orang lain. Hal ini tidak dapat dihindari dalam suatu sharing atau diskusi dan bisa memberi manfaat bila memang tepat sasarannya. Yang keliru adalah kita menyandarkan orang tsb kepada kelompok yang scope-nya lebih besar. Tentu ini sama saja dengan mengeneralisir pribadi orang tsb yang sangat mungkin sekali kelompok tsb secara umum tdk seperti itu. Jangan hanya karena pendapat sebagian orang dari sekelompok orang, maka kelompok tsb kita klaim adalah seperti yang kita kritisi.

Wahai saudara-saudara sekalian, Apakah kita setuju dengan adab ini?

Kalau tidak, maka tidak perlu saya lanjutkan lagi pembahasan ini karena saya yakin sekali manfaatnya akan minim sekali bagi kita.

Apa yang sdr. Yulisar sampaikan di atas bukan inti diskusi ini. Namun apa yang menjadi mainstream pikiran dan pendapat serta pijakan dalam men-syirikkan kaum Muslimin dari sdr Yulisar sebangun dengan pikiran dan gaya Wahhabi. Jadi gak usah tersinggung kalau disebut Wahhabi. Toh yang diusung pola pikir Wahhabi

Kembali ke laptop…

Tidak ada kata2 yang mengandung syirik dalam shalawat Nariyah. Tidak ada Muslimin yang berlebihan dalam memuji Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam sehingga menyembahnya dan menjadikannya Tuhan selaian Alloh SWT. Tuduhan Wahhabi bagi pembaca dan pengamal shalawat ini tidak berdasar dan lemah.

Ya Alloh selamatkan kami dari fitnah Wahhabi dan para muqollidnya, bi haqqi wa jaahi Rasulillah shollallohu ‘alayhi wa barik wa sallam. Aamien ya robbal ‘aalamien

Iya, memang saudara Ahmad Lukman lebih suka mencerca kaum Wahabi yang dibencinya daripada membahas secara jernih dalam kejelasan kesyirikan rububiyah dalam solawatan nariyah ini

Silahkan anda teruskan adab anda dan kelompok anda dalam memuaskan kebencian anda terhadap istilah WAHABI anda itu.

Mudah-mudahan saudara yang se-mazhab dengan saudara Ahmad Lukman bisa membuka mata kepada tokoh-tokoh lain dalam menilai wahabi selain dari para ustadz atau habaibnya.

Maha suci Allah dan segala puji bagiNya.


Tauhid dibagi 3 itu bid’ah ya akhi Yulisar. Tidak pernah Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam, tidak juga khulafa’u al rasyidin, tidak juga para sahabat, imam2 mazhab, salafus soleh. Tauhid trinitas (rububiyah, uluhiyah dan asma wa shifat) adalah kreasi Ibnu Taymiyah yg hidup 700 tahun setelah zaman kenabian. Jadi itu bid’ah dan kullu bid’atin dholalah wa kullu dholalatin fin nar.

Dari Tauhid trinitas ini lah muncul bahwa tauhid abu jahal, abu lahab dan musyrikin quraisy, lebih lurus ketimbang tauhid muslimin yg mengamalkan tawassul, tabarruk dlsb. Padahal amalan2 yg dituduhkan Wahhabi tsb adalah amalan2 para salafus shalih dan mayoritas Ahlus Sunnah.

Yg membenci Ahlus Sunnah itu adalah firqoh Wahhabi bukan sebaliknya. Diskusi ini hendak mendudukkan permasalahan tuduhan syirik antum ya al akh.

Ana dan mayoritas muslimin Indonesia bermazhab Syafi’ie, salah satu mazhab yg mu’tabar dari 4 mazhab yg hidup dan berkembang sampai kini. Bermazhab adalah haram menurut Wahhabi, sementara ribuan ulama Ahlus Sunnah dan kaum muslimin secara umum bermazhab.

Antum ya akhi Yulisar tetap keukeuh dengan vonis syirik terhadap pembaca dan pengamal sholawat Nariyah. Sementara antum mengambil sumber Tauhid trinitas yg bid’ah itu. Maka tidak akan nyambung ya akhi.

Mari berdiskusi dengan baik dan fokus

Berikut sedikit tentang kebiasaan Wahhabiyyun yang mudah menuduh syirik, kufur kepada Muslimin [tidak beda dengan keyakinan al akh kirom Yulisa]. Orang yang menyebut Ya Rasululloh adalah syirik dan kufur! Na’udzubillah! Padahal Ibnu Umar ra menyebut Yaa Muhammad!

Bandingkan pendapat Wahhabi tsb dengan kisah yang disampaikan al Hafidz Ibnu Katsier berikut ini

Ya Alloh, dengan keagungan NabiMU beserta ahli baytnya, pelihara kami dan muslimin dari fitnah Wahhabi dan para penyembahnya

koq orang2 arab jadi kiblatnya yaa… bukannya kiblat kita di Mekah bukan orangnya bung, gw curiga nih dengan orang2 yg menebar hilafiah jangan2 misionaris berbulu domba. antum…ente… sombong banget bisa ngomong arab ya….? ni kita orang indonesia sesama muslim jangan saling ejek donk.. malu didenger umat nasrani…

Ya.. ya..

Kelihatan sekali memang kebencian orang-orang anti-Wahabi. Rupanya tidak cukup blog2 yang mencaci-maki wahabi di internet, baik yang sesuai dengan topik maupun tidak. Saya kira kalau memang kita menuruti hawa nafsu, maka memang kita tidak pernah akan puas-puasnya.

Yang lucunya, hmm.. di sela-sela kenikmatannya akhuna Ahmad Lukman dalam menghujat orangwahabi dengan tuduhan bid’ah trinitas, anti mazhab, dan lain-lain, dalam blog yang sedang membahas kesyirikan dalam solawatn nariyag ini, al-akh mengatakan:

“Mari berdiskusi dengan baik dan fokus”.

hm…

Saya berikan waktu kepada al-akh Ahmad Lukman dan kira-kira yang semazhab untuk mendiskreditkan orang-orang yang anda kenal sebagai “Wahabi” dan men-share informasi-informasi yang anda kira dapat memburukkan citra Wahabi yang pada hakekatnya sangat mulia di sisi Allah sepanjang yang saya ketahui.

Mudah-mudahan ke depan kita bisa lebih fokus kepada pembahasan sesuai topik tanpa dipengaruhi oleh pemikiran, pemahaman, kecintaan, kebencian pribadi dari suatu mazhab tertentu.

Kembali lagi kepada firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلً

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya. (an-Nisaa’:59)

Bila sudah berbeda dengan alasan apapun, termasuk perbedaan kelompok, mazhab dan golongan tertentu, maka sudah selayaknya bagi kita yang ingin masuk kedalam golongan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian untuk kembali kepada Al-Quran dan Assunnah.

Mari kita timbang segala perbedaan kita (termasuk masalah solawatan nariyah ini) dengan AlQuran dan Assunnah (yang shohiih).

Maha Suci Allaahu tabaaroka wata’aalaa.
Walhamdulillaahi robbil ‘Aalamiin.

Melihat pembicaraan antara mas Sunnis dan mas Lukman cukup membuka cakrawala. Satu bertahan memaksakan bahwa pendapatnya paling benar. Satu lagi memberi gambaran yang jelas dan sederhana yang dapat diterima secara dalil maupun akal. Namun sayang mas Sunnis lebih mendahulukan apriori dan tuduhan ketimbang mencerna pemaparan mas Lukman dengan dada lapang.

Beberapa kali saya mengikuti diskusi anatara mereka yg mengklaim berada di atas jalan sunnah alias Salafi (atau sering disebut Wahhabi -> diambil dari nama penggagasnya Ibnu Abdul Wahhab) dengan para penentangnya. Salafi selalu menyudutkan lawan diskusi dengan sebutan bid’ah, syirik, dlsb. Yang menarik justru dalil yg diberikan oleh lawan diskusinya justru lebih syarih dibanding Salafi. Namun ya itu tadi Salafi selalu membabi buta dalam memegang prinsip yg tidak kuat dasarnya.

Terima kasih mas Lukman atas sharing ilmunya. Untuk mas Sunnis, semoga Alloh memberi hidayah buat mas.

Terima kasih

@pemerhati,

Seolah anda berada di posisi netral, tapi komentar anda jauh sekali dari netral. Saya pikir lebih tepat bila anda dikatakan simpatisan anti Wahabi daripada permerhati (secara umum).

Sudah jelas sekali yang melenceng dari pembahasan adalah pak Lukman dan kawan-kawannya, yang asyik sekali secara membawa informasi diluar topik yang mendisreditkan dan menuduh suatu pihak lalu menisbatkan si lawan diskusi dengan mazhab yang dibencinya itu. Apakah cara seperti itu yang disebut sang pemerhati dengan memberi gambaran yang jelas dan sederhana yang dapat diterima secara dalil maupun akal ? Wah, sungguh jauh panggang dari api.

Malah yang dituduh sebagai penuduh yang apriori adalah si sunnis. Wah wah wah… nggak kebalik itu mas pemer?

@pemerhati, saya kira anda jangan tergesa-gesa dalam memerhatikan sesuatu. Coba di analisa dan dibandingkan dengan pelan-pelan dan kesabaran. Perhatikan dengan melapangkan dada anda seperti yang anda nasihatkan kepada sunnis. Agaknya lebih tepat hal tsb diarahkan kepada pak pemerhati dan kak Lukman dan kawan-kawan yang segolongan.

@sunnis,
Semoga sabar dalam membaca caci dan hina orang-orang yang sudah terburu termakan fitnah anti wahabi. Tetaplah kita fokus kepada perbuatan yang dilakukan, dan tidak kepada mazhab tertentu. Fokus kepada topik, semoga manfaat yang anda inginkan dapat dicapai, dan mudah-mudahan anda sabar untuk tidak menggubris tuduhan-tuduhan yang saya kira tidak satupun orang yang tidak akan marah dengan tuduhan tsb. Bahkan tokoh besar ulama di Indonesia seperti Buya Hamka-pun tidak lolos dari hinaan dan cacian orang-orang anti Wahabi ini.

Intinya, semoga sunnis tetap konsisten dengan topik. Kita tunggu pak Lukman dan kawan-kawan apakah mau fokus kepada topik sholawat ini atau tidak.

Amin.

;)
Dari awal dikatakan bahwa tidak ada kata2 dalam susunan shalawat tsb yg mengandung kesyirikan. Apa yg dianggap syirik oleh Wahhabi adalah kata2 yg konon katanya mengandung arti keTUHANAN. Dimana yg mampu melakukannya adalah Alloh SWT.

Sudah dijelaskan bahwa yg dengannya (keagungan Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa sallam) maka hujan diturunkan, terurai segala ikatan, hilang kesedihan dll mestinya dimaknai sebagaimana hakikat Tawassul. Itu artinya Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa sallam bukan causa prima. Namun sebagai perantara

Sdr. Yulisar sudah sepakat bahwa Tawassul disyariatkan. Namun keukeuh bahwa muslimin melakukan syirik dengan kalimat2 keTUHANAN tsb. Padahal boleh tanya ke semua muslimin yg mengamalkannya : misalnya : adakah muslimin meyakini yg menurunkan hujan dengan kuasanya semata2 adalah Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa sallam atau seperti kisah yg disampaikan ‘Attabi dlm tafsir Ibnu Katsier? Ini yg saya katakan tuduhan tidak berdasar. Atau mungkin sdr Yulisar tidak membaca tafsir imam Ibnu Katsier dan bermain dengan perasaannya. Padahal kita tahu iinadz dzonna laa yughni minnal haqqi syay-‘a

Yg mudah memusyrikkan dan mengkafirkan muslimin sudah ada sejak zaman khalifah ‘Ali karromallohu wajhah. Zaman fitnah besar. Kelompok ini sekarang bermetamorfosis dan mengklaim Ahlus Sunnah. Mereka dahulu pun mengaku paling benar dan menyalahkan imam ‘Ali, seorang sahabat senior, sepupu sekaligus menantu Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa sallam. Selain imam ‘Ali mereka juga mengkafirkan orang yg ikut bertahkim ketika terjadi peperangan antara imam ‘Ali dengan Mu’awiyah. Begitu pun kini, ada sekelompok orang yg mudah mengkafirkan, memusyrikkan muslimin.

Jadi gak heran jika ada yg memusyrikkan, mengkafirkan muslimin karena sholawat ini. Wong tawassul, tabarruk, istighosah pun dikafirkan dan dimusyrikkan mereka yg mengaku Salafi (padahal sejatinya Wahhabi). Padahal amalan2 tsb sudah ada sejak zaman Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa sallam.

Jika Sunnis aka Yulisar serta muqollidnya tetap memberi label syirik kepada pengamal shalawat nariyah. Gak aneh dan biarkan. Wong bermazhab pun dituduh syirik. Padahal ulama2 besar sekali pun bermazhab. Benarlah apa yg disampaikan Dr Said Ramadhan al Buthi, seorang ulama besar Syafi’ie, zuhud, yg tinggal di Syiria : Mazhab tanpa Mazhab. Wahabi itu mazhab, namun mazhab tanpa mazhab yg mu’tabar. Kita tahu bahwa mazhab yg mu’tabar yg hidup sampai saat ini. Karena tanpa mazhab yg jelas, maka sering pendapatnya syadz dan nyeleneh. Ambil contoh fatwa2 Al Albani yg diklaim sebagai Muhaddits padahal tidak memiliki sanad yg bersambung : perhiasan buat wanita haram, muslimin Palestina harus keluar dari negeri Palestina dlsb. Sehingga ibnu Utsaimin, tokoh Wahhabi lainnya mengkritik muhaddits Wahhabi tsb sebagai orang yg tidak mengerti agama. Antar Wahhabi pun saling kecam. Benar kata pepatah arab : sesuatu yg bathil itu pasti bertentangan.

Jadi gak aneh dengan cap syirik, kafir dlsb. Silakan menebar fitnah

Wassalaamu ‘alaa manit taba’al huda

Sudah banyak blog-blog yang mencaci-maki dakwah Wahabi (yang pada hakekatnya adalah dakwah Tauhid) seperti:
1. abusalafy.wordpress.com
2. salafytobat.wordpress.com
3. abu-syafiq.blogspot.com (yang ini kata-katanya kotor sekali, tapi dengan membaca ini kita bisa tahu betapa rusaknya akhlaq orang-orang anti wahabi ini)
4. dan banyak lain lagi termasuk blog-nya kang Lukman ini.

Semoga kita banyak disibukkan oleh AlQuran dan Assunnah daripada sibuk mencaci, menghina dan mencerca sesama kaum muslimin.

Kalau ada yang mengatakan wahabi suka mencap syirik dsb maka bisa kita lihat yang dicap adalah amalannya dan tidak pernah mencap individu atau kelompok tertentu. Sedangkan yang anti wahabi kalau kita perhatikan yang dicap syirik dan kafir adalah langsung kepada invidu. Malah tokoh-tokoh besar-pun mereka cap langsng sebagai kafir dan sebagainya.

Na’uudzu billaah, semoga kita terhindar dari fitnah ANTI-WAHABI. Dan semoga kaum muslimin bisa mengenal hakikat asli Tauhid yang didakwahkan orang-orang yang dicap sebagai WAHABI.

Dakwah Tauhid?
He he he… Dakwah Mujassimah musyabbihah kok dibilang dakwah Tauhid? Laytsa kamitslihi syai”..

Berikut penjelasan yang tidak terbantahkan mengenai akidah sesat Mujassimah Musyabbihah al Wahhabiyah. Semoga antum mengerti. Atau tanya kepada yg paham sehingga tidak beragama dengan perasaan :


Inikah yang disebut dakwah Tauhid? Mari kita belajar lagi. Jangan berislam dengan perasaan dan taklid. Mending kalau taqlid kepada ulama2 mazhab yg mu’tabar. Nah ini taqlid kepada Wahhabi. Na’udzubillahi min dzaalik

jangan sok arab2 an ah…. kita ni di indon. wong orang arab sendiri aja banyak yg masih jahiliyah…. dasar gemblung!!!!

Terbukti yang saya katakan,

Kalau ada yang mengatakan wahabi suka mencap syirik dsb maka bisa kita lihat yang dicap adalah amalannya dan tidak mencap individu tertentu. Sedangkan yang anti wahabi kalau kita perhatikan yang dicap syirik dan kafir adalah langsung kepada invidu. Malah tokoh-tokoh besar-pun mereka cap langsng sebagai kafir dan sebagainya.

Na’uudzu billaahi min dzaalik.

Coba sekalian saudara-saudara check dan recheck, siapakah tokoh yang dihina-hina oleh para anti-wahabi ini, yang tentu saja jangan hanya dari sumber yang anti-wahabi, maka akan kita sama-sama ketahui siapakah yang dicaci-maki oleh pak Lukman dan kawan-kawannya yang sakit hati dengan yang mazhab yang meng-kritik amalan-amalan yang sudah terlanjur dicintainya.

