Sekedar Catatan

Pengikut NU Masuk Neraka

Posted on: February 27, 2008

Tadi malam kami mulai bersih-bersih lemari. Yaaa, kata orang mau lebaran, harus nata rumah agar terlihat rapi. Pantes dipandang para tamu. Kami menemukan sebuah buku dengan judul Jalan Golongan yang Selamat (Minhajul Firqoh An Najiyah Wat Thoifah al Manshuriah). Penulisnya Muhammad bin Jamil Zainu. Diterjemahkan oleh Ainul Haris Umar Arifin Thoyib, Lc. Penerbitnya Darul Haq Jakarta Po Box 7805/13078 JatCC Jakarta 13340. Tanpa ditulis alamat jelas. Telp/Fax 021-9213741/78836327-6. Sudah dicatat di katalog dalam terbitan perpustakaan Indonesia. Buku tersebut saya dapatkan pada tahun 2001 dari hadiah Yayasan Itba’us Sunnah.

Kami langsung buka daftar isinya. Pada bagian ke-34 ada judul peringatan Maulid Nabi. Karena judul tersebut menarik maka kami lewati semua bagain dan hanya tertuju pada judul tersebut. Dihalaman 152 dijelaskan bahwa orang-orang yang menyelenggarakan maulid terjerumus pada perbuatan syirik. Kemudian dijelaskan mengapa syirik dengan bukti dan dalil-dalil. Pada halaman 153 dijelaskan bahwa peringatan maulid itu cara menjunjung nabi berlebihan. Penjelasan berikutnya adalah peringatan maulid sepadan dengan cara orang kristen dalam merayakan hari kelahiran Nabi Isa Al Masih (hal. 154). Sedangkan di halaman 155 dijelaskan bahwa terjadi percampuran antara laki-laki dan perempuan. Dana yang dikeluarkan sangat besar. Waktu untuk membuat dekorasi, konsumsi dan lainnya sering menyebabkan lengah para penyelenggara sehingga ninggalkan sholat. Terdapat amalan berdiri saat pembacaan Maulid Nabi. Kemudian ditambah dengan penjelasan lainnya di halam 156 dan 157.

Pada bagian tiga puluh tujuh halaman 166 mengeluarkan judul shalawat-shalawat Bid’ah. Yang disebut sholawat bid’ah adalah sholawat yang tidak pernah diajarkan oleh Raulullah. Hanya ajaran dan karangan masyayikh (kyai dan ulama’ ) saja. Pada halaman 173 disebutkan orang yang membaca sholawat Nariyah termasuk syirik karena di dalamnya ada kandungan kalimat syirik. Termasuk yang bid’ah adalah sholawat fatih (170) dan lainnya. Semua sholawat-sholawat yang dinyatakan bid’ah tersebut selalu terdengar di telinga kita. Karena memang di amalkan oleh temen-temen kita yang berorganisasi di NU, terutamanya.

Bahkan di kalanagn NU ada jamaah Sholawat Nariyah. Mereka kumpul beberapa orang, rutin tiap malam tertentu. Mereka membacanya sebanyak 4444 kali.

Di Kota kami, Kediri ada jamaah wahidiyah. Mereka ini pengamal sholawat wahidiyah. Yang menciptakan kyai, ulama’ Kediri tepatnya di Kedunglo-Bandar, Kec. Kota Kediri. Ohhh jumlah jamaahnya sangat-sangat banyak. Tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sholwat ini apakah juga dikategorian bid’ah?

Kemudian kami buka kembali daftar isi buku yang kutemukan tadi. Di sana kami menemukan tentang bahasan kuburan yang diziarohi pada bagian ke-21 hal. 102. Terdapat bahasan tawasul yang dilarang pada bagian 24 hal. 118.

Karena pembahasan-pembahasan sangat menarik, maka kami membaca semua isi buku tersebut. Alhamdulillah dapat kami selesai dalam waktu dua jam. Memang cara baca saya dengan pelan dan kemudian saya kaitkan kondisi saat ini. Yang dituduhkan bid’ah oleh buku ini merupakan amalan yang dilakukan oleh sebagaian besar pengikut Islam di negeri kita ini. Bahkan di dunia Islam lainnya. Semisal di Malaysia, di Brunai, di Yaman dan negeri lainnya yang bermadzab Imam Sayfi’i. Yang dituduhkan syirik selalu kita jumpai, di sekitar kita.

Nahhhh, yang dilarang oleh agama menurut buku tersebut merupakan amalan pakem temen-temen kita terutama yang di bawah organisasi NU. Semisal ziarah kubur. Jangan ditanya mengenai amalan ini. Pasti sepakat dilakukan, ditradisikan oleh temen-temen kita di NU. Tidak hanya ziarah kubur para wali songgo tetapi termasuk ke ulama’ yang dianggab punya kelebihan, atau ulama’ yang dianggap wali. Amati aja seputar makam Gus Mik di Ploso Kediri, pasti akan ditemukan para peziaroh yang silih berganti.

Demikian pula peringatan Maulid Nabi, mulai dari RT hingga istana mengagendakan untuk menyelenggarakannya. Ohhh, ingat lhoo setiap tanggal 12 Robiul Awal kita libur nasional. Karena kita memperingatan hari kelahiran Nabi Muhammad sholollah alahi was salam. Apakah libur nasional ini juga termasuk bid’ah?

Ahhh, banyak banget calon-calon penghuni neraka yang tidak menyadari bahwa dia sudah dinyatakan golongan yang akan masuk ke neraka. Kami berpikir, dan bertanya kalau demikian tuduhannya, maka di negeri kita ini, “di mana kami dapat menemukan golongan yang selamat tersebur? Di mana kami dapat menemukan Minhajul Firqoh An Najiyah Wat Thoifah al Manshuriah?” Dan bagaimana dengan kondisi kita saat ini yang setiap hari menemukan dan melaksanakan semua yang dianggab bid’ah tersebut. “Salahkah mereka yang mengamalkannya?” Pertanyaan kami saat ini dan sekaligus meminta ketegasan dan klarifikasi, baik dari penerjemah atau penerbit bahkan jika perlu dari pengarang langsung. “Benarkah tiket neraka telah diambil para pengamalan maulid nabi, para pembaca sholawat nariyah dan para peziarah kubur?”. Jika memang jawabannya benar. Dan mereka mengeluarkan buku-buku yang membenarkan semua pertanyaan saya. Bolehkah kita simpulkan bahwa orang yang berorganisasi NU akan masuk neraka?

============================================

Catatan Pribadi dan Pengalaman.

Kami setiap tanggal 12 Robi’ul awal selalu punya jadwal menyelenggarakan Maulid Nabi sholollah alaihi as salam di Pondok Pesantren Nurul Haromain Pujon Malang. Di sekolahan yang kami kelola juga menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi sholollah alaihi as salam. Kami juga sering diundang untuk mengisi acara maulid nabi sholollah alaihi as salam. Bahkan tradisi kami ketika anak kami aqiqoh juga kami bacakan bacaan sholawat nabi sholollah alaihi as salam dan diba’. Apalagi bacaan sholawat udah selalu kita amalkan. Bacaan sholawat fatih selalu kita baca saat akan memulai ceramah atau pidatoh, jadi pembuka setelah hamdalah termasuk saat khutbah jum’ah. Kami juga pengamal Dalaa ilul Khoirot. Waktu kami di SPG dan mondok di Raudlotul Qur’an Lamongan, kami amalkan dalail tersebut selama tiga tahun. Ziarah kubur merupakan cara kami mengenang para ulama’. Kami mendo’akan mereka. Kami sering banget melaksanakan ziarah kubur.

Semua yang kami amalkan tadi berarti salah? Berarti saya mengukir jalan mulus nuju neraka? Ataukah enaknya berpijak pada tulisan kami sebelum ini. Bid’ah jalan nuju surga? Enak mana yaaa? Ahhh agama khok dibikin repot?

Sumber : http://pustakamawar.wordpress.com/2007/09/23/pengikut-nu-masuk-neraka/

354 Responses to "Pengikut NU Masuk Neraka"

Gus Dur khan pernah bilang “gitu aja kok repot”
Kembali ke pribadi masing-masing, karena tauhid adalah hubungan antara kita dengan ALLAH.

Sesungguhnya ALLAH MAHA MENGETAHUI
apa yang ada dalam Hati manusia.

Salam

jika pengikut nu mASUK NERAKA,,,,,,, MAKA APAKAH YG NULIS INI YAKIN BISA MASUK SURGA………..????????? JANGAN DEBAT ANTARA ORMAS D SINI,,,,,, TOLONGLAH, ORANG ORANG AWAM PUN TAU BAHWA KITA BERBEDA DALAM PENAFSIRAN TENTANG HADIST……. SO GK USAH DI BUKA D DEPAN UMUM………. INNAMAL A’MALUU BINNIYAT. SEGALA SESUATU TRGANTUNG PADA NIATNYA…… KAMI AKAN TETAP DAN YAKIN BAHWA MAULID NABI MUHAMMAD SAW BUKAN BID’AH DOLALLAH. TPI BID’AH HASANAHHH…. MAAF BERIBU MAAF JKA kta kata saya gk sopannn

setuja setuja.g da yg brhk mnntukn siapa,golongan pa,yang akn msuk neraka,bhkn surga yg kita nanti2,.kcuali Allah swt….insyAllah,soal maulid n ziarah,…insyAllah niat kita baek,,n tdk musyrik.amiin

ada baiknya anda buka youtube penjelasan mslh maulid oleh buya yahya semoga anda lebih mantaff,….itu saran saya,…

Yhiepz@ Tolong cantumkan hadist shohih yg membagi bid’ah menjadi 2( hasanah & dholalah) seperti yg anda bilang. Yg sya tau sesuatu yg baru yg berkaitan dgn urusan agama yg tdk ada tuntunannya akan tertolak.

Hancur umat ini kalo hablumminalloh dikembalikan ke individu masing2 entar kaya itik ditingal pengembala ngawur kesawah orang.
Kang ga perlu bingung tingal ambil yg yakin tingalkan yg tidak yakin. Namun perlu diingat keyakinan itu harus dilandasi dalil dari al qur’an hadis ijma.
Jangan asal yakin2 bisa2 dapet dalil dari demit kan repotmas.

kl pengin selamat ya jauhi bid’ah gitu aja kok repot

Orang yg suka memberi label bid’ah itu biasanya tahu agamanya seperempat aja,nggak pernah ngaji tafsir,ilmu alat(grammar bhs arab),najghul balaghoh,muthola’atul hadits,orang2 muktazilah seperti ini udah ada di jaman Rosul,sama Rosul aja kurang ajar,apalagi sama umatnya,lebih kurang ajar lagi,bahkan mereka terjerumus sifat takfir,zaman sekarang tepat orang2 wahabi,itu irak ada pejuang ISIL,yg berniat menghancurkan Ka’bah,faham nya sama dgn org mu’tazilah yg suka melabeli bid’ah,tapi nggak tahu ilmunya.

Semoga Alloh SWT memberi hidayah kepada kita semua dan mejadikan kita ummat yang rahmatan lil ‘alamien. Amien

Makasih dah mampir dan beri komentar mas Ardietna.

bos lukman … masalah bid’ah memang cerita klasik yang ngga ada habisnya … dan sangat seru diperdebatkan …

tapi gw mau coba ambil dari inti nya ibadah … ibadah semula semuanya adalah haram … kecuali yang telah dicontohkan oleh nabi …

kembali ke bid’ah … bid’ah adalah ibadah yang tidak dicontohkan oleh nabi … sehingga dianggap haram …

sekarang apakah beda antara ibadah dan aktifitas yang lain … kalau ibadah dilaksanakan harus niat lillahita’ala … kalau dilaksanakan mendapat pahala kalau ditinggalkan mendapat dosa … ada “rasa” kewajiban melaksanakan ibadah tersebut …

sebenarnya mudah saja bagikawan-kawan yang kebetulan melaksanakan yang diisukan sebagai bid’ah … misalnya acara maulid nabi … yang penting jangan ada “rasa” kewajiban melaksanakan maulid nabi … dan jangan pernah berpikir kalau tidak melaksanakan maulid nabi akan mendapat dosa …

jadikanlah acara maulid nabi sebagai “aktifitas biasa” bukan suatu ibadah … maka insya Allah akan terhindar dari bid’ah … begitu juga dengan kegiatan yang lain … jangan diniatkan sebagai ibadah … karena pada dasarnya ibadah kepada Allah semuanya adalah haram … kecuali yang dicontohkan oleh nabi …

namun demikian dalam alqur’an dan hadis … kita dianjurkan untuk selalu menyanjung dan meninggikan Allah dan rasulnya … terutama nabi Muhammad … terkait hal tersebut … maka kegiatan maulid yang diniatkan bukan sebagai ibadah … tapi dalam rangka menjalankan amanat alqur’an dan hadis untuk menjunjung Allah dan rasulullah SAW … maka akan terhindar dari bid’ah …

yang penting … kegiatan-kegiatan baik tersebut jangan dianggap sebagai ibadah … that’s the point …

sebenarnya ibadah itu ada dua macam, cuma gw lupa apa namanya … yang tadi diatas gw sebutkan adalah ibadah yang “langsung” kepada Allah … ada juga termasuk dalam kategori ibadah yang lain … yang tidak langsung kepada Allah, yaitu yang tadi gw sebut sebagai “aktifitas biasa” … contohnya seorang pelajar yang mencari ilmu dengan niat lillahi ta’ala … sudah termasuk ibadah juga … demikian orang yang bekerja untuk memberi akan anak dan keluarga … yang diniatkan lillahi ta’aa … juga termasuk ibadah … bahkan semua kegiatan baik yang kita niatkan lillahi ta’ala … insya Allah menjadi ibadah bagi kita … bedanya … ibadah yang “tidak langsung” tersebut tidak ada kewajiban untuk melaksanakan … artinya seorang pelajar yang tidak belajar tidak mendapat dosa … namun dia akan rugi sendiri di dunia …

ini hanya sedikit pemikiran yang belum tentu benar … gw walaupun bukan warga NU … namun tidak rela juga kalau saudara-saudara kita sesama umat muslim di “judge” akan memasuki neraka … karena hanya Allah yang berhak menjudge …

kalau ahmadiyah disebutkan akan masuk neraka … gw setuju banget … karena kalau NU adalah “berbeda” sedang ahmadiyah adalah “sesat” … ini akan jadi perdebatan panjang sendiri hehehe …

oke … hanya orang yangberjiwa besar yang bisa menerima perbedaan

PIS
positif thinking only …

Nampak bijaksana nih om Andry. Namun ada yang menarik untuk didiskusikan.

Sahabat Nabi Khubaib bin Ady ra menjadi tawanan kaum musyrikin. Vonisnya sudah dijatuhkan, hukuman mati. Khubaib bin Adi ra meminta waktu kepada musyrikin untuk melakukan shalat dua rakaat sebelum eksekusi dilakukan. Dia akhir ucapan setelah salam, sahabat yang mulia ini berkata : alau bukan krn khawatir kalian menganggap aku takut mati tentu aku tambah lagi.

Adakah sahabat Khubaib bin Adi ra mencontoh ibadah sholat sunnah dua rakaat sebelum dieksekusi mati? Adakah perintah yang menyunnahkan perilaku sahabat tsb? Adakah Khubaib bin Adi meniatkan sholatnya bukan untuk ibadah karena Rasululloh tidak pernah memerintahkan sholat sebelum eksekusi? [silakan klik http://blog.re.or.id/peristiwa-mata-air-raji.htm%5D

Bid’ah yang diyakini sebagian orang hanya punya satu pengertian [bid'ah-sesat-masuk neraka] ternyata tertolak dengan dalil lain, dimana Rasululloh SAW menerangkan tentang amal baik [sanna sunnatan] yang dilakukan akan mendapat pahala dan orang yang ikut mengamalkannya pun mendapatkan pahala. Hadits mengenai ini diriwayatkan oleh imam Muslim

Mengenai Maulid yang om Andry usulkan sebagai jalan tengah ternyata merupakan hal baru yang diada-adakan [bid'ah nih om]. Mereka yang menolak Maulid dan banyak mengambil pendapat Ibnu Taymiyah ternyata bertolak belakang pendapatnya dengan pendapat imam mereka [syaikh Ibnu Taymiyah]. Bahkan Syaikh Ibnu Taymiyah menyatakan jika penyelenggaraan maulid diniatkan untuk hal yang baik dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, maka berpahala besar [ini berbeda dengan fatwa om Andry]. Silakan simak pendapat Ibnu Taymiyah [pada menit 2:08]

Allohu a’lamu

setuju pak ustad … sayang itu youtube nya ngga ada yang ngartiin … jadi gw liatin aja deh hehehe …

maksud gw … seperti maulid … kalau ngga salah pernah diadakan waktu masa perang salib … saat itu tentara muaslim sedang down … lalu diadakan lah memperingati hari kelahiran nabi Muhammad SAW … sehingga menambah semangat para pejuang muslim …

ngga ada yang salah sebenarnya dengan maulid … wong itu memuji dan meninggikan asma Allah dan rasulnya … kok salah …

namun yang ditakutkan kalau sampai maulid dianggap wajib … sama seperti ketika nabi mencontohkan shalat tarawih pada malam dibulan ramadhan … beliau hanya mencontohkan 3 malam di lakukan di masjid … selanjutnya dilakukan dirumah … tiada lain karena takut nanti umatnya menganggap sebagai ibadah wajib … terus kalau kita melakukan shalat tarawih setiap malam berjamaah di masjid … apakah itu bid’ah? tentu tidak kan? … karena walaupun kita laksanakan tiap hari di masjid berjama’ah kita tahu esensinya … bahwa shalat tarawih adalah ibadah sunat bukan wajib dilakukan di masjid

nah sekarang arus bawah ada pendapat seolah maulid adalah “wajib” … kalau tidak melakukan maulid itu dosa … sebenarnya ini pendapat arus bawah … yang mungkin melihat para pemimpinnya terus melakukan maulid … maka dianggapnya maulid itu wajib … itu yang perlu dijelaskan kepada para pengikutnya

selama kegiatan maulid dilaksanakan dengan niat lillahi ta’ala saja … menurut gw ngga masalah … itu merupakan kegiatan yang sangat baik … daripada nonton sinetron malam2 kan? hehehe …

contoh lainnya seperti shalat tarawin yang 21 raka’at … itu kan dicontohkan sama sahabat nabi setelah nabi wafat (gw lupa siapa namanya) … bahkan sampai 35 raka’at …

tapi substansinya bahwa tarawih itu adalah “shalat santai” … nabi melaksanakan shalat tarawih dengan santai … tidak terburu-buru …

yang menjadi masalah pada saat shalat tarawih dilaksanakan dengan terburu-buru … tentu itu sudah diluar kaidah shalat tarawih itu sendiri … walaupun dilakukan 11 raka’at sesuai dengan contoh nabi … tapi substansinya tidak kena … walaupun tidak akan mendapat dosa … karena shaat tarawih termasuk ibadah sunah bukan wajib

pada perinsipnya tujuannya sama namun memang ada perbedaan pendapat … tapi itu masih di jalur yang benar semua … karena semua ada contohnya … istilahnya … banyak jalan menuju roma … semua akan sampai ke roma … namun jalannnya berbeda … dan perbedaan dalam islam adalah rahmat …

kata “bebeda” akan lain dengan kata “sesat” … kalau berbeda … masih menuju tempat yang sama … yaitu surganya Allah … tapi kalau sesat … itu “sudah pasti” salah jalan … nah kalau “Ahmadiyah” itu yang sesat …

yang perlu di ingat … perbedaan dalam islam adalah rahmat … tidak perlu di per runcing … selamat menunaikan ibadah puasa pak ustadz … indahnya kebersamaan

PIS

betul yg ini
“….apakah beda antara ibadah dan aktifitas yang lain … kalau ibadah dilaksanakan harus niat lillahita’ala…”
dan yg ini
“….yang penting jangan ada “rasa” kewajiban melaksanakan maulid nabi … dan jangan pernah berpikir kalau tidak melaksanakan maulid nabi akan mendapat dosa.”
i like it.. so dont blame the others moslem each other. ^,^

memang yg punya surga neraka hanya ALLAH SWT. tp DIA juga telah memberi petunjuk melaui Rasul_NYA, bahwa semua yg diperintah dan dilarang sdh jelas, kalo tidak ada..(dikurangi atau ditambah) udah pasti amalannya akan sia-sia…….Wallahuaklam bissawab………….

kang ahmad lukman….., ahlus sunnah waljamaah tidak memvonis seorangpun dari ahli kiblat masuk surga atau neraka, meskipun orangnya dalam kesesatan, karena urusan surga dan neraka adalah hak Alloh. sedangkan menghukumi suatu amalan itu sesat atau tidak itu persoalan didunia dan sebagai timbangannya adalah kitabullah dan as sunnah yg dipahami generasi2 awal.

ketika Rosulloh mengatakan “……setiap kesesatan itu dineraka” bukan berarti memvonis ‘orangnya’ masuk neraka. Sangat berbeda dengan orang yang mengatakan SETIAP ORANG YANG SESAT DI NERAKA inilah yang tidak boleh!! sebab bisa jadi ‘orang yang sesat’ karena taubatnya atau mempunyai kebaikan yg besar ketika di dunia sehingga diampuni dosa2nya oleh Alloh

persoalan ini dipahami salah oleh kang Ahmad. sehingga dikatakan oleh kang Ahmad lukman bahwa penulis buku di atas telah memvonis orang2 NU musuk neraka.

semoga kang ahmad menyadari hal ini.

Sampeyan muter-muter mas. Gak konsisten antara pembelaan dengan kondisi di lapangan. Bid’ah itu amalnya, pelakunya mubtadi’. Yang masuk neraka itu amal atau pelaku mas?

Amal Tawassul adalah syirik menurut yg dipahami Wahhabi. Sementara Ahlus Sunnah menyatakan hal tsb mustahab (bukan keharusan dan diwajibkan). Pelaku syirik disebut musyrik. Setelah melabeli amal Muslimin sebagai amalan syirik -yg konsekwensinya tidak diampuni dosanya dan calon penghuni neraka- lantas berkelit.

Tegas aja mas, gak usah tanggung tanggung. Bid’ah ya bid’ah, syirik ya syirik. Mubtadi dan Musyrik tempatnya dimana?

Gitu aja kok repot.

ada kaidah: “Tidak setiap orang yang jatuh dalam kekufuran maka kekufuran jatuh padanya dan tidak setiap orang yang jatuh pada kebid’ahan maka kebid’ahan jatuh padanya.”

jika NU memahami bahwa wahabi menganggap orang2 NU masuk neraka karena beramal bid’ah, tanpa perincian lebih lanjut, seharusnya anggapan ini bisa berbalik kepada mereka juga. bukankah NU juga menganggap bahwa wahabi itu beramal bid’ah, yaitu yang biasa mereka sebut “AQIDAH TRINITAS RUBBUBIYAH, ULUHIYAH DAN ASMA WA SHIFAT”? jika demikian, bukankah berarti NU menganggap wahabi sesat? dan jika demikian, berarti NU menganggap wahabi masuk neraka juga kan?

kebodohan di atas kebodohan yang dilatari sikap fanatik terhadap ulama atau kyai.

Iya, aku setuju sama mas Ardietna tuh. Diterima atau tidaknya amalan kita itu hanya Allah yang tau. Mana bisa kita tau isi hati manusia kan?

Yang bilang amalan2 tadi bid’ah saja belum tentu amal ibadahnya diterima juga kan? :)

saya tidak suka kpd org yang menganggap dirinya benar.apa lagi kpd penulis yg mengatakan pengikut NU masuk neraka.
-solawat lebih baik dari pada nyanyi-nyanyian dangdut
-ziarah mengingat kan kita kpd kmatian
-maulid lebih baik dari pada merayakan 17 agustusan

kalo d pikir lg mah banyak deh pahala yang bisa di dapat dr pd menentukan orang masuk neraka

baca qur’an juga termasuk bacaan yang baik menurut syar’i, bahkan terdapat pahala yang besar didalam setiap hurufnya. kalo begitu boleh ga ya klo bacaan sujud d dalam shalat saya ganti dengan membaca Surat Al-Baqarah…..

pemahaman agama yg sempit akan menelurkan sikap dan perbuatan yg sempit pula. orang baca sholawat nabi kok dibilang bid’ah dengan alasan bacaanya ditambah tambah. orang seperti itu ilmu agamanya sangat sempit makanya jadi bingung. sholawat nabi itu do’a karena didalam doa itu menyebut nama Allah dalam arti permohonan kepadaNya kemudian menyebut nama nabi yg selalu gandeng sebagai yg dimohonkan kepada Allah, inilah yg disebut doa sholawat. Adapun ditambah bacaan doanya ya tidak bermasalah asalkan yang dimohon hal hal yang baik menurut agama Allah. GITU AJA KOK REPOT ORANG YG SEMPIT ILMUNYA.

ina `92,,Didalam ibadah kita harus tahu bahwa ibadah kita tuh di terima atau tidak,,karena kalo tidak di terima maka ( SIA – SIA ) kita RUGI ,,Hidup hanya sekali brooo,,jangan kita beribadah yg tak ada guna nya,,,,oke

Nabi saw. kan gak nyuruh kuliah di IKIP, Jerman pulak. Gak ada haditsnya perintah kuliah di situ. Ina n the gank (admin termasuk) telah melakukan bid’ah. He he he.

Hidup jadi terasa berat banget …….:(

Jangan terlalau dipikir mumet yang penting kita teguh dengan keyakinan kita,masalah masuk neraka atau syurga itu urusan Allah

Permudah jangan persulit. Beri kabar gembira jangan ditakut2i

Insya Allah dan yakin semua pasti ada landasannya.Susah mau njelasin orang yang belum tahu memahami hadis.

Tantangan untuk mas Toni nih untuk menjelaskan ilmu pemahaman hadits. Silakan mas, sebelumnya makasih dah mampir, kasih komen dan sekaligus ditunggu sharing ilmunya.

Alhamdulillahirabbil alamien..
Ternyata masih bnyk org” yg
dirahmati Allah S.W.T jg
mendapatkan Syafaat dr Nabi
besar Muhammad S.A.W
saya heran dgn penulis buku
tersebut..pikiran dia kacau kalii..
sampai” menghardik bila org yg
mengamalkan bid’ah jg sunah
rasul akan masuk neraka..wah
asyik donk..bs ketemu dgn
penulis buku trsbt..trus artis
bokep..jg para laknatullah
didunia ini..krn Allah Maha
Segala Maha..Allahu Akbar..
Allahu Akbar..hayo..siapa mau
ikut..wah penghuni neraka
tambah 50 juta lebih warga NU
donk..
Tambah rame nich..bisa”
syurga gak ada yg boking tempat
donk nek emang kami termasuk
penghuni neraka..hahahaa..
Yaa Allah..gimana nich kami kok
dilaknat sesama ciptaanmu dgn
mengatas namakan ayat ayat
Suci-Mu..dimana kami akan
berlindung..bila dgn
mengamalkan bid’ah jg ajaran
wali kami adalah penuntun kami
menuju nerakaMu..apakah kami
termasuk golongan mereka
para pendusta agamaMu Yaa
Allah..?

Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik. Debatlah mereka dengan cara yang baik…

setuju banget ma yg nulis ‘aya” wae nich…’
yg nulis bukunya mgkn ga pernah baca sejarah sahabat nabi, hadist” & shahih” dari para imam” terdahulu, para sahabat selalu menyambut gembira dgn kdatangan nabi saw. kita jg kan ga mo kalah nyambut sang kekasih Allah dgn penuh kegembiraan dgn merayakan maulid. buat mereka yg ga mo ikut ngerayain maulid jelas” ga punya rasa cinta & kedekatan dgn nabi saw, kalo udah ga cinta ma nabi gimana mo jadi pengikutnya…???
mengenai bid’ah, kan ga semua bid’ah itu buruk…
nabi saw pernah bersabda: ‘barang siapa yang membuat sesuatu yang baru yang baik untuk kemajuan islam, maka pahalanya dan pahala orang” yang mengikutinya dan barang siapa yang membuat sesuatu yang buruk dalam islam, maka dosanya dan dosa orang” yang mengikutinya.’
salah satu bid’ah yg baik misalnya pembukuan/penjilidan al-qur’an yg nabi saw sendiri tidak pernah memerintahkan al-qur’an dibukukan. al-qur’an baru dikumpulkan pada masa khalifah abu bakar dan diteruskan di masa umar dan bru dibukukan pada masa ustman. coba bayangin kalo al-qur’an ga pernah dijilid, mungkin sekarang sudah tercecer & islam kehilangan pedoman hidup, gimana donk….??

saya paling demen pendapat ini.

agama itu personal,,, kita tidak bisa mnghakimi orang lain atas dasar beberapa ayat saja…
tapi kita juga tidak boleh diam saja bila ada suatu kaum yang rusak…
jadi gimana dong…

Al ‘ilmu qobla al ‘amal = Ilmu sebelum beramal. Justifikasi orang lain dgn dasar yg kita miliki dan hanya mengakui dasar/hujjah diri saja yg benar selainnya bathil adalah tidak benar & sombong. Menegakkan yg benar ada tata cara dan metodenya. Rasululloh saw. tidak menghardik badui yg pipis di mesjid dan membiarkannya menyelesaikan hajatnya, baru kemudian memberitahu adab di masjid. Indah nian sang junjungan saw. Seandainya kamu bersikap kasar dan sempit hati maka mereka akan menjauhimu. Demikian cara Alloh swt mengajar nabi kita saw menghadapi ummatnya.

Allohu a’lamu

@Dian:
Jadi, ya masing2 aja. Toh agama kan untuk dijalankan, bukan untuk diperdebatkan. Kalo kita percaya, ya jalankan, kalo tidak ya tidak usah.Beres kan? Dan hanya Allah lah yang Mahatahu siapa2 calon penghuni syurga dan siapa2 penghuni neraka. Mereka adalah ‘ORANG-ORANG YANG ALLAH KEHENDAKI’…

Yup, bener kak Ina. Saya off line duluan ya. Ditungguin sweatheart nih he he he.

kita gak usah debatin masalah maulid itu bid’ah apa bukan, yang terpenting sejauh mana kita telah amalkan ajaran dan aturan Rosulullah SAW. jangan cuma kita senang ngrayain Maulid Nabi tapi kita gak pernah ngamalin apa yang diajarkan Nabi, kita ngaku Ahlussunnah tapi gak suka dengan Sunnah, ngaku paling benar padahal yang dilakuin sama sekali tidak berdasar. ayolah kita berlomba-lomba menyatukan hati dan fikiran kita, bagaimana ummat Islam selalu bersatu, biar tidak jadi bulan-bulanan orang-orang kafir yang selalu mencari kesempatan untuk menghancurkan Islam.Soal ibadah masing-masing golongan mempunyai dasar sendiri-sendiri, yang terpenting kita jangan berpecah belah, ok saudaraku?!!!!!

Kirain Istrinya KaK Saad beneran NTUS namanya..kok sekarang jadi sama si sweetheart??? Selingkuh ya???

memang banyak orang tidak sadar bahwa keislamanya dah hilang .

Parameternya mas Andi? Apa maksudnya dengan menjalankan hal tsb di atas keislaman menjadi hilang? Smg tidak.

Tks 4 comment

sholawat yang hanya di contohkan oleh Nabi Muhammad adalah sholawat Ibrahimiah.

Masak sih mas?

Sebagai salah satu shalawat yang paling utama dan banyak jalur periwayatan serta beragam matannya betul hadits shalawat ibrahimiyah (yang menyertakan shalawat atas nabi Ibrahim AS dan keluarganya). Namun menyatakan shalawat Ibrahimiyah saja yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW dan hanya itu yang boleh diamalkan, rasanya terlalu terburu2 kalau tidak ingin dikatakan gegabah.

“Ya Allah, wahai Tuhanku, muliakanlah oleh-Mu akan Muhammad dan akan keluarganya.” (HR. Al-Nasâ’i dari Zaid ibn Kharijah).

“Ya Tuhanku, muliakanlah oleh-Mu akan Muhammad Nabi yang ummi dan akan keluarganya.” (HR. Abû Dâud dari ‘Uqbah bin ‘Amir).

dan masih banyak lagi hadits2 lainnya. Dengan demikian pendapat mas mr. pintar terbantah.

Betul…jangan gegabah..Allah Ta’ala saja memuliakan kelahiran nabi Isa A.S dan Nabi Yahya didalam Qur’an..monggo silahkan dicari surat dan ayatnya…
Lalu kenapa untuk KekasihNYA, yang karenanya Allah menciptakan langit dan bumi, yg tidak Allah turunkan melainkan sebagai rahmat alam semesta…. Kenapa sebagian saudara2 kita malahan bersikap menentang shalawat kepada Nabi Saw. Pertanyaannya…
1. Apakah saudara2 tsbt merasa lebih mulia dan lebih suci dan pintar dengan para kyai, ulama atau Habaib2 yg dimasa lalu dan sekarang?…Maaf, cara kita makan, berpakaian, bergaul, panca indera…penuh dengan dosa dan maksiat, lalu pada merasa lebih pintar dari ‘ulama2 jaan dulu???..
2. Apakah Nabi Saw. tdk pernah merayakan ulang tahunnya???..Nabi berpuasa utk mengenang kelahirannya. Bukankah ini suatu bentuk penghormatan Nabi Saw. utk hari kelahirannya???
3. Apakah dalam perayaan maulid tidak ada zikir, ayat2 suci, shalawat, shadaqoh, silaturhami sesama, dan kebaikan2 lainnya??? anda ikut dulu…sekedar dateng dech…lihat dan dengarkan?..
4. Memang didalam maulid yg bilang mengkultuskan Nabi Saw. siapa?… Memuliakan ia, apakah tidak boleh, Allah saja bershalawat kepada Nabi Saw. lah kita sbgi umatnya masih ngeributin hal2 yg diluar jangkaun….ckkkk..ckkk..hebat kali anak2 muda skrg..baru balajar 1-2 thn sdh mau menghujat sesorang atau kelompok masuk keNeraka…. Apa tdk tahu..kalau menghujat sesama muslim sangat dilarang???

Alfaqir,
Saad

mbuhlah…kalo mang ntar kudu masuk neraka ya tinggal dijalanin…toh belum tentu yg nulis jugak dah bener…lha wong masih sama sama manusianya aja lho ….mo ntar dimasukin sorga ya ngalkamdulillah,terima kasih…kalo mang ntar dimasukin neraka yo tinggal dijalanin…wong dah di suruh masuk sama Beliau nya…^^

intinya adalah hindari amalan bid’ah,siapapun yang mengamalkan bid’ah tempatnya dineraka. berpegangalah pada quran dan hadist. jangan dikurangi atau dilebihkan,berilmulah sebelum beramal,agar pengamalanmu pas/benar

Al Qur’an tidak pernah disuruh untuk dibukukan menjadi Al Qur’an seperti sekarang, begitu pula hadits. Ini hal baru yang diada-adakan. Bid’ah semua dong Wi. :?:

Terminologi tentang Bid’ah yang perlu diperjelas. Ngasih komen di sini juga bid’ah kan. Mana ada Rasululloh menyuruh melakukan ini.

Semoga Iwi termasuk penghuni syurga. Ajak kami juga ya Wi.

Bid`ah itu bukan pada benda-benda /alat-alat/sarana-sarana.
Lil wasaaililmubaahti hukmulmaqooshid

Sollallah ‘ala muhammad
solallah alaihi wasallam

@ utk yg anti-shalawat.

buat gw:
mo dikasi neraka kek, mo dikasi surga kek,
GA PENTING BANGET WAT GW…
Mereka berdua jg ciptaan-Nya…
(Allohu Akbar…)

gw hanya pengen dicatat sbg yg selalu mengingat-Nya ampe ajal gw nanti, gw hanya pengen dicatat selalu mencintai rosul-Nya ampe gw mati entar. gw cuma pengen ngikut ngelakuin apa yg Dia dan malaikat2nya lakukan: yusholluuna alan nabiyy!

So, wherever i will be placed, it’s not such the matter…

ke neraka pun gw sambut bila itu perintah-Nya…

So, wherever i will be placed, it’s not such the matter…

ke neraka pun gw sambut bila itu perintah-Nya…

Hebat ya mas ini….Nabi aja masih berlindung dari neraka, eehhhh mas ini malah nantang

Kalau saya jelas tidak mau masuk neraka…

aku yo ra pengen mlebu neroko mas
hiiiii suuueeerreeeemmm….buanngggeeeet

wih ngeri banget sama sdr. jonathan (namanya kok kayak noni seh..)
tapi aku bisa meraba maksudnya. kira-kira: saking cintanya sama YANG DIATAS sampai rela kaya gitu. atau gimana tu?

Tabiat api panas dan membakar, namun hakikatnya bukan dari api. Maka nabi Ibrahim as. sang kekasih Alloh (kholilulloh) tidak berasa panas & terbakar ketika masuk ke dalam tungku yg dibuat Namrudz. Itu mukjizat yg Alloh berikan, bukan karena kepiawaian/ilmu kebal abul Anbiya (nabi Ibrahim as.)

Beribadah tanpa mengharapkan syurga atau krn takut neraka adalah ibadah yg paripurna. Hanya orang pilihan yg dapat sampai pada derajat ini. Sampai ada ungkapan cinta mendalam makhluk kpd Kholiq: ”Tuhanku. Jika aku menyembahMu karena takut pada api neraka, maka masukkan aku di dalamnya! Dan jika aku menyembahMu karena tamak kepada surgaMu, maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembahMu karena kecintaanku kepadaMu, maka berilah aku kesempatan untuk melihat wajahMu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”

Indah & agung. Namun Rasululloh saw sering mengajarkan kita untuk meminta syurga dan berlindung dari neraka. Bahkan terhadap fitnah/azab kubur. Tiap sebelum salam dalam sholat fardhu maupun sunnah, kita dianjurkan mengucapkan permohonan perlindungan thd: 1. Azab kubur 2. Neraka Jahannam 3. Ujian/fitnah kehidupan & kematian 4. Ujian/fitnah al masih ad dajjal.

Wa ridhoka mathlubi…
RidhoMU saja yg aku cari

mas ngomong soal cinta
ga da batasnya
kita2 yang suka ber”SHOLAWAT”
ga butuh surga
ga peduli neraka
ga peduli siksaan

tapi mas yang penting bagi kita
cinta kita pada rosul
Huub kita pada Saiyyidina MUhammaad
pokoknya mas
ane mau tetep sholawat
biar pun diancam ma yng ngarang buku masuk
neraka ana ga peduli

pokoknya

ane mau di dunia cinta ma nabi di cintai nabi Muhammad
dan diakhirat Disisi nabi nabiw
satu tempat dengan nabiw

Allah akan menggolongkan manusia ntar di Akhirat
pada orang yang di cintai

Allah HUmma Sholli Alaa…. Sayyidina MUhammadin
Nabiyyil Ummiyyi Wa’Ala Alihi wa Sohbihi A’jmain

klo mas ga mau sholawat
apa salah satu bukti cinta mas pada Nabiw
itu jalan yang mudah LHO
Allah dan Malaikat pun bersholawat pada nabiw
hai orang2 ber iman berikan sholawat dansalam penghormatan atas nabiw Muhammad
yang ga ber iman, ga usah sholawat

Yukhsyarul mar’u ma’a man ahabba. Kelak manusia dibangkitkan/dikumpulkan besesta orang yg dicintainya.

Smg Alloh mengumpulkan kita beserta para kekasih Alloh. Amien

bapak + ibu
maaf ikut komentar, (terus terang saya ndak pintar dalil).
ada satu hal yang selalu saya hayati dari ajaran agama kita, yaitu : “kita tidak pernah punya hak untuk masuk surga kalau hak itu tidak diberikan oleh Alloh sendiri”, alias amal dan ibadah kita tidak akan pernah sebanding dengan dosa kita, karena hanya Alloh yang tahu apakah perbuatan kita dosa atau ndak.
jadi menurut saya, siapapun itu yang mengatakan bahwa jadi ini dosa, ikut aliran itu = neraka, tidak akan pernah menggoyahkan keyakinan bahwa kita perlu bantuan Alloh.

wassalam

Semua memang semata karena rahmat dari Alloh swt.

temen2semua yg cinta ma maulid Nabi,cinta ma habaib yg notaben keturunan Rosul, cinta tahlilan , sholawatan, dll hati2 klo milih temen ye..orang2 kyk gitu, (kata emak ane) ude te’ka’ susah dilurusin, gede bacot doank..kite ngomong satu, die jawab 10x..subhanallah, klo temen2 ikut maulid di monas kemArin(12 rabiul awal), pasti terkagum2 melihat panorama yg aneh tapi nyata…acara maulid itu dipegang oleh teman2 dari majelis rasulullah (majelisrasulullah.org) pimpinan Al mukkaromun al Habib Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali AL MUSAWA …acara dimulai jam 8 pagi, dan cuaca sangat terik sekali,,sehingga para jamaah yg ada di depan satu demi satu berguguran ke belakang dan ibu2 membuka payungnya..tapi ketika habib munzir ceramah, seketika ada awan yg tipis, tiba2 mengumpul ditengah2 monas seakan ingin menutupi kami dari teriknya matahari di pagi hari itu dengan tidak mengurangi cahaya dari matahari..angin sepoi2, sejuk, pkke mantap banget dah ah…lalu habib berkata(intinya) “subhanallah, baru aj terbesit di hati ana, ya Allah kasihan tamu2 rasul kepanasan”, setelah beliau bicara, terjadilah semua yg terjadi diatas tadi..ketika kami dzikir…awan bertuliskan lapadz Allah bermunculan di sertai dengan huruf arab2 lainnya yg ana gngerti artinya(gbisa bhs arab ^.^he)…subhanallah, begitu banyak kejadian yg menakjubkan dalam 1waktu, itu yg buat ana tambah yakin atas thariqah ahlussunnah waljamaah yg ana, keluarga, tetangga, engkong, ncang,ncing ana anut…klo ada temen2 yg mau tanya seputar habaib dan ulama2 khususnya betawi (hanya untuk orang yg ingin cari tau,,,bukan cari masalah dan yg beda faham..terlarang!!!!…) kirim email aja ya..silsilah guru ana, habib munzir almusawa sampai ke rasul juga da kok…klo yg gak percaya..Wanted_smith@yahoo.com wassalam

aku orang NU, gk takut masuk neraka
orang gk pernah ibadah saja, jika dia khusnudlon sama Allah bisa koq masuk sorga
emang sorga milik pengarang buku, dasar malingsia

dengan seringnya bershalawat & rutin merayakan maulid nabi ja,aga susah tuk menimbulkan rasa cinta ke nabi pa lagi kalo ga,maka dari itu menurt saya perlu banget mengadakan perayaan maulid nabi / bersolawt.

pengarang buku tersebut pasti dari golongan peyang yang gak sudi baca solawat buktinya dia mengatakan maulid nabi bid,ah masuk neraka.kalo masuk neraka berarti kita nanti ketemu para habaib yang notabene keturunan nabi saw.sedulur2 ayo kita pada ngaji ilmu tauhid biar ngerti tentang yang bikin manusia ini.pokonya kalo ada ustazd,kyai,ulama kalo gak ngajari kita ma,rifat ilmu tauhid akan sifat wajib,mustahil,jaiz alloh dan sifat waji,mustahil,jais bagi rosul akan tertolak.carilah guru yang benar2 alim.bukankah ulama itu pewaris para nabi.apakah hadist ini dloif/muadu` kang

@amesh_d1st
maaf sebelumnya… setahu saya mengapa dulu rasulullah tidak membukukan Al Qur’an itu dikarenakan Rasulullah takut apabila nanti tercampur dengan hadist (perkataan beliau) jadi Penyusunan Al Qur’an (setahu saya) bukan bid’ah yang hasanah.

dan setahu saya pula, tidak ada bid’ah yang hasanah.., soalnya dalam hadist yang “kullu bid’ah tin dholalah…dst.” Kata kul itu menunjjukan (artinya) semua… jadi setahu saya tidak ada bid’ah yang hasanah…

kata kullu tadi juga ada dalam surat Ar-Rahman 26 dimana bunyinya
“kullu man ‘alaiha faan” bahwasannya semua yang ada di dunia ini akan binasa… setahu saya memang benar semua yg didunia ini akan binasa… jdi kata kullu=semua…

mohon bimbingannya, Wallahu’alam bisshowab…

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abdul Qaari bahwa ia berkata:

“Aku berjalan bersama Umar Ibnul Khattab pada malam bulan Ramadhan menuju masjid. Pada saat itu kami menemukan masyarakat melakukan sholat tarawih secara terpisah-pisah. Ada yang sholat sendirian dan adapula yang sholat dengan diikuti oleh beberapa orang makmum. Melihat itu Umar berkata,’Aku berpendapat seandainya semua orang
disatukan dalam jamaah sholat tarawih dibawah pimpinan satu orang imam niscaya akan lebih baik.’ Dan rencananya Umar akan mengangkat Ubay bin Ka’ab sebagai imam sholat mereka. Kemudian pada malam lainnya, aku kembali berjalan bersama umar menuju masjid. Saat itu kami telah mendapati orang-orang sedang melaksanakan sholat tarawih dibawah pimpinan satu imam sholat mereka. Melihat itu Umar
berkomentar, “Bidah yang paling baik adalah ini”.

“Bid’ah yang paling baik”. Apa Umar ra. tidak paham bahasa Arab, kullu bid’atin dholalah? Lah kok bisa2nya sahabat yang satu ini mengatakan bid’ah yang paling baik adalah ini. Perlu kita renungkan mas Kresna.

Imam Izzuddin bin Abdus Salam yang digelari sulthonul Ulama (pemimpin para Ulama) bahkan memilahnya mejadi 5 macam. Bida’ah wajib, haram, makruh, sunnah dan mubah. Bukan cuma dua. Imam Nawawi, yang menjadi imam mujtahid fatwa bermazhab Syafi’ie juga membagi pemahamn bid’ah menjadi sayyiah dan hasanah. Allohu a’lamu

Thanks

ilmu belum genap kok bikin buku…………!!!!!!!!!!!!!!!!!

dikit-dikit kok bid’ah………………..bid’ah kok dikit-dikit

اللهم صل على محمد و على اله و صحبه

mereka2 yang menganggap tahlil,maulid,yasinan,solawat nariyah,alfatih,dll bid ah ya gak pa2.itu urusannya mereka.kemarin saya ikut maulid di majelis taklim attauhidiyah shohibul masyhad pimpinan habib husen al athos di rengasbandung bekasi.yang menbawakan mau,idhoh hasanah kh.asmawi dari tegal mengatakan yang selamat nanti di akherat ahlusunnahwaljamaah.jaman sekarang boleh orang mengklaim sebagai ahlussunnahwaljamaah .yang benar adalah ahlusunnahwaljamaahyang mengajarkan ilmu2 tauhid.yang dibawa oleh al asy ari dari yaman padahal waktu itu rosululloh belum kenal dgn sahabat al asy ari tersebut. wallohu a,lam bi showab

Makasih tambahan infonya. Smg mas Abimanyu makin berkah. Amien

gw ngga peduli mau jadi apa
gw ngga peduli orang mau bilang apa
gw ngga peduli masuk NERKA atau SURGA
sElagi ada ke ridho an ALLAH SWT
gw siap mati buat RASULULLAH…
ALLAHUAKBAR…

kalau sampean mengatakan peringatan maulid itu bid”ah….. berarti sampean belum dapet hidayah…… ya ALLAHberikanlah hidayah MUkepada orang yang mengatakan maulid itu bid”ah,Amiiiin..

tolong dong lampirkan jawaban yang jelas atas pertanyaan2 ?? biar lebih jelas and manteb???
coz ini kan masalah agama?
and biar qta bisa jelasin ke orang awam dengan baik coz aq berada dilingkungan orang2 yang bukan nu? dan mereka sering kali membid’ahkan apa yang sedang aq kerjakan tapi aku yakin and percaya kalo itu benar selagi qta masih menyembah Allah? dan itu juga baik ??
heeeee
makasih yaaaa???

piye to cak sampeyan kok ketemu buku iku ,wong sing ciut wawasane lan setitik ilmune yo kok wani ngarang buku kanggo wong liyo sampeyan ojo sampek koyok ngonoyo dolek wawasan maneh sing luas

Yg mengatakan bidah itu yo bidah sndri dijaman rosul tdk ada bidah gtu aja kok repot

Kulu bid’atin dlolalah.kalmt bid’atin klmt nakiroh bkn ma’rifat.jadi tdk ditentukan urusn ibadah. Berati semuanya yg anda lakukn BID’AH.maknya ulama kt membgi bd’ah ada 2.dolalh dan hasanah. Wahabi GUOBLOG.

Eh eh eh sebentar2x,,,,

jadi pengen tau neh, morfem bid’ah itu kan derivasi dari b-d-‘a. Lhaaa… Terus makna b-d-‘a yg paling uuuasli itu apa sih?

Hayooo… Yg mengaku salafy udah tau blm?

Assalamualaikum.

Itu yang nulis buku kalau mahamin dalil Al-Qur’an dan hadist jangan sebagian-sebagian donk.
Dahulu pada jaman Tabi’in juga ada orang yang berfaham seperti itu, semua yang tidak ada di jaman Rasulullah itudianggap sesat. Kalau tidak salah namanya Ahmad Taqiyuddin dan justru Ahmad Taqiyuddin yang dianggap sesat di jamannya.
Memang ada hadist yang menyebutkan semua bid’ah itu sesat. itu memang benar tapi bab berdiri ketika membaca shalawat itu punya dasar yang kuat lho.
ada juga hadist yang menyebutkan maaf agak lupa artinya tapi maksudnya kurang lebih. Rasulullah itu hadir ditengah-tengah orang yang membaca shalawat padanya. dan di Alqur’an ada yang artinya kurang lebih “Aku tidak mengutus engkau kecuali untuk menjadi saksi”. dan ada sebuah hadist yang artinya kurang lebih
Berdirilah kamu sekalian kepada pemimpin kamu sekalian.
kalau semua bid’ah sesat tentunya kita gak bisa baca Al-Qur’an donk. dulu kan Al-Qur’an tidak ada tanda baca dan tidak ada titiknya. bahkan pada jaman Rasulullah Al-Qur’an belum dibukukan

Kata Rasululloh orang yang paling dekat dengannya dihari kiamat adalah orang yang paling banyak baca sholawat.

mas2 semuanya klo membantah jangan kasar tetapi harus ilmiah, masak orang islam kasar,……
jangan main logika tapi pake dalil karena ALLOH menurunkan Rosululloh untuk ditiru bukan untuk di tandingkan dengan ALLOH sekali lagi klo mbantah pake dalil jangan pake logika karena otak manusia tidak bisa mengalahkan manusia,…

1. kalau memang maulid nabi itu baik dan benar… kenapa kok ga ada keterangan bahwasanya para sahabat, tabi’in dan tabiuttabi’in serta para ulama’ juga memperingati maulid nabi.. hayo… brarti sing pinter kon opo para sahabat….
2. kanjeng Nabi wis ngendiko “KULLU BIDATIN DZOLALATUN” lan gak onok pangendikanipun kanjeng Nabi sing nerangno lek enek bidah hasanah… jadi bidah kui yo sesat (titik) – perlu dipahami yang dimaksud bidah disini dalam urusan agama…jadi kalau komputer, pedah onthel, ojek, kol bak kui bidah tapi ora dzolalah…ngerti urong cak…???
3. gimana… Hamba Allah…. jawabanq ilmiah ga??? he..he…

1. Tidak semua yang baik dan benar sudah ada di zaman rasul. Membandingkan siapa yang lebih pintar, tidak ada korelasinya dengan maulid, karena zaman dan masanya berbeda.
2. Nabi Muhammad SAW pun bersabda, “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya”.(Shahih Muslim). Jadi ternyata ada hadits lain selain yang disebutkan kang ahlussunnah
Kata KULLU tidak melulu berarti semua secara mutlak tanpa kecuali. Dalam surah al Kahfi ketika Nabi Khidr memberitahu Musa bahwa ada raja dzalim yang akan mengambil semua perahu (kullu safinatin), namun yang dimaksud adalah perahu/kapal yang bagus2 saja yang dirampas, yang jelek/buruk tidak dirampas. Jadi kalimat KULLU ditakhsis (dikhususkan) dengan perahu/kapal yang layak dirampas.
Kata Bid’ah pun memiliki definisi lughowi (bahasa) dan istilahi.

Jadi kita perlu banyak belajar lagi kang.

sholawat itu penting………….

kita hanya mengagungkan nama Rasulullah SAW…

Allah SWT- saja bersholawat atas nabi apalagi kita…..

maka dari itu…………….bersholawatlah….sebanyak yang anda bisa

saya juga islam, tapi gaduh suara kalau ada selawatan pakai rebana goyang2 dan berdiri. suaranya keras lewat pengeras masjid. naluri saya berkata munglkin ini yang disebut Bid’ah.
Ada yang bisa beri wawasan untuk saya.
swun

Ketika mi’raj, Pernah Rasulullah menyapa malaikat yang mempunyai 1000 tangan dan setiap tangan tersebut mempunyai 1000 jari. Kemudian beliau bertanya, “Wahai malaikat apa pekerjaanmu?, kemudian Dia menjawab “Aku adalah malaikat yang bertugas menghitung tetesan air hujan yang turun ke bumi, baik daratan, sungai, maupun di tempat dimana manusia tidak mengetahuinya”. Terus Rasulullah berkata ” Alangkah pandai dirimu”. Kemudian malaikat tersebut berkata “Wahai Rasul, walaupun aku tahu, berapapun banyak air hujan yang turun, tapi aku tak bisa menghitung jumlah pahala yang diturunkan oleh Allah kepada orang yang bersholawat kepadamu!!!”

subhanallah

Ah….. hadist dhoif itu mas !,
Banyak dr kalangan syiah kafir membuat hadist2 palsu. perlu diketahui bahwa yg m3ncetus maulidan itu adalah syiah fathimiah. Bid’ah2 dalam ibadah itu banyak dicetuskan oleh syiah kafir. Dan syiah itu adalah anak haram YAHUDI sebagaimana nasrani setelah nabi ISA as (kristennya PAULUS ). Intinya ikutilah baginda Rosul beserta sahabat2nya beserta AL-Qur’an. Jangan ikutin nafsu bermacam2 setan !!. SUBHANALLAH.

