<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sekedar Catatan</title>
	<atom:link href="http://jerman90.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jerman90.wordpress.com</link>
	<description>Tempat untuk sharing dan diskusi</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 02:10:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jerman90.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/94857a250e802b6517637fb9a2a7f99a?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Sekedar Catatan</title>
		<link>http://jerman90.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jerman90.wordpress.com/osd.xml" title="Sekedar Catatan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jerman90.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sekiranya Hal tersebut Baik&#8230;</title>
		<link>http://jerman90.wordpress.com/2011/12/01/sekiranya-hal-tersebut-baik/</link>
		<comments>http://jerman90.wordpress.com/2011/12/01/sekiranya-hal-tersebut-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 09:34:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Lukman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Neo Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[wahhabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://jerman90.wordpress.com/?p=2691</guid>
		<description><![CDATA[”LAU KAANA KHAIRAN LASABAQUUNAA ILAIHI” (Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para Shahabat telah mendahului kita mengamalkannya) Patutlah kaidah yang besar ini dihafal oleh setiap muslim untuk menghancurkan berbagai macam bid’ah yang orang sandarkan dan masukkan ke dalam agama Allah yang mulia ini, Al-Islam.  Begitu di antara kandungan yang ada pada buku yang ditulis oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jerman90.wordpress.com&amp;blog=1280582&amp;post=2691&amp;subd=jerman90&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>”LAU KAANA KHAIRAN LASABAQUUNAA ILAIHI”</b></p>
<p>(Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para Shahabat telah mendahului kita mengamalkannya)</p>
<p>Patutlah kaidah yang besar ini dihafal oleh setiap muslim untuk menghancurkan berbagai macam bid’ah yang orang sandarkan dan masukkan ke dalam agama Allah yang mulia ini, Al-Islam. </p>
<p>Begitu di antara kandungan yang ada pada buku yang ditulis oleh Ustadz  Abdul Hakim bin Amir Abdat</p>
<p>BENARKAH INI KAIDAH BESAR SEHINGGA DIJADIKAN TOLOK UKUR HALAL HARAM DALAM AGAMA KITA ?</p>
<p>Berikut yang saya temukan sehingga akhirnya dapat disimpulkan bahwa ini sebenarnya </p>
<p>bukan kaidah besar melainkan kaidah yang membuat pola pikir muslim menjadi dangkal.</p>
<p>1. Mirip kaidahnya orang kafir ketika menolak al qur’an</p>
<p>Silakan dilihat :</p>
<p>وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ</p>
<p>Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya dia (Al Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”. (QS 46: 11)</p>
<p>Dengan demikian dapat ditanyakan, </p>
<p>apa pantas golongan yang menisbatkan diri pada SALAF membuat kaidah baru yang berawal dari ucapan kaum kafir untuk kemudian dijadikan kaidah haram halal ?</p>
<p>2. Menyalahi nash Al Qur’an</p>
<p>Sebagaimana kita tahu kaidah besar dalam agama ini di antaranyaAyat ini</p>
<p>وَمَا اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ َانْتَهُوْا</p>
<p>‘Apa saja yang dibawa oleh Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa saja yang dilarang oleh Rasul maka berhentilah (mengerjakannya). (QS. Al-Hasyr : 7)</p>
<p>Dalam AYAT ini disebutkan  bahwa perintah agama adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW, dan yang dinamakan larangan agama adalah apa yang memang dilarang oleh Rasulullah SAW.</p>
<p>Dan tidaklah  dikatakan:</p>
<p>وَماَ لَمْ يَفْعَلْهُ فَانْتَهُوْا</p>
<p>“Dan apa saja yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulul maka berhentilah (mengerjakannya).”</p>
<p>3. Menyalahi hadist mauquf dari Ibnu Ma’ud ra.</p>
<p>ما رءاه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رءاه المسلمون سيئا فهو عنداالله سيء</p>
<p>“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, maka menurut Allah-pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab Al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)</p>
<p>Hadits ini dalam kitab-kitab ushul fiqh dijadikan salah satu dalil ijma’ (konsensus ulama mujtahidin) dan dalam kitab-kitab </p>
<p>kaidah FIQH dijadikan dalil dalam kaidah al-‘Adah Muhakkamah. Hadits ini marfu’ sampai Rasulullah sehingga dapat dijadikan hujjah (dalil) untuk mentakhsish keumuman hadits tentang semua bid’ah adalah sesat.</p>
<p>Berikut ini komentar beberapa ulama :</p>
<p>‫ما جاء في أثر ابن مسعود رضي الله عنه:(ما رآه المسلمون حسناً فهو عند الله حسن وما رآه المسلمون قبيحاً فهو عند الله قبيح). كشف الأستار عن زوائد البزار” (1/81)، و “مجمع الزوائد‬” (1/177)</p>
<p>Dari atsar Ibnu Mas’ud ra. “Apa yg menurut umat islam umumnya itu baik, maka baik menurut Alloh dan apa yg menurut umat islam umumnya itu buruk, maka buruklah menurut Alloh [Kitab Kasy al-Astar an jawaz al-Bazzar juz 1 hal. 81 dan Kitab Majmu' zawaid juz 1 hal 177]</p>
<p>‫قال ابن كثير: “وهذا الأثر فيه حكايةُ إجماعٍ عن الصحابة في تقديم الصديق، والأمر كما قاله ابن مسعودٍ‬“.</p>
<p>Ibnu Katsir berkata, Atsar ini didalamnya menjelaskan kesepakatan sahabat yg telah mendahului dlm hal2 kebenaran sebagaimana yg dikatakan Ibnu Mas’ud</p>
<p>‫وقال الشاطبي في “الاعتصام‬” (2/655):(</p>
<p>‫إن ظاهره يدل على أن ما رآه المسلمون بجملتهم حسناً؛ فهو حسنٌ، والأمة لا تجتمع على باطلٍ، فاجتماعهم على حسن شيءٍ يدل على حسنه شرعاً؛ لأن الإجماع يتضمن دليلاً شرعياً‬”)</p>
<p>Imam Syathibi dlm Kitabnya Al-I’tishom juz 2 hal. 655 [sesungguhnya yg secara zhohir apa yg menurut penglihatan org muslim umumnya mengandung kebaikan maka itu adalah baik, dan umat manusia tidak mgkn sepakat dalam kebatilan. Kesepakatan mereka pada seseuatu akan kebaikannya menunjukkan kebaikan menurut syari'at agama, karena kesepakatan umum mengandung hukum syara' [hukum agama].</p>
<p><b>KESIMPULAN :</b></p>
<p>• Amalan-amalan yang selama ini dipermasalahkan sebenarnya memang dianggap baik oleh para ulama sehingga tidak patut kaidah seperti ”LAU KAANA KHAIRAN LASABAQUUNAA ILAIHI” karena ucapan seorang sahabat nabi lebih didahulukan• Legitimasi kebaikan tidak terbatas kurun Salaf melainkan juga berasal dari dari kaum mukmin.<br />
Hal ini diperkuat oleh ayat :</p>
<p>‫ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غيـر سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيـرا‬ ( (‫سورة النساء : 115‬ )“Dan barang siapa yang menentang Rasulullah setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mukmin, maka kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang ia kuasai itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam neraka jahannam. Dan jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali” (Q.S. an-Nisa: 115)Penyebutan ” jalan orang mukmin” merupakan faidah bahwa legitimasi kebaikan ada juga pada orang-orang mu’min.</p>