Sebenarnya yang dituduhkan oleh Ahmad Lukman ini lebih tepat disandingkan kepada dirinya. Tidak ingatkah nasehat yang diberikan oleh sunnis ketika Ahmad Lukman menyamakan dirinya dengan Allah. Siapakah sih sebenarnya yang mujassimah?

Ngaca dong Ahmad Lukman..!!

Yuk kita copas kata Ahmad Lukman ketika membawa pendapatnya tentang Baitullah yang tadinya bertujuan untuk membela sholawatan yang dicintainya, terima kasih kepada pak Sunnis yang telah memberi clue.

Kata Ahmad Lukman, si mujassimah:

“Ka’bah disebut Baytulloh tanpa ada yg menyelisihinya. Adakah itu rumah Alloh secara hakikat? Di situkah Alloh bertempat tinggal? ”

Mana ada orang yang yakin dengan keagungan Allah Ta’ala berpikir Allah berTEMPAT TINGGAL di Masjidil Haram?

Ahmad Lukman, si mujassimah sejatinya, berpikir seolah-olah Allah seperti dirinya, yang kalau punya rumah, maka harus ada konsekwensi diTINGGALi, dihuni, seperti layaknya si Ahmad Lukman.

Jangankan Allah, pak Ahmad Lukman, ente aja kalau udah punya rumah atau istanan ratusan biji, kemungkinan besar sekali ente tidak menempati satu persatu rumah ente itu. Apa ente bisa pecah jadi seratus sehingga bisa menikmati istana ente satu persatu?

Jadi kalau dikatakan rumah Allah, maka terima saja-lah predikat rumah Allah bulat-bulat karena memang datang berita tersebut dari Allah dan RasulNya. Tanpa anda hakekat-kan atau non-hakekatkan dengan pikiran dari kepala anda yang sempit itu. Tidak ada hak sama sekali bagi kepala anda itu untuk memikirkan konsekuensi logis dari pernyataan rumah Allah.

Kalau anda tidak mujassim, maka anda tidak akan berpikir sama sekali bahwa baitullah itu akan ditempati oleh Allah atau tidak. Dan tidak perlu anda selewengkan dengan hakekat ataupun tidak. Kita pulangkan semuanya kepada Allah. Kita semua tahu apa itu rumah, dan jangan sekali-kali bayangkan seperti rumahnya Ahmad Lukman (laisa Kamitslihii syai’un). Istigfar kang Lukman… anda yang harusnya bertobat.

Sekali lagi NGACA dong pak Ahmad Lukman.. pada hakekatnya dalam hati/pikiran anda yang paling dalam, telah mengakar sifat mujassimah sejati. Cuman anda hanya perlu introspeksi yang lebih dalam. Dan demikian pulalah yang terjadi pada tokoh-tokoh anda seperti abu salafy atau yang lebih teruk lagi Abu Syafiq itu.

Na’uudzu billaah…

oiya ada yang ketinggalan hehehe….

anda itu man, lebih parah lagi taklid secara membabi buta kepada abu salafy dan kroco-kroco nya itu.. pake otak anda secara jernih dalam membaca tulisan-tulisan para pendusta itu. jangan anda beragama dengan perasaan cinta anda kepada amalan-amalan anda yang anda wariskan dengan bangga dari nenek moyang anda itu.

kembalikan semua kepada dalil, jangan pake otak anda yang mujassimah sejati itu dan perasaan cinta anda kepada ibadah warisan nenek moyang anda itu.

Anda itu sudah diajak kembali kepada alquran dan sunnah sama si sunnis tanpa memandang label-label manapun, tapi anda lebih suka memuaskan hawa nafsu anda. Saya curiga berat anda memang tidak punya dalil yang kuat untuk mempertahankan amalan anda itu, sehingga anda bersuka ria mencaci maki, menghina wahabi yang pada hakekatnya tuduhan tersebut lebih pantas kembali kepada anda sendiri.

Hati-hati man dengan tuduhan anda dan kawan-kawan anda itu, jangan karena kecintaan anda kepada amalan-amalan anda itu malah menjerumuskan anda kepada jurang kehancuran. Hati-hati dengan tulisan dari abu salafy, abu syafiq dan lain-lain, walaupun dalam hati anda, anda sangat senang sekali dengan tulisan mereka.

saya peringatkan dari hadits nabi berikut,

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((أَيما رجُل قال لِأَخِيْهِ : يَا كَافِرُ, فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا , فَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَ إِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ))

“Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60)

Maka dengan dasar ini, wahabi yang anda benci itu tidak mengklaim syirik dan sebagainya langsung kepada pelaku, tetapi fokusnya adalah kepada amalan-nya. Bedakan itu wahai Ahmad Lukman, dan kawan-kawannya Ahmad Lukman.

Fokus dong…
Paham gak ente?

Wahhabi kebakaran jenggot dan membabi buta. Xi xixixixixi…

@ Pemerhati

Yang punya blog aja kagak fokus bang pemer. Apa ente yang mau mulai fokus, tapi nggak ahh.. blm apa-apa ente udah menghujat wahabi.

Dan ente makin keliatan anti Wahabi-nya. Dimata Pemerhati ini cuma ada kacamata anti Wahabi, wahabi baru membela tuduhan membabi buta dari anti wahabi langsung dibilang kebakaran jenggot.

Ga kebalik tuh, para anti wahabi yang tidak henti-hentinya menghujat Wahabi kagak ente sebutin KEBAKARAN JENGGOT?

Hm.. mungkin karena memang anti wahabi ini ga punya jenggot atau jenggotnya tipis banget kali yah..

Kang pemerhati.., tolong perhatikan dengan hati yang jernih ya kang. Masa membela wahabi sedikit udah ente liat kayak kebakaran jenggot. Bahasa pemerhati seperti bahasanya Abu Salafy nih, maa syaa Allaah..

Ente jangan lupa baca blog-blog yang meng-counter tuduhan dan fitnah Abu Salafy yah.. jadi mudah2an anda jadi pemerhati tulen.

ha ha ha

Khawarij itu jenggotnya panjang2, jidatnya hitam2, kepalanya juga plontos2

hm…, benar-benar musibah

Jangan anda tertipu pak pemerhati, janganlah kebencian-mu terhadap suatu kaum membuatmu tidak bisa berlaku adil dan membedakan mana yang bisa diambil dan mana yang harus dibuang. Orang seperti anda ini pasti gampang sekali termakan fitnah-fitnah anti wahabi yang memang banyak berisi sampah.

Nabi kita sholallaahu ‘alayhi wasallam jenggotnya panjang. Demikian pula para sahabatnya. Ada sahabat yang plontos dagunya wahai pak pemerhati??

Khawarij itu masalahnya adalah pada pemahaman mereka terhadap agama. bukan pada jenggotnya, jidatnya atau plontos atw gondrongnya.

Perhatikan baik-baik wahai pak “pemerhati”

Hidup Ibnu Abdil Wahhab!!!

Mari kita berpegang teguh pada akidah yang benar yg dibawa Ibnu Abdil Wahhab! Hancurkan paham sesat, syirik, kufur, bid’ah dimana pun kalian berada!
Kita berada di jalan yang benar. Hanya kita!!!

jelas sekali orang yang memakai nama Ibn Baz ini adalah ANTI-WAHABI yang menggunakan nama tokoh wahabi. Jauh sekali dari akhlaq Ibn Baz yang sebenarnya.

Perlu diketahui, tidak ada seorangpun wahabi baik yang ada di dunia ini yang mengatakan:

Kita berada di jalan yang benar. Hanya kita!!!

Na’uudzu billah dari tuduhan-tuduhan nista para tuduhan ANTI-WAHABI.

wahabi datang belakangan lalu mengklaim yg paling benar..

dibilang wahabi ga mau padahal jelas2 ajarannya dr Ibnu Wahab

mengaku hanya mrk yg ahlus sunnah..padahal istilah ahlus sunnah sudah ada jauh sebelum wahabi muncul..

berhati2lah terhadap mereka..karena Nabi sudah memperingatkan kedatangan tanduk setan dari Najd..ibnu wahab dan pangeran Saud berasal dari Najd

sabda Rasulullah saw :
“Wahai Allah berkahilah wilayah Yaman kami dan wilayah Syam kami”
lalu mereka berkata : dan juga untuk wilayah Najd kita wahai Rasulullah..!
Rasul saw berdoa lagi : “Wahai Allah berkahilah wilayah Yaman kami dan wilayah Syam kami”
lalu mereka berkata lagi : dan juga untuk wilayah Najd kita wahai Rasulullah..!,
Rasul saw menjawab : “Disitulah goncangan, fitnah, dan disanalah terbitnya tanduk syaitan”
(Shahih Bukhari hadits no.990)

aripada Abdullah Ibn Umar r.a., beliau berkata: Rasulullah SAW menyebut: Ya Allah! Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah! pada Syam kami.Maka sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya Rasulallah! Rasulullah pun bersabda: Ya Allah! Berkatilah kami pada Yaman kami dan berkatilah kami Ya Allah! pada Syam kami.Maka sebahagian sahabat berkata: Dan pada Najd kami Ya Rasulallah!Dan aku menyangka (seingat aku) pada kali ketiga Rasulullah SAW bersabda: Di sanalah berlakunya gegaran-gegaran, fitnah-fitnah dan di sanalah terbitnya tanduk Syaitan.
(Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam al-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Ibnu Hibban dan lain-lain).

Hadits di atas menunjukkan nama tempatnya yaitu ‘ najd’. Tapi najd yang mana yang di maksud?
Hadits di atas di perkuat lagi dengan Hadist : “… . dan KEKERASAN HATI adalah milik orang orang Faddadin (arab badui yang bersuara keras) di belakang UNTA -UNTA MEREKA dari arah munculnya TANDUK SETAN (dari) Rabi’ah dan Mudhar ” [ Shahih Bukhari no 3126 ]
Daerah najd di atas di perjelas lagi dengan karakter penduduknya yaitu arab badui yang keras hatinya di belakang unta unta dan dari keturunan bani rabi’ ah dan muhdhar .
Kalimat “di belakang unta unta mereka ” di atas perjelas lagi dengan hadits : “sumber kekafiran datang dari TIMUR, KESOMBONGAN DAN KEANGKUHAN adalah milik orang -orang PENGEMBALA kuda dan UNTA Al Faddaadin Ahlul Wabar ( arab badui) … . ” [ shahih muslim 1 /71 no 52 ]
Sifat keras hati arab badui dan kalimat “di belakang unta unta mereka ” di perjelas lagi dengan sifat angkuh, sombong dan beternak unta dan kuda.
Sedangkan kalimat “sumber kekafiran dari timur ” di perjelas dengan timur di arah terbitnya matahari dengan hadist : “… . sedangkan KESOMBONGAN dan KEANGKUHAN ada pada orang orang Faddadin Ahlul Wabar (arab badui) di arah TERBITNYA MATAHARI ” [ Shahih Muslim 1 /71 no 52]
Hadits-hadits di atas di perkuat dengan hadist : Rosulullah shallallahu ‘ alaihi wasallam menghadap ke arah matahari terbit seraya berkata “dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah dan kegoncangan dan orang -orang yang bersuara keras dan berhati kasar” [ Mu’jam Al Awsath Thabrani 8/ 74 no 8003] .

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukhari no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: “Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian.” Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala’uzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Akan keluar di abad kedua belas (setelah hijrah) nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin” AI-Hadits.

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid Alwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran Wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H/ 1792 M.

Hadits-hadits di atas adalah hadits-hadits petunjuk akan masa yang akan datang, yang belum terjadi, agar ummatnya dimasa itu dapat mengenali dengan jelas ciri-ciri dan tempat munculnya golongan pembawa kekufuran.

Kesimpulan :
1 . Sumber kekafiran berasal dari Najd,dan sudah terjadi di masa Musailamah al kadzab yang mengaku dirinya sebagai nabi setelah Rosulullah saw.
2 . sumber kegoncangan dan fitnah juga dari Najd.terbukti dengan munculnya wahabi yang berkepala keras,berpikiran kaku dan sangat lancar dan fasih lidahnya untuk teriak membid’ahkan dan menganggap sesat kepada saudaranya sesama muslim yang tidak sepaham dengan mereka. Tapi anehnya,wahabi malah lunak dan mengekor kepada kalangan non muslim,bahkan pemerintahnya kini (Saudi arabia) akrab sekali dengan Amerika serikat dan Inggris serta negara kafir yang lainnya.

Hendaklah kaum muslimin sadar sedang ada di pihak yang mana ? Lihat dengan mata yang lebar akan sejarah,dalil dan fakta2 yang ada tentang Wahabi,golongan yang sangat anti terhadap kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh ummat muslim.
Nabi Muhammad Saw sudah wanti – wanti kalau terjadi perpecahan ummatnya , maka ummat Islam agar ikut yang mayoritas . Sementara ini Wahabi bukan ummat mayoritas di seluruh dunia dan tidak pernah akan menjadi mayoritas karena nggak ada dalilnya Wahabi jadi Mayoritas . Yang mayoritas adalah Ahlussunnah Waljama ’ah , terdiri dari 4 madzhab mayoritas . Wahabi tidak masuk , karena menyelisihi 4 Madzhab. Sekali lagi WAHABI bukan mayoritas Ummat islam, WAHABI adalah manhaj gurem ( kecil ) yang menyendiri , padahal Nabi Saw menyuruh kita supaya bergabung kepada Mayoritas Ummat Islam yang terdiri dari ummat Islam penganut beberapa Madzhab.
Semoga bermanfaat.

Semoga Alloh memberkahi mas Rejeb dan Ahlus Sunnah. Aamien yaa Robbal ‘aalamien

Syubhat mas rejeb ini sudah muncul bertahun-tahun lalu daj sudah lama pula dijawab dengan terang dan jelas di blog-blog ahlussunnah (wahabi kata sebagian).

Mudah-mudahan saudara-saudara kaum muslimin tidak hanya cukup puas dengan cerita yang hanya berasal dari kaum-kaum “anti-wahabi”. Baik itu berupa hadits tentang muncul tanduk syaithon dari nejd, mata-mata inggris, pemberontak khalifah ustmani, dan dan dan seterusnya.

Jawaban-jawaban tentang syubhat ini sudah ada dan sudah lama ada. Entah mengapa terkadang di-copy paste lagi oleh anti-wahabi yang belakangan muncul yang sedang semangat-semangatnya karena merasa gerah dengan kritikan-kritikan yang menganggu kecintaannya terhadap amalan-amalan seperti sholawat nariyah ini.

Mereka tidak percaya pada Alloh yang mempunyai anggota tubuh seperti kita. Celaka lah mereka. Mereka mendustakan Alloh duduk di langit sebagaimana kita duduk. Tauhid apa macam itu?

Semoga Allah memberi rahmat kepada Pak Lukman dan Pak Rejeb dan kita semua tentunya, berupa hidayah Sunnah.

Mudah-mudahan bisa memberi jalan petunjuk bagi para anti Wahabi,
insya Allah.. jallaa wa ‘alaa..

Kisah Taubat Seorang yang Menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sesat

oleh Abu Ashim Muhtar Arifin

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh (wafat 1389 H) rahimahullah mengatakan:

“Aku sekarang akan menyebutkan sebuah kisah tentang Abdurrahman al-Bakri, salah seorang penduduk kota Najd.

Pada mulanya ia adalah salah seorang thalibul ‘ilmi (penuntut ilmu) yang belajar kepada pamannya, yaitu Syaikh Abdullah bin Abdullathif Alu Syaikh dan para syaikh yang lain. Kemudian beliau ingin membuka sebuah madrasah di Aman.

Di sana beliau mengajarkan tauhid dari biaya sendiri. Apabila harta yang dimilikinya telah habis, maka beliau mengambil barang dagangan dari seseorang dan pergi ke India. Terkadang beliau menghabiskan waktu selama setengah tahun di India.

Syaikh al-Bakri mengatakan:

“Aku pernah berada di sisi sebuah masjid di India. Di sana terdapat seorang guru, yang mana apabila seusai mengajar mereka melaknat Ibnu Abdul Wahhab, yakni Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Apabila keluar masjid beliau melewatiku. Dan ia mengatakan: “Aku bisa berbahasa arab, akan tetapi aku ingin mendengarnya dari Orang Arab”. Lalu iapun minum air dingin di tempatku.

Aku merasa sedih dengan apa yang telah dia dilakukan dalam ceramahnya. Lalu aku berbuat siasat dengan mengundangnya (ke tempatku) dan aku mengambil kitab at-Tauhid, aku cabut sampulnya dan aku letakkan di rak dalam rumahku sebelum dia datang.

Ketika dia telah hadir, aku berkata kepadanya: “Apakah anda mengizinkan aku untuk membawakan semangka (ke sini)?”. Lalu akupun pergi.

Ketika aku kembali, ternyata di sedang membacanya dan menggerak-gerakkan kepalanya.