Bagaimana tanggapan sampeyan thd pandangan Syaikh Ibnu Taymiyah yg membolehkan perayaan maulid dengan berbagai ketentuan. Membolehkan, catat! Anda lebih alim dari syaikh Ibnu Taymiyah.

Tidak perlu keterangan dari ulama2 Ahlus Sunnah lainnya. Cukup syaikh Ibnu Taymiyah yg sering menjadi rujukan kaum salafi (wahhabi). Apakah sampeyan lebih paham tentang dien ini ketimbang Ibnu Taymiyah?

Dulu,orang yang membuat sholawat maulidud Diba’ ( yang biasanya dibaca ketika MAulid Nabi )ingin menulis hasil sholawat buatannya tersebut untuk dipublikasikan agar orang lain juga mengetahuinya. Namun disisi lain orang tersebut tangannya lumpuh, tetapi karena amat cintanya pada Rasulullah, suatu malam beliau bermimpi bertemu Rasulullah terus kemudian Rasulullah mengelus tangannya, tiba-tiba keesokan paginya ketika beliau terbangun ternyata tangannya sudah sembuh sehingga dia bisa menulis sholawat tersebut.

Klo memang pengikut NU masuk neraka, ya anda jangan sekali-kali langsung menulis blog yang berisi judul tersebut. Hati-hati lain kali ya klo buat judul !!!!!

daripada orang yang diam saja, tapi katanya cinta Rasulullah

maap ya atas commentnya, jangan di ambil hati.
kita sama2 golongan ahli sunah wal jamaah koq, nyatai aja!!!!
q hanya gak mau satu golongan memecah golongan lain.

terus ya gitu dech………………

salam kenal

“Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya”.(Shahih Muslim). man sanna artinya bukan membuat hal baru tetapi menghidupkan sunnah rasulullah sallallahu alaihi wasallam, hal itu seperti perkataan al-Muhallib yang dinukil oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolany di dalam fathul bary juz 13 hal. 302. Jadi sunnah disini adalah sunnah rasul yang telah disampaikan oleh beliau, bukan sunah baru yang diada2kan. Hal ini juga sesuai dengan perkataan al-Hafidz Sulaiman (syarah sohih muslim oleh an-Nawawy juz 1 hal. 53). Memang sih Ulama’ ada yang membagi bid’ah ada yang 2, 3, sampai 5, kalau imam an-Nawawy lebih memilih yang lima tapi baca dulu donk penjelasan mereka di kitab2 mereka…kayaknya ga ada tuh contoh yang di berikan ulama’ tentang bid’ah hasanah sesuai dengan contoh2 seperti mengadakan maulid nabi, lebih jelasnya baca syarah sunan ibnu majah juz 1 hal.6 oleh imam as-Suyuthy atau juga kitab al-i’tishom oleh imam as-Syatiby, n masih banyak dech…. tolong kalau beri coment disertai dengan dalil dari ayat al-quran serta hadits2 yang soheh disertai perawinya serta penjelasan para ulama ahlussunnah atasnya, biar jelas dan terarah gitu…

Yok ngunu kuwi nek bljar ngilmu di lek mentah2, ngji sek bro g ush macm2 nek rong tutok ngajine

ass.yang berhakmengatakan bid’ah itu rosululloh nanti di akherat.kita ini hanya sebagai mahkum nanti hakimnya rosululloh yang berhak megatakan bathil dan tidaknya aqidah yang kita kerjakan di dunia.jangan kamu merasa lebih pintar dari yang lain aku lebih tahu tentang dirimu.jangan kamu sok lebih alim dibandingkan dengan yang lain aku(alloh)lebih tahu tentang dirimu.for ahlusunnahwaljamaah anda boleh mengaku ahlisunnah tidak ada larangan nanti kanjeng sayyidina rosulilloh saw yang akan menilai aqidahmu walaupun celanamu cingkrang dan jenggotmu panjang.coba antum mengaji sultonul ulum(ilmu tauhid)nanti antum akan sadar apa yang selama ini antum pelajari salah semua.semoga antum segera mendapat hidayahnya alloh swr

kita kan sama2 islam janganlah dikit2 mengatakan, itu bid ah/ sesat/masuk neraka…
hati2 juga menggunakan kata bid ah, saya tidak setuju dikatakan bid ah pada salawat..bid ah itu cocoknya dialamatkan pada ahmadiyah, LDII, syiah dll…
syirik itu tergantung niatnya….
kalo Allah saja memerintahkan kita bershalawat pd nabi berarti salawat itu ibadah…dan tidak salah juga bila berlebihan asalkan pada tempatnya…kesalahan adalah kalo niat kita menganggap nabi itu tuhan dan kita menyembahnya…

waalaikumsalam…mohon maaf saya tidak mengatakan ini dan itu bidah kecuali telah tetap ketetapan dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam melalui haditsnya yang sohih, serta perkataan tabi’in, tabiut tabi’in, serta para ulama shalih. dan saya hanyalah orang biasa yang jauh dari orang2 di atas. semasa rasulullah hidup, beliau sallallahu ‘alaihi wasallam sudah memberikan contoh2 mana yang sunnah dan mana yang bukan sunnah. Jadi tidak ditentukan di akhirat oleh beliau, melainkan oleh Allah. Sebagai contoh haramnya kenduri/tahlilan, bukan saya yang berfatwa, melainkan saya menyampaikan perkataan ulama’ saja. Sebagai contoh ulama’ yang mengatakan kalau tahlilan itu bid’ah dan haram adalah al-Imam as-Syafi’i dalam kitabnya al-Umm juz 1 halaman 318, al-Imam an-Nawawy dalam kitabnya al-majmu’ syarah muhaddzab juz 5 hal. 319-320 dan juga kitab al-minhaj syarah sahih muslim juz 1 hal. 90, al-Imam asy-Syaukani dalam kitabnya Nailul Author, dan masih banyak kitab2 ulama’ yang memperingatkan dari tahlilan, bahkan kita melihat ketika keluarga duka terkena musibah, mereka langsung disibukkan jemuan untuk malam harinya di rumah (mengadakan tahlilan) dan ini menyelisihi sunnah, karena telah tetap dalam hadits yang sahih bahwasannya: hendaknya para tetangga membuat makanan dan mengirimkannya untuk si mayit, hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam as-syafi’i , Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Begitujuga fatwa al-Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Wajiz Fiqhi al-Imam as-Syafi’i juz 1 halaman 79 Beliau mengatakan: Disukai membuatkan makanan untuk ahli mayyit. oleh karena itu mari kita tinggalkan amalan2 yang tidak ada tuntunan dari Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam. Adapun kitab sultonul ulum, saya belum tahu banyak tentang kitab itu, lebih baik kita membaca kitab2 aqidah para ulama’ ahlussunnah yang mana upara ‘ulama berbondong2 memberikan syarah diatasnya seperti kitab Lum’atul i’tiqad oleh al-Imam Ibnu Qudamah, Aqidah Wasithiyyah oleh Imam Taqiyyuddin, Ushulu as-Sittah oleh Syaikh at-Tamimy, Risalah aqidah al-Imam as-Syafi’i , dan masih banyak yang lain. Sekali lagi saya bukan orang yang sok pintar yang mengatakan ini dan itu, saya hanya menyampaikan hadits2 dari Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam serta fatwa2 para salafusshalih, saya takut hal ini tidak tersampaikan/tidak diketahui padahal telah tetap dari rasulullah dan ‘ulama telah menyampaikannya dalam kitab2 mereka. Hanya milik Allah Taufiq dan Hidayah…..

Kembali ke terminologi bid’ah. Ulama salafus soleh sudah membaginya menjadi beberapa bagian tentang bid’ah. Minimal ditinjau dari segi lughoh dan istilah. Sehingga imam Izz Abd Salam membagi bid’ah menjadi 5. Imam Izz Abd Salam dikenal sebagai sulthonul ulama (pakarnya para ulama) pada zamannya. Ada beberapa orang yang menganggap bid’ah hanya punya satu pengertian dan tidak ada pengertian lain selain sesat dan neraka.

Imam Syafi’ie mengharamkan tahlilan? :roll: Masak sih mas? Itu kesimpulan sampeyan aja kali. Kita mau bicara apa tentang kenduri/tahlilan. Perlu dirumuskan dulu. Yang tidak boleh itu apanya. Kendurinya, bacaan tahlilnya, jumlah harinya, sampainya bacaan kepada orang yang telah meninggal, makanannya atau apa? Masak Imam Syafi’ie mengharamkan orang mengucapkan Laa ilaha illalloh. Na’udzubillah. Hati2 dalam membawa opini dengan mencatut pendapat para ulama salafus salih guna menguatkan hawa nafsunya. :cry:

Buat referensi bahwa Imam Syafi’ie justru mengatakan bahwa Membuat Perkara Baru ada 2 macam dan klasifikasi BID’AH juga ada 2 macam ada 2 macam :

البدعة في اصطلاح العلماء

هناك تعاريف كثيرة للبدعة عند العلماء فمن ذلك:

1ـ تعريف الإمام المجتهد محمد بن إدريس الشافعي رحمه الله تعالى المتوفى سنة 204هـ:

قال الشافعي: المحدثات من الأمور ضربان: أحدهما: ما أحدث يخالف كتاباً، أو سنة، أو أثراً، أو إجماعاً. فهذه البدعة الضلالة. والثانية: ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، وهذه محدثة غير مذمومة. وقد قال عمر رضي الله عنه في قيام شهر رمضان: «نعمة البدعة هذه» يعني أنها محدثة لم تكن، وإذا كانت فليس فيها رد لما مضى. وإسناده صحيح. وأخرجه من طريق آخر: أبو نعيم في حلية الأولياء قال الشافعي: البدعة بدعتان: بدعة محمودة، وبدعة مذمومة، فما وافق السنة فهو محمود، وما خالف السنة فهو مذموم. واحتج بقول عمر بن الخطاب في قيام رمضان: «نعمة البدعة هذه».

sumber : http://www.daraleman.org/Main8_library/albidaa-alhasana(1).htm#الفصل

Aku jadi pusing baca semua komentarnya diatas hehehe….

yg aku rasa sih aku lebih setuju seperti yg aku pernah baca juga bahwa “mampelajari Al Quran tidak akan mampu manusia mengunakan akalnya tetapi dengan hatinya”.

jadi aku mah simpel2 aja deh pelajari semampuku, bersihkan hatiku dari apa saja yg tidak baik misalnya Riya, Sum’ah, ujub dsb dll dkk .. hehehe..

Lalu Bismillah dan kerjakan apa yg nyaman dihati dan tinggalkan apa yg tidak nyaman dihati.

Beres deh. Urusan lainnya biarlah Allah yang menilai saya mah cuma manusia yg belum tentu dinilai karena besarnya 1/1000 dari atom.

Alhamdulillah…ada topik ini, semoga ini di dasari oleh penulis yang bertujuan agar kaum Muslim ” Naik Kelas “.
Seperti yang di ketahui bahwa ada 3 Tingkatan dalam Islam
1. Islam
2. Iman
3. Ihsan

Saya yakin bahwa penulis dan komentator adalah islam, tetapi apakah sudah Iman? Yang lebih parah lagi malah berlagak Ihsan dengan kalimat “biarkan hanya Allah yang menilai”
maaf bukan maksud saya menuduh dan menjadikan tertuduh pada seseorang, hanya mengingatkan dan sekaligus mengajak “naik kelas”.
Bukankah rekan-2 tahu bahwa tingkatan iman yang paling rendah adalah “menjauhi perubatan buruk dan atau yang tidak di tuntunkan Rosul Allah?” sedangkan tingkatan lebih tinggi adalah “Amar Makruf Nahi Mungkar”?

Adalah Taqlid, jika rekan-2 mengerjakan islam tanpa berbekal ilmu Al-Qur’an dan Hadist dan HANYA mengandalkan Seru-an orang-2 yang mengaku ULAMA

“sampaikan walau satu ayat” adalah dasar saya, semoga bisa diterima dan bukan menjadi perdebatan
—jazakumullah

ya sudahlah …….. yang seneng shalawat ya shalawat yang seneng memperingati maulid ya silahkan …… wong neraka dan sorga adalah perogratif Allah
Aku sendiri seneng shalawatan karena bagiku shalawat adalah indah, aku suka keindahan

Silakan bagi yang tingkatannya sudah menjapai Mujtahid dan tidak perlu taqlid. Kenyataannya, mereka juga para muqollid buta ulama2 versi mereka. Apa yang dapat dipertanggungjawabkan dari para muqollid yang berteriak haramnya taqlid?

carilah guru yang mengajarkan tentang wajib,mustahil,jaiz 50 aqoid.kalau antum dah paham gak bakalan antum akan bingung.biarkan mereka mengatakan bid’ah pada amalan khususnya nu gak masalah,mereka mengatakan bid’ah,khurorat,tahyul gak pa2.itu semua sudah menjadikan sidiknya rosul bahwa apa yang di sabadakan rosul itu benar.sesungguhnya ALLOH DAN MALAIKAT ITU BERSOLAWAT kepada nabi muhamad maka bersolawatlah kalian.mereka menggap dirinya sudah pasti masuk surga padahal surga/neraka itu adalah haknya alloh swt.

Anggap saja ;
mereka(Jalan Golongan yang Selamat (Minhajul Firqoh An Najiyah Wat Thoifah al Manshuriah). Penulisnya Muhammad bin Jamil Zainu. Diterjemahkan oleh Ainul Haris Umar Arifin Thoyib, Lc)
cangkem / mulut / corong /cocot-nya setan !!!
Surga sudah habis di kavling mereka.
Kita santai aja di neraka ciptaan mereka.

amezh_d1st Says:
March 2, 2008 at 8:37 pm

* yg nulis bukunya mgkn ga pernah baca sejarah sahabat nabi, hadist” & shahih” dari para imam” terdahulu, para sahabat selalu menyambut gembira dgn kdatangan nabi saw. kita jg kan ga mo kalah nyambut sang kekasih Allah dgn penuh kegembiraan dgn merayakan maulid.

-hemm, anda kayaknya banyak membaca sejarah sahabat nabi, bagus sekali daripada baca novel/komik fiksi. Dan tentunya anda tahu bahwa para sahabat adalah orang yang paling mencintai Rasul SAW. Apakah anda juga tahu bahwa sepeninggal Nabi saw, para sahabat juga melaksanakan Maulid sebagai bukti cinta mereka?

* buat mereka yg ga mo ikut ngerayain maulid jelas” ga punya rasa cinta & kedekatan dgn nabi saw, kalo udah ga cinta ma nabi gimana mo jadi pengikutnya…???

-dari mana anda dapat pendapat seperti ini, bahwa ‘yang tidak ikut maulid-an berarti g punya rs cinta+kedekatan pada nabi saw’, dari Quran, Hadist? Sekedar mengingatkan, Sesungguhnya apa yg kita ucapkan akan dipertanggungjawabkan di hadpn Alloh, SWT.
Ada banyak cara untuk mencintai Nabi saw daripada sekedar menghamburkan uang untuk Maulid-an. Dari mulai cara2 yang simpel dan mudah diikuti, misalnya: mencukur kumis+buluketiak+kuku, merapatkan+meluruskan shof ketika sholat, mengucap salam, sampai cara2 yg mungkin anda anggap ekstrem: memelihara jenggot, bercelana cingkrang, tidak mau bersalaman dgn cewek misalnya, dll.

Ahmad Lukman Says:
* Silakan bagi yang tingkatannya sudah menjapai Mujtahid dan tidak perlu taqlid. Kenyataannya, mereka juga para muqollid buta ulama2 versi mereka. Apa yang dapat dipertanggungjawabkan dari para muqollid yang berteriak haramnya taqlid?

– setahu saya, ‘taqlid buta’ itu orang yang asal ngikut/ngekor/opo jare kyaine –> tanpa didasari ilmu yang kuat. Menurut anda, apakah para mujtahid itu adalah benar2 mugollid buta, padahal mereka beramal didasari ilmu?

Dalam terminologi fiqih tidak ada yang namanya Taqlid Buta. Yang ada Taqlid. Jadi pertanyaan antum belum perlu ditanggapi. Silakan antum konsultasikan kepada pencetus istilah Taqlid Buta, yang para ulama hadits maupun fiqih tidak mengenalnya.

Paling tidak dengan ber Maulid Nabi berkumpul bersama dll adalah salah satu cara menjaga tali silaturahmi. Bersosialisasi dg orang lain, Juga sebagai penghormatan kepada sang utusan, pembawa syariat yg kita yakini dan jalani.

Bila ditanggapi terlalu rumit dan berlebihan malah kita hanya berdebat saja, beribadah dan beramal akan lebih bijak, beri apa yang kita miliki, walau hanya setetes embun di pagi hari terhadap orang lain akan lebih punya makna yg dalam, apalagi yang meminum orang yg benar2 sedang haus.

NABI MUHAMMAD DIANGKAT MENJADI NABI PADA UMUR 40 DAN MENINGGAL UMUR 63 ARTINYA DALAM KURUN WAKTU 23 TAHUN NABI MUHAMMAD MENCIPTAKAN HADIS BAIK DARI UCAPAN MAUPUN PERBUATAN, BANYAK SEKALI ORANG ISLAM DENGAN MUDAH MENGATAKAN SI A MASUK NERAKA DAN SI B PERBUATANYA MENGANDUNG UNSUR SYIRIK KARENA KEKURANG TAHUAN ORANG ISLAM YANG BILANG ITU, KARENA HADIS ITU JUMLAHNYA PULUHAN RIBU BAHKAN LEBIH.

abimanyu Says:
* ass.yang berhakmengatakan bid’ah itu rosululloh nanti di akherat.
– darimana anda punya pendapat ini, Quran, Hadist? kalau itu dari kira2 anda sendiri berhati-hatilah ya akhi krn setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan di akhirat

* kita ini hanya sebagai mahkum nanti hakimnya rosululloh yang berhak megatakan bathil dan tidaknya aqidah yang kita kerjakan di dunia.
– setahu saya yang berhak menjadi Hakim nanti di akhirat adalah Alloh sendiri, mukminin termasuk Rasullulloh hanya sebagai saksi, bukan hakim. kalau mungkin saya keliru mohon penjelasannya.

Ahmad Lukman Says:

March 19, 2008 at 3:45 pm

* Al Qur’an tidak pernah disuruh untuk dibukukan menjadi Al Qur’an seperti sekarang, begitu pula hadits. Ini hal baru yang diada-adakan. Bid’ah semua dong Wi. :?:

– Membukukan Qur’an memang bid’ah, tapi selama hal itu bersifat sarana, tidak apa2 bahkan dianjurkan, apalagi klo niatnya baik untuk mempermudah mempelajari al Quran misalnya. yang harom adalah jika anda menambah/mengubah/mengurangi ayat al Qur’an misalnya, inilah bid’ah yang dilarang, yg dimaksud oleh penulis buku di atas insya Alloh.
Seperti halnya adzan pake speaker, haji naik pesawat, sekolah, membangun masjid pake genteng, porselin, semua itu bisa dikatakan bid’ah, karena tidak pernah ada/dilakukan di masa Rosulullah saw, tapi itu semua termasuk sarana bisa digolongkan urusan keduniaan. Bid’ah yang haram adalah jika kita merubah/membuat amalan baru, misalkan sholat maghrib 2 rokaat, atau membikin sholawat2 baru misalnya. Lebih parah jika kita melupakan ajaran asli dari Rasul saw, lebih getol mengamalkan ajaran2 baru.

Saya pribadi juga tidak berani asal menuduh antum2 ini, khususnya kaum NU ahli bid’ah, sesat pasti masuk neraka, bahkan kafir dll. Itulah sebagian wanti2 yg saya ingat dari Ustad saya dulu di Saudi, antum mungkin menyebutnya Wahabi.

Ahmad Lukman Says:

February 24, 2009 at 10:08 am

* Dalam terminologi fiqih tidak ada yang namanya Taqlid Buta. Yang ada Taqlid. Jadi pertanyaan antum belum perlu ditanggapi. Silakan antum konsultasikan kepada pencetus istilah Taqlid Buta, yang para ulama hadits maupun fiqih tidak mengenalnya.

– klo begitu apa yang anda maksud dengan muqollid buta dlm kalimat ini:
“mereka juga para ‘muqollid buta’ ulama2 versi mereka”
saya yakin anda faham terminologi fiqih dan antum faham betul dengan pernyataan antum di atas.

Alibaba Says:

November 3, 2008 at 7:15 pm

* Anggap saja ;
mereka(Jalan Golongan yang Selamat (Minhajul Firqoh An Najiyah Wat Thoifah al Manshuriah). Penulisnya Muhammad bin Jamil Zainu. Diterjemahkan oleh Ainul Haris Umar Arifin Thoyib, Lc)
cangkem / mulut / corong /cocot-nya setan !!!
Surga sudah habis di kavling mereka.
Kita santai aja di neraka ciptaan mereka.

– subhanalloh, kasar sekali seruan anda! saya yakin saudara Ahmad Lukman membuat forum ini untuk diskusi, bukan maki2an.

assalaamu ‘alaikum wr.wb.
tuk mas arip apakah anta pernah belajar ilmu tauhid sifat wajib mustahil jaiz kalo anta gak paham akan ilmu tauhid pantaslah anda mengatakan demikian.yang gampang aja ana ingin tanya sama anta sdr aruf surga ini milik alloh apa rosululloh,neraka ini milik alloh apa rosululloh.begini aja kalo anta tinggal di daerah bekasi dsk. anta saya tunggu di pondok pesantren attauhidiyah rengas bandung bekasi.kita mubahatsah masalah aqidah/ketuhanan. ana masih awam akan masalah ini tapi kalo anta ingin tahu ilmu tauhid nanti kita ketemu di pondok attauhidiyah. maskur

Saya dilahirkan dan dibesarkan dilingkungan keluarga yang berorganisasi Muhammadiyah.Dan sampai detik inipun saya masih merasa sebagai warga Muhammadiyah.
Masa kecil saya di Purwokerto penuh dengan kesahajaan, bapaku salah satu tokoh Muhammadiyah di desaku. Ada yang tidak saya ketahui kenapa waktu kecil atas perintah Bapak,saya disuruh ngaji ke ustad NU yang kebetulan adalah murid Bapakku. Tapi ustadku juga alumni pondok pesantren Kebarongan, Banyumas.

Dan waktu kecil Bapak mendirikan madrasah ( dengan uang pribadi, termasuk membayar honor para ustad/guru) model NU, dan ustad2nya ada yang dari NU dan Muhammadiyah. Muridnya dari anak kecil hingga nenek2, tapi tidak berlangsung lama . atau bertahun2.

Setelah saya SMA ( SMA Negeri 2 Purwokerto, dan kuliah jadi seniornya Kyai Saad pemilik blog ini) saya tanya ke Bapak, kenapa madrasahnya tidak berlangsung lama.
Beliau hanya menjawab, di desa kita sudah tidak ada yang buta hurup, termasuk orang2 tua, Semua sudah melek hurup latin dan hurup Arab, mereka sudah bisa baca buku dan sudah bisa baca Qur an.

Saya waktu itu tidak tahu apa maksud jawaban tersebut.

Sewaktu saya tanya, kenapa saya disuruh belajarnya ke ustad NU, beliau menjawab, sekarang kamu sudah tahu bahwa NU dan Muhammadiyah, Nabinya sama, Qur annya sama, haditsnya sama.

Beliau menjelaskan mengenai doa Qunut, bahwa terserah anak2ku mau pake doa Qunut atau tidak kalau shalat subuh, toh doa qunut juga doa, beliau berpesan kepada putra putrinya hingga menjelang wafat, shalat jangan ditinggalkan,dan selalu pegang teguh ajaran tauhid, itu yang paling penting kata beliau.

Apabila selamatan ( istilah di desa saya slametan seperti 3 hari, 7 hari dst) di rumah orang meninggal, bapak kadang memimpin, beliau akan bertanya apakah akan tahlilan atau baca Qur an terjemahan dan tafsir,beliau akan mengikuti permintaan tuan rumahnya.

Tetapi bapak dengan perlahan2 mengajarkan kepada par petani di desaku untuk tidak membuat sajen( sesaji) yaitu ingkung, ayam bakar dan degan kelapa hijau, bila akan memulai panen padi, istilah di desaku miwiti. Beliau menerangkan bahwa nyajeni ltu perbuatan yang dilarang, karena dipersembahkan untuk dewi padi/ dewi Sri.Dan sejak saya masih kecil tradisi nyajeni berangsur angsur hilang.

Bapak saya hanya seorang petani kampung, cita2nya tidak pernah kesampaian, Tahun 1940an beliau mendapat beasiswa untuk belajar di Al Azhar Cairo, tapi tidak pernah kesampaian karena Eyang putriku melarang beliau berangkat ke Mesir.

Tahun 1999 saya masuk ke pesantren dan belajar hakikat,

Ada benang merah yang aku ambil dari apa yang ditanamkan oleh Bapak terhadap putra putinya, yaitu bahwa sebenarnya yang perlu dipertahankan adalah ajaran tauhidnya, dan melakukan kewajiban2 kita sebagai mahluk ciptaan Yang Maha kuasa, dan tidak perlu memperdebatkan organisasinya, dan kita tetap menghargai orang lain ( menjaga rasa toleransi), bila perlu belajar ke organisasi atau kelompok lain, biar kita mengerti dan memahami paradigma orang lain, dan tidak perlu memfonis bahwa orang lain tidak benar dan akan masuk neraka.

Tidak perlu adanya sengketa atau perselisihan, karena masalah persepsi dan keyakinan, Kembalikan lagi bahwa yang berhak mengadili adalah Allah SWT sebagai pengadilan yang terakhir. Trims

Ah .. itu kan bukunya kaum wahaby yang emang sukanya membuat onar di kalangan NU. Mencari ketenaran dgn cara menghasut lewat kata-kata saktinya yaitu menuding semua umat islam yg tidak sepaham dgn keyakinannya. padahal wahaby adalh awal dari segala biang keladi kehancuran umat islam dari kejayaan

dimana pun anda kuliah itu tidak masalah, kita harus membedakan antara keduniaan dan keakhiratan. juga antara bid’ah dan maslahah mursalah. jangan sembarangan memberi fatwa….. pelajari ushul fiqihnya.

yang mengatakan dikit2 bid`ah , ketahuan akal nya gak jalan…..

no comment…

kita kembali kepada Qur’an dan sunnah.jadi qt2 gk prlu repot2 debat gk jelazz..yg beginian dr dulu dah di diskusiin..qt rujuk aje ame yg dah ade…pisss..no konflik…!

yen ga mudeng podo ngaji maneh kang …dari pada nti salah…yang jelas kita harus MUHASABAH,bagaimana cinta kita pada diri kita?Bagaimana cinta kita kepada semua makhluk ciptaanNya?Bagaimana cinta kita kepada Sang kholiq?

lah kayak aku yg baru masuk islam malah bingung ? ? ?
islam itu tak pikir ngak susah dan ngak perlu di perdebatkan didalam menjalankan asalkan tidak menyimpang malu nanti dengan agama lain dilihat islam bermacam kelompok\

assalamu’alaikum wr.wb.
coba anda simak hadis ini, dari aisyah ra.ha
berkta
mendengar rosullah saw. bersabda: barang sipa
yang mengamalkan suwatu amaln yang tidak ada contoh
nya dari kami( qur’an n al-hadis) maka amal nya tertolak. (HR.BUKHRI N MUSLIM).haadis ini udah jelas
bahwa, apa bila sesrang yang melakukan sswatu amlan yang tidak pernah nabi contohkan atw menyuruh melkukan, seprti tahlilan,selamtan,dll. it dah psti tertolak n tdaakn d trima amalan nya sampai kapan pun, masih banyak hadis” shohih yang laen yang melrang kta berbwat bid’ah dalam urusan agama……..

Coba belajarlah seprti Laut!!
Agama ISLAM adalah lautan yg sangat indah…dan suci!!
Bersuara hal yg mudah,tp untuk menjalani,melakukan,berprilaku sangat tdk mudah halny berkoar-koar…
Tetapi smua agama itu benar tdk ada yg salah trgantung yg diyakininya dan dijalaninya!!

Makasih informasinya mas Iwan. Perlu belajar lebih banyak lagi mas agar lebih banyak jumlah hadits yang mas Iwan ketahui dan lebih luas wawasan mas Iwan. Semoga Alloh menunjukkan kita semua ke jalan yang lurus, hati yang lapang, ilmu yang luas dan berhati2 dalam menetapkan sesuatu. Amien

kayanya pengarang bukunya gak mikir panjang ech….saya sering dengar dari orang orang yang sering bilang bidah t6ernyata low di telusurimah banyak mulai dari sekolah juga bidah hampir setiap yang mereka kerjakan juga tidak ada di nabinya,,,,,,,,,,,,,,, jadi coba dech pelajari bidah itu apa jangan asal asalan…… jadinya orang mabok gak di larang tapi yang lagi ibadah n pengen hidup jadi bener malah di larang

oia masuk dunia juga bidah

saudaraku.. menurut hadits shohih yg +/- artinya; “ISLAM DATANG DLM KEADAAN ASING DAN NANTI AKAN KEMBALI ASING” menurut hadits shohih lainnya yg +/- artinya “….ISLAM AKAN TERPECAH MENJADI 73 GOLONGAN SEMUA MASUK NERAKA KECUALI 1 GOLONGAN” dalam riwayat lain sahabat menanyakan siapa golongan yg selamat itu Nabi menjawab +/- artinya “YAITU ORANG2 YANG SEPERTI AKU DAN SAHABATKU DI ATASNYA”
Jelaslah bahwa golongan yg slamat itu MINORITAS SEHINGGA BANYAK YG MENYELISIHI. saudaraku semua tahu org yg tdk mau tahlilan dianggap asing, tdk maulidan dianggap asing, tdk senang sholwt nariyah jg dianggap asing. padahal mereka tdk melakukan itu semua karena hanya takut pd Alloh krn itu semua diyakini merubah syareat yg sudah di tetapkan Alloh lewat nabiNya. aku yakin saudaraku semua tahu bahwa HAK MENETAPKAN SYAREAT HANYALAH HAK ALLOH DAN ROSULNYA.

Dalil yang mas Dodo ajukan benar adanya. Kesimpulan yang diambil masih jauh panggang dari api. Bahwa Firqotun Najiyah (Kelompok yang selamat) adalah kaum minoritas perlu penjelasan yang lebih detil. Adakah maksud mas Dodo itu dari segi jumlah orang yang mengikutinya atau jumlah yang 1 dibanding yang 72?

Ada perintah untuk mengikuti jama’ah mayoritas, karena mustahil ummat ini bersepakat dalam kebatilan. Nah lo? Kok bertentangan. Rasululloh menyuruh kita mengikuti pendapat mayoritas (dalam hal ini maknanya Ahlus Sunnah wal Jama’ah), sementara mas Dodo berkeyakinan dengan minoritas.

Mas Dodo kembali melontarkan isyu yang debatable dan memiliki hujjah seperti mengenai Tahlilan, Maulid, Shalawat Nariyah.

Saya ambil contoh mengenai Maulid :

Imam Jalaluddin al Suyuthi menyatakan bahwa amalan ini adalah bid’ah hasanah. Dalam kitab al-Hawi lil Fatawa, beliau telah meletakkan satu bab yang dinamakan Husnul Maqsad fi ‘Amalil Maulid, halaman 189. Silakan cek ulang mas Dodo.

Bahkan Ibnu Taymiyah yang pendapat2nya banyak menjadi rujukan penganut paham Wahabi (Wahabi kelompok yang sangat anti thd Maulid), Di dalam kitab beliau, Iqtidha’ as-Shiratil Mustaqim, cetakan Darul Hadis, halaman 266, beliau nyatakan: “Begitu juga apa yang dilakukan oleh sebahagian manusia samada menyaingi orang Nasrani pada kelahiran Isa عليه السلام, ataupun kecintaan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengagungkan baginda, dan Allah mengurniakan pahala kepada mereka atas kecintaan dan ijtihad ini…”
Seterusnya beliau nyatakan lagi : “Ia tidak dilakukan oleh salaf, tetapi ada sebab baginya, dan tiada larangan daripadanya.”

Jadi saya melihat dalil yang benar tidak ditunjang dengan pemahaman yang benar dari mas Dodo.

‘Ala kulli haal, jazakallohu khoir ya akhi

Saudaraku Ahmad lukman semoga Alloh merahmatimu, sy rasa saudaraku kliru dalam memaknai arti AHLUS SUNNAH WALJAMAAH dengan makna PERINTAH MENGIKUTI JAMAAH MAYORITAS. justru ini kontradiksi dengan apa yg disinggung dlm alquran bahwa kebanyakan manusia itu menyesatkan”DAN JIKA KAMU MENURUTI KEBANYAKKAN ORANG2 DI MUKA BUMI INI, NISCAYA MEREKA AKAN MENYESATKANMU DARI JALAN ALLOH” (Al An’am;116). Ayat ini sifatnya MUHKAM jadi sudah jelas dan terang. Di sini Alloh mensifati kebanyakkan manusia. Ayat ini relevan dengan hadits”Artinya : “ISLAM AKAN TERPECAH BELAH MENJADI 73 GOLONGAN SEMUA DI NERAKA KECUALI SATU YG SURGA” jadi jelas sekali jamaah mayoritas bukan indicator golongan yg selamat. Meskipun golongan yg selamat adalah minoritas, bukan berarti juga semua golongan yg minoritas selamat karena juga banyak golongan minoritas yg sesat seperti fenomena akhir2 ini.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah
Mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu ‘anhum. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan berittiba’ (mengikuti) Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya Radhiyallahu ‘anhumkitab (Lihat Kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

Imam Abu Syammah asy-Syafi’i rahimahullah (wafat th. 665 H) berkata: “Perintah untuk berpegang kepada jama’ah, maksudnya adalah berpegang kepada kebenaran dan mengikutinya. Meskipun yang melaksanakan Sunnah itu sedikit dan yang menyalahinya banyak. Karena kebenaran itu apa yang dilaksanakan oleh jama’ah yang pertama, yaitu yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya tanpa melihat kepada orang-orang yang menyimpang (melakukan kebathilan) sesudah mereka.” (Lihat Kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas). Hal ini juga sejalan dengan yang dikatakan oleh sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu(wafat th 36H):
“Al-Jama’ah adalah yang mengikuti kebenaran walaupun engkau sendirian.” [Lihat Al-Baa’its ‘alaa Inkaaril Bida’ wal Hawaadits hal. 91-92, tahqiq oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Salman dan Syarah Ushuulil I’tiqaad karya al-Lalika-i (no. 160).]

Saudaraku Lukman mari kita teliti apakah amalan2 dari firqoh ahlus sunnah waljamaah versi anda/NU sesuai dengan AL JAMAAH (rosulloh saw & sahabat)
1. AL JAMAAH tdk pernah tahlilan., Rosulloh meninggal sahabat tdk menahlilkan, tetapi anda lebih suka mendakwahkan tahlilan. Apa anda ingin mengatakan cara anda lebih baik dari Sahabat?
2. AL JAMAAH membaca sholawat yg hanya yg dituntunkan Rosulloh saw, anda lebih suka sholawat Nariyah yg diajarkan oleh syehk anda
3. AL JAMAAH tdk pernah tabarruk di kuburan dan berwasilah dengannya karena dlm shohih Bukhori dan Muslim Nabi saw Bersabda “Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” Kubura nabi saja tdk boleh di jadikan tempat ibadah apalagi kuburan para kyai atau wali berbeda dengan kelaziman manhaj anda saudaraku.
4. AL JAMAAH tdk mengerjakan Maulidan kaena Nabi saw bersabda “Artinya : Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak”[ Al-Bukhari menganggapnya mu'allaq dalam Al-Buyu' dan Al-I'tisham. Disambungkan oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyah (18-1718).] tapi berbeda dengan golongan ….. yg anda bela2 saudaraku
Saudaraku Lukman yg aku cintai karena Alloh, anda mengutip pendapat Ibnu Taimyyah utk melegitimasi maulidan yg notabene sbgai rujukan kaum yg anda namai WAHABI. Ini adalah suatu kesalahan saudaraku, sebab firqoh Ahlus sunnah Waljamaah yag asli tdk taklid kepada salah satu mashab maupun syehk. Ini sejalan dgn pesan empat imam mashab. Imam Syafii berpesan .
“Setiap orang harus bermadzhab kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengikutinya. Apa pun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi ternyata berlawanan dengan pendapatku, apa yang disabdakan oleh Rasulullah itulah yang menjadi pendapatku [Hadits Riwayat Hakim dengan sanad bersambung kepada Imam Syafi'i seperti tersebut dalam kitab Tarikh Damsyiq, karya Ibnu 'Asakir XV/1/3, I'lam Al-Muwaqqi'in (II/363-364), Al-Iqazh hal.100]. WALLOHU’ALAM

Saudaraku aku kutipkan sanggahan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin tentang pemahaman BID’AH KASANAH

Mungkin ada di antara pembaca yang bertanya : Bagaimanakah pendapat anda tentang perkataan Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘Anhu setelah memerintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari agar mengimami orang-orang di bulan Ramadhan. Ketika keluar mendapatkan para jama’ah sedang berkumpul dengan imam mereka, beliau berkata : “inilah sebaik-baik bid’ah …. dst”.

Jawabannya.
Pertama.
Bahwa tak seorangpun di antara kita boleh menentang sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun dengan perkataan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali atau dengan perkataan siapa saja selain mereka. Karena Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih”. [An-Nuur : 63].

Imam Ahmad bin Hambal berkata : “Tahukah anda, apakah yang dimaksud dengan fitnah ?. Fitnah, yaitu syirik. Boleh jadi apabila menolak sebagian sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan terjadi pada hatinya suatu kesesatan, akhirnya akan binasa”.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Hampir saja kalian dilempar batu dari atas langit. Kukatakan : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, tapi kalian menentangnya dengan ucapan Abu Bakar dan Umar”.

Kedua.
Kita yakin kalau Umar Radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang sangat menghormati firman Allah Ta’ala dan sabda Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Beliaupun terkenal sebagai orang yang berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, sehingga tak heran jika beliau mendapat julukan sebagai orang yang selalu berpegang teguh kepada kalamullah. Dan kisah perempuan yang berani menyanggah pernyataan beliau tentang pembatasan mahar (maskawin) dengan firman Allah, yang artinya : ” … sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak …” [An-Nisaa : 20] bukan rahasia lagi bagi umum, sehingga beliau tidak jadi melakukan pembatasan mahar.

Sekalipun kisah ini perlu diteliti lagi tentang keshahihahnya, tetapi dimaksudkan dapat menjelaskan bahwa Umar adalah seorang yang senantiasa berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, tidak melanggarnya.

Oleh karena itu, tak patut bila Umar Radhiyallahu ‘anhu menentang sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata tentang suatu bid’ah : “Inilah sebaik-baik bid’ah”, padahal bid’ah tersebut termasuk dalam kategori sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah adalah kesesatan”.

Akan tetapi bid’ah yang dikatakan oleh Umar, harus ditempatkan sebagai bid’ah yang tidak termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Maksudnya : adalah mengumpulkan orang-orang yang mau melaksanakan shalat sunat pada malam bulan Ramadhan dengan satu imam, di mana sebelumnya mereka melakukannya sendiri-sendiri.

Sedangkan shalat sunat ini sendiri sudah ada dasarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dinyatakan oleh Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan qiyamul lail (bersama para sahabat) tiga malam berturut-turut, kemudian beliau menghentikannnya pada malam keempat, dan bersabda :
“Artinya : Sesungguhnya aku takut kalau shalat tersebut diwajibkan atas kamu, sedanghkan kamu tidak mampu untuk melaksanakannya”. [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim].

Jadi qiyamul lail (shalat malam) di bulan Ramadhan dengan berjamaah termasuk sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun disebut bid’ah oleh Umar Radhiyallahu anhu dengan pertimbangan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah menghentikannya pada malam keempat, ada di antara orang-orang yang melakukannya sendiri-sendiri, ada yang melakukannya secara berjama’ah dengan orang banyak. Akhirnya Amirul Mu’minin Umar Radhiyallahu ‘anhu dengan pendapatnya yang benar mengumpulkan mereka dengan satu imam. Maka perbuatan yang dilakukan oleh Umar ini disebut bid’ah, bila dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum itu. Akan tetapi sebenarnya bukanlah bid’ah, karena pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan penjelasan ini, tidak ada suatu alasan apapun bagi ahli bid’ah untuk menyatakan perbuatan bid’ah mereka sebagai bid’ah hasanah.

Mungkin juga di antara pembaca ada yang bertanya : Ada hal-hal yang tidak pernah dilakukan pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi disambut baik dan diamalkan oleh umat Islam, seperti; adanya sekolah, penyusunan buku, dan lain sebagainya. Hal-hal baru seperti ini dinilai baik oleh umat Islam, diamalkan dan dipandang sebagai amal kebaikan. Lalu bagaimana hal ini, yang sudah hampir menjadi kesepakatan kaum Muslimin, dipadukan dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah adalah kesesatan ?”.

Jawabnya : Kita katakan bahwa hal-hal seperti ini sebenarnya bukan bid’ah, melainkan sebagai sarana untuk melaksanakan perintah, sedangkan sarana itu berbeda-beda sesuai tempat dan zamannya. Sebagaimana disebutkan dalam kaedah : “Sarana dihukumi menurut tujuannya”. Maka sarana untuk melaksanakan perintah, hukumnya diperintahkan ; sarana untuk perbuatan yang tidak diperintahkan, hukumnya tidak diperintahkan ; sedang sarana untuk perbuatan haram, hukumnya adalah haram. Untuk itu, suatu kebaikan jika dijadikan sarana untuk kejahatan, akan berubah hukumnya menjadi hal yang buruk dan jahat.

Firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan”. [Al-An'aam : 108].

Padahal menjelek-jelekkan sembahan orang-orang yang musyrik adalah perbuatan hak dan pada tempatnya. Sebaliknya, mejelek-jelekan Rabbul ‘Alamien adalah perbuatan durjana dan tidak pada tempatnya. Namun, karena perbuatan menjelek-jelekkan dan memaki sembahan orang-orang musyrik menyebabkan mereka akan mencaci maki Allah, maka perbuatan tersebut dilarang.

Ayat ini sengaja kami kutip, karena merupakan dalil yang menunjukkan bahwa sarana dihukumi menurut tujuannya. Adanya sekolah-sekolah, karya ilmu pengetahuan dan penyusunan kitab-kitab dan lain sebagainya walaupun hal baru dan tidak ada seperti itu pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun bukan tujuan, tetapi merupakan sarana. Sedangkan sarana dihukumi menurut tujuannya. Jadi seandainya ada seseorang membangun gedung sekolah dengan tujuan untuk pengajaran ilmu yang haram, maka pembangunan tersebut hukumnya adalah haram. Sebaliknya, apabila bertujuan untuk pengajaran ilmu syar’i, maka pembangunannya adalah diperintahkan.

Jika ada pula yang mempertanyakan : Bagaimana jawaban anda terhadap sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu ..”.

“Sanna” di sini artinya : membuat atau mengadakan.

Jawabnya :
Bahwa orang yang menyampaikan ucapan tersebut adalah orang yang menyatakan pula : “Setiap bid’ah adalah kesesatan”. yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak mungkin sabda beliau sebagai orang yang jujur dan terpercaya ada yang bertentangan satu sama lainnya, sebagaimana firman Allah juga tidak ada yang saling bertentangan. Kalau ada yang beranggapan seperti itu, maka hendaklah ia meneliti kembali. Anggapan tersebut terjadi mungkin karena dirinya yang tidak mampu atau karena kurang jeli. Dan sama sekali tidak akan ada pertentangan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala atau sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan demikian tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan : “man sanna fil islaam”, yang artinya : “Barangsiapa berbuat dalam Islam”, sedangkan bid’ah tidak termasuk dalam Islam ; kemudian menyatkan : “sunnah hasanah”, berarti : “Sunnah yang baik”, sedangkan bid’ah bukan yang baik. Tentu berbeda antara berbuat sunnah dan mengerjakan bid’ah.

Jawaban lainnya, bahwa kata-kata “man sanna” bisa diartikan pula : “Barangsiapa menghidupkan suatu sunnah”, yang telah ditinggalkan dan pernah ada sebelumnya. Jadi kata “sanna” tidak berarti membuat sunnah dari dirinya sendiri, melainkan menghidupkan kembali suatu sunnah yang telah ditinggalkan.

Ada juga jawaban lain yang ditunjukkan oleh sebab timbulnya hadits diatas, yaitu kisah orang-orang yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka itu dalam keadaan yang amat sulit. Maka beliau menghimbau kepada para sahabat untuk mendermakan sebagian dari harta mereka. Kemudian datanglah seorang Anshar dengan membawa sebungkus uang perak yang kelihatannya cukup banyak, lalu diletakkannya di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seketika itu berseri-serilah wajah beliau dan bersabda.

“Artinya : Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu ..”.

Dari sini, dapat dipahami bahwa arti “sanna” ialah : melaksanakan (mengerjakan), bukan berarti membuat (mengadakan) suatu sunnah. Jadi arti dari sabda beliau : “Man Sanna fil Islaami Sunnatan Hasanan”, yaitu : “Barangsiapa melaksanakan sunnah yang baik”, bukan membuat atau mengadakannya, karena yang demikian ini dilarang. berdasarkan sabda beliau : “Kullu bid’atin dhalaalah”.

[Disalin dari buku Al-Ibdaa' fi Kamaalisy Syar'i wa Khatharil Ibtidaa' edisi Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid'ah karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin, penerjemah Ahmad Masykur MZ, terbitan Yayasan Minhajus Sunnah, Bogor - Jabar]
SEMOGA BISA MENJADI REFERNSI BAGI SAUDARA2KU YANG BENAR2 MENCARI KEBENARAN. WALLOHU’ALAM

Perdebatan kadang jadi lebih tidak bermakna , saat semua pihak menafsirkan sendiri2 kitab2 yang dipelajari, Mempelajari kitab lain akan menambah dan membuka wawasan lebih luas, dan bisa memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang.
Wahabi dan Ahlusunnah waljamaah, istilah tersebut ada setelah Rasulullah tiada.

Yang dibawa oleh Rasulullah ke dunia hanyalah Islam( berikut syriatnya), Quran dan Hadits. Kitab2 berikutnya yang ditulis orang lain kita ga tahu mana yang benar,dalam hal ini ada yang mengatakan benar hanyalah sebagai logika belaka. Karena tidak mengalaminya secara historis.

Sedangkan yang dibawa oleh Rasulullah adalah final dan harga mati. Kita kembalikan diri kita sebagai ciptaan Al Khalik, yang terdiri dari Ruh,Jasad dan Jiwa. Jadikanlah menjadi satu kesatuan yang akan membawa kita lebih mengenal diri sendiri. Dan pada saatnya kita bisa mempertanggung jawabkan setiap langkah, ucapan dan perasaan kita terhadap Allah SWT. Saat Jiwa jkiwaa dibangkitkan ( Q.S. Al kahfi).

Tidak menyentuh permasalahan pokok, kalau hanya pendekatan kita hanya secara roh dan jasad (Maksudnya memahami secara lahiriah saja) . Ada hal yg lebih penting yaitu jiwa kita, yang membimbing kita untuk lebih memahami yg haq dan yang batil . .

Sri widodo :
Saudaraku aku kutipkan sanggahan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-’Utsaimin tentang pemahaman BID’AH KASANAH
Mungkin ada di antara pembaca yang bertanya : Bagaimanakah pendapat anda tentang perkataan Umar bin Khatab Radhiyallahu ‘Anhu setelah memerintahkan kepada Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari agar mengimami orang-orang di bulan Ramadhan. Ketika keluar mendapatkan para jama’ah sedang berkumpul dengan imam mereka, beliau berkata : “inilah sebaik-baik bid’ah …. dst”.
Jawabannya.
Pertama.
Bahwa tak seorangpun di antara kita boleh menentang sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun dengan perkataan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali atau dengan perkataan siapa saja selain mereka. Karena Allah Ta’ala berfirman :
“Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih”. [An-Nuur : 63].
Imam Ahmad bin Hambal berkata : “Tahukah anda, apakah yang dimaksud dengan fitnah ?. Fitnah, yaitu syirik. Boleh jadi apabila menolak sebagian sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan terjadi pada hatinya suatu kesesatan, akhirnya akan binasa”.
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Hampir saja kalian dilempar batu dari atas langit. Kukatakan : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, tapi kalian menentangnya dengan ucapan Abu Bakar dan Umar”.
Kedua.
Kita yakin kalau Umar Radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang sangat menghormati firman Allah Ta’ala dan sabda Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Beliaupun terkenal sebagai orang yang berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, sehingga tak heran jika beliau mendapat julukan sebagai orang yang selalu berpegang teguh kepada kalamullah. Dan kisah perempuan yang berani menyanggah pernyataan beliau tentang pembatasan mahar (maskawin) dengan firman Allah, yang artinya : ” … sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak …” [An-Nisaa : 20] bukan rahasia lagi bagi umum, sehingga beliau tidak jadi melakukan pembatasan mahar.
Sekalipun kisah ini perlu diteliti lagi tentang keshahihahnya, tetapi dimaksudkan dapat menjelaskan bahwa Umar adalah seorang yang senantiasa berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, tidak melanggarnya.
Oleh karena itu, tak patut bila Umar Radhiyallahu ‘anhu menentang sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata tentang suatu bid’ah : “Inilah sebaik-baik bid’ah”, padahal bid’ah tersebut termasuk dalam kategori sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah adalah kesesatan”.
Akan tetapi bid’ah yang dikatakan oleh Umar, harus ditempatkan sebagai bid’ah yang tidak termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Maksudnya : adalah mengumpulkan orang-orang yang mau melaksanakan shalat sunat pada malam bulan Ramadhan dengan satu imam, di mana sebelumnya mereka melakukannya sendiri-sendiri.
Sedangkan shalat sunat ini sendiri sudah ada dasarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dinyatakan oleh Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan qiyamul lail (bersama para sahabat) tiga malam berturut-turut, kemudian beliau menghentikannnya pada malam keempat, dan bersabda :
“Artinya : Sesungguhnya aku takut kalau shalat tersebut diwajibkan atas kamu, sedanghkan kamu tidak mampu untuk melaksanakannya”. [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim].
Jadi qiyamul lail (shalat malam) di bulan Ramadhan dengan berjamaah termasuk sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun disebut bid’ah oleh Umar Radhiyallahu anhu dengan pertimbangan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah menghentikannya pada malam keempat, ada di antara orang-orang yang melakukannya sendiri-sendiri, ada yang melakukannya secara berjama’ah dengan orang banyak. Akhirnya Amirul Mu’minin Umar Radhiyallahu ‘anhu dengan pendapatnya yang benar mengumpulkan mereka dengan satu imam. Maka perbuatan yang dilakukan oleh Umar ini disebut bid’ah, bila dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum itu. Akan tetapi sebenarnya bukanlah bid’ah, karena pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dengan penjelasan ini, tidak ada suatu alasan apapun bagi ahli bid’ah untuk menyatakan perbuatan bid’ah mereka sebagai bid’ah hasanah.
Mungkin juga di antara pembaca ada yang bertanya : Ada hal-hal yang tidak pernah dilakukan pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi disambut baik dan diamalkan oleh umat Islam, seperti; adanya sekolah, penyusunan buku, dan lain sebagainya. Hal-hal baru seperti ini dinilai baik oleh umat Islam, diamalkan dan dipandang sebagai amal kebaikan. Lalu bagaimana hal ini, yang sudah hampir menjadi kesepakatan kaum Muslimin, dipadukan dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah adalah kesesatan ?”.
Jawabnya : Kita katakan bahwa hal-hal seperti ini sebenarnya bukan bid’ah, melainkan sebagai sarana untuk melaksanakan perintah, sedangkan sarana itu berbeda-beda sesuai tempat dan zamannya. Sebagaimana disebutkan dalam kaedah : “Sarana dihukumi menurut tujuannya”. Maka sarana untuk melaksanakan perintah, hukumnya diperintahkan ; sarana untuk perbuatan yang tidak diperintahkan, hukumnya tidak diperintahkan ; sedang sarana untuk perbuatan haram, hukumnya adalah haram. Untuk itu, suatu kebaikan jika dijadikan sarana untuk kejahatan, akan berubah hukumnya menjadi hal yang buruk dan jahat.
Firman Allah Ta’ala.
“Artinya : Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan”. [Al-An'aam : 108].
Padahal menjelek-jelekkan sembahan orang-orang yang musyrik adalah perbuatan hak dan pada tempatnya. Sebaliknya, mejelek-jelekan Rabbul ‘Alamien adalah perbuatan durjana dan tidak pada tempatnya. Namun, karena perbuatan menjelek-jelekkan dan memaki sembahan orang-orang musyrik menyebabkan mereka akan mencaci maki Allah, maka perbuatan tersebut dilarang.
Ayat ini sengaja kami kutip, karena merupakan dalil yang menunjukkan bahwa sarana dihukumi menurut tujuannya. Adanya sekolah-sekolah, karya ilmu pengetahuan dan penyusunan kitab-kitab dan lain sebagainya walaupun hal baru dan tidak ada seperti itu pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun bukan tujuan, tetapi merupakan sarana. Sedangkan sarana dihukumi menurut tujuannya. Jadi seandainya ada seseorang membangun gedung sekolah dengan tujuan untuk pengajaran ilmu yang haram, maka pembangunan tersebut hukumnya adalah haram. Sebaliknya, apabila bertujuan untuk pengajaran ilmu syar’i, maka pembangunannya adalah diperintahkan.
Jika ada pula yang mempertanyakan : Bagaimana jawaban anda terhadap sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu ..”.
“Sanna” di sini artinya : membuat atau mengadakan.
Jawabnya :
Bahwa orang yang menyampaikan ucapan tersebut adalah orang yang menyatakan pula : “Setiap bid’ah adalah kesesatan”. yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak mungkin sabda beliau sebagai orang yang jujur dan terpercaya ada yang bertentangan satu sama lainnya, sebagaimana firman Allah juga tidak ada yang saling bertentangan. Kalau ada yang beranggapan seperti itu, maka hendaklah ia meneliti kembali. Anggapan tersebut terjadi mungkin karena dirinya yang tidak mampu atau karena kurang jeli. Dan sama sekali tidak akan ada pertentangan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala atau sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dengan demikian tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan : “man sanna fil islaam”, yang artinya : “Barangsiapa berbuat dalam Islam”, sedangkan bid’ah tidak termasuk dalam Islam ; kemudian menyatkan : “sunnah hasanah”, berarti : “Sunnah yang baik”, sedangkan bid’ah bukan yang baik. Tentu berbeda antara berbuat sunnah dan mengerjakan bid’ah.
Jawaban lainnya, bahwa kata-kata “man sanna” bisa diartikan pula : “Barangsiapa menghidupkan suatu sunnah”, yang telah ditinggalkan dan pernah ada sebelumnya. Jadi kata “sanna” tidak berarti membuat sunnah dari dirinya sendiri, melainkan menghidupkan kembali suatu sunnah yang telah ditinggalkan.
Ada juga jawaban lain yang ditunjukkan oleh sebab timbulnya hadits diatas, yaitu kisah orang-orang yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka itu dalam keadaan yang amat sulit. Maka beliau menghimbau kepada para sahabat untuk mendermakan sebagian dari harta mereka. Kemudian datanglah seorang Anshar dengan membawa sebungkus uang perak yang kelihatannya cukup banyak, lalu diletakkannya di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seketika itu berseri-serilah wajah beliau dan bersabda.
“Artinya : Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu ..”.
Dari sini, dapat dipahami bahwa arti “sanna” ialah : melaksanakan (mengerjakan), bukan berarti membuat (mengadakan) suatu sunnah. Jadi arti dari sabda beliau : “Man Sanna fil Islaami Sunnatan Hasanan”, yaitu : “Barangsiapa melaksanakan sunnah yang baik”, bukan membuat atau mengadakannya, karena yang demikian ini dilarang. berdasarkan sabda beliau : “Kullu bid’atin dhalaalah”.
[Disalin dari buku Al-Ibdaa' fi Kamaalisy Syar'i wa Khatharil Ibtidaa' edisi Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid'ah karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin, penerjemah Ahmad Masykur MZ, terbitan Yayasan Minhajus Sunnah, Bogor - Jabar]
SEMOGA BISA MENJADI REFERNSI BAGI SAUDARA2KU YANG BENAR2 MENCARI KEBENARAN. WALLOHU’ALAM

Kebetulan saya tidak sepaham dengan Syaikh Utsaimin. Karena saya bukan penganut paham Wahhabi Mujassimah Musyabbihah. Saya meyakini sebagaimana i’tiqod Ahlus Sunnah bahwa Allohu mawjud bi laa makaan. Sementara Wahhabi Mujassimah Musyabbihah memiliki i’tiqod yang berbeda. Jadi saya -maaf- tidak ikut dengan pendapat mereka.