<p>Andaikata format atau kulitnya sama dengan rasulullah maka dalam ayat tersebut (terj) pasti tercukupi dengan  :</p>
<p>““Dan barang siapa yang menentang Rasulullah setelah jelas baginya kebenaran , maka kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang ia kuasai itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam neraka jahannam. Dan jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali”Catatan :</p>
<p>Hadist ini juga bisa dipakai sebagai dasar menetapkan sesuatu dengan cara istihsan atas sesuatu yang pada kurun sahabat tidak ada .Secara etimologi istihsan berarti “memperhitungkan sesuatu lebih baik”, atau “adanya sesuatu itu lebih baik”, atau ” mengikuti sesuatu yg lbh baik”, atau “mencari yg lbh baik untuk diikuti, karena memang disuruh untuk itu.”</p>
<p>Adakalanya ada yang mengatakan istihsan dilarang oleh imam syafi’i. Namun sebenarnya istihsan yang dilarang ternyata tidak sama dengan yang dimaksud dalam madzab hanafi.</p>
<p>Ulama madzab syafi’i  yakni Imam Subki mendefinisikan istihsan yang diperbolehkan  sbb: </p>
<p>‫عدول عن قياس الى قياس أقوى منه‬ [beralih dari penggunaan satu qiyas kepada qiyas yg lain yg lbh kuat dari padanya [qiyas pertama]]</p>
<p>Wallahu a’lam</p>
<p>(Oleh: Dhimas, http://warkopmbahlalar.com)</p>
<br />Filed under: <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a> Tagged: <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/ahlus-sunnah/'>Ahlus Sunnah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/bidah/'>Bid'ah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/hadits/'>Hadits</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/neo-khawarij/'>Neo Khawarij</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/wahhabi/'>wahhabi</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jerman90.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jerman90.wordpress.com/2691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jerman90.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jerman90.wordpress.com/2691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jerman90.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jerman90.wordpress.com/2691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jerman90.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jerman90.wordpress.com/2691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jerman90.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jerman90.wordpress.com/2691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jerman90.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jerman90.wordpress.com/2691/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jerman90.wordpress.com/2691/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jerman90.wordpress.com/2691/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jerman90.wordpress.com&amp;blog=1280582&amp;post=2691&amp;subd=jerman90&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jerman90.wordpress.com/2011/12/01/sekiranya-hal-tersebut-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ab322812e10a039e12fc4becb6cd3e9?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jerman90</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memahami Hadits An Nuzul</title>
		<link>http://jerman90.wordpress.com/2011/10/13/memahami-hadits-an-nuzul/</link>
		<comments>http://jerman90.wordpress.com/2011/10/13/memahami-hadits-an-nuzul/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 09:43:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Lukman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jerman90.wordpress.com/?p=2688</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah hadits yang dikenal dengan nama Hadîts an-Nuzûl. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imâm al-Bukhari dan al-Imâm Muslim dalam kitab Shahih masing-masing. Redaksi hadits riwayat al-Bukhari adalah sebagai berikut: (Shahîh al-Bukhâri; Kitâb al-Shalât, Bâb al-Du’â Wa al-Shalât Âkhir al-Layl. Lihat pula Shahîh Muslim; Kitâb Shalât al-Musâfirîn Wa Qashruhâ; Bâb al-Targhîb Fî al-Du’â Wa al-Dzikr Fî [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jerman90.wordpress.com&amp;blog=1280582&amp;post=2688&amp;subd=jerman90&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.himmel-und-erde.com/Mond-Planetenkonjunktion_6-4-2000.jpg" target="_blank"><img class="alignleft" style="border:1px solid black;margin:1px;" src="http://www.himmel-und-erde.com/Mond-Planetenkonjunktion_6-4-2000.jpg" alt="" width="142" height="96" /></a>Ada sebuah hadits yang dikenal dengan nama Hadîts an-Nuzûl. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imâm al-Bukhari dan al-Imâm Muslim dalam kitab Shahih masing-masing. Redaksi hadits riwayat al-Bukhari adalah sebagai berikut: (Shahîh al-Bukhâri; Kitâb al-Shalât, Bâb al-Du’â Wa al-Shalât Âkhir al-Layl. Lihat pula Shahîh Muslim; Kitâb Shalât al-Musâfirîn Wa Qashruhâ; Bâb al-Targhîb Fî al-Du’â Wa al-Dzikr Fî Âkhir al-Layl Wa al-Ijâbah Fîh.)</p>
<p style="text-align:justify;">“Telah mengkabarkan kepada kami Abdullah ibn Maslamah, dari Malik, dari Ibn Syihab, dari Abu Salamah dan Abu Abdillah al-Agarr, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">يَنْـزِلُ رَبّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيلَةٍ إلَى السّمَاءِ الدّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللّيلِ الآخِر يَقُوْل: مَنْ يَدْعُونِي فَأسْتَجِيْب لهُ وَمَن يَسْألنِي فأعْطِيه وَمنْ يَسْتَغْفِرني فأغْفِر لهُ (رواه البخاري)</p>
<p style="text-align:justify;">Hadîts an-Nuzûl ini tidak boleh dipahami dalam makna zhahirnya, karena makna zhahirnya adalah turun dari arah atas ke arah bawah, artinya bergerak dan pindah dari satu tempat ke tampat yang lain, dan itu mustahil pada hak Allah. Al-Imâm an-Nawawi dalam kitab Syarh Shahîh Muslim dalam menjelaskan Hadîts an-Nuzûl ini berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">“Hadist ini termasuk hadits-hadits tentang sifat Allah. Dalam memahaminya terdapat dua madzhab mashur di kalangan ulama;<span id="more-2688"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama:</strong> Madzhab mayoritas ulama Salaf dan sebagian ulama ahli Kalam (teolog), yaitu dengan mengimaninya bahwa hal itu adalah suatu yang hak dengan makna yang sesuai bagi keagungan Allah, dan bahwa makna zahirnya yang berlaku dalam makna makhluk adalah makna yang bukan dimaksud. Madzhab pertama ini tidak mengambil makna tertentu dalam memahaminya, artinya mereka tidak mentakwilnya. Namun mereka semua berkeyakinan bahma Allah Maha Suci dari sifat-sifat makhluk, Maha Suci dari pindah dari suatu tempat ke tempat lain, Maha Suci dari bergerak, dan Maha Suci dari seluruh sifat-sifat makhluk.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua:</strong> Madzhab mayoritas ahli Kalam (kaum teolog) dan beberapa golongan dari para ulama Salaf, di antaranya sebagaimana telah diberlakukan oleh Malik, dan al-Auza’i, bahwa mereka telah melakukan takwil terhadap hadits ini dengan menentukan makna yang sesaui dengan ketentuan-ketentuannya. Dalam penggunaan metode takwil ini para ulama madzhab kedua ini memiliki dua takwil terhadap Hadîts an-Nuzûl di atas.<br />