Ia berkata: “Karya siapakah kitab ini? Judul-judulnya mirip dengan judul-judul kitab al-Bukhari, ini demi Allah judul-judul al-Bukhari.”

Aku menjawab: “Aku tidak tahu!”. Lalu aku katakan kepadanya: “Bagaimana sekiranya kita pergi ke Syaikh al-Ghazawi untuk menanyakan masalah ini,” yang mana beliau adalah seorang pemilik sebuah perpustakaan, dan beliau telah memiliki bantahan terhadap kitab Jami’ al-Bayan.

Lalu kamipun masuk kepada beliau dan aku berkata kepada al-Ghazawi: “Aku memiliki beberapa lembaran. Syaikh ini menanyakan kepadaku siapakah yang menulis kitab ini? Akupun tidak tahu.”

Al-Ghazawi paham dengan keinginanku. Lalu beliau memerintahkan seseorang untuk mendatangkan kitab Majmu’ah at-Tauhid (kumpulan kitab tauhid), lalu dibawakan kepada beliau, kemudian mencocokkan antara keduanya, lalu beliau mengatakan: “Ini adalah karya Muhammad bin Abdul Wahhab.”

Orang Alim dari India tadi marah dan mengatakan dengan suara yang tinggi: “Orang Kafir itu …!!!”

Kamipun diam, diapun lalu diam sejenak. Sesaat kemudian kemarahannya mereda dan ia pun beristirja’ (mengucapkan innalillah wa inna ilaihi raaji’un).

Ia berkata: “Apabila kitab ini adalah karya beliau, maka sungguh kami telah menzhaliminya”.

Kemudian beliaupun setiap hari mendoakan untuk Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab dan murid-muridnya pun juga mendoakanya bersamanya.

Lalu tersebarlah murid-muridnya di India. Apabila mereka selesai membaca, mereka mendoakan untuk Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab.”

Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 60, hal. 57-58

http://majalahislami.com

http://lautanilmu.ridhofitra.info/2010/05/kisah-taubat-seorang-yang-menuduh-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahhab-sesat/

Doa bersama bukan bid’ah menurut Wahhabi?

Membagi2kan kitab Tauhid Wahhabi kepada seluruh jama’ah haji secara rutin tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam, tidak juga para sahabat ridhwanullohi ‘alayhim, tidak juga tabi’ien, tidak juga para aimmah al arba’ah. Namun bid’ah ini dilakukan terang2an tanpa ada min kibaril ulama Saudi yg menentangnya. Jika membagi2kan buku Tauhid Wahhabi itu baik, maka mereka (kaum salafus sholih) akan mendahului kita.

Kisah syadz ini berbau bid’ah dan penyebarluasan paham Tauhid Wahhabi ini jauh lebih buruk lagi. Bahkan imam Malik ra menolak untuk membagi2kan kitab Al Muwaththo untuk dijadikan standard hukum yg diberlakukan untuk semua orang. Salafus shalih mana yg mereka klaim?

Semoga Alloh SWT menjauhi kita dari fitnah akhir zaman. Amien ya robbal ‘alamien

shollu alaihi….
thx ya

Saudara-saudaraku se-islam, semoga kita diteguhkan diatas Tauhid dan bersih dari kesyirikan baik besar maupun kecil.

Dari respon-respon para “anti-wahabi” dapat kita ambil beberapa faedah:

1. Anti Wahabi menggelari “Wahabi” dengan “MUJASSIMAH”, maka pada hakekatnya ANTI-WAHABI-lah lah sejatinya mujassimah yang mengakar dalam hati mereka (Bisa dilihat di penjelasan diatas)

2. Anti-Wahabi menuduh “Wahabi” dengan kelompok yang gampang membid’ah-bid’ahkan maka pada hakekatnya para anti-wahabi inilah yang mudah membid’ahkan sesuatu amalan. Kalau dikatakah “Wahabi” ini gampang membid’ahkan, maka para anti-wahabi ini lebih dahsyat lagi dalam membid’ahkan sesuatu.

Kalau point satu, saya kira sudah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya pada salah seorang al-akh diatas, tetapi point dua, yakni bahwa ANTI-WAHABI adalah pem-VONIS bid’ah yang dahsyat dapat kita resapi dari respon akh Lukman diatas yang terakhir diatas ini.

Ambil contoh, kata al-akh Lukman :

Doa bersama bukan bid’ah menurut Wahhabi?

Saya jawab: Tidak pernah saya mendengar atau melihat seorang-pun wahabi yang mengatakan bid’ah terhadap doa bersama. Coba deh pak Lukman cari di seantero jagad ini perkataan ulama/tokoh yang anda benci itu yang mengatakan demikian. Mungkin ada seolah-olah mirip seperti itu tetapi kalau anda perhatikan secara seksama maka tidaklah pendapat atau fatwa tsb berkesimpulan seperti yang ada di pikiran akh Lukman.

Terlihat bahwa para ANTI-WAHABI ini begitu mudahnya MENGANGGAP BID’AH dengan konsep BID’AH yang kata anti-wahabi (contoh nyata:akh Ahmad Lukman) dipahami demikian oleh Wahabi.

Jadi ada dua pesan yang kita dapat tangkap dari satu kalimat ceroboh dari akh Ahmad Lukman:
1. Mudah dan tangkas sekali menganggap bi’dah lebih responsif dari pada yang dicap-nya sebagai Wahabi.
2. Ahmad Lukman memiliki pemahaman keliru dalam memahami konsep bid’ah yang menurut dia diserapnya dari wahabi.
3. Berdasarkan poin 2, Ahmad Lukman telah menuduh tanpa haq secara membabi buta bahwa kelompok yang dibencinya mempunyai pemahaman tentang bid’ah yang ceroboh seperti kecerobohan dirinya.

Dengan attitude seperti ini maka tidak heran sekali al-akh Lukman menganggap bid’ah perkara membagi-bagikan buku tauhid kepada kaum muslimin.

Benarlah sabda nabi yang disampaikan diatas yang artinya:

“Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya. Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir adanya maka sebutan itu pantas untuknya, bila tidak maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6104 dan Muslim no.60)

Hanya saja kali ini akh Lukman tidak mengatakan kafir pada Wahabi, tetapi BID’AH. Tetapi di lain tempat, tokoh-tokoh ANTI-WAHABI sudah terbiasa menganggap musyrik, kufur kepada WAHABI bahkan langsung kepada tokon-tokoh-nya.

Maa syaa Allaah.., Wa Na’uudzu billaah.

Tambahan lagi dari perkataan akh Lukman bahwa kisah ini syadz dan berbau bid’ah.

Mengenai BAU bid’ah, tidak perlu saya singgung lagi karena memang sejatinya para ANTI-WAHABI ini lebih dahsyat dalam mem-VONIS bid’ah.

Mengenai syadz, mungkin salah satunya disebabkan logika akh Lukman yang sekali lagi bisa dikatakan ceroboh. Mungkin dipahami seperti ini oleh akh Lukman,

Disebabkan karena syaikh yang membenci Muhammad bin Abdul Wahab tersebut diatas telah bisa menerima dakwah tauhid yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab, maka dianggap akh Lukman secara serta merta syaikh tersebut menjadi WAHABI. Kemudian ternyata syaikh tersebut berdoa bersama para muridnya bersama-sama, yang menurut paham akh Lukman hal tsb bid’ah menurut wahabi.

Kesimpulan akh Lukman, cerita tsb syadz karena wahabi tidak mungkin berdoa bersama.

Wah, buruk sekali logika seperti ini sehingga ceroboh sekali akh Lukman mengatakan syadz terhadap cerita yang tidak disukainya.

Mengapa dikatakan ceroboh?

Tidak serta merta semua orang yang menerima dakwah Tauhid akan langsung meninggalkan semua bid’ah yang telah dilakukannya karena memang adalah hal yang berbeda. Walaupun bila akidah seseorang benar maka dia akan lebih ditunjuki kepada sunnah daripada bid’ah, tetapi tidak se-instant itu, semua perlu proses akh Lukman, jangan terburu-buru.

Jadi bisa sekali seseorang itu masih tetap mengamalkan bid’ahnya sedangkan Tauhid yang benar sudah dipahaminya. Itu semua adalah rahmat dari Allah yang diberikan kepada yang dikehendakinya. Tauhid dan Sunnah adalah dua-duanya rahmat Allah yang sangat besar. Tetapi Tauhid jauh lebih besar, walaupun keduanya memiliki beberapa persamaan.

Dan seperti yang dijelaskan diatas, saya ulangi lagi.. Apakah berdoa bersama-sama itu BID’AH? Wah, anda terlalu tergesa-gesa wahai Al-Akh Ahmad Lukman.

Sebaliknya cerita ini bila dibandingkan dengan cerita asal muasal Sholawat nariyah, maka misalnya bilah akh Lukman mengatakan :

Kisah Taubat Seorang yang Menuduh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Sesat –> SYADZ,

Maka kisah asal muasal Sholawat nariyah ini layak sekali dikatakan MAUDHU (palsu) atau minimal DHOIIFUN JIDDAN.

Semoga Allah memberi kita hidayahnya ke jalan yang lurus.
Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah.

ck ck ck. Anti Wahhabi dibilang mujassimah? Lempar batu sembunyi tangan. Anda sungguh tidak memahami akidah Wahhabi. Jangan2 Anda hanya simpatisan Wahhabi.

1. Anti Wahhabi = Mujassimah?
Mungkin Anda perlu tahu bahwa akidah agama Wahhabi mengatakan bahwa Alloh itu punya anggota tubuh HAQIIQOTAN (secara hakiki) meski dikatakan bahwa bagaimananya terserah Alloh sesuai dengan kemahakuasaanNYA. Lah ini sudah terang benderang hakikat tauhid Wahhabi malah menuduh Ahlus Sunnah yang senantiasa menentang Wahhabi dibilang Mujassimah. Sungguh Anda tidak mengerti atau pura2 bodoh.

2. Doa bersama/dzikir bersama bukan Bid’ah menurut Wahhabi?
Anda tidak paham atau berusaha menutup-nutupi Wahhabi. Anda tidak total dalam masuk agama Wahhabi. Kalo mau Wahhabi jangan tanggung2 mas. Mudzab dzabin namanya (boten ngertos lagi nih). Coba tanya ustadz Anda mengenai doa bersama setelah sholat misalnya. Sunnah atau bid’ah? Ustadz ‘Arifin Ilham dengan dzikir bersamanya, bid’ah atau sunnah? Gak usah menutupi agama Wahhabi

3. Muhammad bin Abdul Wahhab tidak membawa kepada Tauhid seperti yg diajarkan Rasululloh, para sahabat, imam mujtahid, para ulama dlsb. Yang dibawa adalah dakwah kepada tauhid versi Ibnu Taymiyah yang kekeliruannya sudah disebutkan oleh imam2 Ahlus Sunnah semisal As Subki, Ibnu Hajar dlsb. Jadi sudah jelas siapa dan apa yg didakwahkannya

Sebenarnya nama Anda tidak cocok Sunnis tapi Wahhabis. :)

hmm..

Sebenarnya menarik juga untuk menanggapi komentar dari sinnus, dari pandangan-pandangan sinnus dapat kita ambil faedah betapa tidak mengerti-nya pak sin terhadap apa yang disebutnya sebagai wahabi.

Tapi saya pikir lebih baik tidak perlulah ditanggapi perkataan pak Sinnus ini. Karena dari segi itikadnya saja kita sudah bisa berkesimpulan bahwa orang ini menyalahi sunnah. Lihat saja nick yang orang ini gunakan, yakni SINNUS. Tentu tidak digunakan sebagai lawan dari cosinus atau tangen kan… Pasti untuk meng-counter yang bernama sunnis. Nah saudara dekatnya sinnus ini adalah pasti SYIAH. Karena ma’ruf syiah adalah lawan dari sunni. Nah kalau sudah kebelet sama syiah, buat apa lagi dikomentari, wong syiah koq. Tukang berpura-pura alias taqiyah. Dimana taqiyah adalah pokok agama Syiah Rafidhah.

Tentu saja apa yang dikatakan orang yang menamakan diri-nya sunnis tidak mutlak selalu pasti adalah sesuai dengan sunnah, karena yang namanya manusia pasti bisa salah bisa benar, nah ketika si sunnis salah maka jelas dia tidak sesuai dengan sunnah. Tetapi paling tidak, mengapa dia menamakan dirinya sunnis. Ini karena keinginan atau niat untuk menunjukkan kepada saudara seislam sesuai dengan segala kekurangannya, bagaimanakah itu sunnah. Setidak itu yang saya bisa tangkap.

Hadza buhtanun ‘adziem!

Lihat bagaimana argumentasi kaum Nashibi dalam mempertahankan agama Wahhabi

Benarlah apa yang diungkapkan Imam Ahlus Sunnah Muhammad bin Idris Asy Syafi’ie : Jika mencintai keluarga Rasul itu disebut Rafidhi, saksikanlah wahai Jin dan Manusia bahwa aku Rafidhi!

Para sahabat ridhwanullohi ‘alayhim dapat membedakan ciri kaum munafik dan yang bukan dari kebenciannya kepada imam Ali karromallohu wajhah (Ahlul Bayt)

Assmlkm brother..
Mau sedikit tanya niey. Apakah Sholawat Nariyah = Sholawat Munfarijah ?
Mohon penjelasannya.
Terima kasih brother..

Buhtaan?

Aneh, koq rafidhoh bicara buhtan. Buhtaan ini kan memang amalan sholih-nya orang syiah rafidhah. Yang mereka kemas dengan nama TAQIYAH (berpura-pura). Coba deh saudara-saudara cari pengetahuan tentang taqiyah dan hubungannya dengan syiah.

Akhirnya terbongkar kedok si sinnus ini, orang ini ternyata bermazhab rafidhah atau paling tidak simpatisannya rafidhah. Pantas saja gampang menamakan dirinya dengan SINNUS karena memang SYIAH lawannya SUNNI.

Mengenai agama wahabi, maka itu tidak ada. Kalau mau dikatakan mazhab, boleh-boleh saja lah kalau itu dimaksudkan untuk yang setuju dengan pandangan Muhammad bin Abdul Wahab. Tuduhan seperti mujassimah dan lain-lain adalah semata-mata tuduhan tanpa dasar yang jelas. Justru sebaliknya anti-wahabi secara hakiki adalah mujassimah dalam cara berpikirnya. Coba perhatikan kata-kata anda wahai pak sinn-us:

“..bahwa akidah agama Wahhabi mengatakan bahwa Alloh itu punya anggota tubuh HAQIIQOTAN (secara hakiki)”

kata-kata ini anda dapat dari mana??? Ini semata-mata tuduhan. Tidak pernah ada satupun orang yang anda anggap wahabi itu yang berkata demikian. Memang ada yang meriwayatkan demikian, tetapi apakah riwayatnya bisa diterima?

Misalnya riwayat dari musuhnya Ibnu Taimiyah, apakah bisa kita jadikan bukti untuk menunjukkan kesalahan Ibn Taimiyah? Apakah musuhnya tsb memenuhi kriteria sebagai periwayat yang tsiqoh? Sehingga kita memutlakkan kebenaran dari cerita-nya tsb??

Coba anda wahai sinnus, bawakan perkataan langsung dari orangnya, langsung dari kitabnya ulama yang anda katakan wahabi tsb. Jangan asal ambil dari perkataan tokoh-tokoh yang tidak kita ketahui keadilannya. Apakah mentang-mentang tulisannya memburukkan wahabi lantas anda anggap sekonyong-konyong tsiqoh???

Bandingkan dengan klaim MUJASSIM yang diberikan sunnis kepada Ahmad Lukman yang bernotabene anti-wahabi. Yang dijadikan argumen adalah PERKATAAN AHMAD LUKMAN sendiri. Jadi keshahihannya perkataan Ahmad Lukman sudah tidak perlu anda pertanyakan lagi. Bisakah ANDA wahai kaum anti-wahabi mengambil perkataan lansung dari ulama-nya wahabi tentang tuduhan anda itu???

Kemudian mengenai kebanggaan syiah rafidhah tentang perkataan Imam Syafi’i tersebut diatas. Seharusnya rafidhah malu menggunakan perkataan tsb untuk mendukung agama syiah-nya itu. Tidakkah anda wahai rafidhah memperhatikan kata KALAU yang digunakan Al-Imam?

Perhatikan lagi perkataan Imam Besar Ahlussunnah ini:

Jika mencintai keluarga Rasul itu disebut Rafidhi, saksikanlah wahai Jin dan Manusia bahwa aku Rafidhi!

bandingkan dengan Al-Quran surat azzukhruf ayat 81

Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).

Inilah gaya bahasa yang digunakan oleh Al-Imam. Pernyataan tsb TIDAKlah SAMA SEKALI merupakan legitimasi Imam Syafi’i terhadap SYIAH. Tidak, SEKALI-KALI TIDAK.