Mas budi yg sy hormati, istilah ahlus sunnah waljamaah bukanlah nama baru atau firqoh baru, tp adalah penamaan yg syar’i, istilah ini banyak disebut oleh sahabat dan ulama salaf.
Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu [wafat th 68 H] berkata ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

” Artinya : Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.” [Ali Imran: 106]

“Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah ahlu bid’ah dan sesat.” [Lihat Tafsiir Ibni Katsiir (I/419, cet. Daarus Salaam), Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/79 no. 74).
]

Kemudian istilah Ahlus Sunnah ini diikuti oleh kebanyakan ulama Salaf rahimahullah di antaranya:

[1]. Ayyub as-Sikhtiyani Rahimahullah (wafat th. 131 H), ia berkata, “Apabila aku dikabarkan tentang meninggalnya seorang dari Ahlus Sunnah seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku.”

[2]. Sufyan ats-Tsaury Rahimahullah (wafat th. 161 H) berkata: “Aku wasiatkan kalian untuk tetap berpegang kepada Ahlus Sunnah dengan baik, karena mereka adalah al-ghuraba’(orang yang terasing). Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” [lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/71 no. 49 dan 50).
]

[3]. Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah [Beliau Fudhail bin ‘Iyadh bin Mas’ud at-Tamimy t, adalah seorang yang terkenal zuhud, berasal dari Khuraasaan dan bermukim di Makkah, tsiqah, wara’, ‘alim, diambil riwayatnya oleh al-Bukhari dan Muslim. Lihat Taqriibut Tahdziib (II/15 no. 5448), Tahdziibut Tahdziib (VII/264 no. 540).
] (wafat th. 187 H) berkata: “…Berkata Ahlus Sunnah: Iman itu keyakinan, perkataan dan perbuatan.”

[4]. Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallaam Rahimahullah (hidup th. 157-224 H) berkata dalam muqaddimah kitabnya, al-Imaan : “…Maka sesungguhnya apabila engkau bertanya kepadaku tentang iman, perselisihan umat tentang kesempurnaan iman, ber-tambah dan berkurangnya iman dan engkau menyebutkan seolah-olah engkau berkeinginan sekali untuk mengetahui tentang iman menurut Ahlus Sunnah dari yang demikian…”

[5]. Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah [Beliau Rahimahullah adalah seorang Imam yang luar biasa dalam kecerdasan, kemuliaan, keimaman, kewara’an, kezuhudan, hafalan, alim dan faqih. Nama lengkapnya Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad asy-Syaibani, lahir pada tahun 164 H. Seorang Muhaddits utama Ahlus Sunnah. Pada masa al-Ma’mun beliau dipaksa mengatakan bahwa al-Qur-an adalah makhluk, sehinga beliau dipukul dan dipenjara, namun beliau menolak mengatakannya. Beliau tetap mengatakan al-Qur-an adalah Kalamullah, bukan makhluk. Beliau meninggal di Baghdad. Beliau menulis beberapa kitab dan yang paling terkenal adalah al-Musnad fil Hadiits (Musnad Imam Ahmad). Lihat Siyar A’lamin Nubalaa’ (XI/177 no. 78).] (hidup th. 164-241 H), beliau berkata dalam muqaddimah kitabnya, as-Sunnah: “Inilah madzhab Ahlul ‘Ilmi, Ash-habul Atsar dan Ahlus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul j dan para Shahabatnya, dari semenjak zaman para Shahabat Radhiyallahu Ajmai’in hingga pada masa sekarang ini…”

[6]. Imam Ibnu Jarir ath-Thabary Rahimahullah (wafat th. 310 H) berkata: “…Adapun yang benar dari perkataan tentang keyakinan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah pada hari kiamat, maka itu merupakan agama yang kami beragama dengannya, dan kami mengetahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa ahli Surga akan melihat Allah sesuai dengan berita yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Lihat kitab Shariihus Sunnah oleh Imam ath-Thabary Rahimahullah']

[7]. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad ath-Thahawy Rahimahullah (hidup th. 239-321 H). Beliau berkata dalam muqaddimah kitab ‘aqidahnya yang masyhur (‘Aqidah Thahawiyah): “…Ini adalah penjelasan tentang ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Saudaraku mas budi yg saya hormati, maka jelaslah bagi kita bahwa lafazh Ahlus Sunnah sudah dikenal di kalangan Salaf (generasi awal umat ini) dan para ulama sesudahnya. Istilah Ahlus Sunnah merupakan istilah yang mutlak untuk melawan Ahlul Bid’ah. Para ulama Ahlus Sunnah menulis penjelasan tentang ‘aqidah Ahlus Sunnah agar ummat faham tentang ‘aqidah yang benar dan untuk membedakan antara mereka dengan Ahlu Bid’ah. Sebagaimana telah dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Barbahary, Imam ath-Thahawy serta yang lainnya.
Saudaraku, ini berbeda dengan istilah WAHABI, istilah ini memang sengaja dibuat oleh orang2 yang anti sunnah, anti i’tibba’, dan orang yg tdk senang islam indah dgn kemurniannya. Mereka menamai itu tdk lebih hanyalah untuk MENCEMOOH DAN MENJELEK-JELEKAN SAJA. WALLOHU’ALAM,

Mohon maaf sekiranya ada kata yg tdk mengenakan hati, semoga Alloh selalu memberi kebaikan kpd mas budi beserta keluarga.

sri widodo :

Mas budi yg sy hormati, istilah ahlus sunnah waljamaah bukanlah nama baru atau firqoh baru, tp adalah penamaan yg syar’i, istilah ini banyak disebut oleh sahabat dan ulama salaf.
Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu [wafat th 68 H] berkata ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

” Artinya : Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.” [Ali Imran: 106]

“Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah ahlu bid’ah dan sesat.” [Lihat Tafsiir Ibni Katsiir (I/419, cet. Daarus Salaam), Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/79 no. 74).
]

Kemudian istilah Ahlus Sunnah ini diikuti oleh kebanyakan ulama Salaf rahimahullah di antaranya:

[1]. Ayyub as-Sikhtiyani Rahimahullah (wafat th. 131 H), ia berkata, “Apabila aku dikabarkan tentang meninggalnya seorang dari Ahlus Sunnah seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku.”

[2]. Sufyan ats-Tsaury Rahimahullah (wafat th. 161 H) berkata: “Aku wasiatkan kalian untuk tetap berpegang kepada Ahlus Sunnah dengan baik, karena mereka adalah al-ghuraba’(orang yang terasing). Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” [lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (I/71 no. 49 dan 50).
]

[3]. Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah [Beliau Fudhail bin ‘Iyadh bin Mas’ud at-Tamimy t, adalah seorang yang terkenal zuhud, berasal dari Khuraasaan dan bermukim di Makkah, tsiqah, wara’, ‘alim, diambil riwayatnya oleh al-Bukhari dan Muslim. Lihat Taqriibut Tahdziib (II/15 no. 5448), Tahdziibut Tahdziib (VII/264 no. 540).
] (wafat th. 187 H) berkata: “…Berkata Ahlus Sunnah: Iman itu keyakinan, perkataan dan perbuatan.”

[4]. Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallaam Rahimahullah (hidup th. 157-224 H) berkata dalam muqaddimah kitabnya, al-Imaan : “…Maka sesungguhnya apabila engkau bertanya kepadaku tentang iman, perselisihan umat tentang kesempurnaan iman, ber-tambah dan berkurangnya iman dan engkau menyebutkan seolah-olah engkau berkeinginan sekali untuk mengetahui tentang iman menurut Ahlus Sunnah dari yang demikian…”

[5]. Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah [Beliau Rahimahullah adalah seorang Imam yang luar biasa dalam kecerdasan, kemuliaan, keimaman, kewara’an, kezuhudan, hafalan, alim dan faqih. Nama lengkapnya Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad asy-Syaibani, lahir pada tahun 164 H. Seorang Muhaddits utama Ahlus Sunnah. Pada masa al-Ma’mun beliau dipaksa mengatakan bahwa al-Qur-an adalah makhluk, sehinga beliau dipukul dan dipenjara, namun beliau menolak mengatakannya. Beliau tetap mengatakan al-Qur-an adalah Kalamullah, bukan makhluk. Beliau meninggal di Baghdad. Beliau menulis beberapa kitab dan yang paling terkenal adalah al-Musnad fil Hadiits (Musnad Imam Ahmad). Lihat Siyar A’lamin Nubalaa’ (XI/177 no. 78).] (hidup th. 164-241 H), beliau berkata dalam muqaddimah kitabnya, as-Sunnah: “Inilah madzhab Ahlul ‘Ilmi, Ash-habul Atsar dan Ahlus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul j dan para Shahabatnya, dari semenjak zaman para Shahabat Radhiyallahu Ajmai’in hingga pada masa sekarang ini…”

[6]. Imam Ibnu Jarir ath-Thabary Rahimahullah (wafat th. 310 H) berkata: “…Adapun yang benar dari perkataan tentang keyakinan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah pada hari kiamat, maka itu merupakan agama yang kami beragama dengannya, dan kami mengetahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa ahli Surga akan melihat Allah sesuai dengan berita yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Lihat kitab Shariihus Sunnah oleh Imam ath-Thabary Rahimahullah']

[7]. Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad ath-Thahawy Rahimahullah (hidup th. 239-321 H). Beliau berkata dalam muqaddimah kitab ‘aqidahnya yang masyhur (‘Aqidah Thahawiyah): “…Ini adalah penjelasan tentang ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Saudaraku mas budi yg saya hormati, maka jelaslah bagi kita bahwa lafazh Ahlus Sunnah sudah dikenal di kalangan Salaf (generasi awal umat ini) dan para ulama sesudahnya. Istilah Ahlus Sunnah merupakan istilah yang mutlak untuk melawan Ahlul Bid’ah. Para ulama Ahlus Sunnah menulis penjelasan tentang ‘aqidah Ahlus Sunnah agar ummat faham tentang ‘aqidah yang benar dan untuk membedakan antara mereka dengan Ahlu Bid’ah. Sebagaimana telah dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Barbahary, Imam ath-Thahawy serta yang lainnya.
Saudaraku, ini berbeda dengan istilah WAHABI, istilah ini memang sengaja dibuat oleh orang2 yang anti sunnah, anti i’tibba’, dan orang yg tdk senang islam indah dgn kemurniannya. Mereka menamai itu tdk lebih hanyalah untuk MENCEMOOH DAN MENJELEK-JELEKAN SAJA. WALLOHU’ALAM,

Mohon maaf sekiranya ada kata yg tdk mengenakan hati, semoga Alloh selalu memberi kebaikan kpd mas budi beserta keluarga.

Wahhabi laysa min Ahlis Sunnah. Perhatikan pendapat para ulama Ahlus Sunnah yang bertolak belakang dengan keyakinan Wahhabi. Ulam Ahlus Sunnah berlepas diri dari i’tiqod kaum Wahhabi. Berpikirlah wahai orang yang memiliki akal

Wahhabi laysa min Ahlis Sunnah. Perhatikan pendapat para ulama Ahlus Sunnah yang bertolak belakang dengan keyakinan Wahhabi. Ulam Ahlus Sunnah berlepas diri dari i’tiqod kaum Wahhabi. Berpikirlah wahai orang yang memiliki akal

Mas lukman yg saya hormati, i’tiqod anda yang mengimani bahwa ALLOH BERADA DI MANA2 tidak saja berbeda dengan saya dan syekh Utsaimin, tapi berbeda juga dgn i’tiqodnya empat imam mashab dan sahabat bahwa ALLOH BERSEMAYAM DI ARSY DENGAN KEMULIAANYA, tidak percaya???!!! buka hati anda, lapangkanlah dada anda untuk menerima kebenaran ini. karena ini adalah salah satu dari pondasi beragama kita yang harus benar /tidak boleh salah. kalau salah, aku kawatir amal kita akan batal, kalau begitu betapa ruginya kita.

perhatikan beberapa hadits ini yg sangat bertentangan dgn i’tiqod anda:

1. Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah :
Artinya :
“Beliau bertanya kepadanya : “Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : “Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : “Siapakah Aku ..?”. Jawab budak itu : “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : “Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.
Hadits shahih ini dikeluarkan oleh Jama’ah ahli hadits, diantaranya : Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6). Imam Muslim (2/70-71) Imam Abu Dawud (No. 930-931) Imam Nasa’i (3/13-14) Imam Ahmad (5/447, 448-449) Imam Daarimi 91/353-354) Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105) Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya “Al-Muntaqa” (No. 212) Imam Baihaqy di Kitabnya “Sunanul Kubra” (2/249-250) Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya “Tauhid” (hal. 121-122) Imam Ibnu Abi ‘Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albani). Imam Utsman bin Sa’id Ad-Daarimi di Kitabnya “Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah” (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah). Imam Al-Laalikai di Kitabnya “As-Sunnah ” (No. 652).

2. “Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). oleh karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangi kamu”. (Shahih. Diriwayatkan oleh Imam-imam : Abu Dawud No. 4941. Ahmad 2/160. Hakim 4/159. dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hadits ini telah dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam Dzahabi. Demikian juga Al-Albani telah menyatakan hadits ini shahih dikitabnya “Silsilah Shahihah No. 925″.

3. “Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang di muka bumi, niscaya tidak akan disayang oleh Dzat yang di atas langit”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Thabrani di kitabnya “Mu’jam Kabir No. 2497 dari jalan Jarir bin Abdullah. Imam Dzahabi di kitabnya “Al-Uluw” hal : 83 diringkas oleh Al-Albani) mengatakan : Rawi-rawinya tsiqaat/kepercayaan).

4. “Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang di atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry).

5. “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya ! Tidak seorang suamipun yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya (bersenggama), lalu sang istri menolaknya, melainkan Dzat yang di atas langit murka kepadanya sampai suaminya ridla kepadanya “.(Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim 4/157 dari jalan Abu Hurarirah).

Apakah anda tdk merasa aneh dengan i’tiqod anda karena jelas2 bertentangan dgn hadits2 sohih??? apakah hadits2 ini juga akan anda takwil seperti anda dan kyai2 anda mentakwilkan ISTAWAA(bersemayam) dengan ISTAWLA(menguasai) pada ayat2 ini:

“Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (bersemayam)”. (Thaha : 5)

“Sesungguhnya Tuhan kamu itu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy”.(Al-A’raf :54). Surat Al-A’raf ayat 54,
yang semakna dengan ayat2 ini juga terdapat pada: Surat Yunus ayat 3, Surat Ar-Ra’du ayat 2, Surat Al-Furqaan ayat 59, Surat As-Sajdah ayat 4, Surat Al-Hadid ayat 4

Berkata Mujahid (seorang Tabi’in besar murid Ibnu Abbas).
Artinya :
“Ia istawaa (bersemayam) di atas “Arsy” maknanya :
“Ia berada tinggi di atas “Arsy”
(Riwayat Imam Bukhari di sahihnya Juz 8 hal : 175)

Madzhab Salaf/Ahlus sunnah waljamaah -dan yang mengikuti mereka- seperti Imam yang empat : Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad bin Hambal dan lain-lain Ulama termasuk Imam Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri( setelah taubat dari i’tiqod muktazilahnya), mereka semuanya beriman bahwa ; Allah ‘Azza wa Jalla ISTIWAA diatas ‘Arsy-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Mereka telah beriman dengan menetapkan (istbat) sesungguhnya Allah Azza wa Jalla ISTAWAA -dan bukan ISTAWLA- di atas ‘Arsy-Nya tanpa :
Tahrif yakni ; Merubah lafadz atau artinya.
Ta’wil yakni ; Memalingkan dari arti yang zhahir kepada arti yang lain.
Ta’thil yakni ; Meniadakan/menghilangkan sifat-sifat Allah baik sebagian maupun secara keseluruhannya.
Tasybih yakni ; Menyerupakan Allah dengan mahluk.
Takyif yakni ; Bertanya dengan pertanyaan : Bagaimana (caranya) ?

Mas lukman yg saya hormati perhatikan jawaban Imam Malik ketika beliau ditanya :
“Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy ?. Beliau menjawab :
Artinya :
“Istiwaa itu bukanlah sesuatu yang tidak dikenal (yakni telah kita ketahui artinya), tetapi bagaimana caranya (Allah istiwaa) tidaklah dapat dimengerti, sedang iman dengannya (bahwa Allah istiwaa) wajib, tetapi bertanya tentangnya (bagaimana caranya) adalah bid’ah”.(baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 45-46)

Dalam kitab Juz al-I’tiqad yang disebut-sbut sebagaikaryaImam Syafi’i dari riwayat Abu Thalib al-‘Isyari, ada sebuah keterangan sebagai berikut: “Imam Syafi’i pernah ditanya tentang sifat-sifat Allah, dan hal-hal yang perlu diimani, jawab beliau, “Allah taaraka wa ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang siapapun dari umatnya tidak boleh menympang dari ketentuan seperti itu setelah memperoleh keterangan (hujjah). Apabila ia menyimpang dari ketentuan setelah ia memperoleh hujjah tersebut, maka KAFIRLAH dia. Namun apabila dia menyimpang dariketentuan sebelum ia memperoleh hujjah, maka hal itu tidak apa-apa baginya. Ia dimaafkan karena ketidaktahuannya itu. Sebab untuk mengetahui sifat-sifat Allah itu tidak mungkin oleh akal dan fikiran, tetapi hanya berdasarkan keterangan-keterangan dari Allah.
Bahwa Allah itu:
punyai dua tangan: “Artinya ; Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka.” [Al-Maidah : 64]
Dan Allah itu mempunyai tangan kanan : “Artinya ; Dan langit itu dilipat tangan kanan Allah.” [Az-Zumar : 67]
……………………. Allah tertawa terhadap hamba-hamba-Nya yang mu’min, sesuai dengan sabda rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang terbunuh dalam jihad fi sabilillah, bahwa kelak akan bertemu dengan Allah, dan Allah tertawa kepadanya.” [Shahih Bukhari Kitab Al-Jihad VI/39, Shahih Muslim, Kitab Al-Imarat III/1504]

Mas lukman yg saya hormati, saya masih punya banyak bukti berupa penjelasan ulama yg belum sy keluarkan di sini. Hadits adalah penafsir quran, hadits tdk memerlukan penjelasan quran, tapi quranlah yg memerlukan penjelasan/penafsiran dari hadits. Bukankah ini sangat jelas sekali tidak ada kontradiksi antara hadits2 sohih dengan ayat2 alquran. Coba terangkan kepada saya berupa dalil2 dari hadits atau peryataan empat imam mashab yg menerankan ALLOH BERADA DI MANA2!!!!!!!!! paling anda akan mengutip dari sebuah kitab yang tdk berdasar dari Alkitab atau sunnah atau pemahaman para sahabat, tetapi kitab yg bersumber dari pemahaman akalnya pengarang saja, atau mimpinya pengarang, atau bisikan dari sebuah kuburan. WALLOHU’ALAM
MOHON MAAF KALO ADA KATA YG TAK BERKENAN, MOGA ALLOH MEMBERI KEBAIKAN KPD MAS LUKMAN.

sri widodo :

Wahhabi laysa min Ahlis Sunnah. Perhatikan pendapat para ulama Ahlus Sunnah yang bertolak belakang dengan keyakinan Wahhabi. Ulam Ahlus Sunnah berlepas diri dari i’tiqod kaum Wahhabi. Berpikirlah wahai orang yang memiliki akal

Mas lukman yg saya hormati, i’tiqod anda yang mengimani bahwa ALLOH BERADA DI MANA2 tidak saja berbeda dengan saya dan syekh Utsaimin, tapi berbeda juga dgn i’tiqodnya empat imam mashab dan sahabat bahwa ALLOH BERSEMAYAM DI ARSY DENGAN KEMULIAANYA, tidak percaya???!!! buka hati anda, lapangkanlah dada anda untuk menerima kebenaran ini. karena ini adalah salah satu dari pondasi beragama kita yang harus benar /tidak boleh salah. kalau salah, aku kawatir amal kita akan batal, kalau begitu betapa ruginya kita.

perhatikan beberapa hadits ini yg sangat bertentangan dgn i’tiqod anda:

1. Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah :
Artinya :
“Beliau bertanya kepadanya : “Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : “Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : “Siapakah Aku ..?”. Jawab budak itu : “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : “Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.
Hadits shahih ini dikeluarkan oleh Jama’ah ahli hadits, diantaranya : Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6). Imam Muslim (2/70-71) Imam Abu Dawud (No. 930-931) Imam Nasa’i (3/13-14) Imam Ahmad (5/447, 448-449) Imam Daarimi 91/353-354) Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105) Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya “Al-Muntaqa” (No. 212) Imam Baihaqy di Kitabnya “Sunanul Kubra” (2/249-250) Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya “Tauhid” (hal. 121-122) Imam Ibnu Abi ‘Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albani). Imam Utsman bin Sa’id Ad-Daarimi di Kitabnya “Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah” (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah). Imam Al-Laalikai di Kitabnya “As-Sunnah ” (No. 652).

2. “Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). oleh karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangi kamu”. (Shahih. Diriwayatkan oleh Imam-imam : Abu Dawud No. 4941. Ahmad 2/160. Hakim 4/159. dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hadits ini telah dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam Dzahabi. Demikian juga Al-Albani telah menyatakan hadits ini shahih dikitabnya “Silsilah Shahihah No. 925″.

3. “Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang di muka bumi, niscaya tidak akan disayang oleh Dzat yang di atas langit”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Thabrani di kitabnya “Mu’jam Kabir No. 2497 dari jalan Jarir bin Abdullah. Imam Dzahabi di kitabnya “Al-Uluw” hal : 83 diringkas oleh Al-Albani) mengatakan : Rawi-rawinya tsiqaat/kepercayaan).

4. “Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang di atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry).

5. “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya ! Tidak seorang suamipun yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya (bersenggama), lalu sang istri menolaknya, melainkan Dzat yang di atas langit murka kepadanya sampai suaminya ridla kepadanya “.(Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim 4/157 dari jalan Abu Hurarirah).

Apakah anda tdk merasa aneh dengan i’tiqod anda karena jelas2 bertentangan dgn hadits2 sohih??? apakah hadits2 ini juga akan anda takwil seperti anda dan kyai2 anda mentakwilkan ISTAWAA(bersemayam) dengan ISTAWLA(menguasai) pada ayat2 ini:

“Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (bersemayam)”. (Thaha : 5)

“Sesungguhnya Tuhan kamu itu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy”.(Al-A’raf :54). Surat Al-A’raf ayat 54,
yang semakna dengan ayat2 ini juga terdapat pada: Surat Yunus ayat 3, Surat Ar-Ra’du ayat 2, Surat Al-Furqaan ayat 59, Surat As-Sajdah ayat 4, Surat Al-Hadid ayat 4

Berkata Mujahid (seorang Tabi’in besar murid Ibnu Abbas).
Artinya :
“Ia istawaa (bersemayam) di atas “Arsy” maknanya :
“Ia berada tinggi di atas “Arsy”
(Riwayat Imam Bukhari di sahihnya Juz 8 hal : 175)

Madzhab Salaf/Ahlus sunnah waljamaah -dan yang mengikuti mereka- seperti Imam yang empat : Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad bin Hambal dan lain-lain Ulama termasuk Imam Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri( setelah taubat dari i’tiqod muktazilahnya), mereka semuanya beriman bahwa ; Allah ‘Azza wa Jalla ISTIWAA diatas ‘Arsy-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Mereka telah beriman dengan menetapkan (istbat) sesungguhnya Allah Azza wa Jalla ISTAWAA -dan bukan ISTAWLA- di atas ‘Arsy-Nya tanpa :
Tahrif yakni ; Merubah lafadz atau artinya.
Ta’wil yakni ; Memalingkan dari arti yang zhahir kepada arti yang lain.
Ta’thil yakni ; Meniadakan/menghilangkan sifat-sifat Allah baik sebagian maupun secara keseluruhannya.
Tasybih yakni ; Menyerupakan Allah dengan mahluk.
Takyif yakni ; Bertanya dengan pertanyaan : Bagaimana (caranya) ?

Mas lukman yg saya hormati perhatikan jawaban Imam Malik ketika beliau ditanya :
“Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy ?. Beliau menjawab :
Artinya :
“Istiwaa itu bukanlah sesuatu yang tidak dikenal (yakni telah kita ketahui artinya), tetapi bagaimana caranya (Allah istiwaa) tidaklah dapat dimengerti, sedang iman dengannya (bahwa Allah istiwaa) wajib, tetapi bertanya tentangnya (bagaimana caranya) adalah bid’ah”.(baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 45-46)

Dalam kitab Juz al-I’tiqad yang disebut-sbut sebagaikaryaImam Syafi’i dari riwayat Abu Thalib al-‘Isyari, ada sebuah keterangan sebagai berikut: “Imam Syafi’i pernah ditanya tentang sifat-sifat Allah, dan hal-hal yang perlu diimani, jawab beliau, “Allah taaraka wa ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang siapapun dari umatnya tidak boleh menympang dari ketentuan seperti itu setelah memperoleh keterangan (hujjah). Apabila ia menyimpang dari ketentuan setelah ia memperoleh hujjah tersebut, maka KAFIRLAH dia. Namun apabila dia menyimpang dariketentuan sebelum ia memperoleh hujjah, maka hal itu tidak apa-apa baginya. Ia dimaafkan karena ketidaktahuannya itu. Sebab untuk mengetahui sifat-sifat Allah itu tidak mungkin oleh akal dan fikiran, tetapi hanya berdasarkan keterangan-keterangan dari Allah.
Bahwa Allah itu:
punyai dua tangan: “Artinya ; Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka.” [Al-Maidah : 64]
Dan Allah itu mempunyai tangan kanan : “Artinya ; Dan langit itu dilipat tangan kanan Allah.” [Az-Zumar : 67]
……………………. Allah tertawa terhadap hamba-hamba-Nya yang mu’min, sesuai dengan sabda rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang terbunuh dalam jihad fi sabilillah, bahwa kelak akan bertemu dengan Allah, dan Allah tertawa kepadanya.” [Shahih Bukhari Kitab Al-Jihad VI/39, Shahih Muslim, Kitab Al-Imarat III/1504]

Mas lukman yg saya hormati, saya masih punya banyak bukti berupa penjelasan ulama yg belum sy keluarkan di sini. Hadits adalah penafsir quran, hadits tdk memerlukan penjelasan quran, tapi quranlah yg memerlukan penjelasan/penafsiran dari hadits. Bukankah ini sangat jelas sekali tidak ada kontradiksi antara hadits2 sohih dengan ayat2 alquran. Coba terangkan kepada saya berupa dalil2 dari hadits atau peryataan empat imam mashab yg menerankan ALLOH BERADA DI MANA2!!!!!!!!! paling anda akan mengutip dari sebuah kitab yang tdk berdasar dari Alkitab atau sunnah atau pemahaman para sahabat, tetapi kitab yg bersumber dari pemahaman akalnya pengarang saja, atau mimpinya pengarang, atau bisikan dari sebuah kuburan. WALLOHU’ALAM
MOHON MAAF KALO ADA KATA YG TAK BERKENAN, MOGA ALLOH MEMBERI KEBAIKAN KPD MAS LUKMAN.

Terima kasih mas Dodo atas penjelasan antum yang sebenarnya bukan hal baru yang saya baca. Artikel ini banyak di situs2 Salafi a.k.a Wahhabi. Jadi nothing new.

Antum menemukan kalimat ane tentang Alloh berada dimana-mana? Adakah ane mengatakan hal tsb? Allohu mawjud bi laa makaan. Alloh itu wujud tanpa berhajat pada tempat. Ane gak tahu antum menyimpulkan dari kalimat ane yang mana?

Laytsa kamitslihi syai’un

Mereka mengatakan bahwa Alloh bersemayam di atas ‘Arsy sebagaimana makhluk bersemayam di atas sesuatu. Mereka berkeyakinan Alloh SWT turun ke langit dunia sebagaimana Ibnu Taymiyah turun dari mimbar. Adakah ini pemahaman salafus salih, para imam Mazhab? Atau ini pendapat Ibnu Taymiyah, Ibnu Qoyyim al Jauziyah dan mereka yang sependapat dengannya?

Jika Alloh bertempat di atas ‘Arsy sebagaimana makhluk -maha suci Alloh dari yg mereka sifatkan-, dimana Alloh sebelum ‘Arsy diciptakan? Jika Alloh berada pada satu ruang, dimana Alloh SWT sebelum ruang itu ada?

Ahlus Sunnah menolak paham yang menyerupakan Alloh dengan makhluknya. Ahlus Sunnah menolak yang menetapkan TEMPAT bagi Dzat yang maha tinggi dan mulia. Ahlus Sunnah menetapkan bahwa Allohu mawjud bi laa makaan (Alloh ada tanpa tampat).

Berikut beberapa dalil :

1. Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi
maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”. (Q.S. asy-Syura: 11)
2. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (Q.S. Al Ikhlas : 4)
3. Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatu selain-
Nya” (H.R. al Bukhari, al Baihaqi dan Ibn alJarud)
Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah.
Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, tanpa tempat dan arah. Dialah yang telah menciptakan tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri sesuatu yang baru
(makhluk).

4.Sayyidina ‘Ali –semoga Allah meridlainya berkata :
: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, dan Dia sekarang (setelah menciptakan tempat) seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh alImam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayn al Firaq)
5. Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi –semoga Allah meridlainya- (227 – 321 H) berkata dalam menjelaskan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah:
“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali) batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya), Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak
seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.
dan beliau juga berkata: “Dan barang siapa mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir”.
Di antara sifat manusia adalah duduk, bertempat, bergerak, diam, berada pada satu arah atau tempat, berbicara dengan huruf, suara dan bahasa, maka barang siapa yang mengatakan bahwa bahasa arab atau bahasabahasa selain bahasa arab adalah bahasa Allah atau mengatakan bahwa kalam Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) dengan huruf, suara atau semacamnya maka dia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Begitu juga orang yang meyakini al Hulul dan Wahdatul Wujud telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.
6. Al Imam ar-Rifa’i –semoga Allah meridlainya- (W. 578 H) berkata: “Peliharalah aqidah engkau dari berpegangan kepada zhahir ayat al-Qur’an dan hadits Nabi –
shallallahu ‘alayhi wasallam– yang mutasyabihat sebab hal itu merupakan salah satu pangkal kekufuran”.
Al Imam ar-Rifa’i berkata: “Batas akhir pengetahuan seorang hamba tentang Allah adalah meyakini bahwa Allah ta’ala ada tanpa bagaimana (sifat-sifat makhluk) dan ada tanpa tempat”.

Faedah: Para Ulama’ dari kalangan empat madzhab membagi Kufur menjadi tiga macam:
1. Kufur I’tiqadi,. seperti orang yang meyakini bahwa Allah bertempat di arah atas atau arah-arah lainnya, bersemayam atau duduk di atas ‘arsy, atau meyakini Allah seperti cahaya atau semacamnya. Di antara contoh kufur i’tiqadi juga adalah tidak meyakini bahwa perbuatan manusia yang ikhtiyari (yang disengaja) adalah terjadi atas qadha dan qadar (ketentuan) Allah
2. Kufur Fi’li, seperti sujud kepada berhala, melempar Mushhaf atau lembaranlembaran yang bertuliskan ayat al Qur’an atau nama-nama yang diagungkan ke tempat sampah atau menginjaknya dengan sengaja dan lain-lain.
3. Kufur Qauli, seperti mencaci Allah, ataumencaci maki nabi, malaikat atau Islam, meremehkan janji dan ancaman Allah, atau menentang Allah, atau mengharamkan perkara yang jelas-jelas halal, atau menghalalkan perkara yang jelas-jelas haram, dan lain-lain. Seperti juga menyifati Allah dengan al ‘Aql al Mudabbir (akal yang mengatur) atau ar-Risyah al Mubdi’ah (bulu yang menciptakan)

KAEDAH: Setiap keyakinan, perbuatan atau perkataan yang mengandung pelecehan terhadap Allah, rasul-Nya, Malaikat-Nya, syiar agama-Nya, hukum-hukum-Nya, janjijanji dan ancaman-Nya adalah kekufuran maka hendaklah seseorang menjauhi semua ini dengan segala upaya serta dalam keadaan apapun. Barang siapa yang jatuh pada salah satu macam kekufuran tersebut maka dia dihukumi kafir. Dan wajib baginya meninggalkan kekufuran tersebut dan segera masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Jika ia membaca istighfar sebelum mengucapkan syahadat maka istighfar tersebut tidak bermanfaat baginya. Pembagian kekufuran tersebut di atas berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an: surat al Hujurat (49):15, Fushshilat (41): 37, at-Taubah (9): 65-66, 74. Lebih lanjut baca kitab-kitab fiqh empat madzhab; Madzhab Syafi’i (kitab Raudlah ath-Thalibin, karya Imam an-Nawawi (W. 676 H), Kifayatul Akhyar, karya Syekh Taqiyyuddin alHushni (W. 829 H), Sullam at-Taufiq karya alHabib ‘Abdullah ibn Husein ibn Thahir (W. 1272 H, dan lainnya). Madzhab Maliki (Minahal Jalil Syarh Mukhtashar Khalil, karya Syekh Muhammad ‘Illaysy (W. 1299 H) dan lain-lain).Madzhab Hanafi (Hasyiyah Radd al Muhtar, karya Syekh Ibnu ‘Abidin (W. 1252 H) dan kitab-kitab lain). Madzhab Hanbali (Kasysyaf al Qina’ karya Syekh Manshur ibn Yunus ibn Idris al Buhuti, ulama abad 11 H dan lain-lain).

Silakan antum simak ya akhinal kirom, Al Akh Sri Widodo (semoga Alloh luaskan hati antum dengan pemahaman yang benar) bahwa ane tidak mengi’tiqodkan bahwa Alloh SWT ada dimana-mana (maha suci Alloh dari hal demikian), melainkan Allohu mawjud bi laa makaan bi laa jihah. Inilah i’toqod Ahlus Sunnah yang diselisihi oleh Wahhabi. Semoga Alloh meninggikan Ahlus Sunnah yang sebenarnya. Amien

Wahhabi laytsa min ahlis sunnah!

Memang sudah bukan rahasia lagi kalo kyai2 dalam wadah salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia ini I’tiqodnya beda2, ada yang mengatakan Alloh ada di mana2lah, ada yang mengatakan Alloh ada di diri kitalah, juga ada yang mengatakan Alloh tak berhajat tempat seperti I’tiqodnya Pak Lukman ini. tetapi pada dasarnya mereka sama yaitu SAMA2 MENGINGKARI AYAT2 ALQURAN DAN SUNNAH YANG MEMBERITAKAN ALLOH swt MENSIFATI DIRINYA SENDIRI DAN ROSULLOH saw MENSIFATI ALLOH swt.

kalo aku amati pak lukman belum memberikan jawaban yg diminta oleh pa sri yaitu :TUNJUKKANLAH DALIL DARI ALQURAN DAN SUNNAH ATAU SAHABAT ATAU EMPAT IMAM MASHAB YANG MENGATAKAN “ ALLOH MAWJUD BILAA MAKAAN/ ALLOH TAK BERTEMPAT/ALLOH DI MANA2”
jika pa lukman memang benar2 ahlus sunnah harusnya jawaban bapak pasti bersumber dari ALQURAN dan SUNNAH, kalau tidak berarti pa lukman bukan ahlus sunnah tapi maaf AHLUL BID’AH. Aku rasa prediksi pa sri benar juga bahwa pa lukman tak akan memberi jawaban dari kitabulloh atau sunnah Rosulloh saw, karena dari dua sumber tsb jelas2 tdk ada.

Jawaban pa lukman kalau diamati tidak lebih dari jawaban seorang PROVOKATOR yang mengumbar fitnah. Tahu kenapa???? Pada jawaban bapak yg berbunyi “Mereka mengatakan bahwa Alloh bersemayam di atas ‘Arsy sebagaimana makhluk bersemayam di atas sesuatu.”

Adakah pa sri mengatakan “SEBAGAIMANA MAKHLUK BERSEMAYAM DI ATAS SESUATU?????”
tulisan pa lukman ini persis seperti tulisan bapak di awal blog ini yg sifatnya memprovokasi manusia.

Ketika pa lukman mempertanyakan “DI MANA ALLOH SEBELUM ‘ARSY DICIPYAKAN? JIKA ALLOH BERADA PADA SUATU RUANGAN, DI MANA ALLOH SWT SEBELUM RUANGAN ITU ADA?” ini persis seperti pertanyaannya seseorang kpd imam malik yg menanyakan BAGAIMANA ALLOH BERSEMAYAM, yg oleh imam malik orang itu dihardik, karena mempertannyakan itu adalah bid’ah. sedangkan BERSEMAYAM-NYA SUDAH DIKETAHUI jawab imam malik. Untung saja pa lukman tdk hidup pd masa itu, apabila datang ke majelisnya imam malik pa lukman pasti akan diusir oleh imam malik

saya sependapat dg pa sri dan ini cocok dengan I’tiqodnya para imam mashab yaitu MENGIMANI SIFAT2 ALLOH swt SEBAGAIMANA ALLOH swt MENSIFATI DIRINYA SENDIRI, DAN SEBAGAIMANA NABI saw MENSIFATI ALLOH swt YANG HAKEKATNTA BERBEDA DG MAKHLUKNYA, TANPA MENAYAKAN “BAGAIMANA?? dan MENGAPA??” karena akal/logika tidak akan mampu menjangkaunya sehingga kita wajib BERSERAH DIRI menerima apa adanya tanpa menyamakan dengan MAKHLUKNYA.

PA LUKMAN MENGAMBIL DALIL: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya “(Q.S. asy-Syura: 11) untuk mengingkari ayat2 alquran dan sunnah rosulloh saw dimana Alloh swt mensifati diri-Nya sendiri dan rosulloh mensifati-Nya
(SAYA,AHMAD WILDAN): apakah ayat di atas bertentangan dgn orang yang mengimani ayat2 ini?: “Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (bersemayam)”. (Thaha : 5)
“Sesungguhnya Tuhan kamu itu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy”.(Al-A’raf :54).
JAWABANNYA: tentu tidak!! karena ALLOH BERSEMAYAM DI ATAS ‘ARSY HAKEKATNYA TIDAK SAMA DENGAN MAKHLUK NYA BERSEMAYAM, pada ayat2 ini Alloh swt memberitakan kpd makhluknya tentang keberadaan Alloh swt, kwajiban makhluknya mendengar berita itu adalah mengimani tanpa menyerupakan dgn makhluknya, tanpa menanyakan “bagaimana” dan “mengapa”. Apakah pa lukman tidak juga mengimani ayat2 “(Q.S. asy-Syura: 11), “.(Al-A’raf :54) sebagaimana Alloh swt mensifati diriNya??? apa pa lukman tidak takut mengingkari ayat2 alquran nich?? atau pa lukman akan menakwilkan sebagaimana kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah??? sekarang bolehlah anda mentakwilkan seperti mereka, tapi saya minta sebutkan takwil itu yg bersumber dari sahabat atau empat imam mashab bila pa lukman benar2 ahlus sunnah dan mengikuti salafus sholeh!!!!!!!

Pa lukman mencemooh pa sri dgn mengutip caranya Ibn Taimyyah dalam melukiskan turunnya Alloh swt dari langit ke bumi seperti beliau turun dari mimbar. JAWABANNYA: saya (ahmad wildan) dan insyaalloh pa sri sependapat dgn saya yaitu : bahwa kami berlepas diri dari Ibn Taimyyah dalam menggambarkan hal itu apabila benar2 belum ada dalil yg shohih yg memberitakan tentang itu, tetapi apabila beliau berbuat seperti itu berdasar dalil yg shohih kami akan mengikutinya

Pa lukman membantah pa sri dgn menukil perkataan imam Ali r.a yg Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayn al Firaq. JAWABANYA: perlu diteliti keshohihanya dari perowi atau sanad2nya karena matannya BATIL dan MUNGKAR karena ini sangat kontradiksi dgn riwayat2 yang shohih.

Pa lukman, membantah pa sri dengan mengambil pendapatnya imam Ar-Rifai[578H] yang jelas2 menyelisihi I’tiqodnya para imam hadits, imam mashab, tabi’in dan sahabat. mau bukti????!!!!!……..

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah (223H-311H) di kitabnya “At-Tauhid” (hal : 111): “Tidaklah kalian mendengar firman pencipta kita ‘Azza wa Jalla yang mensifatkan diri-Nya.
Artinya :
“Dan Dialah (Allah) yang Maha Kuasa di atas hamba-hamba-Nya”. (Al-An’am : 18 & 61).
Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya tersebut : “Tidakkah kalian mendengar wahai penuntut ilmu. Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala kepada Isa bin Maryam :
Artinya :
“Wahai Isa ! Sesungguhnya Aku akan mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku” (Ali Imran : 55)

Ibnu Khuzaimah menerangkan : Bukankah “mengangkat” sesuatu itu dari bawah ke atas (ke tempat yang tinggi) tidak dari atas ke bawah!. Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :
“Tetapi Allah telah mengangkat dia (yakni Nabi Isa) kepada-Nya” (An-Nisa’ : 158).
Karena “Ar-raf’ah” = mengangkat dalam bahasa Arab yang dengan bahasa mereka kita diajas berbicara (yakni Al-Qur’an) dalam bahasa Arab yang hanya dapat diartikan dari bawah ke tempat yang tinggi dan di atas” (kitab At-Tauhid : 111).

Sekarang dengarlah wahai orang yang berakal, kisah Fir’aun bersama Nabi Allah Musa ‘Alaihis Salam di dalam kitab-Nya yang mulia, dimana Fir’aun telah mendustakan Musa yang telah mengabarkan kepadanya bahwa Tuhannya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit :
Artinya :
“Dan berkata Fir’aun : Hai Haman! Buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan. (Yaitu) jalan-jalan menuju ke langit supaya aku dapat melihat Tuhan(nya) Musa, karena sesungguhnya aku mengira dia itu telah berdusta”. (Al-Mu’min : 36-37. Al-Qashash : 38).
Perhatikanlah wahai orang yang berakal!. Perintah Fir’aun kepada Haman -menterinya- untuk membuatkan satu bangunan yang tinggi supaya ia dapat jalan ke langit untuk melihat Tuhannya Musa. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Musa telah memberitahukan kepadanya bahwa Tuhannya -Allah Subhanahu wa Ta’ala- berada di atas langit-.

Kalau tidak demikian, yakni misalnya Nabi Musa mengatakan bahwa Tuhannya ada dimana-mana tempat -sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah- tentu Fir’aun yang disebabkan karena kekafirannya dan pengakuannya sebagai Tuhan, akan mengerahkan bala tentaranya untuk mencari Tuhannya Musa di istananya, di rumah-rumah Bani Israil, di pasar-pasar dan di seluruh tempat di timur dan di barat !?. Tetapi tatkala Nabi Musa dengan perkataannya: “Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta !”. Yakni TENTANG PERKATAAN MUSA BAHWA TUHANNYA DI ATAS LANGIT.
Perhatikanlah, wahai orang yang berakal !. Keadaan Fir’aun yang mendustakan Nabi Musa dengan kaum Jahmiyyah dan yang SEPAHAM DENGANNYA (termasuk pa lukman ) mereka yang telah merubah firman Allah dengan mengatakan : Allah ada di segala tempat ! (atau tak bertempat)

mereka mengatakan ALLOH SWT TAK BERTEMPAT karena akan menyerupai dengan mahluk-Nya. Tetapi pada saat yang sama sebenarnya mereka tetapkan bahwa Allah berada di segala tempat atau di mana-mana tempat !?.
Ya Subhanallah !
Artinya :
“Dari Ibnu Abbas (ia berkata) : ” Bahwa Rasulullah SAW berkhotbah kepada manusia pada hari Nahr (tgl. 10 Zulhijah) -kemudian Ibnu Abbas menyebutkan khotbah Nabi SAW- kemudian beliau mengangkat kepalanya (KE LANGIT) sambil mengucapkan : Ya Allah bukankah Aku telah menyampaikan ! Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan !. (Riwayat IMAM BUKHORI Juz 2 hal : 191). Siapa yg meriwatkan pa lukman???

Perhatikan wahai orang yang berakal ! Perbuatan Rasulullah SAW mengangkat kepalanya KE LANGIT mengucapkan : Ya Allah !.
Rasulullah SAW menyeru kepada Tuhannya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berada di atas langit yakni di atas ‘Arsy di atas sekalian mahluk-Nya. Kemudian
perhatikanlah kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada di segala tempat, di bawah mahluk, di jalan-jalan, di tempat-tempat yang kotor, dan di perut-perut hewan !? [ juga yg mengatakan Alloh swt tak bertempat ]

Maha Suci Allah ! Maha Suci Allah dari apa yang disifatkan oleh kaum Jahmiyyah dan yang sama dengan mereka !.
Artinya :
“Dari Aisyah, ia berkata : “Nabi SAW mengangkat kepalanya KE LANGIT. (Riwayat Imam Bukhari 7/122). Siapa yg meriwatkan pa lukman????

Keempat
Keterangan Para Sahabat Nabi SAW, dan Ulama-Ulama Islam.

Adapun keterangan dari para sahabat Nabi SAW, dan Imam-imam kita serta para Ulama dalam masalah ini sangat banyak sekali, yang tidak mungkin saya kutipkan satu persatu tapi beberapa diantaranya:
1. Umar bin Khatab pernah mengatakan :
Artinya :
“Hanyasanya segala urusan itu (datang/keputusannya) dari sini”. Sambil Umar mengisyaratkan tangannya KE LANGIT ” [Imam Dzahabi di kitabnya "Al-Uluw" hal : 103. mengatakan : Sanadnya seperti Matahari (yakni terang benderang keshahihannya)].

2. Ibnu Mas’ud berkata : Artinya : “‘Arsy itu di atas air dan Allah ‘Azza wa Jalla di atas ‘Arsy, Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan”.
Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Thabrani di kitabnya “Al-Mu’jam Kabir” No. 8987. dan lain-lain Imam.
Imam Dzahabi di kitabnya “Al-Uluw” hal : 103 berkata : sanadnya shahih,dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyetujuinya (beliau meringkas dan mentakhrij hadits ini di kitab Al-Uluw).
Tentang ‘Arsy Allah di atas air ada firman Allah ‘Azza wa Jalla.
“Dan adalah ‘Arsy-Nya itu di atas air” (Hud : 7)

3. Anas bin Malik menerangkan :
Artinya :
“Adalah Zainab memegahkan dirinya atas istri-istri Nabi SAW, ia berkata : “Yang mengawinkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga kamu, tetapi yang mengawinkan aku (dengan Nabi) adalah Allah Ta’ala dari ATAS TUJUH LANGIT”.
Dalam satu lafadz Zainab binti Jahsyin mengatakan :
“Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku (dengan Nabi) dari ATAS LANGIT”. (Riwayat BUKHARI juz 8 hal:176). Yakni perkawinan Nabi SAW dengan Zainab binti Jahsyin langsung Allah Ta’ala yang menikahinya dari atas ‘Arsy-Nya.
Firman Allah di dalam surat Al-Ahzab : 57
“Kami kawinkan engkau dengannya (yakni Zainab)”.
Siapa yg meriwatkan hadits di atas pa lukman????

4. Imam Abu Hanifah berkata :
Artinya :
“Barangsiapa yang mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya IA TELAH KAFIR”.
Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan “aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi”. Berkata Imam Abu Hanifah : “Sesungguhnya dia telah ‘Kafir !”.
Karena Allah telah berfirman : “Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa”. Yakni : Abu Hanifah telah mengkafirkan orang yang mengingkari atau tidak tahu bahwa Allah istiwaa diatas ‘Arsy-Nya.

5. Imam Malik bin Anas telah berkata :
Artinya :
“Allah berada di atas langit, sedangkan ilmunya di tiap-tiap tempat, tidak tersembunyi sesuatupun dari-Nya”.

6. Imam Asy-Syafi’iy telah berkata :
Artinya :
“Dan sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy-Nya di atas langit-Nya”

7. Imam Ahmad bin Hambal pernah di tanya : “Allah di atas tujuh langit diatas ‘Arsy-Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya berada di tiap-tiap tempat.?
Jawab Imam Ahmad :
Artinya :
“Benar ! Allah di atas ‘Arsy-Nya dan tidak sesuatupun yang tersembunyi dari pengetahuan-nya”.

8. Imam Ali bin Madini pernah ditanya : “Apa perkataan Ahlul Jannah ?”.
Beliau menjawab :
Artinya :
“Mereka beriman dengan ru’yah (yakni melihat Allah pada hari kiamat dan di sorga khusus bagi kaum mu’minin), dan dengan kalam (yakni bahwa Allah berkata-kata), dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla di atas langit di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa”.

9. Imam Tirmidzi telah berkata :
Artinya :
“Telah berkata ahli ilmu : “Dan Ia (Allah) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah sifatkan diri-Nya”.
(Baca : “Al-Uluw oleh Imam Dzahabi yang diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di hal : 137, 140, 179, 188, 189 dan 218. Fatwa Hamawiyyah Kubra oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal: 51, 52, 53, 54 dan 57).

10. Telah berkata Imam Ibnu Khuzaimah [ 223h-311H ] -Imamnya para imam- :
Artinya :
“Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya…”.
(Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Hakim di kitabnya Ma’rifah “Ulumul Hadits” hal : 84).