Pertama; Takwil yang nyatakan oleh Malik dan lainnya bahwa yang dimaksud hadits tersebut adalah turunnya rahmat Allah, dan perintah-Nya, serta turunnya para Malaikat pembawa rahmat tersebut. Ini biasa digunakan dalam bahasa Arab; seperti bila dikatakan: “Fa’ala al-Sulthân Kadzâ…” (Raja melakukan suatu perbuatan), maka yang dimaksud adalah perbuatan yang dilakukan oleh bawahannya dengan perintahnya, bukan raja itu sendiri yang melakukan perbuatan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua; takwil hadits dalam makna isti’ârah (metafor), yaitu dalam pengertian bahwa Allah mengaruniakan dan mengabulkan segala permintaan yang dimintakan kepada-Nya saat itu. (Karenanya, waktu sepertiga akhir malam adalah waktu yang sangat mustajab untuk meminta kepada Allah)” (An-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, j. 6, h. 36).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian pendapat kaum Musyabbihah jelas batil ketika mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah turunnya Allah dengan Dzat-Nya. Di antara dalil lainnya yang dapat membatalkan pendapat mereka ini adalah bahwa sebagian para perawi hadits al-Bukhari dalam Hadîts an-Nuzûl ini telah memberikan harakat dlammah pada huruf yâ’, dan harakat kasrah pada huruf zây; menjadi “Yunzilu”, artinya; menjadi fi’il muta’addi; yaitu kata kerja yang membutuhkan kepada objek (Maf’ûl Bih). Dengan demikian menjadi bertambah jelas bahwa yang turun tersebut adalah para Malaikat dengan perintah Allah. Makna ini juga seperti yang telah jelas disebutkan dalam riwayat Hadîts an-Nuzûl lainnya dari sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudriy bahwa Allah telah memerintah Malaikat untuk menyeru di langit pertama pada sepertiga akhir malam tersebut. Dengan demikian kaum Masyabbihah sama sekali tidak dapat menjadikan hadits ini sebagai dalil bagi mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang ahli tafsir terkemuka; al-Imâm al-Qurthubi, dalam menafsirkan firman Allah: ”Wa al-Mustaghfirîn Bi al-Ashâr” (QS. Ali ’Imran: 17), artinya; ”Dan orang-orang yang ber-istighfâr di waktu sahur (akhir malam)”, beliau menyebutkan Hadîts an-Nuzûl dengan beberapa komentar ulama tentangnya, kemudian beliau menuliskan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">“Pendapat yang paling baik dalam memaknai Hadîts an-Nuzûl ini adalah dengan merujuk kepada hadits riwayat an-Nasa-i dari sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudriy, bahwa Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">إنّ اللهَ عَزّ وَجَلّ يُمْهِلُ حَتّى يَمْضِيَ شَطْرُ اللّيْلِ الأوّلِ ثُمّ يأمُرُ مُنَادِيًا فَيَقُوْل: هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَه، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لهُ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى</p>
<p style="text-align:justify;">”Sesungguhnya Allah mendiamkan malam hingga lewat paruh pertama dari malam tersebut, kemudian Allah memerintah Malaikat penyeru untuk berseru: Adakah orang yang berdoa?! Maka ia akan dikabulkan. Adakah orang yang meminta ampun?! Maka ia akan diampuni. Adakah orang yang meminta?! Maka ia akan diberi.<br />
Hadits ini dishahihkan oleh Abu Muhammad Abd al-Haq. Dan hadits ini telah menghilangkan segala perselisihan tentang Hadîts an-Nuzûl, sekaligus sebagai penjelasan bahwa yang dimaksud dengan hadits pertama (hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim) adalah dalam makna dibuang mudlâf-nya. Artinya, yang dimaksud dengan hadits pertama tersebut ialah bahwa Malaikat turun ke langit dunia dengan perintah Allah, yang kemudian Malaikat tersebut menyeru. Pemahaman ini juga dikuatkan dengan adanya riwayat yang menyebutkan dengan dlammah pada huruf yâ’ pada kata “Yanzilu” menjadi “Yunzilu”, dan riwayat terakhir ini sejalan dengan apa yang kita sebutkan dari riwayat an-Nasa-i di atas” (Tafsîr al-Qurthubi, j. 4, h. 39).</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imâm al-Hâfizh Ibn Hajar dalam kitab Syarh Shahîh al-Bukhâri menuliskan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">“Kaum yang menetapkan adanya arah bagi Allah dengan menjadikan Hadîts an-Nuzûl ini sebagai dalil bagi mereka; yaitu menetapkan arah atas, pendapat mereka ini ditentang oleh para ulama, karena berpendapat semacam itu sama saja dengan mengatakan Allah bertempat, padahal Allah Maha suci dari pada itu. Dalam makna Hadîts an-Nuzûl ini terdapat beberapa pendapat ulama” (Fath al-Bâri, j. 3, h. 30).</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian al-Hâfizh Ibn Hajar menuliskan:</p>
<p style="text-align:justify;">“Abu Bakar ibn Furak meriwayatkan bahwa sebagian ulama telah memberikan harakat dlammah pada huruf awalnya; yaitu pada huruf yâ’, (menjadi kata yunzilu) dan objeknya disembunyikan; yaitu Malaikat. Yang menguatkan pendapat ini adalah hadits riwayat an-Nasa-i dari hadits sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudzriy, bahwa Rasulullah bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;">إنّ اللهَ يُمْهِلُ حَتّى يَمْضِيَ شَطْرُ اللّيْلِ ثُمّ يأمُرُ مُنَادِيًا يَقُوْل: هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَه</p>
<p style="text-align:justify;">”Sesungguhnya Allah mendiamkan waktu malam hingga lewat menjadi lewat paruh pertama dari malam tersebut. Kemudian Allah memerintah Malaikat penyeru untuk berseru: Adakah orang yang berdoa!! Ia akan dikabulkan”.<br />
Demikian pula pemahaman ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan dari Utsman ibn al-Ash dengan redaksi sabda Rasulullah:</p>
<p style="text-align:justify;">يُنَادِ مُنَادٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ</p>
<p style="text-align:justify;">”…maka Malaikat penyeru berseru: ”Adakah orang yang berdoa! Maka akan dikabulkan baginya”.<br />
Oleh karena itulah al-Qurthubi berkata: “Dengan demikian segala perselisihan tentang hadits ini menjadi selesai” (Fath al-Bâri, j. 3, h. 30).</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imâm Badruddin ibn Jama’ah dalam kitab Idlâh al-Dalîl Fî Qath’i Hujaj Ahl al-Ta’thîl menuliskan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">“Ketahuilah, bahwa tidak boleh memaknai an-nuzûl dalam hadits ini dalam pengertian pindah dari satu tempat ke tempat lain, karena beberapa alasan berikut;</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama: Turun dari satu tempat ke tempat lain adalah salah satu sifat dari sifat-sifat benda-benda dan segala sesuatu yang baharu. Turun dalam pengertian ini membutuhkan kepada tiga perkara; Benda yang pindah itu sendiri, Tempat asal pindahnya benda itu, dan Tempat tujuan bagi benda itu. Makna semacam ini jelas mustahil bagi Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ke Dua: Jika Hadîts an-Nuzûl dimaknai bahwa Allah turun dengan Dzat-Nya secara hakekat, maka berarti pekerjaan turun tersebut terus-menerus terjadi pada Allah setiap saat dengan pergerakan dan perpindahan yang banyak sekali, supaya bertepatan dengan sepertiga akhir malam. Hal ini karena kejadian sepertiga akhir malam terus terjadi dan bergantian di setiap belahan bumi. Dengan demikian hal itu menuntut turunnya Allah setiap siang dan malam dari suatu kaum kepada kaum yang lain. Hal itu juga berarti bahwa Allah pada saat yang sama turun naik antara langit dunia dan arsy. Tentunya pendapat semacam ini tidak akan diungkapkan oleh seorang yang berakal sehat.</p>
