Sekedar Catatan

Benarkah Wahabi Pewaris Sejati Mazhab Salaf? (1)

Posted on: July 30, 2008

Benarkah Wahhabiyah Pewaris sejati Mazhab Salaf? (1)

Mentawîl Ayat-ayat Sifat Adalah Mazhab Salaf Shaleh

Sumber : Abusalafi

Ada dua poin yang perlu dicermati dengan teliti, Pertama, mazhab Wahhabi kental dengan faham Tasybîh dan Tajsîm dalam memahami nash-nash tentang sifat Allah SWT. tetapi mereka selalu mengelaknya dan berbelit-belit dalam membela diri. Kedua, mereka mengklaim bahwa faham mereka itu adalah representatif faham para sahabat Nabi dan tabi’în serta Salaf Ummat ini.

Dalam klaim mereka para sahabat dan tabi’în dalam menyikapi ayat-ayat atau hadis-hadis sifat adalah memberlakukan pemaknaannya dengan makna lahiriyah yang dikesankan oleh lahir lafadznya. Kata عينٌ – ساقٌ- يَدٌ- dan semisalnya harus dimaknai secara lahiriyah apa adanya tanpa memasukkan unsur majazi yang akrab dipergunakan dalam sastra Arab. Kata يدٌ harus dimaknai tangan, kata عينٌ harus dimaknai mata, dan kata ساق harus dimaknai betis. Ketika kata-kata itu dipergunakan untuk menyebut sifat Allah SWT. [1] maka arti yang sama pula harus kita fahami darinya.

Dasar pemahaman seperti ini tidak asing dalam pola pikir Sekte Wahhabiyah dan dapat dengan mudah kita temukan keterangan dan uraiannya dalam buku-buku akidah mereka. Jadi tidak perlu rasanya saya menyebutkannya lagi dari keterangan mereka. Artikel ini, tidak bermaksud menyalahkan atau mendukung pola pandang seperti itu. Hanya saja yang menjadi sorotan artikel kali ini adalah apakah benar para sahabat dan tabi’în (Salaf Shaleh) berfaham seperti itu? Sepertinya, para arsitek Sekte Wahhabiyah perlu mencari pembelaan bahwa mazhab mereka dalam masalah sifat Allah ini adalah memiliki akar historis yang menyambungkannya kepada generasi awal Islam yang cemerlang… tentunya agar dapat menarik para peminat agar tergiur dengan slogan, “Mazhab kami adalah mazhab Salaf; Sahabat dan Tabi’în” … Minimal itu adalah trik pemasaran yang sungguh simpatik dan diharap dapat mendongkrak tinggkat minat para konsumen.

Mazhab Salaf Bertolak-belakang dengan Faham Wahhabiyah!

Para tokoh Sekte Wahhabiyah, seperti Ibnu Utsaimin dan lainnya telah panjang lebar mengkritik segala bentuk usaha mena’wilkan ayat-ayat atau hadis-hadis sifat. Mereka mengecamnya sebagai slogan kaum Jahmiyah dan Mu’aththilah… telah menyalai Al Qur’an dan Sunnah serta telah terjebak oleh kesesatan para filsuf. Kepalsuan slogan mereka ini telah memikat sebagian pelajar agama yang belum matang pemahaman agamanya. Bahkan tidak jarang muncul anggapan bahwa mena’wîl ayat-ayat sifat adalah dhalâl, kesesatan, bid’ah, terjangkit faham Jahmiyah dan para salaf tidak mengenal ta’wîl !! Akan tetapi, setiap yang mau menyempatkan diri membuka-buka lembaran kitab para ulama pasti akan mengetahui dengan gamblang bahwa para Salaf; generasi terdahulu, sahabat, tabi’în dan tabi’ut tabi’în telah melibatkan diri dalam mena’wil ayat-ayat atau hadis-hadis sifat… mereka menegaskan bahwa dzahir sebagian ayat sifat itu bukan yang dimaksud olehnya. Dan sikap mereka itu pastilah diambil dari Kitabullah dan Sunnah Nabi saw. yang shahihah. Dalam kesempatan ini saya akan sebutkan beberapa contoh dari ta’wîl mereka agar dimengerti bahwa klaim kaum Wahhabi dalam hal ini adalah tidak berdasar dan justru bukti-bukti yang ada menentang klaim mereka!

Al Qur’an dan Sunnah Mengajarkan Ta’wîl1) Allah SWT telah mengajari kita ta’wîl [2] dalam kitab suci-Nya. Allah SWT berfirman:

نَسُوا اللهَ فَنَسِيَهُمْ

“mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka.” (QS.9 [at Taubah] :67)
إِنَّا نَسِيْناكمْ

“Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu.” (QS.32 [as Sajdah];14)

Ayat-ayat yang menyebutkan sifat lupa bagi Allah SWT haruslah dita’wîl dengan makna selain makna dzahirnya. Allah Maha Suci dari sifat lupa kendati kata lupa telah dipergunakan dalam ayat-ayat Al Qur’an untuk Allah SWT. Kita tidak dibenarkan menetapkan sifat lupa bagi Allah SWT. walaupun dengan mengatakan bahwa “lupa Allah tidak seperti lupa kita”, seperti yang biasa dikatakan oleh kaum Musyabbihah/Wahhabi ketika menyebut beberapa sifat Allah yang tertera dalam Al Qur’an, sebab Allah telah berfirman:

وَ ما كانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

“… dan tidaklah Tuhanmu lupa.” (Q.S. Maryam: 64)

Tidaklah halal bagi seorang yang berakal waras untuk mengatakan bahwa “Allah lupa, tetapi tidak seperti lupa kita, Allah duduk tetapi tidak seperti duduk kita, Allah bersemayam di langit tetapi Dia tidak menyerupai sesuatu apapun.” Kata-kata terakhir (tetapi tidak seperti lupa kita dll.) tidak berguna sama sekali, ia tidak dapat menghindarkan dari tuduhan tasybîh dan tajsîm, sebab tidak semua kata yang datang dalam sifat Allah SWT. dapat ditetapkan sebagai sifat bagi Allah secara lahiriyah.

Ketika kaum Wahhabi mengatakan Allah duduk, Allah turun, maka tidaklah berguna kata-kata yang mengatakan bahwa duduk dan turun Allah tidak seperti duduk dan turun kita, sebab turun itu artinya pergeseran dan perpindahan dari sebuah tempat yang lebih tinggi ke tempat lain yang lebih rendah, artinya ada gerak di situ, lalu apabila setelah menetapkan sifat itu bagi Allah SWT kita mengatakan tetapi tidak seperti duduk dan turun kita maka kita akan menafikannya, baik kita sadari atau tidak.

Jadi kata-kata itu adalah kontradiksi belaka, sebab yang namanya turun meniscayakan adanya gerak, dan gerak adalah sifat makhluk, hâdits. Jika dikatakan adanya turun tetapi tanpa gerak, itu tidak logis dan benar-benar telah menjungkir-balikkan makna bahasa!! Itu adalah kontradiksi antara pembukaan kalimat dan akhirannya! Berbeda dengan ketika kita mengatakan, “Allah Maha mendengar, Samî’ tetapi tidak seperti pendengaran kita, Allah Maha Melihat, Bashîr tetapi tidak seperti penglihatan kita” sebab maksud “Allah Maha Mendengar” ialah kita menetapkan sifat mendengar, sam’u, kemudian kita menyucikan Allah dari kebutuhan kepada alat bantu dalam mendengar yaitu telinga. Di sini dapat dibayangkan adanya sifat mendengar tanpa bantuan alat kemudian kita menyerahkan kepada Allah pengetahuan tentang bagaimana sifat Maha Mendengar itu, sebab sifat Dzat Maha Pencipta tidaklah mampu dijangkau oleh makhluk-Nya yang serba lemah ini. Di sini ada penetapan sifat dan ada penyucian dari menyerupai makhluk-Nya dan kemudian men-tafwîdh [3] , menyerahkan ilmu tentangnya kepada Allah SWT. dan itu sangatlah berbeda dengan ucapan kaum Wahhabi, “Allah duduk, Allah turun tetapi tidak seperti duduk dan turunnya kita.” Seperti telah disebutkan sebelumnya.

Kenyataan ini akan makin jelas dengan memerhatikan contoh di bawah ini.

2) Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat hadis qudsi:

يَا ابنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَم تَزُرْنِيْ قال: يا ربِّ كيفَ أَعودُكَ وَ أنتَ ربُّ العالَمِيْنَ، قال: أمَا علِمتَ أَنَّ عبْدِيْ فلانًا مَرِضَ فلَمْ تَعُدْهُ، أما علمتَ أَنَكَ لو عُدْتَهُ وَجَدْتَنِي عِنْدَهُْ

“Hai anak Adam, Aku sakit tapi engkau tidak menjenguk-Ku. Ia [hamba] berkata, ‘Bagaimana aku menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Rabbul ‘Âlamîin?’ Allah menjawab, ‘Tidakkah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sakit, engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau mengetahui bahwa jika engkau menjenguknya engkau akan dapati Aku di sisinya…“ (HR. Muslim,4/1990, hadis no.2569)

Abu Salafi berkata:

Wahai Anda yang berakal waras, bolehkah kita mengatakan, “Kita akan menetapkan bagi Allah sifat sakit, tetapi sakit Allah tidak seperti sakit kita; makhluk-Nya?!! Bolehkah kita meyakini bahwa jika ada seorang hamba sakit maka Allah juga akan terserang sakit, dan Dia akan berada di sisi si hamba yang sakit itu?, dengan pemahaman dzahir teksnya dan dengan tanpa memasukkan unsur majazi?!! Pasti tidak!!

Bahkan kita berhak mengatakan bahwa siapa saja yang mensifati Allah dengan “Sakit” atau “Dia sedang Sakit” dia benar-benar telah kafir! Sementara pelaku pada kata kerja مَرِضْتُ adalah kata ganti orang pertama/aku/si pembicara yaitu Allah. Jadi berdasarklan dzahir teks dalam hadis itu, Allah-lah yang sakit. Tetapi pastilah dzahir kalimat itu bukan yang dimaksud. Kalimat itu harus dita’wîl. Demikian pandangan setiap orang berakal. Dan ini adalah sebuah bukti bahwa Sunnah pun mengajarkan ta’wîl kepada kita.

Makna hadis di atas menurut para ulama sebagaimana diuraikan Imam Nawawi dalam Syarah Muslim sebagai berikut, “Para ulama berkata, ‘disandarkannya sifat sakit kepada-Nya sementara yang dimaksud adalah hamba sebagai tasyrîf, pengagungan bagi hamba dan untuk mendekatkan. Para ulama berkata tentang maksud ‘engkau akan dapati Aku di sisinya’ engkau akan mendapatkan pahala dari-Ku dan pemuliaan-Ku… “ (Syarah Shahih Muslim,16/126)

Berdasarkan kaidah yang ditegakkan di atas pondasi Al Qur’an dan Sunnah di atas, para sahabat, tabi’în dan para imam mujtahidîn berjalan dalam memahami ayat-ayat dan hadis-hadis sifat.

Untuk lebih meyakinkan mari kita ikuti ta’wîl mereka sebagai terangkum di bawah ini.

Ibnu Abbas ra. Menta’wîl

Di antara sahabat besar yang berjalan di atas kaidah ta’wîl adalah Sayyiduna Ibnu Abbas ra., anak paman Rasulullah saw. dan murid utama Imam Ali -karramallahu wajhahu- dan pernah mendapat do’a Nabi saw. , “Ya Alah ajarilah dia (Ibnu Abbas) tafsir Kitab (Al Qur’an).” (HR. Bukhari)

Telah banyak riwayat yang menukil ta’wîl beliau tentang ayat-ayat sifat dengan sanad yang shahih dan kuat.

Di bawah ini akan saya sebutkan sebagiannya.

1) Ibnu Abbas menta’wîl ayat:

يومَ يُكْشَفُ عَنْ ساقٍ

“Pada hari betis disingkapkan.” (QS.68 [al Qalam]:42)

Ibnu Abbas ra. berkata, “Disingkap dari kekerasan (kegentingan).”

Di sini kata ساقٍ (betis) dita’wîl dengan makna شِدَّةٌ kegentingan.

Ta’wîl di atas telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathu al Bâri,13/428 dan Ibnu Jarir dalam tafsirnya,29/38. Ia mengawali tafsirnya dengan mengatakan, “Berkata sekelompok sahabat dan tabi’în dari para ahli ta’wîl , maknanya ialah, “Hari di mana disingkap (diangkat) perkara yang genting.”

Dari sini tampak jelas bahwa menta’wîl ayat sifat adalah metode para sahabat dan tabi’în. Mereka adalah salaf kita dalam metode ini.Ta’wîl itu juga dinukil oleh Ibnu Jarir dari Mujahid, Said ibn Jubair, Qatadah dll.

2) Ibnu Abbas ra. menta’wîl ayat:

و السَّمَاءَ بَنَيْناهَا بِأَيْدٍ و إِنَّا لَمُوسِعُونَ

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.” (QS.51 [adz Dzâriyât] : 47)

Kata أَيْدٍ secara lahiriyah adalah telapak tangan atau tangan dari ujung jari jemari hingga lengan, ia bentuk jama’ dari kata يَدٌ. (Baca Al Qamûs al Muhîth dan Tâj al ‘Ârûs,10/417.)

Akan tetapi Ibnu Abbas ra’ di sini mena’wîlnya dengan بِقُوَّةٍ dengan kekuatan. Demikian diriwayatkan al Hafidz Imam Inbu Jarir ath Thabari dalam tafsirnya, 7/27. Selain dari Ibnu Abbas ra., ta’wîl serupa juga diriwayatkannya dari para tokoh tabi’în dan para pemuka Salaf Shaleh seperti Mujahid, Qatadah, Manshur Ibnu Zaid dan Sufyan.

3) Ibnu Abbas ra. menta’wil ayat yang menyebut Allah melupakan kaum kafir dengan ta’wîl ‘menelantarkan/membiarkan’.

Allah SWT berfirman:

فَاليومَ نَنْساهُمْ كما نَسُوا لِقاءَ يومِهِم هَذَا

“Maka pada hari ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini…” (QS.7 [al A’râf];51Ibnu Jarir berkata:

‘Yaitu maka pada hari ini yaitu hari kiamat, kami melupakan mereka, Dia berfirman, Kami membiarkan mereka dalam siksa… “ (Tafsir Ibnu Jarir,8/201)

Di sini Ibnu Jarir mena’wîl kata melupakan dengan membiarkan. Dan ia adalah pemalingan sebuah kata dari makna aslinya yang dzahir kepada makna majazi/kiasan. Beliau telah menukil ta’wîl tersebut dengan berbagai sanad dari Ibnu Abbas ra., Mujahid dll. Ibnu Abbas ra. adalah seorang sahabat besar dan pakar dalam tafsir Al Qur’an….Mujahid adalah seorang tabi’în agung…Ibnu Jarir ath Thabari adalah Bapak Tafsir kalangan Salaf…

Catatan:

Para tokoh sentral Sekte Wahhabiyah, seperti Syeikh Abdurrahman ibn Hasan Âlu Syeikh, tidak meragukan sedikitpun keagungan Ibnu Abbas dan murid-murid beliau dan bahwa mereka adalah tokoh-tokh ahli tafsir generasi tabi’în. [4]

Ketika menyebut Mujahid misalnya, Syeikh Abdurrahman ibn Hasan Âlu Syeikh berkata: “Mujahid adalah Syeikh, tokoh ahli tafsir, seorang Imam Rabbani, naman lengkapnya Mujahid ibn Jabr al Makki maula Bani Makhzûm. Fadhl ibn Maimûn berkata, ‘Aku mendengar Mujahid berkata, ‘Aku sodorkan mush-haf kepada Ibnu Abbas beberapa kali, aku berhenti pada setiap ayat, aku tanyakan kepadanya; tentang apa ia turun? Bagaimana ia turun? Apa maknanya?.”Ia wafat tahun102H pada usia 83 tahun, semoga Allah merahmatinya. Ibnu Abdil Wahhab sendiri telah berhujjah dan mengandalkannya dalam banyak masalah dalam kitab at Tauhidnya.