Mengapa? Mari kita lihat pendapat Al-Imam yang tidak bisa dimakna-i dengan pemahaman lain kecuali bahwa rafidhah itu adalah mazhab yang buruk. Imam Adz-Dzahabi meriwayatkan perkataan Imam Syafi’i tentang syiah rafidhah sebagai barikut:

“Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Syiah Rafidhah dalam persaksian palsu”

Berpegang kepada perkataan Imam Syafi’i ini, maka tidaklah heran kita mengapa rafidhah menganggap TAQIYAH sebagai amalan utama dalam agama mereka.

Untuk tambahan informasi mengenai rafidhah, saya copy paste beberapa pendapat Imam Ahlussunaah terhadap rafidhah:

1. Tersebut dalam kitab As Sunnah karya Imam Ahmad, mengenai pendapat beliau tentang golongan Rafidhah: “Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari shahabat Muhammad saw dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya kecuali hanya empat orang saja yang tiada mereka kafirkan, yaitu: Ali, Ammar, Miqdad dan Salman. Golongan Rafidhah ini sama sekali bukan Islam.”

2. Al Bukhari (wafat tahun 256 H)

Ia berkata: “Bagi saya sama saja, apakah aku shalat dibelakang Imam beraliran Jahm atau Rafidhah, atau aku shalat dibelakang Imam Yahudi atau Nashrani. Dan (seorang muslim) tidak boleh memberi salam kepada mereka, mengunjungi mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi dan memakan sembelihan mereka.”
(Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)

2. Abu Hamid Al Ghazali

Beliau berkata: Karena golongan Rafidhah dalam memahami Islam itu lemah (dangkal), maka mereka melakukan kedurhakaan dengan membuat aqidah al Badaa’. Meriwayatkan dari Ali, bahwa beliau tidak mau menceritakan hal yang ghaib, karena khawatir diketahui oleh Allah, sehingga Allah akan mengubah-nya. Mereka pun meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad, bahwa ia berkata: “Allah tidak mengetahui sesuatu kejadian dimasa datang sebagaimana hanya pada peristiwa Ismail, yaitu peristiwa penyembelihannya. ” Aqidah semacam ini benar-benar suatu kekafiran, dan menganggap Allah itu bodoh dan mudah terpengaruh. Hal semacam ini mustahil, karena Allah itu ilmu-Nya Maha meliputi segala sesuatu. (Al Mustashfaa, 1:110. )

Dan lain-lain………

Mangkanya dimana-mana selalu disandingkan bahwa lawannya SUNNI adalah SYIAH.. Sehingga tidak ada satupun tokoh besar dalam ahlussunnah apalagi IMAM EMPAT yang me-legitimasi syiah wabil khususs RAFIDHAH ini.

Sudah jelas kedatangn SINNUS disini adalah membawa angin rafidhah yang salah satunya adalah sangat MEMBENCI WAHABI.

Jadi…, apakah kawan-kawan semua sesama ahlussunnah masih ingin mendengar pendapat dari orang yang jelas-jelas membela RAFIDHAH?

Semoga Allah menghancurkan RAAFIDHAH (syiah), dan memberikan keselamatan kepada Ahlussunnah (sunni).

Perhatikan tentang siapa Mujassimah Musyabbihah. Jadi jangan asbun mas. Mohon maaf kalau ente gak paham penjelasan berikut. Makanya jadi asbun. Wahhabi yang Mujassimah Musyabbihah malah melempar tuduhan ke Ahlus Sunnah?

Kalau ente keukeuh menyebut rafidhi untuk sebutan orang yang menyintai Ahlul Bait, dengan senang hati. Ane tidak membenci seorang sahabat pun. Mengenai ente yang membenci keluarga Nabi, itu urusan ente. Sungguh ente tidak memahami perkataan dan kondisi dimana Imam Syafi’ie mengatakan hal tsb. Sehingga Nashibi gusar terhadapnya

Ente ngutip perkataan Imam Al Ghozali yang dianggap sesat oleh Wahhabi lantaran aqidahnya menafikan tempat bagi Alloh (Allohu mawjud bi laa makaan). Ente Wahhabi tambeng yang tidak setia dengan ulama2 Wahhabi. Ente mau buat Wahhabi Perjuangan?

Wahhabi mazhab dalam Islam? Wah, ngaji dulu mas. Jangan malu-maluin. Wahhabi itu anti mazhab, bahkan menganggap syirik orang yang bermazhab. Jangan2 ente masih baru masuk Wahhabi. Nih ente pelototin fatwa ulama Wahhabi tentang larangan taqlid mazhab :

Sudah tidak punya landasan yang kuat dalam memusyrikkan orang yang mengamalkan shalawat Nariyah, eh malah lari ke sana kemari.

Dasar Wahhabi tanggung!

Mas, ulama2 Ahlus Sunnah yang membahas mengenai panutan ente Ibnu Taymiyah banyak, seperti Imam As Subki dan Imam Ibnu Hajar, yang kredibilitasnya tidak diragukan lagi.
Perhatikan lagi, jangan taqlid buta :

Kalo gak ngerti, ngaji lagi. Komentar ente dibaca banyak orang. Jangan sampai keterbatasan ente dalam memahami dan mengomentari menunjukkan kedhoifan ente.

aneh..

koq rafidhah mau menjelaskan sunnah. yang ada rafidhah itu mau memecah belah ahlussunnah.

perhatikan Perkataan Ar-Rozi:

Ar Rozi menyebutkan, bahwa shahabat-shahabatnya dari aliran Asyairah mengkafirkan golongan Rafidhah (Syi’ah), karena tiga alas an:

Pertama: karena mengkafirkan para pemuka kaum muslimin (para shahabat Nabi). Setiap orang yang mengkafirkan seseorang muslim, maka dia adalah kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi Saw (artinya): “Barangsiapa berkata kepada saudaranya, hai kafir!, maka sesungguhnya salah seseorang dari keduanya atau lebih patut sebagai orang kafir.”

Dengan demikian mereka (golongan Syi’ah) otomatis menjadi kafir.

Kedua: mereka telah mengkafirkan suatu umat (kaum) yang telah ditegaskan oleh Rasulullah sebagai orang-orang terpuji dan memperoleh kehormatan (para shahabat Nabi).

Dengan demikian golongan Syi’ah menjadi kafir, karena mendustakan apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah.

Ketiga: Umat Islam telah ijma’ menghukum kafir siapa saja yang mengkafirkan para tokoh dari kalangan shahabat.

Tobat dulu ente sinn dari paham rafidhah ente. Kalau udah bersih dari paham ente itu, baru lah komentar di kolom-kolom orang-orang ahlussunnah.

Antum menggunakan pendapat Asyairoh?
Allohu Akbar! Alhamdulillah…

“Jika disebutkan tentang Ahlus Sunnah, maka mereka adalah al Asyairoh dan al Maturidiyah”

Kembalilah wahai para pengikut kami ke jalan Ahlus Sunnah. Kami berlepas diri dari apa yang kami seru sebelumnya karena kami telah mengetahui yang haq yang dahului kami dustai.

Jangan sampai kalian menyesal seperti yang kami alami. Kami tidak bisa kembali dan bertobat. Jangan kalian puja aku setingkat imam Bukhari, karena aku memang tidak memiliki keilmuan tentang itu. Aku menyadari banyak pendapatku yang bertentangan dengan mayoritas umat Islam. Namun syaithan menipuku.

Kembalilah ke jalan Ahlus Sunnah. Aku bertobat, namun tobatku terlambat!

Assalamualaikum semua. Saya Kak Aida dari Singapura.

Saya bekerja sebagai seorang juru jual yang menjual permaidani yang di kira exclusive dan dah tentu mahal harganya. Alhamdulillah, sepanjang saya bekerja di sini, pendapatan saya agak lumayan jugak lah. Bos saya orang cina, dan sudah tentu bukan orang Muslim. Namun saya di izinkan untuk melakukan ibadah Umrah walaupun cuti saya tidak cukup untuk menampung cuti yang saya ambil. Tapi bila saya pulang dari Mekah, penjualan saya agak merosot dan ini telah membuat bos saya agak tidak gembira dengan saya. Saya telah melakukan apa yang sepatutnya namun tidak juga berhasil. Satu hari kakak saya mencadangkan saya untuk mengamalkan Selawat Munjiat. Saya cari di internet ada berbagai2 selawat. Tapi saya terbaca tentang Selawat Nariyah dan juga baca ertinya…Saya selalu di beritahu banyak kan selawat untuk dapatkan keberkahan hidup. Jadi saya cuba yang ini, selain itu saya tambahkan juga dengan solat Dhuha, serta banyakkan zikir juga serta doa… Alhamdulillah, jualan saya meningkat begitu pantas jugaklah… kata orang lumayanlah….:) Bos saya kelihatan seperti malu sama saya kerana dia ada melemparkan kata2 yang kurang menyenangkan kepada saya hingga saya hampir2 mahu berhenti kerja… tapi hati kecil saya suroh saya bersabar dan buktikan kepada dia yang jengkel ini. Mudah2an, dengan keberkahan berselawat keatas Nabi Muhammah SAW, kehidupan kita akan lebih di berkati…InsyaAllah…
Semoga segalanya berjalan dengan apa yang di harapkan…InsyaAllah…

Wa ‘alaykum salam kak Aida. Alhamdulillah, terima kasih banyak atas sharing pengalaman kak Aida. Semoga makin barokah hidup kak Aida dengan amalan shalawat dan kecintaan terhadap shalawat tsb. Apa pun shalawat, baik yg diajarkan Rasululloh saw maupun yg diajarkan para ulama, sesungguhnya mengandung pujian dan kebaikan. Kebaikannya akan kembali kepada kita semua. Kak Aida sudah dimudahkan oleh Alloh dengan bertawassul melalui shalawat ini. Saya yakin 100% bahwa kak Aida tidak sedang menyembah Nabi Muhammad melainkan bertawassul dengannya sehingga Alloh turunkan pertolonganNYA. Biarkan klaim dan tuduhan syirik yang dialamatkan ke orang yang membaca/mengamalkannya. Tidak usah dipedulikan.

Semoga Alloh menunjuki kita jalan yg lurus dengan keberkahan Nabi kita Muhammad SAW. Amien

Semoga kak aida mendapat petunjuk agar dapat mengikuti sunnah. Seperti menjauhi amalan sholawat nariyah ini.

wahai antum yang hanya murni anti wahabi tetapi masih bangga dengan predikat ahlussunnah.

Hati-hati dengan pak sinnus karena orang ini adalah musuh dalam selimut. Yakni musuh sebenarnya yang tidak ketahuan oleh kita. Ini disebabkan si sinnus ini adalah RAFIDHAH. Atau paling tidak simpatisannya rafidhah.

Semoga Allah menjaga kita ahlussunnah dari fitnah RAFIDHAH.

Kak Aida, lanjutkan kebiasaan baik kakak. Semoga kakak ditambah kebaikan yang berlipat-lipat dan rizki yang cukup. Biarkan anjing menggonggong, kafilah berlalu. Memang anjing selalu begitu. Saya menyesal telah melarang dan membid’ahkan serta melemparkan todohan sirik kepada kaum muslimin. Sekarang saya sadar, begitu juga si Albani dan si Baz. Tapi kami tak mampu lagi menarik todohan jorok itu. Pemimpin kami si Dul Wahhab juga kebingungan di sini.

Jangan dengarkan anjing menggonggong kak. Kami amat sangat menyesal

Ngapain lo ngikutin gue Min! Sekarang minta pertanggung jawaban gue. Emangnye nenek moyang lu! Gue aje lagi bingung ngadepin malaikat kubur! Mane serem serem!

@ “Kakak Aida” dan semua sesama ahlussunnah

Pesan saya, semoga kakak dan kita semua banyak-banyak membaca ayat-ayat alquran dan hadits-hadits shahih yang mulia yang berhubungan dengan tauhid dan syirik. Agar kita bisa memperdalam tauhid dan menjauhi syirik.

Semoga kita semua mendapat petunjuk dari keduanya
(Kitabullah wa sunnah).

hahaha… paling si “utsaimin dan dul wahab” di atas adalah si sinnus atau kawan2nya. spertinya udah ga berani pake nama sinnus krn ketauan syiah rafidhah nya.

udah terlanjur membela rafidhah sih .. :D

semoga allah melindungi kita dari fitnah rafidhah.

Kepada semua yang ikut dalam diskusi ini, silakan berargumentasi dengan baik. Tunjukkan hujjah Anda. Gunakan bahasa yang santun. Sebab ujung dari diskusi ini semua adalah mempercaiyai dan mengikuti yang mendekati kebenaran. Bahwa Sunnis, Pemerhati_Juga, Antok dan yang sepaham dengannya, berkeyakinan shalawat Nariyah adalah bid’ah sesat yang mengandung kesyirikan, silakan. Berargumen lah dengan baik dan cerdas.

Sengaja saya tidak memoderasi pendapat yang masuk. Sebab yang berhak menilai mana yang argementasinya sahih dan benar adalah pembaca. Tiap hari rata2 di atas dua ratus orang masuk ke blog ini. Banyak yang membaca dan membandingkan apa yang Anda tulis. Oleh karenanya kedewasaan Anda dalam berkomentar dan mengajukan hujjah sejatinya menunjukkan siapa Anda sebenarnya.

Diskusi yang baik adalah yang membahas inti bukan menyerang pribadi. Silakan mengajukan dalil dan berdiskusi dengan baik.

@Al-akh Lukman dan sesama yang ahlussunnah yang mencintai Rasul dan semua sahabatnya tanpa terkecuali (non-rafidhah).

Saya sudah pernah mengajak anda sekalian disini untuk fokus kepada yang dibahas yakni sholawat nariyah dengan dalil-dalil langsung baik Al-Quran maupun As-Sunnah. Tetapi anda-anda yang anti-Wahabi lebih suka untuk menjelek-jelekkan wahabi dibanding membahas secara fokus mengenai sholawat nariyah.

Berkenaan dengan “menyerang pribadi”, apakah tidak anda lihat bagaimana sinnus (yang bermazhab/simpatisan rafidhoh tsb) dan malah anda sendiri mendiskreditkan tokoh-tokoh besar seperti Ibn Baz dan Utsaimin dan lain-lain. Apakah anda-anda ini tidak menyerang beberapa pribadi tokoh besar dunia diatas?? Mungkin bagi para anti-wahabi kecil sekali, tapi bagaimana dengan yang selain anda??

Bahkan anda dan orang-orang yang semazhab dengan anda begitu asyik ketika masuk ke dalam area penuduhan wahabi sebagai MUJASSIMAH. Apakah karena mereka sama dengan anda yakni membela mati-matian sholawat nariyah dan menggunjing mati-matian wahabi maka tetap terlihat “BERDISKUSI DENGAN BAIK” di mata anda?

Kalau memang anda berniat baik seperti yang anda sampaikan, saya sambut dengan sangat senang sekali. Mari kita bahas sholawat nariyah sampai sedetail-detailnya dengan segala hujjah yang bisa diterima semua orang. Yakni dengan Alquran dan Assunnah. Karena bila kita kaum muslimin sudah berbeda pendapat mentok.. pada suatu hal, maka wajib kita kembali kepada Allah dan RasulNya. Kalau kita kembali lagi kepada perkataan imam kita, kiyai kita, habib kita, ulama kita atau ustadz kita masing-masing, maka tidak akan selesai-selesai dan kita tidak mengikuti perintah Allah yakni mengembalikan kepada Alquran dan Assunnah sesuai dengan ayat Alquran yang telah pernah dijelaskan diatas di surat an-Nisaa.

Semoga kita mendapat manfaat dari blog ni.

Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya.

Assalamualaikum semuanya ya….
Maaf jika kata2 Kak Aida ini salah pada pandangan kamu semua. Pada pendapat kak Aida, Sholawat Nariyah ini bukan berertikan kita memperbesarkan Nabi Muhammad SAW lebih dari Allah, jauh sekali menyembah Nabi. Cuba kita menghalusi erti dari ayat nya. Olih kerana Nabi Muhammad SAW amat di sayangi Allah, kita mohon dari Allah dari kebaikan Nabi kita. Ibarat kata orang kita “ambil berkatlah”. Sesuatu yang ringan itu jangan di beratkan…berbalah2 sesama kita itu begitu di sukai olih syaitan…yang penting, nawaitu kita dan tauhid kita…tidak menyekutukan Allah… Allah sangat suka hambanya meminta dari Nya, dan kalau kita meminta beserta sholawat keatas Nabi Muhammad SAW, lagi2 Allah suka…
Jangan berbalah hanya mahu menuding jari bahawa orang itu salah dan aku betul…
Maaf sekali lagi ya dari Kak Aida…ini hanya pendapat dari saya yang dhaif…:)

Wa ‘alaykum salam kak Aida. Apa yang kak Aida lakukan tidak bertentangan dengan apa yang diajarkan Rasululloh SAW. Shalawat Nariyah adalah shalawat pujian yang dengannya kita bertawassul kepada Alloh melalui kemuliaan Nabi Muhammad. Ini adalah jalan yang benar. Para pengikut Ibnu Abdul Wahhab atau yang dikenal dengan sebutan Wahhabi (seperti yang disebutkan dalam tafsir Ash Showi penjelasan dari tafsi Jalalayn) menolak shalwat ini dan mengatakan bahwa shalawat ini penuh dengan kesyirikan.