<p style="text-align:justify;">Ke Tiga: Pendapat yang menyebutkan bahwa Allah bertempat di atas arsy dan memenuhinya, bagaimana mungkin cukup bagi-Nya untuk bertempat di langit dunia, padahal luasnya langit dibanding arsy tidak ubahnya seperti sebesar kerikil dibanding lapangan yang luas. Dalam hal ini pendapat sesat tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan; Pertama: Bahwa langit dunia setiap saat berubah menjadi besar dan luas hingga mencukupi Allah. Kedua: Atau bahwa Dzat Allah setiap saat menjadi kecil agar tertampung oleh langit dunia tersebut. Tentunya, kita menafikan dua keadaan yang mustahil tersebut dari Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian setiap ayat dan hadits mutasyâbihât yang zahirnya seakan menunjukkan adanya keserupaan antara Allah dengan makhluk-Nya harus ditakwil dengan makna yang sesuai dengan keagungan Allah. Atau jika tidak memberlakukan takwil maka harus diyakini kesucian Allah dari segala sifat-sifat makhluk-Nya” (Idlâh al-Dalîl, h. 164).</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>KESIMPULAN:</strong> Allah bukan benda, dan Dia tidak disifati dengan sifat-sifat benda. Segala apa yang terlintas dalam benak manusia tentang Allah maka Dia tidak seperti demikian itu. Allah tidak terikat oleh dimensi; ruang dan waktu, Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah. Allah yang menciptakan arsy dan langit maka Dia tidak membutuhkan kepada keduanya.</p>
</blockquote>
<p><em>source : <a title="pemahaman-ahlussunnah-tentang-hadits-an-nuzul" href="http://allahadatanpatempat.blogspot.com/2010/01/pemahaman-ahlussunnah-tentang-hadits.html" target="_blank">Abou Fateh</a></em></p>
<br />Filed under: <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jerman90.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jerman90.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jerman90.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jerman90.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jerman90.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jerman90.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jerman90.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jerman90.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jerman90.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jerman90.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jerman90.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jerman90.wordpress.com/2688/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jerman90.wordpress.com/2688/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jerman90.wordpress.com/2688/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jerman90.wordpress.com&amp;blog=1280582&amp;post=2688&amp;subd=jerman90&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jerman90.wordpress.com/2011/10/13/memahami-hadits-an-nuzul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ab322812e10a039e12fc4becb6cd3e9?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jerman90</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.himmel-und-erde.com/Mond-Planetenkonjunktion_6-4-2000.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Allah Ada Di Langit Menurut Wahabi</title>
		<link>http://jerman90.wordpress.com/2011/10/05/allah-ada-di-langit-menurut-wahabi/</link>
		<comments>http://jerman90.wordpress.com/2011/10/05/allah-ada-di-langit-menurut-wahabi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 09:25:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Lukman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jerman90.wordpress.com/?p=2686</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa pernyataan yang sangat tidak rasional. Sebagian orang yang mengaku beragama Islam dari kalangan Musyabbihah berkeyakinan bahwa Allah bertempat di langit. Yang aneh, pada saat yang sama mereka juga berkeyakinan bahwa Allah bertempat di atas arsy. Artinya, mereka menetapkan Allah di dua tempat; langit dan arsy. Padahal perbandingan antara besarnya langit dengan besarnya ‘arsy [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jerman90.wordpress.com&amp;blog=1280582&amp;post=2686&amp;subd=jerman90&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Ada beberapa pernyataan yang sangat tidak rasional. Sebagian orang yang mengaku beragama Islam dari kalangan Musyabbihah berkeyakinan bahwa Allah bertempat di langit. Yang aneh, pada saat yang sama mereka juga berkeyakinan bahwa Allah bertempat di atas arsy. Artinya, mereka menetapkan Allah di dua tempat; langit dan arsy. Padahal perbandingan antara besarnya langit dengan besarnya ‘arsy tidak ubahnya seperti setetes air di banding lautan yang sangat luas, atau ‘arsy laksana padang yang sangat luas sementara langit, bahkan tujuh lapis langit dan bumi, hanyalah sebesar kerikil yang sangat kecil saja (HR. Ibn Hibban).</p>
<p style="text-align:justify;">‘Arsy dan langit adalah makhluk Allah, maka Allah tidak membutuhkan kepada ciptaan-Nya. Langit adalah tempat bagi para malaikat Allah, dan beberapa Nabi Allah. Kemudian di atas langit ke tujuh terdapat surga, al-Baitul Ma’mur, Air, al-Kursyy, al-Lauh al-Mahfuzh (menurut satu pendapat), al-Qalam al-A’la, dan makhluk lainnya. Lalu di atas itu semua terdapat ‘arsy yang merupakan langit-langit bagi surga. Kemudian di atas ‘arsy terdapat kitab yang bertuliskan “Inna Rahmati Sabaqat Ghadlabi” (Sesungguhnya rahmat-Ku mendahuli marka-Ku), dan menurut satu pendapat al-Lauh al-Mahfuzh juga terdapat di atas ‘arsy.<span id="more-2686"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari langit turun rizki-rizki Allah bagi para hambanya. Hal ini karena langit adalah tempat yang diberkahi dan penuh dengan rahmat Allah. Tentang ini Allah berfirman dalam QS. adz-Dzariyat: 22 (Wa Fi as-Sama’ Rizqukum Wa Ma Tu’adun). Artinya bahwa di langit terdapat rikzi kalian dan segala apa yang dijanjikan bagi kalian. Karena itu saat kita berdoa dengan menghadapkan telapak tangan ke arah langit adalah karena langit sebagai kiblat kita dalam berdoa, bukan karena langit sebagai tempat bagi Allah. Sebagaimana saat kita shalat menghadapkan tubuh kita ke arah ka’bah, bukan berarti bahwa Allah berada di dalam ka’bah tapi karena ka’bah adalah kiblat kita dalam shalat.