Dengan demikian ke-salaf-an mereka tidak diragukan bahkan oleh Wahhabiyah sendiri!!! Jadi sekali lagi jelaslah bahwa telah tetap adanya metode ta’wîl oleh para salaf. Dan di atas jalan inilah para ulama, seperti Imam al Asy’ari dan para pengikutnya berjalan. Jadi jika ada yang menuduh sikap menta’wîl adalah sikap menyimpang dan berjalan di atas kesesatan faham Jahmiyah, dan ber-ilhad [5] dalam ayat-ayat dan asmâ Allah seperti yang dituduhkan kaum Wahhabi, semisal Ibnu Utsaimin [6] dan kawan-kawannya, maka ia benar-benar telah kebelinger dan benar-benar dalam kekeliruan nyata!! Dari sini dapat dimengerti betapa palsunya klaim mengikuti Salaf yang selalu dipropagandakan kaum Wahhabi untuk menipu kaum awam.

Semoga kita diselamatkan dari kesesatan dan penyimpangan dalam agama. Amîn Ya Rabbal Âlamin.

___________________________

[1] Sebenarnya, kata-kata itu bukan disebut sebagai sifat, apalagi Sifat Dzatiyah Allah, ia adalah kata-kata yang di-idhafah-kan (disandarkan) kepada Allah SWT., seperti: يد الله ,عين الله di nama kata يد di-idhafah-kan/disandarkan kepada Allah. Jadi pada dasarnya, salahlah mereka yang menyebutnya sebagai sifat! Berbeda dengan kata: سميع- بصير-عليم kata-kata itu dan semisalnya benar sebagai kata sifat, jika ia disematkan untuk Allah maka ia adalah sifat Allah SWT. Semoga kami berkesempatan menguraikan masalah ini lebih rinci dalam kesempatan lain.

[2] Ta’wîl dimaksud di sini adalah mengartikan sebuah kata atau kalimat bukan dengan makna dzahir karena ada alasan yang mengharuskan atau membenarkan pemindahan makna dari makna hakiki kepada makna majazi. Dan jika ada yang keberatan dengan istilah ta’wil maka kami tidak keberatan jika istilah itu diganti dengan istilah lain, apapun namaya, sebab yang penting bagi kami adalah esensi masalah bukan bertengkar tentang istilah dan penamaan. Harap dimengerti dengan baik!

[3] Dalam artikel lain insyaallah akan dibahas masalah tafwîdh.

[4] Fathu al Majîd Syarah KItab at Tauhîd:405.

[5] Ber-ilhad dalam ayat-ayat dan asma’ Allah adalah sikap memplesetkan ayat-ayat dan asma’ Allah yang sangat dikecam keras dalam Al- Qur’an. Secara bahasa kata ilhâd artinya membelokkan/memiringkan. Ber-ilhad dalam sifat dan asma’ Allah itu dilakukan dengan salah satu dari tiga sikap, 1) menolak, 2) menta’wil dan 3) menyalahinya. Menta’wil dalam pandangan Wahhabiyah sama dengan men-tahrif (memplesetkan/merusak makna hakiki). Ibnu Utsaimin mendefenisikan tahrîf dengan mengataan, ”Men-tahrif itu merubah lafadznya atau memalingkan maknanya dari yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya, seperti ia berkata, kata استوى على العرش Allah bersemayam di atas Arsy-Nya diartikan menguasai Arsy-Nya. Atau ينزِلُ ربُّنا إلي السماء الدنيا Tuhan turun ke langit dunia diartikan dengan turun perkara-Nya, bukan Tuhan yang turun! (Baca Syarah Aqidah al Washithiyah: 63.) Jadi siapapun yang menta’wil ayat-ayat sifat berarti ia benar-benar telah ber-ilhad dalam asmâ’ Allah dan itu sikap menentang dan merusak agama dan ia sangat terkecam! Demikianlah kaum Wahhabi memahami agama dan menyikapi para sahabat Nabi mulia dan para Salaf Shaleh! Para sahabat kini mereka tuduh sebagai kaum Mulhidîn dalam asmâ’ dan ayat-ayat Allah SWT., sementara itu dalam rangka mengelabui kaum awam mereka mengklaim bahwa mazhab mereka adalah mazhab para sahabat dan Salaf Shaleh! Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (QS.18 [al Kahfi]:5).

[6] Syarah Aqidah al Washithiyah: 58-63.

43 Responses to "Benarkah Wahabi Pewaris Sejati Mazhab Salaf? (1)"

OOT

.saudaraku semua… sebagai pembanding dari tuduhan tuduhan dan kalim klaim ustad Sa’ad / ustad Lukman mari kita kaji dulu artikel di bawah ini yang insya alloh juga sebagai bantahan atas klaim2 ustad Sa’ad.

sehingga nanti kita bisa menyimpulkan siapa yang di atas kebenaran.

IBNU TAIMIYAH danTA’WIL
ditulis oleh saudaraku DOBDOB.

Cobaan bertubi sepertinya tak henti menjumpai Ibnu Taimiyah bahkan hingga lebih dari 700 tahun dari wafatnya, namun perumpaan beliau layaknya cendana yang memang harus dibakar agar tercium wanginya, dan terbukti bahwa wangi dan keagungannya tak lekang oleh zaman.

Kali ini tuduhan aneh menyambangi beliau.

Bagaiman tidak aneh, atas dasar permusuhannya dengan Aqidah takwillah beliau keluar masuk penjara dan bahkan menghembuskan nafas terakhirnya dibalik jeruji besi didalam benteng yang kokoh.

hal ini adalah sesuatu yang umum dikalangan sahabat, murid dan musuhnya. Permusuhan beliau dengan Aqidah takwil khususnya Asya’irah tidak mungkin samar lagi. Kalaulah beliau melakukan takwil dalam memahami nash-nash terkait asma dan sifat Allah, maka apa arti permusuhan dengan orang-orang yang mempertahankan aqidah tersebut dan apapula arti dari pembelaan murid-murid beliau terhadap keyakinan gurunya itu.

Mari kita ulas keanehan ini dengan memohon taufik dan hidayah semoga pembahasan dan mungkin diskusi terkait tema ini adalah hanya mengharapkan ridho dari Allah Subhanahu Wataala.

Makna Takwil

Disini harus didudukkan makna takwil berdasarkan pendapat salaf yang diikuti oleh ibnu Taimiyah dan pengikutnya yang menjulukkan diri sebagai Salafi agar kita dapat membuat keputusan yang adil tentang sikap ibnu Taimiyah yang sebenarnya tentang Takwil

* Takwil menurut Kholaf dan Asya’irah

Takwil dikalangan Kholaf sangat popular dengan makna:

صرف اللفظ عن الظاهر بقرينة تقتضي ذلك

Takwil adalah memalingkan sebuah kata dari Žahirnya dengan petunjuk-petunjuk yang menyertainya.

Definisi ini merupakan istilah Mutaakhirin yang berbeda dengan takwil secara bahasa dan perkataan salaf

* Takwil Menurut Salaf dan Ibnu Taimiyah

Dalam Mukhtar Shihhâh dikatakan:

التأويل تفسير ما يؤول إليه شيئ تقتضي ذلك

Ta’wil adalah tafsir yang dikembalikan sesuatu kepadanya[1]

Dalam Lisaanul arab dikatakan bahwa ia berarti رجع و عاد yang artinya kembali[2]

Secara ringkas dalam bahasa arab kata takwil bermuara kepada dua hal:

Pertama: tempat kembalinya sesuatu, yaitu hakikat yang perkataan dikembalikan kepadanya.
sebagaiman kita tahu bahwa kalam itu bisa Khobariyah atau Thalabiyah, maka:
Takwil Khobar adalah hakikat dan kejadiannya (kejadian yang sebenarnya): Seperti dalam firman Allah :

هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ

Artinya: inilah ta’wil mimpiku yang dahulu itu

maksudnya inilah hakikat dan kejadian sebenarnya dari mimpi yang pernah dia alami[3]

Allah juga berfirman:

هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ يَوْمَ يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِنْ قَبْلُ

Artinya: Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu

Maksudnya: mereka hanyalah menunggu terjadinya hal yang sama dengan yang diberitakan oleh Allah berupa janji dan ażab

Sedangkan ta’wil Thalabiyah yang merupakan amr (perintah) dan nahy (larangan) adalah sama dengan perbuatan yang diperintahkan untuk melaksanakannya dan beramal dengannya dan juga sama dengan larangan yang ditinggalkan. Hal ini seperti perkataan Aisyah Radiyallâhu anhu:

((كان النبيّ صلّى الله عليه وسلّم يقول في ركوعه وسجوده؛ سبحانك اللهم ربنا وبحمدك، أللهمّ اغفرلي. يتأوّل القرآن؟))

Artinya: Nabi Shallallâhu alaihi Wasallam pernah membaca:

سبحانك اللهم ربنا وبحمدك، أللهمّ اغفرلي

pada ruku dan sujudnya. (Aisyah berkata) : engkau mentakwilkan Al qur’an?

Maksudnya apakah engkau melaksanakan amalan sesuai dengan firman Allah:

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ

Artinya: maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.[4]

………………..BERSAMBUNG………………………………………………….

SAMBUNGAN DARI ARTIKEL I…………

Kedua: takwil dengan makna tafsir

Yaitu perkataan yang digunakan untuk menjelaskan sebuah lafaz hingga dapat dipahami maknanya. Inilah yang dimaksud dari perkataan para Mufassirin تأويل قوله تعالى yang sering digunakan oleh para Mufassirin[5]. Bahkan Ibnu Jarir al Thabarî menamai kitabnya:

جامع البيان عن تأويل آي القرآن

Berdasarkan makna yang pertama maka takwil dari apa yang diberitakan oleh Allah tentang sifat dan perbuatanNya adalah sama dengan keadaan yang sebenarnya. Hal tersebut adalah hak Allah subhanahu wataala yang tidak diketahui oleh selainNya dan tidak ada celah bagi kita untuk mengetahuinya dan melingkupinya[6].

Berdasarkan makna yang pertama ini juga maka waqaf jatuh setelah kata berikut: وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ

Sedangkan berdasarkan makna kedua maka takwil tentang apa yang diberitakan Allah mengenai sifat-sifatnya yang tinggi adalah tafsir dan pemahaman makna dari apa yang Ia beritakan tentang dirinya yang memiliki sifat-sifat yang agung dan tinggi. Inipun dikenal dalam bahasa yang Allah gunakan kepada manusia dan kita pahami dengan perantaraan bahasa tersebut, namun dengan pemahaman bahwa Allah tidak sama dengan apapun baik zatNya, SifatNya, maupun perbuatannya.

Berdasarkan makna ini maka waqaf jatuh setelah kata berikut: وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ

Sebagaimana mazhab kebanyakan ulama Salaf.

Ibnu Jarîr berkata: Ahli takwil (tafsir, red) berselisih tentang takwilnya, apakah kata الراسخون menjadi athaf dari lafadz ألله yang berarti mereka dapat mengetahui ayat yang mutasyabih ataukah itu adalah isti’naf (kalimat baru selanjutnya) yang disebutkan untuk memberitakan mereka (orang-orang yang mendalam ilmunya) yang berkata bahwa mereka beriman kepada ayat-ayat mutasyabih termasuk menyatakan bahwa pengetahuan tentang ayat-ayat tersebut hanyalah dimiliki oleh
Allah.

Sebagian dari mereka mengatakan: maknanya adalah tidak ada yang tahu takwilnya kecuali Allah saja dengan pengetahuannya.

Adapun kata الراسخون في العلم adalah kalimat selanjutnya yang menyatakan bahwa mereka beriman kepada ayat-ayat mutasyabih dan Muhkam serta semua itu berasal dari sisi Allah. Kemudian beliau menyebutkan yang berpendapat demikin…. : Aisyah, ibnu Abbas, urwah, Abi Nahik, dll.

Yang lain berkata: maknanya adalah tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. dengan memiliki pengetahuan dan kedalaman ilmunya tersebut mereka tetap mengatakan “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Kemudian beliau menyebutkan yang berpendapat demikin…. : Ibnu Abbas, Mujahid, Rabî’ bin Anas, dan Muhammad bi Ja’far bin Zubair, dll[7]

Inilah takwil yang dimaksud oleh para salaf dan juga Ibnu Taimiyah ketika dia mengikuti mereka dalam menjelaskan beberapa makna ayat-ayat sifat.

Ibnu Taimiyah berkata:

وأما الذي أقوله الآن واكتبه وإن كنت لم اكتبه – فيما تقدم من أجوبتي وإنما أقوله في كثير من المجالس – إن جميع ما في القرآن من آيات الصفات فليس عن الصحابة اختلاف في تأويلها

وقد طالعت التفاسير المنقولة عن الصحابة وما رووه من الحديث ووقفت من ذلك على ما شاء الله تعالى من الكتب الكبار والصغار اكثر من مائة تفسير فلم أجد – إلى ساعتي هذه – عن أحد من الصحابة انه تأول شيء من آيات الصفات أو أحاديث الصفات بخلاف مقتضاها المفهوم المعروف بل عنهم من تقرير ذلك وتثبيته وبيان أن ذلك من صفات الله ما يخالف كلام المتأولين ما لا يحصيه إلا الله

Adapun yang aku katakan sekarang dan aku tulis sekalipun aku belum pernah menulisnya dalam jawaban-jawabanku adalah bahwa semua yang ada di qur’an berupa ayat-ayat sifat tidak pernah didapat perselisihan dari sahabat seputar takwilnya. Sungguh aku telah menelaah berbagai tafsir yang dinukil dan diriwayatkan dari para sahabat dan hadits-hadits. Aku juga telah membaca-Masya Allah- banyak dari kitab-kitab para pembesar dan Sighar lebih dari seratus tafsir, namun sampai saat ini aku belum mendapatkan satupun dari sahabat yang mentakwilkan ayat-ayat atau hadits-hadits sifat dengan tafsiran yang menyelisihi tuntutan-tuntutan makna yang dipahami dan populer. Bahkan yang aku dapat adalah persetujuan, penetapan, dan penjelasan mereka bahwasanya hal tersebut termasuk sifat-sifat Allah yang menyelisihi perkataan tukang-tukang takwil yang tidak terhitung jumlahnya.[8]

Dalam penjelasan ibnu taimiyah jelaslah bagi kita bahwa para sahabat juga melakukan takwil yang bermakna tafsir terhadap ayat-ayat sifat, namun Ibnu Taimiyah juga mengatakan:

Bahkan yang aku dapat adalah persetujuan, penetapan, dan penjelasan mereka bahwasanya hal tersebut termasuk sifat-sifat Allah yang menyelisihi perkataan tukang-tukang takwil yang tidak terhitung jumlahnya.

Point penting dalam bahasan ini adalah bahwa ta’wil dengan makna tafsir justeru memperkuat istbat atau penetapan sifat-sifat Allah. Hal ini terbukti dengan banyaknya penjelasan salaf tentang Sifat-sifat Allah misalnya Allah Ta’ala bersemayam di atas Arsy. Di dalam ayat disebutkan Ar-Rahmaanu ‘alal ‘arsy istawaa. Secara bahasa istiwa’ itu memiliki empat makna yaitu:

1. ‘ala (tinggi)

2. Irtafa’a (terangkat)

3. Sho’uda (naik)

4. Istaqarra (menetap)

Imam Bukhari membuat bab khusus tentang istiwa dengan teks berikut:

باب قوله و كان عرشه على الماء و هورب العرش العظيم قال ابو العالية استوى الى السماء ارتفع فسو هن خلقهن و قال مجاحد استوى على العرش علا على العرش

Ibnu Taimiyah juga mengatakan:

“Sesungguhnya lafadz ta’wil menurut pemahaman orang-orang yang suka bertentangan (yakni Ahlul Kalam), bukanlah ta’wil yang dimaksud dalam At-Tanzil (wahyu yang diturunkan). Bahkan bukan pula yang dikenal oleh para ulama tafsir terdahulu.

Sesungguhnya para ulama tafsir Al-Qur’an terdahulu memahami lafadz ta’wil dengan maksud tafsir. Ta’wil semacam ini dapat diketahui oleh ulama yang mengetahui tafsir Al-Qur’an. Oleh sebab itulah Imam Mujahid, imamnya ahli tafsir dan murid Ibnu Abbas, pernah menanyakan seluruh tafsir Al-Qur’an kepada Ibnu Abbas, dan Ibnu Abbas pun telah menjelaskan tafsir seluruhnya. Ketika beliau (Mujahid) mengatakan : “Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar ahlil-ilmi (Ar-Rasikhum fi Al-’Ilmi) jika memahami tentang ta’wil, maka maksud ta’wil itu adalah tafsir yang telah disebutkan pada ibnu Abbas”.