Mereka berkeyakinan bahwa dalam kalimat2 shalawat Nariyah adalah kalimat2 keTUHANAN dimana tidak boleh diberikan kepada Rasululloh. Kaum Muslimin dipaksa untuk mengikuti apa yang Wahhabi pahami mengenai kalimat2 tersebut. Sementara Ahlus Sunnah memahaminya sebagai kalimat2 yang memiliki makna lain atau majazi. Semua kekuatan dan kekuasaan hakikatnya kembali kepada Alloh SWT.

Pernah diberikan contoh yang paling sederhana, ketika kita sakit kemudian pergi ke dokter dan mengatakan tolong saya pak dokter. Beri obat supaya saya kembali sehat. Adakah kalimat2 syirik dalam contoh sederhana ini? Tidak usah diperdebatkan lagi. Mengapa? Karena kita yakin orang sakit tersebut tidak meminta kepada dokter kecuali sebagai wasilah. Orang sakit tersebut juga tidak sedang menuhankan obat. Karena hakikat yang mampu menolong dan yang mampu menyembuhkan adalah Alloh semata. Dokter dan obat hanyalah perantara.

Nah para pengikut mazhab Wahhabi tetap berkeras bahwa sholawat ini penuh dengan kesyirikan. Yang mengamalkannya jatuh pada jurah syirik. Syirik adalah dosa yang tidak diampuni dan pelakunya kekal di dalam neraka. Mudahnya Wahhabi menjatuhkan hukum seperti Khawarij. Ini lah Khawarij masa kini yang mudah menjatuhkan vonis syirik, kafir dan halal darah.

Jadi kak Aida tidak perlu bingung dan risau dengan sepak terjang Wahhabi. Dimana pun Wahhabi hal baru yang bertentangan dengan jumhur (mayoritas) ummat Islam. Silakan kak Aida teruskan bid’ah hasanah ini. Semoga Alloh SWT memberkahi hidup kita. Amin ya robbal ‘alamin

@ Sinnus, terima kasih dengan catetan kamu itu. Saya memang setuju dengan kamu. Kita sakit jumpa doktor dan di beri ubat makan terus baik. Tapi bukan doktor yang baikkan kita tapi dengan izin Allah.
InsyaAllah, saya akan meneruskan usaha saya ini.
Terima kasih…

اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ، ناصر الحق بالحق ، الهادي إلى صراطك المستقيم ، وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Assalamualaikum semua…
Sekali lagi kita ketemu di blog Ustaz Ahmad Luqman.
Selain di blog ini, Kak Aida juga ada ziarah di blog yang lain dan
Kak Aida ketemu sesuatu yang mungkin dapat clear kan sedikit
salah anggap dari segolongan kamu di sini tentang Sholawat Nariyah…
Sila lah di baca:

“Banyak sekali artikel-artikel yang ditulis oleh segolongan kaum yang mengatakan sholawat nariyah itu sesat, syirik.

Padahal sholawat ini ditujukan untuk Rasulullah, tidak ada yang lain.

Berikut ini jawaban Habib Munzir Al Musawwa mengenai sholawat nariyah

Alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,

Rahmat dan Cahaya keridhoan Nya swt semoga selalu mengiringi hari hari anda,

saudaraku yg kumuliakan,
mengenai shalawat nariyah, tidak ada dari isinya yg bertentangan dg syariah, makna kalimat : yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta”, adalah kiasan, bahwa beliau saw pembawa Alqur’an, pembawa hidayah, pembawa risalah, yg dg itu semualah terurai segala ikatan dosa dan sihir, hilang segala kesedihan yaitu dengan sakinah, khusyu dan selamat dari siksa neraka, dipenuhi segala kebutuhan oleh Allah swt, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik yaitu husnul khatimah dan sorga,

ini adalah kiasan saja dari sastra balaghah arab dari cinta, sebagaimana pujian Abbas bin Abdulmuttalib ra kepada Nabi saw dihadapan beliau saw : “… dan engkau (wahai nabi saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang, dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala shahihain hadits no.5417), tentunya bumi dan langit tidak bercahaya terang yg terlihat mata, namun kiasan tentang kebangkitan risalah.

Sebagaimana ucapan Abu Hurairah ra : “Wahai Rasulullah, bila kami dihadapanmu maka jiwa kami khusyu” (shahih Ibn Hibban hadits no.7387), “Wahai Rasulullah, bila kami melihat wajahmu maka jiwa kami khusyu” (Musnad Ahmad hadits no.8030)

semua orang yg mengerti bahasa arab memahami ini, Cuma kalau mereka tak faham bahasa maka langsung memvonis musyrik, tentunya dari dangkalnya pemahaman atas tauhid,

mengenai kalimat diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, adalah cermin dari bertawassul pada beliau saw para sahabat sebagaimana riwayat shahih Bukhari.

mengenai anda ingin membacanya 11X, atau berapa kali demi tercapainya hajat, maka tak ada dalil yg melarangnya,

demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu,

wallahu a’lam

Dan juga
1.tidak ada hal yg berlebihan dalam shalawat nariyah, dan shalawat itu sudah diamalkan dan diakui oleh para ulama ahlussunnah waljamaah, hanya kelompok sempalan yg muncul di akhir zaman ini saja yg mengingkarinya, mereka mengingkari semua hal yg memuliakan orang yg dimuliakan Allah,
mereka tertular dg sifat Iblis yg menolak memuliakan Adam yg dimuliakan Allah swt,

Iblis beribadah dan tak menduakan Allah selama berjuta tahun, namun ia berbuat salah.. menolak memuliakan orang yg dimuliakan Allah,
nah.. demikianlah mereka ini kelompok sempalan abad ke 20 yg tertular dg sifat Iblis tanpa mereka sadari, semoga Allah melimpahkan hidayah atas mereka.

sumber http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=8&id=1900&lang=e“n

Assalamualaikum kak Aida. Menarik sekali ulasan yang disampaikan al Habib Munzir al Musawwa, salah seorang dzurriyah Rasululloh SAW. Lugas, mudah dimengerti dan sesuai syariah. Ini lah yang sulit dipahami oleh Sunnis alias Yulisar dan yang sepaham dengan mereka. Yang dipahami oleh mereka dan kita dipaksa untuk menerima keyakinan mereka dari kalimat2 : yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan, hujan diturunkan : adalah bahwa itu semua HAKIKAT. Tidak ada tafsir lain kecuali apa yang ada adalah hak TUHAN bukan makhluk.

Argumen sudah diberikan, contoh sederhana pun sudah ditampilkan. Namun sama seperti Arab Badui khas Najd (ulama menyebutnya sebagai wilayah terbitnya Qorn al Syaython) tetap membantah dan menuduh syirik.

Ini lah yang dengan gigih disebarluaskan oleh Wahhabi. Padahal benang merahnya sudah jelas. Atas dasar pemahaman tentang Akidah versi Wahhabi lah mereka mudah mengkafirkan orang yang bertawassul dan beristighosah. Jelas bahwa praktik ini dilakukan oleh sahabat, tabi’ien, imam mazhab, ulama2 Ahlus Sunnah dan muslimin pada umumnya. melakukan syirik dengan shalawat ini, maka tidak heran. Sahabat Nabi pun dituduh telah melakukan syirik!

Pembenaran oleh habib kita dari web majelis tsb sudah pernah dibahas diatas, tidak perlu lagi disinggung berulang-ulang. Demikian pula penggunaan “HAKEKAT” untuk pembenaran sholawat nariyah ini.

Mengenai caci maki dan dusta raafidhah terhadap wahabi memang sudah biasa, karena yang paling benci kepada wahabi memang raafidhah. Sejarah mencatat permusuhan wahabi dan raafidhah yang sangat keras.

Fakta memang sering diputarbalikkan oleh oleh Raafidhah, karena memang mereka adalah pendusta ulung, silahkan lihat lagi diatas perkataan Imam Besar Ahlussunnah, yakni Imam Syafi’i tentang mereka ini, tidak perlu lagi diulang disini. Sinnus adalah raafidhah atau paling tidak simpatisan dan pembela Raafidhah.

Coba saudara-saudara perhatikan, syiah raafidhah adalah lawan dari ahlussunnah (sunni), bagaimana mungkin akan mau dan bisa memberi kebaikan atau nasehat kepada ahlussunnah. Yang ada, secara logis, mereka akan memecah belah persatuan ahlussunnah. Yang ada…. mereka ingin MENGHANCURKAN ahlussunnah.

Yang lebih aneh lagi, menuduh wahabi mengatakan sahabat nabi syirik. Mana mungkin??? Dimana wahabi, setahu saya ya… adalah dalam termasuk shaf depan dalam memuliakan para sahabat nabi. Bahkan sebaliknya syiah raafidhah -LAH yang dalam blog ini dibela oleh SINNUS, yang telah jelas-jelas MENGANGGAP KUFUR para sahabat nabi kecuali beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari tangan. Bahkan istri nabi Aisyah (radhiyallaahu ‘anhaa)-pun turut dihina dan dicaci maki oleh raafidhah (apakah cocok dikatakan mereka mencintai ahlul bayt)…

Jadi tidak heran saaaama sekali bila wahabi, dihina-hina oleh mereka ini..

Nauudzu billaaahi dari fitnah RAAFIDHAH, tsumma na’uudzu bilaah..

weleh-weleehhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
gitu aja kok repot…………………..
Dasar manusia…………………………

betul ga usah repot lah,

ga usah percaya sama syiah raafidhah, kata Imam Syafi’i:

“Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Syiah Rafidhah dalam persaksian palsu”

Gampang kan?

Lihat lah bagaimana Wahhabi berargumen. Setelah lama mencari jawaban dan tidak menemukan kecuali kekuatan argumen Ahlus Sunnah, dia lari dengan menebar kata Syiah!

Imam Syafi’ie mengatakan : Jika mencintai Ahlul Bait disebut Rafidhah. Maka saksikan bahwa aku Rafidhah!

Berbahagialah kita yang mencintai keluarga Nabi sebagaimana Imam Syafi’ie mencintai mereka. Imam Syafi’ie adalah panutan kita dalam bermazhab. Bukan si Wahhabi dan para penyembahnya!

Dasar raafidhah, pintar sekali memutar-mutar kata. Dengan modal perkataan Imam Syafi’i yang belum jelas, raafidhah menggunakannya untuk memperkuat pamor syiah nya.

Ingat SINNUS, perkataan Imam tsb menggunakan kata JIKA…

Pada kenyataannya kan tidak.. justru syiah yang ada saat ini yakni raafidhah meninggikan sebagian ahlul bayt dan merendahkan serendah-rendahnya ahlul bayt yang lain. Memang dari jalur ali dan fathimah di angkat-angkat setinggi-tingginya.. Lalu bagaimana dengan Aisyah binti Abu Bakar, bagaimana dengan Hafshah binti Umar bin Khattab? Raafidhah merendahkan mereka berdua ini dengan tuduhan yang hina sekali. Karena apa? Silahkan buka kitab-kitab syiah raafidhah.

Ada perkataan Imam Syafi’i yang lebih jelas lagi yang perlu kita perhatikan yaitu:

“Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Syiah Rafidhah dalam persaksian palsu”

Yang ini ni… ga pake JIKA. Jika ……….. memang benar syiah mencintai ahlul bayt…, tapi ternyata kan tidak.. JAUH PANGGANG DARI API.

Gaya bahasa seperti ini ada di alquran yakni surat azzukhruf ayat 81

Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).

Sebenarya ini sudah disinggung diatas, tetapi memang sinnus senang mengulang hal-hal yang telah disampaikannya.

Semoga kita terhindar dari fitnah syiah raafidhah.

Beginilah hamba (penyembah) agama Wahhabi berkelit. Berikut hamba Wahhabi lainnya yang kehabisan argumen kemudian mengajak Mubahalah. Padahal yang dikafirkannya adalah Sahabat Nabi, Ibnu Umar ra.

Mohon dengarkan dengan baik ajakan Mubahalah penyembah Wahhabi kepada ulama Ahlus Sunnah (menit 5 detik 39). Setelah tidak ada dalil lagi yang dapat diajukan. Begitulah Yulisar al Wahhabi berperangai sebagaimana Dimasyqiyah mengajukan Mubahalah.
Wal iyadzu billah

hmm.. na uudzu billaahi dari perangai orang syiah raafidhah,

Setelah habis berargumen dengan perkataan Imam yang menggunakan kata JIKA (argumennya si sinnus…argumen apakah layaknya kita sebut??), si raafidhah ini sekarang MENUDUH orang lain dengan “PENYEMBAH”. Dan menyamaratakan (generalisasi) semua orang yang setuju dengan Wahabi.
Memang terasa kurang enak dibaca, tetapi apa mau dikata, memang kata Imam Syafi’i raafidhah adalah orang yang tidak ada tandingannya dalam persaksian palsu. Dengan kenyataan seperti ini, maka kita sudah tidak perlu heran lagi.

Ditambah lagi dari kebiasaan MENUDUH dan MENGHINA, kita bisa melihat di sumber2 syiah raafidhah. Mereka sampai bisa-bisanya menghujat dan menghina Ummahaatul Mukminiin yang jelas-jelas merupakan ahlul bayt juga. Padahal mereka dengan bangganya mengatakan mereka adalah MENCINTAI AHLUL BAYT..

Ketahuan jelas kan betapa DUSTA-nya orang-orang raafidhah ini. Yang di blog ini diwakili orang SINNUS..

APALAGI…. kalau kita lihat argumen BARU-nya si sinnus dengan video-nya itu… Dari jurusan mana orang ini bisa menganggap ini sebagai argumentasi??? Ngambil sumbernya yang bahasa arab lagi.., maksudnya sih mau lebih keren si sinnus ini, tapi malah kelihatah DUNGU karena terlihat tidak bisanya si sinnus menyadari sedang berada di forum apa.

Semoga Allah tetap menunjukkan kepada kita TIPU MUSLIHAT RAAFIDHAH.

Walhamdulillah, wa subhanallaah..

Aneh sekali.. sinnus sang raafidhah ini,

Dari jurusan mana bisa menyamakan respon saya dengan ajakan mubahalah..??

Bukannya anda wahai sinnus raafidhah yang sudah kehabisan argumen sehingga membawakan video itu dan meng-analogikannya dengan saya??

Kecintaan terhadap Nabi Muhammad dan keluarganya serta memuliakan mereka adalah kewajiban, tidak ada kaitannya dengan Syiah/Rafidhah

Maaf, Video di atas Kak Aida tidak faham ertinya…I can only understand English and Malay…:)

Wah…. ribut sekali ya blog ini…makin di baca makin enggak ngerti…

Iya begitulah tujuan raafidhah terhadap ahlussunnah. Memecah belah ahlussunnah dengan cara memfitnah dan mengadu-domba. Dan juga cara yang dipakai tidak tanggung-tanggung, tidak ada istilah jujur ataupun dusta. Karena memang tidak ada keburukan dalam dusta dalam agama raafidhah. Malah merupakan ibadah, yang dikenal dalam agama raafidhah sebagai TAQIYYAH.

Memang terjadi perbedaan yang cukup runcing antara yang setuju dengan pemikiran wahabi dan yang tidak di kalangan sesama ahlussunnah, contohnya dalam hal seperti sholawatan ini. Tetapi sejauh-jauh perbedaan antara kedua ini, mereka masih sama-sama menjunjung tinggi SELURUH SAHABAT baik Abu Bakar, Umar dan Utsmaan ataupun Ali. Mereka masih sama-sama mengganggap berdusta itu suatu dosa yang tercela yang memalukan, kecuali memang yang diizinkan syariat.

Sejarah mencatat bahwa terjadi perang besar sekali antara ahlussunnah dengan syiah. Dan pada periode akhir di Arab, ahlussunnah diwakili oleh wahabi memerangi syiah dengan dahsyat sekali. Yang mengakibatkan lukan dan kebencian yang besar RAAFIDHAH terhadap WAHABI.

Nah…, Polemik antara wahabi dan yang lainnya sesama ahlussunnah ini dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh raafidhah untuk menghantam WAHABI yang memang sudah sangat dibencinya sebelumnya. Dengan masuknya RAAFIDHAH di tengah-tengah ahlussunnah, maka makin parah-lah polemik ini.

Kalaulah polemik ini hanya antara ahlussunnah, maka seyogyanya permasalahan ini tidak terlalu berkepanjangan. Karena ahlussunnah SEHARUSNYA sangat mudah untuk diajak kembali kepada Kitabullah dan Sunnah, meninggalkan segala perkataan manusia dan kembali kepada wahyu.. –> ketika sudah mentok dalam berselisih. Yang dengan kedua ini maka kaum muslimin akan bersatu-padu. Raafidhah tidak akan mau bila kaum muslimin bersatu padu, khususnya ahlussunnah.