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut ini kita kutip beberapa pendapat ulama Ahlussunnah dalam penjelasan bahwa langit adalah kiblat dalam berdoa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. al-Imam Abu Manshur al-Maturidi</strong>, Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah, dalam salah satu karyanya berjudul [Kitab al-Tauhid, h. 75-76], menuliskan sebagai berikut: “Adapun menghadapkan telapak tangan ke arah langit dalam berdoa adalah perintah ibadah. Dan Allah memerintah para hamba untuk beribadah kepada-Nya dengan jalan apapun yang Dia kehendaki, juga memerintah mereka untuk menghadap ke arah manapun yang Dia kehendaki. Jika seseorang berprasangka bahwa Allah di arah atas dengan alasan karena seseorang saat berdoa menghadapkan wajah dan tangannya ke arah atas, maka orang semacam ini tidak berbeda dengan kesesatan orang yang berprasangka bahwa Allah berada di arah bawah dengan alasan karena seseorang yang sedang sujud menghadapkan wajahnya ke arah bawah lebih dekat kepada Allah. Orang-orang semacam itu sama sesatnya dengan yang berkeyakinan bahwa Allah di berbagai penjuru; di timur atau di barat sesuai seseorang menghadap di dalam shalatnya. Juga sama sesatnya dengan yang berkeyakinan Allah di Mekah karena Dia dituju dalam ibadah haji”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. al-Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali (w 505 H)</strong> dalam kitab [Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 1, h. 128] menuliskan sebagai berikut: “Adapun mengangkat tangan ketika berdoa kepada Allah dengan menghadapkan telapak tangan tersebut ke arah langit adalah karena arah langit kiblat doa. Dalam pada ini terdapat gambaran bahwa Allah yang kita mintai dalam doa tersebut adalah maha pemiliki sifat yang agung, maha mulia dan maha perkasa. Karena Allah atas setiap segala sesuatu maha menundukan dan maha menguasai”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. al-Imam Al-Hafizh Muhammad Murtadla az-Zabidi</strong> dalam menjelaskan perkataan Imam al-Ghazali di atas dalam karya fenomenalnya berjudul [Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 5, h. 34-35] menuliskan: “Jika dikatakan bahwa Allah ada tanpa arah, maka apakah makna mengangkat telapak tangan ke arah langit ketika berdoa? Jawab: Terdapat dua segi dalam hal ini sebagaimana dituturkan oleh al-Thurthusi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama:</p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa hal tersebut untuk tujuan ibadah. Seperti halnya menghadap ke arah ka’bah dalam shalat, atau meletakan kening di atas bumi saat sujud, padahal Allah Maha Suci dari bertempat di dalam ka’bah, juga Maha Suci dari bertempat di tempat sujud. Dengan demikian langit adalah kiblat dalam berdoa.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua:</p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa langit adalah tempat darinya turun rizki, wahyu, rahmat dan berkah. Artinya dari langit turun hujan yang dengannya bumi mengeluarkan tumbuh-tumbuhan. Langit juga tempat yang agung bagi para malaikat (al-Mala’ al-A’la). Bila Allah menentukan suatu perkara maka disampaikannya kepada para malaikat tersebut dan kemudian mereka sampaikan kepada penduduk bumi. Demikian pula arah langit adalah tempat diangkatnya amalan-amalan yang saleh. Sebagaimana di langit tersebut terdapat beberapa nabi dan tempat bagi surga -yang berada di atas langit ke tujuh- yang merupakan puncak harapan. Karena langit itu sebagai tempat bagi hal-hal yang diagungkan tersebut di atas, termasuk pengetahuan qadla dan qadar, maka titik konsen dalam praktek ibadah di arahkan kepadanya”.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada bagian lain dalam kitab yang sama, Al-Hafizh al-Zabidi berkata: “Langit dikhusukan dalam berdoa agar tangan diarahkan kepadanya karena langit-langit adalah kiblat dalam berdoa, sebagaimana ka’bah dijadikan kiblat bagi orang yang shalat di dalam shalatnya. Tidak boleh dikatakan bahwa Allah berada di arah ka’bah” [Itthaf as-Sadah al-Muttaqin, j. 5, h. 34-35].</p>
<p style="text-align:justify;">Masih dalam kitab yang sama al-Zabidi juga berkata: “Adapun mengangkat tangan ketika meminta dan berdoa ke arah langit karena ia adalah kiblat dalam berdoa, sebagaimana ka’bah merupakan kiblat shalat dengan menghadapkan badan dan wajah kepadanya. Yang dituju dalam ibadah shalat dan yang dipinta dalam berdoa adalah Allah, Dia Maha suci dari bertempat dalam ka’bah dan langit. Dalam pada ini al-Nasafi berkata: Mengangkat tangan dan menghadapkan wajah ketika berdoa adalah murni merupakan ibadah, sebagaimana menghadap ke arah ka’bah di dalam shalat, maka langit adalah kiblat berdoa sebagaimana ka’bah adalah kiblat dalam shalat” [Itthaf as-Sadah al-Muttaqin, j. 2, h. 104].</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. al-Imam Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani</strong> dalam Fath al-Bari Bi Syarh Shahih al-Bukhari berkata: “Langit adalah kiblat di dalam berdoa sebagaimana ka’bah merupakan kiblat di dalam shalat” [Fath al-Bari, j. 2, h. 233].</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Syekh Mulla ‘Ali al-Qari (w 1014 H)</strong> dalam [Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 199], salah satu kitab yang cukup urgen dalam untuk memahami risalah al-Fiqh al-Akbar karya Imam Abu Hanifah, menuliskan sebagai berikut: “Langit adalah kiblat dalam berdoa dalam pengertian bahwa ia merupakan tempat bagi turunnya rahmat yang merupakan sebab bagi meraih berbagai macam kenikmatan dan mencegah berbagai keburukan. Dan Syekh Abu Mu’ain al-Nasafi dalam kitab at-Tamhid tentang hal ini menyebutkan bahwa para muhaqqiq telah menetapkan bahwa mengangkat tangan ke arah langit dalam berdoa adalah murni karena merupakan ibadah”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. asy-Syaikh Kamaluddin al-Bayyadli al-Hanafi (w 1098 H)</strong> dalam kitab [Isyarat al-Maram, h. 198] berkata: “Mengangkat tangan dalam berdoa ke arah langit bukan untuk menunjukkan bahwa Allah berada di arah langit-langit yang tinggi, akan tetapi karena lngit adalah kiblat dalam berdoa. Karena darinya diminta turun berbagai kebaikan dan rahmat, karena Allah berfirman: “Dan di langit terdapat rizki kalian dan apa yang dijanjikan kepada kalian”. (QS. Al-Dzariyat: 22)”.