Adapun lafal ta’wil menurut At-Tanzil (wahyu yang diturunkan), maknanya adalah “hakikat”, yakni sesuatu yang menjadi asal sebuah pembicaraan. Dan itu sama dengan hakikat-hakikat yang telah diberitakan oleh Allah Ta’ala, misalnya ta’wil tentang hari akhir yang telah diberitakan oleh Allah ialah kejadian yang akan terjadi di hari akhir itu sendiri (hakikat kejadiannya). Ta’wil tentang apa yang Dia beritakan mengenai Diri-Nya itu sendiri yang Maha Suci lagi tersifati dengan sifat-sifat Maha Tinggi. Ta’wil (dalam arti hakikat) inilah yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah Ta’ala sendiri.

Oleh karena itulah kaum salaf mengatakan :”Istiwa’ telah dimaklumi (maknanya), sedangkan bagaimana hakikatnya itu majhul (tidak dapat diketahui)”. Untuk itu kaum salaf mengistbatkan (menetapkan) pengetahuan tentang Istiwa’. Inilah yang disebut ta’wil dalam arti tafsir, yaitu memahami makna yang dimaksud oleh suatu pembicaraan, sehingga dapat merenungi, memahami dan mengerti.

Sedangkan perkataan mereka “Al-Kaif (bagaimana hakikatnya) adalah majhul (tidak dapat diketahui). Hal ini adalah ta’wil yang hanya bisa diketahui oleh Allah semata, yaitu tentang hakikat yang tiada satu mahluk pun dapat mengetahuinya”.[9]

…………………..BERSAMBUNG ……………………………………

SAMBUNGAN DARI ARTIKEL II………….

Adapun istilah yang digunakan oleh para Mutaakhirin dari kalangan Muatthilah berbeda dengan definisi diatas dimana mereka mengatakan bahwa takwil adalah: Memalingkan[10] lafaz dari zohirnya dan hakikatnya kepada majaz dan apa yang berbeda dengan zohirnya dengan adanya penyertaan (Qarinah)[11]. Ini adalah istilah yang baru.

Mereka menjadikan Qarinah-qarinah untuk memalingkan makna sifat-sifat Allah dari zohirnya dan hakekatnya berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh akal mereka bukan berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh Atsar dan yang telah disepakati oleh salaf. Mereka menjadikan akal mereka sebagai hakim untuk sifat-sifat Allah yang merupakan hakikat dan yang bukan hakikat. Bukan berdasarkan dalil-dalil Naqli berupa ayat-ayat, hadits, maupun qaul Salaf.

Inilah jenis takwil yang telah dikarang oleh Abu Bakr bin Faurak[12] dalam sebuah kitab yang berjudul “ Ta’wîl al Musyki al Qur’ân” dan dibantah oleh Qadhî Abu Ya’la dengan sebuah kitab yang berjudul “ibthâl al ta’wîlât fî akhbâ al Shifât”. Begitu juga Ibnu Qudamah yang telah mencela takwil dengan kitabnya yang berjudul “Zamm al ta’wîl”

Batalnya klaim-klaim takwil oleh salaf terkait ayat-ayat sifat

Yang sering terjadi dalam klaim-klaim orang-orang yang menukil takwil tentang ayat-ayat sifat dari kaum salaf yang dilakukan oleh kalangan Asya’irah lalu mereka jadikan pembelaan untuk melakukan pemalingan makna terhadap semua ayat-ayat sifat adalah sebagai berikut:

1. klaim itu tidak benar karena tidak ada sumbernya atau dhoif sanadnya, atau menyalahi perkataan yang lebih masyhur dari salaf tersebut
2. tidak sesuai dengan tempatnya, seperti takwilan tersebut bukanlah pada nash-nash yang terkait dengan ayat-ayat sifat atau diperselisihkan sebagai ayat sifat
3. tidak memahami perbedaan takwil bathil yang berarti pemalingan makna dengan takwil yang bermakna tafsir.

Sebagai contoh yang sering adalah klaim bahwa Mujahid, Al Dhahak, Al Syafii, dan al Bukhârî mentakwil lafadz wajah dalam firman Allah taala : فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

Dengan mengatakan bahwa Mujahid berkata: Qiblatullah dan Imam Syafii mengatakan

تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّه:فثمّ الوجه الذي وجهكم الله إليه

yaitu arah yang ditunjukkan oleh Allah bagi kalianِ.

Jawabannya dari semua itu adalah bahwa ayat ini termasuk yang diperselisihkan oleh salaf ayat sifat atau bukan. Kebanyakan salaf menganggapnya bukan ayat sifat maka mereka mentafsirkannya sebagaimana telah disebutkan diatas.

Hal ini karena الوجه dalam bahasa arab terkadang berarti arah, dan inilah yang populer. Dzohir ayat menunjukkan bahwa yang dimaksudkan adalah arah bukan sifat Allah, yang semisal ini bukanlah takwil karena takwil berdasarkan pemahaman mutaakhirin adalah memalingkan ayat dari maksud, penunjukkan, dan arti yang dikenal.

Seluruh penukilan tafsir ayat ini adalah sehubungan dengan pendapat mereka bahwa ayat ini bukanlah ayat sifat. Adapun dalam ayat lain yang merupakan ayat sifat mereka menetapkan bahwa Allah memiliki wajah dalam arti yang hakiki

Al-Qadli Abu Ya’la rahimahullah meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bahwa beliau berkata :

وأن له يدين بقوله (بل يداه مبسوطتان) وأن له يميناً بقوله (والسموات مطويات بيمينه) , وإن له وجهاً بقوله (كل شيء هالك إلا وجهه), وقوله (ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام) وأن له قدماً بقول النبي صلى الله عليه وسلم (حتى يضع الرب عز وجل فيها قدمه) يعني جهنم

“Dan bahwasannya Allah mempunyai dua tangan dengan dalil firman-Nya : “Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka” (QS. Al-Maaidah : 64). Dia juga memiliki wajah dengan dalil firman Allah : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali (wajah) Allah” (QS. Al-Qashaash : 88) dan juga firman-Nya : “Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (QS. Ar-Rahmaan : 27). Dia juga mempunyai kaki dengan dalil sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Hingga Rabb (Allah) ‘azza wa jalla meletakkan kaki-Nya padanya…” (HR. Bukhari dan Muslim) yaitu pada neraka” [13]

Adapun yang diriwayatkan dari Mujahid, al Dhahak, Abu ubaidah, dan Bukhari tentang firman Allah taala : كل شيء هالك إلا وجهه bahwa al Dhahak dan Abu Ubaidah berkata: artinya kecuali Dia, Maka ini bukanlah pemalingan makna sama sekali, karena sesuatu terkadang diungkapkan dengan sebagian kriterianya, maka maksud إلا وجهه adalah zatNya yang disifatkan dengan beberapa sifat diantaranya لوجه dan ini jelas karena tidak sama sekali menafikan sifat Allah Taala. Allah mengungkapkan zatNya dengan menyebutkan salah satu sifatnya yaitu wajah Allah taala.

Adapun riwayat dari Imam Bukhari serta Mujahid mengatakan: kecuali apa yang dilakukan untuk menharapkan wajahnya.

Maka hal ini merupakan tafsir yang sesuai dengan syariat dimana segala sesuatu yang dilakukan memang harus diniatkan untuk Allah Subhanahu wataala.

Namun begitu, hal tersebut tidak dimaksudkan untuk menolak penetapan sifat Allah yang memiliki wajah yang sesuai
dengan keagungan dan kebesaran Allah Subahanahu Wataala. Dalam mentafsirkan firman Allah Subahanahu Wataala:

للذين احسنوا الحسنى والزيادة

Al imam Daruquthni meriwayatkan dalam kitab al ru’yah dari al dhahak ia berkata:

Al ziyadah adalah memandang wajah Allah ajja Wajalla[14]

al Lalikâi juga menyandarkan kepada Mujahid dari jalan ibnu abi Hatim bahwasanya ia berkata : للذين احسنوا الحسنى والزيادة ia berkata: Al Husna adalah Syurga dan Al ziyâdah adalah memandang Rabb.[15]

Imam Bukhari menetapkan Wajah Allah sesuai dengan Kesempurnaan Sifat Allah, tanpa beliau palingkan pada makna lain. Bagaimana kita tahu bahwa beliau menetapkan ‘Wajah’ bagi Allah? Bisa kita simak dalam kitab Shahih beliau sendiri pada bagian yang lain. Beliau menempatkan bab tersendiri dalam penafsiran ayat itu, kemudian menyebutkan riwayat hadits yang menjelaskan kandungan bab itu sendiri.

Imam al Bukhâri menyatakan dalam kitab Shahihnya:

بَاب قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى { كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ}

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَمْرٍو عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ } قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعُوذُ بِوَجْهِكَ فَقَالَ{ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ } فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعُوذُ بِوَجْهِكَ قَالَ { أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا } فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَيْسَرُ

“Bab firman Allah Ta’ala : ‘Segala sesuatu binasa kecuali WajahNya’

Telah memberitahukan kepada kami Qutaibah bin Sa’id (ia berkata) telah memberitahukan pada kami Hammad bin Zaid dari ‘Amr dari Jabir bin Abdillah beliau berkata: ketika turun ayat ini : ‘Katakan: Dialah (Allah) Yang mampu untuk mengirim adzab dari atas kalian’, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘Aku berlindung kepada WajahMu’, kemudian firman Allah : ‘atau dari bawah kaki kalian’, Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘aku berlindung kepada WajahMu’, kemudian firman Allah: atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan), Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘Ini lebih ringan’

Telah dimaklumi di kalangan para Ulama’ Ahlul hadits bahwa pemilihan riwayat hadits dalam suatu bab merupakan representasi pemahaman Imam Bukhârî terhadap makna yang ada pada bab tersebut.ini terungkap dalam sebuah kaedah :

فقه البخاري في بابه

Pemahaman Bukhâri terletak pada babnya, yaitu kesimpulan tentang pendapat beliau mengenai suatu masalah biasanya direpresentasikan dalam bab yang beliau buat. Ketika Imam Bukhârî menyebutkan hadits perkataan/ doa Nabi: ‘Aku berlindung kepada WajahMu’, beliau tidaklah mentakwilkan ucapan Nabi tersebut pada makna-makna lain.. Beliau sekedar menyebutkan riwayat itu saja. Dari sini juga kita bisa melihat bahwa Imam Bukhârî menjadikan hadits tersebut sebagai tafsir dari wajah. Ini menunjukkan bahwa Imam Bukhârî menetapkan Sifat ‘Wajah’ bagi Allah tanpa mentahrif (memalingkan) pada makna yang lain.

Mungkin masih tersisa pertanyaan: ‘Jika benar Imam Bukhârî memilih pendapat yang kedua dalam menafsirkan ayat itu, bukankah juga berarti beliau menakwilkan ayat tersebut. Kalimat: ‘Segala sesuatu akan binasa, kecuali Wajah Allah’ ditakwilkan sebagai ‘Segala sesuatu akan binasa kecuali yang mengharapkan Wajah Allah’. Benar, itu adalah takwil yang beliau lakukan sebagaimana penakwilan al Tsaurî. Penakwilan tersebut tidaklah batil, karena memang dipahami dari ucapan lafadz Arab.

Al-Imam al Thobâry menyatakan dalam tafsirnya juz 19 halaman 643 bahwa penafsiran tersebut sesuai dengan perkataan syair:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ ذَنْبًا لَسْتُ مُحْصِيهُ… رَبُّ العِبادِ إلَيْهِ الوَجْهُ والعَمَلُ

“Aku memohon ampun kepada Allah dari dosa yang aku tak mampu menghitungnya…

(Dialah) Rabb hamba-hamba, kepadaNyalah wajah (kehendak) dan amalan

Lafadz الوجه (wajah) dalam kalimat syair tersebut berarti kehendak dan keinginan. Takwil yang demikian bukanlah takwil yang batil, karena merupakan salah satu penjelasan terhadap makna kalimat yang sesuai dengan konteks bahasa Arab yang biasa dipahami. Selain itu, penakwilan ini tidaklah menafikan penetapan ‘Wajah’ bagi Allah sesuai dengan Keagungan, Kemulyaan, dan Kesempurnaan Allah, yang tidak sama dengan makhlukNya, dan tidak diketahui kaifiyatnya kecuali Allah.

Ibnu taimiyah mengatakan : ta’wil dari salaf jika berasal dari sahabat maka hal itu diterima, karena mereka mendengarnya dari Rasul, Jika berasal dari selain mereka dan pengikut mereka (tabiin) dan dijadikan pedoman oleh para Imam maka kita juga menerimanya. Namun kalau ia menyendiri maka kita berpaling darinya sebagaimana kita berpaling dari takwil kholaf.[16]

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dan praktek-praktek yang dilakukan Ibnu Taimiyah dalam banyak tulisannya maka jelaslah bahwa komentar-komentar beliau terkait sifat Allah hanyalah sebatas tafsiran yang berasal dari para pendahulu kaum muslimin dari kalangan salaf dan sahabat. Kalaupun dia menulis dengan kata takwil maka hal tersebut bermakna tafsir yang sangat berbeda dengan pemahaman Mutaakhirin yang memalingkan makna atau bahkan merubah (tahrif).

Tafsir-tafsir tersebut sama sekali tidak menodai akidah terhadap Sifat Allah berupa penetapan sifat sebagai mana datangnya dan sesuai dengan apa yang Allah sifatkan bagi diriNya tanpa tahrif ta’thil dan tamsil. Beliau banyak menjelaskan hal ini dalam kitab-kitabnya, maka ambillah pelajaran.

Wallahu a’lam Bisshowab

Semoga bermanfaat

Saudaramu: dobdob

Maraji:

1. Al Asyâirah Fî Mizâni Ahli al Sunnah
2. Mauqif Ibnu Taimiyah Min Asyâirah
3. Majmu Fatâwa
4. al Risâlah al Tadmuriyyah
5. http://www.darussalaf.or.id
6. http://www.almanhaj.or.id

[1] Mukhtar Sihhâh: unsur-unsur أول

[2] Lisân al arab: unsur-unsur أول

[3] Diawal surat yusuf dijelaskan tentang cerita dimana planet-planet bersujud padanya dan kejadian itu terjadi dimesir ketika beliau menjadi salah seorang pembesar negeri itu. Itulah takwil atau kejadian yang sebenarnya dari mimpi tersebut.

[4] Maksudnya isi bacaan Rasulullah ketika ruku dan sujud berisi tasbih dan istighfar sesuai dengan ayat dalam surat al Nashr ayat 3 tersebut

[5] Perkataan seperti ini sering sekali ditemukan dalam tafsir-tafsir semisal al Thabarî dan Ibnu katsir serta lain-lain ketika memulai mentafsirkan sebuah ayat Al qur’an

[6] Inilah yang merupakan ranah kaifiat yang kita jahil tentang hal tersebut kecuali yang telah diberitakan oleh Allah, tidak ada jalan lain kecuali menetapkan sesuai dengan dzohirnya, yakni yang sesuai dengan keagungan dan kebesarannya tanpa takyif, tasybih dan tamsil.

[7] Tafsir Ibnu Jarîr ( 3/182-183). Secara jelas juga bahwa waqaf dalam ayat tersebut memiliki dua riwayat yang keduanya boleh digunakan dan kedua pendapat tersebut memiliki Faidah yang melengkapi bukan bertentangan

[8] Majmu’ Fatâwa 6/394

[9] Dar’u Ta’arudh Al-Aql wa An-Naql, Ibnu Taimiyah, jilid 5/381-383, Tahqiq. Dr Muhammad Rosyad Salim

[10] Seharusnya mereka menyebutnya dengan istilah tashrif (pemalingan) atau tahrif (perubahan) karena kata takwil sejatinya berkonotasi positif dan akrab ditelinga kaum salaf. Mungkin mereka menggunakan istilah takwil demi untuk dianggap baik lalu mereka menyebutkan sesuatu bukan dengan namanya untuk mengaburkan pendengar.

[11] Yaitu qarinah yang mereka klaim sebagai Tanzih (pensucian), namun sejatinya justeru jurang yang menjerumuskan mereka kepada berbicara tentang Allah yang mereka tidak memiliki ilmu tentang hal tersebut. Mereka mengatakan bahwa istiwa bermakna istawla, karena kalau bermakna istiwa maka sesuai pikiran sempit mereka akan membuat Allah sama dengan makhluknya, padahal dengan memaknakan istawla justeru membuat tandingan-tandingan bagi Allah karena dalam bahara arab istawla hanya digunakan untuk Sesutu yang berkuasa setelah mengalahkan sesuatu. Apakah Allah perlu mengalahkan sesuatu untuk menguasai alam semesta padahal ia menciptakan yang tidak ada menjadi ada? Wal iyadzu billah

[12] Salah seorang pemuka Asy’ariyah yang menjadi penyebar mazhab ini setelah sebelumnya redup

[13] Thabaqat Al-Hanabilah oleh Al-Qaadliy Abu Ya’la Al-Farraa’, 2/269, tahqiq : Dr. ‘Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin; Cet. Tahun. 1419

[14] Al Ru’yah al Dâruqutni 162

[15] Al-lâlikâi 3/454-463

[16] Naqdhut ta’sis (manuskrip/2/20) nukilan dari atsar yang didapat dari para Imam sunnah tentang bab I’tiqad dari kitab siyar a’lami al Nubalâ.