11. Telah berkata Syaikhul Islam Imam Abdul Qadir Jailani -diantara perkataannya- :
“Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada diatas tiap-tiap tempat, bahkan (wajib) mengatakan : Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah berfirman :”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (Thaha : 5). Dan patutlah memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta’wil sesungguhnya Ia istiwaa dengan Dzat-Nya di atas ‘Arsy. Dan keadaan-Nya di atas ‘Arsy telah tersebut pada tiap-tiap kitab yang. Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya):”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?” (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 87).
Yakni : Kita wajib beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala istiwaa di atas ‘Arsy-Nya yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas sekalian mahluk-Nya. Tetapi wajib bagi kita meniadakan pertanyaan : “Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?”. Karena yang demikian tidak dapat kita mengerti sebagaimana telah diterangkan oleh Imam Malik dan lain-lain Imam. Allah istiwaa sesuai dengan kebesaran-Nya tidak serupa dengan istiwaanya mahluk sebagaimana kita meniadakan pertanyaan : Bagaimana Dzatnya Allah ?.
Demikianlah aqidah salaf, salah satunya ialah Imam Abdul Qadir Jailani yang di Indonesia, di sembah-sembah dijadikan berhala oleh penyembah-penyembah qubur dan orang-orang bodoh [ mudah2an pa lukman tdk termasuk gol mereka ]. Kalau sekiranya Imam kita ini hidup pada zaman kita sekarang ini dan beliau melihat betapa banyaknya orang-orang yang menyembah dengan meminta-minta kepada beliau dengan “tawasul”, tentu beliau akan mengingkari dengan sangat keras dan berlepas diri dari qaum musyrikin tersebut.
Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’un !!.

Kelima
Kesimpulan
Hadits Jariyah (budak perempuan) yg diriwayatkan tujuh imam hadits termasuk IMAM MUSLIM ini bersama hadits-hadits yang lain yang sangat banyak dan berpuluh-puluh ayat Al-Qur’an dengan tegas dan terang menyatakan : “Sesungguhnya Pencipta kita Allah ‘Azza wa Jalla di atas langit yakni di atas ‘Arsy-Nya, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya”. Maha Suci Allah dari menyerupai mahluk-Nya.!.
Dan Maha Suci Allah dari ta’wilnya kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada dimana-mana tempat !??. [ atau Alloh swt tak bertempat ]

Dapatlah kami simpulkan sebagai berikut :
1. Sesungguhnya bertanya dengan pertanyaan : “Dimana Allah ?, disyariatkan dan penanya telah mengikuti Rasulullah SAW.
2. Wajib menjawab : “Sesungguhnya Allah di atas langit atau di atas ‘Arsy”. Karena yang dimaksud di atas langit adalah di atas ‘Arsy. Jawaban ini membuktikan keimanannya sebagai mu’min atau mu’minah. Sebagaimana Nabi SAW, telah menyatakan keimanan budak perempuan, karena jawabannya : Allah di atas langit !.
3. Wajib mengi’tiqadkan sesungguhnya Allah di atas langit, yakni di atas ‘Arsy-Nya.
4. Barangsiapa yang mengingkari wujud Allah di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir.
5. Barangsiapa yang tidak membolehkan bertanya : Dimana Allah ? maka sesungguhnya ia telah menjadikan dirinya lebih pandai dari Rasulullah SAW, bahkan lebih pandai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Na’udzu billah.
6. Barangsiapa yang tidak menjawab : Sesungguhnya Allah di atas langit, maka bukanlah ia seorang mukmin atau mukminah.
7. Barangsiapa yang mempunyai iti’qad bahwa bertanya :”Dimana Allah ?” akan menyerupakan Allah dengan mahluk-nya, maka sesunguhnya ia telah menuduh Rasulullah SAW jahil/bodoh !. Na’udzu billah !
8. Barangsiapa yang mempunyai iti’qad bahwa Allah berada dimana-mana tempat, maka sesunguhnya ia telah kafir.
9. Barangsiapa yang tidak mengetahui dimana Tuhannya [ Alloh swt tak bertempat], maka bukankah ia penyembah Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi ia menyembah kepada “sesuatu yang tidak ada”.
10. Ketahuilah ! Bahwa sesunguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit, yakni di atas ‘Arsy-Nya di atas sekalian mahluk-Nya, telah setuju dengan dalil naqli dan aqli serta fitrah manusia. Adapun dalil naqli, telah datang berpuluh ayat Al-Qur’an dan hadits yang mencapai derajat mutawatir. Demikian juga keterangan Imam-imam dan Ulama-ulama Islam, bahkan telah terjadi ijma’ diantara mereka kecuali kaum ahlul bid’ah. Sedangkan dalil aqli yang sederhanapun akan menolak jika dikatakan bahwa Allah berada di segala tempat !. Adapun fitrah manusia, maka lihatlah jika manusia -baik muslim atau kafir- berdo’a khususnya apabila mereka terkena musibah, mereka angkat kepala-kepala mereka ke langit sambil mengucapkan ‘Ya … Tuhan..!. Manusia dengan fitrahnya mengetahui bahwa penciptanya berada di tempat yang tinggi, di atas sekalian mahluk-Nya yakni di atas ‘Arsy-Nya. Bahkan fitrah ini terdapat juga pada hewan dan tidak ada yang mengingkari fitrah ini kecuali orang yang telah rusak fitrahnya.

Mungkin pa lukman menanyakan ayat yg Artinya :
“Dan Dia-lah Allah di langit dan di bumi, Dia mengetahui rahasia kamu dan yang kamu nyatakan, dan Dia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan “. (Al-An’am : 3)

Saya jawab : Ahli tafsir telah sepakat sebagaimana dinukil Imam Ibnu Katsir mengingkari kaum Jahmiyyah yang membawakan ayat ini untuk mengatakan :
“Innahu Fii Qulli Makaan”
“Sesungguhnya Ia (Allah) berada di tiap-tiap tempat !”.
Maha Suci Allah dari perkataan kaum Jahmiyyah ini dan juga yg seperti I’tiqodnya pa lukman!

Adapun maksud ayat ini ialah :
1. Dialah yang dipanggil (diseru/disebut) Allah di langit dan di bumi.
2. Yakni : Dialah yang disembah dan ditauhidkan (diesakan) dan ditetapkan bagi-Nya Ilaahiyyah (Ketuhanan) oleh mahluk yang di langit dan mahluk yang di bumi, kecuali mereka yang kafir dari golongan Jin dan manusia.
Ayat tersebut seperti juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Artinya :
“Dan Dia-lah yang di langit (sebagai) Tuhan, dan di bumi (sebagai) Tuhan, dan Dia Maha Bijaksana (dan) Maha mengetahui”. (Az-Zukhruf : 84)
Yakni : Dia-lah Allah Tuhan bagi mahluk yang di langit dan bagi mahluk yang di bumi dan Ia disembah oleh penghuni keduanya. (baca : Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 123 dan Juz 4 hal 136).

Bukanlah dua ayat di atas maksudnya : Allah ada di langit dan di bumi atau berada di segala tempat!. Sebagaimana ta’wilnya kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Atau perkataan orang-orang yang “diam” Tidak tahu Allah ada di mana !.
Mereka selain telah menyalahi ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi serta keterangan para sahabat dan Imam-imam Islam seluruhnya, juga bodoh terhadap bahasa Arab yang dengan bahasa Arab yang terang Al-Quran ini diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Abu Abdillah Al-Muhasiby dalam keterangan ayat di atas (Az-Zukhruf : 84) menerangkan : “Yakni Tuhan bagi penduduk langit dan Tuhan bagi penduduk bumi. Dan yang demikian terdapat di dalam bahasa, (umpamanya ) engkau berkata : “Si Fulan penguasa di (negeri) Khirasan, dan di Balkh, dan di Samarqand”, padahal ia berada di satu tempat”. Yakni : Tidak berarti ia berada di tiga tempat meskipun ia menguasai ketiga negeri tersebut. Kalau dalam bahasa Indonesia, umpamanya kita berkata “Si Fulan penguasa di Jakarta, dan penguasa di Bogor, dan penguasa di Bandung”. Sedangkan ia berada di satu tempat.
Bagi Allah ada perumpamaan/misal yang lebih tinggi (baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 73).

Adapun orang yang “diam” (tawaqquf) dengan mengatakan : “Kami tidak tahu Dzat Allah di atas ‘Arsy atau di bumi”, mereka ini adalah orang-orang yang telah memelihara kebodohan !. Allah Rabbul ‘Alamin telah sifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat ini, yang salah satunya bahwa Ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy-Nya supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu “diam” darinya dengan ucapan “kita tidak tahu” nyata telah berpaling dari maksud Allah. Pantaslah kalau Abu Hanifah mengkafirkan orang yang berfaham demikian, sama seperti orang yang menta’wilnya.

Pa lukman, maafkan saya kalau sekirannya pa lukman merasa seperti orang kena cemeti mengetahui hujjah2 ini, saya hanya menyarankan kepada pa lukman untuk berfikir dan mengevaluasi I’tiqod anda saat ini, juga melapangkan hati untuk menerima kebenaran ini.WALLOHU”ALAM

Kepada pa sri salam kenal, dan saya katakan bahwa saya mencintai manusia2 yang menhidupkan sunnah rosulloh saw yg saat ini manusia banyak meninggalkannya. juga kepada orang2 yg suka melihat islam bersinar dengan kemurniannya seperti yg pa sri tulis dibagian lain.

ahmad widan :

Memang sudah bukan rahasia lagi kalo kyai2 dalam wadah salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia ini I’tiqodnya beda2, ada yang mengatakan Alloh ada di mana2lah, ada yang mengatakan Alloh ada di diri kitalah, juga ada yang mengatakan Alloh tak berhajat tempat seperti I’tiqodnya Pak Lukman ini. tetapi pada dasarnya mereka sama yaitu SAMA2 MENGINGKARI AYAT2 ALQURAN DAN SUNNAH YANG MEMBERITAKAN ALLOH swt MENSIFATI DIRINYA SENDIRI DAN ROSULLOH saw MENSIFATI ALLOH swt.

kalo aku amati pak lukman belum memberikan jawaban yg diminta oleh pa sri yaitu :TUNJUKKANLAH DALIL DARI ALQURAN DAN SUNNAH ATAU SAHABAT ATAU EMPAT IMAM MASHAB YANG MENGATAKAN “ ALLOH MAWJUD BILAA MAKAAN/ ALLOH TAK BERTEMPAT/ALLOH DI MANA2”
jika pa lukman memang benar2 ahlus sunnah harusnya jawaban bapak pasti bersumber dari ALQURAN dan SUNNAH, kalau tidak berarti pa lukman bukan ahlus sunnah tapi maaf AHLUL BID’AH. Aku rasa prediksi pa sri benar juga bahwa pa lukman tak akan memberi jawaban dari kitabulloh atau sunnah Rosulloh saw, karena dari dua sumber tsb jelas2 tdk ada.

Jawaban pa lukman kalau diamati tidak lebih dari jawaban seorang PROVOKATOR yang mengumbar fitnah. Tahu kenapa???? Pada jawaban bapak yg berbunyi “Mereka mengatakan bahwa Alloh bersemayam di atas ‘Arsy sebagaimana makhluk bersemayam di atas sesuatu.”

Adakah pa sri mengatakan “SEBAGAIMANA MAKHLUK BERSEMAYAM DI ATAS SESUATU?????”
tulisan pa lukman ini persis seperti tulisan bapak di awal blog ini yg sifatnya memprovokasi manusia.

Ketika pa lukman mempertanyakan “DI MANA ALLOH SEBELUM ‘ARSY DICIPYAKAN? JIKA ALLOH BERADA PADA SUATU RUANGAN, DI MANA ALLOH SWT SEBELUM RUANGAN ITU ADA?” ini persis seperti pertanyaannya seseorang kpd imam malik yg menanyakan BAGAIMANA ALLOH BERSEMAYAM, yg oleh imam malik orang itu dihardik, karena mempertannyakan itu adalah bid’ah. sedangkan BERSEMAYAM-NYA SUDAH DIKETAHUI jawab imam malik. Untung saja pa lukman tdk hidup pd masa itu, apabila datang ke majelisnya imam malik pa lukman pasti akan diusir oleh imam malik

saya sependapat dg pa sri dan ini cocok dengan I’tiqodnya para imam mashab yaitu MENGIMANI SIFAT2 ALLOH swt SEBAGAIMANA ALLOH swt MENSIFATI DIRINYA SENDIRI, DAN SEBAGAIMANA NABI saw MENSIFATI ALLOH swt YANG HAKEKATNTA BERBEDA DG MAKHLUKNYA, TANPA MENAYAKAN “BAGAIMANA?? dan MENGAPA??” karena akal/logika tidak akan mampu menjangkaunya sehingga kita wajib BERSERAH DIRI menerima apa adanya tanpa menyamakan dengan MAKHLUKNYA.

PA LUKMAN MENGAMBIL DALIL: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya “(Q.S. asy-Syura: 11) untuk mengingkari ayat2 alquran dan sunnah rosulloh saw dimana Alloh swt mensifati diri-Nya sendiri dan rosulloh mensifati-Nya
(SAYA,AHMAD WILDAN): apakah ayat di atas bertentangan dgn orang yang mengimani ayat2 ini?: “Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (bersemayam)”. (Thaha : 5)
“Sesungguhnya Tuhan kamu itu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy”.(Al-A’raf :54).
JAWABANNYA: tentu tidak!! karena ALLOH BERSEMAYAM DI ATAS ‘ARSY HAKEKATNYA TIDAK SAMA DENGAN MAKHLUK NYA BERSEMAYAM, pada ayat2 ini Alloh swt memberitakan kpd makhluknya tentang keberadaan Alloh swt, kwajiban makhluknya mendengar berita itu adalah mengimani tanpa menyerupakan dgn makhluknya, tanpa menanyakan “bagaimana” dan “mengapa”. Apakah pa lukman tidak juga mengimani ayat2 “(Q.S. asy-Syura: 11), “.(Al-A’raf :54) sebagaimana Alloh swt mensifati diriNya??? apa pa lukman tidak takut mengingkari ayat2 alquran nich?? atau pa lukman akan menakwilkan sebagaimana kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah??? sekarang bolehlah anda mentakwilkan seperti mereka, tapi saya minta sebutkan takwil itu yg bersumber dari sahabat atau empat imam mashab bila pa lukman benar2 ahlus sunnah dan mengikuti salafus sholeh!!!!!!!

Pa lukman mencemooh pa sri dgn mengutip caranya Ibn Taimyyah dalam melukiskan turunnya Alloh swt dari langit ke bumi seperti beliau turun dari mimbar. JAWABANNYA: saya (ahmad wildan) dan insyaalloh pa sri sependapat dgn saya yaitu : bahwa kami berlepas diri dari Ibn Taimyyah dalam menggambarkan hal itu apabila benar2 belum ada dalil yg shohih yg memberitakan tentang itu, tetapi apabila beliau berbuat seperti itu berdasar dalil yg shohih kami akan mengikutinya

Pa lukman membantah pa sri dgn menukil perkataan imam Ali r.a yg Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayn al Firaq. JAWABANYA: perlu diteliti keshohihanya dari perowi atau sanad2nya karena matannya BATIL dan MUNGKAR karena ini sangat kontradiksi dgn riwayat2 yang shohih.

Pa lukman, membantah pa sri dengan mengambil pendapatnya imam Ar-Rifai[578H] yang jelas2 menyelisihi I’tiqodnya para imam hadits, imam mashab, tabi’in dan sahabat. mau bukti????!!!!!……..

Berkata Imam Ibnu Khuzaimah (223H-311H) di kitabnya “At-Tauhid” (hal : 111): “Tidaklah kalian mendengar firman pencipta kita ‘Azza wa Jalla yang mensifatkan diri-Nya.
Artinya :
“Dan Dialah (Allah) yang Maha Kuasa di atas hamba-hamba-Nya”. (Al-An’am : 18 & 61).
Berkata Imam Ibnu Khuzaimah di kitabnya tersebut : “Tidakkah kalian mendengar wahai penuntut ilmu. Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala kepada Isa bin Maryam :
Artinya :
“Wahai Isa ! Sesungguhnya Aku akan mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku” (Ali Imran : 55)

Ibnu Khuzaimah menerangkan : Bukankah “mengangkat” sesuatu itu dari bawah ke atas (ke tempat yang tinggi) tidak dari atas ke bawah!. Dan firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :
“Tetapi Allah telah mengangkat dia (yakni Nabi Isa) kepada-Nya” (An-Nisa’ : 158).
Karena “Ar-raf’ah” = mengangkat dalam bahasa Arab yang dengan bahasa mereka kita diajas berbicara (yakni Al-Qur’an) dalam bahasa Arab yang hanya dapat diartikan dari bawah ke tempat yang tinggi dan di atas” (kitab At-Tauhid : 111).

Sekarang dengarlah wahai orang yang berakal, kisah Fir’aun bersama Nabi Allah Musa ‘Alaihis Salam di dalam kitab-Nya yang mulia, dimana Fir’aun telah mendustakan Musa yang telah mengabarkan kepadanya bahwa Tuhannya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit :
Artinya :
“Dan berkata Fir’aun : Hai Haman! Buatkanlah untukku satu bangunan yang tinggi supaya aku (dapat) mencapai jalan-jalan. (Yaitu) jalan-jalan menuju ke langit supaya aku dapat melihat Tuhan(nya) Musa, karena sesungguhnya aku mengira dia itu telah berdusta”. (Al-Mu’min : 36-37. Al-Qashash : 38).
Perhatikanlah wahai orang yang berakal!. Perintah Fir’aun kepada Haman -menterinya- untuk membuatkan satu bangunan yang tinggi supaya ia dapat jalan ke langit untuk melihat Tuhannya Musa. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Musa telah memberitahukan kepadanya bahwa Tuhannya -Allah Subhanahu wa Ta’ala- berada di atas langit-.

Kalau tidak demikian, yakni misalnya Nabi Musa mengatakan bahwa Tuhannya ada dimana-mana tempat -sebagaimana dikatakan kaum Jahmiyyah- tentu Fir’aun yang disebabkan karena kekafirannya dan pengakuannya sebagai Tuhan, akan mengerahkan bala tentaranya untuk mencari Tuhannya Musa di istananya, di rumah-rumah Bani Israil, di pasar-pasar dan di seluruh tempat di timur dan di barat !?. Tetapi tatkala Nabi Musa dengan perkataannya: “Sesungguhnya aku mengira dia ini berdusta !”. Yakni TENTANG PERKATAAN MUSA BAHWA TUHANNYA DI ATAS LANGIT.
Perhatikanlah, wahai orang yang berakal !. Keadaan Fir’aun yang mendustakan Nabi Musa dengan kaum Jahmiyyah dan yang SEPAHAM DENGANNYA (termasuk pa lukman ) mereka yang telah merubah firman Allah dengan mengatakan : Allah ada di segala tempat ! (atau tak bertempat)

mereka mengatakan ALLOH SWT TAK BERTEMPAT karena akan menyerupai dengan mahluk-Nya. Tetapi pada saat yang sama sebenarnya mereka tetapkan bahwa Allah berada di segala tempat atau di mana-mana tempat !?.
Ya Subhanallah !
Artinya :
“Dari Ibnu Abbas (ia berkata) : ” Bahwa Rasulullah SAW berkhotbah kepada manusia pada hari Nahr (tgl. 10 Zulhijah) -kemudian Ibnu Abbas menyebutkan khotbah Nabi SAW- kemudian beliau mengangkat kepalanya (KE LANGIT) sambil mengucapkan : Ya Allah bukankah Aku telah menyampaikan ! Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan !. (Riwayat IMAM BUKHORI Juz 2 hal : 191). Siapa yg meriwatkan pa lukman???

Perhatikan wahai orang yang berakal ! Perbuatan Rasulullah SAW mengangkat kepalanya KE LANGIT mengucapkan : Ya Allah !.
Rasulullah SAW menyeru kepada Tuhannya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berada di atas langit yakni di atas ‘Arsy di atas sekalian mahluk-Nya. Kemudian
perhatikanlah kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada di segala tempat, di bawah mahluk, di jalan-jalan, di tempat-tempat yang kotor, dan di perut-perut hewan !? [ juga yg mengatakan Alloh swt tak bertempat ]

Maha Suci Allah ! Maha Suci Allah dari apa yang disifatkan oleh kaum Jahmiyyah dan yang sama dengan mereka !.
Artinya :
“Dari Aisyah, ia berkata : “Nabi SAW mengangkat kepalanya KE LANGIT. (Riwayat Imam Bukhari 7/122). Siapa yg meriwatkan pa lukman????

Keempat
Keterangan Para Sahabat Nabi SAW, dan Ulama-Ulama Islam.

Adapun keterangan dari para sahabat Nabi SAW, dan Imam-imam kita serta para Ulama dalam masalah ini sangat banyak sekali, yang tidak mungkin saya kutipkan satu persatu tapi beberapa diantaranya:
1.Umar bin Khatab pernah mengatakan :
Artinya :
“Hanyasanya segala urusan itu (datang/keputusannya) dari sini”. Sambil Umar mengisyaratkan tangannya KE LANGIT ” [Imam Dzahabi di kitabnya "Al-Uluw" hal : 103. mengatakan : Sanadnya seperti Matahari (yakni terang benderang keshahihannya)].

2.Ibnu Mas’ud berkata : Artinya : “‘Arsy itu di atas air dan Allah ‘Azza wa Jalla di atas ‘Arsy, Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan”.
Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Thabrani di kitabnya “Al-Mu’jam Kabir” No. 8987. dan lain-lain Imam.
Imam Dzahabi di kitabnya “Al-Uluw” hal : 103 berkata : sanadnya shahih,dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyetujuinya (beliau meringkas dan mentakhrij hadits ini di kitab Al-Uluw).
Tentang ‘Arsy Allah di atas air ada firman Allah ‘Azza wa Jalla.
“Dan adalah ‘Arsy-Nya itu di atas air” (Hud : 7)

3.Anas bin Malik menerangkan :
Artinya :
“Adalah Zainab memegahkan dirinya atas istri-istri Nabi SAW, ia berkata : “Yang mengawinkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga kamu, tetapi yang mengawinkan aku (dengan Nabi) adalah Allah Ta’ala dari ATAS TUJUH LANGIT”.
Dalam satu lafadz Zainab binti Jahsyin mengatakan :
“Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku (dengan Nabi) dari ATAS LANGIT”. (Riwayat BUKHARI juz 8 hal:176). Yakni perkawinan Nabi SAW dengan Zainab binti Jahsyin langsung Allah Ta’ala yang menikahinya dari atas ‘Arsy-Nya.
Firman Allah di dalam surat Al-Ahzab : 57
“Kami kawinkan engkau dengannya (yakni Zainab)”.
Siapa yg meriwatkan hadits di atas pa lukman????

4.Imam Abu Hanifah berkata :
Artinya :
“Barangsiapa yang mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya IA TELAH KAFIR”.
Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan “aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi”. Berkata Imam Abu Hanifah : “Sesungguhnya dia telah ‘Kafir !”.
Karena Allah telah berfirman : “Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa”. Yakni : Abu Hanifah telah mengkafirkan orang yang mengingkari atau tidak tahu bahwa Allah istiwaa diatas ‘Arsy-Nya.

5.Imam Malik bin Anas telah berkata :
Artinya :
“Allah berada di atas langit, sedangkan ilmunya di tiap-tiap tempat, tidak tersembunyi sesuatupun dari-Nya”.

6.Imam Asy-Syafi’iy telah berkata :
Artinya :
“Dan sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy-Nya di atas langit-Nya”

7.Imam Ahmad bin Hambal pernah di tanya : “Allah di atas tujuh langit diatas ‘Arsy-Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya berada di tiap-tiap tempat.?
Jawab Imam Ahmad :
Artinya :
“Benar ! Allah di atas ‘Arsy-Nya dan tidak sesuatupun yang tersembunyi dari pengetahuan-nya”.

8.Imam Ali bin Madini pernah ditanya : “Apa perkataan Ahlul Jannah ?”.
Beliau menjawab :
Artinya :
“Mereka beriman dengan ru’yah (yakni melihat Allah pada hari kiamat dan di sorga khusus bagi kaum mu’minin), dan dengan kalam (yakni bahwa Allah berkata-kata), dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla di atas langit di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa”.

9.Imam Tirmidzi telah berkata :
Artinya :
“Telah berkata ahli ilmu : “Dan Ia (Allah) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah sifatkan diri-Nya”.
(Baca : “Al-Uluw oleh Imam Dzahabi yang diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di hal : 137, 140, 179, 188, 189 dan 218. Fatwa Hamawiyyah Kubra oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal: 51, 52, 53, 54 dan 57).

10.Telah berkata Imam Ibnu Khuzaimah [ 223h-311H ] -Imamnya para imam- :
Artinya :
“Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta’ala di atas ‘Arsy-Nya Ia istiwaa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya…”.
(Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Hakim di kitabnya Ma’rifah “Ulumul Hadits” hal : 84).

11.Telah berkata Syaikhul Islam Imam Abdul Qadir Jailani -diantara perkataannya- :
“Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada diatas tiap-tiap tempat, bahkan (wajib) mengatakan : Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas ‘Arsy sebagaimana Ia telah berfirman :”Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (Thaha : 5). Dan patutlah memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta’wil sesungguhnya Ia istiwaa dengan Dzat-Nya di atas ‘Arsy. Dan keadaan-Nya di atas ‘Arsy telah tersebut pada tiap-tiap kitab yang. Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya):”Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?” (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 87).
Yakni : Kita wajib beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala istiwaa di atas ‘Arsy-Nya yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas sekalian mahluk-Nya. Tetapi wajib bagi kita meniadakan pertanyaan : “Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy-Nya ?”. Karena yang demikian tidak dapat kita mengerti sebagaimana telah diterangkan oleh Imam Malik dan lain-lain Imam. Allah istiwaa sesuai dengan kebesaran-Nya tidak serupa dengan istiwaanya mahluk sebagaimana kita meniadakan pertanyaan : Bagaimana Dzatnya Allah ?.
Demikianlah aqidah salaf, salah satunya ialah Imam Abdul Qadir Jailani yang di Indonesia, di sembah-sembah dijadikan berhala oleh penyembah-penyembah qubur dan orang-orang bodoh [ mudah2an pa lukman tdk termasuk gol mereka ]. Kalau sekiranya Imam kita ini hidup pada zaman kita sekarang ini dan beliau melihat betapa banyaknya orang-orang yang menyembah dengan meminta-minta kepada beliau dengan “tawasul”, tentu beliau akan mengingkari dengan sangat keras dan berlepas diri dari qaum musyrikin tersebut.
Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’un !!.

Kelima
Kesimpulan
Hadits Jariyah (budak perempuan) yg diriwayatkan tujuh imam hadits termasuk IMAM MUSLIM ini bersama hadits-hadits yang lain yang sangat banyak dan berpuluh-puluh ayat Al-Qur’an dengan tegas dan terang menyatakan : “Sesungguhnya Pencipta kita Allah ‘Azza wa Jalla di atas langit yakni di atas ‘Arsy-Nya, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya”. Maha Suci Allah dari menyerupai mahluk-Nya.!.
Dan Maha Suci Allah dari ta’wilnya kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada dimana-mana tempat !??. [ atau Alloh swt tak bertempat ]

Dapatlah kami simpulkan sebagai berikut :
1.Sesungguhnya bertanya dengan pertanyaan : “Dimana Allah ?, disyariatkan dan penanya telah mengikuti Rasulullah SAW.
2.Wajib menjawab : “Sesungguhnya Allah di atas langit atau di atas ‘Arsy”. Karena yang dimaksud di atas langit adalah di atas ‘Arsy. Jawaban ini membuktikan keimanannya sebagai mu’min atau mu’minah. Sebagaimana Nabi SAW, telah menyatakan keimanan budak perempuan, karena jawabannya : Allah di atas langit !.
3.Wajib mengi’tiqadkan sesungguhnya Allah di atas langit, yakni di atas ‘Arsy-Nya.
4.Barangsiapa yang mengingkari wujud Allah di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir.
5.Barangsiapa yang tidak membolehkan bertanya : Dimana Allah ? maka sesungguhnya ia telah menjadikan dirinya lebih pandai dari Rasulullah SAW, bahkan lebih pandai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Na’udzu billah.
6.Barangsiapa yang tidak menjawab : Sesungguhnya Allah di atas langit, maka bukanlah ia seorang mukmin atau mukminah.
7.Barangsiapa yang mempunyai iti’qad bahwa bertanya :”Dimana Allah ?” akan menyerupakan Allah dengan mahluk-nya, maka sesunguhnya ia telah menuduh Rasulullah SAW jahil/bodoh !. Na’udzu billah !
8.Barangsiapa yang mempunyai iti’qad bahwa Allah berada dimana-mana tempat, maka sesunguhnya ia telah kafir.
9.Barangsiapa yang tidak mengetahui dimana Tuhannya [ Alloh swt tak bertempat], maka bukankah ia penyembah Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi ia menyembah kepada “sesuatu yang tidak ada”.
10.Ketahuilah ! Bahwa sesunguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas langit, yakni di atas ‘Arsy-Nya di atas sekalian mahluk-Nya, telah setuju dengan dalil naqli dan aqli serta fitrah manusia. Adapun dalil naqli, telah datang berpuluh ayat Al-Qur’an dan hadits yang mencapai derajat mutawatir. Demikian juga keterangan Imam-imam dan Ulama-ulama Islam, bahkan telah terjadi ijma’ diantara mereka kecuali kaum ahlul bid’ah. Sedangkan dalil aqli yang sederhanapun akan menolak jika dikatakan bahwa Allah berada di segala tempat !. Adapun fitrah manusia, maka lihatlah jika manusia -baik muslim atau kafir- berdo’a khususnya apabila mereka terkena musibah, mereka angkat kepala-kepala mereka ke langit sambil mengucapkan ‘Ya … Tuhan..!. Manusia dengan fitrahnya mengetahui bahwa penciptanya berada di tempat yang tinggi, di atas sekalian mahluk-Nya yakni di atas ‘Arsy-Nya. Bahkan fitrah ini terdapat juga pada hewan dan tidak ada yang mengingkari fitrah ini kecuali orang yang telah rusak fitrahnya.

Mungkin pa lukman menanyakan ayat yg Artinya :
“Dan Dia-lah Allah di langit dan di bumi, Dia mengetahui rahasia kamu dan yang kamu nyatakan, dan Dia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan “. (Al-An’am : 3)

Saya jawab : Ahli tafsir telah sepakat sebagaimana dinukil Imam Ibnu Katsir mengingkari kaum Jahmiyyah yang membawakan ayat ini untuk mengatakan :
“Innahu Fii Qulli Makaan”
“Sesungguhnya Ia (Allah) berada di tiap-tiap tempat !”.
Maha Suci Allah dari perkataan kaum Jahmiyyah ini dan juga yg seperti I’tiqodnya pa lukman!

Adapun maksud ayat ini ialah :
1.Dialah yang dipanggil (diseru/disebut) Allah di langit dan di bumi.
2.Yakni : Dialah yang disembah dan ditauhidkan (diesakan) dan ditetapkan bagi-Nya Ilaahiyyah (Ketuhanan) oleh mahluk yang di langit dan mahluk yang di bumi, kecuali mereka yang kafir dari golongan Jin dan manusia.
Ayat tersebut seperti juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Artinya :
“Dan Dia-lah yang di langit (sebagai) Tuhan, dan di bumi (sebagai) Tuhan, dan Dia Maha Bijaksana (dan) Maha mengetahui”. (Az-Zukhruf : 84)
Yakni : Dia-lah Allah Tuhan bagi mahluk yang di langit dan bagi mahluk yang di bumi dan Ia disembah oleh penghuni keduanya. (baca : Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 123 dan Juz 4 hal 136).

Bukanlah dua ayat di atas maksudnya : Allah ada di langit dan di bumi atau berada di segala tempat!. Sebagaimana ta’wilnya kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Atau perkataan orang-orang yang “diam” Tidak tahu Allah ada di mana !.
Mereka selain telah menyalahi ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi serta keterangan para sahabat dan Imam-imam Islam seluruhnya, juga bodoh terhadap bahasa Arab yang dengan bahasa Arab yang terang Al-Quran ini diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Abu Abdillah Al-Muhasiby dalam keterangan ayat di atas (Az-Zukhruf : 84) menerangkan : “Yakni Tuhan bagi penduduk langit dan Tuhan bagi penduduk bumi. Dan yang demikian terdapat di dalam bahasa, (umpamanya ) engkau berkata : “Si Fulan penguasa di (negeri) Khirasan, dan di Balkh, dan di Samarqand”, padahal ia berada di satu tempat”. Yakni : Tidak berarti ia berada di tiga tempat meskipun ia menguasai ketiga negeri tersebut. Kalau dalam bahasa Indonesia, umpamanya kita berkata “Si Fulan penguasa di Jakarta, dan penguasa di Bogor, dan penguasa di Bandung”. Sedangkan ia berada di satu tempat.
Bagi Allah ada perumpamaan/misal yang lebih tinggi (baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 73).

Adapun orang yang “diam” (tawaqquf) dengan mengatakan : “Kami tidak tahu Dzat Allah di atas ‘Arsy atau di bumi”, mereka ini adalah orang-orang yang telah memelihara kebodohan !. Allah Rabbul ‘Alamin telah sifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat ini, yang salah satunya bahwa Ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy-Nya supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu “diam” darinya dengan ucapan “kita tidak tahu” nyata telah berpaling dari maksud Allah. Pantaslah kalau Abu Hanifah mengkafirkan orang yang berfaham demikian, sama seperti orang yang menta’wilnya.

Pa lukman, maafkan saya kalau sekirannya pa lukman merasa seperti orang kena cemeti mengetahui hujjah2 ini, saya hanya menyarankan kepada pa lukman untuk berfikir dan mengevaluasi I’tiqod anda saat ini, juga melapangkan hati untuk menerima kebenaran ini.WALLOHU”ALAM

Kepada pa sri salam kenal, dan saya katakan bahwa saya mencintai manusia2 yang menhidupkan sunnah rosulloh saw yg saat ini manusia banyak meninggalkannya. juga kepada orang2 yg suka melihat islam bersinar dengan kemurniannya seperti yg pa sri tulis dibagian lain.

Ya akh Widan dan Akh Dodo, antum ternyata kesulitan memahami tulisan ana sehingga mengambil kesimpulan yang keliru. Antum datang dengan sesuatu yang sudah beberapa waktu lalu ana baca. Gaya khas cakrawala dan pemahaman Wahhabi. Kalo antum bukan Wahhabi, mohon maaf. Namun apa yang antum tulis sama persis dengan i’toqod Wahhabi mujassimah wa musyabbihah. Satu i’tiqod yang bertolak belakang dengan aqidah para salafus sholeh.

Antuma, -entah dari mana- mengambil kesimpulan bahwa ana beri’tiqod bahwa Alloh ada dimana2. Padahal ana mengatakan bahwa Maha Suci Alloh dari apa yang mereka serupakan. Ahlus Sunnah mempunyai i’tiqod yang bersih. Mereka tidak menjisimkan zat Alloh dan mereka tidak tasyabbuh tentang Alloh serta DzatNYA. Itoqod mereka bukan i’tiqod Jahmiyah yang mengatakan bahwa Dzat Alloh ada dimana-mana, juga bukan i’toqod Wahhabi yang mujassimah dan musyabbihah (menjisimkan dan menyerupakan dzat Alloh dengan makhluk ciptaanNYA. -Wal ‘iyadzu billah-).

Perhatikan keyakinan salah seorang imam Ahlus Sunnah, imam Al Bayhaqi yang menolak paham Jahmiyah yang menda’wa bahwa Alloh ada dimana-mana dengan mengemukakan dalil : Wa huwa ma’akum ayna maa kuntum [Sekali lagi afwan kalau antum tidak paham isi video ini. Silakan cek ke ustadz/rekan antum]


Perhatikan penggalan mulai menit 1 lewat 22 detik sampai 1:34. Inilah paham Ahlus Sunnah. Ana mengikuti mereka dan ana berlepas diri dari apa yang antum tuduhkan bahwa ana beri’tiqod Alloh ada dimana-mana [satu kesimpulan yang entah dari kalimat mana antum mengambilnya]

Mengenai Alloh mawjud bi laa makaan wa laa jihah, adalah i’tiqod Ahlus Sunnah sebenarnya, meskipun Wahhabi menyelisihi dan mengklaim merekalah Ahlus Sunnah. Abu Manshur al Baghdadi rohimahulloh dalam kitab Al Farqu baynal Firoq mengatakan bahwa Imam Ali rodhiyallohu ‘anhu mengatakan : “Sesungguhny Alloh SWT menciptakan ‘Arsy sebagai manifestasi dari kekuasaanNYA bukan sebagai tempat bagi DzatNYA.

Jika antum -sebagaimana Wahhabi- berkeyakinan bahwa Dzat Alloh SWT berada di langit dan bersemayam di atas ‘Arsy. Fa aynallohu qobla as samaa’ wal ‘arsy? [Dimana Alloh sebelum adanya langit dan 'Arsy?]. Sementara Imam Ali radhiyallohu ‘anhu, sepupu sekaligus menantu Rasululloh SAW mengatakan bahwa Alloh menciptakan ‘Arsy untuk menunjukkan kekuasaanNYA bukan sebagai tempat bagi DzatNYA.

Hadza buhtanun ‘adziem…

Berikut perhatikan dengan baik-baik, bahwa Alloh ada sebelum yang lain ada. Alloh ada sebelum air, langit, ‘Arsy, manusia, syurga, neraka. Dia lah yang Awwal dan yang Akhir.

Qola Rasulullohi shallallohu ‘alayhi wa sallam : KAANALLOHU WA LAM YAKUN SYAI’UN GHOIRUH [HR. Imam Bukhori- Imam Muslim] Inilah pokok Aqidah Ahlus Sunnah. Wahhabi telah berdusta atas nama Ahlus Sunnah dengan menjisimkan dan menyerupakan Alloh dengan ciptaanNYA.

Mohon maaf akh Dodo dan Akh Widan, video ini berbahasa Arab, bukan untuk sombong. Kalau antum agak sulit memahami, minta tolong kepada yang lebih paham. Sekali lagi mohon maaf. Semoga Alloh memberi taufiq dan hidayah kepada kita semua. Amien

Pa lukman, bapak teryata tdk mau membaca tulisanku secara tuntas sehingga bapak tergesa gesa mengambil kesimpulan. Entah mengapa, mungkin bapak takut mengetahui kebenaran atau karena kesombongan sehingga bpk menolak kebenaran.

Pa lukman saya tidak malu mengakui bahwa saya memang kurang mampu memahami percakapan dalam bahasa arab, kemahiran soal itu bukan jaminan kelurusan I’tiqod seseorang.
Tanpa mendengarpun saya tahu bahwa I’tiqodnya manusia yg ada dalam file itu yang pa lukman ikuti berbeda dengan I’tiqodnya 4 imam mashab

Pa lukman mengatakan bahwa I’tiqodnya ahlus sunnah manhaj salaf* adalah adalah MUJASSIMAH WA MUSYABBIHAH.
[* pa lukman menjuluki manhaj salaf=WAHABI hanya untuk menjelekkan]

JAWABAN SAYA:

Adalah suatu KEBOHONGAN kalo di katakan I’tiqotnya MANHAJ SALAF adalah MUJASSIMAH WA MUSYABBIHAH. I’tiqodnya ahlus sunnah manhaj salaf bersumber dari Alkitab dan Assunnah yg shohih yang mengikuti pemahaman PARA SAHABAT dan ini sesuai dengan I’tiqodnya EMPAT IMAM MASHAB yaitu: MENGIMANI SIFAT ALLOH SWT SEBAGAIMANA ALLOH SWT MENSIFATI DIRINYA SENDIRI DAN SEBAGAIMANA ROSULLOH MENSIFATI ALLOH SWT TANPA MENYERUPAKAN DENGAN MAKHLUKNYA TIDAK MENANYAKAN BENTUK/HAKEKAT SIFAT TSB dan TIDAK MENTAKWILKAN DENGAN SESUATU DILUAR SIFAT TSB. I’tiqod seperti ini adalah gamblang dan tidak membingunkan. Membicarakan sifat Alloh adalah cabang dari membicarakan dzat Alloh. karena dzat Alloh swt yang Maha Sempurna berbeda dengan dzat makhlukNya yang penuh keterbatasan, jelas sifatNya mempunyai hakekat yang berbeda dengan makhlukNya sebagaimana firmanNya ” Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia ” [Asy-Syura : 11] )

Sedangkan MUJASSIMAH WA MUSYABBIHAH adalah I’tiqod bathil yg dituduhkan oleh AHLUL BID’AH kepada ahlus sunnah manhaj salaf* supaya manusia menjahuinya.
[* Ahlul bid’ah menjuluki Manhaj salaf=WAHABI]

Pa lukman mengutip kitab Al Farqu baynal Firoq mengatakan bahwa Imam Ali rodhiyallohu ‘anhu mengatakan : “Sesungguhny Alloh SWT menciptakan ‘Arsy sebagai manifestasi dari kekuasaanNYA bukan sebagai tempat bagi DzatNYA.

JAWABAN SAYA:

1. Sudah di ketahui di Alkitab maupun Assunnah yang shohih dan semua Imam Mashab juga mengimani bahwa Alloh swt bersemayam/Istiwaa di ‘arsy. Istiwaa-Nya di atas ‘Arsy- tidak karena berhajad/tergantung kepada ‘Arsy. Bahkan sekalian mahluk TERMASUK ‘ARSY BERGANTUNG/BERHAJAD kepada Alloh swt. Firman Allah swt. Artinya :
“Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sekalian alam” (Al-Ankabut : 6) Yakni : Allah tidak berkeperluan kepada sekalian mahluk”.

2. Atsar ini mungkar karena banyak hadits shihih yg menyelisihi, seperti hadits2 yg saya sebutkan pada tulisanku yg dulu. karena ketika dua hadits kontradiktif maka pasti salah satu adalah PALSU. Ini juga jelas karena atsar yang pa lukman usung perowinya saja tdk disebutkan.

3. dengan mengambil atsar itu pa lukman bermaksud mengingkari Istiwaanya Alloh swt di atas ‘Arsy, apa pa lukman tidak takut dikategorikan kafir oleh empat Imam Mashab. teliti dengan benar pernyataan para Imam Mashab tentang orang orang yang menginkari Istiwaanya Alloh swt di atas ‘Arsy.

Pa lukman mengatakan bahwa I’tiqod bapak berbeda dengan I’tiqod WIHDATUL WUJUD dan KAUM MU’TAZILAH sedangkan saya mengatakan SAMA

JAWABAN SAYA:

bukankah sudah saya jelaskan bahwa SAMA dalam arti SAMA SAMA mengingkari sifat Alloh swt di Alkitab dan Assunnah, yang mana Alloh swt mensifati diriNya sendiri dan sebagaimana Rosulloh saw mensifati Alloh swt.

Coba anda perhatikan i’tiqodnya IMAM MASHAB ini yang bertentangan dengan I’tiqodnya pa lukman.

1. IMAM SYAFII

A. Imam Ibn Abdil Bar meriwayatkan dari Yunus bin Abdul A’la, katanya: “Apabila kamu mendengar ada orang berkata bahwa nama itu berlaianan dngan apa yang diberi nama, sesuatu itu, maka saksikanlah bahwa orang itu adalah KAFIR ZINDIQ.”

B. Dalam kitabnya Ar Risalah, Imam Syafi’i berkata: “Segala puji bagi Allah yang memiliki sifat-sifat sebagaimana Dia mensifati diri-Nya, dan di atas yang disifati oleh makhluk-Nya.”

C. Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam an-Nubala’ menuturkan dari Imam Syafi’i, kata beliau: “Kita menerapkan sifat-sifat Allah ini sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita meniadakan tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk_nya), sebagaimana Allah juga meniadakan tasybih itu dalam firman-Nya:“Artinya : ” Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia ” [Asy-Syura : 11] [Siyar A’lam An-Nubala XX/341]

D. Dalam kitab Juz al-I’tiqod yang disebut-sbut sebagai karya Imam Syafi’i dari riwayat Abu Thalib al-‘Isyari, ada sebuah keterangan sebagai berikut:

“Imam Syafi’i pernah ditanya tentang sifat-sifat Allah, dan hal-hal yang perlu diimani, jawab beliau, ” Allah taaraka wa ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang siapapun dari umatnya tidak boleh menyimpang dari ketentuan seperti itu setelah memperoleh keterangan (hujjah). Apabila ia menyimpang dari ketentuan setelah ia memperoleh hujjah tersebut, maka K A F I R L A H dia. Namun apabila dia menyimpang dariketentuan sebelum ia memperoleh hujjah, maka hal itu tidak apa-apa baginya. Ia dimaafkan karena ketidaktahuannya itu. Sebab untuk mengetahui sifat-sifat Allah itu tidak mungkin oleh akal dan fikiran, tetapi hanya berdasarkan keterangan-keterangan dari Allah. Bahwa Allah itumendengar,

Allh mempunyai dua tangan:
“Artinya ; Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka.” [Al-Maidah : 64]
Dan Allah itu mempunyai tangan kanan :
“Artinya ; Dan langit itu dilipat tangan kanan Allah.” [Az-Zumar : 67]

((saya, Ahmad Wildan : APAKAH IMAM SAFII MENJISIMKAN DAN MENYERUPAKAN ALLOH DENGAN MAKHLUKNYA?????????? Imam Safii mengimani sifat Alloh tentang tangan kanan Alloh, bukan berarti Imam safii menjisimkan dan menyerupakan Alloh swt dengan MakhlukNya karena membicarakan sifat Alloh bagian dari membicarakan dzat Alloh. karena dzat Alloh swt berbeda dengan dzat makhlukNya jelas sifatnya mempunyai hakekat yang berbeda dengan makhlukNya sebagaimana firmanNya ” Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia “.” [Asy-Syura : 11] ) semoga pa lukman paham!!!!!!!))

2. IMAM MALIK

1. Imam adh-Daruquthni meriwayatkan dari al-Wahid bin Muslim, katanya: Saya bertanya kepada Malik, ats-Tsauri, al-Auzaâi dan al-Laits bin Saad tentang hadits-hadits mengenai sifat-sifat Allah. Mereka menjawab: JALANKANLAH- (baca dan pahami) SEPERTI APA ADANYA!!!. [Ada dua orang yang bernama Ibn Nafi', dua-duanya meriwayatkan dari Imam Malik. Yang Pertama bernama Abdullah bin Nafi' bin Tsabit Az-Zubairi (wafat 216H). Yang kedua adalah Abdullah bin Nafi' bin Abu Nafi' Al-Makhzumi (wafat 206), Tahdzib At-Tahdzib VI/50-51]

2. Imam Malik berkata “Istiwaa itu bukanlah sesuatu yang tidak dikenal (yakni telah kita ketahui artinya), tetapi bagaimana caranya (Allah istiwaa) tidaklah dapat dimengerti, sedang iman dengannya (bahwa Allah istiwaa) wajib, tetapi bertanya tentangnya (bagaimana caranya) adalah bid’ah”.
(baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 45-46)

((saya, ahmad wildan: APAKAH IMAM MALIK MENJISIMKAN DAN MENYERUPAKAN DZAT ALLOH SWT DGN MAKHLUKNYA?????????? maksud imam malik cara mengimani sifat Alloh swt adalah menerima seperti apa adanya sifat Alloh swt yg disifati rosulloh saw tanpa menyerupakan dgn makhluknya, karena dzat Alloh swt berbeda dgn makhlukNya HAKEKAT DARI SIFATNYA pasti berbeda))

3. IMAM ABU HANIFAH

A. Imam Abu Hanifah berkata: “Allah tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk. Murka dan ridha Allah adalah dua dari sifat-sifat Allah yang tidak dapat diketahui keadaannya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Allah murka dan ridha. Namun tidak dapat dikatakan, bahwa murka Allah itu adalah siksa-Nya dan ridha-Nya itu pahala-Nya.

Kita menyifati Allah sebagaimana Allah menyifati diri-Nya sendiri. Allah adalah Esa, Dzat yang pada-Nya para hamba memohon, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada satupun yang menyamai-nya. Allah juga hidup, berkuasa, melihat dan mengetahui.”Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka yang menyatakan janji setia kepada Rasul. Tangan Allah tidak seperti tangan makluk-Nya. Wajah Allah tidak seperti wajah-wajah makhluk-Nya. .[ Al-Fiqh Al-Absath, hal.56]

B. Imam Abu Hanifah berkata: “Allah juga memiliki tangan, wajah dan diri seperti disebutkan sendiri oleh Allah dalam al-Qur’an. Maka apa yang disebutkan oleh Allah tentang wajah, tangan dan diri menunjukkan bahwa Allah mempunyai sifat yang tidak boleh direka-reka bentuknya. Dan juga tidak boleh disebutkan bahwa tangan Allah itu artinya kekuasaan-Nya atau nikmat-Nya, karena hal itu berarti meniadakan sifat-sifat Allah, sebagaimana pendapat yang dipegang oleh ahli qadar dan golongan Mu’tazilah. [Al-Fiqh Al-Akbar, hal.302]

C. Imam Abu Hanifah juga berkata: “Tidaklah pantas bagi seseorang untuk berbicara tentang Dzat Allah. Tetapi, hendaknya ia menyifati Allah dengan sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah sendiri. Ia tidak boleh berbicara tentang Allah dengan pendapatnya sendiri. Maha Suci Allah Rabbul ‘Alamin. [ Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah II/427, Editor Dr. At-Turki, Jala Al-Ainain, hal.368]

D. Ketika ditanya tentang turunnya Allah, Imam Abu Hanifah menjawab, “Allah itu turun tanpa cara-cara seperti halnya turunya makhluk. [Aqidah As-Salaf Ashhab Al-Hadits hal.42, Dar As-Salafiyah. Al-Baihaqi, Al-Asma' wa As-Sifat, hal. 456, Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 245 Takhrij Al-Albani, Al-Qari, Syarh Al-Fiqh Al-Akbar, hal.60.]

(saya Ahmad Wildan: wah wah wah…jelas beda I’tiqodnya pa lukman dengan Imam Abu Hanifah, yang sesat kira2 siapa ya..????? pa lukman apa Imam Abu Hanifah ya..????? malah Iman A.H mengkafir-kafirkan orang yang tidak ber-I’tiqod seperti itu wah…bahaya ini pa lukman!!!!!!????)

4. IMAM AHMAD BIN HAMBAL

Imam Ahmad bin Hambal pernah di tanya : “Allah di atas tujuh langit diatas ‘Arsy-Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya berada di tiap-tiap tempat.? Jawab Imam Ahmad :
Artinya :
“Benar ! Allah di atas ‘Arsy-Nya dan tidak sesuatupun yang tersembunyi dari pengetahuan-nya”.

((saya, Ahmad Wildan : sedangkan I’tiqodnya pa lukman adalah Alloh swt ada tak berhajad tempat

JAWABAN SAYA :

Adalah benar Alloh swt ada tak berhajat tempat, karena Alloh swt bersemayamNya di ‘Arsy bukan karena berhajad terhadap ‘Arsy, Bahkan sekalian mahlukNya termasuk ‘Arsy berhajad/bergantung kepada Alloh swt seperti dalam FirmanNya. Artinya :
“Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sekalian alam” (Al-Ankabut : 6) Yakni : Allah tidak berkeperluan kepada sekalian mahluk”.
Tetapi karena Alloh swt berhak berkehendak/berbuat sesuatu yang makhlukNya tak boleh mempertanyakan termasuk ketika Alloh swt mensifati diriNya dengan bersemayam di atas ‘Arsy, maka tugas makhlukNya adalah mengimani dengan berserah diri tanpa membayangkan hakekat bersemayamNya ))

Pa lukman coba anda fikirkan ketika Alloh swt di alquran mensifati diriNya dengan BEGINI anda menjawabnya dengan OH..TIDAK BEGITUUUU. Ketika Alloh swt mensifati diriNya ISTAWA anda menjawab ENGKAU BUKAN ISTAWA TAPI ENGKAU ISTAWLA apakah ini bukan suatu KELANCANGAN YANG BESAR. Memangnya anda lebih tahu sifat Alloh swt dari pada Alloh swt sendiri?????????

Manusia yg TIDAK MENGIMANI sifat Alloh swt tdk sebagaimana tersurat/apa adanya (tanpa menjisimkan dam menyerupakan) sama saja menuduh Alloh swt SALAH DALAM BERFIRMAN. sedangkan manusia mengenal Alloh sebatas berita yang dikabarkan oleh Alloh swt dan RosulNya tentang diriNya. Tetapi anda dan orang2 yg sepaham dengan anda melewati batas itu, seakan akan lebih tahu dari Alloh dan rosulNya. Sehingga anda seenaknya mengutak atik sifat Alloh swt yg telah di kabarkan di alquran dan hadits shohih. Apa ini tidak bahaya???-

Pa lukman bacalah dengan seksama keyakinan para imam mashab itu yang jelas2 berbeda dengan anda, APAKAH ANDA JUGA INGIN MENGATAKAN PARA IMAM MASHAB SESAT DAN YANG BENAR I’TIQOD BAPAK???, UTAU BAPAK INGIN MENGATAKAN PARA IMAM MASHAB ADALAH WAHABI?????????

Semua imam mashab mengatakan bahwa Alloh swt ISTAWA sedangkan anda dan kyai2 anda mengatakan ISTAWLA. Orang awam pun tahu mengikuti para imam mashab adalah lebih selamat.
Adalah FENOMENA YG ANEH TETAPI UMUM ketika seseorang mengaku bermashab IMAM SAFII tetapi mereka hanya mengambil fiqihnya saja dari Imam Safii sedangkan I’tiqod Imam Safii diselisihi karena dianggap sesat .