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>source : http://www.facebook.com/note.php?note_id=128095913329</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jerman90.wordpress.com/2686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jerman90.wordpress.com/2686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jerman90.wordpress.com/2686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jerman90.wordpress.com/2686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jerman90.wordpress.com/2686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jerman90.wordpress.com/2686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jerman90.wordpress.com/2686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jerman90.wordpress.com/2686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jerman90.wordpress.com/2686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jerman90.wordpress.com/2686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jerman90.wordpress.com/2686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jerman90.wordpress.com/2686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jerman90.wordpress.com/2686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jerman90.wordpress.com/2686/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jerman90.wordpress.com&amp;blog=1280582&amp;post=2686&amp;subd=jerman90&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jerman90.wordpress.com/2011/10/05/allah-ada-di-langit-menurut-wahabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ab322812e10a039e12fc4becb6cd3e9?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jerman90</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dialog di Masjidil Haram</title>
		<link>http://jerman90.wordpress.com/2011/09/20/dialog-di-masjidil-haram/</link>
		<comments>http://jerman90.wordpress.com/2011/09/20/dialog-di-masjidil-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 05:10:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Lukman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahl al Bayt]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Al Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bil Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Copas]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Salafus Salih]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Barokah]]></category>
		<category><![CDATA[Berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Bil Hujjah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sayyid Alwi al Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh As Sa'di]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Utsaimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jerman90.wordpress.com/?p=2677</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin–ulama Wahhabi kontemporer di Saudi Arabia yang sangat populer dan kharismatik-, mempunyai seorang guru yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahhabi, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di. Ia dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di. Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Taisir al-Karim [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jerman90.wordpress.com&amp;blog=1280582&amp;post=2677&amp;subd=jerman90&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://jerman90.files.wordpress.com/2011/09/hbmuhammadbinalwialmaliki2528202529.jpg?w=300" target="_blank"><img class="alignleft" style="border:1px solid black;margin:1px;" src="http://jerman90.files.wordpress.com/2011/09/hbmuhammadbinalwialmaliki2528202529.jpg?w=135&#038;h=101" alt="" width="135" height="101" /></a>Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin–ulama Wahhabi kontemporer di Saudi Arabia yang sangat populer dan kharismatik-, mempunyai seorang guru yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahhabi, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di. Ia dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di. Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti paradigma pemikiran Wahhabi. Tafsir ini di kalangan Wahhabi menyamai kedudukan Tafsir al-Jalalain di kalangan kaum Sunni.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Ibnu Sa’di dikenal sebagai ulama Wahhabi yang ekstrem. Namun demikian, terkadang ia mudah insyaf dan mau mengikuti kebenaran, dari manapun kebenaran itu datangnya. Suatu ketika, al-Imam al-Sayyid ‘Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani (ayahanda al- Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjidil Haram bersama murid-muridnya dalam halaqah pengajiannya. <span id="more-2677"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Di bagian lain serambi Masjidil Haram tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di juga duduk-duduk bersama anak buahnya. Sementara orang-orang di Masjidil Haram sedang larut dalam ibadah. Ada yang shalat dan ada pula yang thawaf. Pada saat itu, langit di atas Masjidil Haram diselimuti mendung tebal yang menggelantung. Sepertinya sebentar lagi hujan lebat akan segera mengguyur tanah suci umat Islam itu. Tiba-tiba air hujan itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka’bah mengalirkan air hujan itu dengan derasnya. Melihat air begitu deras dari saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang berbentuk kubus itu, orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju saluran itu dan mengambil air tersebut. Air itu mereka tuangkan ke baju dan tubuh mereka, dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat kejadian tersebut, para polisi pamong praja Kerajaan Saudi Arabia, yang sebagian besar berasal dari orang Baduwi daerah Najd itu, menjadi terkejut dan mengira bahwa orang-orang Hijaz tersebut telah terjerumus dalam lumpur kesyirikan dan menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala dengan ngalap barokah dari air itu. Akhirnya para polisi pamong praja itu menghampiri kerumunan orang-orang Hijaz dan berkata kepada mereka yang sedangmengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka’bah itu, “Hai orang-orang musyrik, jangan lakukan itu. Itu perbuatan syirik. Itu perbuatan syirik. Hentikan!” Demikian teguran keras para polisi pamong praja kerajaan Wahhabi itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Mendengar teguran para polisi pamong praja itu, orang-orang Hijaz itu pun segera membubarkan diri dan pergi menuju Sayyid ‘Alwi yang sedang mengajar murid-muridnya di halaqah tempat beliau mengajar secara rutin. Kepada beliau, mereka menanyakan perihal hukum mengambil berkah dari air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu. Ternyata Sayyid ‘Alwi membolehkan dan bahkan mendorong mereka untuk terus melakukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Menerima fatwa Sayyid ‘Alwi yang melegitimasi perbuatan mereka, akhirnya untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun berhamburan lagi menuju saluran air di Ka’bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh darinya, tanpa mengindahkan teguran para polisi Baduwi tersebut. Bahkan ketika para polisi Baduwi itu menegur mereka untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu menjawab, “Kami tidak peduli teguran Anda, setelah Sayyid ‘Alwi berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini.” Akhirnya, melihat orang-orang Hijaz itu tidak mengindahkan teguran, para polisi Baduwi itu pun segera mendatangi halaqah Syaikh Ibnu Sa’di, guru mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka mengadukan perihal fatwa Sayyid ‘Alwi yang menganggap bahwa air hujan itu ada berkahnya. Akhirnya, setelah mendengar laporan para polisi Baduwi, yang merupakan anak buahnya itu, Syaikh Ibnu Sa’di segera mengambil selendangnya dan bangkit berjalan menghampiri halaqah Sayyid ‘Alwi. Kemudian dengan perlahan Syaikh Ibn Sa’di itu duduk di sebelah Sayyid ‘Alwi. Sementara orang-orang dari berbagai golongan, berkumpul mengelilingi kedua ulama besar itu. Mereka menunggu-nunggu, apa yang akan dibicarakan oleh dua ulama besar itu.</p>