SUMBER : http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/07/02/506/#more-506

SAMBUNGAN DARI ARTIKEL II………..

Adapun istilah yang digunakan oleh para Mutaakhirin dari kalangan Muatthilah berbeda dengan definisi diatas dimana mereka mengatakan bahwa takwil adalah: Memalingkan[10] lafaz dari zohirnya dan hakikatnya kepada majaz dan apa yang berbeda dengan zohirnya dengan adanya penyertaan (Qarinah)[11]. Ini adalah istilah yang baru.

Mereka menjadikan Qarinah-qarinah untuk memalingkan makna sifat-sifat Allah dari zohirnya dan hakekatnya berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh akal mereka bukan berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh Atsar dan yang telah disepakati oleh salaf. Mereka menjadikan akal mereka sebagai hakim untuk sifat-sifat Allah yang merupakan hakikat dan yang bukan hakikat. Bukan berdasarkan dalil-dalil Naqli berupa ayat-ayat, hadits, maupun qaul Salaf.

Inilah jenis takwil yang telah dikarang oleh Abu Bakr bin Faurak[12] dalam sebuah kitab yang berjudul “ Ta’wîl al Musyki al Qur’ân” dan dibantah oleh Qadhî Abu Ya’la dengan sebuah kitab yang berjudul “ibthâl al ta’wîlât fî akhbâ al Shifât”. Begitu juga Ibnu Qudamah yang telah mencela takwil dengan kitabnya yang berjudul “Zamm al ta’wîl”

Batalnya klaim-klaim takwil oleh salaf terkait ayat-ayat sifat

Yang sering terjadi dalam klaim-klaim orang-orang yang menukil takwil tentang ayat-ayat sifat dari kaum salaf yang dilakukan oleh kalangan Asya’irah lalu mereka jadikan pembelaan untuk melakukan pemalingan makna terhadap semua ayat-ayat sifat adalah sebagai berikut:

1. klaim itu tidak benar karena tidak ada sumbernya atau dhoif sanadnya, atau menyalahi perkataan yang lebih masyhur dari salaf tersebut
2. tidak sesuai dengan tempatnya, seperti takwilan tersebut bukanlah pada nash-nash yang terkait dengan ayat-ayat sifat atau diperselisihkan sebagai ayat sifat
3. tidak memahami perbedaan takwil bathil yang berarti pemalingan makna dengan takwil yang bermakna tafsir.

Sebagai contoh yang sering adalah klaim bahwa Mujahid, Al Dhahak, Al Syafii, dan al Bukhârî mentakwil lafadz wajah dalam firman Allah taala : فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

Dengan mengatakan bahwa Mujahid berkata: Qiblatullah dan Imam Syafii mengatakan

تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّه:فثمّ الوجه الذي وجهكم الله إليه

yaitu arah yang ditunjukkan oleh Allah bagi kalianِ.

Jawabannya dari semua itu adalah bahwa ayat ini termasuk yang diperselisihkan oleh salaf ayat sifat atau bukan. Kebanyakan salaf menganggapnya bukan ayat sifat maka mereka mentafsirkannya sebagaimana telah disebutkan diatas.

Hal ini karena الوجه dalam bahasa arab terkadang berarti arah, dan inilah yang populer. Dzohir ayat menunjukkan bahwa yang dimaksudkan adalah arah bukan sifat Allah, yang semisal ini bukanlah takwil karena takwil berdasarkan pemahaman mutaakhirin adalah memalingkan ayat dari maksud, penunjukkan, dan arti yang dikenal.

Seluruh penukilan tafsir ayat ini adalah sehubungan dengan pendapat mereka bahwa ayat ini bukanlah ayat sifat. Adapun dalam ayat lain yang merupakan ayat sifat mereka menetapkan bahwa Allah memiliki wajah dalam arti yang hakiki

Al-Qadli Abu Ya’la rahimahullah meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bahwa beliau berkata :

وأن له يدين بقوله (بل يداه مبسوطتان) وأن له يميناً بقوله (والسموات مطويات بيمينه) , وإن له وجهاً بقوله (كل شيء هالك إلا وجهه), وقوله (ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام) وأن له قدماً بقول النبي صلى الله عليه وسلم (حتى يضع الرب عز وجل فيها قدمه) يعني جهنم

“Dan bahwasannya Allah mempunyai dua tangan dengan dalil firman-Nya : “Tetapi kedua tangan Allah itu terbuka” (QS. Al-Maaidah : 64). Dia juga memiliki wajah dengan dalil firman Allah : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali (wajah) Allah” (QS. Al-Qashaash : 88) dan juga firman-Nya : “Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (QS. Ar-Rahmaan : 27). Dia juga mempunyai kaki dengan dalil sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Hingga Rabb (Allah) ‘azza wa jalla meletakkan kaki-Nya padanya…” (HR. Bukhari dan Muslim) yaitu pada neraka” [13]

Adapun yang diriwayatkan dari Mujahid, al Dhahak, Abu ubaidah, dan Bukhari tentang firman Allah taala : كل شيء هالك إلا وجهه bahwa al Dhahak dan Abu Ubaidah berkata: artinya kecuali Dia, Maka ini bukanlah pemalingan makna sama sekali, karena sesuatu terkadang diungkapkan dengan sebagian kriterianya, maka maksud إلا وجهه adalah zatNya yang disifatkan dengan beberapa sifat diantaranya لوجه dan ini jelas karena tidak sama sekali menafikan sifat Allah Taala. Allah mengungkapkan zatNya dengan menyebutkan salah satu sifatnya yaitu wajah Allah taala.

Adapun riwayat dari Imam Bukhari serta Mujahid mengatakan: kecuali apa yang dilakukan untuk menharapkan wajahnya.

Maka hal ini merupakan tafsir yang sesuai dengan syariat dimana segala sesuatu yang dilakukan memang harus diniatkan untuk Allah Subhanahu wataala.

Namun begitu, hal tersebut tidak dimaksudkan untuk menolak penetapan sifat Allah yang memiliki wajah yang sesuai
dengan keagungan dan kebesaran Allah Subahanahu Wataala. Dalam mentafsirkan firman Allah Subahanahu Wataala:

للذين احسنوا الحسنى والزيادة

Al imam Daruquthni meriwayatkan dalam kitab al ru’yah dari al dhahak ia berkata:

Al ziyadah adalah memandang wajah Allah ajja Wajalla[14]

al Lalikâi juga menyandarkan kepada Mujahid dari jalan ibnu abi Hatim bahwasanya ia berkata : للذين احسنوا الحسنى والزيادة ia berkata: Al Husna adalah Syurga dan Al ziyâdah adalah memandang Rabb.[15]

Imam Bukhari menetapkan Wajah Allah sesuai dengan Kesempurnaan Sifat Allah, tanpa beliau palingkan pada makna lain. Bagaimana kita tahu bahwa beliau menetapkan ‘Wajah’ bagi Allah? Bisa kita simak dalam kitab Shahih beliau sendiri pada bagian yang lain. Beliau menempatkan bab tersendiri dalam penafsiran ayat itu, kemudian menyebutkan riwayat hadits yang menjelaskan kandungan bab itu sendiri.

Imam al Bukhâri menyatakan dalam kitab Shahihnya:

بَاب قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى { كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ}

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَمْرٍو عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ } قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعُوذُ بِوَجْهِكَ فَقَالَ{ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ } فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعُوذُ بِوَجْهِكَ قَالَ { أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا } فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا أَيْسَرُ

“Bab firman Allah Ta’ala : ‘Segala sesuatu binasa kecuali WajahNya’

Telah memberitahukan kepada kami Qutaibah bin Sa’id (ia berkata) telah memberitahukan pada kami Hammad bin Zaid dari ‘Amr dari Jabir bin Abdillah beliau berkata: ketika turun ayat ini : ‘Katakan: Dialah (Allah) Yang mampu untuk mengirim adzab dari atas kalian’, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘Aku berlindung kepada WajahMu’, kemudian firman Allah : ‘atau dari bawah kaki kalian’, Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘aku berlindung kepada WajahMu’, kemudian firman Allah: atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan), Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘Ini lebih ringan’

Telah dimaklumi di kalangan para Ulama’ Ahlul hadits bahwa pemilihan riwayat hadits dalam suatu bab merupakan representasi pemahaman Imam Bukhârî terhadap makna yang ada pada bab tersebut.ini terungkap dalam sebuah kaedah :

فقه البخاري في بابه

Pemahaman Bukhâri terletak pada babnya, yaitu kesimpulan tentang pendapat beliau mengenai suatu masalah biasanya direpresentasikan dalam bab yang beliau buat. Ketika Imam Bukhârî menyebutkan hadits perkataan/ doa Nabi: ‘Aku berlindung kepada WajahMu’, beliau tidaklah mentakwilkan ucapan Nabi tersebut pada makna-makna lain.. Beliau sekedar menyebutkan riwayat itu saja. Dari sini juga kita bisa melihat bahwa Imam Bukhârî menjadikan hadits tersebut sebagai tafsir dari wajah. Ini menunjukkan bahwa Imam Bukhârî menetapkan Sifat ‘Wajah’ bagi Allah tanpa mentahrif (memalingkan) pada makna yang lain.

Mungkin masih tersisa pertanyaan: ‘Jika benar Imam Bukhârî memilih pendapat yang kedua dalam menafsirkan ayat itu, bukankah juga berarti beliau menakwilkan ayat tersebut. Kalimat: ‘Segala sesuatu akan binasa, kecuali Wajah Allah’ ditakwilkan sebagai ‘Segala sesuatu akan binasa kecuali yang mengharapkan Wajah Allah’. Benar, itu adalah takwil yang beliau lakukan sebagaimana penakwilan al Tsaurî. Penakwilan tersebut tidaklah batil, karena memang dipahami dari ucapan lafadz Arab.

Al-Imam al Thobâry menyatakan dalam tafsirnya juz 19 halaman 643 bahwa penafsiran tersebut sesuai dengan perkataan syair:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ ذَنْبًا لَسْتُ مُحْصِيهُ… رَبُّ العِبادِ إلَيْهِ الوَجْهُ والعَمَلُ

“Aku memohon ampun kepada Allah dari dosa yang aku tak mampu menghitungnya…

(Dialah) Rabb hamba-hamba, kepadaNyalah wajah (kehendak) dan amalan

Lafadz الوجه (wajah) dalam kalimat syair tersebut berarti kehendak dan keinginan. Takwil yang demikian bukanlah takwil yang batil, karena merupakan salah satu penjelasan terhadap makna kalimat yang sesuai dengan konteks bahasa Arab yang biasa dipahami. Selain itu, penakwilan ini tidaklah menafikan penetapan ‘Wajah’ bagi Allah sesuai dengan Keagungan, Kemulyaan, dan Kesempurnaan Allah, yang tidak sama dengan makhlukNya, dan tidak diketahui kaifiyatnya kecuali Allah.

Ibnu taimiyah mengatakan : ta’wil dari salaf jika berasal dari sahabat maka hal itu diterima, karena mereka mendengarnya dari Rasul, Jika berasal dari selain mereka dan pengikut mereka (tabiin) dan dijadikan pedoman oleh para Imam maka kita juga menerimanya. Namun kalau ia menyendiri maka kita berpaling darinya sebagaimana kita berpaling dari takwil kholaf.[16]

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dan praktek-praktek yang dilakukan Ibnu Taimiyah dalam banyak tulisannya maka jelaslah bahwa komentar-komentar beliau terkait sifat Allah hanyalah sebatas tafsiran yang berasal dari para pendahulu kaum muslimin dari kalangan salaf dan sahabat. Kalaupun dia menulis dengan kata takwil maka hal tersebut bermakna tafsir yang sangat berbeda dengan pemahaman Mutaakhirin yang memalingkan makna atau bahkan merubah (tahrif).

Tafsir-tafsir tersebut sama sekali tidak menodai akidah terhadap Sifat Allah berupa penetapan sifat sebagai mana datangnya dan sesuai dengan apa yang Allah sifatkan bagi diriNya tanpa tahrif ta’thil dan tamsil. Beliau banyak menjelaskan hal ini dalam kitab-kitabnya, maka ambillah pelajaran.

Wallahu a’lam Bisshowab

Semoga bermanfaat

Saudaramu: dobdob

Maraji:

1. Al Asyâirah Fî Mizâni Ahli al Sunnah
2. Mauqif Ibnu Taimiyah Min Asyâirah
3. Majmu Fatâwa
4. al Risâlah al Tadmuriyyah
5. http://www.darussalaf.or.id
6. http://www.almanhaj.or.id

[1] Mukhtar Sihhâh: unsur-unsur أول

[2] Lisân al arab: unsur-unsur أول

[3] Diawal surat yusuf dijelaskan tentang cerita dimana planet-planet bersujud padanya dan kejadian itu terjadi dimesir ketika beliau menjadi salah seorang pembesar negeri itu. Itulah takwil atau kejadian yang sebenarnya dari mimpi tersebut.

[4] Maksudnya isi bacaan Rasulullah ketika ruku dan sujud berisi tasbih dan istighfar sesuai dengan ayat dalam surat al Nashr ayat 3 tersebut

[5] Perkataan seperti ini sering sekali ditemukan dalam tafsir-tafsir semisal al Thabarî dan Ibnu katsir serta lain-lain ketika memulai mentafsirkan sebuah ayat Al qur’an

[6] Inilah yang merupakan ranah kaifiat yang kita jahil tentang hal tersebut kecuali yang telah diberitakan oleh Allah, tidak ada jalan lain kecuali menetapkan sesuai dengan dzohirnya, yakni yang sesuai dengan keagungan dan kebesarannya tanpa takyif, tasybih dan tamsil.

[7] Tafsir Ibnu Jarîr ( 3/182-183). Secara jelas juga bahwa waqaf dalam ayat tersebut memiliki dua riwayat yang keduanya boleh digunakan dan kedua pendapat tersebut memiliki Faidah yang melengkapi bukan bertentangan

[8] Majmu’ Fatâwa 6/394

[9] Dar’u Ta’arudh Al-Aql wa An-Naql, Ibnu Taimiyah, jilid 5/381-383, Tahqiq. Dr Muhammad Rosyad Salim

[10] Seharusnya mereka menyebutnya dengan istilah tashrif (pemalingan) atau tahrif (perubahan) karena kata takwil sejatinya berkonotasi positif dan akrab ditelinga kaum salaf. Mungkin mereka menggunakan istilah takwil demi untuk dianggap baik lalu mereka menyebutkan sesuatu bukan dengan namanya untuk mengaburkan pendengar.

[11] Yaitu qarinah yang mereka klaim sebagai Tanzih (pensucian), namun sejatinya justeru jurang yang menjerumuskan mereka kepada berbicara tentang Allah yang mereka tidak memiliki ilmu tentang hal tersebut. Mereka mengatakan bahwa istiwa bermakna istawla, karena kalau bermakna istiwa maka sesuai pikiran sempit mereka akan membuat Allah sama dengan makhluknya, padahal dengan memaknakan istawla justeru membuat tandingan-tandingan bagi Allah karena dalam bahara arab istawla hanya digunakan untuk Sesutu yang berkuasa setelah mengalahkan sesuatu. Apakah Allah perlu mengalahkan sesuatu untuk menguasai alam semesta padahal ia menciptakan yang tidak ada menjadi ada? Wal iyadzu billah

[12] Salah seorang pemuka Asy’ariyah yang menjadi penyebar mazhab ini setelah sebelumnya redup

[13] Thabaqat Al-Hanabilah oleh Al-Qaadliy Abu Ya’la Al-Farraa’, 2/269, tahqiq : Dr. ‘Abdurrahman bin Sulaiman Al-‘Utsaimin; Cet. Tahun. 1419

[14] Al Ru’yah al Dâruqutni 162

[15] Al-lâlikâi 3/454-463

[16] Naqdhut ta’sis (manuskrip/2/20) nukilan dari atsar yang didapat dari para Imam sunnah tentang bab I’tiqad dari kitab siyar a’lami al Nubalâ.

sumber artikel : http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/07/02/506/#more-506
………………………TAMAT………………….