TENTANG ‘ARSY

1. ‘Arsy adalah mahluk Allah yang paling tinggi berada di atas tujuh langit dan sangat besar sekali sebagaimana diterangkan Ibnu Abbas :
Artinya :
“Dan ‘Arsy tidak seorangpun dapat mengukur berapa besarnya”.
Berkata Imam Dzahabi di kitabnya “Al-Uluw” (hal : 102) : rawi-rawinya tsiqaat (terpercaya).
Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan : Sanadnya shahih semua riwayatnya tsiqaat. (dikeluarkan oleh Imam ibnu Khuzaimah di kitabnya “At-Tauhid”).

2. Bahwa Allah ‘Azza wa Jalla -istiwaa-Nya di atas ‘Arsy- bukan karena berhajad/tergantung kepada ‘Arsy. Bahkan sekalian mahluk TERMASUK ‘ARSY BERGANTUNG KEPADA ALLOH ‘AZZA WA JALLA
Firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :”Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sekalian alam” (Al-Ankabut : 6) Yakni : Allah tidak berkeperluan kepada sekalian mahluk”. WALLOHU’ALAM

Kepada pa lukman saya mohon maaf sekiranya ada tulisan saya yang tidak mengenakkan hati pa lukman, semoga Alloh swt menunjuki kita semua jalan yang lurus, seperti jalannya para nabi dan jalannya orang2 yang diridloiNya.

Pa lukman mengutip kitab Al Farqu baynal Firoq mengatakan bahwa Imam Ali rodhiyallohu ‘anhu mengatakan : “Sesungguhny Alloh SWT menciptakan ‘Arsy sebagai manifestasi dari kekuasaanNYA bukan sebagai tempat bagi DzatNYA.
2. Atsar ini mungkar karena banyak hadits shihih yg menyelisihi, seperti hadits2 yg saya sebutkan pada tulisanku yg dulu. karena ketika dua hadits kontradiktif maka pasti salah satu adalah PALSU. Ini juga jelas karena atsar yang pa lukman usung perowinya saja tdk disebutkan.

He he he… Typical Wahhaby
————————
Mengenai bahasan mas Wildan yang panjang lebar dengan dalil yang dinukil dari sana sini, saya maklum. Itu Wahhabi sebenarnya. Dan Wahhabi bukanlah Ahlus Sunnah.

Berikut petikan video dalam bahasa Inggris, semoga bisa dipahami.


Imam Ibnu Hajar al Haytami mengatakan dalam kitabnya Minhaj al Qowim :Ijma’ ulama Salaf dan Khalaf mengatakan kafir kepada mereka yang menyatakan bahwa Allah ada pada suatu arah atau berada di satu tempat. Nah lo?
Jadi dalil yang panjang lebar khas Wahhaby itu tertolak dan bathil!

Wahhabiyyun laytsa min Ahlis Sunnah

……………………………kenapa kok diproteksi???????????………………

Pa lukman, bapak teryata tdk mau membaca tulisanku secara tuntas sehingga bapak tergesa gesa mengambil kesimpulan. Entah mengapa, mungkin bapak takut mengetahui kebenaran atau karena kesombongan sehingga bpk menolak kebenaran.

Pa lukman saya tidak malu mengakui bahwa saya memang kurang mampu memahami percakapan dalam bahasa arab, kemahiran soal itu bukan jaminan kelurusan I’tiqod seseorang.
Tanpa mendengarpun saya tahu bahwa I’tiqodnya manusia yg ada dalam file itu yang pa lukman ikuti berbeda dengan I’tiqodnya 4 imam mashab

Pa lukman mengatakan bahwa I’tiqodnya ahlus sunnah manhaj salaf* adalah adalah MUJASSIMAH WA MUSYABBIHAH.
[* pa lukman menjuluki manhaj salaf=WAHABI hanya untuk menjelekkan]

JAWABAN SAYA:

Adalah suatu KEBOHONGAN kalo di katakan I’tiqotnya MANHAJ SALAF adalah MUJASSIMAH WA MUSYABBIHAH. I’tiqodnya ahlus sunnah manhaj salaf bersumber dari Alkitab dan Assunnah yg shohih yang mengikuti pemahaman PARA SAHABAT dan ini sesuai dengan I’tiqodnya EMPAT IMAM MASHAB yaitu: MENGIMANI SIFAT ALLOH SWT SEBAGAIMANA ALLOH SWT MENSIFATI DIRINYA SENDIRI DAN SEBAGAIMANA ROSULLOH MENSIFATI ALLOH SWT TANPA MENYERUPAKAN DENGAN MAKHLUKNYA TIDAK MENANYAKAN BENTUK/HAKEKAT SIFAT TSB dan TIDAK MENTAKWILKAN DENGAN SESUATU DILUAR SIFAT TSB. I’tiqod seperti ini adalah gamblang dan tidak membingunkan. Membicarakan sifat Alloh adalah cabang dari membicarakan dzat Alloh. karena dzat Alloh swt yang Maha Sempurna berbeda dengan dzat makhlukNya yang penuh keterbatasan, jelas sifatNya mempunyai hakekat yang berbeda dengan makhlukNya sebagaimana firmanNya ” Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia ” [Asy-Syura : 11] )

Sedangkan MUJASSIMAH WA MUSYABBIHAH adalah I’tiqod bathil yg dituduhkan oleh AHLUL BID’AH kepada ahlus sunnah manhaj salaf* supaya manusia menjahuinya.
[* Ahlul bid’ah menjuluki Manhaj salaf=WAHABI]

Pa lukman mengutip kitab Al Farqu baynal Firoq mengatakan bahwa Imam Ali rodhiyallohu ‘anhu mengatakan : “Sesungguhny Alloh SWT menciptakan ‘Arsy sebagai manifestasi dari kekuasaanNYA bukan sebagai tempat bagi DzatNYA.

JAWABAN SAYA:

1. Sudah di ketahui di Alkitab maupun Assunnah yang shohih dan semua Imam Mashab juga mengimani bahwa Alloh swt bersemayam/Istiwaa di ‘arsy. Istiwaa-Nya di atas ‘Arsy- tidak karena berhajad/tergantung kepada ‘Arsy. Bahkan sekalian mahluk TERMASUK ‘ARSY BERGANTUNG/BERHAJAD kepada Alloh swt. Firman Allah swt. Artinya :
“Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sekalian alam” (Al-Ankabut : 6) Yakni : Allah tidak berkeperluan kepada sekalian mahluk”.

2. Atsar ini mungkar karena banyak hadits shihih yg menyelisihi, seperti hadits2 yg saya sebutkan pada tulisanku yg dulu. karena ketika dua hadits kontradiktif maka pasti salah satu adalah PALSU. Ini juga jelas karena atsar yang pa lukman usung perowinya saja tdk disebutkan.

3. dengan mengambil atsar itu pa lukman bermaksud mengingkari Istiwaanya Alloh swt di atas ‘Arsy, apa pa lukman tidak takut dikategorikan kafir oleh empat Imam Mashab. teliti dengan benar pernyataan para Imam Mashab tentang orang orang yang menginkari Istiwaanya Alloh swt di atas ‘Arsy.

Pa lukman mengatakan bahwa I’tiqod bapak berbeda dengan I’tiqod WIHDATUL WUJUD dan KAUM MU’TAZILAH sedangkan saya mengatakan SAMA

JAWABAN SAYA:

bukankah sudah saya jelaskan bahwa SAMA dalam arti SAMA SAMA mengingkari sifat Alloh swt di Alkitab dan Assunnah, yang mana Alloh swt mensifati diriNya sendiri dan sebagaimana Rosulloh saw mensifati Alloh swt.

Coba anda perhatikan i’tiqodnya IMAM MASHAB ini yang bertentangan dengan I’tiqodnya pa lukman.

1. IMAM SYAFII

A. Imam Ibn Abdil Bar meriwayatkan dari Yunus bin Abdul A’la, katanya: “Apabila kamu mendengar ada orang berkata bahwa nama itu berlaianan dngan apa yang diberi nama, sesuatu itu, maka saksikanlah bahwa orang itu adalah KAFIR ZINDIQ.”

B. Dalam kitabnya Ar Risalah, Imam Syafi’i berkata: “Segala puji bagi Allah yang memiliki sifat-sifat sebagaimana Dia mensifati diri-Nya, dan di atas yang disifati oleh makhluk-Nya.”

C. Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam an-Nubala’ menuturkan dari Imam Syafi’i, kata beliau: “Kita menerapkan sifat-sifat Allah ini sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita meniadakan tasybih (menyamakan Allah dengan makhluk_nya), sebagaimana Allah juga meniadakan tasybih itu dalam firman-Nya:“Artinya : ” Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia ” [Asy-Syura : 11] [Siyar A’lam An-Nubala XX/341]

D. Dalam kitab Juz al-I’tiqod yang disebut-sbut sebagai karya Imam Syafi’i dari riwayat Abu Thalib al-‘Isyari, ada sebuah keterangan sebagai berikut:

“Imam Syafi’i pernah ditanya tentang sifat-sifat Allah, dan hal-hal yang perlu diimani, jawab beliau, ” Allah taaraka wa ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang siapapun dari umatnya tidak boleh menyimpang dari ketentuan seperti itu setelah memperoleh keterangan (hujjah). Apabila ia menyimpang dari ketentuan setelah ia memperoleh hujjah tersebut, maka K A F I R L A H dia. Namun apabila dia menyimpang dariketentuan sebelum ia memperoleh hujjah, maka hal itu tidak apa-apa baginya. Ia dimaafkan karena ketidaktahuannya itu. Sebab untuk mengetahui sifat-sifat Allah itu tidak mungkin oleh akal dan fikiran, tetapi hanya berdasarkan keterangan-keterangan dari Allah. Bahwa Allah itumendengar,

Allh mempunyai dua tangan:
“Artinya ; Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka.” [Al-Maidah : 64]
Dan Allah itu mempunyai tangan kanan :
“Artinya ; Dan langit itu dilipat tangan kanan Allah.” [Az-Zumar : 67]

((saya, Ahmad Wildan : APAKAH IMAM SAFII MENJISIMKAN DAN MENYERUPAKAN ALLOH DENGAN MAKHLUKNYA?????????? Imam Safii mengimani sifat Alloh tentang tangan kanan Alloh, bukan berarti Imam safii menjisimkan dan menyerupakan Alloh swt dengan MakhlukNya karena membicarakan sifat Alloh bagian dari membicarakan dzat Alloh. karena dzat Alloh swt berbeda dengan dzat makhlukNya jelas sifatnya mempunyai hakekat yang berbeda dengan makhlukNya sebagaimana firmanNya ” Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia “.” [Asy-Syura : 11] ) semoga pa lukman paham!!!!!!!))

2. IMAM MALIK

1. Imam adh-Daruquthni meriwayatkan dari al-Wahid bin Muslim, katanya: Saya bertanya kepada Malik, ats-Tsauri, al-Auzaâi dan al-Laits bin Saad tentang hadits-hadits mengenai sifat-sifat Allah. Mereka menjawab: JALANKANLAH- (baca dan pahami) SEPERTI APA ADANYA!!!. [Ada dua orang yang bernama Ibn Nafi', dua-duanya meriwayatkan dari Imam Malik. Yang Pertama bernama Abdullah bin Nafi' bin Tsabit Az-Zubairi (wafat 216H). Yang kedua adalah Abdullah bin Nafi' bin Abu Nafi' Al-Makhzumi (wafat 206), Tahdzib At-Tahdzib VI/50-51]

2. Imam Malik berkata “Istiwaa itu bukanlah sesuatu yang tidak dikenal (yakni telah kita ketahui artinya), tetapi bagaimana caranya (Allah istiwaa) tidaklah dapat dimengerti, sedang iman dengannya (bahwa Allah istiwaa) wajib, tetapi bertanya tentangnya (bagaimana caranya) adalah bid’ah”.
(baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 45-46)

((saya, ahmad wildan: APAKAH IMAM MALIK MENJISIMKAN DAN MENYERUPAKAN DZAT ALLOH SWT DGN MAKHLUKNYA?????????? maksud imam malik cara mengimani sifat Alloh swt adalah menerima seperti apa adanya sifat Alloh swt yg disifati rosulloh saw tanpa menyerupakan dgn makhluknya, karena dzat Alloh swt berbeda dgn makhlukNya HAKEKAT DARI SIFATNYA pasti berbeda))

3. IMAM ABU HANIFAH

A. Imam Abu Hanifah berkata: “Allah tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk. Murka dan ridha Allah adalah dua dari sifat-sifat Allah yang tidak dapat diketahui keadaannya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Allah murka dan ridha. Namun tidak dapat dikatakan, bahwa murka Allah itu adalah siksa-Nya dan ridha-Nya itu pahala-Nya.

Kita menyifati Allah sebagaimana Allah menyifati diri-Nya sendiri. Allah adalah Esa, Dzat yang pada-Nya para hamba memohon, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada satupun yang menyamai-nya. Allah juga hidup, berkuasa, melihat dan mengetahui.”Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka yang menyatakan janji setia kepada Rasul. Tangan Allah tidak seperti tangan makluk-Nya. Wajah Allah tidak seperti wajah-wajah makhluk-Nya. .[ Al-Fiqh Al-Absath, hal.56]

B. Imam Abu Hanifah berkata: “Allah juga memiliki tangan, wajah dan diri seperti disebutkan sendiri oleh Allah dalam al-Qur’an. Maka apa yang disebutkan oleh Allah tentang wajah, tangan dan diri menunjukkan bahwa Allah mempunyai sifat yang tidak boleh direka-reka bentuknya. Dan juga tidak boleh disebutkan bahwa tangan Allah itu artinya kekuasaan-Nya atau nikmat-Nya, karena hal itu berarti meniadakan sifat-sifat Allah, sebagaimana pendapat yang dipegang oleh ahli qadar dan golongan Mu’tazilah. [Al-Fiqh Al-Akbar, hal.302]

C. Imam Abu Hanifah juga berkata: “Tidaklah pantas bagi seseorang untuk berbicara tentang Dzat Allah. Tetapi, hendaknya ia menyifati Allah dengan sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah sendiri. Ia tidak boleh berbicara tentang Allah dengan pendapatnya sendiri. Maha Suci Allah Rabbul ‘Alamin. [ Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah II/427, Editor Dr. At-Turki, Jala Al-Ainain, hal.368]

D. Ketika ditanya tentang turunnya Allah, Imam Abu Hanifah menjawab, “Allah itu turun tanpa cara-cara seperti halnya turunya makhluk. [Aqidah As-Salaf Ashhab Al-Hadits hal.42, Dar As-Salafiyah. Al-Baihaqi, Al-Asma' wa As-Sifat, hal. 456, Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 245 Takhrij Al-Albani, Al-Qari, Syarh Al-Fiqh Al-Akbar, hal.60.]

(saya Ahmad Wildan: wah wah wah…jelas beda I’tiqodnya pa lukman dengan Imam Abu Hanifah, yang sesat kira2 siapa ya..????? pa lukman apa Imam Abu Hanifah ya..????? malah Iman A.H mengkafir-kafirkan orang yang tidak ber-I’tiqod seperti itu wah…bahaya ini pa lukman!!!!!!????)

4. IMAM AHMAD BIN HAMBAL

Imam Ahmad bin Hambal pernah di tanya : “Allah di atas tujuh langit diatas ‘Arsy-Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya berada di tiap-tiap tempat.? Jawab Imam Ahmad :
Artinya :
“Benar ! Allah di atas ‘Arsy-Nya dan tidak sesuatupun yang tersembunyi dari pengetahuan-nya”.

((saya, Ahmad Wildan : sedangkan I’tiqodnya pa lukman adalah Alloh swt ada tak berhajad tempat

JAWABAN SAYA :

Adalah benar Alloh swt ada tak berhajat tempat, karena Alloh swt bersemayamNya di ‘Arsy bukan karena berhajad terhadap ‘Arsy, Bahkan sekalian mahlukNya termasuk ‘Arsy berhajad/bergantung kepada Alloh swt seperti dalam FirmanNya. Artinya :
“Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sekalian alam” (Al-Ankabut : 6) Yakni : Allah tidak berkeperluan kepada sekalian mahluk”.
Tetapi karena Alloh swt berhak berkehendak/berbuat sesuatu yang makhlukNya tak boleh mempertanyakan termasuk ketika Alloh swt mensifati diriNya dengan bersemayam di atas ‘Arsy, maka tugas makhlukNya adalah mengimani dengan berserah diri tanpa membayangkan hakekat bersemayamNya ))

Pa lukman coba anda fikirkan ketika Alloh swt di alquran mensifati diriNya dengan BEGINI anda menjawabnya dengan OH..TIDAK BEGITUUUU. Ketika Alloh swt mensifati diriNya ISTAWA anda menjawab ENGKAU BUKAN ISTAWA TAPI ENGKAU ISTAWLA apakah ini bukan suatu KELANCANGAN YANG BESAR. Memangnya anda lebih tahu sifat Alloh swt dari pada Alloh swt sendiri?????????

Manusia yg TIDAK MENGIMANI sifat Alloh swt tdk sebagaimana tersurat/apa adanya (tanpa menjisimkan dam menyerupakan) sama saja menuduh Alloh swt SALAH DALAM BERFIRMAN. sedangkan manusia mengenal Alloh sebatas berita yang dikabarkan oleh Alloh swt dan RosulNya tentang diriNya. Tetapi anda dan orang2 yg sepaham dengan anda melewati batas itu, seakan akan lebih tahu dari Alloh dan rosulNya. Sehingga anda seenaknya mengutak atik sifat Alloh swt yg telah di kabarkan di alquran dan hadits shohih. Apa ini tidak bahaya???-

Pa lukman bacalah dengan seksama keyakinan para imam mashab itu yang jelas2 berbeda dengan anda, APAKAH ANDA JUGA INGIN MENGATAKAN PARA IMAM MASHAB SESAT DAN YANG BENAR I’TIQOD BAPAK???, UTAU BAPAK INGIN MENGATAKAN PARA IMAM MASHAB ADALAH WAHABI?????????

Semua imam mashab mengatakan bahwa Alloh swt ISTAWA sedangkan anda dan kyai2 anda mengatakan ISTAWLA. Orang awam pun tahu mengikuti para imam mashab adalah lebih selamat.
Adalah FENOMENA YG ANEH TETAPI UMUM ketika seseorang mengaku bermashab IMAM SAFII tetapi mereka hanya mengambil fiqihnya saja dari Imam Safii sedangkan I’tiqod Imam Safii diselisihi karena dianggap sesat .

TENTANG ‘ARSY

1. ‘Arsy adalah mahluk Allah yang paling tinggi berada di atas tujuh langit dan sangat besar sekali sebagaimana diterangkan Ibnu Abbas :
Artinya :
“Dan ‘Arsy tidak seorangpun dapat mengukur berapa besarnya”.
Berkata Imam Dzahabi di kitabnya “Al-Uluw” (hal : 102) : rawi-rawinya tsiqaat (terpercaya).
Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan : Sanadnya shahih semua riwayatnya tsiqaat. (dikeluarkan oleh Imam ibnu Khuzaimah di kitabnya “At-Tauhid”).

2. Bahwa Allah ‘Azza wa Jalla -istiwaa-Nya di atas ‘Arsy- bukan karena berhajad/tergantung kepada ‘Arsy. Bahkan sekalian mahluk TERMASUK ‘ARSY BERGANTUNG KEPADA ALLOH ‘AZZA WA JALLA
Firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :”Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sekalian alam” (Al-Ankabut : 6) Yakni : Allah tidak berkeperluan kepada sekalian mahluk”. WALLOHU’ALAM

Kepada pa lukman saya mohon maaf sekiranya ada tulisan saya yang tidak mengenakkan hati pa lukman, semoga Alloh swt menunjuki kita semua jalan yang lurus, seperti jalannya para nabi dan jalannya orang2 yang diridloiNya.

Anda dan kelompok sesat Wahhabi Anda memang benar2 dibutakan sebagaiaman syaikh2 Anda dibutakan Alloh di dunia dan akhirat.

Anda mengatakan bahwa Anda tidak menafsirkan atau menta’wil ayat2 mutasyabihat. Namun Anda menggiring orang untuk menerima pemahaman Anda dengan mengambil kata Istiwa dengan arti yang Anda dan kelompok Wahhabi sesat la’natullohi ‘alaihim tetapkan. ISTIWA = Bersemayam.

1. Imam Abu Hanifah ra. mengatakan bahwa kata Istiwa sudah dipahami. Bahkan Imam Abu Hanifah menolak mereka yang berpahaman Tajsim dan Tasybih sebagaimana tertuang dalam kitab beliau Fiqh al Akbar:

Berkata Imam Abu Hanifah: “Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’ala ber-istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak metetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti juga makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptakan Arasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”

Amat jelas di atas bahwa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.

Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.

2. Imam Syafi’ie
انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير

Artinya: Sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari azali) sementara tempat belum diciptakan, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu sebagaimana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 halaman 23

3-Imam Ahmad bin Hanbal :

-استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر

Artinya: Dia (Allah) istawa sebagaimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di pikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifae dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.

وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه

Artinya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahwa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan atas namanya(Imam Ahmad) – Kitab Fatawa Hadisiah karya Ibn Hajar al- Haitami

4- Imam Malik :

الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة

Artinya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif (bentuk) tidak diterima aqal, dan iman dengannya wajib, dan bertanya tentangnya bid’ah.

lihat disini : imam malik hanya menulis kata istiwa (لاستواء) bukan memberikan makna dhahir jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)…..

Wahhabi berdusta atas nama ulama Ahlus Sunnah dan mengklaim dengan nama harum generasi salaf. Mereka menggunting dalam lipatan!

Terima kasih mas Anti Wahhabi (AW)atas pencerahannya. Semoga mas Wildan tidak dibutakan mata hatinya dari kebenaran yg sebenarnya, meskipun banyak pihak berusaha mengaburkan yang haq dan menggantinya dengan kebatilan.

Menambahkan penjelasan mas AW berikut saya sampaikan mengenai Istiwa.

Ibnu katsir membungkam wahhaby (2) : Tafsir ayat “istiwa”

Bagaimana cara ulama ahlis sunnah wal jamaah dalam memahami masalah asma wa sifat atau yang sering di sebut dngan ayat-ayat dan hadits-hadits sifat? Ayat-ayat sifat disini adalah ayat Alquran atau Hadits Nabi yang menyebutkan tentang aggota tubuh seperti mata, tangan, naik, turun yang disandarkan kepada Allah dll, yang jika salah dalam memahamimya seseorang bisa masuk dalam kesesatan aqidah mujassimah (yang megatakan bahwa Allah SWT mempunyai aggota badan yang menyerupai dengan hambaNya). Atau akan terjerumus dalam ta’thil (yang menolak sifat-sifat Allah SWT). Begitu penting dan bahaya permasalahan ini maka ulama benar-benar telah membahasnya dengan detail dan rinci agar ummat ini tidak salah dalam memahami ayat –ayat dan hadits-hadits sifat.

Ada dua cara yang diambil oleh ulama ahlis sunnah wal jamaah dalam memahami ayat-ayat sifat ini :
Pertama adalah Tafwidh, maksudnuya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT karena khawatir jika di fahami sesuai dhohir lafadznya akan merusak aqidah. Misanya disaat Allah menyebut tangan yang dinisbatkan kepada Allah, maka maknanya tidak dibahas akan tetapi dilalui dan diserahkan kepada Allah SWT. Ibnu Katsir adalah salah satu ulama yang menggunkan methode ini.
Kedua adalah dengan cara Takwil ayat tersebut dengan makna yang ada melalui dalil lain. Seperti tangan Allah diartikan dengan kekuasaan Allah yang memang makna kekuasaan itu sendiri ditetapkan dengan dalil yang pasti dari Alquran dan hadits.
Perhatian
1. Dua cara ini yakni At Tafwid dan At Takwil adalah cara yang di ambil oleh ulama salaf dan kholaf, sungguh tidak benar jika tafwid adalah metode yang diambil oleh ulama salaf dan ta’wil adalah yang di ambil oleh ulama kholaf saja.
2. Ada sekelompok orang di akhir zaman ini (Wahhabi) menfitnah para ulama terdahulu (salaf) dan menyebut mereka sebagai ahli bidah dan sesat karena telah mentakwili ayat-ayat sifat ini. Kelompok yang membid’ahkan ulama terdahulu karena takwil, sungguh mereka adalah orang –orang yang tidak mengerti bagaimana mentakwil dan mereka juga tidak kenal dengan benar dengan ulama terdahulu karena banyak riwayat ta’wil yang datang dari para salaf..
3. Ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli tafwid akan tetapi telah terjerumus dalam kesesatan takwil yang tidak mereka sadari. Misalnya disaat mereka mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘Arsy, mereka mengatakan tidak boleh ayat tentang keberadaan Allah di ‘Arsy ini di ta’wili. Akan tetapi dengan tidak disadari mereka menjelaskan keberadan Allah di ‘Arsy dengan penjelasan bahwa ‘Arsy adalah makhluq terbesar (seperti bola dan semua makhluk yang lain berada di dalamnya.Kemudian mereka mengatakkan Allah swt berada di atas ‘Arsy yang besar itu di tempat yang namanya makan ‘adami (tempat yang tidak ada). Lihat dari mana mereka mengatakan ini semua. Itu adalah takwil fasid dan ba’id (takwil salah mereka yang jauh dari kebenaran)

Adapun ulama ahli kebenaran, ayat tentang Allah dan ‘Arsy, para ahli Tafwid menyerahkan pemahaman maknanya kepada Allah swt, adapun ahli ta’wil mengatakan Alah menguasai ‘Arsy dan tidaklah salah karena memang Allah dzat yang maha kuasa terhadap makhluk terbesar ‘Arsy, sebab memang Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu. Wallohu a’lam bish showab

A. Tafsir Ayat Mutasyabihat ISTIWA

Tafsir Makna istiwa Menurut Kitab Tafsir Mu’tabar
lihat dalam tafsir berikut :

1. Tafsir Ibnu Katsir menolak makna dhahir (lihat surat al -a’raf ayat 54, jilid 2 halaman 295)

Tarjamahannya (lihat bagian yang di line merah) :

{kemudian beristawa kepada arsy} maka manusia pada bagian ini banyak sekali perbedaan pendapat, tidak ada yang memerincikan makna (membuka/menjelaskannya -lafadz istiwa) dan sesungguhnya kami menempuh dalam bagian ini seperti apa yang dilakukan salafushalih, Imam Malik, Imam Auza’i dan Imam Ats Tsauri, Al Laits bin Sa’ad dan Syafi’I dan Ahmad dan Ishaq bin Rawahaih dan selainnya dan ulama-ulama Islam masa lalu dan masa sekarang. Dan lafadz (istawa) tidak ada yang memerincikan maknanya seperti yang datang tanpa Takyif (memerincikan bagaimananya) dan tanpa Tasybih (penyerupaan dgn makhluq) dan tanpa Ta’thil(menafikan) dan (memaknai lafadz istiwa dengan) makna dhahir yang difahami (menjerumuskan) kepada pemahaman golongan musyabbih yang menafikan dari (sifat Allah) yaitu Allah tidak serupa dengan makhluqNya…”

Wahai Mujasimmah Wahhaby!!

Lihatlah Ibnu Katsir melarang memaknai ayat mutasyabihat dengan makna dhohir karena itu adalah pemahaman Mujasimmah Musyabihah!

Bertaubatlah dari memaknai semua ayat mutasyabihat dengan makna dhahir!!

Kemudian Ibnu Katsir melanjutkan lagi :

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [al-Syura: 11]. Bahkan perkaranya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh para imam, diantaranya Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru Imam al-Bukhari, ia berkata: “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia telah kafir, dan siapa yang mengingkari apa yang Allah mensifati diri-Nya, maka ia kafir, dan bukanlah termasuk tasybih (penyerupaan) orang yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat muhkamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.”

Inilah selengkapnya dari penjelasan Ibnu Katsir. Berdasarkan penjelasan ibnu katsir :

– Ayat mutasyabihat harus di tafsir dengan ayat syarif (ayat muhkamat) atau ayat yang jelas maknanya/Bukan ayat mutasyabihat!! Tidak seperti wahhaby yang menggunakan ayat mutasyabihat utk mentafsir ayat mutasyabihat yang lain!!!! Ini adalah kesesatan yang nyata!

– Ibnu Katsir mengakui ayat ‘istiwa’ adalah ayat mutasyabihat yang tidak boleh memegang makna dhahir dari ayat mutasyabihat tapi mengartikannya dengan ayat dan hadis yang – jadi ibnu katsir tidak memperincikan maknanya tapi juga tidak mengambil makna dhahir ayat tersebut.

– disitu imam ibnu katsir, imam Bukhari dan imam ahlsunnah lainnya tidak melarang ta’wil.

“…dan selain mereka dari para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya)tanpa takyif (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan)….”

sedangkan wahaby melarang melakukan takwil!

maaf kepada rekan-rekan, saya panganut islam bermadhab imam syafi’i tapi boleh dibilang saya kuramg taat menjalankan ibadah kepada allah tapi kalau ada yang berpendapat kalau melaksanakan ibadah hanya menggunakan al-qurqn dan hadist saja saya kurang setuju kalau menggunakn al-quran dan hadist saja bagaimana menjabarkan tenang wudu, shalat, nifas/head (untuk perempuan) dll.semua itu di quran tidak detail mau nggak mau kita harus menggunakan fatwa ulama tapi ini mah pendapat saya yang kurang memahami islam secara utuh

Aneh kali pemikiran puak Wahhabi Najdi ini. Mereka menolak ta’wil, namun memaksakan kata ISTIWA kepada pemahaman sesuai hawa nafsu mereka sendiri, iaitu : bersemayam atawa duduk. Mereka menolak ta’wil namun memaksakan ta’wil mereka. Semua orang Arab tahu bahwa kata ISTIWA memiliki banyak arti. Kenapa pula Neo Khawarij ini mempropagandakan ISTIWA =BERSEMAYAM/DUDUK. Padahal jelas Alloh laytsa kamitslihi syai’un.

Bagaimana Alloh duduk di atas Arsy, namun duduknya tidak sama dengan makhluk?

Mana otak lu?

Apa beda pula Bersemayam dengan Mengeram? Sungguh berat dakwaan Wahhabi tentang Alloh. Kejahilan mereka membuat mereka buta. Alloh telah membutakan mata hati mereka. Mereka merasa Ahlus Sunnah, padahal Ahlus sunnah berlepas diri dari mereka.

Wahhabi bukan dari Ahlus Sunnah, mereka adalah Khawarij masa kini

Bapak2 debat kok berat-berat banget. Begini saya hanya intermezo saja. Pernah saya ngobrol santai dengan orang turki. Dia pernah bertanya, yang kurang lebihaya dapat interpretasikan.
Negara mana yang menjalankan hukum Islam secara konsekuen??
Saya jawab ya negara IIslam. Tapi dia tidak setuju dengan jawaban saya dia jawab dengan kalem Jerman dooong.
Saya balik bertanya dengan heran: Jerman??? nggak salah tuh???
Ia menjawab ya iyalah, mereka hidup berdasarkan aturan islam dalam beberapa hal seperti tepat waktu, bersih, teratur, serba jelas dan pasti. Hanya menjalankan beberapa hal peraturan islam saja, mereka bisa maju, apalagi kalau semuanya ya.?? tapi sayang, kata teman turki itu, di sini hanya syahadatnya yang nggak ada.

Berkaca pada jawaban yang terdengar ngasal itu saya jadi berfikir introsfektif ke negri yang kita cinta ini. kurang lebih 90% penduduknya islam dan banyak yang mengamalkan ajarannya dalam hal ibadah sehari – hari. Tapi kok urgensi dari ibadah itu tidak dibawa dalam kehidupan sehari – hari. Banyak dari kita mengaku islam tapi tidak mau menerapkan ajaran yang mulia ini dalam kehidupan sehari – hari dari mulai yang kecil saja seperti tepat waktu, jujur, bersih dsb. Malah negeri ini termasuk negri yang angka korupsinya tingi, kejahatan dengan berbagai bentuk cara yang ekskalasinya semakin lama semakin meningkat.
Ternyata kita terlalu banyak teori yang ribet2. pelaksanaannya nol besar. Waktu habis dipake debat yang tidak ada habis ujung pangkalnya. Cobalah dimulai untuk terapkan islam pada bagian yang simpel dulu aja dan perbedaan berfikir jangan sampai memaksakan kehendak kepada orang lain.
Belajar dimulai dari yang sederhana dan aktual kenapa tidak???

Schwäbisch Hall, 26. 06.2010

Untuk pak lukman, dari atas sampai bawah disebut-sebut wahabi, sepertinya pak luqman sangat mengetahui seluk beluk wahabi, siapa sich wahabi itu? mohon diberikan rujukan yang menjelaskan tentang paham wahabi, baik pendapat ulama, buku/kitab rujukan yang menjelaskan kesalahan paham wahabi ini, agar ilmiah, dan saya sebenarnya lebih senang blog ini menjadi forum yang ilmiah.

jadi ada dalil-dalil yang diambil dari pendapat para ulama terdahulu, tidak sekedar pendapat diri kita, karena kita ini penuntut ilmu yang sangat terbatas pengetahuan tentang agama.

Antum silakan search atau googling siapa itu wahabi, insya Alloh jelas.

wassalamu ‘ala manit taba’al huda…


Wahhabi laytsa min ahlis sunnah.

Wahabi dengan para wali, duluan mana ya lahirnya? duluan mana belajarnya Abdul Wahab dengan Wali Songo?

Pa lukman yang saya hormati, nampaknya pa lukman terlalu emosional sehingga kurang mampu memahami pemaparan saya. Setelah saya teliti jawaban pa lukman pada umumnya JUSTRU MENDUKUNG APA YANG SAYA PAPARKAN mau bukti???!!!

Sebelum saya menjawab apa yg menjadi kerancuan hujjah pa lukman, saya akan menjelaskan bagaimana i’tiqod mujassimah dan musyabbihah yang bathil itu yang di tuduhkan ahlu bid’ah kepada ahlus sunnah, semoga pak lukman bukan bagian dari mereka.<

Musyabbihah atau Mujassimah adalah ketika orang yang- mengatakan bahwa bersemayamnya Alloh SWT seperti bersemayamnya makhluk, tangan Alloh SWT seperti tangan makhluk, pendengaran Alloh SWT seperti pendengaran makhluk yakni makna sifat Alloh SWT seperti makna sifat makhluk.

Jawaban Imam Ahmad ketika ditanya tentang Musyabbihah, beliau menjawab: "Al Musyabbihah adalah orang yang mengatakan bahwa pendengaran Alloh SWT seperti pendengaranku, peng¬lihatan Alloh SWT seperti penglihatanku, tangan Alloh SWT seperti tanganku."[ lihat Al Ibaanah karangan Ibnu Baththoh:3/327]

Imam Nu’aim (gurunya Imam Bukhori) berkata : ….dan bukanlah termasuk tasybih (penyerupaan) ORANG YANG MENETAPKAN bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat muhkamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.” [ini copy paste dari dalilnya pa lukman] karena ayat2 sifat adalah ayat2 muhkam dari sisi MAKNA tetapi dikatakan muhtasyabih dari sisi KAIFYATNYA. sebagai bukti adalah ucapan Imam Nu'aim ini.

Dari tulisan2 pak lukman bisa saya simpulkan bahwa pak lukman berpendapat ORANG YANG MENYAKINI ALLOH SWT MEMILIKI SIFAT DISEBUT MUJASSIMAH WA MUSYABBIHAH, apakah ini bukan tindakan yang terang terangan mengingkari / menolak apa yang difirmanka Alloh swt tentang sifat2-Nya??. Ada kaidah penting ketika manusia berbicara sifat Alloh swt yaitu: BERBICARA TENTANG SIFAT ALLOH SWT ADALAH BAGIAN DARI BERBICARA TENTANG DZAT ALLOH dan CARA MENGIMANI SATU SIFAT ALLOH SWT HARUS SAMA DENGAN CARA MENGIMANI SIFAT -SIFAT LAINNYA.

Sebagai contah:
1. Artinya : Dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat." [Asy-Syura : 11]
Cara mengimani : Kita mengimani bahwa Alloh swt MENDENGAR DAN MELIHAT SESUAI DENGAN KEMULIAAN DAN KESEMPURNAAN DZAT-NYA TIDAK SAMA DENGAN MAKHLUKNYA SOAL HAKEKATNYA DAN BENTUKNYA BELUM DIKETAHUI SEBAGAIMANA DZAT-NYA JUGA BELUM DIKETAHUI, TIDAK BOLEH DIPERTANYAKAN DAN DIBAYANGKAN

2. Artinya Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang Telah Ku-ciptakan dengan KEDUA TANGAN-Ku. apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". (Qs. Shaad (38) : 75)
Cara mengimani: harus sama dengan cara mengimani ayat di atas, Apakah ini termasuk mujassimah / musyabbahah ??? kalau anda katakan ini adalah menjisimkan dan menyerupakan Alloh swt dengan makhlukNya, berarti anda juga MENUDUH ALLOH SWT telah menyerupakan diriNya dengan makhlukNya, juga MENUDUH NABI2-NYA yaitu Muhammad saw, Adam a.s, dan Musa a.s telah menjissimkan dan menyerupakan Alloh swt dengan makhlukNya!!!

apakah anda mau bukti????
"Dari Ibnu Umar ia berkata: Rosululloh ~~ ber¬sabda: Alloh SWT melipat semua langit pada hari kiamat kemudian Alloh SWT ambil dengan TANGAN KANAN-NYA. Lalu Alloh SWT berkata: Akulah Yang Maha Diraja, di mana orang-orang yang sombong? Kemudian Alloh SWT melipat bumi dengan TANGAN KIRI-NYA, lalu Alloh SWT berkata: Akulah Yang Maha Diraja, di mana orang-orang yang sombong?" (Hadits Muttafaq alaih)

"Dari Abu Huroiroh ,~, ; ia berkata: aku mendengar Rosululloh Q5, bersabda: Alloh SWT menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan TANGAN KANAN-Nya. Kemudian Alloh SWT berkata: Akulah Yang Maha Diraja, di mana raja-raja dunia?" (HR. al¬Bukhori),

BERANIKAH ANDA MENGATAKAN MANUSIA YANG TELAH DIKUBUR DIRUMAH AISYAH 1400 (H) TAHUN YANG LALU ITU TELAH MELAKUKAN PENJISIMAN DAN PENYERUPAAN ALLOH SWT PADA MAKHLUKNYA???????????ATAU ANDA INGIN MENGATAKAN BELIAU ADALAH DARI GOLONGAN MUJASIMMAH WA MUSYABBIHAH, KARENA BELIAU TERANG2AN MENYEBUT " TANGAN" UNTUK SIFAT ALLOH SWT???????????????????????????????????????? masih banyah hadits lain yang semisal ini saudaraku. Rosulloh saw tidak berbicara menurut kehendak hawa nafsunya seperti para ahli kalam tetapi perkataannya adalah wahyu yang di wahyukan [lihat QS: 53:3-4] ini juga sebagai dalil ucapan rosulloh kedudukannya sama dengan Al quran . Juga Alloh swt maha benar dalam memilih susunan kata2 dalam kalimatNya tidak mungkin keliru!!! Kita tidak boleh menginkari satu hurup-pun dari firmanNya karena akan menyebabkan kita dalam kebinasaan..!!!!!

Sebagai perumpamaan ketika kita berbicara tentang tangan semut / klabang / jangkrik apakah akan kita samakan bentuknya ketika kita berbicara tentang tangan gajah??? Tentu tidak!!! Karena kedua makhluk itu dzatnya tidak sama, biarpun nama sifatnya sama sama “tangan”. Apa lagi kalau kita berbicara sifat Alloh swt yang mempunyai Dzat dan sifat yang Maha Sempurna, tentu akal kita takkan mampu menjangkaunya disamping dzat-Nya pun belum diketahui. Tetapi kita wajib mengimani sebagaimana tersurat tanpa menanyakan hakekat dan bentuknya. Dan tidak boleh mengimani makna dzohir yang dipahami seperti makhluk, sebagai contoh: ilmu Alloh dipahami seperti ilmunya manusia, TENTU TIDAK BOLEH karena ilmu manusia diawali dari kebodohan dan disudahi dengan kepikunan sedangkan Alloh tidak, Tangan Alloh dipahami seperti tangan manusia…..dst, inilah yang dinamakan makna Dzohir yang dipahami makhluk, semoga pak lukman mudah untuk memahami

Dari sini jelas sekali tidak ada alasan bagi pak lukman untuk mengatakan bahwa apa yang saya paparkan bagaimana cara mengimani sifat Alloh adalah penyerupak-an dan penjisiman Alloh SWT terhadap makhluk, karena seperti yang saya utarakan bahwa cara mengimani sifat Alloh SWT adalah “”””Bahwa kita mengimani se¬gala sifat Alloh SWT yang terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah, tanpa menyerupakannya dengan sifat-¬sifat makhluk. Dan tidak pula mengkhayalkan atau mempertanyakan tentang bentuk (hakikat) sifat tersebut. Serta tidak pula mentakwilkannya dengan sesuatu di luar makna sifat tersebut INGAT!!!! DZAT ALLOH HAL YANG GHOIB. MAKA BENTUK DAN HAKEKATNYA JUGA NGHOIB!!!!
.
Kalau pa lukman belum juga paham bolehlah dibaca 50 kali sambil dihayati, Perhatikan kata2/kalimat TANPA MENYERUPAKAN…….dst
Dari sini ahlus sunnah mempunyai BATASAN yang sangat kuat dan jelas untuk tidak terjerumus kepada PENYERUPAKAN DAN PENJISIMAN ALLOH SWT PADA MAKHLUK. Ahlus sunnah TIDAK MENOLAK SATU KATA/HURUP-PUN DARI ALQURAN. Anda pikirkan baik2, membayangkan hahekat sifat-Nya saja tidak boleh bagaimana sampai terjerumas dalam penyerupakan?????? Hanya orang yang akalnya kurang baik kalau ahlus sunnah dikatakan MUSYABBIHAH. Semoga pak lukman tidak seperti mereka.

………BERSAMBUNG…….

SEKARANG ANDA PERHATIKAN JAWABAN SAYA ATAS ARGUMEN2 ANDA DAN “ANTI WAHABI”ANDA

1. Mas Anti Wahabi mengatakan <<>>

JAWABAN SAYA : di sini terlihat jelas sekali kurangnya ilmu bahasa dari orang yg menamakan dirinya mas anti wahabi. Kata BERSEMAYAM itu hanyalah terjemahan atau alih bahasa saja dari kata ISTIWA. coba anda cari pada kamus bahasa arab terbitan manapun apakah kata istiwa di sana artinya hanya ditulis…(titik2) Tetapi akan anda jumpai bahwa arti ISTIWA artinya adalah BERSEMAYAM, jadi secara BAHASA maknanya sudah jelas. Tetapi dalam konteks memahami Asma’ dan sifat Alloh swt kata BERSEMAYAM’ tidak boleh diperinci makna BENTUK dan HAKEKATNYA karena belum diketahui sebagaimana Dzat-Nya juga belum diketahui. jadi tidak boleh dikatakan Istawa = duduk. Juga saya katakan : adakah dari tulisanku yang mengatakan Istawa = duduk ?????. Golongan lain (ahlul bid’ah) yang mengatakan bahwa Ahlus sunnah waljamaah Manhaj salaf (salafy) mengatakan ISTAWA = DUDUK adalah dusta yang nyata untuk menjelek jelekkan. Karena manhaj salaf tidak pernah memerinci hakekat sifat Alloh swt. Janganlah anda gampang percaya ketika mendengar berita yang belum tentu kebenerannya.

Saudaraku “anti wahabi yg saya cintai sebagai bukti kata ISTIWA / BERSEMAYAM itu sudah diketahui adalah ketika seseorang bertanya kepada Imam Malik dengan pertanyaan Bagaimana Alloh swt ISTIWA? Kalau kata ISTIWA belum diketahui pasti orang itu akan menanyakan lebih dulu Apa itu Istiwa ya Imam Malik? dan lebih gamblang lagi ketika Imam Malik memberi jawaban Artinya: “Istiwa’ itu telah diketahui (maknanya), bentuk / keadaannya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakannya bid’ah.”[ Fatawa Ibnu Taimiyyah, V/1447].

Tentang firman Alloh yang artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia Istawa/bersemayam di atas ‘Arsy [Al-A'raaf:54]. Juga lima ayat lain dalam surat yang berbeda.
Menurut lughoh/bahasa, apabila fi’il istiwaa dimuta’adikan oleh huruf ‘Ala, tidak dapat dipahami/diartikan lain kecuali BERADA DI ATASNYA. Sebagai contoh :
Firman Allah ‘Azza wa Jalla : Artinya :
“Dan berhentilah kapal (Nuh) DI ATAS gunung/bukit Judi” (Hud : 44).
Di ayat ini fi’il “ISTAWAA” dimuta’addikan oleh huruf ‘ALA yang tidak dapat dipahami dan diartikan kecuali kapal Nabi Nuh AS secara hakekat betul-betul berlabuh/berhenti di atas gunung Judi. Dapatkah kita artikan bahwa “Kapal Nabi Nuh menguasai gunung Judi” yakni menta’wil lafadz “ISTAWAT” dengan lafadz “ISTAWLAT” yang berada di tempat yang lain bukan di atas gunung Judi..? (yang sama dengan ayat di atas, baca surat Az-Zukhruf : 13).

Berkata Mujahid (seorang Tabi’in besar murid Ibnu Abbas).
Artinya : “Ia istawaa (bersemayam) di atas “Arsy” maknanya : “Ia berada tinggi DI ATAS “Arsy” (Riwayat Imam Bukhari di sahihnya Juz 8 hal : 175)

Ingatlah : Alloh swt tak akan keliru dalam memilih satu hurup pun dari kalimat kalimatNya, kalau keliru masak Alloh swt sampai mengulangi dalam tujuh surat yang berbeda??? semoga saudaraku mas “anti wahabi” faham!!!

2. Mas “anti wahabi” mengutip pendapat para imam mashab

JAWABAN SAYA :
A. pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad tidak perlu saya komentari karena justru mendukung apa yang menjadi hujjah2 saya

B. b1. Versi mas “anti wahabi” IMAM ABU HANIFAH berkata “”Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’ala ber-istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak metetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti juga makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptakan Arasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian” “” (Fiqh al Akbar)

b2. Versi kitab-kitab lain : Al-Fiqh Al-Absath, hal.46. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Al-Fatawa V/48. Ibnu Al-Qayyim dalam Ijtima Al- Juyusy Al-Islamiyah, hal.139. Adz-Dzahabi dalam Al-Uluw, hal.101-102, Ibnu Qudamah dalam Al-Uluw, hal.116. Dan Ibnu Abi Al -Izz dalam Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hal.301) IMAM ABU HANIFAH berkata : Siapa yang berkata, ‘saya tidak tahu Tuhanku itu di mana, di langit atau di bumi, maka orang tersebut telah menjadi kafir. Demikian pula orang yang berkata: Tuhanku itu di atas ‘Arsy. Tetapi saya tidak tahu ’arsy itu di langit atau di bumi.”

KESIMPULAN : di sini jelas sekali ada dua pendapat Imam Abu Hanifah yang saling bertentangan [KONTRADIKSI], orang awampun bisa membedakan mana yang lebih sejalan dengan Alquran dan As sunnah. Jelas versi B2 yang benar karena ini sesuai dengan (QS.Thaahaa:5, Al-Hadiid:4, Yunus:3 Al-furqaan:59, As-sajdah:4, Ar-ra’d:2) yaitu artinya : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam DI ATAS ‘Arsy,….” [Al-A'raaf:54]. Juga sesuai dengan hadits2 :

#. Rosulloh bertanya kepada seorang budak perempuan : “Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : “DI ATAS LANGIT. Beliau bertanya (lagi) : “Siapakah Aku ..?”. Jawab budak itu : “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : “Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”. [HR. Muslim (2/70-71) dan 12 ahli hadits lainnya ]

#. Rosulloh bersabda “Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan DZAT YANG DI ATAS LANGIT, datang kepadaku berita (wahyu) DARI LANGIT di waktu pagi dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry). Dan masih banyak lagi hadits yang senada ini.

…..BERSAMBUNG……..

3. Pak lukman mengambil metode tafsir dari Ibnu katsir soal kata Istiwa untuk membantah ahlus sunnah manhaj salaf (salafy) <<<<>>>>

JAWABAN SAYA: Pak lukman yang saya hormati, saya rasa anda kurang cermat dalam memahami tafsir ini sehingga terjadi kesalahan yang fatal. Mari sama2 kita teliti maksud kalimat dari Ibnu Katsir bermanhaj salaf ini. Anda perhatikan pada kalimat<<<>>>>> Dari sini Ibnu Katsir dan para salafus sholeh melarang memerinci makna dari sisi BENTUK bukanya makna dari sisi BAHASA karena makna dari sisi bahasa sudah diketahui, sebagaimana ucapan Imam Malik, sedangkan makna sisi BENTUK dan HAKEKAT belum diketaui sebagaimana Dzat-Nya juga belum diketahui, yang tahu hanya Alloh swt sendiri. Ini sangat jelas karena kalimat itu diikuti suatu BATASAN, yang menjadi kalimat batasan ini adalah pada kalimat TANPA TAKYIF…..dst kalau ini anda anggap sebagai metode AT TAFWID dari Ibnu Katsir anda salah besar pa lukman. karena dalam metode At Tafwid tak memerlukan kalimat penjelasan lagi untuk memberikan suatu BATASAN karena orang yang menggunakan metode itu pasti masa bodoh / cuek tentang makna dari sisi Bahasa dan Makna dari sisi Bentuk.

4. Pak luman anda katakan bahwa Imam Ibnu Katsir mengagungkan metode At Tafwid dan membolehkan metode At Tawil

JAWABAN SAYA: Pak lukman yang saya hormati, anda sudah berdusta atas nama Imam Ibnu Katsir. Tidak ada satupun kalimat dari tulisan Ibnu Katsir di kitab tafsirnya yang mengatakan seperti itu (membolehkan dua metode itu). Semoga anda menyadari.

5. pak lukman anda melakukan banyak tambahan pada kalimat2 tafsir Ibnu Katsir sehingga maksud dari makna tersebut menjadi salah, mari kita bandingkan :

##Tulisan anda :dan (memaknai lafadz istiwa dengan) makna dhahir yang difahami (menjerumuskan) kepada pemahaman golongan musyabbih yang menafikan dari (sifat Allah) yaitu Allah tidak serupa dengan makhluqNya…”

##Kalimat versi kitab : Setiap makna dzohir yang terlintas pada benak orang yang menganut paham MUSYABBIHAH, makna tersebut terjauh dari Alloh swt,karena tidak ada sesuatupun dari ciptaan Alloh swt, yang menyerupaiNya….
JAWABAN SAYA : letak kesalahannya yaitu : anda banyak menambah kalimat dalam kurung, yang menyebabkan makna dari kalimat tsb menjadi lain. Jelaslah versi kitab sangat sesuai dengan aqidah ahlus sunnah waljamaah manhaj salaf (salafy)

6. Pak lukman yang baik hati, Dari Tafsir Ibnu Katsir ini sebenarnya bisa diketahui bahwa Ibnu Katsir justru melarang metode AT TAWIL Dari sini Ibnu Katsir mengatakan salah satu cara mengimani sifat Alloh swt adalah dilarangnya TA’THIL (penolakan). Sedangkan orang yang melakukan TAKWIL tidak mungkin melakukan itu (takwil) tanpa melakukan Ta’thil. Hal ini anda pasti tahu pak……semoga anda menyadari.
Jadi jelaslah bahwa tafsir Ibnu Katsir bukan membungkam kaum yang anda namai”Wahabi” tapi yang benar membungkam ahlul bid’ah dari ucapan2 jelek mereka, semoga pak lukman bukan bagian dari mereka.

7.Pak lukman mengutip lagi dari kitab Ibnu Katsir :…..dikatakan oleh para imam, diantaranya Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru Imam al-Bukhari, ia berkata: “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia telah kafir, dan siapa yang MENGINGKARI apa yang Allah mensifati diri-Nya, maka ia kafir, dan BUKANLAH TERMASUK tasybih (penyerupaan) orang yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat muhkamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.”

JAWABAN SAYA : Pak lukman yang saya hormati saya katakan anda salah mengambil dalil untuk membantah orang2 yang anda namai Wahabi” karena dalil ini justru membantah argumen2 anda sendiri dan orang2 yang mentakwil takwil ayat2 sifat Alloh swt (Ahlul Bid’ah), mari kita ulas sama2.:

1.Imam Nu’aim berkata Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia telah kafir….”

Saya Ahmad Wildan berkata : Alhamdulillah kami sangat jauh dari menyerupaan Alloh swt dengan makhlukNya. Karena dalam aqidah kami MEMERINCI bentuk dan hakekatnya saja tidak boleh apalagi menyerupakan!!!!!!

2. Imam Nu’aim berkata selanjautnya : .dan siapa yang mengingkari apa yang Allah mensifati diri-Nya, maka ia kafir,….”

Saya Ahmad Wildan berkata : karena orang yang melakukan TAKWIL pasti melakukan pengingkaran. (ta’thil) Astaghfirulloh….semoga saudaraku pak lukman lekas menyadari………

3. Imam Nu’aim berkata selanjutnya : dan bukanlah termasuk tasybih (penyerupaan) orang yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat muhkamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.”