<p style="text-align:left;">Dengan penuh sopan santun dan etika layaknya seorang ulama besar, Syaikh Ibnu Sa’di bertanya kepada Sayyid ‘Alwi: “Wahai Sayyid, benarkah Anda berkata kepada orang-orang itu bahwa air hujan yang turun dari saluran air di Ka’bah itu ada berkahnya?” Mendengar pertanyaan Syaikh Ibn Sa’di, Sayyid ‘Alwi menjawab: “Benar.<br />
Bahkan air tersebut memiliki dua berkah.” Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di terkejut dan berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”<br />
Sayyid ‘Alwi menjawab: “Karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam<br />
Kitab-Nya tentang air hujan:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://s4.postimage.org/ykvb7o5sr/quran_com_screen_capture_2011_9_20_9_1_58.png"><img class="alignnone" src="http://s4.postimage.org/ykvb7o5sr/quran_com_screen_capture_2011_9_20_9_1_58.png" alt="" width="423" height="97" /></a><br />
“Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah.” (QS. 50 : 9).</p>
<p style="text-align:justify;">Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman mengenai Ka’bah:</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://s4.postimage.org/ykvmsfl97/quran_com_screen_capture_2011_9_20_9_4_59.png"><img class="alignnone" src="http://s4.postimage.org/ykvmsfl97/quran_com_screen_capture_2011_9_20_9_4_59.png" alt="" width="438" height="51" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">http://www.freeimagehosting.net/a57f2<br />
“Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah (Makkah), yang diberkahi (oleh Allah).” (QS. 3 : 96).</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian air hujan yang turun dari saluran air di atas Ka’bah itu memiliki dua berkah, yaitu berkah yang turun dari langit dan berkah yang terdapat pada Baitullah ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di merasa heran dan kagum kepada Sayyid ‘Alwi. Kemudian dengan penuh kesadaran, mulut Syaikh Ibnu Sa’di itu melontarkan perkataan yang sangat mulia, sebagai pengakuannya akan kebenaran ucapan Sayyid ‘Alwi: “Subhanallah (Maha Suci Allah), bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian Syaikh Ibnu Sa’di mengucapkan terima kasih kepada Sayyid ‘Alwi dan meminta izin untuk meninggalkan halaqah tersebut. Namun Sayyid ‘Alwi berkata kepada Syaikh Ibnu Sa’di: “Tenang dulu wahai Syaikh Ibnu Sa’di. Aku melihat para polisi baduwi itu mengira bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu sebagai perbuatan syirik. Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan dan mensyirikkan orang dalam masalah ini sebelum mereka melihat orang seperti Anda melarang mereka. Oleh karena itu, sekarang bangkitlah Anda menuju saluran air di Ka’bah itu. Lalu ambillah air di situ di depan para polisi Baduwi itu, sehingga mereka akan berhenti mensyirikkan orang lain.”</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya mendengar saran Sayyid ‘Alwi, Syaikh Ibnu Sa’di segera bangkit menuju saluran air di Ka’bah. Ia basahi pakaiannya dengan air itu, dan ia pun mengambil air itu untuk diminumnya dengan tujuan mengambil berkahnya. Melihat tindakan Syaikh Ibnu Sa’di ini, para polisi Baduwi itu pun akhirnya pergi meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan malu. Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Abdul Fattah Rawwah, dalam kitab Tsabat (kumpulan sanad-sanad keilmuannya). Beliau murid Sayyid ‘Alwi al-Maliki dan termasuk salah seorang saksi mata kejadian itu. Syaikh Ibn Sa’di sebenarnya seorang yang sangat alim. Ia pakar dalam bidang tafsir. Apabila berbicara tafsir, ia mampu menguraikan makna dan maksud ayat al-Qur’an dari berbagai aspeknya di luar kepala dengan bahasa yang sangat bagus dan mudah dimengerti. Akan tetapi sayang, ideologi Wahhabi yang diikutinya berpengaruh terhadap paradigma pemikiran beliau. Aroma Wahhabi sangat kental dengan tafsir yang ditulisnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>source : <a href="http://www.4shared.com/document/9Ll8o2yy/BUKU-PINTAR-BERDEBAT-DENGAN-WA.html" target="_blank">Buku Pintar</a></em></p>
<br />Filed under: <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/ahl-al-bayt/'>Ahl al Bayt</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/ahlus-sunnah/'>Ahlus Sunnah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/al-quran/'>Al Qur'an</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/bil-hikmah/'>Bil Hikmah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/copas/'>Copas</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/dunia-islam/'>Dunia Islam</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/renungan/'>Renungan</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/salafus-salih/'>Salafus Salih</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/syirik/'>Syirik</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/ulama/'>Ulama</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/wahabi/'>Wahabi</a> Tagged: <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/adab/'>Adab</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/akhlaq/'>Akhlaq</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/barokah/'>Barokah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/berkah/'>Berkah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/bil-hujjah/'>Bil Hujjah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/ilmu/'>Ilmu</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/islam/'>Islam</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/sayyid-alwi-al-maliki/'>Sayyid Alwi al Maliki</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/syaikh-as-sadi/'>Syaikh As Sa'di</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/syaikh-utsaimin/'>Syaikh Utsaimin</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jerman90.wordpress.com/2677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jerman90.wordpress.com/2677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jerman90.wordpress.com/2677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jerman90.wordpress.com/2677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jerman90.wordpress.com/2677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jerman90.wordpress.com/2677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jerman90.wordpress.com/2677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jerman90.wordpress.com/2677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jerman90.wordpress.com/2677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jerman90.wordpress.com/2677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jerman90.wordpress.com/2677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jerman90.wordpress.com/2677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jerman90.wordpress.com/2677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jerman90.wordpress.com/2677/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jerman90.wordpress.com&amp;blog=1280582&amp;post=2677&amp;subd=jerman90&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jerman90.wordpress.com/2011/09/20/dialog-di-masjidil-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ab322812e10a039e12fc4becb6cd3e9?