MADZHAB AHLUSS SUNNAH WAL JAMA’AH SECARA IJMAL MENGENAI SIFAT-SIFAT ALLAH

Oleh
Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qthani

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan sifat-sifat Allah Ta’ala, tanpa ta’thil, tamtsil, tahrif, dan takyif[1]. Mereka mempercayainya sebagaimana tersebut dalam nash Al-Qur’an dan Al-Hadits.

[1]. Tahrif
Tahrif secara bahasa berarti merubah dan mengganti. Menurut pengertian syar’i berarti: merubah lafazh Al-Asma’ul Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi, atau makna-maknanya. Tahrif ini dibagi menjadi dua:

Pertama:
Tahrif dengan cara menambah, mengurangi, atau merubah bentuk lafazh. Contohnya adalah ucapan kaum Jahmiyah, dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka, bahwa istawa [2] Adalah istaula [3] Disini ada penambahan huruf lam. Demikian pula perkataan orang-orang Yahudi, “Hinthah [4] ketika mereka diperintah untuk mengatakan “Hiththah[5]” Contoh lain adalah perkataan Ahli Bid’ah yang memanshubkan[6] lafazh Allah dalam ayat :

“Artinya : Dan Allah berbicara kepada Musa dengan langsung.”[An-Nisa' : 164].

Kedua:
Merubah makna. Artinya, tetap membiarkan lafazh sebagaimana aslinya, tetapi melakukan perubahan terhadap maknanya. Contohnya adalah perkataan Ahli Bid’ah yang menafsirkan Ghadhab (marah), dengan iradatul intiqam (keinginan untuk membalas dendam); Rahmah (kasih sayang), dengan iradatul in’ am (keinginan untuk memberi nikmat); dan Al-Yadu (tangan), dengan an-ni’mah (nikmat).

[2]. Ta’thil
Ta’thil secara bahasa berarti meniadakan. Adapun menurut pengertian syar’i adalah : Meniadakan sifat-sifat Ilahiyah dari Allah Ta’ala, mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya, atau mengingkari sebagian darinya. Jadi, perbedaan antara tahrif dan ta’thil yaitu : ta’thil adalah penafian suatu makna yang benar, yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedangkan tahrif adalah penafsiran nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan interpretasi yang bathil.

MACAM-MACAM TA’THIL

Ta’thil ada bermacam-macam.

[a]. Penolakan terhadap Allah atas kesempurnaan sifat-Nya yang suci, dengan cara meniadakan Asma’ dan Sifat-sifat-Nya, atau sebagian dari-nya, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham Jahmiyah dan Mu’tazilah.

[b]. Meninggalkan muamalah dengan-Nya, yaitu dengan cara meninggalkan ibadah kepada-Nya, baik secara total maupun sebagian, atau dengan cara beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya.

[c]. Meniadakan pencipta bagi makhluk. Contohnya adalah pendapat orang-orang yang mengata-kan: Sesungguhnya, alamlah yang menciptakan segala sesuatu dan yang mengatur dengan sendirinya.

Jadi, setiap orang yang melakukan tahrif pasti juga melakukan ta’thil, akan tetapi tidak semua orang yang melakukan ta’thil melakukan tahrif. Barangsiapa yang menetapkan suatu makna yang batil dan menafikan suatu makna yang benar, maka ia seorang pelaku tahrif sekaligus pelaku ta’thil. Adapun orang yang menafikan sifat, maka ia seorang mu’athil, (pelaku ta’thil), tetapi bukan muharif, (pelaku tahrif).

[3]. Takyif
Takyif artinya bertanya dengan kaifa, (bagaimana). Adapun yang dimaksud takyif di sini adalah menentukan dan memastikan hakekat suatu sifat, dengan menetapkan bentuk/keadaan tertentu untuknya. Meniadakan bentuk/keadaan bukanlah berarti masa bodoh terhadap makna yang dikandung dalam sifat-sifat tersebut, sebab makna tersebut diketahui dari bahasa Arab. Inilah paham yang dianut oleh kaum salaf, sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik Rahimahullah Ta’ala ketika ditanya tentang bentuk/keadaan istiwa’, -bersemayam-. Beliau Rahimahullah menjawab :

“Istiwa’ itu telah diketahui (niaknanya), bentuk/ keadaannya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakannya bid’ah.”[7]

Semua sifat Allah menunjukkan makna yang hakiki dan pasti. Kita mengimani dan menetapkan sifat tersebut untuk Allah, akan tetapi kita tidak mengetahui bentuk, keadaan, dan bentuk dari sifat tersebut. Yang wajib adalah meyakini dan menetapkan sifat-sifat tersebut maupun maknanya, secara hakiki, dengan memasrahkan bentuk/keadaannya. Tidak sebagaimana orang-orang yang tidak mau tahu terhadap makna-maknanya.

[4]. Tamtsil
Tamtsil artinya tasybih, menyerupakan, yaitu menjadikan sesuatu yang menyerupai Allah Ta’ala dalam sifat-sifat Dzatiyah maupun Fi’liyah-Nya.

Tamtsil ini dibagi menjadi dua, yaitu :

Pertama :
Menyerupakan makhluk dengan Pencipta. Misalnya orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih putera Maryam dengan Allah Ta’ala dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan ‘Uzair dengan Allah pula. Maha Suci Allah dari itu semua.

Kedua :
Menyerupakan Pencipta dengan makhluk. Contohnya adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluk, memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluk, dan memiliki tangan sebagaimana tangan yang dimiliki oleh makhluk, serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil. Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.[8]

ILHAD TERHADAP ASMA’ DAN SIFAT-SIFAT ALLAH

Pengertian ilhad terhadap Asma’ dan Sifat-sifat Allah adalah menyimpangkan nama-nama dan sifat-sifat Allah, hakekat-hakekatnya, atau makna-maknanya, dari kebenarannya yang pasti. Penyimpangan ini bisa berupa penolakan terhadapnya secara total atau pengingkaran terhadap makna-maknanya, atau pembelokannya dari kebenaran dengan menggunakan interpretasi yang tidak benar, atau penggunaan nama-nama tersebut untuk menyebut hal-hal yang bid’ah, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham “Ittihad”. Jadi, yang termasuk dalam kategori ilhad adalah tahrif, ta’thil, takyif, tamtsil dan tasbih. [9]

[Disalin dari kitab Syrah Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Terbitan At-Tibyan]
_________
Foote Note.
[1]. Serta tanpa tafwidh
[2]. Istawa artinya berada di atas; (setelah dahulunya tidak)
[3]. Istaula artinya menguasai
[4]. Hinthat artinya gandum
[5]. Hiththah artinya bebaskan kami dari dosa
[6]. Maksudnya, lapazh Allah dibaca dengan harakat akhir fathah, padahal semestinya harakat akhirnya dibaca dengan dhammah . Dengan dimanshubkan, maka kedudukan lapazh Allah dalam ayat tersebut menjadi obyek, sehingga arti ayat tersebut berubah menjadi, “Dan Musa berbicara kepada Allah secara langsung.
[7]. Fatawa Ibnu Taimiyyah, V/144
[8]. Al-Kawasyif Al-jaliyah ‘an Ma’ani Al-Wasithiyah, hal.86.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz hafizhahullah berkata : Ada tasybih jenis ketiga, yaitu menyerupakan Sang Pencipta dengan ma’dumat, (sesuatu yang tidak ada), tidak sempurna dan benda-benda mati. Inilah tasybih yang dilakukan oleh orang-orang yang menganut paham Jahmiyah dan Mu’tazilah.
[9]. Lihat Al-Ajwibah Al-Ushuliyah, hal. 32 dan Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Al-Haras, hal. 24.

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1204&bagian=0

MADZHAB AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH TENTANG ASMA’ DAN SIFAT-SIFAT ALLAH SECARA TAFSHIL

Oleh
Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qathani

Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah madzhab kaum salaf Rahimahumullah Ta’ala. Mereka beriman kepada apa saja yang disampaikan oleh Allah mengenai diri-Nya di dalam kitab-Nya dan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam dengan keimanan yang bersih dari tahrif dan ta’thil serta dari takyif dan tamtsil. Mereka menyatukan pembicaraan mengenai sifat-sifat Allah dengan pembicaraan mengenai Dzat-Nya, dalam satu bab. Pendapat mereka mengenai sifat-sifat Allah sama dengan pendapat mereka mengenai Dzat-Nya. Bila penetapan Dzat adalah penetapan tentang keberadaannya, bukan penetapan tentang ‘bagaimana’nya, maka seperti itu pulalah penetapan sifat. Menurut mereka, wajib mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah ditegaskan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau oleh salah satu dari keduanya. Nama-nama dan sifat-sifat tersebut wajib diimani sebagaimana yang disebutkan dalam nash, tanpa takyif, wajib diimani berikut makna-makna agung yang terkandung didalamnya yang merupakan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla. Wajib mensifati Allah dengan makna sifat-sifat tersebut, dengan penyifatan yang layak bagi-Nya, tanpa tahrif, ta’thil, takyif, atau tamtsil [1]

Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak mengkiaskan Allah dengan makhluk-Nya, karena mereka tidak memperbolehkan penggunaan berbagai kias (analogi) yang mengandung konsekuensi penyerupaan dan penyamaan antara apa yang dikiaskan dengan apa yang menjadi obyek pengkiasan dalam masalah-masalah Ilahiyah. Karena itu mereka tidak menggunakan kias tamtsil dan kias syumul terhadap Allah Ta’ala. Terhadap Allah SWT mereka menggunakan kias aula. Inti kias ini adalah bahwa setiap kesempurnaan yang terdapat pada makhluk, tanpa kekurangan dipandang dari berbagai segi, maka Al-Khaliq lebih layak untuk memilikinya, sebaliknya setiap sifat kekurangan dihindari oleh makhluk, maka Al-Khaliq lebih layak untuk terhindar darinya.

AYAT-AYAT DAN HADITS-HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

Setelah Syaikhul Islam Rahimahullah Ta’ala menyebutkan akidah Firqah Najiyah secara ijmal, yaitu: Iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir dan takdir yang baik maupun yang buruk dari Allah, maka beliau mulai menjelaskan hal itu secara mendetail. Beliau Rahimahullah menyebutkan bahwa di antara manifestasi iman kepada Allah adalah iman kepada apa yang disifatkan oleh-Nya untuk diri-Nya, atau oleh rasul-Nya Sallallahu ‘alaihi wassalam, tanpa tahrif, ta’thil, takyif atau tamtsil.
Beliau Rahimahullah lalu menyebutkan sejumlah ayat dan hadits sahih yang di situ Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam menetapkan Sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla, dengan penetapan yang laik bagi-Nya. Dalam hal ini, beliau Rahimahullah bermaksud menegaskan bahwa tidak ada jalan bagi seorang muslim untuk mengetahui Sifat-sifat Rabbnya yang Maha Tinggi dan Asma’-Nya yang Maha Indah, melainkan melalui perantaraan wahyu. Asma’ dan Sifat-sifat Allah itu bersifat tauqifiyah (hanya bisa diketahui dari Allah). Maka, apapun yang ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya, atau oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam, kita meyakininya. Demikian pula, apa yang dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, atau oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam, kita menafikannya. Cukuplah bagi kita informasi yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih ini.

Di antara ayat dan hadits yang disebutkan oleh beliau Rahimahullah adalah sebagai berikut:

[Disalin dari kitab Syrah Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Terbitan At-Tibyan]
_________
Foote Note.
[1]. Lihat “Al-Aqidah Asy-Shahihah wa maa Yudhaadhuha”, Syaikh Abdul Aziz bin Abdulah bin Baz, hal 7 dan ‘Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah”, Al-Haras hal. 25

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1436&bagian=0

METODE AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH DALAM MENIADAKAN DAN MENETAPKAN ASMA’ DAN SIFAT BAGI ALLAH

Oleh
Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qthani

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya secara tafshil, dengan landasan firman Allah :

“Artinya : Dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” [Asy-Syura : 11]

Karena itu, semua nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya atau oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam, mereka tetapkan untuk Allah, sesuai dengan keagungan sifat-Nya. Sebaliknya, Ahlus Sunnah wal Jama’ah menafikan apa yang telah dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, atau oleh rasul-Nya, dengan penafian secara ijmal, berdasarkan kepada firman Allah :

“Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya…” [Asy-Syura : 11]

Penafian sesuatu menuntut penetapan terhadap kebalikannya, yaitu kesempurnaan. Semua yang dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, berupa kekurangan atau persekutuan makhluk dalam hal-hal yang merupakan kekhususan-Nya, menunjuk-kan ditetapkannya kesempurnaan-kesempurnaan yang merupakan kebalikannya. Allah telah memadukan penafian dan penetapan dalam satu ayat. Maksud saya penafian secara ijmal dan penetapan secara tafshil yaitu dalam firman Allah Subhanallahu wa ta’ala :

“Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Din Maha Mendengar lagi Melihat.” [Asy-Syura: 11]

Ayat ini mengandung tanzih, -penyucian- Allah dari penyerupaan dengan makhluk-Nya, baik dalam dzat, sifat, maupun perbuatanNya. Bagian awal ayat di atas merupakan bantahan bagi kaum Musyabbihah (yang menyerupakan Allah), yaitu firman Allah Ta’ala:

“Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang scrupa dengan-Nya …”

Adapun bagian akhir dari firman Allah tersebut merupakan bantahan bagi kaum Mu’athilah -yang melakukan ta’thil-, yaitu firman Allah:

“Artinya : Dan Dia Maha Mendengar lagi Melihat.”

Pada bagian pertama terkandung penafian secara ijmal sedangkan pada bagian terakhir terkandung penetapan secara tafshil. Ayat di atas juga mengandung bantahan bagi kaum Asy’ariyah yang mengatakan bahwa Allah mendengar tanpa pendengaran dan melihat tanpa penglihatan. [1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah Ta’ala mencantumkan ayat diatas, berikut surah Al-Ikhlas dan ayat Al-Kursi, karena surah Al-Ikhlas dan ayat-ayat tersebut mengandung penafian dan penetapan. [2] Surah Al-Ikhlas memiliki bobot yang sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an, sebagai-mana dinyatakan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassalam [3] Para ulaina menyebutkan penafsiran sabda beliau itu, bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan tiga macam kandungan, yaitu : Tauhid, kisah-kisah, dan hukum-hukum, sedangkan surah Al-Ikhlas ini mengandung tauhid dengan ketiga macamnya, yaitu: Tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiyah, dan Tauhid Asma’ wa Shifat. Karena itulah ia dikatakan sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an. [4]

Ayat Al-Kursi adalah ayat yang agung, bahkan merupakan ayat yang paling agung di dalam Al-Qur’an.[5] Itu disebabkan, ia mengandung nama-nama Allah Yang Maha Indah dan sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi. Nama-nama dan sifat-sifat tersebut terkumpul di dalamnya, yang tidak terkumpul seperti itu dalam ayat lainnya. Karena itu, ayat yang mengandung makna-makna agung ini layak untuk menjadi ayat yang paling agung dalam Kitabullah. [6]

[Disalin dari kitab Syrah Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Terbitan At-Tibyan]
_________
Foote Note.
[1]. “Al-Ajwibah Al-Ushuliyah ‘ala Al-Aqidah Al-Wasithiyah”, hal.26
[2]. “Ar-Raudah An-Nadiyah”, hal. 120 dan ‘ Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah”, Al-haras, hal.31
[3]. Al-Bukhari, lihat “Fathul Bari”XIII / 347 dan Muslim I/556 no.811.
[4]. “Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah”, Al-Haras, hal.21
[5]. Muslim I/556 no.810, Ahmad V/142, dan lain-lain.
[6]. “Al-Ajwibah Al-Ushuliyah ‘ala Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah”, hal.40

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1307&bagian=0

telah menuduh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab
dan Syeikh Ibnu Taimiyah sebagai musyabbih dan mujassim (menyerupakan Allah
seperti mahluk) dan terkeluar dari Ahlus-Sunnah wal-Jamaah; sedang kedua
Imam itu anti tasybih dan anti tajsim bahkan mengkufurkan tasybih dan
tajsim.Untuk lebih mengenal pasti perkara ini, bolehlah merujuk kepada semua
kitab-kitab karangan kedua-dua Imam itu yang tersebar ke seluruh dunia
sehingga universiti-universiti asing, dan jika belum puas hati bolehlah yang
berkenaan belajar sendiri di salah satu universiti yang ada di Arab Saudi,
benarkah mereka itu mujassim dan musyabbih seperti yang ditohmahkan.
tuduhan ini perlulah dijawab:

http://www.mail-archive.com/media-dakwah@yahoogroups.com/msg08447.html

Pendapat Para Ulama’ terhadap Ibn Taimiyah

Berdasarkan kpd bbrp masalah yg telah dicetuskan oleh Syeikh Ibn Taimiyah, para ulama’ masing2 mengemukakan pendapat ttg beliau. Selain daripada ijma’ ulama’ yg mengkafirkan sesiapa yg beri’tiqad dg Qidam al-’Alam, batasan dan binasanya neraka. Kita juga akan dpt melihat pandangan ulama’ ttg beberapa masalah yg lain yg menjadi pegangan beliau. Secara ringkasnya, kami bawakan pandangan bbrp ulama’ ttg beliau dibawah ini:

(1) Imam al-Hafiz ibn Hajar al-Asqalani berkata di dlm kitabnya “al-Durar al-Kaaminah” (ketika menterjemahkan pribadi Ibn Taimiyah), m.s. 144, jld. berbunyi:

“para ulama’ telah menggelarkan Ibn Taimiyah dg tajsim berdasarkan apa yg telah beliau tulis di dlm kitabnya “al-Aqidah al-Wasithiyah, al-Hamawiyah” dan lain2nya. Sebagai contoh, beliau berpendapat bhw tangan, kaki, betis dan wajah adl sifat2 hakikat bagi Allah Ta’ala, Allah beristiwa’ ditas ‘arasy dg zat-Nya..”