Dengan demikian dapat kita lihat raafidhah kembali mengangkat-angkat lagi perbedaan dengan mengambil perkataan-perkataan imam, ditambah dusta-dusta disela-sela perkataan imam tsb. Tidak cukup dengan perkataan imam, diambil pula perkataan-perkataan tokoh-tokoh yang kita tidak tahu sama sekali siapakah orang tsb. Lalu video-video yang tidak jelas keabsahannya, yakni siapakah yang berbicara di video, benarkah yang dibaca, apakah benar penjelasannya.

Oleh karena itu wahai saudara-saudara sesama muslim yang tentunya muslim yang benar yakni ahlussunnah, mari kita kembali kepada KITABULLAH dan SUNNAH, agar kita semua selamat dari fitnah, khususnya dalam blog ini fitnah raafidhah.

Subhaanallaahi Wal hamdulillaah..

Assalamu’alaikum … Well, aku dengar ttg shalawat ini memang sejak aku masih kecil, but aku belom pernah membaca hadist ttg bacaan tsb … takut2nya jadi bid’ah ? Mengamalkan sesuati yg tidak di ajarkan dgn Rasulullaah SAW … Minta tlg di jelaskan ttg hal ini … please, jazzakakallahu khair

Assalamu’alaikum
Bid’ah apaan sech? Kalo gak salah, kalo gak bertentangan dengan al qur’an, sunnah, qiyas dan ijmak boleh dong. Kita ikut madhab imam syafi’i aja seperti kiayi atau ajengan atau tuan guru kita. Insya Allah selamat.

Terima kasih

Iya benar,

KALAU tidak bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah dan Ijma kaum muslimin khususnya para sahabat, maka semuanya sah-sah saja. Dan sayangnya sholawat nariyah bertentangan jelas dengan NASH dari Kitabullah. Kecuali kalau mau dipahami secara “HAKEKAT” maka apa saja bisa jadi halal.

Kita diperintah untuk mengikuti AlQuran dan AsSunnah. Imam Syafi’i (salah satu Imam besar Ahlussunnah) sendiri mewanti-wanti kita agar jangan sampai mengikuti beliau bila ternyata didapati pendapat beliau menyalahi NASH. Lalu apatah lagi kiyai, ajengan, atau habiib??

Bukannya tidak boleh bermazhab ya…, boleh-boleh saja selama kita terus berusaha mencari dalil semampu kita. Dan kita tetap membuka hati kita dan menerima pendapat lain yang bila ternyata lebih dekat kepada NASH(dalil Alquran dan Assunnah), sesuai dengan pesan dari Imam Syafi’i diatas. Dan begitu pulalah semua Imam Empat berpendapat dan juga imam-imam lain dari kalangan ahlusunnah… KECUALI KELOMPOK KUFURU seperti SYIAH RAAFIDHAH, justru yang berasal dari Imam mereka lebih tinggi daripada Alquran dan Assunnah, dan kelompok-kelompok lain seperti RAAFIDHAH, layaknya Ahmadiyah dan lainnya.

Na’uudzu billaah…

Mudah-mudah kita mendapat pentunjuk,

Subhanallahi wal hamdulillah..

kok mlh ribut sich..yang terpenting adalah kita sudah bershalawat atw belum…

Caranya juga penting dong.

assalamualaikum…
Terima kasih atas semuanya… saya baca postingan ini dari awal sampai akhir sampai mumet.
Tapi di sini saya dapat banyak informasi yang sebelumnya saya tidak tahu.
Semoga yang saya yakini benar adanya.
Yang benar datangnya dari Alloh, yang salah karena kebodohan saya sebagai manusia.

Asslamu’alaikum… untk mendawamkan sholawat nariyah ini, apakah perlu ijazah, jika iya.. saya mohon ijazahnya / ijin untuk mendawamkan sholawat nariyah ini insya allah setiap ba’da sholat fardhu….
Syukron…….
Wassalam.

Mas Bo3dy, saya sendiri tidak/belum mendapat ijazah langsung untuk shalawat ini. Saya hanya mendapat konfirmasi dari seorang ustadz dan membaca satu kitab.

Mungkin pembaca lain ada yg dapat memberi pencerahan. Silakan…

Ane non muslim tadinya, sekarang muslim sejati akhlul sunnah/Nahdhiyinlah, Ane diajari sholawat nariyah oleh guru Ane, hingga hafal & mendawamkannya hingga kini, maklum Ane dulu chino, jadi Ane diceritrakan mengenai sholawat Nariyah ini, dulunya nich sholawat punyanya Imam Nariyah shohabat Nabi, lantaran beliau mendawamkan nich sholawat hingga 4444x semalam, ketika beliau meninggal di alam kubur sana ummat Rasul pertama yang dihampinya oleh rasul. Jadi kepada begitu dahsyatnya ini sholawat nek.
Jadi Ane punya saran nich, Sama yang menentang dengan shalawat ini, janganlah di blog ini Ente. Mendawamkan sholawat semuanya baik maknaya aje prantara/jembatan. ( ente mau ke Jakarta, perantaranya apa? sepeda, becak, motor, mobil ), karena sholawat ada yang panjang dan pendek, tentunya lain dong dengan hasilnya. Jadi tinggal niatnya, ikhlas mencari keridhoan Allah dan Rasulnya, dan Ingat Rasul diberi perogratif oleh Allah yang namanya syafaat.

Siapakah sebenarnya yang mencintai Allah dan RasulNya?

Allah jallaa wa ‘alaa telah berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Ali ‘Imraan (3) : 31)

Rasulullah telah menjadi teladan para shahabatnya, serta menjadi panutan dalam melangkah dan mengarungi samudera yang dahsyat dengan gelombangnya. Ini merupakan sinyalemen keberhasilan mereka dalam menjadikan dan mempraktikkan bimbingan Allah di dalam Al Qur’an:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Para sahabat nabi adalah orang-orang yang terbaik bahasa arabnya setelah nabinya, paling pandai dalam membuat syair-syair. Tetapi apa ketika mereka mengetahui betapa agung dan besar faedahnya dalam bershalawat. Maka apakah sikap mereka?

Mari kita simak dua hadits berikut ini.

“Dari Abu Humaid As Sa’idi, bahwasanya para sahabat bertanya kepada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?’. Rasulullah bersabda: ‘Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
(HR. Bukhari 3369, Muslim 934)

Dari Ibnu Abi Laila beliau berkata:

“Aku bertemu dengan Ka’b bin ‘Ujrah kemudian beliau berkata: “Maukah kamu aku berikan hadiah yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”Aku berkata: “Iya, hadiahkanlah itu kepadaku.” Maka beliau berkata:

سألْنا رسول الله فقلنا: يا رسول الله كيف الصلاةُ عليكم أهلَ البيت، فإن الله قد عَلَّمنا كيف نسلِّم؟ قال: قولوا اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد

“Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara bershalawat kepada antum, wahai ahlul bait?” Karena Allah sudah mengajari kami bagaimana cara mengucapkan salam?” Maka beliau bersabda: Katakanlah:

اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد

“Ya Allah, bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas, Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Maha Suci Allah dan Segala Puji hanya milik Allah

assalamualaikum wr. wb. bapak ahmad lukman,
alhamdulillah..saya sudah sering mendengar langgar di belakang rumah saya membaca shalawat nariyah ini setiap hari jumat siang (semenjak saya masih smp hingga skrg saya sdh menikah dan memiliki 2 anak), dengan menggunakan lagu yg terdengar sangat indah. belakangan ini, saya mulai mengamalkan dan subhanallah alhamdulillah bbrp hajat saya memang tercapai, bi iznillah..
sependek pengetahuan saya, tidak ada yg salah dengan shalawat nariyah ini. saya pernah mendengar, kita sebaiknya mendoakan sesama umat muslim di dunia ini. bershalawat serta mendoakan Rasulullah SAW, nabi, para wali, dan orang tua kita. kita mendoakan org tua dan meminta ridho beliau, maka Insya Allah kita pun akan mendapat ridho Allah SWT, apalagi kita mendoakan dan bershalawat kepada Rasulullah SAW. kalau begitu, apa yg salah dengan shalawat ini? dalam doa setelah sholat pun kita meminta untuk dimurahkan rezeki, tercapai segala hajat, dijauhkan dari segala musibah dan kesedihan, bukankah sama dengan arti dari shalawat ini?? mohon maaf apabila sy tidak mengartikan dengan bahasa kiasan sastra melainkan dengan bahawa seorang awam saja.
wassalam :)

saya sangat terharu apa yg dikatan oleh pa Ustad insya Allah saya akan membaca solawat tersebut.

assalamungalaikum

mohon maaf mau ngopi paste eee salah copy paste

makasih banyak

wassalamungalaikum

Silakan mas. Semoga bermanfaat dan membawa berkah melalui shalawat

untuk mbak laila jangan pernah menyerahkan karena andaikan mbak kuat bertahan sampai akhir maka insya allah gelar “mutaqqin” karena sedang menguji derajat ketakwaan mbak…..

Bismillahirahmanirrahiiiim …
Alhamdulillah, ,,,,
Wassalamualaikum, Wr, Wb,.

Assalamu;alaikum ..

,di baca dari atas sampai bawah jadi lieur … dziiing !!

menurut blog ini arti dari shalawat nariyah adalah :

“Ya Alloh berilah sholawat dengan sholawat yang sempurna dan berilah salam dengan salam yang sempurna atas penghulu kami Muhammad yang dengannya terlepas segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan, hujan diturunkan, berkat dirinya yang pemurah, juga atas keluarga dan sahabat-sahabatnya dalam setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak hitungan segala yang ada dalam pengetahuanMU..”

dari blog tetangga sebelah artinya adalah :

“….Ya Alloh, Limpahkanlah Rahmat dan keselamatan yang sempurna kepada junjungan kami Nabi Muhammad yang dapat melepas beberapa kerepotan atau ikatan, menghilangkan beberapa kesusahan, mendatangkan beberapa hajat, mendapatkan beberapa hajat atau keinginan, mendapatkan beberapa kesenangan, diberikan khusnul khotimah dan curahan rahmat sebab wajah mulia pada tiap saat dan nafas sebanyak yang Engkau ketahui, dengan kerahmatanMU wahai Dzat yang paling belas kasih… ” (sumber http://www.didiksugiarto.com/2009/03/fadhilah-sholawat-nariyah.html)

.. ayo yg jago bahasa arab tolong arti in shalawat nariyah ini dengan bahasa indonesia tapi ngarti in nya yang bener ya … kata per kata sehingga membentuk suatu kalimat yang dimengerti … hatur nuhun sateu acan na ..

bagus ni sholawatnya, temen2 jgn ragu membacanya. sekalian kalo sempat maen2 ke http://ummatiummati.wordpress.com/ . Ajaran Islam sejati gak bakal kalah sama ajaran menyimpang yg berasal dr tempat keluarnya tanduk setan

trimakasih banyak…shalawatnya sangat bermanfaat bagi saya….tq

membaca komentar2 d atas, bikin aku marah,sedih, ketawa, campur aduk deh. apa lagi yg ngotot ngototan pendapat mereka yg paling benar…. hehehhee semoga kalian tidak kelewat btas aja…. n masih d jalur yg benar :D

tinggal baca aja kok repot, yang gak mau baca nggak usah protes….!
repot2 amat sampe harus pusing2 cari dalil buat menolak solawat….

KITA HARUS SALING MENGINGAT KAN,,DALAM KEBENARAN YANG TELAH DITUNJUKAN ALLOH ..
FIKIR PAKE RSIO JANGAN NGEDEPANIN NAFSU
KALAU ADA DALILNYA YANG KUAT
TERIMA ,,, KALAU SPERTI ENTE BERARTI ENTE NOLAK KEBENARAN

Mestinya mbak Ugi baca komentar dari awal, sehingga benang merahnya dapat dipahami. Oh ya, etika tulisansebaiknya tidak menggunakan huruf kapital secara keseluruhan. Komentar yang mbak tulis meninggalkan kesan marah.

BACALAH !!!!!
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Shalawat Nariyah cukup populer di banyak kalangan dan ada yang meyakini bahwa orang yang bisa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat menghilangkan kesulitan-kesulitan atau demi menunaikan hajat maka kebutuhannya pasti akan terpenuhi. Ini merupakan persangkaan yang keliru dan tidak ada dalilnya sama sekali. Terlebih lagi apabila anda mengetahui isinya dan menyaksikan adanya kesyirikan secara terang-terangan di dalamnya. Berikut ini adalah bunyi shalawat tersebut:”

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن الخواتيم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى آله وصحبه عدد كل معلوم لك

Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumin laka

Artinya:

“Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, Begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, Berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, Semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.”

Syaikh berkata:

“Sesungguhnya aqidah tauhid yang diserukan oleh Al-Qur’an Al Karim dan diajarkan kepada kita oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kepada setiap muslim untuk meyakini bahwa Allah semata yang berkuasa untuk melepaskan ikatan-ikatan di dalam hati, menyingkirkan kesusahan-kesusahan, memenuhi segala macam kebutuhan dan memberikan permintaan orang yang sedang meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berdoa kepada selain Allah demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang di serunya adalah malaikat utusan atau Nabi yang dekat (dengan Allah). Al-Qur’an ini telah mengingkari perbuatan berdoa kepada selain Allah baik kepada para rasul ataupun para wali. Allah berfirman yang artinya:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Bahkan sesembahan yang mereka seru (selain Allah) itu justru mencari kedekatan diri kepada Rabb mereka dengan menempuh ketaatan supaya mereka semakin bertambah dekat kepada-Nya dan mereka pun berharap kepada rahmat-Nya serta merasa takut akan azab-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (QS. Al-Israa’: 57). Para ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berdoa kepada Isa Al-Masih atau memuja malaikat atau jin-jin yang saleh (sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir).”

Beliau melanjutkan penjelasannya:

“Bagaimana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa merasa ridha kalau beliau dikatakan sebagai orang yang bisa melepaskan ikatan-ikatan hati dan bisa melenyapkan berbagai kesusahan padahal Al-Qur’an saja telah memerintahkan beliau untuk berkata tentang dirinya:

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: Aku tidak berkuasa atas manfaat dan madharat bagi diriku sendiri kecuali sebatas apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku memang mengetahui perkara ghaib maka aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak ada keburukan yang akan menimpaku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raaf)

Pada suatu saat ada seseorang yag datang menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”, Maka beliau menghardiknya dengan mengatakan, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakan: Atas kehendak Allah semata.” Nidd atau sekutu artinya: matsiil wa syariik (yang serupa dan sejawat) (HR. Nasa’i dengan sanad hasan)

Beliau melanjutkan lagi penjelasannya:

“Seandainya kita ganti kata bihi (به) (dengan sebab beliau) dengan bihaa (بها) (dengan sebab shalawat) maka tentulah maknanya akan benar tanpa perlu memberikan batasan bilangan sebagaimana yang disebutkan tadi. Sehingga bacaannya menjadi seperti ini:

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد التي تحل بها العقد

Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Allati tuhillu bihal ‘uqadu (artinya ikatan hati menjadi terlepas karena shalawat)

Hal itu karena membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah yang bisa dijadikan sarana untuk bertawassul memohon dilepaskan dari kesedihan dan kesusahan. Mengapa kita membaca bacaan shalawat bid’ah ini yang hanya berasal dari ucapan makhluk biasa sebagaimana kita dan justru meninggalkan kebiasaan membaca shalawat Ibrahimiyah (yaitu yang biasa kita baca dalam shalat, pent) yang berasal dari ucapan Rasul yang Ma’shum?”

Apa sih yg mbak pahami tentang kemampuan Rasululloh SAW melepaskan segala ikatan, menyingkirkan segala kesusahan, memenuhi segala keinginan dlsb?

Apa sih yg ada dalam benak mbak ketika mbak sakit dan ingin kesembuhan lantas pergi ke dokter untuk meminta pertolongan?

Apa sih pandangan mbak tentang peristiwa Nabi Yusuf as yang meminta saudaranya membawa gamisnya ke hadapan ayahnya (nabi Ya’qub as) yg buta yang “dengannya” dapat kembali melihat seperti sedia kala? Gamis Nabi Yusuf kah yg menjadi sebab kembalinya penglihatan nabi Ya’qub, atau hanya sebagai sarana?