Saya Ahmad Wildan berkata : Alhamdulillah……..sangat sesuai dengan aqidah kami, saya tidak usah repot2 cari dalil untuk menjawab kerancuannya hujjah2 pak lukman karena pak lukman mencarikan untuk saya semuanya. Pak lukman yang saya cintai ayat2 sifat adalah ayat2 yang jelas (muhkam) dari segi makna sebagai bukti adalah ucapan Imam Malik ketika ditanya Bagaimana Alloh swt Bersemayam, dan dikatakan ayat Muhtasyabih kalau dari dilihat dari sisi hakekatnya. di sini Imam Ibnu Nu’aim pun mengatakan bahwa ayat sifat termasuk ayat2 yang muhkam. semoga pak lukman menyadari
MOHON MAAF KEPADA PAK LUKMAN DAN MAS “ANTI WAHABI” SEKIRANYA ADA KATA2 DALAM TULISANKU YANG TIDAK MENGENAKKAN HATI
WALLOHU’ALAM

……..TAMAT………..

Cukup lah Ibnu Abbas ra menjadi contoh dan teladan, bahwa beliau mena’wil ayat2 mutasyabihat dan tidak berpegang pada dzahir makna kata. Itu lah Ahlus Sunnah dan para imam Mazhab berada di atasnya. Kami berlepas diri dari klaim wahhabiy.

RALAT RALAT RALAT KESALAHAN TULISAN:

1. TULISAN YG SALAH : Mas Anti Wahabi mengatakan <>

TULISAN YANG BENAR :Mas “Anti Wahabi” mengatakan “Anda mengatakan bahwa Anda tidak menafsirkan atau menta’wil ayat2 mutasyabihat. Namun Anda menggiring orang untuk menerima pemahaman Anda dengan mengambil kata Istiwa dengan arti yang Anda dan kelompok Wahhabi sesat la’natullohi ‘alaihim tetapkan. ISTIWA = Bersemayam.”

2. TULISA YG SALAH : Pak lukman mengambil metode tafsir dari Ibnu katsir soal kata Istiwa untuk membantah ahlus sunnah manhaj salaf (salafy) <<<>>>

TULISAN YANG BENAR : Pak lukman mengambil metode tafsir dari Ibnu katsir soal kata “Istiwa” untuk membantah ahlus sunnah : “…….. Dan lafadz (istawa) tidak ada yang memerincikan maknanya seperti yang datang tanpa Takyif (memerincikan bagaimananya) dan tanpa Tasybih (penyerupaan dgn makhluq) dan tanpa Ta’thil(menafikan) dan (memaknai lafadz istiwa dengan) makna dhahir yang difahami (menjerumuskan) kepada pemahaman golongan musyabbih yang menafikan dari (sifat Allah) yaitu Allah tidak serupa dengan makhluqNya…”

3. TULISAN YG SALAH : Anda perhatikan pada kalimat<<>>>>

TULISAN YANG BENAR : Anda perhatikan pada kalimat ” …Dan lafadz (istawa) tidak ada yang memerincikan maknanya seperti yang datang tanpa takyif………..dst”

Satu pertanyaan yang tidak pernah dapat di jawab, dimana Alloh sebelum ‘Arsy diciptakan? Karena mereka memaksakan tempat (‘Arsy dan langit) bagi dzat Alloh yang qodim. Ahlus Sunnah berlepas diri dari hal demikian…

1. Pak lukman menanyakan : Kalau Alloh bersemayam di atas ‘arsy seperti disebutkan di dalam surat Al A’raaf:54 dan dalam enam surat lainnya, SEBELUM ‘ARSY DICIPTAKAN ALLOH DI MANA??????????????

JAWABAN SAYA :

A# Pak lukman yang saya hormati pertanyaan semacam itu senada dengan pertanyaan seseorang kepada Imam Malik yaitu : “Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas ‘Arsy?. Beliau menjawab :Artinya :”Istiwaa itu bukanlah sesuatu yang tidak dikenal (yakni telah kita ketahui artinya), tetapi bagaimana caranya (Allah istiwaa) tidaklah dapat dimengerti, sedang iman dengannya (bahwa Allah istiwaa) wajib, tetapi bertanya tentangnya (bagaimana caranya) adalah bid’ah”.
(baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 45-46)

KESIMPULANNYA : MEMPERTANYAKAN BENTUK, HAKEKAT, BAGAIMANA CARANYA, DIMANA ALLOH SEBELUMNYA….DLL TENTANG ALLOH atau MENANYAKAN SESUATU TENTANG ALLOH YANG BELUM DIBERITAKAN / DIKABARKAN / DICONTOHKAN ADALAH : BID’AH.

Karena makhluk mengetahui / mengilmui tentang Alloh sebatas yang sudah dikabarkan oleh Alloh dan Rosul-Nya, maka AKAL dan LOGIKA tidak boleh berperan dalam hal ini karena tak mungkin mampu menjangkau sesuatu yang belum dikabarkan, tetapi akal harus dijadikan sebagai alat pembenaran berita yang datang dari Alloh dan RosulNya tentang diri-Nya

B# Dengan mempertanyakan itu pak lukman sepertinya ingin membawa persoalan sifat2 Alloh swt atau persolan agama lainnya kepada pemahaman ra’yu (logika), Ini sesuai pemahaman para ahli kalam. Pemahaman mereka(ahli kalam), agama adalah masuk akal yang tidak masuk akal berarti bukan agama, ketika persolan agama dianggap tidak sesuai dengan logika maka oleh mereka akan ditolak.. Sebagai bukti adalah penolakkan mereka terhadap ayat2 sifat dan hadits2 sifat yang mereka anggap tidak masuk akal. Sebagai contoh : “tangan” ditolak(ta’thil) dan diganti dengan “nikmat / kekuasaan”, “bersemayam” ditolak(ta’thil) dan diganti dengan “menguasai” dll. Saya menghargai tujuannya adalah baik yaitu mensucikan Alloh swt dari sifat2 yang tidak layak bagi-Nya, tapi sebenarnya justru disinilah kesalahan fatal mereka yaitu PENOLAKKAN TERHADAP KALIMAT2 YANG TELAH DIKEHENDAKI OLEH ALLOH SWT DAN ROSUL-NYA ATAS DIRI-NYA.

Dan jawaban saya atas argumen mereka(pemuja akal) : agama memang masuk akal tapi tidak semua persoalan agama mampu dipahami oleh akal contoh ketika seseorang batal wudhunya karena kentut mengapa yang dibasuh mukanya ??? kalau menurut logika harusnya maaf “duburnya”!! contoh lain adalah apa yang dikisahkan dalam Al quran yaitu ketika nabi Musa a.s mengikuti nabi Khidir a,s disini jelas digambarkan betapa logika nabi Musa a.s tidak mampu memahami persoalan2 agama yang dipraktekkan nabi Khidir a.s.

Sebenarnya persoalan akan menjadi mudah dan tidak membingungkan dalam memahami agama ketika orang mau BERSERAH DIRI ,TUNDUK DAN TIDAK BANYAK BERTANYA dalam menerima datangnya dalil yang shohih. Dan inilah prinsip ahlus sunnah waljamaah yang sebenarnya dalam menerima dalil yang shohih.

Pak lukman yang saya hormati berkaitan dengan ini Imam Muhammad bin Syihab az-Zuhri Rahimahullah (wafat th. 124 H) berkata: “Allah yang menganugerahkan risalah (mengutus para Rasul), kewajiban Rasul adalah menyampaikan risalah, dan kewajiban kita adalah TUNDUK DAN TAAT.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Kitabut Tauhid. Lihat kitab Fat-hul Baari (XIII/503)

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallm bersabda: “Artinya : Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang keras hati lagi SUKA MEMBANTAH.” [. HR. Al-Bukhari (no. 2457), Muslim (no. 2668), at-Tirmidzi (no. 2976), an-Nasa-i (VIII/248) dan Ahmad (VI/55, 62, 205)]

JELAS SEKALI BAHWA ORANG YANG MENOLAK DALIL = MEMBANTAH

Pak lukman yang saya hormati, dari hadits di atas ada kaidah hukum yang tercakup bahwa orang yang tidak TASLIM kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka telah berkurang tauhidnya. Dan orang yang berkata dengan ra’yunya (logikanya), hawa nafsunya atau taqlid kepada orang yang mempunyai ra’yu dan mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah, maka berkuranglah tauhidnya menurut kadar keluarnya dia dari ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Sesungguhnya dia telah MENJADIKAN SESEMBAHAN selain Allah Azza wa Jalla YAITU hawa nafsunya dan orang yang ditaqlidinya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Artinya : Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan HAWA NAFSUNYA sebagai ILLAHNYA dan Allah membiarkannya sesat berda-sarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka, siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiar-kannya sesat). Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” `[Al-Jaatsiyah: 23]

KESIMPULAN JAWABAN SAYA
a. Pak lukman yang saya hormati pertanyaan yang anda ajukan tidak sepantasnya disampaikan oleh seorang muslim yang baik, karena itu sama saja dengan MEMBUAT PERKARA BARU DALAM AGAMA [periksa apa yg dikatakan imam Malik di atas]
b. Pertanyaan pak lukman tsb sebagai bukti bahwa pak lukman dalam memahami agama mengedepankan AKAL, seharusnya sebagai muslim yang tunduk dan taat pada Alloh dan RosulNya mendahulukan dalill yang shohih
c. Ada pertanyaan dan jawaban yang SYAR’I tentang Alloh swt yaitu “dimana Alloh?” dan jawabannya adalah “di langit” sebagai dalilnya adalah : Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah :
Artinya : “Beliau bertanya kepadanya : “Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : “Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : “Siapakah Aku ..?”. Jawab budak itu : “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : “Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”. [HR. muslim 2/70-71. dan dua belas jamaah ahli hadits lainnya]

2 Pak lukman mengatakan “ cukuplah Ibnu Abbas sebagai bukti pembenaran adanya metode TAKWIL”.

JAWABAN SAYA :

Saya yakin ini hanyalah kesalah pahaman pak lukman dalam memahami penafsiran ayat Al quran yang dilakukan oleh sahabat Ibnu Abbas r.a . Insyaalloh ini semua ada penjelasannya yang sangat ilmiah. Tetapi saya mohon kepada pak lukman untuk menunjukan pada saya ayat berapa dan surat apa dari Al quran dan dari kitab mana, yang anda anggap sebagai metode takwil dari Ibnu Abbas agar jawaban saya bisa terfokus pada inti permasalahannya.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada pak lukman, sekiranya ada kalimat pada tulisan saya yang tidak mengenakkan hati saya mohon maaf. Semoga Alloh swt memberikan kebaikan kepada kita semua. WALLOHU’ALAM.

ada hal yang dipaksakan di sini. Mas Wildan menetapkan bahwa Alloh bersemayam di atas Arsy/Langit diambil dari kalimat ‘istiwa ‘alal Arsy’. Jika itu pernyataannya dan i’tiqodnya, oke.

Boleh saya mengajukan pertanyaan? [jangan bid'ahkan dong mas, nanya kok bid'ah :( ]

1. Adakah ‘Arsy dan Langit yang ‘dipaksakan’ untuk dijadikan tempat bagi dzat Alloh yang maha mulia -ahlus sunnah berlepas diri dari penetapan sesat demikian- sama qodim-nya dengan dzat Alloh?
2. Jika jawabannya ya, maka selesai. Kita tidak usah diskusi lagi. Jika jawabannya tidak, maka pertanyaan logis berikutnya adalah DIMANA ALLOH SUBHANA WA TA’ALA BERADA SEBELUM MAKHLUK BERNAMA ‘ARSY DAN LANGIT ADA? Adakah perubahan pada dzat Alloh dari sebelum adanya Arsy dan atau Langit dengan sesudah diciptakan keduanya? Adakah tempat lain bagi Alloh untuk bersemayam sebelum keduanya diciptakan? Na’udzubillahi min dzalik. Maka benarlah apa disabdakan Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam seperti yang diriwayatkan Imam Bukhari, Imam Bayhaqqi dan imam Ibn Jarud: Kaana Allohu wa lam yakun syai’un ghoiruh : Alloh telah ada sebelum yang lainnya ada. Artinya Alloh qodim jauh sebelum Arsy dan langit ada.

Diciptakannya Arsy dan Langit bukanlah untuk tempat bagi dzat Alloh, melainkan sebagai manifestasi dari kemahakuasaanNYA. Alloh tidak berhajat dengan ruang dan waktu. Dzat Alloh tidak mengalami perubahan. Alloh juga tidak terpenjara oleh ruang dan waktu. Ruang dan waktu adalah makhluk ciptaanNYA, maha suci dzat yang qodim dari bersifat butuh terhadap ciptaanNYA. Sejalan dengan ucapan imam Ali karromallohu wajhah : kaana Allohu wa laa makaan, wa huwa al aan ayna maa kaana. Yang artinya : Alloh ada tanpa tempat dan Dia ada sebagaimana dahulu ada (yakni tanpa tempat).

Wahhabi menggunakan dalil yang katanya dari para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dlsb dan mengkalim bahwa mereka Ahlus Sunnah. Namun justru ulama Ahlus Sunnah membantahnya. Tidak ada satu pun ulama Ahlus Sunnah yang menyatakan tempat bagi Alloh sebagaimana Wahhabi tetapkan.

Berikut saya tambahkan nukilan dari situs lain tentang hal ini dan kesesatan pemahaman Wahhabi terhadap Dzat Alloh. Untuk rujukan silakan [klik ini], jika ingin versi bahasa Indonesianya [ini]

Imam Abu Hanifah, salah satu ulama as-Salaf, mengatakan dalam Al-Fiqh al­Absat: “Allah Ta’ala ada abadi tanpa tempat, dan Dia ada sebelum mencipta makhluk. Dia telah ada dan ketika tidak ada tempat, makhluk atau benda-benda. Dia adalah Pencipta segala sesuatu”

Imam al-Hafidh al-Bayhaqiyy mengatakan dalam bukunya, Al-Asma’u was-Sifat, hal. 400: “…. Apa yang disebut di akhir hadis adalah indikasi penolakan bahwa Allah memiliki tempat dan penolakan bahwa hamba menyerupai Allah, seberapa pun dia, baik dekat maupun jauh. Allah Ta’ala adalah Adh-Dhahir, sehingga benar untuk mengetahui-Nya dengan bukti-bukti. Allah adalah Al-Bathin, sehingga tidak benar jika Dia berada dalam suatu tempat.” Dia juga berkata, ” Beberapa dari sahabat kita menggunakan sebuah bukti untuk membantah adanya tempat bagi Allah dengan hadis Rasululla SAW: “Engkau adalah Adh-Dhahir dan tidak ada di atas-Mu, dan Engkau adalah Al-Batin dan tidak ada yang di bawah-Mu”. Dengan demikian, jika tidak ada yang di atas dan di bawah Dia, Dia tidaklah di suatu tempat.”

Imam Ahmad Ibn Salamah, Abu Ja^far at­Tahawiyy, (lahir 237 H),menulis buku Al-^Aqidah at­Tahawiyyah. Dia menyebut bahwa isi bukunya adalah sebuah penjelasan dari Aqidah Ahl as­Sunnah wal Jama^ah, yaitu Aqidah Imam Abu Hanifah, (meninggalkan 150 H) dan dua sahabatnya, Imam Abu Yusuf al-Qadi and Imam Muhammad Ibn al­Hasan ash-Shaybaniyy serta lainnya. Dia menulis: “Dia di luar dari memiliki batas tempat atas-Nya, atau dibatasi, atau memiliki bagian-bagian atau anggota tubuh. Tidaklah Dia dikenai arah sebagaimana makhluk.” Demikian perkataan Imam Abu Ja^far yang merupakan salah ulama as-Salaf. Dia secara jelas menyatakan bahwa Dia terbebas dari dikenai 6 arah: atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang.

Ahli bahasa dan ulama hadith, Imam Muhammad Murtada az-Zabidiyy, meriwayatkan secara bersambung dari dia sendiri hingga Imam Zayn al-^Abidin ^Aliyy Ibn al-Husayn Ibn ^Aliyy Ibn Abi Talib, (juga di antara as-Salaf, bergelar as-Sajjad, yang banyak bersujur), bahwa Zayn al-^Abidin mengatakan dalam as­Sahifah as-Sajjadiyyah mengenai Allah:

Ucapan Imam Ali Zaynal 'Abidin ra

artinya: “Mahasuci Engkau Ya Allah, dari segala ketidaksempurnaan, Zat yang tidak ada tempat membatasi-Mu”

Dia juga berkata:

Ucapan Imam Ali Zaynal 'Abidin

artinya: “Mahasuci Engkau, Ya Allah, dari segala ketidaksempurnaan. Zat yang tidak ada tempat membatasi-Mu”

Ketika menjelaskan Sahih Al-Bukhari bab Al-Jihad Hafidh Ibn Hajar mengatakan,”Kenyataan bahwa kedua arah atas dan bawah adalah mustahil disifatkan kepada Allah, tidak berarti bahwa Allah tidak dapat disifati dengan ketinggian, karena sifat ketinggian dari Allah adalah mengenai kedudukan dan ketidakmungkinan terletak pada sifat fisik”.

Imam Zayn ad-Din Ibn Nujaym, ulama Hanafiah, dalam buku Al-Bahr ar­Ra’iq, hal 129: “Siapa yang mengatakan bahwa mungkin bagi Allah untuk berbuat tanpa keadilan/kebijaksanaan telah bertindak dosa, dan berdosa juga dia yang memastikan tempat bagi Allah Ta’ala”.

Imam Ahmad ar-Rifa^iyy al-Kabir, (600 H) berkata:

artinya: “Pengetahuan utama mengenai adalah adalah memastikan/meyakini bahwa Allah ada tanpa bagaimana dan tempat”

Imam Muhammad Ibn Hibah al-Makkiyy, dalam buku Hada’iq al-Fusul wa Jawahir al-^Uqul,–juga disebut Al-^Aqidat-as-Salahiyyah karena dia memberinya sebagai hadiah kepada Sultan Salah-ad-Din al-Ayyubiyy yang telah meminta buku ini untuk di ajarkan pada anak-anak di sekolah-sekolah dan disiarkan dari atas menara – berkata:

artinya: “Allah SWT itu ada abadi dan tidak ada tempat bagi-Nya, dan keputusan bahwa keberadaan-Nya sekarang sebagaimana Dia dahulu, yaitu tanpa tempat”

Imam Ja^far as-Sadiq, salah satu ahlul bait Nabi SAW, berkata: “Orang yang menyatakan bahwa Allah berada dalam sesuatu atau di atas sesuatu atau dari sesuatu, telah berbuat kesyirikan. Karena jika Dia di dalam sesuatu, maka Dia terlingkupi/dibatasi, dan jika Dia di atas sesuatu berati Dia dibawa (sesuatu). Dan jika Dia dari sesuatu, berarti Dia seperti makhluk.”

Shaykh ^Abdul-Ghaniyy an-Nabulsiyy berkata: “Dia yang percaya bahwa Allah memenuhi langit dan bumi atau bahwa Dia adalah duduk secara fisik di atasal-^arsh (Singgasana) dia telah kafir.”

Imam Abul-Qasim ^Aliyy Ibnul-Hasan Ibn Hibatillah Ibn ^Asakir berkata dalam bukunya Aqidah: “Allah telah ada sebelum penciptaan. Dia tidak memiliki sebelum dan sesudah, atas atau bawah, kanan atau kiri, di depan atau di belakang, sebagian atau seluruh. Tidak bisa dikatakan kapan bagi Dia, di mana bagi Dia, atau bagaimana bagi Dia. Dia ada tanpa tempat”.

Imam Abu Sulayman al-Khattabiyy berkata: “Apa yang menjadi kewajiban bagi setiap Muslim untuk diketahui adalah bahwa Tuhan kita tidak memiliki bentuk, karena bentuk memiliki “bagaimana”, dan “bagaimana” tidak berlaku bagi Allah atau disifatkan bagi-Nya. Mengetahui tanpa ragu bahwa pertanyaan “bagaimana” tidak berlaku bagi Allah, karena ini adalah pertanyaan tentang bentuk, tubuh, tempat, kedalaman, dan dimensi, Allah Mahasuci dari segala hal itu.

Imam al-Ghazaliyy berkata: ” Allah, Ta’ala, ada selamanya dan tidak memerlukan tempat. Dia bukan tubuh, jauhar (atom), atau benda, dan Dia tidak di atas suatu tempat atau di dalam suatu tempat.”

Segala pernyataan ini menunjukkan bahwa mensifatkan ketinggian dan tempat yang bersifat fisik adalah bertentangan denganAl-Quran, Hadis, Ijma’ dan dalil akal. Bukti akal bahwa Allah ada tanpa tempat, terletak pada fakta bahwa sesuatu yang berada di dalam suatu area, dan sesuatu yang memiliki suatu tempat adalah memerlukan tempat, dan bahwa sesuatu yang membutuhkan yang lain bukanlah Tuhan. Lebih lanjut, sebagaimana akal menyatakan bahwa Allah ada tanpa berada di suatu tempat sebelum tempat diciptakan, dan akal menyatakan bahwa Allah menciptakan tempat-tempat dan tetap ada tanpa suatu tempat.

Ulama seperti Imam Ahmad ar­Rifa^iyy menyatakan bahwa mengangkat tangan dan wajah ketika melakukan doa adalah karena langit adalah kiblatnya doa, sebagaimana Ka’bah adalah kiblatnya salat. Dari langit kasih dan rahmat dari Allah turun.

Dengan demikian, adalah jelas bagi orang yang mencari kebenaran tentang Allah ada tanpa memerlukan tempat adalah sesuai dengan Quran, Hadis, Ijma’ dan pedoman akal yang jelas. Yakinkan bahwa sebelum tempat diciptakan, Allah Yang Menciptakan segala sesuatu (termasuk tempat dan lainnya) ada tanpa tempat, dan sesudah tempat tercipta Allah tetap tidak memerlukan tempat.

Karena kita sebagai Muslim berkeyakinan adalah bahwa Allah ada tanpa berada/memerlukan tempat dan bahwa pertanyaan “bagaimana” tidak berlaku bagi Allah, maka adalah jelas bagi kita bahwa Arsy (singgasana) yang merupakan ciptaan Allah terbesar dan merupakan langit-langit sorga, adalah bukan tempat bagi Allah SWT.

Imam Abu Mansur al-Baghdadiyy menyatakan bahwa Imam ^Aliyy Ibn Abi Talib kw. berkata:

artinya: “Allah menciptakan Arsy sebagai tanda Kekuasaan-Nya dan tidak menjadikan sebagai tempat bagi-Nya.”

Imam Abu Hanifah dalam al­Wasiyyah, berkata: ” … dan Dia adalah Penjaga Arsy dan selain Arsy, tanpa memerlukannya, Dia-lah yang diperlukan… Lagian, Apakah Dia ada di suatu tempat yang diperlukan untuk duduk dan istirahat, sebelum Arsy diciptakan? Dimana Allah ketika itu?”. Jadi, pertanyaan “Di mana Allah” tidak berlaku bagi-Nya, karena tidak mungkin.

Juga, dalam bukunya Al-Fiqh al-Absat, Imam Abu Hanifah berkata: “Allah selalu ada abadi, dan tidak memerlukan tempat, makhluk atau barang, tetapi Dia-lah Pencipta segala sesuatu. Orang yang berkata ‘Saya tidak tahu apakah Tuhanku ada di bumi atau di langit” adalah kafir. Juga kafir orang yang mengatakan ‘Dia ada di atas Arsy tetapi saya tidak tahu apakah Arsy ada di langit atau di bumi.'”

Lebih lanjut, Imam Abu Hanifah menyatakan kafir siapa yang mengatakan kedua frasa di atas karena mereka mengandung penyifatan dengan arah, batasan, dan tempat bagi Allah. Segala sesuatu yang memiliki arah dan batas adalah secara logika memerlukan Pencipta. Jadi, bukan maksud Imam Abu Hanifah untuk membuktikan bahwa Langit dan arsy adalah tempat bagi Allah, sebagaimana mereka yang menyerupakan Allah dengan makhluknya mengklaim. Ini adalah maksud Imam Abu Hanifah mengatakan, “Apakah Dia berada di dalam suatu tempat untuk duduk dan istirahat? Lalu sebelum arsy tercipta, dimana Allah?”, yang menunjukkan dengan jelas penolakan bahwa Allah memiliki arah atau tempat.

Dalam bukunya Ihya’u ^Ulum ad-Din, Imam al­Ghazaliyy mengatakan: “… tempat tidaklah meliputi Dia, tidak juga arah, bumi maupun langit. Dia disifati istiwa atas arsy sebagaimana dikatakan Quran – dengan arti yang Dia kehendaki – dan tidak juga sebagaimana orang yang mungkin … Itu adalah istiwa yang bebas dari sentuhan, istirahat, pegangan, gerakan, dan pelingkupan. Arsy tidak membawa Dia, tetapi justru arsy dan apa yang membawa arsy seluruhnya dibawa/dijaga oleh Allah dengan Kekuasaan-Nya dan dikuasai-Nya. Dia mengatasi arsy atau langit dan mengatasi segala sesuatu – dalam kedudukannya – suatu ketinggian yang tidak mendekat ke Arsy atau langit, sebagaimana juga tidak menjauh dari bumi. Dia adalah Lebih Tinggi dalam kedudukan daripada segala sesuatu: lebih tinggi dari arsy atau langit, sebagaimana Dia adalah Lebih Tinggi dalam kedudukan daripada langit dan seluruh makhluk.

Shaykh ^Abdul-Ghaniyy an-Nabulsiyy berkata: “Orang yang percaya bahwa Allah mengisi langit dan bumi atau bahwa Dia adalah jasad yang duduk di atas arsy, dia telah kafir. Ayat 93 Surat Maryam:

artinya: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (QS. 19:93)

Dalam Tafsirnya Imam Ar-razy berkata:” … dan karenanya jelas dengan ayat ini bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah seorang hamba bagi Allah, dan karenanya adalah pasti bahwa Allah adalah Mahasuci dari menjadi (memiliki sifat) sebagai hamba, sehingga Dia Mahasuci dari sifat berada di tempat atau arah, atau di atas arsy atau kursi”.

Dengan demikian Surat Taha, ayah 5, dalam Qur’an:

dengan jelas tidaklah berarti bahwa Allah duduk di atas singgasana, atau bahwa Allah menetap di atas singgasana. Dalam bahasa Arab, kata istawa memiliki 15 makna yang berbeda, di antaranya duduk (to sit), menguasai (to subjugate), menjaga (to protect), mengalahkan (to conquer) dan memelihara (to preserve). Berdasar apa yang telah kita bahas di atas adalah tidak benar memahami ayat tersebut dengan arti “duduk” bagi Allah. Ada pun makna memelihara dan menjaga bersesuaian dengan pemahaman agama dan bahasa.

Imam Hafidh Ibn Rajab al-Hanbaliyy mengartikan al-istiwa’ dengan al-istila’, yang berarti menguasai tanpa sebuah awal. Yaitu, Allah mensifati Diri-Nya dengan menguasai Arsy sejak al-azal (keadaan tanpa awal, yaitu sebelum penciptaan). Karena al-Arsy adalah ciptaan Allah yang terbesar, dan dia dikuasai oleh Allah, maka segala sesuatu yang lebih kecil dari Al-Arsy juga dibawah kendali Allah.

Dinyatakan mengenai Imam Malik bin Anas oleh Al-baihaqi melalui sanad yang sahih dari jalur Abdullah bin Wahb bahwa, “Kami berada di dalam rumah Imam Malik ketika seorang lelaki masuk dan berkata, ” Wahai Aba Abdillah (Imam Malik), Ar-Rahmanu ‘alal ‘arsy istawa. Bagaimana Dia istawa?”. Imam Malik melihat kebawah dengan terperanjat kemudian dia mengangkat muka dan berkata, “Alal ‘arsy istawa sebagaimana Dia mensifati untuk Dirinya. Tidak benar untuk mengatakan “bagaimana” karena “bagaimana” tidak berlaku bagi-Nya. Saya lihat bahwa kamu seorang ahli bid’ah. Keluarkan dia”. Dengan demikian, perkataan Imam Malik, “Bagaimana tidak berlaku bagi-Nya”, berarti bahwa Istiwa-Nya atas Arsy-Nya tanpa “bagaimana”, yaitu tanpa jasad, tempat, bentuk atau form seperti duduk, persentuhan, meletakan di atas, dan yang semacamnya.

Karenanya, tidak ada dasar perkataan mereka yang menyerupakan Allah dengan makhluk, yang disandarkan kepada Imam Malik, bahwa al-istiwa telah diketahui, dan bagaimana adalah tidak diketahui. Apa yang mereka maksudkan bahwa istiwa adalah duduk, tetapi bagaimana duduk-Nya adalah tidak diketahui. Perkataan ini tidak benar, karena duduk itu, tidak masalah bagaimana dia, akan dilakukan dengan anggota tubuh dan bagian yang dapat ditekuk. Dengan demikian, perkataan yang disandarkan kepada Imam Malik tidak terbukti dari Dia atau yang lainnya.

Imam al-Lalaka’iyy meriwayatkan dari Umm Salamah and Rabi^ah Ibn Abi ^Abdar-Rahman:

artinya: “Istiwa tidak asing (majhul) – karena disebut dalam Al-Quran – dan “Bagaimana” tidak masuk akal – karena tidak mungkin berlaku bagi Allah”. Sehingga, Hadis dan Ayat Quran yang mensifati ketinggian kepada ALlah, merujuk kepada ketinggian kedudukan dan bukan ketinggian tempat, arah, sentuhan atau perletakan.

Dalam Surat al-An^am ayat 61, Allah berfirman:

artinya: “Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi atas semua hamba-Nya”. Dengan demikian “fauqa” (ketinggian) dalam ayat ini adalah dalam kekuasaan bukan dalam arti tempat atau arah.

Hati-hati dengan apa seperti dikatakan Translation of the Qur’an oleh Yusuf Ali dan dikatakan sebagai versi revisi (dari Yusuf Ali) dan dicetak olehKing Fahd Holy Qur’an Printing Complex di al-Madinah al-Munawwarah, di halaman 879, dalam menterjemahkan ayah 5 Surat Taha:

mereka katakan: “The Most Gracious is firmly established on the throne,” (Yang Maha Penyayang bersemayam di atas singgasana). Dan di catatan kaki mereka katakan dengan jelas:”Who encompasses all creation and sits on the throne.” (Yang meliputi segala ciptaan dan duduk di atas singgasana)

Begitu juga, hati-hati dengan bagian lain yang menyerupakan Allah dengan makhluk seperti pada halaman 1799 dalam ayah 42 Surat al-Qalam:

mereka mensifati “betis” kepada Allah.

Pada halaman 1015 dalam mentafsirkan Surat An-Nur ayat 35:

mereka mengatakan: “Allah adalah cahaya” dan dalam catatan kaki mereka dengan jelas mengatakan:”We can only think of Allah in terms of our phenomenal experience.”(Kita hanya bisa memikirkan dalam arti pengalaman keseharian kita)

Al-Mushabbihah adalah mereka yang menserupakan Allah dengan makhluk; mereka percaya bahwa Allah menyerupai makhluk. Mereka mensifati Allah dengan tempat, arah, bentuk dan badan, dan mereka mencoba menutupinya dengan mengatakan; “Bagaimana pun, kita tidak tahu bagaimana tempat-Nya, atau bagaimana Dia duduk, atau bagaimana Wajah-Nya, atau bagaimana betis-Nya, bagaimana Cahaya-Nya”. Semua hal itu jelas menunjukkan kesalahan mereka.

Puji syukur kepada Allah Tuhan Semesta alam, Zat yang suci dari penyerupaan dengan dengan makhuk, segala sifat yang tidak layak, dan segala yang tidak benar tentang Dia.
===============================

Jelaslah bahwa :
1. Para para sahabat, Tabi’ien, Tabi’ut Tabi’ien, imam Mazhab dan semua ulama Ahlus Sunnah telah bersepakat tentang pe-nafi-an Alloh atas tempat dan zaman (ruang dan waktu)
2. Alloh adalah kholiq dan selainnya adalah makhluq. Tidak ada kebutuhan khaliq atas makhluq. Bahkan sebaliknyalah, makhluq bergantung pada kholiq.
3. Alloh menciptakan Arsy dan langit sebagai manifestasi dari kemahakuasaanNYA dan sama sekali bukan untuk tempat bagi dzat Alloh yang maha mulia.
4. Dzat Alloh tidak berubah dari sebelum diciptakan apa pun sampai sekarang, akhir zaman dan sampai kapan pun.
5. Ulama Ahlus Sunnah telah dengan jelas menerangkan kepada kita sebagai panduan yang terang benderang. Adapun Wahhabi berusaha untuk mengaburkan dan membawa kepada kesesatan. Intahaa…

ass.wr.wb
KITA MANUSIA CUMA BISA BERFIKIR,MENAFSIRKAN BUKAN PENENTU.AGAMA ADALAH KEYAKINAN,SETIAP ORANG BERBEDA KADAR KENYAKINANNYA. HORMATILAH SETIAP KENYAKINAN ORANG LAIN . YANG TERPENTING KITA PUNYA KENYAKINAN. MASALAH YANG LAINNYA BIAR ALLAH SWT YANG MENENTUKAN
WASSALAM

Wa’alaykum salam warohmatullohi wa barokatuh

Sebagian saya setuju dengan mas Ahmad. Makasih mas

Sholluuuu ‘alaaaa Muhammmmad…!!!

Saya selalu merayakan maulid nabi,dan saya selalu mengikuti diba’n setiap hari sabtu dimushola tempat saya tinggal,sampai detik ini dan sampai akhir hayat saya tetap yakin,mengagungkan rosull dengan memberikan pujian2 itu bukanlah dosa,Semakin banyak kita bersholawat nabi,semakin dekat dg rosull….,Saya awam so’al agama,tapi saya yakin,dan saya akan terus belajar ….

Semoga mas Tusiam dan muslimin semua mendapat syafaat Rasululloh di yaumil akhir nanti. Amien

ass.wr.wb ya ahli posting wew…
aku gak paham agama palagi dalil-dalil ( orang bodoh gituch ).
aku sich ibadah kepada allah berusaha dengan keyakinan ( alias keimanan ).
yang aku miliki ( gak banyak kaya antum ) dapat 1% aja aku dapat menjalan kan sunnah nabi SAW,dah bersyukur banget, kalo ada yang ibadah nya kaya nabi SAW 100% gneare tak acungin 4 jempol ku ( yang dah khatam qur’an ma hadist nabi belum tentu mengamalkannya hehehe….) dunia bro…
saling tuding apa kalian sudah sempurna amal ibadahnya, nabi aja masih istighfar, sesama menjunjung laa ilaaha illallah muhammad rosul allah jalani kehidupan beribadah kepada allah sesuai keyakinan, dunia ini sudah kotor ( penuh maksiat ) gak ada yang halal 100% kecuali air hujan bro…
bertaubatlah kalian sebelum ajal menjemput

Terima kasih nasihatnya mas Hans. Wassalam…

mari kita berjalan sesuai keyakinannya, debat kug ndak abis2, nanti kuwalat lho mbawa2 nama Suci Allah,mbawa ayat suci n mbawa nama Rosulallah saw untuk tameng debat.
semuga kita diberi tetep iman, terangnya hati dan selamat dunia akhirot. amin

Ini diskusi mas Rion sehingga bisa terlihat siapa yang berdusta atas nama Ahlus Sunnah. Wassalam

itu yg karang buku termasuk orang pandir tapi dakwah agama..??? sehingga agama jadi sulit banget padahal menurut Al-Qur’an Agama ini memudahkan….yg benar dia apa Qur’an yah gua jadi BInun nich…he…he…he..

Mungkin belum sampai ilmunya, mas Kadi. Kalau dia tahu, mungkin tidak begitu.

gitu aja kok repot, amerika dah bisa terbang ke bulan kita masih debat urusan bid’ah di bumi

dalem…
makasih mas Khairul

Bagi kaum yang anti sholawat/wahabi….dalil “kullu bid’atin dlolalah”Semua perbuatan bid’ah tertolak” memang senjata yang ampuh untuk menunjang argumen2 mereka…….!!! jadi…bagi kita yang cinta sholawat berdebat dengan mereka “kaum anti sholawatan'” dengan argumen dan rujukan dalil apapun TETEP SAJA MEREKA NGEYEL..!!! LHA WONG SUDAH TERBIUSS DENGAN MOTTO ” KAMI PALING BENAR…KARENA MEMBERANTAS TBC,((Tahayul, Bid’ah, Churofat!!Menurut mereka sich..ehm.ehm..))!!!!! Enak ajee….. KITA dianggep TBC(Penyakiten)…..!!! Tapi gak ape2….Orang yang senang melakukan amalan-amalan baik memang banyak yang gak seneng…banyak halangan…banyak rintangan…….!!!!So Bagi yang doyan MAULIDAN, TAHLILAN (Dzikir koq gak boleh,,), SHOLAWATAN/SIMTUDDURORAN….Mari kita tingkatkan dan masyarakatkan amalan-amalan itu…yakin..banyak manfaatnya..!!! Itu kan termasuk dakwah…!!! SEMOGA KITA TERMASUK ORANG2 YANG MIN AHLISSHOLAH..MIN AHLIL QUR’AN….MIN AHLISSUNNAH WAL JAMA’AH…AMIN YA ROBBAL ‘ALAMIN…

Bagi kaum yang anti sholawat/wahabi….dalil “kullu bid’atin dlolalah”Semua perbuatan bid’ah tertolak” memang senjata yang ampuh untuk menunjang argumen2 mereka…….!!! jadi…bagi kita yang cinta sholawat berdebat dengan mereka “kaum anti sholawatan'” dengan argumen dan rujukan dalil apapun TETEP SAJA MEREKA NGEYEL..!!! LHA WONG SUDAH TERBIUSS DENGAN MOTTO ” KAMI PALING BENAR…KARENA MEMBERANTAS TBC,((Tahayul, Bid’ah, Churofat!!Menurut mereka sich..ehm.ehm..))!!!!! Enak ajee….. KITA dianggep TBC(Penyakiten)…..sembrono..!!! Tapi gak ape2….Orang yang senang melakukan amalan-amalan baik memang banyak yang gak seneng…banyak halangan…banyak rintangan…….!!!!So Bagi yang doyan MAULIDAN, TAHLILAN (Dzikir koq gak boleh,,), SHOLAWATAN/SIMTUDDURORAN….Mari kita tingkatkan dan masyarakatkan amalan-amalan itu…yakin..banyak manfaatnya..!!! Itu kan termasuk dakwah…!!! SEMOGA KITA TERMASUK ORANG2 YANG MIN AHLISSHOLAH..MIN AHLIL QUR’AN….MIN AHLISSUNNAH WAL JAMA’AH…AMIN YA ROBBAL ‘ALAMIN…

saya membina majelis ta’lim Sholawat Nariyah, berari sholawat kami juga bid’ah doooank! Astaghfirullah, bagaiman mewujudkan rasa cinta kita pada Rasulullah SAW ? kita umatnya Muhammad apa ummat yang Nabi Ibrahim ?

Anjing menggonggong kafilah berlalu. Lanjutkan aja mas, insya Alloh barokah.

Sangat gampang….cintai aja apa2 yg dari Rasul melebihi cinta thd apapun….contoh kecilnya: cintai Shalawat Ibrahimiyah (yg sangat mudah utk dihafal) yg jelas2 Shahih dari Rasul….Jangan sampai kita malah lebih mencintai Shalawat bikinan org lain selain Rasul dan membaca Shalawat bikinan mereka jauh lebih banyak bahkan dirutinkan dengan jumlah yg beratus2 bahkan beriburibu kali….sementara Shalawat yg diajarkan Rasul tdk pernah dibaca kecuali dalam Shalat saja….Nah… klau begini keadaannya, sesungguhnya kita lebih mencintai siapa?????Semoga Allah memberi hidayah kpd kita dan menunjukkan bagaimana cara mencintai Rasul yg sebenarnya…AAMIIN

ehh yang bilang pengikut NU masuk neraka siapa ??? elo tuhh yg masuk neraka ga punya agama.. kalo ga tau NU secara dalam jangan asal klaim yaaa. BEGO lu

Assalamu’alaykum mas Hatta, tetap sabar dan santun mas. Biarlah mereka mengklaim seperti itu. Anjing menggonggong kafilah berlalu.

Wassalam

mas sa’ad benar. tampilkan lah kata kata yg sopan ya mas hatta………..

allahu akbar…..

orang yahudi adlah orang yg selalu bertanya , debat dan tidak prnah puas walaupun sudah kalah dalam pembicaraan……….

adakah persamaannya dengan sang penuliss,,,,,,

lw gk merasa jangan tersinggung…..

wah…..susah ni mas klw dikit-dikit semuax bid’ah…di rumahq ada TV, mobil, sepeda motor dll….rumahq jg gk sama seperti rumahe nabi…klw gthu buang ja dah semuax biar wenaak….

bisa aja mbak. :)
Mereka cuma mengakui bid’ah itu satu dan yang satu itu dholalah dan yang dholalah itu masuk neraka. Dengan pemahaman yang kaku dan tanpa mau menerima pandangan ulama2 Ahlus Sunnah yang lain, mereka mengklasifikasikan ummat Islam ke dalam dua mainstream : Kalo gak Sunnah ya Bid’ah. Nah ndilalahnya Bid’ah itu menurut keyakinan dan pemahaman Wahhabi dengan mengatasnamakan Salaful ummah.
Apa iya?
Lha wong Imam Syafi’ie aja mebagi bid’ah menjadi dua dan imam Izz Abdul Salam membaginya menjadi 5. Wahhabi tetap kekeuh surekeuh hanya satu dan menghantam yang lain.

Yo wes.

Wassalam…

Assalamu’alaikum warohmatullooh wabarokatuh,,

wuih..seru euy…

hooOoo…tmbah bingung ada Muhammadiyah, NU, Salafi, Hizbut Tahrir, JIL, dll ,, ,,

saya Islam aja lah jd ndak Muhammadiyah jg ndak NU ndak Salafi dan ndak lain2 :)

oleh po ra?? :) 8-)

asslkum wr.wb. pak lukman kemarin saya ikut maulid di pisangan yang ceramah habib ali al bakr beliau dlam ceramahnya mengatakan yang di katakan orang sholeh itu bukan yang celananya cingkrang,solat selalu berjamaah ,jidadnya hitam tapi yg dikatakan orang sholeh itu yang ngerti akan fardlu ‘ain.ini yang mengatakan rosullulloh saw.sampai di rumah saya nadlor apa yg di sampaikan tsb ternyata benar.hanya orang yang punya akal yang bisa memahami tsb.kita setelah ini mau diapakan oleh alloh (ya ikut saja) siapa yang bs menjamin kita mati khusnul khotimah apakah pak wildan cs ??????kalo pak wildan bs menjamin mati kita dg khusnul khotimah saya akan ikut anda.maknaya hadits qudsi ini gmna pak wildan :tafakkaruu fil kholqillah walaa tafakkaruu fii dzatillah tolong antum jawab dan satu lagi pak maknanya syahadat apa pak wildan ?????

comentnya ramai kali…. bikin gaduh masyarakat. yg buat buku ditangkap aja… diadili secara ilmiah… jika dia yg menyesatkan ajaran ummat…. ya bubarkan saja kayak ahmadiyah….

Memahami agama hanya dengan iman dan taqwa, bukan dengan ilmu dan akal. Banyak mahasiswa perguruan tinggi Islam menjadi liberal dan nyeleneh.

jangannn jangan penulis hanya mo dpat untung nichhhh,,,,,,

biadab lw gtu mh..

v lw enggk mh ya gpp biar ummt islam pda sharringg ok ok ok

@ A CAY maaf mas kalao akalnya gak di pakai gimana kita bisa memahami agama ini,justru yang membedakan manusia dg hewan itu hanyalah dari akal mas.orang gila bisa gak mas memahami agama ini,manusia di kasuh akal oleh alloh bukannya untuk berpikir,kalo gak punya akal berarti gila mas

tidak ada salahnya kita merayakan ulang tahun nabi besar kita muhammad(maulid) dari pada kita merayakan valentine,masa kalau hari kartini di peringati , yang tdk dpt mmberi syafaat.

jangan lah mengagung agungkan organisasi islam ,neraka lah tempatnya karna merasa dirinya pling bnar.TAKABUR

ALLAH SAJA YANG MENENTUKAN MASUK SURGA ATAU NERAKA.

ayoooooo mas sedulur lanang wadon sing rung paham maknane sahadat podo ngaji ning giren tegal,ponpes naam tegal,ponpes attauhidiyyah shohibul masyhad rengasbandung bekasi,dan cari guru2 yang ngajarin tentang tauhid.

rendah hati, berhati-hati , bersabar atas perbedaan,
seingat saya ga ada tu ulama yang ngeklaim dirinya paling pinter.
Kalau ada yang ga sepakat dengan yang kita lakukan, jangan dianggap musuh, tanya dalilnya, musyawarahkan yang paling baik.

Dulu, sesama ahli surga pernah berhadapan dalam suatu peperangan. Ya, karena kebenaran bukan milik ahli surga..

jadi ahli surga juga bukan orang yang serba benar too..

Sareh bro…, sist. Akhwan – ukhti..

maaf, sering banget ada kata2 : kalo gitu mio dan sebagainya itu bidah, dsb-dsb. Selalu itu yang digambarkan untuk bidah. Sekali lagi maaf : yang ngomong juga tahu, sebetulnya masalahnya bukan itu. Kalau ga sepakat karena punya dasar, itu harus didengar. Kalau ga sepakat karena mempertahankan kelompok, itu yang harus dihindari…, bukankah takabbur itu definisinya menolak kebenaran karena hawa nafsu? wallahu alam..

ASSALAMUALAIKUM WR WB
coba tolong resapi kata2 ini “Allah aku milikmu hanya engkau yang dapat menolongku” ulang ulangi kata ini dan rasakan dalam hati (sebenarnya itu ayat tetapi karena kita orang indonesia dengan bahasa indonesia akan lebih cepat meresapnya lakukan berulang ulang terus sampai ada merasakan} nanti anda akan tahu bukan karena LDII yang menjadikan masuk surga dan bukan karena NU yg menjadikan masuk neraka. wassalamualaikum wr wb
nb orang nasrani yahudi berpenampilan seperti anda tidak? memakai topi spt anda tidak padahal jelas didalam alqur an janganlah kau menyerupai orang orang yahudi dan nasrani,renungkan ya mas

Wa ‘alaykum salam wa rohmatullohi wa barokatuh

Mas Burhan yang dirahmati Alloh, mbok ya dibaca pelan2 dari atas. Sayang anda berkomentar tentang pribadi tanpa membaca dari awal. Biar enak diskusinya dan tidak asal

Allohu yahdik

betul, betul betul, maaf ternyata aku salah waduh isin tenan Ya Allah kulo isin ya Allah sorry lho mas tenan?

Gak papa mas. Salam kenal ya

ass..kum
pak wildan tolong dong di jawab pertanyaan ane tadi apa maknanya kalimat sahadat yang anda ketahui

wuih rame nih…
dari argumen masing2 fihak dan gaya bahasa yang di pake kayknya saya bisa meraba mana yang bobot mana yang ngga…kalo boleh nebak…ada yang hanya comot sana sini dari buku terjemahan..(apa ini justru bukan bentuk taqlid pada sang penerjemah..??),ada yang emang ngerti duduk perkaranya…ada yang njawabnya ga nyambunng…ada yang fanatik..dsb…
salut bwat “shohibul blog” yang dengan sabar meladeni lawan diskusinya…meski sering kali tanggapan lawan keliatan (maaf)-bodoh dan ga nyambung…diskusinya jadi kaya ga seimbang gtu…
saya jadi berpikir kalo orang macam saya pasti masuk neraka…karna orang macam saya ga ada di jaman nabi…jadi saya bidah..hehehe..(bcanda)
wal hasil…trimakasih bwt pak lukman…meski saya bukan ahli maulid ato tahlil…namun banyak pelajaran yang bisa sya ptik dari pak lukman…..wasalam

nb: kalo lawan diskusi hanya mbulet dan ngotot mbok ndak usah di layani pak…kasian yang baca

Makasih banyak mbak Halimah. Saya banyak belajar dari semua peserta diskusi. Semoga Alloh menunjukkan kita semua ke jalan yang diridhoiNYA. Amien

Makasih banyak kunjungan dan komentarnya.

maaf kesasar :D

Penulis buku tersebut harus belajar dulu sejarah agama islam, sejarah agama2 samawi atuh secara utuh jangan sepotong – sepotong. maka ia akan toleran tidak hanya kepada sesama Islam juga kepada yang lainnya.

ass.wr.wb hoooiiiii ustadz wildan mana kok gak nongol2 nich pertanyaan saya kok gak di jawab2 dah hampir 2bulan kabur kemana ya ustadz wildan. tolong di jawab pertanyaan saya. menurut ustadz cs maknanya syahadat apa. karena di situ ada kata ashadu artinya saya menyaksikan. berarti kita harus menyaksikan langsung bukan.

assalamu ‘alaikum wr.wb
yang suka gembar gembor bid’ah apakah mereka itu dah pada paham dengan ma’rifat billah dalam kita zubad di sebutkan AWWALU WAAJIBIN ‘ALAL INSAANI MA’RIFATU ILLAHI BISTIQON (awal yang wajib bagi setiap muslim mukallaf laki2 dan perempuan itu mengerti akan tuhannya dengan yakin berdasarkan dalil/bukti).barang siapa yang meniggalkan syar’i usul maka hukumnya ia kafir dan barang siapa yang meninggalkan syar’i furu hukumnya ialah dosa besar

“Innalloha wamalaikatahu yusolluna ‘alannabi, ya ayyuhalladzina amanu sollu alaihi wasallimu taslima”
Nabi Muhammad saw adalah kekasih Alloh, Alloh dan malaikatnya saja bersolawat kepada Nabi kita Muhammad saw kok kita yang katanya umatnya mengucapkan solawat kepada Nabi malah dibilang bid’ah, kalau kita mengaku umat muhammad dan mencintai nabi kita serta mengharap syafaatnya besok pada yaumul akhir maka banyak-banyaklah baca solawat;

beramal itu untuk dinilai Allah SWT. jadi jangan peduli dg penilaian manusia yg lebih banyak salahnya daripada benarnya, dibaan bagus, tahlilan bagus, manaqiban bagus, semuanya bagus, tentu sesuatu yg bagus dan baik ada musuhnya, dan musuh kebaikan itu biarkan saja, sebagaimana istilah “ada anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu”

ALLAAHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD….!!!!!!
@ahmad wildan atau siapapun anda…,
kalaupun kamu memaksakan kehendak supaya orang lain mengikuti pola pikir kamu..,silakan introspeksi diri dulu,apakah sekiranya kamu dan
“thethek bengek” yang kamu anggap bid’ah/syirik tersebut bisa di terima orang lain..? dan apakah juga kamu akan mendapatkan gelar dan pengakuan bahwaapa yang ada dalam OTAK kamu itu benar…?
INGAT DAN SADAR…!!!!
kalau kamu tidak menemukan jalan kebenaran..,bukanlah kebenaran itu yang tidak ada..,akan tetapi ada 2 hal yang harus kamu koreksi :
1.kamu salah jalan dalam menemukan kebenaran tersebut,atau
2.otak kamu yang perlu di reparasi karena ERROR…!!!
[belum saatnya menjangkau keilmuan yang kamu belum saatnya masuk
ke OTAK KAMU..!!! ]
SEKIAN..,ALLAAHUMMA SHOLLI ‘ALA MUHAMMAD…!!!!!

saya JUGA SANGAT TIDAK SEPENDAPAT. Yang berhak menilai itu benar atau salah hanya Alloh semata. Apalagi menyangkut tentang masuk ato tidaknya seseorang ke neraka.
Orang yang merasa diri nya paling benar. BELUM TENTU BENAR DIMATA ALLOH SWT.. sebelum menulis seharusnya anda lebih matang-matang memikirkan apa yang anda tulis. Dan disertai dalil hadist dan Al Quran yang meyakinkan yang mendasar. supaya pernyataan anda ada dasar dan maknanya. bukan hanya pendapat anda.

Menurut saya, yang akan masuk neraka adalah orang yang mendustakan ajaran Al-quran dan sunnah.
Yang berpendapat mengenai bolehnya maulidan, tahlil, ziarah kubur, shalawat nariah dsb. menggunakan hujjah dari Al-quran maupun sunnah sehingga menganggapnya salah bisa jadi termasuk kaum yang mendustakan agama (Al-quran dan sunnah).
Adapun apabila ada yang menggunakan Al-quran dan sunnah hanya sebagai alat pembenaran tindakan mengada-ada, hal itu juga sesat. Hanya saja, bukankah lebih baik apabila kita berprasangka baik terhadap hujjah pihak yang membolehkan itu, mungkin mereka telah mengkajinya secermat mungkin, semikian pula pihak yang menyanggahnya.
Solusinya adalah bagi yang mau ikut pendapat salah satunya ya, silakan. hanya saja jangan sampai memberikan justifikasi kalau begini atau kalau tidak begitu maka masuk neraka. Hanya Alloh SWT yang berhak memastikan seseirang itu masuk neraka atau tidak. meskipun demikian bolehlah sebatas perdebatan, saling mengingatkan, tanpa harus menghakimi.

saudara luman terimakasih atas pemberitauannya. saya tau maksud anda itu baik. akan tetapi semua maksud baik belum tentu diterima dengan baik.
aku sendiri dari golongan keluarga NU. dan aku ikut pengajian tasyawuf.
jadi menurutku semua kembali pada diri kita masing-masing. yaitu bagaimana cara kita menanggapi apa yang dijalani dengan ihklas apa terpaksa. dan aku juga yakin semua agama pasti mengajarkan kebaikan apalagi agama islam.
bagaimana kita bisa di bilang seorang islam sejati kalau kita merasa diri kita yang benar dan meng hujat bahwa nu masuk neraka.
inget ayat yang artinya allah maha pengasih dan lagi maha penyayang. di situ kalau apa yang kita lakukan gak masalah asalkan kita selalu inget dengan syahadat. ( tiada tuhan selain allah.dan nabi muhammad adalah utusan allah).
jadi tolong jangan bilang nu masuk neraka? please…… karna masuk neraka atau surga itu urusan allah bukan urusan aliran atau seseorang spt anda. kalau anda mempunyai suatu aliran jalani dengan baik jangan menghina aliran lain karna kita belum tentu lebih baik dari pada mereka….
dan satuhal lagi jangan merasa diri anda yang paling benar karna kebenaran adalah milik allah dan manusia tempatnya kesalahan…..