Imam Ib Hajar menambah lagi:

“Dia dihukum dg munafiq kerana perkataannya (kritikan) terhadap Sayidina Ali..”

Katanya lagi:

“Ibn Taimiyah juga dihukum zindiq kerana berpendapat bhw tdk boleh beristhighathah (meminta pertolongan) daripada Nabi saw”

Di dlm kitab Fath al-Bari, m.s. 66, jld. 3 pula, beliau menegaskan:

“…Hasilnya, mereka telah berpegang dg pendapat Ibn Taimiyah ttg haramnya bermusafir utk menziarahi maqam Rasulullah saw dan kami mengingkarinya. Inilah seburuk2 masalah yg dinuqilkan daripada Ibn Taimiyah.”

(2) Imam al-Hafiz al-Zahabi berkata di dlm kitabnya Zaghl al-Ilmu, m.s. 23 (ulasan oleh Imam al-Kauthari, dicetak oleh percetakan al-Taufiq 1347H, Damsyik):

“Sesungguhnya aku telah melihat sesuatu yg telah menimpa Ibn Taimiyah. Beliau telah disingkir, dihukum sesat dan kafir serta tdk dipercayai antara kebenaran dg kebatilan. Sebelum beliau menceburi bidang ini (falsafah), beliau merupakan cahaya yg menerangi kehidupan, lebih2 lagi ttg al-Salafnya. Kemudian cahayanya itu menjadi gelap gulita..”

(3) Imam Taqiyuddin al-Husni (pengarang kitab Kifayah al-Akhyar) berkata di dlm kitabnya “Daf’u Syabah man Syabbaha wa Tamarrad”, m.s. 123, (cetakan Isa al-Baabi al-Halabi) berbunyi:

“Syeikh Zainuddin Ibn Rajab al-Hanbali adl salah seorang daripada ulama’ yg menghukum kafir Ibn Taimiyah. Dia mempunyai penolakan keatas Ibn Taimiyah. Dia juga pernah mengangkat suara dg keras mengkufurkan Ibn Taimiyah di dlm beberapa majlisnya. Disamping itu, Imam al-Subki juga mempunyai hujah utk mengkufurkannya..”

Pada halaman yg lain, beliau mengatakan:

“banyak masalah2 yg dilakukan oleh Ibn Taimiyah menyimpang daripada kebenaran.”

(4) Imam al-Subki berkata di dlm kitabnya “al-Durrar al-Madiyah fi Rad ‘ala Ibn Taimiyah: “kesemua perkataan beliau diatas tadi berkenaan dg masalah usul merupakan kekufuran yg amat jelas disamping byk lagi masalah cabang yg lain.” Lihat al-Taufiq al-Rabbani karangan Jama’ah ulama’, m.s. 31.

(5) Imam Ibn Hajar al-Haitami berkata di dlm kitabnya “al-Fatawa al-Hadithiyah” berbunyi:

“Ibn Taimiyah ialah seorg hamba yg dikecewa oleh Allah, disesatkan-Nya, dibodohkan-Nya, dibutakan-Nya dan dihina-Nya. Dg alasan inilah para ulama’ tampil utk menjelaskan betapa rosak keadaannya dan betapa dusta perkataannya. Sesiapa yg ingin mengetahui keadaan ini, maka hendaklah mengkaji perkataan Imam al-Mujtahid yg disepakati keimamamannya iaitu Abi Hasan al-Subki, anaknya al-Taj al-Subki, Syeikh al-Imam al-I’z Ibn Jama’ah dan para ulama’ lain yg sezaman dg mereka yg terdiri daripada al-Syafi’ieyah, al-Malikiyah dan al-Hanafiyah..”

(6) Imam Waliyuddin al-Iraqi berkata di dlm kitabnya “al-Ajubah al-Mardiyah an al-A’silah al-Makkiyah” [23] berbunyi:

“Syeikh Ibn Taimiyah sebagaimana yg diketahui, ilmunya mengatasi akalnya. Keadaan ini membawanya kpd ijtihad yg mencarikkan ijma’ dlm masalah yg banyak. Dikatakan mencapai 60 masalah.” “Dengan masalah tersebut, maka ramai orang memperkatakan ttg dirinya, mencela dan mengujinya. Para ulama’ yg sezaman dengannya pula segera tampil menolak pendapat Ibn Taimiyah menjelaskan kepincangannya dan membid’ahkannya.”

Beliau mati di dlm penjara kerana perbuatannya itu. Penyokong2 Ibn Taimiyah menganggap bhw beliau adl seorang daripada ulama’ yg mengatakan dg tegas bhw tdk ada kemudharatan sekiranya terdapat perselisihan pendapat di dlm masalah furu’ jika perkara itu terhasil daripada ijtihad. Tetapi org yg berselisih pendapat dg beliau mengatakan bhw beliau bukan sahaja berselisih pendapat di dlm masalah furu’, bahkan byk lagi masalah2 usul yg bertentangan dg pendapatnya. Tdk semua perkara furu’ boleh berselisih apabila telah disepakati oleh para ulama’.

(7) Imam al-Kattani pula di dlm kitab “Fahras al-Faharis”, m.s. 201-2, jld. 1, mengatakan:

“Seburuk2 dan sejahat2 apa yg dinuqilkan daripada Ibn Taimiyah ialah perkataannya terhadap hadith “turun Tuhan kita pd satu pertiga malam..” seperti turunnya aku ini.

( 8 ) Imam Ahmad Muhammad al-Siddiq al-Ghumari di dlm kitabnya “Ali al-Imam al-’Arifin” menjelaskan sedikit sebanyak kedangkalan pendapat Ibn Taimiyah terhadap Sayyidina Ali r.hu. Pada m.s. 55, beliau menegaskan dg katanya:

“Apa yg telah dijelaskan oleh Ibn Taimiyah terhadap Sayyidina Ali r.hu itu menunjukkan bhw beliau seorang ketua munafiq pd zamannya.” Hal ini terbukti mengikut apa yg dijelaskan oleh Baginda saw kpd Ali r.hu di dlm satu hadith sahih yg diriwayatkan oleh Imam Muslim, maksudnya:

“Tidak ada org yg menyintaimu melainkan dia seorang yg beriman. Tdak ada yg membencimu melainkan dia seorang yg munafiq.”

(9) Imam al-Kauthari di dlm kitab “Maqalat” m.s. 35 menyifatkan bhw Ibn Taimiyah adl seorang pengikut Ibn Malikan, ahli falsafah yahudi apabila beliau (Ibn Taimiyah) menisbahkan suara kpd Allah Swt dan pendapatnya yg mengatakan menjelmanya benda2 yg baharu pd zat Allah Swt. Pada m.s. 241 pula, beliau mengkritik tindakan Ibn Taimiyah yg menuqilkan hasil2 penulisan al-Mujassimah ke dlm kitabnya. Manakala pd m.s. 242 beliau mengemukakan beberapa contoh nuqilan Ibn Taimiyah yg menunjukkan kpd aqidah al-Tasybih.

(10) Syeikh Mansur ‘Awais pula menyifatkan pendapat Ibn Taimiyah ini lebih cenderung kpd tajsim. Sebagai contoh, di dlm kitabnya “Ibn Taimiyah Laisa Salafiyan” (Ibn Taimiyah bukanlah seorang Salafi, m.s. 216), beliau secara tegas mengemukakan satu bab yg khusus berbunyi

“Ibn Taimiyah menuju ke arah tajsim.”

Sebenarnya byk lagi pendapat ulama’ dan hukuman yg dikenakan keatas beliau. Tetapi, sudah memadai dg beberapa ucapan yg jelas daripada ulama’ yg mu’tabar. Penjelasan Sultan Qolaawoon, perbicaraannya dg ulama’ di mahkamah sehingga beliau dihukum penjara, fatwanya tentang talak, serta fatwa dpd fuqaha mazhab yg empat cukup utk membuktikan kpd kita ttg kontroversinya.

Sungguhpun Ibn Taimiyah salah seorang ulama’ ahl al-sunnah wa al-jama’ah, namun kredibiliti beliau sbg seorang tokoh dipertikai oleh para ulama’. Bahkan mereka mengenakan hukuman yg berat thdp beliau. Hukuman yg sebegini pula tdk akan berlaku sekiranya berkisar ttg perkara yg kecil atau masalah furu’iyyah (cabang). Apa yg nyata, tentunya Ibn Taimiyah melakukan satu kesilapan yg amat besar sehinga beliau menerima hukuman yg sedemikian.

Namun begitu, dlm beberapa penilaian, kita akan mendapati penyokong Ibn Taimiyah tetap berpegang teguh dan ta’sub kpd pendapatnya. Manakala penentang beliau akan terus menentang kerana kebatilannya yg menyalahi ijma’ dan pandangan ulama’ besar yg lain.

Natijahnya, perlulah bagi kita membuat pertimbangan yg wajar antara pro dan kontra terhadap pemikiran Ibn Taimiyah utk mencari jalan penyelesaiannya. Masih ramai lagi para ulama’ muslimin yg mu’tabar utk diijadikan qudwah atau ikutan. Pendapat Imam Mujtahid Mutlak dlm mazhab yg empat amat sesuai dipraktikkan. Begitu juga dg kredibiliti dan kreativiti syeikh2 mazhab itu sendiri. Tinggalkanlah pembawa masalah dan pencetus kesamaran kerana aqidah itu perlu dibina diatas dasar yg mantap. Hal ini penting supaya kekuatan dalaman kita dpt dicernakan bagi menyemarkkan kefahaman yg mampan dan semangat jihad dlm saf perjuangan Islam. Wallahu a’alam.

_____

[23] Kitab tulisan tangan ini masih terdapat di Maktabah Dzohiriyyah Damsyik, Syria.
sumber : abaizzat

AL-HAFIZ AZ-ZAHABI KAFIRKAN AKIDAH: ALLAH BERSEMAYAM/DUDUK

sampul kitab alkabiir :
klik ini

dan ini

*Bersemayam yang bererti Duduk adalah sifat yang tidak layak bagi Allah dan Allah tidak pernah menyatakan demikian, begitu juga NabiNya.

sumber : sidogiri
___________________________________________________________________________

Hakikat kebenaran tetap akan terserlah walaupun lidah syaitan Wahhabi cuba merubahnya.
Kali ini dipaparkan bagaimana rujukan utama Wahhabi iaitu Al-Hafiz Az-Zahabi sendiri mnghukum kafir akidah sesat: Allah Bersemayam/Duduk yang dipelopori oleh Wahhabi pada zaman kini. Az-Zahabi adalah Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Uthman bin Qaymaz bin Abdullah ( 673-748H ). Pengarang kitab Siyar An-Nubala’ dan kitab-kitab lain termasuk Al-Kabair.

Az-Zahabi mengkafirkan akidah Allah Duduk sepertimana yang telah dinyatakan olehnya sendiri di dalam kitabnya berjudul Kitab Al-Kabair. Demikian teks Az-Zahabi kafirkan akidah “ Allah Bersemayam/Duduk” :

( RUJUK SCAN KITAB TERSEBUT DI ATAS )
Nama kitab: Al-Kabair.
Pengarang: Al-Hafiz Az-Zahabi.
Cetakan: Muassasah Al-Kitab Athaqofah,cetakan pertama 1410h.

Terjemahan.
Berkata Al-Hafiz Az-Zahabi:

“Faidah, perkataan manusia yang dihukum kufur jelas terkeluar dari Islam oleh para ulama adalah: …sekiranya seseorang itu menyatakan: Allah Duduk untuk menetap atau katanya Allah Berdiri untuk menetap maka dia telah jatuh KAFIR”.

Rujuk scan kitab tersebut di atas m/s 142.

Perhatikan bagaimana Az-Zahabi menghukum kafir sesiapa yang mendakwa Allah bersifat Duduk. Sesiapa yang mengatakan Allah Duduk maka dia kafir.
Fokuskan pada kenyataan Az-Zahhabi tidak pula mengatakan “sekiranya seseorang itu kata Allah Duduk seperti makhlukNya maka barulah dia kafir” akan tetapi amat jelas Az-Zahabi terus menghukum kafir kepada sesiapa yang mendakwa Allah Duduk disamping Az-Zahabi menukilkan hukum tersebut dari seluruh ulama Islam.

Saya tidak akan mengikut golongan yang membenci keluarga Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam.

Setiap tulisan pendukung Nashibi akan diedit, karena kelancangannya terhadap Ahlul Bayt ridhwanullohi ‘alayhim.

Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam bersabda terhadap Imam Ali r.a

“Tidak ada org yg menyintaimu melainkan dia seorang yg beriman. Tidak ada yg membencimu melainkan dia seorang yg munafiq.”

Apa yang dida’wakan Ibnu Taymiyah dan para pengikutnya (Wahabi) thd Imam Ali ra. cukup menjadi dasar bagi muslimin untuk meninggalkan paham orang2 munafiq.

Gerakan Wahabiyyah Dan Bukannya Ahli Sunnah Yang Sebenar,al jawab
http://www.hafizfirdaus.com/ebook/SiapakahAhliSunnah/Tohmahan3.htm

Lana a’maluna wa lakum a’malukum.

Wahabiyyun mengatakan jangan mudah mengkafirkan orang lain. Halah, akbul (akal bulus). Padahal mereka lah yang paling mudah memvonis orang lain kafir.

Berikut ada postingan komentar yang diambil dari M. Abdullah Habib

Jangan nemen-nemen ya jelek-jelekkan wahhabi dan guru besarnya ibn taimiyah karena memang sudah jelas jeleknya. Ingat jasa beliau sangat besar, dalam hal ngapir ngapirkan orang.

Saya ada contoh bagaimana ibn taimiyah ngapirkan orang yang bertawassul kepada Allah, dalam buku yang sangat berharga di mata wahhabi “al-qo’idah al-waasithoh” [red: al qoidah al washithiyyah] bagian dari “Majmu’ah al tauhid hlmn. : 72 Cet. Darul Fikr. Orang yang sudah dikapirkan dengan dengan rumusan ini dia harus ” disuruh untuk taubat .masih ngeyel gak mau ? Bunuh ”

Ibnu Taimiyah menyatakan (yang kesimpulannya : orang yang bertawassul kepada Allah dengan para anbiya, auliya, ulama dan orang-salih ini ada 3 kemungkinan.

a. Meyakini bahwa Allah tidak Maha Tahu akan kebutuhan hambanNya, maka Allah membutuhkan orang yang dekat denganNya untuk memberi tahu.
“orang yang meyakini Allah Tidak Maha Tahu adalah Kafir”

b. Meyakini bahwa Allah lemah untuk mmenuhi kebutuhan hambaNya, maka dibutuhkanlah para pembantu yaitu para nabi, wali dan orang-orang salih.
“Orang yang meyakini bahwa Allah tidak maha kuasa, maka dia kafiirr.

c. Meyakini bahwa Tuhan tidak maha menghendaki untuk berbuat manfaat dan kebaikan kepada hambanya, maka Allah membutuhkan orang yang dekat denganNya untuk menasihati Allah agar Allah berbuat kebaikan. “Orang yang meyakini Allah tidak menghendaki kebaikan jelas dia Kaaaaafiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiir.