Masih banyak celah pertanyaan yg sebenarnya sudah dibahas dalam komentar2 sebelumnya. Intinya shalawat ini tidak syirik sebagaimana tuduhan syaikh Jamil Zainu yg terlalu sempit memahami shalawat indah ini. Hanya orang2 yang diberi keluasan ilmu dan pandangan yang dapat memahaminya dengan benar.

ada beberapa point yg mw sy tanyakan:

1. apakah Rosululloh mengajarkan itu? kalo iya, berikan dalilnya.
2. tidak jgn samakan antara berobat ke dokter dgn makna sholawat nariyah. kenapa? berobat ke dokter hanya bentuk dari usaha sedangkn yg menyembuhkan Alloh. sedangkan dlm sholawat nariyah adalah bentuk pengagungan berlebihan kpd Alloh.
3. pertanyaan anda:
Apa sih yg mbak pahami tentang kemampuan Rasululloh SAW melepaskan segala ikatan, menyingkirkan segala kesusahan, memenuhi segala keinginan dlsb?

harusnya anda jawab bukan berbalik bertanya. karena andalah yg mengamalkannya, dan andapun jg harus tau maknanya.

4. apakah anda bisa bahasa arab?? paham hadits??
jika anda paham maka anda berhak membantahnya. apakah anda lebih berilmu dari syeikh jamil yg sudah diakui keilmuannya..

silahkan antum jawab..jgn gunakan akal dan hawa anda karena agama bukanlah agama AKAL melainkan agama DALIL.

Ada beberapa poin yg ingin saya sampaikan :
1. Adakah Rasululloh SAW melarang?
2. Mas Admin sudah mendapat poinnya bahwa berobat bukan hakikat melainkan syariat. Sebab sembuh bukan karena obat melainkan hak mutlak Alloh SWT. Permintaan kita kepada dokter : Tolong dokter sembuhkan saya, hakikatnya adalah Alloh yang menyembuhkan. Adakah meminta pertolongan kepada makhluk (dalam hal berobat ke dokter) merupakan pengingkaran terhadap hadits : Jika kalian meminta, mintalah kepada Alloh ? Nah kalimat2 indah dalam shalawat Nariyah bukanlah hakikat mutlak. Melepaskan segala ikatan, lenyap segala kesedihan, terpenuhi segala kebutuhan, tercapai segala kesenangan, semua diakhiri dengan kebaikan, hujan diturunkan, adalah semata mata atas kuasa Alloh SWT. Ini merupakan bentuk tawassul muslimin kepada Nabi Muhammad SAW. Saya tahu bahwa Wahhabi membenci Tawassul jenis ini sementara Ahlus Sunnah mengakuinya.

Bolehkah saya mengatakan bahwa dengan kehadiran Nabi Muhammad hilang semua kesedihan? Kenapa tidak? Bukankah Yahudi berharap2 dengan penuh suka cita agar Nabi akhir zaman dari golongan mereka? Sehingga tanpanya mereka membenci dien ini. Lalu dimana salahnya? Dimana letak pengagungan yg tidak semestinya? Saya yg tidak paham atau Wahhabi yang kotor pikirannya?

3. Sampai sekarang mas Admin tidak bisa membedakan antara siang dan malam. Adakah muslimin sedang menyembah Nabi Muhammad dengan memberi sifat ketuhanan dengan sholawat ini? Sungguh kotor dan sempit pikiran para pengikut Wahhabi

4. Di atas langit ada langit mas.

afwan ptnyaan no.2 harsny brlebihn kpd nabi bkn Alloh

Semoga Alloh SWT melapangkan hati mas Admin dan dapat melihat sesuatu dengan lebih jermih. Aamien ya robbal ‘aalamien

Assalamualaikum pak ustad Lukman..
Saya senang sekali dengan tulisan dan argumen2 Bapak, memeberi saya banyak pemahaman dan keluasan ilmu, maklum saya masih banyak belajar, Semoga Bapak diberi Keberkahan dunia dan akhirat..
Kalo boleh andai bapak ada forum untuk membaca shalawat nariyah bersama mohon saya diikutsertakan hehehehe….
Terima kasih, Wassalam…

Wa ‘alaykum salam mbak Intan. Saya bukan ustadz mbak, hanya seorang karyawan yg sekarang tinggal di Pekanbaru Riau.

Terima kasih atas doanya. Semoga mbak pun diberikan keberkahan yg melimpah di dunia dan akhirat. Mengenai forum saya belum dapatkan.

Terima kasih
Wassalamu ‘alaykum wr wb

siapa saja bisa menulis apapaun yang dia ingin tuliskan, tapi hendaknyta kita tanya
darimana perkataan atau tulisan ini di ambil.
apakah ada dari kitab al’quran atau sunnah(hadist) atau ada perkataan dari kaum salaf(para sahabat)

dari 9 hadis yang shahih tentang shalawat dimulai dengan semacam pertanyaan :

“ya Rasullullah bagaimana kami bersalawat kepada engkau?”

lihat ; padahal para sahabat sangat tinggi keilmuanya. tapi kenapa mereka bertanya cara bersalawat?
ya karna shalawat itu merupakan ibadah dan setiap ibadah harus ada dallil.

sekarang

jadi tunjukan dalil bahwa rasullulah mengajarkan shalawat nariah.

jika anda tidak tau mengetahui dalilnya .

sungguh anda telah menjawab kebodohan anda.(begitulah kata imam syafi’i)
ketiak ada orang yang berbicara tanpa dalil.

kalopun menurut anda syair yang ada dalam shalawat nariah ini baik.
maka baik mana dengan yang pernah di ucapkan oleh lisan rasullulah.

dan rasullulah berkata:

“siapa yang tidak suka dengan sunnahku maka dia bukan dari umatku”

Tunjukkan satu dalil yang melarang shalawat ini? Jangan gunakan hawa nafsu untuk menggiring orang menerima pendapat Anda. Anda yakin hanya ada 9 hadits mengenai shalawat? Dari 9 hadits versi Anda, mana yg menunjukkan larangan khusus untuk shalawat ini?

Kalau Anda pengusung ‘mazhab’ Wahhabi (dari tulisan Anda menjelaskan pola pikir Wahhabi). Tunjukkan dalil kerajaan lebih baik dari kekhalifahan? Kenapa Anda mempertentangkan shalawat Nariyah dengan shalawat yg diajarkan Rasululloh SAW, sementara Anda tidak mempertentangkan system syuro dalam memilih pemimpin dengan monarki ala Ibnu Sa’ud yg didukung ulama2 kabir Wahhabi yg menjadi rujukan tak terbantahkan Anda? Adakah hadits Nabi Muhammad yg begitu banyak menyuruh ditegakkannya kerajaan? Adakah nash Al Qur’an yang mendukungnya? Adakah perkataan sahabat? Kalau Anda tidak menemukan kenapa tidak dihancurkan saja system yg bertentangan dengan Al Qur’an, Sunnah dan amalan salaf? Itu lebih karena Wahhabi dan ajarannya terlindungi dengan sistem yg tidak bersumber dari ketiganya (Al Qur’an, Sunnah dan perkataan salaf)*

Sungguh Wahhabi dan taqlidersnya tersesat dari jalan kebenaran

Coba Anda belajar lagi dan temukan lautan ilmu yg maha luas. Semoga Alloh melimpahkan ilmu yg berkah buat kita semua.

* Sumber hukum menurut Anda : Al Qur’an, Sunnah dan perkataan salaf
Sumber hukum menurut mazhab Syafi’ie : Al Qur’an, Sunnah, Ijma dan Qiyas. Saya lebih yakin dengan mazhab Imam Syafi’ie

salam… yang mengamalkan terus menabung dan meraih rahmat allah..yang sibuk mempersoalkan macam dah islam kan ramai umat””…..saya amalkan 500 ke 1500x sehari ..dan allah terus melimpahkan rezeki dan solat lima waktu terpenuh.. puasa terpenuh,, bersedekah sesuka waktu..tiada lagi kamus kesempitan hidup sejak mengamalkan tanpa henti yg sibuk mensyirikkan selawat nariyah dapat ke rezeki RM5000 ke Rm 15000 sebulan tanpa kerja apa2…renung2lah kehidupan tu tanpa selawat…

luvirizkiaa@ good article//// for Ahmad : afwan..akhi,,,silhkn bca artikel dbwah ini…bagaimna sehingga sholawt nariyah diktkn mengandung syirik….ditelaah baik2 dn silhkan antum fahami.,,krna justru anda sprtx yg bernafsu menggiring orng2 u mykini sesuwt yg jels2 tidk dcontohkn Rasulullah sallallahu alaihi wasallam,,,( cata2n:ini bkan pendpat ana: ini pendpt pra ulama salaf yg telh mereka sepkati dn tentux mereka berdasar pd al qur’an dn as sunnah…bkan suatu perkra bid’ah,,,)

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Shalawat Nariyah cukup populer di banyak kalangan dan ada yang meyakini bahwa orang yang bisa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat menghilangkan kesulitan-kesulitan atau demi menunaikan hajat maka kebutuhannya pasti akan terpenuhi. Ini merupakan persangkaan yang keliru dan tidak ada dalilnya sama sekali. Terlebih lagi apabila anda mengetahui isinya dan menyaksikan adanya kesyirikan secara terang-terangan di dalamnya. Berikut ini adalah bunyi shalawat tersebut:”

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن الخواتيم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى آله وصحبه عدد كل معلوم لك

Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumin laka

Artinya:

“Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, Begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, Berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, Semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.”

Syaikh berkata:

“Sesungguhnya aqidah tauhid yang diserukan oleh Al-Qur’an Al Karim dan diajarkan kepada kita oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kepada setiap muslim untuk meyakini bahwa Allah semata yang berkuasa untuk melepaskan ikatan-ikatan di dalam hati, menyingkirkan kesusahan-kesusahan, memenuhi segala macam kebutuhan dan memberikan permintaan orang yang sedang meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berdoa kepada selain Allah demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang di serunya adalah malaikat utusan atau Nabi yang dekat (dengan Allah). Al-Qur’an ini telah mengingkari perbuatan berdoa kepada selain Allah baik kepada para rasul ataupun para wali. Allah berfirman yang artinya:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Bahkan sesembahan yang mereka seru (selain Allah) itu justru mencari kedekatan diri kepada Rabb mereka dengan menempuh ketaatan supaya mereka semakin bertambah dekat kepada-Nya dan mereka pun berharap kepada rahmat-Nya serta merasa takut akan azab-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (QS. Al-Israa’: 57). Para ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berdoa kepada Isa Al-Masih atau memuja malaikat atau jin-jin yang saleh (sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir).”

Beliau melanjutkan penjelasannya:

“Bagaimana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa merasa ridha kalau beliau dikatakan sebagai orang yang bisa melepaskan ikatan-ikatan hati dan bisa melenyapkan berbagai kesusahan padahal Al-Qur’an saja telah memerintahkan beliau untuk berkata tentang dirinya:

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: Aku tidak berkuasa atas manfaat dan madharat bagi diriku sendiri kecuali sebatas apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku memang mengetahui perkara ghaib maka aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak ada keburukan yang akan menimpaku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raaf)

Pada suatu saat ada seseorang yag datang menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”, Maka beliau menghardiknya dengan mengatakan, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakan: Atas kehendak Allah semata.” Nidd atau sekutu artinya: matsiil wa syariik (yang serupa dan sejawat) (HR. Nasa’i dengan sanad hasan)

Beliau melanjutkan lagi penjelasannya:

“Seandainya kita ganti kata bihi (به) (dengan sebab beliau) dengan bihaa (بها) (dengan sebab shalawat) maka tentulah maknanya akan benar tanpa perlu memberikan batasan bilangan sebagaimana yang disebutkan tadi. Sehingga bacaannya menjadi seperti ini:

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد التي تحل بها العقد

Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Allati tuhillu bihal ‘uqadu (artinya ikatan hati menjadi terlepas karena shalawat)

Hal itu karena membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah yang bisa dijadikan sarana untuk bertawassul memohon dilepaskan dari kesedihan dan kesusahan. Mengapa kita membaca bacaan shalawat bid’ah ini yang hanya berasal dari ucapan makhluk biasa sebagaimana kita dan justru meninggalkan kebiasaan membaca shalawat Ibrahimiyah (yaitu yang biasa kita baca dalam shalat, pent) yang berasal dari ucapan Rasul yang Ma’shum?”

***

Penulis: Muhammad Jamil Zainu
Diterjemahkan oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel http://www.muslim.or.id

mas.. maslah solawat aja ribut2, ngakunya beriman tapi koq hati masih kotor ya… yg penting skrg ini perbaiki dulu aja akhlak masing2 jgn dengki dengan ibadah orang lain.

وقال إنما اتخذتم من دون الله أوثانا مودة بينكم في الحياة الدنيا ثم يوم القيامة يكفر بعضكم ببعض ويلعن بعضكم بعضا ومأواكم النار وما لكم من ناصرين ( 25 ) ) .

يقول تعالى مخبرا عن قوم إبراهيم في كفرهم وعنادهم ومكابرتهم ، ودفعهم الحق بالباطل : إنه ما كان لهم جواب بعد مقالة إبراهيم هذه المشتملة على الهدى والبيان ، ( إلا أن قالوا اقتلوه أو حرقوه ) ، وذلك لأنهم قام عليهم البرهان ، وتوجهت عليهم الحجة ، فعدلوا إلى استعمال جاههم وقوة ملكهم ، ( قالوا ابنوا له بنيانا فألقوه في الجحيم . فأرادوا به كيدا فجعلناهم الأسفلين ) [ الصافات : 97 ، 98 ] ، وذلك أنهم حشدوا في جمع أحطاب عظيمة مدة طويلة ، وحوطوا حولها ، ثم أضرموا فيها النار ، فارتفع لها لهب إلى عنان السماء : ولم توقد نار قط أعظم منها ، ثم عمدوا إلى إبراهيم فكتفوه وألقوه في كفة المنجنيق ، ثم قذفوا به فيها ، فجعلها الله عليه بردا وسلاما ، وخرج منها سالما بعد ما مكث فيها أياما . ولهذا وأمثاله جعله الله للناس إماما . فإنه بذل نفسه للرحمن ، وجسده للنيران ، وسخا بولده للقربان ، وجعل ماله للضيفان ، ولهذا اجتمع على محبته جميع أهل الأديان .

وقوله : ( فأنجاه الله من النار ) أي : سلمه [ الله ] منها ، بأن جعلها عليه بردا وسلاما ، ( إن في ذلك لآيات لقوم يؤمنون . وقال إنما اتخذتم من دون الله أوثانا مودة بينكم في الحياة الدنيا ) يقول لقومه مقرعا لهم وموبخا على سوء صنيعهم ، في عبادتهم الأوثان : إنما اتخذتم هذه لتجتمعوا على عبادتها في الدنيا ، صداقة وألفة منكم ، بعضكم لبعض في الحياة الدنيا . وهذا على قراءة من نصب ( مودة بينكم ) ، على أنه مفعول له ، وأما على قراءة الرفع فمعناه : إنما اتخاذكم هذا يحصل لكم المودة [ ص: 272 ] في الدنيا فقط ( ثم يوم القيامة ) ينعكس هذا الحال ، فتبقى هذه الصداقة والمودة بغضة وشنآنا ، ف ( يكفر بعضكم ببعض ) أي : تتجاحدون ما كان بينكم ، ( ويلعن بعضكم بعضا ) أي : يلعن الأتباع المتبوعين ، والمتبوعون الأتباع ، ( كلما دخلت أمة لعنت أختها ) [ الأعراف : 38 ] ، وقال تعالى : ( الأخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو إلا المتقين ) [ الزخرف : 67 ] ، وقال هاهنا ( ثم يوم القيامة يكفر بعضكم ببعض ويلعن بعضكم بعضا ومأواكم النار وما لكم من ناصرين ) أي : ومصيركم ومرجعكم بعد عرصات القيامة إلى النار ، وما لكم من ناصر ينصركم ، ولا منقذ ينقذكم من عذاب الله . وهذا حال الكافرين ، فأما المؤمنون فبخلاف ذلك .

قال ابن أبي حاتم : حدثنا محمد بن إسماعيل الأحمسي حدثنا أبو عاصم الثقفي [ حدثنا ] الربيع بن إسماعيل بن عمرو بن سعيد بن جعدة بن هبيرة المخزومي ، عن أبيه ، عن جده عن أم هانئ – أخت علي بن أبي طالب – قالت : قال لي النبي – صلى الله عليه وسلم – : ” أخبرك أن الله تعالى يجمع الأولين والآخرين يوم القيامة في صعيد واحد ، فمن يدري أين الطرفان ” ، فقالت : الله ورسوله أعلم . ” ثم ينادي مناد من تحت العرش : يا أهل التوحيد ، فيشرئبون ” قال أبو عاصم : يرفعون رءوسهم . ” ثم ينادي : يا أهل التوحيد ، ثم ينادي الثالثة : يا أهل التوحيد ، إن الله قد عفا عنكم ” قال : ” فيقول الناس قد تعلق بعضهم ببعض في ظلامات الدنيا – يعني : المظالم – ثم ينادي : يا أهل التوحيد ، ليعف بعضكم عن بعض ، وعلى الله الثواب ” .

