Agus Salim
Jika ada kesempatan berkunjung ke kota ini (baca: Lhokseumawe, NAD) dan ada waktu untuk berkeliling2 kota, singgahlah sebentar di Toserba Cahaya yang terletak di Jalan Darussalam. Letaknya, jika kita masuk dari arah Simpang Empat, di sebelah kiri jalan. Silakan berbelanja kebutuhan yang tuan-tuan dan nyonya-nyonya perlukan selama singgah di kota kecil ini. Di sini ada beberapa toserba yang tersebar di beberapa tempat. Pemiliknya rata2 orang pribumi Aceh, umumnya orang Sigli. Loh kenapa mesti Sigli? Kalau tanya kenapa, mana gue tau! Konon orang Sigli itu Cina-nya Aceh. Maksudnya banyak orang yang berasal dari Sigli yang sukses dalam bisnis seperti halnya orang Cina. Di kota ini pun banyak orang Sigli. Umumnya sukses.
Kenapa gue sarankan untuk mampir ke Cahaya, apa ada samting spesial? Gak juga sih, kecuali seorang tukang parkir yang cukup ‘beda’ dengan tukang parkir lainnya di Lhokseumawe ini. Namanya Agus Salim. Mendengar nama Agus Salim yang muncul di benak pasti nama seorang tokoh pergerakan yang sangat disegani kawan maupun lawan. Seorang yang teguh pendirian, mampu menguasai berbagai bahasa dan lantang dalam berkata2. Tentu itu Agus Salim sang pahlawan nasional. Yang gue sebut ini tidak ada kaitan dengan Agus Salim tokoh kemerdekaan itu. Agus Salim ini hanya seorang tukang parkir yang sedikit bermasalah dengan fisik dan mentalnya. Berjalan tertatih satu dua, mengenakan rompi khas petugas parkir, membawa peluit atau sempritan dan siap dengan uang kembalian. Gak usah di ajak ngobrol, karena dia pun sulit berkata-kata. Ajak aja tersenyum, maka dia akan memberikan senyum terindahnya. Tugasnya pasti sebagai tukang parkir. Sepertinya tidak ada yang istimewa selain kemauan kerasnya untuk dapat bermanfaat buat orang lain. Meskipun -mungkin- orang tidak bisa berharap banyak dari tugas yang dilakukannya, namun kemauan untuk bekerja lah yang mestinya membuat kita bangga.
Kota ini meski tidak penuh dengan pengemis, namun cukup banyak orang yang berjalan atau sekedar berdiri di keramaian untuk menadahkan tangan. Mulai dari orang yang memang cacat betulan, cacat-cacatan sampai orang yang sehat dan bugar. Kabarnya ini bagian dari yang harus dibayar oleh kesalahan masa lalu. Konflik berkepanjangan-lah yang membuat banyak orang kehilangan harapan, semangat dan rasa percaya diri. Meski belum ada penelitian khusus keterkaitan konflik dengan banyaknya jumlah pengemis. Namun itulah yang gue dapat dari salah seorang asli kota ini. Konflik memang membawa bermacam akibat. Apalagi penanganan pasca konflik yang tidak belum jelas arah tujuannya. Siapa salah? Tak perlu, mari kita berbuat.
Filed under: Aceh, Kemiskinan, Lhokseumawe, Lingkungan, Renungan, Sejarah, Sukses | Tagged: Agus Salim, Cahaya, Konflik, Pahlawan, Pengemis, Toserba
| 


saya gak perhatian dulu waktu di sana kalo ada tukang parkir yang spesial ini..
nanti kalo pulang saya sambangi..
sekalian ke tempat pak ahmad lukman
Tugasnya sekarang dibuat shift. Agus Salim mendapat beberapa hari dalam satu minggu.