Inilah logika Imam Besar Ibn Taimiyah, mari kita fahami lebih lanjut dan apa saja yang akan ketumbur dengan logika orang sinting seperti ini. Kalau logika ibn taimiyah di terima maka :

Orang yang berdoa kepada Allah, sama dengan meyakini bahwa Alah tidak maha tahu akan kebutuhan hambanya, maka Allah perlu mendengar dari hambanya langsung sehingga Allah tahu kalau si hamba itu membutuhkan suatu keperluan. Orang yang meyakini bahwa Allah tidak maha tahu adalah kafiir Jadi berdoa menurut logika ibn taimiyah adalah kafir.

Meyakini Allah mengutus para utusan, sama dengan meyakini bahwa Allah tidak maha kuasa, sehingga Allah membutuhkan pembantu untuk menyampaikan pesan-pesannya. Orang yang percaya bahwa Allah tidak maha kuasa adalah kafiriiir. Jadi beriman kepada para utusan menurut logika gila ibn taimiyah adalah kafiiiirrrrrrrrrrrrrrr.

Orang melakukan salat dan membaca salawat terhadap nabi ketika tahiyyat, sama dengan meyakini bahwa Allah tidak berkehendak untuk memberi rahmat kepada RasulNya, maka dibutuhkan orang beramai ramai memohonkan salawat agar Allah memberikan rahmatNya kepada utusanNya itu. Orang yang meyakini bahwa Allah tidak berkehendak kebaikan terhadap utusanNya adah kaaafiiiiiirrrr. kesimpulannya Orang yang salat menurut ibn taimiyyah al junun, adalah kafiir.

Apakah ada logika yang lebih menghancurkan agama melebihi logika ibn taimiyah ini ? Hai Orang-orang Wahhaby coba tunjukkan !

Kawan-kawan tidak usah bersedih kalau di tuduh kafir oleh wahhabi karena pengkafiran mereka hanya dengan logika murahan seperti ini. Katakan “Tidak” untuk “wahhaby”

sebagai pembanding aja dari tulisan pengikut wahabi

Fatwa Ulama Seputar Sikap Ekstrem, Pengkafiran dan Sebagian Ciri-ciri Khawarij (1)
Fatwa Ulama Seputar Sikap Ekstrem, Pengkafiran dan Sebagian Ciri-ciri Khawarij (2)
Fatwa Ulama Seputar Sikap Ekstrem, Pengkafiran dan Sebagian Ciri-ciri Khawarij (3)
Fatwa Ulama Seputar Sikap Ekstrem, Pengkafiran dan Sebagian Ciri-ciri Khawarij (4)
Fatwa Ulama Seputar Sikap Ekstrem, Pengkafiran dan Sebagian Ciri-ciri Khawarij (5)
selanjutnya silahkan ilmui http://muslim.or.id/2007/01/19/fatwa-ulama-seputar-sikap-ekstrem-pengkafiran-dan-sebagian-ciri-ciri-khawarij-1/

Kaidah Mengkafirkan Orang Tertentu
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “… Padahal aku senantiasa -dan orang yang selalu mendampingiku selalu mengetahuinya- termasuk orang yang sangat melarang untuk menisbatkan orang tertentu dengan kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Kecuali jika orang itu telah nyata baginya kebenaran ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang barangsiapa menyalahinya, kadangkala bisa menjadi kafir, fasik, atau pelaku maksiat. Dan aku menjelaskan bahwa Allah Ta’ala mengampuni kesalahan (yang tidak disengaja) bagi umat ini. Pengampunan tersebut meliputi kesalahan dalam masalah khabariyyah qauliyyah (keyakinan) dan masalah-masalah ‘amaliyyah. Para ulama Salaf masih banyak berbeda dalam masalah ini, tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang menyatakan kafir, fasik, atau pelaku maksiat terhadap seseorang.”[48]
http://www.almanhaj.or.id/content/2395/slash/1

Ada sekelompok orang yg mengaku pengikut ibnu taymiyah yg mudah memvonis sesat, musyrik, kafir, bid’ah. Kadang bahkan yg tidak dilakukan ulama salaf maupun kholaf.

@ Antok

Tulisan Anda : ” Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “… Padahal aku senantiasa -dan orang yang selalu mendampingiku selalu mengetahuinya- termasuk orang yang sangat melarang untuk menisbatkan orang tertentu dengan kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Kecuali jika orang itu telah nyata baginya kebenaran ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang barangsiapa menyalahinya, kadangkala bisa menjadi kafir, fasik, atau pelaku maksiat. Dan aku menjelaskan bahwa Allah Ta’ala mengampuni kesalahan (yang tidak disengaja) bagi umat ini. Pengampunan tersebut meliputi kesalahan dalam masalah khabariyyah qauliyyah (keyakinan) dan masalah-masalah ‘amaliyyah. Para ulama Salaf masih banyak berbeda dalam masalah ini, tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang menyatakan kafir, fasik, atau pelaku maksiat terhadap seseorang.”[48]

Ucapan itu tidak terbukti dengan apa yang menjadi sikap dia dan para pengikutnya.

Silahkan anda baca ” al-Qo’idah Washithoh ( saya mendapati buku dengan judul di atas(ألقاعدة الولسطة) tetapi banyak yang menyebut (العقيدة الواسطية ) buku tersebut ada dalam “bagian dari “Majmu’ah al tauhid hlmn. : 72 Cet. Darul Fikr.”

Dan masih banyak lagi pengkafiran (menganggap kafir orang lain dengan cara yang tidak ilmiyah ) Silahkan baca ” Iqtidho’ al shiroth al mustaqim dan buku murid kesayangannya Ibn Qoyyim dalam Zadul Ma’ad.

Beda isi tulisan dgn sikap perbuatan. Diperparah dgn para muqollid yg lbh ekstrim daripada para pendahulu mereka. Telah jelas ciri2 mereka disebutkan Rasululloh shalallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam dalam haditsnya yg mahsyur. “Ya Alloh kami berlindung padaMU dari fitnah mereka. Amien”

Assalamu`alaikum
Saya minta izin untuk mengcopynya untuk diteliti mengenai kebenarannya.

Seri keduanya kok nggak ada ya

Assalamu`alaikum
Kok saya jadi bingung ya,setahu saya imam abul hasan al asy`ariyah itu juga tak menakwil shifat2 Allah. Bahkan para ulama telah mengatakan bahwa beliau ada 3 fase kehidupan.

syi’ah memang berbeda karena faham siah adalah musrik dan wahabi mudah2an termasuk aswj.mas lukman segera bertobat y???

mas lukman lebay dh,,, cepat2 bertaubat yyy

Jauh lebih baik dan selamat jadi lebay daripada ikut ajaran Wahhabi. Alhamdulillah Alloh beri nikmat yang sangat besar terlepas dari fitnah Wahhabi. Semoga Alloh selamatkan kita semua dari paham ini. Amien ya robbal ‘alamien

ass wr. ustad sa’ad, mohon pencerahan, bagaimana mengimani perkataan nabi kita yang mulia di bawah ini :

1. “Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang di atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry).

2. “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya ! Tidak seorang suamipun yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya (bersenggama), lalu sang istri menolaknya, melainkan Dzat yang di atas langit murka kepadanya sampai suaminya ridla kepadanya “.(Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim 4/157 dari jalan Abu Hurarirah).

apakah harus kita takwil? kalau harus kita takwil bagaimana takwilnya ?

jazaakallohu khoir.

Kalau beri salam yang lengkap ustadz Eki. Masak pan*** dijadikan salam? :?

Hadits untuk menunjukkan bahwa dzat Alloh itu benar2 ada di langit cuma ini? Hadits jariyah yang ditanya tentang ‘aynalloh?’ gak dimasukkan juga?

Kenapa gak antum masukkan juga hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari, imam Ibnu Jarud, imam Bayhaqi dengan sanad sahih mengenai :
“كان الله ولم يكن شىء غيره” ?

Juga perkataan imam al hafidz Bayhaqi mengenai hadits sahih bersumber dari Rasululloh SAW dalam kitab Asma wa Shifat :
“أنت الظاهر فليس فوقك شىء وأنت الباطن فليس دونك شىء”

Antum pernah dengar perkataan Imam Abu Manshur al Baghdadi mengutip perkataan imam Ali karromallohu wajhah :
“كان الله ولا مكان وهو الآنَ على ما عليه كان”

Selain itu imam Abu Ja’far Ath Thohawi lhr 227 H, dalam hal aqidah mengatakan dengan gamblang :
“تعالى (يعني الله) عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات لا تحويه الجهات الستّ كسائر المبتدعات”.

Terkait dengan takwil paksa antum dan yang antum taqlid buta dengannya (paham Wahhabi Mujassimah Musyabbihah) mengenai dzat yang di langit, ternyata ahli tafsir punya pandangan yang berbeda. Berikut tafsir para mufassirin mengenai -man fis samaa’i- :

وكذا قال المفسرون من أهل السنة كالإمام فخر الدين الرازي في تفسيره (ج30 ص99) وأبي حيان الأندلسي في تفسيره البحر المحيط (ج10/226) وأبي السعود في تفسيره (ج9/ص7) والقرطبي في تفسيره الجامع لأحكام القرءان (ج17 ص205) وغيرهم. وعبارة القرطبي: {ءأمنتم من في السماء} [سورة الملك] “قال ابن عباس: أأمنتم عذاب من في السماء إن عصيتموه، وقيل هو إشارة إلى الملائكة وقيل إلى جبريل وهو الملك الموكل بالعذاب”

Pertanyaan balik ke antum ya ustadz Eka

Aynallohu qobla al Arsy was samaa?

Jazakallohu khoir…

lanjutan teks arabnya silakan lihat di : sini

Paham mengenai Alloh bertempat yang ust. Eki yakini adalah bagian dari pemahaman Wahhabi Mujassimah Musyabbihah yang dida’wakan oleh Ibnu Abdil Wahhab di wilayah Najd. Ibnu Abdil Wahhab sendiri mengambil rujukan dari syaikh Ibnu Taymiyah al Harrani. Konsep tempat bagi dzat Alloh merupakan hal yang diada-adakan yang bertentangan dengan paham Ahlus Sunnah dan salafus shalih.

Imam Abu Hanifah membantah anggapan bahwa Alloh bertempat, di langit kah atau di bumi kah.
قال الإمام أبو حنيفة رضي الله عنه :”من قال لا أعرف ربي أفي السماء هو أم في الأرض فقد كفر لأن هذا القول يوهم أن للحق مكانًا ومن توهم أن للحق مكانًا فهو مشبه” اهـ.

jawabaan yg bagus ustad Sa’ad semoga Alloh memberi hidayah kepada anda Ustad juga saya, tapi ada yang masih bingung saya ustad..

satu hal saya sangat setuju dengan ustad bahwa Alloh tidak mungkin dibatasi dan dilingkupi oleh ‘ARAH’ YANG MAKHLUK seperti : kanan, kiri, atas, bawah, depan, belakang (yang ‘arah’ makhluk) keyakinan seperti itu adalah KEKUFURAN karena makhluk tak mungkin melingkupi Alloh. saya setuju sekali ustad….hal ini seperti apa yang disampaikan IBNU TAIMIYYAH yg bisa kita baca dalam blog ini ustad:

1. http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/03/11/majmu-fatawa-arah-jihat-terkait-sifat-allah/#more-105

2. http://www.firanda.com/index.php/home/31/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs

kita ketahui bersama bahwa hadits adalah PENJELAS / TAFSIR AlQuran, begitu juga atsar sahabat yang shohih. dan kebanyakan hadits2 dan atsar2 tentang keberadaan Alloh dengan jelas2 Rosulloh dan sahabat mengisyaratkan bahwa Alloh ‘di atas’ langit ( ‘arah atas’ = al uluw =tsabit /tetap / penetapan Alloh sendiri seperti berfirman di kitab-Nya di enam tempat yaitu : Surat Al-A’raf ayat 54, Surat Yunus ayat 3, Surat Ar-Ra’du ayat 2 , Surat Al-Furqaan ayat 59, Surat As-Sajdah ayat 4, Surat Al-Hadid ayat 4 ) dan hadits2 yang saya maksud diantaranya 2 hadits diatas dan hadits yang ustad inginkan yaitu :

“Beliau bertanya kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah: “Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : “DI ATAS langit. Beliau bertanya (lagi) : “Siapakah Aku ..?”. Jawab budak itu : “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : “Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”. (Imam Muslim : 2/70-71)

NB: Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi’i di dalam kitab al-‘Umm juz 5 halaman 298. Beliau berhujjah terhadap para penentang, yang menyatakan bolehnya memerdekakan budak kafir dengan khabar (hadits) ini karena keyakinan beliau bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala di atas makhluk-makhlukNya, dan di atas tujuh langit di atas ‘ArsyNya sebagaimana keyakinan kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah baik yang terdahulu maupun kemudian, karena beliau (Asy-Syafi’i) tidaklah meriwayatkan khabar (hadits) yang shahih kemudian tidak berpendapat dengan (hadits) tersebut.

Ustad sa’ad yang menjadi pertanyaan saya adalah :

## kita diperintahkan mengikuti ‘sunnah’ dan salah satu dari sunnah itu adalah ‘ucapan’ Rosulloh. Kita diperintah berucap seperti ucapan Rosulloh, kalau kita dilarang mengatakan ‘Alloh di atas langit’ seperti ucapan Rosulloh berarti kita tidak di atas ‘sunnah’ donk..??

## ustad sa’ad, ucapan orang2 ‘wahabi’ soal aqidah ‘dimana Alloh’ sama dengan ucapan Rosulloh, kalo ‘wahabi’ kita katakan sesat, apakah tidak berarti kita juga menuduh Rosulloh sesat?

## ustad kita menafikan sifat al istiwa bagi Alloh dengan alasan itu menyerupai makhlukNya. tetapi kita malah menetapkan sifat sifat : MENDENGAR, MELIHAT, DAN KALAM yang notabene sifat sifat ini justru lebih menyerupai makhlukNya. apakah dengan cara ini kita tidak lebih sesat dari orang orang ‘wahabi’?

## ustad bolehkah kita menghukumi ulama ulama ahli hadits yang meriwayatkan hadits ‘Alloh diatas langit’ sebagai ulama sesat diantaranya Imam Bukhori, imam Muslim, adz dzahabi, imam tirmidzi dll??

mohon tanggapan ustad. baarakallohu fiik

Makasih banyak ustadz (ah) Eki. Diskusi yg menarik dan ilmiyah

Istiwa itu artinya apa? Duduk kah, bersemayam kah atau apa?

A amintum man fis samaa… itu menurut ahli tafsir apa? Alloh yg di langit?

Alloh turun ke langit dunia setiap sepertiga malam terakhir menurut pemahaman Ahlus Sunnah kiranya apa? Dzat Alloh kah atau makna lain?

Kullu haalikun illa wajhah menurut imam Bukhari itu apa? Semua hancur kecuali hanya Wajah Alloh saja kah (padahal Wahhabi mengakui secara hakiki Kaki, Tangan, Jemari dll. Berarti juga hancur)?

Kullu man ‘alayha faan
Wa yabqo wajhu robbika dzul jalaali wal ikrom
Wajah di ayat ini maknanya menurut ahli tafsir Ahlus Sunnah apa?

Ayat2 mutasyabihat itu bagaimana menafsirkan dan mengimaninya?

Ahlus Sunnah itu bukan Wahhabi, pun sebaliknya. Jadi kesimpulan ustadz (ah) yg menggiring bahwa Rasululloh = Wahhabi dan Wahhabi = Rasululloh adalah batil. Sehingga tidak perlu saya tanggapi

Senang diskusi dengan ustadz (ah) Eki

Semoga Alloh SWT membimbing kita ke jalan yg lurus serta menyelamatkan kita dari paham serigala berbulu domba

Allohu musta’an

Allohu a’lamu

jawabaan yg bagus ustad Sa’ad semoga Alloh memberi hidayah kepada anda Ustad juga saya, tapi ada yang masih bingung saya ustad..

satu hal saya sangat setuju dengan ustad bahwa Alloh tidak mungkin dibatasi dan dilingkupi oleh ‘ARAH’ YANG pMAKHLUK seperti : kanan, kiri, atas, bawah, depan, belakang (yang ‘arah’ makhluk) keyakinan seperti itu adalah KEKUFURAN karena makhluk tak mungkin melingkupi Alloh. saya setuju sekali ustad….hal ini seperti apa yang disampaikan IBNU TAIMIYYAH yg bisa kita baca dalam blog ini ustad:

1. http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/03/11/majmu-fatawa-arah-jihat-terkait-sifat-allah/#more-105

2. http://www.firanda.com/index.php/home/31/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs

yang membuat saya bingun ustad adalah kita ketahui bersama bahwa hadits adalah PENJELAS / TAFSIR AlQuran, begitu juga atsar sahabat yang shohih. dan kebanyakan hadits2 dan atsar2 tentang keberadaan Alloh dengan jelas2 Rosulloh dan sahabat mengisyaratkan bahwa Alloh ‘di atas’ langit ( ‘arah atas’ = al uluw =tsabit /tetap / penetapan Alloh sendiri seperti berfirman di kitab-Nya di enam tempat yaitu : Surat Al-A’raf ayat 54, Surat Yunus ayat 3, Surat Ar-Ra’du ayat 2 , Surat Al-Furqaan ayat 59, Surat As-Sajdah ayat 4, Surat Al-Hadid ayat 4 ) dan hadits2 yang saya maksud diantaranya 2 hadits diatas juga seperti kata ustad dan hadits lainnya yaitu

3. “Dari Ibnu Abbas (ia berkata) : ” Bahwa Rasulullah SAW berkhotbah kepada manusia pada hari Nahr (tgl. 10 Zulhijah) -kemudian Ibnu Abbas menyebutkan khotbah Nabi SAW- kemudian beliau mengangkat kepalanya (ke langit) sambil mengucapkan : Ya Allah bukankah Aku telah menyampaikan ! Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan !. (Riwayat Imam Bukhari Juz 2 hal : 191).