Hehehe.. “….Lau KaanalBahru Midadallikalimaati Robbihi…………….”
Salut buat Salik2, keep learning bro..
*sok teu mode on awak dewe* ;)

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Gimana kalau…
“lanaa a’malunaa wa lakum a’maalukum”
Bagi kami amalan kami dan bagi kamu amalanmu. Biarlah kami beramal menurut amalan yang kami percayai.

Sudahlah, yang penting substansi dari hal tersebut lah yang diutamakan. Tega sekali, saudara sesama muslim divonis masuk neraka. Muslim apa itu? Kita sesama muslim ibarat satu tubuh, apa masih belum mengerti hadits Rasululah tsb.

Allah Maha Tahu apa yang diperbuat oleh hambanya, termasuk juga keikhlasan umatnya tsb. Allah akan melihat seseorang dari hatinya.

Coba cari (kalau mau bisa googling) dengan keyword nama kitab tsb (Minhajul Firqoh An-Najiyah Wat Thaifah Al Manshurah), kita tinggalkan kefanatikan, kita telaah kitab tersebut dengan hati yang bersih. Setelah Anda mengerti, silakan Anda simpulkan sendiri.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

MASUK NERAKA ATO SURGA ITU TERSERAH AMA UMAT NYA MAS..YG MENILAI ALLOH KELAK..JANGAN JUGDE NU MASUK NERAKA..SEANDAINYA ADA 1 JUTA ORG DI MUKA BUMI INI PEMIKIRANYA KAYA GINI,ISLAM LENYAP DI MUKA BUMI INI..MAKANYA CARI KERJA YA..JADI GAK KACAU PEMIKIRANYA..JANGAN SOK BELA ISLAM..ISLAM ADALAH AGAMA TERBAIK YG ADA DI MUKA BUMI INI,,Krn SAYA BARU MASUK ISLAM..5 TAHUN SAYA MEMPELAJARI ISLAM SERBELUMNYA..ISLAM TERNYATA SANGAT CANTIK..SUBHANALLAH…AMPUNI DOSA2KU DARI MASA LALUKU YA ALLOH..SEANDAINYA YANG MENGATAKAN KAUM NU MASUK NERAKA,TOLONG AMPUNI DOSA2NYA YA ALLOH…

Setuju bang Jack. Salam damai bang :)

Islam adalah rahmat seluruh alam, bukan rahmat bagi muslim. Bila memang islam, maka dia seperti air, yang akan menyejukan hati, bukan minyak yang membakar amarah. Mari kita beribadah dengan cara masing-masing karena kita semua tahu bahwa semua akan kembali kepada Allah Yang RahmatNya meliputi segala sesuatu. Jika tidak demikian, maka tidak ada kabar gembira sama sekali. Bila kita diperkenankan melihat kebenaran kita, pastilah Neraka menjadi rahmat yang agung, walaupun kita sendiri tidak mampu menahan siksa neraka, namun kemana lagi kita akan kembali? Bahkan seorang Syaikh pernah berkata, Bila bukan karena rahmatMu, tapi karena keadilanMu Ya Tuhanku, hanya nerakalah tempat yang pantas bagiku. Karena Allah dikenal pula alHamid, yang mengajarkan kita Alhamdulillah, melalui rasulNya, Muhammad al Mustofa.

Assalaamu’alaikum,, Subhanallah,, subhanallah.. tapi amalan ana adalah..:)

أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Sekedar catatan untuk penulis dan para komentator yang sepaham dengan penulis, Pahamilah Islam dengan benar dan yakinlah bahwa yang menentukan syurga dan neraka tetaplah tuhan, bahkan keimanan kita tidak hanya bisa diukur oleh bungkusnya (ubudiyah/muamalah) saja. kebenaran haqiqi tetap di tangan tuhan. antum memahami islam begitu keras mungkin hanya secara tekstualnya saja, atau bahkan al-qur’an saja. mereka para kyai dan ulama-ulama yang lain memahaminya secara kontekstual sehingga terurai nan indah. yang jelas, kita jangan menabur benih kebencian antar sesama, terlebih muslim dengan muslim. simplenya, tulisan yang antum buat ini jelas sangatlan provokatif.. jika ditarik lebih panjang, anda ini teroris.

Yg punya pemikiran Org2 NU masuk neraka krn hal2 diatas sungguh dia telah melampaui batas sebagai makhluk dan bertindak mendahului keputusan Allah SWT.

di buka lowongan NERAKA GRATIS DG syarat sbgai berikut;
1-mendukung sipenulis yg ahli ghibah
2-mmbrikan komen dukungan pd si penulis
LOWONGAN INI 1×24 jam

Terserah anda memilih…silakan dukung sipenulis mummpung gratis masuk dalam NERAKA….

emangnye sorga punya mbahmu….!

pemikiran yang sangat dangkal…kalo mau nulis n menjistify jangan pakai akal sendiri coy…. anta koplak….

masyaalloh…pinternya..admin memprovokasi manusia, ini karena kejahilan admin apa karena kebencian kepada orang2 yg berpegang pada sunnah???

@ibllis bayangan, memangya anta sdh pasti masuk surga,kita itu masuk neraka sdh pasti mas hanya alloh dan rosulnya yang bisa menolong kita…..nadzor…nadzor…. nadzor……………..hai orang2 yang punya akal.

mas abimanyu, ahlus sunnah waljamaah tidak memvonis seorangpun dari ahli kiblat

mas abimanyu….., ahlus sunnah waljamaah tidak memvonis seorangpun dari ahli kiblat masuk surga atau neraka, meskipun orangnya dalam kesesatan, karena urusan surga dan neraka adalah hak Alloh. sedangkan menghukumi suatu amalan itu sesat atau tidak itu persoalan didunia dan sebagai timbangannya adalah kitabullah dan as sunnah yg dipahami generasi2 awal.

ketika Rosulloh mengatakan “……setiap kesesatan itu dineraka” bukan berarti memvonis ‘orangnya’ masuk neraka. Sangat berbeda dengan orang yang mengatakan SETIAP ORANG YANG SESAT DI NERAKA inilah yang tidak boleh!! sebab bisa jadi ‘orang yang sesat’ karena taubatnya atau mempunyai kebaikan yg besar ketika di dunia sehingga diampuni dosa2nya oleh Alloh

persoalan ini dipahami salah oleh admin. sehingga dikatakan oleh admin bahwa penulis buku di atas telah memvonis orang2 NU musuk neraka.

semoga admin menyadari hal ini.

assalamualaikum…
Bagi sahabat – sahabat yang suka sholawat ayo sholawat bareng yang pinting antar umat islam akur jangan saling menyalahkan cz hanya ALLOH YANG MAHA BENAR…kita semua gk tau apakah ibadah kita ditrima or tidak yang pinting kita brusaha mndekatkan diri pada ALLOH dengan keyakinan qita cz perbedaan itu anugrah…ALLOHUMMA SHOLI’ALA MUHAMMAD………..!!!!
wassalam….

kang ahmad saya setuju mari kita banyak banyak bersholawat, karena Alloh dan RosulNya memerintahkan. tapi jangan sholawat nariyah ya………bahaya. yang aman sholawat yang diajarkan Rosululloh aja ya…pasti ketrimanya, pasti disukai Alloh, sekalian menhidupkan tuntunan Rosul kita yang kita cintai bersama ok…………

mas mempelajari islam jgn cm tekstual cz itu menjerumuskan…..baru tau 1 hadist dah sesumbar paling benar…kebenaran milik Allah..
wassalam

kang waras…kasih contohnya donk ‘mempelajari islam cuma tektual’ itu seperti apa ya???

klau mau membid’ahkan orang anda hafalkan dulu min 2000 hadist shokheh jgn asal ngomong…

mas amin… untuk menghukumi sholawat nariyah yang biasa diamalkan orang2 NU dan orang2 sufi itu bid’ah atau tidak masak harus menghafal 2000 hadits dulu ? bisa pusing donk mas amin……

Hukum merayakan hari ulang tahun.

http://cintatakutdanharap.blogspot.com/2010/12/hukum-merayakan-hari-ulang-tahun.html

oooo…situsnya orang pro bid’ah hasanah…….bukan pro sunnah

Bid’ah hasanah adalah pembagian yg dilakukan oleh imam mujtahid Asy Syafi’ie. Senang dimasukkan menjadi pendukung imam Syafi’ie dan berduka jika dimasukkan ke dalam pendukung Wahhabi Mujassimah Musyabbihah.

Alhamdulillah, berarti pro dengan imam Syafi’ie yg telah mengkategorikan bid’ah menjadi dua: bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah. Wahhabi dan para pengikut butanya mengklaim pengikut salaf menolak pengkategorian ini. Imam Izz Abd Salam bahkan membagi bid’ah menjadi 5. Imam Syafi’ie, juga imam Izz Abd Salam adalah imam Ahlus Sunnah. Wahhabi telah menyelisihinya.

AL-ALBANI MENGHUKUM NABI MUHAMMAD SEBAGAI SESAT DARI KEBENARAN

Syekh Albani dalam fatwa Albani halaman 432 menyebutkan :

” Saya katakan kepada mereka yang bertawassul dengan wali dan orang shaleh bahawa saya tidak ragu sama sekali menamakan dan menghukum mereka sebagai SESAT dari kebenaran, tidak ada masalah untuk menghukum mereka sebagai sesat dari kebenaran dan ini sesuai dengan penghukuman Allah ke atas NABI MUHAMMAD sebagai SESAT DARI KEBENARAN sebelum nuzul wahyu Ad-Dhuha ayat 7″.

Apakah ada yang bisa menjelaskan, mengapa Seykh Nasiruddin Albani berani menyatakan dalam statementnya bahwa Nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran.
Apakah umat Islam tidak tergerak untuk merespon fatwa tersebut.

Tolong pencerahannya donk…!!!!

Kang Kabayan…Para penentang dakwah Ahlussunnah menganggap Syaikh alAlbany sebagai Imam Salafy yang secara fanatik diikuti secara membabi buta. Padahal tidak demikian. Beliau adalah salah satu dari sekian banyak Ulama’ Ahlussunnah, yang semua Ulama’ tersebut diperlakukan sama oleh Ahlussunnah dalam hal: dihormati karena keilmuannya tanpa melampaui batas, diikuti nasehat dan bimbingannya selama sesuai dengan Sunnah Nabi, dan dijelaskan ketergelinciran atau kesalahan ijtihadnya –jika diperlukan- dalam beberapa hal dengan tetap memperhatikan adab dan mendoakan rahmat bagi beliau. Sebagai manusia, beliau tidaklah luput dari kesalahan. Sebagaimana ucapan Imam Malik:
كل أحد يؤخذ من قوله، ويترك، إلا صاحب هذا القبر صلى الله عليه وسلم
“Setiap orang ucapannya bisa diambil atau ditinggalkan, kecuali orang yang ada di dalam kubur ini (sambil mengisyaratkan pada kuburan Nabi) shollallaahu ‘alaihi wasallam (Lihat Siyaar A’laamin Nubalaa’ karya al-Hafidz Adz-Dzahaby juz 8 halaman 93).
Ya, setiap orang selain Nabi Shollallaahu ‘alaihi wasallam tidaklah ma’shum (terjaga) dari kesalahan. Hanya Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam sajalah yang petunjuknya dalam masalah Dien tidak bisa tidak harus diikuti. Sabda beliau tidak bisa ditolak. Beda dengan manusia lain. Manusia lain, siapapun orangnya, setinggi apapun tingkat keilmuannya, ada kalanya benar, ada kalanya salah.
Demikian juga Syaikh al-Albany. Ahlussunnah tidaklah fanatik secara membabi buta terhadap hasil telaah hadits yang beliau lakukan. Jika hasil penelitian Syaikh al-Albany terhadap suatu hadits ternyata bertentangan dengan kajian Ulama’ Ahlussunnah lain yang pendapatnya lebih kuat, ditopang hujjah yang lebih kokoh, maka pendapat Ulama’ Ahlussunnah itulah yang harus diikuti.

kang Kabayan..anda salah memahami perkataan syekh Albani, aku rasa anak SD pun tak akan meneliai isi kalimat tersebut sebuah hujatan /pelecehan kepada Rosulloh. beliau hanya mengisyaratkan bahwa orang yang suka bertawasul degan kuburan orang2 sholeh dan kuburan wali adalah orang yang sesat, maksudnya orang belum menemukan kebenaran,dan hal ini digambarkan oleh beliau seperti ketika Rosulloh belum mendapatkan petunjuk dari Alloh.
Dan yang dimaksud sesat oleh Alloh dalam surat Ad-Dhuha ayat 7 bukan seperti sesatnya orang2 musyrik di jaman jahiliyah yaitu dengan menyembah berhala, judi atau main perempuan seperti yang anda bayangkan. tapi sesat dalam arti belum menemukan kebenaran yang tidak bisa dicapai dengan akal yaitu petunjuk Alloh.

kalau anda mengingkari bahwa Nabi kita sebelum terunnya wahyu adalah orang sesat (belum mendapat petunjuk) sama saja anda juga mengingkari Al quran atau khabar dari Alloh swt. Betapa bahayanya orang yang mengingkari isi Al quran

Tuduhan semacam ini juga dialamatkan kepada beliau bahwa beliau mengkafirkan Imam Bukhori. ini bisa anda lihat di : http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2010/10/20/bantahan-6-kedustaan-tuduhan-al-albany-mengkafirkan-al-bukhari/

semoga kita terhindar dari ikut ikutan memfitnah ulama.

Syaikh Al Albany yang digelari Imam Bukhary abad ini ya?
Loh kok bertentangan dengan pemahaman ulama Ahlus Sunnah terdahulu?
Sunatulloh, Wahhabi bersebrangan dengan Ahlus Sunnah, meski mereka menisbahkan diri sebagai Ahlus Sunnah.”

perasaan ini gambarnya orang syiah….???!!! apa iya mas sinnus syiah ??? setahu saya syiah itu gak demen janggut tapi demennya ibadah di sisi kuburan wali kayak orang sufi.

pak sinnus ini aneh…menisbatkan diri ahlus sunnah tapi kok ra demen janggut ya…,paling celananya juga isbal, padahal melihara janggut = PERINTAH, isbal = LARANGAN. tapi semoga orangnya yang sebenarnya ahli pengamal sunnah. amiinn……

1. Beragama itu tidak mengandalkan perasaan mbak. Hujjah itu landasan yg kuat bukan rasa
2. Ibadah di sisi kubur seperti orang Sufi? Wah panjang nih babnya mbak. Belajar dulu deh. Nanti memberi fatwa dengan perasaan lagi. Capek deh

Jangan sibuk bahas kulit kacang mbak.

Mbak Aris tahu Gravatar ndak? Pasti ndak paham. Belajar lagi ya. Fokus ya mbak. Belajar Wahhabi jangan nanggung mbak.

Mari kita diskusi dengan baik:
Beberapa ayat dalam Al Qur’an yang berbicara tentang Tawassul :

1. Tawasul pengikut nabi Isa a.s.: Ali Imran 49

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka) : ‘Sesungguhnya aku (Nabi Isa as.) telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung, Kemudian aku meniupnya, Maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman’ ”.

Ali Imran ayat 49

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa para pengikut Isa al-Masih ber-tawassul kepadanya untuk memenuhi hajat mereka, termasuk menghidup- kan orang mati, menyembuhkan yang berpenyakit sopak dan buta. Tentu, mereka bertawassul kepada nabi Allah tadi bukan karena mereka meyakini bahwa Isa al-Masih memiliki kekuatan dan kemampuan secara independent dari kekuatan dan kemampuan Maha Sempurna Allah swt.., sehingga tanpa bantuan Allah-pun Isa mampu melakukan semua hal tadi.

Tetapi mereka meyakini bahwa Isa al-Masih dapat melakukan semua itu (memenuhi berbagai hajat mereka) karena Nabi Isa as. memiliki ‘kedudukan khusus’ ( jah /wajih ) di sisi Allah, sebagai kekasih Allah, sehingga apa yang di inginkan olehnya niscaya akan dikabulkan atau diizinkan oleh Allah swt. Ini bukanlah tergolong syirik, karena syirik adalah; Meyakini kekuatan dan kemampuan Isa al-Masih (makhluk Allah) secara independent (merdeka) dari kekuatan dan kemampuan Allah”. Sudah tentu, muslimin sejati selalu yakin dan percaya bahwa semua kekuatan dan kemampuan yang dimiliki oleh makhluk Allah swt. tidak akan terjadi kecuali dengan izin Allah swt.. Namun aneh jika kelompok Wahabi langsung menvonis musyrik bagi pelaku tawassul/istighotsah kepada para kekasih Ilahi semacam itu.

Referensi:

* K.H. Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama volume 1, Penerbit Pustaka Tarbiyah Jakarta, 2003, bab”Masalah Tawassul Dalam Mendoa”

2. Dalam surat Yusuf ayat 97, Allah swt.. berfirman:

“Mereka berkata: ‘ Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)’” .

Jika kita teliti dari ayat ini maka akan dapat diambil pelajaran bahwa, para anak-anak Ya’qub as. mereka tidak meminta pengampunan dari Ya’qub sendiri secara independent tanpa melihat kemampuan dan otoritas mutlak Ilahi dalam hal pengampunan dosa. Namun mereka jadikan ayah mereka yang tergolong kekasih Ilahi (nabi) yang memiliki kedudukan khusus di mata Allah sebagai wasilah (sarana penghubung) permohonan pengampunan dosa dari Allah swt.. Dan ternyata, nabi Ya’qub pun tidak menyatakan hal itu sebagai perbuatan syirik, atau memerintahkan anak-anaknya agar langsung memohon kepada Allah swt., karena Allah Maha mendengarkan segala per- mohonan dan do’a, malahan nabi Ya’qub as menjawab permohonan anak-anaknya tadi dengan ungkapan:

“Ya’qub berkata: ‘ Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang’ ”(QS Yusuf: 98).

3. Mohon ampun melalui Nabi Muhammad s.a.w : An Nisa’ 64

“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhammad saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang ”.

Dari ayat di atas juga dapat diambil pelajaran yang esensial yaitu bahwa, Rasululah saw. sebagai makhluk Allah yang terkasih dan memiliki keduduk- an ( jah/maqom/wajih ) yang sangat tinggi di sisi Allah sehingga diberi otoritas oleh Allah swt.untuk menjadi perantara (wasilah) dan tempat meminta pertolongan ( istighotsah ) kepada Allah swt..

Semua ahli tafsir al-Qur’an termasuk Mufasir Salafi/Wahabi setuju bahwa ayat An-Nisa: 64 itu diturunkan ketika suatu saat sebagian sahabat melakukan kesalahan. Yang kemudian mereka sadar atas kesalahannya dan ingin bertaubat. Dan mereka meminta ampun secara langsung kepada Allah, tapi lihat bagaimana Allah swt. telah meresponnya:

* Allah menolak untuk menerima permohonan ampun secara langsung, Dia memerintahkan mereka untuk terlebih dahulu mendatangi Rasulallah saw dan kemudian memintakan ampun kepada Allah swt, dan Rasulallah saw. juga diminta untuk memintakan ampun buat mereka. Dengan demikian Rasulallah saw. bisa dijuluki sebagai Pengampun dosa secara kiasan /majazi sedangkan Allah swt. sebagai Pengampun dosa yang hakiki /sebenarnya.
* Allah memerintahkan sahabat untuk bersikap seperti yang diperintahkan (menyertakan Rasulallah saw. dalam permohonan ampun mereka) hanya setelah melakukan ini mereka akan benar-benar mendapat pengampunan dari Yang Maha Penyayang.

Lihat firman Allah swt. itu malah Dia yang memerintahkan para sahabat untuk minta tolong pada Rasulallah saw. untuk berdo’a pada Allah swt. agar mengampunkan kesalahan-kesalahan mereka, mengapa para sahabat tidak langsung memohon pada Allah swt.? Bila hal ini dilarang maka tidak mungkin Allah swt. memerintahkan pada hamba-Nya sesuatu yang tidak diizinkan-Nya ! Dan masih banyak lagi firman Allah swt. meminta Rasul-Nya untuk memohonkan ampun buat orang lain umpamanya:

* Ali Imran:159: ” Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka …”
* An Nisaa':106: ” dan mohonlah ampun kepada Allah ”
* QS An Nuur :62: “… dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah ”
* Muhammad :19: ” mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan ”
* Al Mumtahanah :12: ” dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka ”
* Al Munaafiquun: 5. “.. Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu ” .

Referensi:

* K.H. Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama volume 1, Penerbit Pustaka Tarbiyah Jakarta, 2003, bab “Masalah Tawassul Dalam Mendoa”

4. Tawasul Nabi Sulaiman : An Naml 38-40


“Sulaiman berkata, ‘Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin berkata, ‘Aku akan datangkan kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu, sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya’. Seseorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab berkata, ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’ Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak dihadapannya, ia pun berkata, ‘lni termasuk kurnia Tuhanku.’ ” (QS. an-Naml: 38 – 40).

Firman Allah swt. itu menerangkan bahwa Nabi Sulaiman as. ingin mendatangkan singgasana Ratu Balqis dari tempat yang jauh dalam waktu yang cepat sekali. Hal ini merupakan kejadian yang luar biasa, sehingga Nabi Sulaiman as. dengan pengetahuan yang cukup luas mengatakan bahwa hal ini tidak mungkin terjadi kecuali dengan kekuasaan Allah. Dan pada saat itu Nabi Sulaiman as. tidak minta tolong langsung pada Allah swt. melainkan minta tolong kepada makhluk Allah swt. untuk memindahkan singgasana Ratu Balqis tersebut. Semua ini ialah dalil yang menunjukkan bahwa minta tolong pada orang lain tidak menafikan ketauhidan kita kepada Allah swt.. baik itu dilakukan secara ghaib maupun secara alami . Syirik adalah urusan hati.

Jika Nabi Sulaiman as. meminta perkara ghaib ini dari para pengikutnya, dan jika seorang laki-laki yang mempunyai sedikit ilmu dari al-Kitab mampu melaksanakan permintaan itu, maka tentu kita terlebih lagi boleh meminta kepada orang yang mempunyai seluruh ilmu al-Kitab yaitu Rasulallah saw. dan Ahlu-Baitnya. Begitu juga menurut para ahli tafsir yang mendatangkan singgasana ratu Balqis itu jelas bukan Nabi Sulaiman sendiri tetapi orang lain, karena dalam ayat ini Nabi Sulaiman bertanya kepada ummatnya dan salah satu dari ummatnya yang mempunyai ilmu sanggup mendatangkan singgasana itu dengan sekejap mata. Dengan demikian seorang yang mempunyai ilmu ini bisa dijuluki juga sebagai Penolong/Pemindah singga-sana Ratu Balqis secara kiasan sedangkan Penolong/Pemindah yang hakiki /sebenarnya ialah Allah swt..

Sama halnya orang yang meminum obat untuk menyembuhkan suatu penyakit. Obat ini bisa dijuluki secara kiasan /majazi sebagai Penyembuh Penyakit tersebut sedangkan Penyembuh Penyakit yang hakiki /sebenarnya adalah Allah swt.

Referensi:

* K.H. Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama volume 1, Penerbit Pustaka Tarbiyah Jakarta, 2003, bab “Masalah Tawassul Dalam Mendoa”

5. Tawasul Nabi Adam a.s : Al Baqarah 37

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang ”. (Al-Baqarah :37)

Menurut ahli tafsir kalimat-kalimat dari Allah yang diajarkan kepada Nabi Adam as. pada ayat diatas agar taubat Nabi Adam as. diterima ialah dengan menyebut dalam kalimat taubatnya bi-haqqi (demi kebenaran) Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Makna seperti ini bisa kita rujuk pada kitab:

* Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Al-Maghazili As-Syafi’i halaman 63, hadits ke 89;
* Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusui Al-Hanafi, halaman 97 dan 239 pada cet. Istanbul,. halaman 111, 112, 283 pada cet. Al-Haidariyah;
* Muntakhab Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muntaqi, Al-Hindi (catatan pinggir)
* Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, halaman 419;
* Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’i, jilid 1 halaman 60;
* Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 7, halaman 300 dan Ihqagul Haqq, At-Tastari jilid 3 halaman 76.
* Pendapat Imam Jalaluddin Al-Suyuthi waktu menjelaskan makna surat Al-Baqarah :37 dan meriwayatkan hadits tentang taubatnya nabi Adam as. dengan tawassul pada Rasulallah saw.

Nabi Adam as. , manusia pertama, sudah diajarkan oleh Allah swt. agar taubatnya bisa diterima dengan bertawassul pada Habibullah Nabi Muhammad saw., yang mana beliau belum dilahirkan di alam wujud ini. Untuk melengkapi makna ayat diatas tentang tawassulnya Nabi Adam as. ini, berikut ini beberapa hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan masalah itu:

Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak/Mustadrak Shahihain jilid 11/651 mengetengahkan hadits yang berasal dari Umar Ibnul Khattab ra . (diriwayatkan secara berangkai oleh Abu Sa’id ‘Amr bin Muhammad bin Manshur Al-‘Adl, Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Handzaly, Abul Harits Abdullah bin Muslim Al-Fihri, Ismail bin Maslamah, Abdurrahman bin Zain bin Aslam dan datuknya) sebagai berikut, Rasulullah saw.bersabda:

“Setelah Adam berbuat dosa ia berkata kepada Tuhannya: ‘Ya Tuhanku, demi kebenaran Muhammad aku mohon ampunan-Mu’. Allah bertanya (sebenarnya Allah itu maha mengetahui semua lubuk hati manusia, Dia bertanya ini agar Malaikat dan makhluk lainnya yang belum tahu bisa mendengar jawaban Nabi Adam as.) : ‘Bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal ia belum kuciptakan?!’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh kedalam jasadku, aku angkat kepalaku. Kulihat pada tiang-tiang ‘Arsy termaktub tulisan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak saat itu aku mengetahui bahwa disamping nama-Mu, selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai’. Allah menegaskan : ‘Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai. Berdo’alah kepada-Ku bihaqqihi (demi kebenarannya) , engkau pasti Aku ampuni. Kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Aku ciptakan’ “.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dan dibenarkan olehnya dalam Khasha’ishun Nabawiyyah dikemukakan oleh Al-Baihaqi didalam Dala ‘ilun Nubuwwah, diperkuat kebenarannya oleh Al-Qisthilani dan Az-Zarqani di dalam Al-Mawahibul Laduniyyah jilid 11/62, disebutkan oleh As-Sabki di dalam Syifa’us Saqam, Al-Hafidz Al-Haitsami mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam Al-Ausath dan oleh orang lain yang tidak dikenal dalam Majma’uz Zawa’id jilid V111/253.

Sedangkan hadits yang serupa/senada diatas yang sumbernya berasal dari Ibnu Abbas hanya pada nash hadits tersebut ada sedikit perbedaan yaitu dengan tambahan:

‘Kalau bukan karena Muhammad Aku (Allah) tidak menciptakan Adam, tidak menciptakan surga dan neraka’.

Mengenai kedudukan hadits diatas para ulama berbeda pendapat. Ada yang menshohihkannya, ada yang menolak kebenaran para perawi yang meriwayatkannya, ada yang memandangnya sebagai hadits maudhu’, seperti Adz-Dzahabi dan lain-lain, ada yang menilainya sebagai hadits dha’if dan ada pula yang menganggapnya tidak dapat dipercaya. Jadi, tidak semua ulama sepakat mengenai kedudukan hadits itu.

Referensi

* A. Shihabuddin, Telaah Kritis Atas Doktrin Faham Salafi / Wahabi, bab 9 mengenai Wasithah/Tawassul dan Tabarruk

Saya tidak mengerti jalan pikiran pengikut buta Wahhabi mengenai akidah kaum muslimin. Su ‘udzon yang menetapkan bahwa muslimin jatuh kepada perkara yang tidak sederhana : SYIRIK!

Apakah mereka sudah membelah dada kaum muslimin bahwa klaim mereka terhadap su ‘udzon mereka mengenai akidah muslimin terbukti?

Wahhabi dan para muqollid butanya bersikieras bahwa muslimin telah meyakini terhadap kalimat2 yang terdapat dalam shalawat nariyah sebagai kalimat ketuhanan dan dengannya muslimin tergelincir ke lembah kesyirikan atas nama Tawassul. Masya Alloh!!!

Berkali2 dijelaskan kepada wahhabiyyun yang keras kepala ini bahwa muslimin hanya bertauhid kepada Alloh SWT. Tawassul kepada nabi Muhammad SAW semata sebatas hak beliau di sisi Alloh SWT, bukan menjadikannya Tuhan yang memiliki kekuasaan serta kekuatan yang sebanding atau menandingi Alloh SWT. Masya Alloh, amat sempit dan buruk tuduhan pengikut Wahhabi ini.

Hakikat dari semua kalimat yang indah dalam shalawat nariyah ini hakikatnya adalah kembali kepada Alloh SWT. Muslimin yang bersalawat nariyah tidak sedang menyembah Rasululloh SAW.
Sudah diberikan perumpamaan yang sangat gamblang ketika kita berobat ke dokter. Mereka yang waras tidak akan berprasangka buruk bahwa orang yang berobat ke dokter sedang melakukan perbuatan syirik lantaran meminta tolong kesembuhan kepada manusia (dokter). Hakikatnya permintaan tolong dan permohonan kesembuhan hanya hak dan wewenang Alloh SWT. Sedangkan dokter dan obat adalah perantara menuju kesembuhan, BUKAN HAKIKAT YANG MENYEMBUHKAN!

Oleh karenanya Gus Mus berseloroh, kalo ke dokter jangan tanya ke Wahhabi, mereka akan dengan mudah menuduh syirik!

Pernah pula disampaikan ucapan mulia imam Syafi’ie :
“Kalau bukan KARENA -imam- Malik dan -imam- Sufyân ibnu ‘Uyainah, sungguh akan HILANG ilmu negeri Hijaz.”(Tarikh Al Kamal,11/189)

Bukan kah yang menjaga ilmu itu hakikatnya Alloh SWT? Sungguh imam Syafi’ie lebih paham mengenai hakikat dari pada Wahhabi dan para muqollidnya.

kang sinnus, K.H sirajuddin abbas salah dalam menilai aqidah salafi / ‘wahabi’ tentang tawasul. Dan anda sendiri mungkin karena kebencian anda kpd salafi / ‘wahabi’ sehingga membabi buta ikut ikutan menuduh Ahlus sunnah manhaj salaf ‘wahabi’ menafikan tawasul secara mutlak. Seharusnya yang anda lakukan meneliti dulu dengan membaca buku buku atau situs situs orang ‘wahabi’ salafi tentang tawasul.

Ahlussunnah manhaj salaf ‘wahabi’ meyakini adanya tawassul yang disyariatkan, seperti tawassul dengan menyebut Asma’ dan Sifat Allah, tawassul dengan menyebutkan kelemahan dirinya, tawassul dengan melakukan amal sholih, atau meminta kepada orang sholih yang masih hidup untuk mendoakannya.

Hal yang diingkari oleh Ahlussunnah ‘wahabi’ adalah tawassul yang tidak disyariatkan seperti tawassul terhadap kedudukan (jah) orang-orang sholih yang sudah meninggal, Kuburankuburan wali dll. Tawasul2 seperti inilah yang sering dilakukan orang orang NU. Sudah hal umum setiap ada kuburan yang dikeramatkan pastilah ramai orang NU mendatanginya menjadikan wasilah antara dirinya dan Alloh dalam berdoa.
Pada hal Alloh melarang beribadah disisi kuburan hal ini banyak dikhabarkan dihadits hadits shohih tentang tercelanya beribadah disisi kubur.
Hadits ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhum :
عن عائشة وعبد الله بن عباس قالا: لما نزل رسول الله صلى الله عليه وسلم، طفق يطرح خميصة له على وجهه، فإذا اغتم بها كشفها عن وجهه، فقال وهو كذلك: (لعنة الله على اليهود والنصارى، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد). يحذر ما صنعوا.
Dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas, mereka berdua berkata : Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kesehatannya menurun pada saat-saat akhir hidupnya, beliau menutupkan kain khamishah-nya (selimut wolnya) pada wajahnya, namun beliau melepas kain tersebut dari wajahnya ketika napasnya semakin terganggu seraya bersabda : “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nashrani dimana mereka telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid”. Aisyah berkata : “Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 435 & 436, Muslim no. 531, Ibnu Hibban no. 6619, Abu ‘Awaanah 1/399, An-Nasa’i 1/115; dan yang lainnya].

Al-Haafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang hadits di atas :
وكأنه صلى الله عليه وسلم علم أنه مرتحل من ذلك المرض ، فخاف أن يعظم قبره كما فعل من مضى ، فلعن اليهود والنصارى إشارة إلى ذم من يفعل فعلهم
“Seakan-akan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengetahui bahwa beliau akan wafat melalui sakit yang beliau derita, sehingga beliau khawatir kubur beliau akan diagung-agungkan seperti yang telah dilakukan orang-orang terdahulu. Oleh karena itu, beliau melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai isyarat yang menunjukkan celaan bagi orang yang berbuat seperti perbuatan mereka” [Fathul-Baariy, 1/532].

Kang sinus tahu apa yang dimaksud menjadikan kuburan sebagai masjid? Tentu anda tahu, yaitu menjadikan kuburan sebagai tenpat ibadah seperti sholat, baca Al quran, dzikir dll,(perkara ini dilarang) kecuali ibadah yang disyareatkan di kuburan yaitu mendoakan si mayit.

Membaca Al quran yang dilakukan di kuburan juga dilarang karena Rosulloh bersabda “janganlah kamu jadikan rumahmu seperti kuburan, sesungguhnya syetan akan lari dari rumah yang dibacakan surat al baQoroh” (HR. muslim).

Dari sabda beliau ini ada pesan jelas terlarangnya membaca al quran di kuburan. Hal ini sangat berbeda apa yang dilakukan orang orang NU, mereka tidak saja membaca al quran dan dzikir tapi ada yang langsung berdoa kepada si mayit, mencium nisannya (demi alloh saya pernah melihat sendiri perkara ini), dan mengagung agungkannya dengan berlebihan. Lihatlah kuburan2 yang dianggap wali oleh mereka, mereka membangunya bagai istana padahal ini sangat menyelisihi perintah Rosulloh.

Dari Ali r.a berkata pada sahabatnya “ aku tugaskan kamu seperti rosulloh menugaskan aku, janganlah kuburan yang ditinggikan kamu tinggalkan kecuali kamu RATAKAN dan janganlah kamu tinggalkan patung kecuali kamu hancurkan” (HR. muslim).

Kang sinus ayat ayat al quran yang diambil Ky sirajuddin abbas bukanlah dalil bolehnya tawasul dengan jah orang sholeh. Ayat al qurannya sih betul, tapi cara pendalillannya yang salah.

Padahal di Al quran jelas2 Rosulloh saw mengingkari bahwa beliau mampu mendatangkan manfaat dan mudhorot.
“Katakanlah: Aku tidak berkuasa atas manfaat dan madharat bagi diriku sendiri kecuali sebatas apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku memang mengetahui perkara ghaib maka aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak ada keburukan yang akan menimpaku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raaf)

Jelas sekali ketika masih hidupnya saja Rosulloh tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudhorot apalagi setelah matinya. Nabi saja ketika hidup maupun matinya saja tidak bisa mendatangkan manfaat maupun mudhorot apalagi hanya kelasnya kyai, syekh, wali atau lainnya. cobalah ini fikirkan saudaraku…….

Kang sinus…cara pendalilan kh sirajudin abbas dalam melegalkan tawassul yang tak disyareatkan sama dengan ‘salafitobat’. Makanya saya pandang saya tak perlu menulis untuk menjawab syubhat2 kh sirajudin abbas karena sudah banyak sekali tulisan ustad2 ‘wahabi’ yang membantah syubhat semacam itu. Seperti dibawah ini :
1. http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2010/11/06/bantahan-12-hadits-atsar-lemah-dan-palsu-tentang-tawassul-i/
2. http://bantahansalafytobat.wordpress.com/2010/11/19/bantahan-14-hadits-atsar-lemah-dan-palsu-tentang-tawassul-ii/
3. http://www.scribd.com/doc/16797597/Bantahan-Terhadap-Situs-Dan-Blog-Penentang-Manhaj-Salafy-Ahlussunnah-Bagian-I-V

semoga bermanfaat bagi yang mencari kebenaran…..

pak Ahmad Widan : semoga kita selalu dirahmati Alloh SWT, masih banyak yang butuh ilmu anda, tugas anda untuk menunjukkan yang benar disertai dalil ( Qur’an dan Hadist ) yg shohih sudah anda lakukan, insyaAlloh Alloh memberkahi anda dan kita semua.

pak sinnus ini hanya copas, tapi juga sebagai bantahan bolehnya sholawat nariyah yang anda kutip dari kh sirajuddin abbas.

Sumber : http://muslim.or.id/aqidah/shalawat-nariyah.html

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Shalawat Nariyah cukup populer di banyak kalangan dan ada yang meyakini bahwa orang yang bisa membacanya sebanyak 4444 kali dengan niat menghilangkan kesulitan-kesulitan atau demi menunaikan hajat maka kebutuhannya pasti akan terpenuhi. Ini merupakan persangkaan yang keliru dan tidak ada dalilnya sama sekali. Terlebih lagi apabila anda mengetahui isinya dan menyaksikan adanya kesyirikan secara terang-terangan di dalamnya. Berikut ini adalah bunyi shalawat tersebut:”

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذي تنحل به العقد وتنفرج به الكرب وتقضى به الحوائج وتنال به الرغائب وحسن الخواتيم ويستسقى الغمام بوجهه الكريم وعلى آله وصحبه عدد كل معلوم لك

Allahumma sholli sholaatan kaamilatan Wa sallim salaaman taaman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju Wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu bi wajhihil kariimi, wa ‘alaa aalihi, wa shahbihi ‘adada kulli ma’luumin laka

Artinya:

“Ya Allah, limpahkanlah pujian yang sempurna dan juga keselamatan sepenuhnya, Kepada pemimpin kami Muhammad, Yang dengan sebab beliau ikatan-ikatan (di dalam hati) menjadi terurai, Berkat beliau berbagai kesulitan menjadi lenyap, Berbagai kebutuhan menjadi terpenuhi, Dan dengan sebab pertolongan beliau pula segala harapan tercapai, Begitu pula akhir hidup yang baik didapatkan, Berbagai gundah gulana akan dimintakan pertolongan dan jalan keluar dengan perantara wajahnya yang mulia, Semoga keselamatan juga tercurah kepada keluarganya, dan semua sahabatnya sebanyak orang yang Engkau ketahui jumlahnya.”

Syaikh berkata:

“Sesungguhnya aqidah tauhid yang diserukan oleh Al-Qur’an Al Karim dan diajarkan kepada kita oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kepada setiap muslim untuk meyakini bahwa Allah semata yang berkuasa untuk melepaskan ikatan-ikatan di dalam hati, menyingkirkan kesusahan-kesusahan, memenuhi segala macam kebutuhan dan memberikan permintaan orang yang sedang meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu seorang muslim tidak boleh berdoa kepada selain Allah demi menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meskipun yang di serunya adalah malaikat utusan atau Nabi yang dekat (dengan Allah). Al-Qur’an ini telah mengingkari perbuatan berdoa kepada selain Allah baik kepada para rasul ataupun para wali. Allah berfirman yang artinya:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Bahkan sesembahan yang mereka seru (selain Allah) itu justru mencari kedekatan diri kepada Rabb mereka dengan menempuh ketaatan supaya mereka semakin bertambah dekat kepada-Nya dan mereka pun berharap kepada rahmat-Nya serta merasa takut akan azab-Nya. Sesungguhnya siksa Rabbmu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (QS. Al-Israa’: 57). Para ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berdoa kepada Isa Al-Masih atau memuja malaikat atau jin-jin yang saleh (sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Katsir).”

Beliau melanjutkan penjelasannya:

“Bagaimana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa merasa ridha kalau beliau dikatakan sebagai orang yang bisa melepaskan ikatan-ikatan hati dan bisa melenyapkan berbagai kesusahan padahal Al-Qur’an saja telah memerintahkan beliau untuk berkata tentang dirinya:

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: Aku tidak berkuasa atas manfaat dan madharat bagi diriku sendiri kecuali sebatas apa yang dikehendaki Allah. Seandainya aku memang mengetahui perkara ghaib maka aku akan memperbanyak kebaikan dan tidak ada keburukan yang akan menimpaku. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-A’raaf)

Pada suatu saat ada seseorang yag datang menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendakmu wahai Rasul”, Maka beliau menghardiknya dengan mengatakan, “Apakah kamu ingin menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah? Katakan: Atas kehendak Allah semata.” Nidd atau sekutu artinya: matsiil wa syariik (yang serupa dan sejawat) (HR. Nasa’i dengan sanad hasan)

Beliau melanjutkan lagi penjelasannya:

“Seandainya kita ganti kata bihi (به) (dengan sebab beliau) dengan bihaa (بها) (dengan sebab shalawat) maka tentulah maknanya akan benar tanpa perlu memberikan batasan bilangan sebagaimana yang disebutkan tadi. Sehingga bacaannya menjadi seperti ini:

اللهم صل صلاة كاملة وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد التي تحل بها العقد

Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman ‘ala sayyidinaa Muhammadin Allati tuhillu bihal ‘uqadu (artinya ikatan hati menjadi terlepas karena shalawat)

Hal itu karena membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah yang bisa dijadikan sarana untuk bertawassul memohon dilepaskan dari kesedihan dan kesusahan. Mengapa kita membaca bacaan shalawat bid’ah ini yang hanya berasal dari ucapan makhluk biasa sebagaimana kita dan justru meninggalkan kebiasaan membaca shalawat Ibrahimiyah (yaitu yang biasa kita baca dalam shalat, pent) yang berasal dari ucapan Rasul yang Ma’shum?”

silahkan……….. pilih sholawat nariyah yang bikinannya syekh Nar (neraka) apa pilih sholawat yang dituntunkan Nabi kita yang tercinta, sekalian menghidupkan sunnah sunnahnya

Mbak Eka yang copas, kok nyalahin ane. Mbulet ente eh anti.

muslim or id itu blog propaganda Wahhabi
Jamil Zainu itu syaikh Wahhabi
Jadi ya tertolak hujjah anti.

he he he

Susah ngasih gambaran/pemahaman ke kelompok yang punya mental arab badui. Sudah diberi analogi yang jelas, eh malah memaksakan dzon/prasangka buruknya. Sudah dikasih tahu bahwa hakikat tawassul itu menjadikan obyek sebagai perantara dan bukan tujuan, gak ngarti2.

Bahwa orang menghadap bangunan segi empat yang disebut Ka’bah itu bukan berarti menyembah Ka’bah. Ngerti ora son? Ndilalah ada anak muda yg mencak2 menuduh orang yang menghadap Ka’bah = menyembah Ka’bah. Opo iki?

Ngerti ora Son?

Kalimat2 indah dalam untaian shalawat apa pun (termasuk di dalamnya shalawat Nariyah) bukan manifestasi menuhankan objek tawassul. Coba sampeyan buka mata dan hati. Tanya kan ke mereka yang membaca/mengamalkan : adakah mereka menujukan ke kanjeng Nabi tok atau menjadikan Nabi hanya sebagai perantara (wasilah)?

Pasti buruk sangka Wahhabi terjawab.

Badui badui jelek amat prasangka lo

assalamu’alaikum

sip sip (sory tadi Saya ngtes komen masuk apa engga, hehe) yaa buat saudara saudara sesama muslim yang saya cintai, saya salah seorang NU yang senang mengikuti maulid Nabi Besar Muhammad SAW, ayah saya, kakek saya (al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assyatiri), dan keluarga besar saya juga senang mengikutinya, karena menurut kami semua Maulid itu sbagai wujud dari Rasa Cinta kami kepada Rasulullaah SAW, keluarganya dan para sahabatnya.. baiklah saya tulis dalil yang menyebutkan bahwa Maulid ini tidak bid’ah, dalilnya adalah “Tiada suatu kaum yang duduk didalam suatu majelis untuk mengingat Allah, Melainkan mereka dikelilingi malaikat, diliputi rahmat, dikaruniai ketenangan, dan mereka disebut-sebut Allah (Allah menyebut nama mereka) dihadapan malaikat yang ada disisi NYA” (H.R. Muslim) sumber – Kitab Riyadus Sholihin… apakah maulid yang ditujukan untuk mengingat dan mengenang junjungan kita Rasulullaah SAW itu tidak termasuk dari cara kita untuk mengingat kebesaran ALLAH karna mengutus beliau ke dunia? yasudah saya tidak ingin berkomentar banyak banyak, yang jelas penafsiran setiap ulama itu berbeda.. dan SIAPA SAUDARA sampai berani menilai para ULAMA ULAMA besar yang menjadi pewaris Nabi? lebih baik saudara belajar dulu sebelum kita melanjutkan diskusi ini, belajar nahwu dulu 20 tahun, baca kitab kitab rujukan seperti Riyadus Sholihin, Minhajul Qashidin, Duratun Nashihin, Ihya Ulumuddin, Minhajul Abidin dan lain lain, pahamin isinya, cari kaitannya dengan Hadits – Hadits, dan cari setiap makna dari huruf yang tertulis disana, hubungkan dengan Al-Qur’an (selaraskan).. setelah itu barulah kita lanjutkan lagi diskusi ini.. Wahai saudara penulis, Ketahuilah bahwa sesungguhnya saudara telah menuduh saudara dari saudara sendiri yaitu Umat Muslim dr NU.. “Tiada seseorang yang menuduh orang lain dengan kefasikan atau kekafiran, melainkan tuduhan itu akan kembali kepada dirinya sendiri, apabila orang yang dituduhnya tidak nyata – nyata memiliki sifat – sifat itu” (H.R. Al-Bukhari)… saya kira perbuatan saudara menuduh kebiasaan – kebiasaan Ulama Ulama NU dan pengikutnya itu menjadikan mereka Musyrik dan lain lain, sampai sampai saudara menuduhnya menjadi calon ahli NERAKA sangat sesuai dengan Hadits Rasulullaah SAW yang saya paparkan diatas.. semoga ALLAH SWT memaafkan. yasudah, SILAHKAN BELAJAR LAGI SELAMA DUA PULUH TAHUN SEBELUM MELANJUTKAN DISKUSI dan MEMULAI PERDEBATAN SERTA MENUDUH ULAMA ULAMA YANG JELAS LEBIH MENGETAHUI PERIHAL AGAMA DARI KITA SEMUA… mereka semua lebih mengetahui, meskipun tak lepas dari kesalahan dan kekurangan seorang manusia, SEMOGA ALLAH SWT memaafkan kesalahan dan kekurangannya, serta menambah kebaikan dari kebaikannya.. Insya ALLAH.. amin amin amin. semoga Allah SWT memaafkan

bagi saudara – saudara sesama muslim yang masih mengikuti Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, Bagi yang memang berniat memuliakan Rasulullaah SAW dan Mencintainya, keluarganya dan sahabat – sahabatnya, semoga ALLAH SWT merahmati KITA SEMUA dan mengumpulkan kita bersama dengan Rasulullaah SAW, keluarganya, dan para sahabatnya Didalam Surga. amin. Semoga Kita semua mendapatkan Ridha ALLAH SWT dengan Mencintai dan Meneladani Rasulullaah SAW.. amin.

YA RASULULLAAH YA AHLAL Wafa’ (Wahai Rasulullaah Wahai yang menyempurnakan janji), semoga Rasulullaah SAW menyempurnakan Janjinya Untuk memberikan Syafa’atnya di Yaumil Qiyamah kepada Kita semua Umatnya yang benar benar mencintainya, keluarganya, dan sahabat – sahabatnya. amin amin amin

intinya adalah janganlah saling menyalahkan, para Imam Imam dan Ulama Ulama pastilah punya alasan tersendiri dan penafsiran tersendiri. Saya menghormati keyakinan saudara, pendapat pendapat saudara, dan dalil dalil yang saudara paparkan. tapi ketahuilah bahwasanya setiap penafsiran itu berbeda. Bersikap bijaklah dan hormati penafsiran dari saudara kita sesama muslim yang lainnya. Pesan dari Aba’ saya (al-Habib Khotib bin Abdurrahman Assyatiri) : Semakin tinggi derajat dan ilmu seorang muslim, maka ia akan semakin merunduk dan tidak merasa paling benar sendiri, karena sesungguhnya hanya ALLAH SWT yang berhak menentukan kebenaran yang hakiki bagi kita semua. Wallahu’a’lam BisShawab.. Wasalam

Apa niat anda menulis tentang ini ???? Belum tentu apa yang ada tulis itu benar adanya.OKE

Maksud mbak Dinda, Anda di sini siapa? Wahhabi kah, yg senantiasa menebar fitnah terhadap agama ini atau siapa? Diskusi di atas panjang mbak. Perlu waktu untuk membacanya.

seru banget diskusinya, jadi banyak dapat ilmu. padahal tulisanya pertama dibuat tahun 2008. wuihhh sampai 2011 masih rame. bagosssss.
kayaknya berat banget ya hidup itu , dikit dikit bid’ah..dikit dikit bid’ah.( kasihan sekali ya saudara saudara kita yg hidupnya di penjara bid’ah ) padahal kalo mau jujur dengan istilah bid;ah yg di pahami orang orang awam kayak gw…BERRATI SEMUA UMAT ISLAM YANG ADA SAAT INI HIDUP DALAM BID’AH dong….??. jangan jangan yg suka bilang ini bid’aah itu bid;ah…ngga sempet menikmati hidup, ngga sempat berbuat baik , ngga sempat bahagia,ngga sempat maksimal nikmat ibadahnya ..karena takut bid’ah ntar masuk neraka. ouuuuuwwww hehehe

nyuwun sewu mas…
kenapa orang yang berbuat prilaku kafir seumur hidupnya tapi ketika ajal menjemput ia mengucapkan kata lailahailawloh, sehingga ia masuk suga
jadi siapa sih yang berhak menentukan kita masuk surga dan neraka?…
siapa sih yang menentukan hukum sesungguhnya?….
jika seperti saya orang awam seharusnya kita mengikuti apa yang dilakukan imam(orang yang benar2 paham agama islam) dan berusaha mencari apakah sesungguhnya hukum itu diperbolehkan atau tidak yang terdapat dalam dalil alqur’an dan al-hadist
nyuwun pangapunten nek enten salah kata

Wah ni orang yang nulis pasti orang pinter.tapi nggak ngerti .beda lho bos pinter sama ngerti .orang yang namanya hadistnya sama aja banyak yang artikan beda.mbok jadi orang itu ngerti sedikit terimakasih terutama pada rosululloh karena tanpa beliau kita nggak tahu Allah karena kita tahu Allah ada dari lisan beliau tanpa ada rasul kita nggak ngerti alqur.an kalau karena cnita rosul peringati hari lahir itu lumrah wajar bos namanya memperingati/mengingatkan kita jangan samakan dengan agama lain bueda bos muhamad itu rahmatanlilalamin.anda tahu islam darimana .kalau islam di berikan oleh orang tua kita pasti tahu berterimakasih.baca tu tulisan harun yahya bagaimana mahami islam ..wah waah ni orang kok dikit bid’ah pinter mbok ra keblinger to mas mas orang solat pakai pakaian jas bid’ah juga ? Ha ha0ha kemesjid naik motor bid’ah? Karena nggak ada hadistnya.wah jan pekok tenan !

wahh ini yang nulis pasti pinter banget ,, hhahhaa sayang nya ga punya iman ,, yang nulis nya ,
bener tuh kta mas andri ,, saya setuju ,,.

yang bilang maulid bid’ah tuh hanya orang gila aja ,, o.k jangan dengerin ,, yang kaya gituan mah ,,
karena saya berani ngomong gini saya punya dalil
baca surat al ahzab ayat 56 o.k cukup dengan dalil itu aja ga usah bnyak” dalil … :)

KAMI WRGA NU YANG MASUK NERAKA…LAH TERUS SANG PENULIS APAKAH SUDAH YAKIN AKAN BAHWA DIRINYA AKAN MASUK SYURGA……HEEEEE….MAS PENULIS ANDA BERANI MENGATAKAN SEMUA ITU BERARTI ANDA SAMA DENGAN MENYAKITI HATI SAUDARA MU SENDRI…TOLONG YANG GITU2…JANGAN DI BAHAS LAGI…SEKARANG KITA YAKIN SAJA DENGAN KEYAKINAN DAN AQIDAH YANG KITA YAKINI SAJA. JANGAN MENGATAKN ORANG YANG ENGGA…ENGGA “ORANG KMAREN KOK BISA NGOMONG GITU”MAAF BERIBU-RIBU MF..ASSALAMMUALAIKUM?