Kalimat al haqq yuridu biha al bathil

اللهم ارنا الحق حقا وارزقـنا اتباعه وارنا الباطل باطلا وارزقنااجـتـنابه
آمين يا رب العالمين
sering-sering lah baca do`a ini !
semoga kita di beri hidayah dan taufiq

سيخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان، سفهاء الأحلام، يقولون من خير قول البرية، يقرأون القرآن لا يجاوز حناجرهم، يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية، فإذا لقيتموهم فاقتلوهم فإن في قتلهم أجراً لمن قتلهم عند الله يوم القيامة

وأصل الشرك بالله ، والإشراك في المحبة كما قال تعالى : ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله والذين آمنوا أشد حبا لله [ سورة البقرة : 165 ] .

فأخبر سبحانه أن من الناس من يشرك به ندا يحبه كما يحب الله ، وأخبر أن الذين آمنوا أشد حبا لله من أصحاب الأنداد لأندادهم .

وقيل : بل المعنى أنهم أشد حبا لله ، فإنهم وإن أحبوا الله ، لكن لما شركوا بينه وبين أندادهم في المحبة ضعفت محبتهم لله ، والموحدون لله لما خلصت محبتهم له كانت أشد من محبة أولئك ، والعدل برب العالمين ، والتسوية بينه وبين الأنداد هو في هذه المحبة ، كما تقدم .

ولما كان مراد الله من خلقه خلوص هذه المحبة له ، أنكر على من اتخذ من دونه وليا أو شفيعا غاية الإنكار ، وجمع ذلك تارة ، وإفراد أحدهما عن الآخر ، فقال تعالى : إن ربكم الله الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش يدبر الأمر ما من شفيع إلا من بعد إذنه ذلكم الله ربكم فاعبدوه أفلا تذكرون [ سورة يونس : 3 ] .

وقال تعالى : الله الذي خلق السماوات والأرض وما بينهما في ستة أيام ثم استوى على العرش ما لكم من دونه من ولي ولا شفيع أفلا تتذكرون [ سورة السجدة : 4 ] .

وقال في الإفراد : أم اتخذوا من دون الله شفعاء قل أولو كانوا لا يملكون شيئا ولا يعقلون قل لله الشفاعة جميعا [ سورة الزمر : 43 – 44 ] .

[ ص: 189 ] وقال تعالى : وأنذر به الذين يخافون أن يحشروا إلى ربهم ليس لهم من دونه ولي ولا شفيع لعلهم يتقون [ سورة الأنعام : 51 ] .

وقال تعالى : من ورائهم جهنم ولا يغني عنهم ما كسبوا شيئا ولا ما اتخذوا من دون الله أولياء ولهم عذاب عظيم [ سورة الجاثية : 10 ] .

فإذا والى العبد ربه وحده أقام له الشفعاء ، وعقد الموالاة بينه وبين عباده المؤمنين فصاروا أولياءه في الله ، بخلاف من اتخذ مخلوقا وليا من دون الله

Ciri-Ciri hawarij berbju Salafi
Abu Ghozi

http://agusto.blogsome.com/2008/06/11/ciri-ciri-khawarij-berbaju-salafy/

1. Mereka hidup secara ekskusif, menyingkir dari kehidupan masyarakat. Mereka tidak mau tahu kondisi masyarakat, misalnya ekonomi, sosial, politik, pergaulan, pendidikan, komunikasi, dst. Kalau kita ajak bicara tentang masalah-masalah umum, mereka anggap semua itu “bukan masalah din”, jadi tidak perlu dipikirkan. Padahal sumber kemusyrikan, kekafiran, maksiyat, kesesatan, dll. sangat banyak dari masalah-masalah keduniaan. Dalam pergaulan, mereka sangat eksklusif, memisahkan diri dari masyarakat. Hal ini sama dengan perilaku Khawarij ketika mereka memisahkan diri dari Ummat Islam dan membuat markas di Nahrawan.

2. Mereka menghidupkan manhaj kebencian. Mereka sangat memusuhi orang-orang di luar kelompoknya. Mereka mudah menuduh orang lain “ahli bid’ah”, “bukan Salafiyah”, “hizbi”, “Sururi”, “Ikhwani”, dst. Itu tuduhan standar mereka. Tidak ada yang selamat dari kebencian mereka, selain dirinya sendiri. Khawarij dulu juga seperti itu, mereka membenci bahkan mengkafirkan orang-orang yang berada di luar kelompoknya.

3. Mereka menggunakan kalimat “Mengikuti pemahaman Salafus Shalih” untuk menyesatkan manusia. Istilah Salaf, manhaj Salafiyah, atau Dakwah Salaf, bukan dimanfaatkan untuk menyebarkan kebajikan sebanyak-banyaknya, tetapi dipakai untuk menyesatkan orang-orang lugu agar terjerumus bersama kesesatan mereka. Persis seperti dulu ketika Ali bin Abi Thalib (Ra) mengkomentari kelakuan para Khawarij yang memakai ayat Al Qur’an untuk tujuan kesesatan, “Kalimatul haqq yuridu bihil bathil” (perkataan yang benar tetapi ditujukan untuk kebathilan).

4. Mereka berani menghalalkan hak-hak Ummat Islam yang telah dilindungi oleh Syariat. Saat ini yang sangat kelihatan adalah: menghalalkan kehormatan Ummat Islam, khususnya para dai dan lembaga-lembaga Islam. Sampai-sampai lembaga netral seperti DDII tidak selamat dari serangan najis mereka. Padahal Nabi (Saw.) sudah mengatakan, “Setiap Muslim atas Muslim yang lain, diharamkan darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim). Tapi kita tidak usah berdalil dengan Sunnah di hadapan mereka. Hati mereka sudah terlalu angkuh untuk menerima nasehat Al Qur’an dan Sunnah. Khawarij dulu juga seperti itu, mereka menghalalkan darah Ummat Islam.

5. Mereka sangat ghuluw (melampaui batas) dalam beramal. Mereka sangat-sangat peka dalam perkara fotografi makhluk bernyawa (foto manusia), celana di bawah mata kaki, nasyid Islami, melinting lengan baju, memakai cadar, memakai celana dalam Shalat, dan lain-lain perkara yang masih menjadi perdebatan. Tetapi ketika menuduh “ahli bid’ah”, mengkafirkan Ahlul Islam (seperti Luqman Ba’abduh), membongkar aib para dai, memecah belah Ummat, menyebarkan kebencian, bahkan mengintimidasi Muslim, justru atas semua itu mereka sangat menikmati. Laa ilaha illallah. Dulu Khawarij bertanya ke Ibnu Abbas (Ra.) tentang hukum membunuh nyamuk, tetapi mereka tidak bertanya tentang hukum membunuh cucu Rasulullah (Saw), yaitu Hushain bin Ali (Ra.), yang mereka lakukan. Maksudnya, atas hasutan Khawarij itu pula akhirnya Hushain terbunuh di Karbala, lalu kepalanya dipancung. Innalillah wa inna ilaihi ra’jiun.

6. Mereka mengkafirkan sesama Muslim. Mereka bermudah-mudah mengeluarkan manusia dari Manhaj Salafiyah, padahal Salafiyah adalah Islam itu sendiri. Mereka menghalalkan penghinaan, celaan, membuka aib-aib, tahdzir, dan hajr kepada ahli bid’ah. Jangankan bermuamalah dengan “ahli bid’ah”, sekedar berjabatan tangan secara tak sengaja saja, kita bisa dituduh ikut “ahli bid’ah”. Luqman Ba’abduh sendiri dalam buku MAT mengkafirkan kaum Muslimin, khususnya Daulah Utsmaniyyah dan kaum Muslimin Mesir. Ya, Khawarij dulu juga seperti itu. Bahkan lebih terang-terangan.

7. Mereka sangat keras kepala. Jika ada manusia yang ngeyel, inilah orangnya. Mereka sangat-sangat ngeyel, tidak mau rujuk kepada kebenaran. Meskipun kita memberikan nasehat sehebat apapun, kalau kita bukan dari golongan mereka, nasehat itu akan dibuang ke tempat sampah. Tidak kurang apa saya telah menyampaikan nasehat lewat DSDB, tetapi kesesatan mereka tidak berkurang. Mereka meyakini, “Hanya Syaikh Rabi’ dan Syaikh Muqbil saja yang memiliki kebenaran. Selain mereka (atau yang semisal mereka), bathil.” Sikap seperti ini sebenarnya dianggap telah keluar dari Al Jama’ah (komitmen kepada kebenaran, dari arah manapun datangnya). Khawarij dulu juga begitu. Mereka sudah dinasehati Ibnu Abbas (Ra.), tetapi tetap keras kepala.

8. Mereka menyebarkan permusuhan di kalangan Ummat Islam. Ini sangat jelas, tidak diragukan lagi. Lihatlah salafy.or.id, buku MAT dan MDMTK, blog Fakta, blog ‘Tuk Pencari Al Haq’, majalah Asy Syariah, dll. Itu adalah bukti yang tak bisa dibantah lagi. Mau membantah bagaimana, bukti sudah menyebar ke seantero dunia? Khawarij dulu juga seperti itu. Mereka menyebarkan permusuhan, mengobarkan peperangan, bahkan mereka membunuh Khalifah Utsman (Ra) dan Khalifah ‘Ali (Ra).

9. Ibadah mereka menakjubkan. Harus diingat, dulu Khawarij sangat hebat dalam Shalat, puasa, maupun membaca Al Qur’an. Kata Ibnu Abbas (Ra), tubuh mereka kurus-kurus karena sangat sering puasa, mata mereka celong karena banyak bangun di malam hari, pakaian mereka kumal karena zuhud. Khawarij gaya baru juga seperti itu, meskipun ibadahnya tidak sehebat Khawarij masa lalu. Kita kalau bersanding bersama Khawarij modern itu, kita akan merasa ‘kecil hati’ melihat ibadah kita. Tetapi Nabi (Saw.) menegaskan, “Mereka keluar dari agama ini seperti melesatnya anak panah dari busurnya.”

10. Mereka mengklaim diri sebagai kelompok paling benar. Ini ciri Khawarij yang tidak boleh diabaikan. Mereka bukan hanya berbeda pendapat dengan Shahabat (Ra), bahkan mengkafirkan para Shahabat dan menghalalkan darahnya. Mengapa itu terjadi? Sebab mereka mengklaim diri sebagai kelompok paling benar. Itu pula yang terjadi di jaman ini. Tidak ada yang selamat dari serangan orang-orang dungu itu, selain diri mereka sendiri.

11. Mereka menuduh orang lain sesat, padahal kesesatan di pihak mereka. Ya, kita semua sudah tahu bagaimana kelakuan orang-orang Khawarij yang mengatasnamakan Salafi ini. Mereka menuduh orang lain “ahli bid’ah”, padahal mereka itulah ahli bid’ah; mereka menuduh orang lain “hizbi”, padahal diri mereka sendiri a’zhamul hizbi minal ahzab (sebesar-besarnya hizbi sejati); mereka menuduh orang lain Khawarij, padahal tuduhan itu sejatinya lebih pantas mereka sandang sendiri. Dulu Khawarij menuduh Khalifah Ali (Ra) dan para Shahabat telah kafir, padahal kekafiran di pihak mereka sendiri.

12. Mereka memerangi Ahlul Islam dan membiarkan ahlul autsan (penyembah berhala). Ini perkara lain lagi yang sangat nyata dalam diri kaum Khawarij ini. Kerjaan mereka tidak pernah lepas dari memusuhi gerakan-gerakan Islam, memusuhi lembaga-lembaga Islam, memusuhi para dai dan individu-individu Muslim. Kerjaan mereka tidak lepas dari itu. Itulah “jihad akbar” mereka. Sekiranya mereka memegang kekuasaan, sangat yakin mereka akan memerangi saya, Anda, dan kita semua. Hanya soal waktu saja. Tetapi lihatlah, apakah mereka pernah merugikan orang kafir seperti itu? Tidak sama sekali. Mereka bikin Laskar Jihad (LJ) karena memang ada “pesanan” untuk menangkal RMS; selain itu, mereka ingin menjadi “pahlawan” biar dakwahnya sukses di Indonesia. Saya bersyukur kepada Allah, Laskar Jihad hancur lebur. Kalau tidak, Ummat Islam akan mengangkat mereka sebagai “pahlawan”. Sama saja dengan Ba’abduh, dia serang semua organisasi Islam di Indonesia yang tidak sesuai syahwatnya, adapun dia tidak tampak kontribusinya dalam mendakwahi orang-orang Hindu di Bali. Jember tempat Si Luqman Al Fasid ini kan sangat dekat dengan Bali.

13. Mereka sangat lancang di hadapan hujjah kebenaran. Jangankan pendapat saya, Anda, dan para dai di Indonesia, Al Qur’an dan Sunnah shahihah pun siap mereka belakangi, jika tidak sesuai hawa nafsunya. Banyak fatwa-fatwa ulama besar Saudi yang telah memperingatkan mereka, termasuk fatwa almarhum Syaikh Bin Baz (rah). Tetapi semua itu dilempar ke tong sampah. Namun kita jangan merasa heran dengan semua ini, sebab pendahulu mereka juga seperti itu. Dulu Dzul Khuwaisirah pernah menghardik Rasulullah (Saw): “Berbuat adil-lah kamu, Muhammad!” Dalam buku DSDB II, hal. 292-294 Ustadz Abduh menukil sebuah kejadian di kalangan Syaikh Rabi’ Cs. Disitu saja Rabi’ berani melecehkan Syaikh Bin Baz rahimahullah. Ya, begini ini modelnya kaum Khawarij.

14. Mereka bersikap sangat pecundang. Nah, ini salah satu ciri lain bahwa iman mereka telah rusak, yaitu sikap pecundang (pengecut). Mereka sangat berbisa mulut dan tulisan-tulisannya. Mereka perlakukan orang lain seperti boneka-boneka tak bernyawa. Ketika ditantang debat terbuka, tak mau; diajak dialog, tak mau; bahkan ditantang mubahalah, juga tak mau. Sangat menakjubkan, ketika mereka terdesak dalam perang pemikiran, mereka menyebarkan secara terbuka data-data informasi privacy keluarga kami. Bahkan terakhir, mereka memfitnah saya telah menawarkan kerjasama ke forum gereja, padahal saya menulis e-mail ke perusahaan-perusahaan dalam rangka muamalah bisnis. Sangat sangat sangat pecundang. Khawarij dulu juga begitu, mereka pecundang, suka dengan cara-cara yang sifatnya tidak ksatria. Mereka membunuh Khalifah Ali (Ra) dan hendak membunuh Amr bin Ash (Ra) dan Muawiyah (Ra).

15. Bagaimanapun, orang-orang ini sangat bodoh. Ini juga ciri lain dari Khawarij. Kalau Anda membaca buku MAT karya Si Dhalal Luqman Ba’abduh, Anda akan ketawa melihat cara dia menulis buku. Satu bagian membantah bagian yang lain. Dia mencela orang-orang yang menentang Dinasti Saud dengan celaan yang sangat sangat hebat, katanya memberontak kepada Ulil Amri. Tetapi saat yang sama dia menuduh Daulah Utsmani di Turki dengan perkataan “besi rongsokan yang jelek”. Padahal Daulah Utsmaniyyah adalah Ulil Amri kaum Muslimin, sebelum berdirinya Kerajaan Saudi. Si Fasid bin Dhalal, Luqman Ba’abduh itu, juga mencela habis-habisan Safar Hawali yang mengambil berita-berita dari orang kafir. Sementara Luqman sendiri dalam buku MAT juga mengambil berita dari CNN dan lainnya. Darimana dia tahu istilah “Attack” dari peristiwa WTC 11 September 2001 kalau tidak dari CNN? Banyak contoh lain. Ya begitulah Khawarij sejati, seperti para pendahulunya. Mereka tak mau makan korma yang ditemukan di jalan, takut syubhat; tetapi mereka berani membunuh putra Khabab bin ‘Arat (Ra) dan membunuh isterinya yang sedang hamil.

Saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa orang-orang ini adalah KBS, Khawarij Berbaju Salafi. Mereka sama bahayanya dengan para penganut agama Liberal. Kalau Liberaliyun menyerang Islam dari luar, kaum KBS ini menyerang dari dalam.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Ini adalah bagian dari jihad di jalan Allah Ar Rahiim, insya Allah. Maka aku tidak akan ragu untuk memasukinya. Akhirul kalam, tawakkaltu ‘alallah laa haula wa laa quwwata illa billah. Hasbunallah wa nikmal Wakil nikmal Maula wa nikman Nashir. (Ghurabaunited.wordpress.com)

السلام علبكم و رحمة الله و تعالى و صلى الله على خاتم المرسلين

أما بعد…
كلنا نعلم أن أخر ما نزل من القرأن الكريم “اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسلام دين”

كلنا نعلم ان الى وقت نزول هده أية لم يكن هناك لا شيعة و