4. “Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang DI ATAS langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry).

5. “Beliau bertanya kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah: “Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : “DI ATAS langit. Beliau bertanya (lagi) : “Siapakah Aku ..?”. Jawab budak itu : “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : “Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”. (Imam Muslim : 2/70-71)
NB: Hadits tersebut juga diriwayat
kan oleh Imam Asy-Syafi’i di dalam kitab al-‘Umm juz 5 halaman 298. Beliau berhujjah terhadap para penentang, yang menyatakan bolehnya memerdekakan budak kafir dengan khabar (hadits) ini karena keyakinan beliau bahwa Allah Subhaanahu Wa Ta’ala di atas makhluk-makhlukNya, dan di atas tujuh langit di atas ‘ArsyNya sebagaimana keyakinan kaum muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah baik yang terdahulu maupun kemudian, karena beliau (Asy-Syafi’i) tidaklah meriwayatkan khabar (hadits) yang shahih kemudian tidak berpendapat dengan (hadits) tersebut.

Ustad sa’ad yang menjadi pertanyaan saya adalah :
## kita diperintahkan mengikuti ‘sunnah’ dan salah satu dari sunnah itu adalah ‘ucapan’ Rosulloh. Kita diperintah berucap seperti ucapan Rosulloh, kalau kita dilarang mengatakan ‘Alloh di atas langit’ seperti ucapan Rosulloh berarti kita tidak di atas ‘sunnah’ donk..??
## ustad sa’ad, ucapan orang2 ‘wahabi’ soal aqidah ‘dimana Alloh’ sama dengan ucapan Rosulloh, kalo ‘wahabi’ kita katakan sesat, apakah tidak berarti kita juga menuduh Rosulloh sesat?
## ustad kita menafikan sifat al Istiwa karena kita anggap hal itu akan menyerupakan Allloh dengan makhluk. dengan alasan istawa itu perbuatan makhluk. yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita malah menetapkan sifat sifat : MENDENGAR, MELIHAT, KALAM, DAN LAIN LAIN yang notabene sifat sifat itu justru lebih menyerupai makhluk??

mohon tanggapan ustad. baarakallohu fiik

ustad sa’ad berdalil dengan pendapat Iman ath Thahawi :

Selain itu imam Abu Ja’far Ath Thohawi lhr 227 H, dalam hal aqidah mengatakan dengan gamblang :
“تعالى (يعني الله) عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات لا تحويه الجهات الستّ كسائر المبتدعات”.
artinya : Alloh maha tinggi (tidak dibatasi oleh) batas2 dan ujung akhir, dan (tidak membutuhkan) bagian2, anggota2, maupun perangkat2.
Alloh tidak dilingkupi oleh arah yang enam sebagaimana makhuk ciptaannya.

syaikh Shalih bin Fauzan ketika mensyarah perkataan iman ath Thahawi di atas mengatakan :

“BATAS BATAS” . ini sangat umum. Jika yang dimaksud imam Ath Thahawi adalah batas2 yang makhluk, maka Alloh memang maha suci (tidak dibatasi) oleh batas2 tsb dan maha suci untuk bertempat pd makhluknya. Namun jika yang dimaksud ath thohawi adalah batas2 yang bukan makhluk yaitu arah atas (al uluw) maka ini tsabit (tetap) bagi Alloh, maka Alloh tidak boleh disucikan dari sifat al uluw (bersemayam diketinggian) karena itu adalah haq. Dan ini bukan termasuk dalam batas batas dan arah arah yang makhluk.

“TUJUAN TUJUAN” (al ghayat) juga terlalu umum, yang mengandung kemungkinan haq dan kemungkinan batail.jika yang dimaksud hikmah dicipkannya makhluk-makhluk, yaitu bahwasannya Alloh menciptannya untuk suatu hikmah, maka ini adalah haq. Akan tetapi, (seharusnya) dikatakan hikmah, bukan tujuan2.
Alloh berfirman :
“Dan Aku tidak mencitakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” [Adz – Dzariyatgan : 56]
Jika yang dimaksud dengan tujuan – tujuan (al ghayat) adalah HAJAT kepada makhluk makhluk, maka ini PENIADAAN yang shohih. Karena Alloh tidak menciptakan makhluk karena hajat dan kebutuhanNya kepada makhluk tersebut. Dia maha kaya dari (membutuhkan) alam semesta.

“BAGIAN – BAGIAN, ANGGOTA-ANGGOTA, DAN PERANGKAT – PERANGKAT” juga terlalu umum. Jika yang dimaksud adalah : sifat–sifat Dzat seperti “wajah” dan “dua tangan”, maka ini adalah haq, dan yang menafikan adalah batil. Dan jika yang dimaksud adalah menafikan anggota-anggota yang menyerupai anggota-anggota dan perangkat perangkat makhluk , maka Alloh maha suci dari hal semacam itu. Maka masalah “Bagian-bagian, dan anggota-anggota” ini memiliki rincian rincian sebagai berikut :

PERTAMA : apabila yang dimaksud dengannya adalah menafikan ash shifat adz-Dzatiyah dari Alloh seperti “Wajah” dan “dua Tangan” serta sifat sifat yang Tsabit (tetap) bagi Alloh, maka ini adalah BATIL

KEDUA : sedangkan jika yang dimaksud adalah bahwasanya Alloh maha suci dari terserupakan dengan bagian bagian, anggota anggota, dan perangkat perangkat (jasmani) manusia, maka BENAR . Alloh maha suci dari penyerupaan semacam itu, karena Alloh tidak terserupakan oleh seorangpun (sesuatu pun) dari makhluk makhlukNya, dan tidak dalam sifat sifatNya.

RINGKASAN : Bahwa lafazh lafazh yang dibawakan mu’allif mengandung keumuman, akan tetapi perkataannya tersebut dapat dimaknai secara haq. Karena beliau adalah diantara ulama ulama ahlus sunnah wal jamaah, juga karena beliau adalah diantara ulama Ahli Hadits, sehingga tidak mungkin beliau memaksudkan makna makna yang buruk, akan tetapi (dengan sangat yakin) bahwa yang beliau maksudkan adalah makna makna yang shohih. Dan andai saja beliau lebih merinci masalah tersebut dan menjelaskan (tentu akan lebih baik) dari pada menyebutkan secara global dan umum (seperti ini dapat menimbulkan dualisme penafsiran

kepada para pembaca silahkan membandingkan pendapat mana yang kuat
semoga bermanfaat.

Shalih Fauzan min al Ulama al Wahhaabiyah. Nothing new

-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸‎ τ н ∂ и κ ч ö ü •̸Ϟ•̸‎-̶̶•-̶̶

maaf ustad tulisanku dobel dobel, saya fikir kiriman saya yang pertama tidak ditampilkan, sehingga saya postkan lagi. maaf ustad

jazaakallohu khoir

Laa ba’tsa ya ustadz (ah)

Istiwa itu artinya apa? Duduk kah, bersemayam kah atau apa?

eki : Ustad kalo saya baca di al quran terjemahan berbahasa indonesia termasuk terjemahan yang dikeluarkan DEPAG RI ‘istiwa’ diterjemahkan ‘BERSEMAYAM’. kalo saya baca tulisan tulisan orang orang ‘wahabi’ mereka mengimani bahwa Alloh istiwa di atas arsyNya sesuai yang dikehendakiNya, dan tidak serupa dgn bersemayamnya makhlukNya. mereka tidak menanya nanyakan kayfiyahnya. Alloh berfirman : “TIDAK ADA SESUATU YANG SAMA DENGAN DIA…..” (Q.s. asy syura :11)

makna secara bahasa ‘istiwa’itu sudah diketahui, seperti yang dikutip Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam Tafsir-nya :
“Telah berkata Malik rahimahullah : ‘Al-Istiwaa’ adalah diketahui (ma’luum) – yaitu (diketahui) dalam bahasa (‘Arab) – , kaifiyah-nya tidak diketahui (majhuul), bertanya tentang hal ini adalah bid’ah’. ” [Tafsir Al-Qurthubi (Al-Jaami’ li-Ahkaamil-Qur’aan), 7/219-220,

juga Alloh berfirman : “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Q.s. yusuf :2)

‘istiwa’ kalau menurut ustad apa ya?? istaula kah?

A amintum man fis samaai… itu menurut ahli tafsir apa? Alloh yg di langit?

eki : mungkin yang dimaksud ustad ayat 16 dari surat Al Mulk yang artinya : “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?,”

Ustad terjemahan ini saya ambilkan dari ‘Al Quran terjemahan’ yang dikeluarkan DEPAG RI juga. Kalau kita mencermati makna dhohir dari ayat ini ‘man fis samaai’ itu tidak ada jawaban lain selain ‘ALLOH’ (menurut terjemahan tersebut /DEPAG RI). ini juga bisa diketahui dari kelanjutan kalimat dari ayat itu, siapa yang berkuasa menjungkir balikkan bumi ??? jawabannya pasti Alloh

Lalu bagaimana anda memahami ayat di atas ustad? menurut ustad siapa yang dilangit yang kuasa menjungkir balikkan bumi ? malaikatkah? ibliskah? atau siapa ya….?’

Alloh turun ke langit dunia setiap sepertiga malam terakhir menurut pemahaman Ahlus Sunnah kiranya apa? Dzat Alloh kah atau makna lain?

Eki : ustad orang orang ‘wahabi’ mengimani berita dari Rosulloh yang mengabarkan ‘Alloh turun ke langit dunia setiap sepertiga malam terakhir’ kayfiyatnya orang orang ‘wahabi’ tidak menanyakan karena menurut mereka itu GHOIB, tapi mengimani Alloh turun kelangit dunia sesuai yang dikehendakiNya itu wajib,

IMAM SAFI’I mengatakan: Perkataan dalam sunnah yang aku berjalan di atasnya, dan aku lihat para sahabat kami juga berjalan di atasnya, -yakni para ahlul hadits yang ku temui dan ku ambil ilmu dari mereka, seperti Sufyan Ats-Tsauri, Malik, yang lainnya-, adalah: Berikrar dengan persaksian bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh, sesungguhnya Muhammad itu Rosululloh, sesungguhnya Alloh itu diatas arsy-Nya, di atas langit-Nya, Dia mendekat kepada makhluknya sebagaimana Dia kehendaki, dan ALLOH JUGA TURUN KE LANGIT DUNIA SESUAI KEHENDAK-NYA. (Ijtima’ul juyusyil islamiyah libnil qoyyim, hal: 165. Itsbatu Shifatil Uluw, hal:124. Majmu’ul Fatawa 4/181-183. Al-Uluw lidz Dzahabi, hal: 120. Mukhtashorul Uluw, hal: 176)

Kalau menurut ustad bagaimana?? Sama nggak dengan imam SAFI’I???

kalo orang orang asy’aryah setahu saya untuk mengimani ayat2 sifat maupun hadits2 sifat Alloh dicocok cocokkan dulu dengan akal mereka yang terbatas. kalo tidak cocok ya..ditolak dan diganti yang cocok, apa iya begitu ustad??

bagaimana cara mengimani ayat ayat mutasyabihat??

eki : setahu saya orang orang ‘wahabi’ mengimani ayat ayat mutasyabihat dengan dua cara ustad, sesuai bagaimana keadaan datangnya ayat tersebut yaitu :

1. beriman secara global (tidak diperinci) apabila ayat tersebut datangnya juga secara global.

contoh : ” …..dan Alloh berbuat apa saja yang Dia kehendaki” (Q.s. 14 :27)
di sini Alloh tidak memerinci apa yang diperbuat dan dikehendaki. kita mengimani apa yang tidak diperinci Alloh

2. beriman secara terperinci apabila ayat tersebut datang secara terperinci

contoh : “Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istawaa” (Thaha : 5)

di sini Alloh memerinci dimana bersemayam. kita wajib mengimani apa yang diperinci Alloh, tapi karena kaifiyatnya istiwa Alloh tidak memerinci maka kita juga tidak memerinci kaifiatnya. itu kita serahkan kpd Alloh.

bagaimana cara anda mengimani ayat ayat mutasyabihat ustad, kasih ilmunya donk ustad!!!!.

baarokallohu fiik ustad….

Wahabiyah bukan gerakan keagamaan tapi gerakan politik yg berbumgkus agama

slm alkm.alhmdlh luar biasa..para asatidz rohimakumulloh qt akui adanya khilafiyyah dlm mslh mentakwil ato tdk mentakwil.hanya saja kalangan wahabi ni kadang ga sadar khilafiyyah yg berujung pada pemahaman berat sebelah…pernyataan mereka selalu menyimpul bahwa di luar dalil yang mereka ajukan adalah bid’ah,khurafat,sesat dll..akhir nya yang di gitukan pun sakit hati.saran kami untuk para wahabi ANDA BOLEH PESAN KAVLING SURGA TAPI JANGAN SERAKAH…ANDA BOLEH PUNYA DALIL,TAPI JGN MERASA DALIL ANDA LAH YANG PALING OKE…hal ini kami sampaikan berdasarkan pengalaman kami di sini..teman teman wahabi anda selalu ngerusui amaliyyah orang lain yang tdk sefaham dengan alasan amar ma’ruf nahyi munkar.padahal markas besar wahabi nya sendiri(di batam mesjid sabilunnajah) tetanggaan sama kafe nya orang kafir yang kalo mlm sabtu mlm minggu pesta pesta miras dll…kenapa ente para wahabi….aneh…. nyerang ko sama yg muslim,ngadu dalil ko sama yang muslim….sama israel sama amerika anda diam seribu bahasa…saya sering suudhon jangan jangan wahabi ni temenan sama mereka.na’udzu billah.Alloh dan rosul Nya tdk pernah berbuat seperti apa yang anda lakukan..jadi jgn salahkan jika begitu buanyak orang islam yang menentang anda…penentangan tersebut bukan karna anda membawa kebaikan seperti nabi….tapi anda membawa kehancuran seperti yahudi.sok mangga emutan abdi asli ti sunda merantau ka batam…

pengalaman pribadi sy mengatakan demikian…jadi tolong para wahabi anda jangan menggunakan كلمة الحق واريد بها الباطل

pak ustads saya orang bodoh mau tanya sunnah itu apa perilaku nabi setelah di angkat jadi nabi,kenapa proses sebelum diangkat jadi nabi tidak banyak di kupas dan di sunahkan?

Selama masih mengikuti mazhab liar wahhaby, umat tidak akan damai dan permusuhan akan senantiasa terjadi. Begitu mengikuti wahhabi pada saat itu pula harus menanggalkan akal fikiran serta hati nurani. Saya yakin wahhabi akan hancur sendiri dengan sesama wahhabi karena mereka berotak udang. Semoga saja syajarah khabitsah ini segera tercabut dari akar akarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Shalawat


Al Qur’an Online

Tawassul

Pengunjung

  • 502,714 Pembaca Setia

اهلا وسهلا بحضوركم

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kebenaran datangnya dari Alloh SWT, kesalahan datangnya dari kelemahan diri saya pribadi. Jika ingin copy-paste silakan. Mohon masukan dan tegur sapa serta do'akan semoga tetap istiqomah di jalanNYA. Amien

Terima kasih atas kunjungan Anda

Allah exists without a place!

Sahabat Ali Ibn Abi Thalib berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir." Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sahabat Ali Ibn Abi Thalib menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah SWT) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 989 other followers

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Twitter

Follow me

Shalawat





Asas

Page Rank

Online

tracker

My 4shared

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 989 other followers