SALAM BUAT SEMUANYA, SEMOGA YANG MENGATAKAN NU AKAN MASUK NERAKA DI AMPUNI DOSANYA. HANYA GUYONAN SEBELUM MENGATAKAN BID’ AH KE SESAMA TANYA DULU KE DIRI ANDA APAKAH KAMU BUKAN ORANG YG AHLI BID’ AH. SESUNGGUHNYA ORANG YG MENCELA SESAMA ADALAH AHLI BAHKAN LEBIH AHLI DARI BID’AH. SAYA SARANKAN JANGAN MEMAHAMI TULISAN ITU MAH HANYA CERITA PAHAMILAH JIWA RAGA MU BIAR KAMU TAU APA YG SEBENARNYA YG ADA DI DALAM DIRIMU. MELANGKAH SEBELUM BERJALAN, BICARA SEBELUM BERKATAN. APAKAH BENER KAMU NGOCEH ITU APAKAH SUDAH BISA DI PERTANGGUNG JAWABKAN SAMA DIRI KAMU SENDIRI SEBELUM DI HADAPAN ALLOH. AMIN

Sebelumnya saya minta maaf kepada rekan2 NU. Buat penulis terima kasih banyak telah mengatakan bahwa orang NU akan masuk neraka, dan sesungguhnya orang yg akan masuk neraka itu adalah penulis sendiri. Dan Kalau kamu penulis emang ahli syurga saya tantang kamu menulis di jidat saya tentang apa yg kamu tau biar penulis puas akan ilmu kamu. Lamun aya kawani tlpn aing 02292907378

He… He… gitu aja repot, kayak udah tahu aja wujudnya dosa dan neraka
kalau bid’ah masuk neraka, emang udah pernah mati ketemu Allah dan nanya memuliakan Rasulullah dg berlebihan melalui shalawatan peringati maulid nabi masuk neraka?
Kalo bid’ah haram ato masuk neraka, haji sekarang gak ada yang masuk surga dong, kan bid’ah juga, naik pesawat, tidur di hotel dll

BULL SHIIIIITTTTTTTTTTT!!!

Posting – postingan kacau.
kaya uda SUCI aja lu,!
NGACA dulu sebelum comment!
BULL SHITTT tau kagak lu,???!!!!!!!!!

yg paling susah kaum salafy/manhaj/ sekarang mereka mengaku aswaja adalah ayat seenaknya ditafsirkan menurut kehendak nya sendiri, untuk bahan debat.
Salah satu pahlawan kesiangan tokoh salafy adalah perdana ahmad yg meracau di blognya. ketika seorang murid habib munzir menawarinya dengan santun untuk bermuhabalah dengan habib munzir masalah agama. dia terdiam tidak berani melayani….susah memang jika merasa diri paling benar..JIKA aku sesat karena mencintai ahlul bait, maka dengan bangga kukatakan bahwa aku sesat..mending solawatan daripada ngurus org2 yg sukanya cuma membidahkan org lain….baca solawat nariyah ah.

setuju ma comennya Andry…

ini mungkin akal2lan orang Yahudi untuk mengadu domba umat islam satu sama lain..
ingat salah satu tanda akhir kiamat adalah perang saudara dimana-mana.. so menrut sya jangan lah qita umat islam saling menjelekan suatu madzhab…

Alhamdulillah….. berarti ada teman saya sesama muslim yang sudah yakin masuk surga, kalo perlu sendirian, yang lain masih harus memperbaiki ibadahnya

agama itu pemahaman,melihat ahli sunah atau ahli bid’ah itu kita melihatnya dari segi aqidah bukan muamalah, kalau dia mengakui alloh sama dengan makhluk berarti dia aqidahnya sesat, makhluk yaitu apa2 yang ada di tujuh lapis di dalam bumi dan tujuh lapis di atas langit dan diantaranya itulah makhluk, ………jadi ahlu sunah wal jamaah atau bukan itu di lihat dari aqidahnya…………….

kl org nu masuk neraka karna bid ah
org yg sekolah pun matinya masuk neraka
karna sek0lahpun bid ah
jgn bicara bid ah kl masih banyak mamfaat nya
dari pada mudorotnya
coba renungkan adakah hadis rosulolloh swa yg menyuruh kita suruh
kuliah di jerman school atau di ikip,
dan coba tanyain lagi am raja dangdut kita adakah hadis rosulolloh swa
tentang lagu dangdut.
m,f kl kata2 ku menyinggung perasaan saudara KARNA KAMI GAK TERIMA KL WARGA NU DITUDING MASUK NERAKA.

ttd
H. ROFII

KITA BACA SHOLAWAT NARIYAH BARENG2 YUK SAMPAI 4444
BIAR YG NGOMONG BACA SHOLAWAT NARIYAH ITU BID AH KEBAKAR MULUTNYA

malah penak awor ledek2 huahaaa

Orang NU mau masuk sorga boleh, masuk neraka boleh, masuk WC juga boleh. Pokoknya di NU serba boleh dah….

ass…! siapa di surga siapa di neraka Allah yang berhak. banyak kesalah pahaman diantara antum*.yang paling baik adlah yang ittiba pd rasul n ijma’ shabat,bukan TAQLID pd masyayikh/guru. memang ada yang sebut “kullu syai’in mustatsnayatun”, tp siapa yang berani mengecualikan ucapan rasulullah ??? hadits “man sanna filislami sunnatan hasanatan…” ad yang mema’nai urusan dunia ada yang mema’nai urusan dunia-ibadat,namun bagi saya semua adlah benar hanya saja tetap tidak boleh melanggar DALIL bukan zhon atau qiyas yang ngawur. ziarah kubur&salawt di anjurkan rasul namun tetap pd adab yang benar bukan berlebihan yang terlarang n tidak berlebihan.rasul memang melarang perbuatan yg menyerupai amal kafir,melarang kelebihan menyanjung n memuji.
قال الله: ولا تقف ما ليس لك به علم,ان السمع والبصر والفؤد كل اولئك كان عنه مسئولا
(الاسراء 36 artinya: jangan kamu mengikut apa yang tidak kamu mengerti,sesungguhnya pendengaran dan penglihatan dan hati semuanya akan di mintai pertanggung jawaban.
Jangan pernah menyangka kalau orang yang tidak melaksanakn perayaan maulid adalh
tidak cinta rasul.

nek ngomong pake ilmu jangan nafsu !!! ketoE bener tp babar blasss.
hayo murnikan agama !
ojo nipu ALLAH,nipu awkmu dWE !
الا لله الدين الخالص,والذين اتخذوامن دونه اولياء مانعبدهم الا ليقربوناالى الله زلفى..الزمر3
ingat ! bagi ALLAH ajaran murni,orang2 yang mengambil pelindung selain dia berkata: “kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada ALLAH dengan sedekat-dekatnya…”. prioritaskan Al-Qur’an-As-Sunnah-qias-ijma,baru istihsan sesuai qa’idah dan ushul fiqh.
yho tHo………..

Mas, yang disampaikan di buku itu berdasarkan hadist yang shohih apa tidak ?
Kalau berdebat ya ingat surat An nisa’ 59.

Masak dibilang pengikut NU masuk neraka…………kelewatan.
Surga dan neraka itu kepunyaan Allah

Ana ga kaget kalo ada anggapan seperti itu, orang yg hanya mengambil ilmu dari yg tersurat bkn yg tersirat, apakah mereka itu tuhan sehingga dgn mudahnya memvonis masuk neraka bagi pengamal maulid, tawassul, sholawat dll, luarnya bagus katanya hanya mengambil hukum kpd Alqur’an & hadits tp pada hakikatnya mereka menginjak Alqur’an & hadits itu sendiri, semoga 4JJI melindungi kita dari org2 yg memiliki aqidah seperti itu & semoga 4JJI mantapkan kita dlm aqidah Aswaja Aamiin

Nb.ada pribahasa mengatakan TAK KENAL MAKA TAK SAYANG.

tuh yang nulis nu masuk neraka ulama modern yg ga tau ulama awal

Masuk surga atau neraka bukan karena NU-nya atau Muhammdiyah-nya atau lain-nya yg spt itu.

Masuk surga dan jauh dari neraka karena rahmat Allah semata.

Berupa nikmat Islam dan Sunnah.

Yang menyelisihi sunnah nabi dengan sadar setelah tahu kewajiban ittiba kepada nabi, pasti akan nyicip api neraka. Mau dari NU ataupun bukan NU.

Barangsiapa yang istiqamah diatas sunnah nabi maka mudah2an Allah menjauhkannya dari api neraka.

Pada dasarnya, siapa sih yang mau sesat ? siapa sih yang mau masuk neraka ? siapa sih yang gak mau masuk surga ?

Hentikan sifat merasa paling benar sendiri.

Sudah jelas kan shalawat, memuliakan Nabi Saw, ziarah kubur, dzikir, qunut dll. semuanya ada dalilnya..

Yg namanya bidah itu kan perkara baru dlm agama yg gak ada dasar/dalilnya baik DALIL UMUM atau KHUSUS yang berasal dari Alquran dan Hadist..
selain itu ada ijma dan qiyas dalam penetapan halal/haram.

ancaman bidah itu neraka, neraka bukan perkara sepele,, begitu mudahnya kita mencap saudara kita sbg penghuni neraka…

surga maupun neraka adalah mutlak hak Allah Swt..

pokoknya Hidup Ahlussunnah wal Jamaah !!!

MAS….. klo saya masih awam, karena awam, saya ambil dari beliau Prof Dr As Sayyid Muhammad Al Maliki tentang Maulidurrasul s.a.w

Pada bulan Rabiul Awwal ini kita menyaksikan di belahan dunia islam, kaum muslimin merayakan Maulid, Kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan cara dan adat yang mungkin beraneka ragam dan berbeda-beda. Tetapi tetap pada satu tujuan, yaitu memperingati kelahiran Nabi mereka dan menunjukkan rasa suka cita dan bergembira dengan kelahiran beliau Saw. Tak terkecuali di negara kita Indonesia, di kota maupun di desa masyarakat begitu antusias melakukan perayaan tersebut.
Demikian pemandangan yang kita saksikan setiap datang bulan Rabiul awwal.
Telah ratusan tahun kaum muslimin merayakan maulid Nabi Saw, Insan yang paling mereka cintai. Tetapi hingga kini masih ada saja orang yang menolaknya dengan berbagai hujjah. Diantaranya mereka mengatakan, orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid Nabi menjadikannya sebagai ‘Id (Hari Raya) yang syar’i, seperti ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Padahal, peringatan itu, menurut mereka, bukanlah sesuatu yang berasal dari ajaran agama. Benarkah demikian? Apakah yang mereka katakan itu sesuai dengan prinsip-prinsip agama, ataukah justru sebaliknya?
Di antara ulama kenamaan di dunia yang banyak menjawab persoalan-persoalan seperti itu, yang banyak dituduhkan kepada kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, adalah As Sayyid Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Alawi Al Maliki. Berikut ini kami nukilkan uraian dan ulasan beliau mengenai hal tersebut sebagaimana termaktub dalam kitab beliau Dzikrayat wa Munasabat dan Haul al Ihtifal bi Dzikra Maulid An Nabawi Asy Syarif.
Hari Maulid Nabi SAW lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada ‘Id. ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha hanya berlangsung sekali dalam setahun, sedangkan peringatan Maulid Nabi SAW, mengingat beliau dan sirahnya, harus berlangsung terus, tidak terkait dengan waktu dan tempat.
Hari kelahiran beliau lebih agung daripada ‘Id, meskipun kita tidak menamainya ‘Id. Mengapa? Karena beliaulah yang membawa ‘Id dan berbagai kegembiraan yang ada di dalamnya. Karena beliau pula, kita memiliki hari-hari lain yang agung dalam Islam. Jika tidak ada kelahiran beliau, tidak ada bi’tsah (dibangkitkannya beliau sebagai rasul), Nuzulul Quran (turunnya AI-Quran), Isra Mi’raj, hijrah, kemenangan dalam Perang Badar, dan Fath Makkah (Penaklukan Makkah), karena semua itu berhubungan dengan beliau dan dengan kelahiran beliau, yang merupakan sumber dari kebaikan-kebaikan yang besar.
Banyak dalil yang menunjukkan bolehnya memperingati Maulid yang mulia ini dan berkumpul dalam acara tersebut, di antaranya yang disebutkan oleh Prof. DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Sebelum mengemukakan dalil-dalil tersebut, beliau menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan peringatan Maulid.
Pertama, kita memperingati Maulid Nabi SAW bukan hanya tepat pada hari kelahirannya, melainkan selalu dan selamanya, di setiap waktu dan setiap kesempatan ketika kita mendapatkan kegembiraan, terlebih lagi pada bulan kelahiran beliau, yaitu Rabi’ul Awwal, dan pada hari kelahiran beliau, hari Senin. Tidak layak seorang yang berakal bertanya, “Mengapa kalian memperingatinya?” Karena, seolah-olah ia bertanya, “Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi SAW?”.
Apakah sah bila pertanyaan ini timbul dari seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak membutuhkan jawaban. Seandainya pun saya, misalnya, harus menjawab, cukuplah saya menjawabnya demikian, “Saya memperingatinya karena saya gembira dan bahagia dengan beliau, saya gembira dengan beliau karena saya mencintainya, dan saya mencintainya karena saya seorang mukmin”.
Kedua, yang kita maksud dengan peringatan Maulid adalah berkumpul untuk mendengarkan sirah beliau dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri beliau, juga memberi makan orangorang yang hadir, memuliakan orangorang fakir dan orang-orang yang membutuhkan, serta menggembirakan hati orang-orang yang mencintai beliau.
Ketiga, kita tidak mengatakan bahwa peringatan Maulid itu dilakukan pada malam tertentu dan dengan cara tertentu yang dinyatakan oleh nash-nash syariat secara jelas, sebagaimana halnya shalat, puasa, dan ibadah yang lain. Tidak demikian. Peringatan Maulid tidak seperti shalat, puasa, dan ibadah. Tetapi juga tidak ada dalil yang melarang peringatan ini, karena berkumpul untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya serta hal-hal lain yang baik adalah sesuatu yang harus diberi perhatian semampu kita, terutama pada bulan Maulid.
Keempat, berkumpulnya orang untuk memperingati acara ini adalah sarana terbesar untuk dakwah, dan merupakan kesempatan yang sangat berharga yang tak boleh dilewatkan. Bahkan, para dai dan ulama wajib mengingatkan umat tentang Nabi, baik akhlaqnya, hal ihwalnya, sirahnya, muamalahnya, maupun ibadahnya, di samping menasihati mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan serta memperingatkan mereka dari bala, bid’ah, keburukan, dan fitnah.
Yang pertama merayakan Maulid Nabi SAW adalah shahibul Maulid sendiri, yaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim bahwa, ketika ditanya mengapa berpuasa di hari Senin, beliau menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nash yang paling nyata yang menunjukkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.
Dalil-dalil Maulid
Banyak dalil yang bisa kita jadikan sebagai dasar diperbolehkannya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW .
Pertama, peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?)
Kedua, beliau sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.
Ketiga, gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah AI-Quran. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58). Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).
Keempat, Nabi SAW memperhatikan kaitan antara waktu dan kejadian-kejadian keagamaan yang besar yang telah lewat. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.
Kelima, peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).
Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.
Keenam, dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya. Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.
Ketujuh, peringatan Maulid merupakan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang utama.
Dulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qashidah-qashidah yang memujinya. Nabi ridha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau ridha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak ridha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepada beliau, yakni dengan manarik kecintaannya dan keridhaannya.
Kedelapan, mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.
Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, balk fisik (tubuh) maupun akhlaq, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlaq dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.
Kesembilan, mengagungkan Nabi SAW itu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk mengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.
Kesepuluh, dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari Jum’at, disebutkan bahwa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan:” Hal itu menunjukkan dimuliakannya waktu ketika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari di lahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulla?
Kesebelas, peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan qaidah yang diambil dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, “Apa yang dipandang balk oleh kaum muslimin, ia pun balk di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”
Kedua belas, dalam peringatan Maulid tercakup berkumpulnya umat, dzikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.
Ketiga belas, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami
ceritakan kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu:’ (QS Hud: 120). Dari ayat ini nyatalah bahwa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para nabi sebelumnya.
Keempat belas, tidak semua yang tidak pernah dilakukan para salaf dan tidak ada di awal Islam berarti bid’ah yang munkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang “baru” itu (yang belum pernah dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalii-dalil syara’.
Kelima belas, tidak semua bid’ah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan shalat Tarawih, padahal ia mengatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Banyak lagi perbuatan baik yang sangat dibutuhkan umat akan dikatakan bid’ah yang haram apabila semua bid’ah itu diharamkan.
Keenam belas, peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid’ah, adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang balk), karena ia tercakup di dalam dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah kulliyyah (yang bersifat global).
Jadi, peringatan Maulid itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan perinaan-perinaan amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), karena amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.
Ketujuh belas, semua yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincian amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Karena, apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.
Kedelapan belas, Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji “
Kesembilan belas, setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemunkaran, itu termasuk ajaran agama.
Keduapuluh, memperingati Maulid Nabi SAW berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang Anda lihat, sebagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.
Kedua puluh satu, semua yang disebutkan sebelumnya tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nab! SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan munkar yang tercela, yang wajib ditentang.
Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukannya perbuatanperbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diridhai Shahibul Maulid, tak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut

skarang gini saja ,smua itu intinya cuma satu,,,,yaitu ibadah hanya kpd allah swt,masalah bid’ah atau tidak hanya allah yang tahu,kita sebagai umat nabi saw,dan hamba allah yg beriman kita gak perlu sok tau,,,,,ibadah2 saja urusan surga neraka bukan urusan kita,,,,,,,,,hanya allah yang bs memutuskanya,,,,,,,,,,,amiin

ORANG YANG MENUHAnKAN DIRINYA ADALAH YANG BISA membuat iman sendiri untk dirinya dan selamat sendiri,dan menjatuhkan hukuman masuk neraka. ya in contohnya.hebat….

sholat perintah Allah dan rosul-Nya hati kesana kamari bayangin dan bergantung harta ,wanita , tahta.lebih lebih yang heboh-heboh, ya itu diriku. oke

Panjang banget…dah berapa tahun nih….Shalawat buat gue sih, kalau ada shalawat yg diajarkan Nabi ngapain juga pake shalawat yg diajarkan orang selain Nabi???????????????KARENA GUE MENCINTAI NABI GUE…Hanya dengan begitu gue mencintai Nabi gue: lebih mengutamakan apa2 yg dari Nabi daripada orang selain Nabi…TOLONG KOREKSI JIKA CARA GUE MENCINTAI NABI SEPRTI INI KELIRU…..Kalau ngaki Cinta kpd Nabi, perbanyaklah baca Shalawat Ibrahimiyah yg jelas2 shahih berasal dari Nabi…Tinggalkan ‘Shalawat2′ bikinan org selain Nabi…

Ada dua hal yg perlu dikomentari dari pendapat sebelum saya ini :
1. Bahwa apa yg tidak diajarkan Nabi SAW tidak serta merta haram diamalkan. Ini prinsip dasar. Artinya jika Nabi mengajarkkan lafadz shalawat yg masyhur, bukan lantas yg tidak diajarkan beliau SAW menjadi tidak boleh diamalkan. Jika shalawat itu bersesuaian dengan apa nash silakan amalkan. Ulama2 yg mengajarkan ini semua lebih paham terhadap hukum. Beragama bukan hanya dilandaskan dengan semangat, namun ilmu
2. Terkait dengan kesimpulan kecintaan adalah mengikuti yg hanya diajarkan, mengarahkan pada kesimpulan yg sangat menyesatkan dan tidak bertanggung jawab. Cinta kepada Rasululloh SAW menjadi dasar dari agama ini. Membaca shalawat adalah manifestasi kecintaan terhadap Junjungan SAW. Sangat dangkal dan tidak berdasar jika ada yg berpendapat berdasarkan hawa nafsu dan bukan ilmu bahwa yg benar2 mencintai Nabi SAW hanya membaca shalawat Ibrahimiyah. Jika membaca selainnya tanda tidak mencintainya SAW. Sungguh jauh dari kebenaran

Perlu belajar dan terus belajar sehingga cinta dan akhlak semakin tertanam. Rasululloh SAW sangat mencintai orang yg bershalawat padanya, dengan shalawat Ibrahimiyyah juga selainnya

Bahasane kedhuwuran mas, ra mudheng….Saya hanya bisa mencintai Rasul dengan sederhana…kalau sdh ada yg dari Rasul ngapai juga saya memilih yg dari orang lain selain Rasul, karena jelas saya lebih mencintai apa2 yg dari Rasul….begitulah cara saya mendahulukan Nabi dibandingkan yg lain…mungkin Anda masih bisa berkata cinta Nabi tapi kenyataannya malah lebih memilih apa2 yg bukan dari Nabi…tapi saya tidak bisa dan tidak pantas untuk memperlakukan Nabi yg saya cintai spt itu….sedangkan yg dari selain Rasul selagi tdk bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadits yg shahih juga saya cintai….tapi sekali lagi, kalau sudah ada yg Shahih dari Nabi seperti Shalawat Ibrahimiyah, maka saya lebih mencintai Shalawat ini daripada Shalawat2 bikinan orang lain selain Nabi…begitu juga zikir2 yg Shahih dari Nabi yg rutin dibaca setelah Shalat Fardhu….sungguh tdk pantas bagi saya menggantinya dengan zikir2 yg dibikin org selain Nabi, padahal yg diajarkan Nabi ada…Sunggu saya malu mengaku cinta Nabi kalau saya lebih mengutamakan dan lebih menyukai apa2 yg dari selain Nabi …..(sekedar catatan: yg saya maksud dari semua ini adalah untuk hal apa saja yg sebenarnya sdh diajarkan Nabi. contoh kecil lain: kalau Nabi sdh mengajarkan do’a yg dibaca ketika bangun tidur, tapi kita malah lebih suka membaca do’a bangun tidur yg dikarang org lain selain Nabi)

Mas Ikhwan sebaiknya membaca dari awal, sehingga tidak membuat kesimpulan yang salah. Shalawat Nariyah ini tidak dibuat untuk menggantikan shalawat yang bersumber dari Rasul. Juga dengan adanya shalawat Nariyah ini, kita mengambilnya dan meninggalkan apa yang datang dari Rasul. Jadi shalawat yang utama tentu yang bersumber dari Rasululloh SAW. Namun bukan berarti yang tidak diajarkan oleh Rasul menjadi batil, sesat dan haram. Ini perlu dipahami bukan cuma tentang shalawat.

Jadi yang perlu sama2 dipahami adalah : Sholawat Ibrahimiyah tentu lebih mulia dibanding sholawat lainnya dengan dasar hadits yang banyak mengenai itu. Semua sepakat dengan itu dan tidak ada satupun yang menyangkal bahkan ingin menggantinya dengan shalawat yang lain. Sepakat?

Bahkan imam Syafi’ie menggubah shalawat yang dengannya Alloh berkenan mengampuninya. Masak sih? Silakan baca dan ta’lim lagi. Gak usah ngotot dan merasa paling cinta Nabi lantaran hanya mengamalkan shalawat Ibrahimiyah. Gak perlu sombong dan merasa paling benar. Kalau mas mengamalkan shalawat Ibrahimyah dan cinta dengan shalwat itu, monggo. Jika ada yang mengamalkan shalawat Nariyah disamping shalawat Ibrahimiyah, mbok ya jangan dibilang gak cinta dan mendahulukan orang lain daripada Nabi. Kok bisa berkesimpulan picik seperti itu. Jangan terlalu su’udz dzon dengan ummat Islam.

Nah itu yg saya maksud, JANGAN SAMPAI MENGGANTIKAN Shalawat yg dari Nabi dengan Shalawat bikinan orang lain…..Pada kenyataannya, pasti Mas Abdulloh tahu, dimana org2 lebih suka membaca Shalawat Badar, Shalawat Nariyah, Shalawat Ftih dll drpd Shalawat Ibrahimiyah…Dicorong2 masjid, di majelis2 zikir dan pengajian sangat jarang saya mendengar org rame2 mbaca Shalawat Ibrahimiyah, tapi yg sering justru Shalawat yg lain…..Mengenai kedudukan boleh/tdknya Shalawat yg lain2 itu, bukan kapasitas sy utk mengharamkan apalagi membolehkannya, sehingga sy merasa lebih aman utk memilih yg sdh jelas kaifiyatnya dari Nabi…saya hanya mau meninggalkan yg meragukan dan mengambil yg pasti…krn menurut saya hanya Allah dan Nabilah yg berhak menentukan kaifiyat dari suatu ibadah maupun lafaz2 zikir.

Alhamdulillah, mas ikhwan sudah sepakat. Case closed, karena tidak ada satu muslim pun yg mempunyai i’tiqad seperti yg mas Ikhwan khawatirkan. Semua muslim meyakini shalawat ibrahimiyah adalah sahih dan terbaik. Mengenai shalawat selain Ibrahimiyah yg juga berasal dari Rasululloh SAW juga diamalkan kok. Mari kita husnudz dzon terhadap ummat Islam

Betul, Mas….Semoga prasangka saya benar, bahwa saudara2 kita yg lebih sering membaca shalawat Nariyah, Badar, Fatih dll daripada membaca Shalawat Ibrahimiyah semata-mata krn belum tahu saja bahwa Shalawat Ibrahimiyahlah yg terbaik dan menjadi tugas kita semualah untuk memberitahukannya….Supaya kita ga ‘capek2′ beramal tentunya pasti akan memilih amal terbaik daripada yg baik, amal yg jelas pahalanya daripada amal yg belum jelas pahalanya…Shallallahu ‘ala Muhammad

ternyata dizaman kita memang iblis dan setan telah menang dan telah merasuki semua pemikiran ulama, dengan bukti semakin banyak aliran agama islam yang seharusnya hanya satu yaitu agama tertulis dalam alqur’an dan yang diterjemahkan oleh rasulnya dalam bentuk perbuatan, perkataan yang disebut hadhis. INGAT FIRQAH AKIDAH HASIL PEMIKIRAN MANUSIA YANG BANYAK SEDIKITNYA SUDAH DIDALANGI OLEH NAFSU. KARENA MERENUNGLAH SEMOGA SEMUA UMAT ISLAM SADAR DAN KEMBALI KEPADA ALQUR’AN DAN HADHIS SHOHIH.

Wuadduhh adu hadist niyeee… Ahayyy…. Ancyurrrrr…

assalamualaikum..
Jangan terburu2 mengatakan Orang Lain Masuk Neraka atau Sesat.

Sebaik Nya Kamu Diskusikan Buku Mu Yang Gak nggenah asal usulnya itu Majlis Ulama’ Indonesia. atau Departement agama.

Belajar ilmu tanpa Guru,juja bisa tersesat sendiri.

mabuk, judi, zina masuk neraka…
baca yasin, tahlil, diba’an masuk neraka….
trus yg masuk surga siapa?……… jangan² provokator!

Surga dan neraka milik ALLAH,ngapain kita2 pada ribut…..
bener buat seseorg,blm tentu bener buat kita…
kebenaran yg haq hanya milik ALLAH……
shalat aza kita blm tentu sempurna kok membahas yg lain2…..
yg menjalankan ya jlnkan aza,yg g mau ya gpp…..
emang ada yg tau alamat surga?

Islam itu satu, sodara.. :) jangan ketipu syaiton.. dan taukah qm sifat syaiton itu apa?
provokator

Assalamu’alaikum.wr.wb. Ak tk bs ap2, dalil-dalil ya g tahu, nie td pd dalil, pintar nya. tp boleh ya komen2 biar rame..”̮ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮‎​​
1.Bismillahirrahmanirrahim.
2. Ayo yg byk bc sholawat, nariyah oce, maulid okee, sholawat jibril bgus…..bg yg sampe skrg tdk mmbolehkan, monggo bacaan sholawat yg menurut benar dan sesuai dg kyakinan anda silahkan dibaca. yg banyak ya, tp jgn cm sekali, tp setiap hr. dibaca scra kontinyu bktikan kecintaan anda.ntr bakal tahu dech. Ayo psikomotoriknya di pake biar tahu, jgn seneng ngomong thok.”̮ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮‎​​
Kl mnrt ak sich, kl org cinta kpd Rasul tdk hy pd bacaan, awalnya gitu tp ntr jg sampe k rasa. Jd boleh diungkapin dg brbagai cara. Tp kl org blm prnh ngrasain cinta mgkin dia g ngerti rasanya hy ngerti tulisane I LOVE U.({}) =D ˆ⌣ˆ✗¡✗¡✗¡ˆ⌣ˆ✗¡✗¡✗¡ˆ⌣ˆ=D ({}) .
.Ayo bc sholawat yg byak, biar terasa..
Kl cm ngmg bc sholawat hrus bgini, hrus bgini tp jarang bc sholawat, is big trouble. Kurang pas juga tho.betul betul??”̮ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮‎​​
Jujur jujur, hati n pikiran hrus jujur….
3. Surga Neraka mlik Allah, jd sekendakNya. Siapa yg mau dimasukkan…
Neg emg mrasa pantes msk surga, tk doain mdh2an msk surga, tp ttp yg nentuin Allah SWT lho. Manusia berencana n usaha. Allah yg menentukan..kl skrang udah ngrasa pantes masuk surga trus bsk knyataanya neraka. Itukan jg Allah yg menghendaki, kl sy sich dosa byak, maksiat jg byak, g ngerti jg nich, surga pa neraka ya??”̮ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮‎​​ mdh2an, minta doanya semua..amin…
4. Allah SWT dmna ya, kenalan dulu aja gmn, ben akrab biar nanti ditunjukkan dmana…
5. La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah…
6. Maaf byk kt yg tdk berkenan, mohon di maafkan….neg rak maafke rak bolo…”̮ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮‎​​

Innalloha wamalaikatahu yusolluna alannabi… Ya ayyuhaldzina amanu sollu alaihi wasallimu taslima

0m pak de, abang, mz ato apah lah trserah.
ada syetan gk?, kuntilanak? jin? tuyul? dedemit? Poc0ng? kalau adah, iblis aj dah skalian.??
Nah trus taxain dah am mreka tahlilan, sholawatan, sholawat nariah, ap aja dah yg jd amalan umat NU, tuh kebaikan apa kejelekan ??
Pasti mreka blg amalan umat NU sperti tahlilan, sholawatan dll, itu adlh KEBAIKAN !!
Tapi kalo ampe adah yg blg itu kejelekan trlebih malah mengharamkan !!
Waaah brarti dy lbh bejat d bnding setan dan kawan kawan d0nk 0m?
Ahahahahaha
s0k s0k an memf0nis org masuk neraka, emg situ dah ykin yak bkalan msuk surga?
S0k s0k an bkin fatwah haram, emg situ udah gk puxa d0sa apah?
Yg sholatx gk perah bolong ajah gk tau bsa msuk surga ap eggak,
Wkwkwkwk
baju kami ya baju kami, baju kamu ya baju kamu.
Gk muat kalau bajuku d pke kmu dan bgtu jg sbalikx.
Jd umat islam kog malah menerakakan sesamax.
Gk malu tah ama umat agama yg laen ??
Tuh mreka tertawa liat umat islam lg perang saudara.
Bineka tunggal ika.
Jdilah sperti kdua tangan jgn jd sperti kdua telinga.

yo mlebuo surgamu dewe……. aku tak mlebu nerakaku dewe (suryane Allah SWT)

udahlah mas akhmad lukman biarin aja org2 nahdiyin koar2 ttg bid’ah yg mreka lakukan, sbnernya mreka berjasa bwt kita pengikut Rasulullah, krn org2 nahdiyin lah kita jd tau amalan2 yg gg pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW..
Sbnernya org2 nahdiyin tu bkn pengikut Rasulullah n sahabat mreka tu pengikut para wali songo, liat aja amalan mereka yg srg ziarah ke makam wali, mreka sibuk dgn amalan yg berlebihan smpe rela keluarkan biaya banyak cmn untuk tour ke makam wali songo.. pdahal kelak di padang mahsyar cmn Rasulullah yg bisa memberi syafaat, wali mah cuman manusia biasa yg juga bingung mempertanggung jawabkan amalan2 bid’ah yg mreka ajarkan di indonesia..
Orang2 NU adalah termasuk manusia2 yg ditolak dan diusir oleh malaika ditelaga milik Rasulullah krn mreka sok pintar membuat buat amalan2 baru yg gg prnh dicontohkan oleh Rasul kita.. biarlah kita cmn sekedar penyampai kebenaran n kewajiban kita menyampaikan kebenaran sudah ditunaikan terserah mereka mau terima atau nggk??
biarin mreka di akhirat nyungsep di neraka brg kiayi2 mreka gus2 mreka yg dianggap sbg keturunan Rasulullah, kadang aq ngakak sndiri liat kebodohan org2 nahdiyin yg senantiasa dipelihara..
Dikubu NU sndiri aja srg bertengkar rebutan jabatan rebutan dunia.. dasar org2 cinta dunia.. Gg ada selesainya klu kita bahas kesesatan amal2 org NU coz amal sesat mreka trlalu banyak.. Na’udzu billahi mindzaalik..

eh nurul fawaid NU aja pecah belah gg karuan jd banyak group2 krn rebutan jabatan..
km tu kliatan gg prnh baca hadits..
Amalan sebaik apapun klu gg ada tuntunannya dr Rasulullah tu tertolak..
kliatan km asal koar2 tp aslinya jahil masalah hadits..
Rasulullah Salallaahu ‘Alaihi wassalaam bersabda: Man’ amila amalan laisa ‘alaihi amruna fahuwa roddun..
Barangsiapa yg beramal ibadah yg gg ada contohnya dr kami maka tertolak..
Muttafaqqun’ alaihi..
Emank kurang ya ajaran Rasullah smpe kalian bikin2 peringatan yg lebay berlebihan..
Kalian berlebihan memuji Rasulullah sprti org Nasrani berlebihan memuji Isa ibn Maryam..
Sampai pujian kalian tu byk mengandung kalimat kesyirikan..
Allah plg benci ama manusia yg berlebihan sprti kalian org2 nahdiyin..
Klu masalah peringatan yg gg ada contohnya aja semangat, klu puasa sunnah sholat sunnah tahajjud kalian gg prnh amalkan.. stiap hari yg difikirkan cmn urusan perut..
Liatlah amalan2 peringatan kalian slalu aja ada makanan.. Klu gg ada makanan mana mgkn kalian datang.. Astagfirullaah..

Wujud kecintaan kita kpd Rasulullah tu bkn cmn koar2 shalawatan pakai mic..
Percuma koar2 teriak2 tp amalan sunnah harian gg prnh dijalanin yg dilakuin cmn rokokan ngopi cangkrukan.. Itu khn yg dilakukan kbanyakan pemuda NU di Indonesia..
Sgt memalukan.. Itukah kelakuan seorang yg mengaku cinta ama Rasulullah..
Munafik kalian smua..
Org2 NU jg srg koar2 baca Al-Qur’an pakai pengeras padahal Al-Qur’an perintahkan kita utk menyebut nama Allah dgn prlahan Firman Allah Ta’ala : Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan TIDAK MENGERASKAN SUARA, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Al A’raaf 205) Jelas2 amalan org2 NU teriak2 lwt mic udh ngelanggar larangan Allah Ta’ala..

Cek pake hati geh
otak aja yang maen maa gg ckup

sudahlah jangan pada ribut maklumin aja yang nulis ini otaknya g waras…

Ngadiminnya blog ini berani buanget yo :D memvonis nu masuk neraka , terus ngadiminnya blog ini dijamin Masuk SURGA gitu ,udah punya tiket ke Surga gitu??? Oalah mas2 ..

yang bid’ah itu orang yg tidak tau app…telusuri donk…apa arty bid’ah itu sendiri…jangan maunya menang sendiri….jangan ngikutin hanya kepada satu ulama dan satu tafsir aja…didunia banyak ulama besar dan ahli tafsir terdahulu yg ga mungkin semua ulama itu melanggar aqidah yg di contohkan rosullulloh….bid’ah itu hanya tertuju kepada kaum yg syirik dan dengki kepada orang yg sedang beribadah di jalan alloh…..jangan hanya melihat tafsir dari ibnu tayymiah aja, dan muridnya ibnu qoyyim…serta penulis ibnu kittir….lihat masih banyak ulama besar yg harus kita pegang yg hadistnya shahih semua….saya orang NU…,saya ahli tawwasul,,,cinta maulid nabi muhammad saw…tapi ga pernah bilang bid’ah sama kaum yg tidak suka tawasul dan maulud nabi saw……tapi kenapa banyak kaum yang mengaku islam tapi tidak mengakui keislamannya…dan selalu berkomentar ahli neraka kepada kaum yg suka akan tawwasul dan cintanya kepada nabi muhammad saw….itulah kaum yg asli bid’ah yg tidak mendapat posisi dibarisan rosululloh saw….alias masuk neraka….ingatttttttt…uyyyyyyy…..kita ga usah berdebat …masih banyak yg harus kita perangi para kaum kafir yg akan menggoyangkan dan menghancurkan islam….bersatulah…jangan lengah…..karena senjata kaum kafir adalah membuat kita sebagai umat islam bercerai berai….ingat ituuuu uyyyyyyyy……beribadahlah hanya mengharapkan ridho alloh swt…….

KITA ISLAM BUKAN UNTUK MEMBAWA BENDERA, KAN?
lagian apa kita tau, mana yang benar mana yang salah?? Apa kita begitu egoisnya menentukan bahwa ‘ini ajaran salah’ dan ‘ini ajaran benar’. NU masuk Neraka, yang lain masuk surga?? KITA BUKAN TUHAN, BUKAN ALLAH. Apakah kita MAHA TAHU?? Sumber2 itu jumlahnya nggak cuma satu. Sesuatu jika dipandang hanya dari satu sisi tidak adil, pandanglah dari lain sisi lain dan temukan hikmahnya. pasti ada. Kita toh cuma manusia, nggak bisa men-judge orang lain atau golongan atau apapun seenak hati kita.

NGAJI2 NGJI2 NGAJI2……BIAR BISA PAHAM QURAN HADIST,,NEK MBOTEN KONGANG MANUT MWON PORO KIAI NU MAWON,INSYAALLOH SLAMET…..NUWUN SEWU NEK WONTEN KATA2 INGKANG NYIINNGGGUNG PERASAAN

waduuh….ini adminnya anak cucu belanda pasti….pinter ngadu domba

yang menghancurkan islam adalah orang islamnya itu sendiri,, seperti terjadinya perbedaan golongan dan perbedaan pendapat,, jika kalian saling menyalahkan,, sama saja kalian menginginkan islam hancur,, cuma karena ego dan kepercayaan masing2,, terima kasih wasalamualaikum wr wb

kalau bicara bid ah semua muslim di dunia ini bid ah. Karna sekarang semua baru, dari jaman onta kejaman pesawat. Jgn naik mobil bid’ah naik onta aja, emang siapa kamu, apa kamu dapat wahyu juga dr malaikat jibril bahwa orang nu masuk neraka.

naudzubillahmindzalik…jangan sampai terjadi..pada hatiku..mengingkari kebesaran nabiullah muhamad saw,kpd yth mas yang nulis artikel ini..kalo saya bilang…buku-buku seperti itu sudah sangat jelas…karangan orang yang tdk suka kepada nabi muhamad,..mungkin orang itu keturunan yahudi…kita sebagai..umat ..jangan cuma tahu atau mengerti saja..tapi harus kenal…karna alllah saja,,mengagungkan nabiullah muhamad dalam al qur’an nulkarim..maka itu kenalilah beliau nabi muhamad lewat poro guru kita ,kayi kita..yang bersanad sampai pada beliau….jadi perlu kita fahami ..bahwa tuduhan itu hanya memecah belah ahlussunnah waljamaah..saja sebab sebenarnya NU hanyalah ..wadah..para ahlussunnahwaljamaah…kesimpulannya kalo ad yang bilang nu masuk neraka..itu adalah ftnah dajjal yang nyata….wassalam.

bismillah
sebenarnya islam agama yg mudah,,tanpa kita sadari kita sendiri yg bikin repot…
jgn lakukan apa2 yg tidak d anjurkan nabi..
kalo antum percaya sm quran dan sunnah..
segala sesuatu nabi qt sdh mengajarkanya,.
minimal antum cari d kumpulan hadist shahih bukhori muslim..
lagipula untuk apa berkelompok2,rosullullah pun melarang,hny menimbulkan perpecahan umat..
jazakumulloh khairon

jangan merasa benar sendiri, biasanya orang yang merasa benar sendiri itu temannya syetan. Adapun masalah tawasul saya mengartikan sebagai suatu sarana untuk mencapai Ridlo Allah. Sebagai contoh kalau kita ingin makan harus ada sarana supaya kita bisa merasakan nikmatnya makanan, supaya makanan sampai ke mulut kita harus ada tangan, begitupun masalah ibadah harus ada ilmunya. Ilmu yang mengajarkan adalah guru tanpa guru tidak akan ada ilmu. jadi saya ingin menafsirkan bahwa semua yang ada di sekitar kita adalah tawasul/ sarana untuk mencapai tujuan.

pahit mz pahit hahaha

Diriwayatkan oleh Imam Thabrani, ”Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berpecah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk Neraka.” Bertanya para Sahabat: “Siapakah (yang tidak masuk Neraka) itu Ya Rasulullah?” Nabi menjawab: “Ahlussunnah wal Jamaah.”Mu’awiyah Ibnu Abu Sofyan meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dalam masalah agamanya terbagi menjadi 72 golongan dan dari umat ini (Islam) akan terbagi menjadi 73 golongan, seluruhnya masuk neraka, satu golongan yang akan masuk surga, mereka itu Al-Jamaa’ah, Al-Jamaa’ah.

@Yg Ngaku Cinta nabi : Kalian Pada Suka Puasa Senin-Kamis gak/Puasa 3 hari Tiap Bulannya Gak??? Kalo Masuk-Keluar WC Pada Baca Doa gak? Kalo Pake baju baru Pada Baca doa gak, Pada Kuat Gak Mata Kalian Utk Terbuka Saat Berkumandang Adzan Subuh?? Kalo Mau Tidur Pada Berwudhu & Berdoa Gak ?? Pada Tahu Gak Redaksi Sholawat Yg Shahih ??? De El El. Hidupkan Sunnahnya Semampu Kalian. ITU BARU BUKTI CINTA KPD NABI !!!

saya pro kepada selawat, lebih2 selawat riil. pembagian uang bungkusan pada kematian di desaku. haul2 kematian. sippp.

, tapi aku tidak setuju Gaduh kalau ada selawatan pakai rebana goyang2 dan berdiri. suaranya keras lewat pengeras masjid. naluri saya berkata munglkin ini yang disebut Bid’ah.
Ada yang bisa beri wawasan untuk saya.
swun

itu ibadahnya sufy

Kenapa memang dengan ibadah kaum sufi?

assalamualaikum…melihat semua komen di atas..ana akui..semua emang pada pinter2 dalam hal agama,,ana sendiri dari kalangan NU,saudara ada jga yang salafi,,muhammadiyah atau yang lain lah..tpi alhamdlah kita fine2 ajah…kalau hal di atas terus dibahas..saling memperkuat pendapat,,gak akan ada selsainya…dari kita sebelum lahirpun..uda pada debat,jdi g akan ada selsainya..masih banyak hal lain yang hrus kita lakukan…dari pada saling menyalahkan..mending da’wah aja,ramaikan masjid dengan sholat berjamaah,,masih banyak maksiat2 yang harus dibasmi..insyaAllah dengan niatan karna Allah,,pasti pahala lebih besar..lbih mudah mendapat tiket menuju ke surga…amin..wassalam.

Wa alaykum salam pak Fahmi. Hal ini yg harus dikedepankan, tasamuh (toleransi). Apalagi masalahnya sudah ada sejak dulu dan kontraproduktif jika hal2 khilafiyah dibesar2kan. Cuma masih ada sekelompok orang yg anti toleransi. Merasa paling benar dan seolah punya mandat dari Alloh untuk menentukan ini benar dan salah. Ndilalahnya yg dipermasalahkan adalah hal2 yg semua punya landasan serta pegangan.

Selama ini tidak ada masalah sampai muncul genarasi baru yg bersemangat dalam Islam namun tidak memakai akhlak Islami

Ya.. Yang posting tulisan di atas di maklumi aja…. Krnnnn ngajiya hanya kuliiynya saja….. Blum tahu apa apa sudah menyimpulkannn … Najissssss lhuuuuuu

Rasulullah Bersabda mengamalkan Tanpa ada syariat dari kami maka tertolak hadits Bukhari dan muslim…..dan Al-Quran surah Al Maaidah:3…tolong dibaca…..jd smua amalan tlah dicontohkan Rasulullah dari Cara buang Hajat sampai Masalah perang….jd mengapa kita harus memuat ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah dan Para Sahabat….jd sekiranya kita bersama mencari jalan golongan selamat dengan cara menuntut ilmu yang syari…mengikuti majelis2 salaf…insyaAllah Akan memberikan hidayah kepada kita semua….

Jika mas mau lebih sabar belajar, mas akan lebih paham tentang agama ini. Diam lebih baik daripada mengambil kesimpulan tanpa ilmu

surga dan neraka bukan urusan manusia, apa anda yakin orang selain islam gak ada yang masuk surga, bukankah mereka juga punya penghulu seperti islam penghulunya adalah rosululloh.
Apakah rosululloh mengajarkan untuk menghukumi oranglain yang beda pikiran dengan kita.
Bukankah kitab2 islam sebagai penafsiran qur’an dan hadist sangat banyak dan beragam.
Apakah kita sudah membaca seluruh kitab2 islam yang ada dan tidak menutup kemungkinan ada perbedaan pendapat dalam menyikapi topik yang sama.
Benar ada banyak fariannya
Benar menurut saya
Benar menurut anda
Benar menurut yang lainnya

Astaghfirlaahal ‘adziim !!! daripada kita berdebat tanpa ada selesainya lebih baik kita intropeksi diri kita sendiri, mari kita sama2 belajar agar bisa jadi lebih baik… Amiiin

Alaaa orang belum cukup umur and belum cukup ilmu ko bikin,buku,yng bikin buku sama saja mau membuat terpecah belahya umat islam.
kalo anda iri dengan organisasi NU ga usah begini juga x,anda ga usah bilang bid’ah kalo membaca maulid Nabi besar kita MUHAMMAD SAW,membaca maulid nabi berarti kita sama aja kita mempelajari sejarh atu kisah kisah Nabi MUHAMMAD SAW.

yang tahu dan maha benar adalah sang pencipta dan makhluknya hanyalah bisa me reka-reka saja. :D

Innallaha wa malaikatahu yusholluna’alannabi
ya ayyuhalladzina amanu shollu’alaihi wasallimu taslima.

Artinya : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
(Q.S. al-Ahzab:56).

Allah swt dan para malaikat nya saja bersholawat kepada nabi muhammad saw. masa kita sebagai manusia biasa yang penuh dosa dan sangat jauh dari kesempurnaan enggan bersholawat.

Tolong Jaga Selalu Ukhuwah Islamiyah, Kita ini saudara, jika Saudara kita tersakiti maka kitapun akan merasakan hal yang sama

Tolol, dy baca buku.. buku kan bikinan orang, tolol amat yah,, hhaha

Assalamualaikum

Tentang bid’ah… Kadang naik mobila aja bisa bid’ah hasanah atau dolallah.. Tergantung niatnya… Begitu pula menggukan HP…
Kenapa saya katakan itu semua termasuk bid’ah… Karna ketika zaman rasul, rasul tidak mengendarai mobil atau mengajarkan cara mengendarainya… Begitu pula dengan menggunakan HP….
Jadi klo sudah bicara bid’ah di zaman ini jangan sok suci… Tidak ada ummat yang sama atau lebih baik dari Zaman Rasulullah…
Dan satu lagi, jangan bawa2 nama ormas keagaman klo kira2 hasilnya akan ada yang PRO dan KONTRA…
Maaf jika ada kata2 yang tidak baik!

Wassalamualaikum

Mereka yg membuat artikel ini sesungguhnya memiliki PEMIKIRAN yang SEMPIT SEKALI. pemahaman agama’y bisa di katakan DANGKAL SEKALI.
Mereka mencoba untuk memecah belah umat, yg dimana memecah belah umat itu dilarang dalam Al-Qur’an..
astaghfirullah..

Penentuan masuk surga dan neraka hanya milik Alloh semata kita hanya wajib untuk berusaha dan perbedaan pendapat merupakan rohmat alloh kita cari jalan sendiri-sendiri bro !!!!!! oke

Hehehe… mas brooo.. semua yang ente tulis di sini kan di ambil dari buku yang penulisnya Muhammad bin jamil zainu, bukan bersumber dari rosululloh, dan alamat penulisnya juga gak jelas…
apa bukan ente yang ahlul bid’ah ya?? kan bukan berasal dari rosululloh???
hehehe

Duh bolo konco prio wanito, ojo mung ngaji syariat bloko, gur pinter ndongen nulis lan moco, tembe mburine bakal sangsoro, tembe mburine bakal sangsoro. Akeh kang apal quran hadist se, seneng ngafirke marang liyane, kafire dewe gak di gateke, yen iseh kotor ati akale, yen iseh kotor ati akale,
Gusdur: syi’ir tanpo waton

ieu mah jelema hayang MODAR sia !!! bangsat !!!! urus diri loe sendiri ANJING….BABI loe !!!!

Alloh aja bersholawat kpd nabi…
Tanya tu orang yang ernah bermimpi bertemu rasul
seperti habib syech,habib munzir,dan habib habib lain mereka juga nu

Udeh yang NU sabar aje, orang NU ngga useh kena dampak propokator Syiah.
Urusan surga neraka itu urusan Allah, urusan kite cuma jalanin ibadah yang bener.
Kalo masalah bid’ah kite semuanye udeh masuk dalam bid’ah, zaman Rosul ape iye ada kertas, mesin cetak, yang paling utama nih kite pade bedebat di dunia Internet. Emang udeh ada internet di zaman Rosul?
Yang bermanfaat di dunia pake aje jangan dikit-dikit bid’ah, kaga idup kalo masih nganut ajaran bid’ah terus!

Agidah nu,sufi, tasauf ,syiah dan yahudi mirip

mirip !!!! mirip apanya mas!!!
bhaahhaa:)

kalau ada bilang sesat, sesatan mana dengan yang menulis dan di muat di web, kan web atau internet bi’ah besar yang dimana tidak ada dijaman rosullulloh, terus gimana dosa anda menaiki kendaraan bermotor dimana kendaraan bermotor adalah kendaraan yang tidak pernah dinaiki oleh nabi besar muhammad, apa lagi si pembuat kendaraan bermotor adalah orang” non muslim kebanyakannya?…..
udalah jangan saling mencela karena ada dalil yang belum anda ketahui ingat ajaran islam itu ada yang dohir ada yang batin.

hey buat yang posting, dangkal sekali ilmu mu, coba buka Al-Qur’an al-ahzab ayat 56. sudah jelas! masih meragukan Qur’an?? mati saja.

hey buat yang posting, dangkal sekali ilmu mu, coba buka Al-Qur’an al-ahzab ayat 56. sudah jelas! masih meragukan Qur’an?? mati saja. pejuang jalur Gaza, laknatullah bala israel.

dasarpostingan goblok, mau mengadu domba apa mau mencari celah,,, km lahir darimana? ibumu dan bapakmu, nenek& kakkmu, leluhurmu itu semua dari mana? apakah km gak berfikir kalau km dilahir, apa ada dengan sendirinya, dan setelah tau bisa baca tulis maka km menyimpang serta dr pemikiran pemikiran yang sok rasional tetapi menyesatkan, kl ingin km tau maka matikanlah dirimu baru km bisa posting seenak km.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Shalawat

Al Qur’an Online

Tawassul

Pengunjung

  • 518,913 Pembaca Setia

اهلا وسهلا بحضوركم

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kebenaran datangnya dari Alloh SWT, kesalahan datangnya dari kelemahan diri saya pribadi. Jika ingin copy-paste silakan. Mohon masukan dan tegur sapa serta do'akan semoga tetap istiqomah di jalanNYA. Amien

Terima kasih atas kunjungan Anda

Allah exists without a place!

Sahabat Ali Ibn Abi Thalib berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir." Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sahabat Ali Ibn Abi Thalib menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah SWT) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,006 other followers

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Twitter

Follow me

Shalawat

  1. preview.mp3
  2. M%2BArifin%2BIlham%2B-%2BYa%2BNabi%2BSalam%2BAlaika.mp3
  3. ap-oq6l6w39jhfk.mp3
  4. ap-kuhtapcgrrwg.mp3
  5. ap-io10264j8ykg.mp3
  6. ap-c7w3xmbvvgn4.mp3
  7. ap-cikw7fy7bj0g.mp3
  8. ap-z98gruoi737k.mp3
  9. ap-zz1fwua0x4ao.mp3
  10. preview.mp3
  11. preview.mp3
  12. preview.mp3
  13. preview.mp3
  14. preview.mp3
  15. preview.mp3
  16. preview.mp3
  17. preview.mp3
  18. preview.mp3
  19. preview.mp3
  20. preview.mp3
  21. preview.mp3
  22. preview.mp3
  23. preview.mp3



Asas

Page Rank

Online

tracker

My 4shared

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,006 other followers