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jerman90</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jerman90.files.wordpress.com/2011/09/hbmuhammadbinalwialmaliki2528202529.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://s4.postimage.org/ykvb7o5sr/quran_com_screen_capture_2011_9_20_9_1_58.png" medium="image" />

		<media:content url="http://s4.postimage.org/ykvmsfl97/quran_com_screen_capture_2011_9_20_9_4_59.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ulama Maroko dan Wahhabi Tuna Netra</title>
		<link>http://jerman90.wordpress.com/2011/09/15/ulama-maroko-dan-wahhabi-tuna-netra/</link>
		<comments>http://jerman90.wordpress.com/2011/09/15/ulama-maroko-dan-wahhabi-tuna-netra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 11:58:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ahmad Lukman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlus Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Al Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Bil Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Muhaddits]]></category>
		<category><![CDATA[Nahdhiyyin]]></category>
		<category><![CDATA[Nyeleneh]]></category>
		<category><![CDATA[Syafaat]]></category>
		<category><![CDATA[Syariat Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Syirik]]></category>
		<category><![CDATA[tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Al Ghumary]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[wahhabi]]></category>
		<category><![CDATA[Wujud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jerman90.wordpress.com/?p=2673</guid>
		<description><![CDATA[Berikut saya tampilkan dialog menarik yang dicuplik dari buku &#8220;Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi&#8221; Saya pikir ini menarik untuk dibaca dan dimengerti. Bahasanya lugas dan mengena. Semoga dapat memberi pencerahan buat mereka yang mendambakan kebenaran. Selamat menyimak : Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani adalah ulama ahli hadits yang terakhir menyandang gelar al-hafizh (gelar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jerman90.wordpress.com&amp;blog=1280582&amp;post=2673&amp;subd=jerman90&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-ash2/23302_111655275546406_9152_n.jpg" target="_blank"><img class="alignleft" style="border:black 1px solid;margin:1px;" title="Al Ghumary" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-ash2/23302_111655275546406_9152_n.jpg" alt="" width="72" height="96" /></a>Berikut saya tampilkan dialog menarik yang dicuplik dari buku <a title="Silakan unduh" href="http://www.4shared.com/document/9Ll8o2yy/BUKU-PINTAR-BERDEBAT-DENGAN-WA.html" target="_blank">&#8220;Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi&#8221;</a> Saya pikir ini menarik untuk dibaca dan dimengerti. Bahasanya lugas dan mengena. Semoga dapat memberi pencerahan buat mereka yang mendambakan kebenaran. Selamat menyimak :</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani adalah ulama ahli hadits yang terakhir menyandang gelar al-hafizh (gelar kesarjanaan tertinggi dalam bidang ilmu hadits). Ia memiliki kisah perdebatan yang sangat menarik dengan kaum Wahhabi. Dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar, sebuah autobiografi yang melaporkan perjalanan hidupnya, beliau mencatat kisah berikut ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pada tahun 1356 H ketika saya menunaikan ibadah haji, saya berkumpul dengan tiga orang ulama Wahhabi di rumah Syaikh Abdullah al-Shani’ di Mekkah yang juga ulama Wahhabi dari Najd. Dalam pembicaraan itu, mereka menampilkan seolah-olah mereka ahli hadits, amaliahnya sesuai dengan hadits dan anti taklid. Tanpa terasa, pembicaraan pun masuk pada soal penetapan ketinggian tempat Allah subhanahu wa ta‘ala dan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai dengan ideologi Wahhabi. Mereka menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara literal (zhahir) mengarah pada pengertian bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai keyakinan mereka.<span id="more-2673"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya saya (al-Ghumari) berkata kepada mereka: “Apakah ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi termasuk bagian dari al-Qur’an?” Wahhabi menjawab: “Ya.” Saya berkata: “Apakah meyakini apa yang menjadi maksud ayat-ayat tersebut dihukumi wajib?” Wahhabi menjawab: “Ya.” Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:right;" align="right">وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ‌ۚ<em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid : 4).</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Apakah ini termasuk al-Qur’an?” Wahhabi tersebut menjawab: “Ya, termasuk al- Qur’an.” Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu wa ta‘ala:<br />
<em> </em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:right;" align="right">مَا يَڪُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَـٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ<em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya….” (QS. al-Mujadilah : 7).</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Apakah ayat ini termasuk al-Qur’an juga?” Wahhabi itu menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.” Saya berkata: “(Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit). Mengapa Anda menganggap ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi yang menurut asumsi Anda menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit lebih utama untuk diyakini dari pada kedua ayat yang saya sebutkan yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit? Padahal kesemuanya juga dari Allah subhanahu wa ta‘ala?” Wahhabi itu menjawab: “Imam Ahmad mengatakan demikian.”</p>
<p style="text-align:justify;">Saya berkata kepada mereka: “Mengapa kalian taklid kepada Ahmad dan tidak mengikuti dalil?” Tiga ulama Wahhabi itu pun terbungkam. Tak satu kalimat pun keluar dari mulut mereka. Sebenarnya saya menunggu jawaban mereka, bahwa ayat-ayat yang saya sebutkan tadi harus dita’wil, sementara ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit tidak boleh dita’wil. Seandainya mereka menjawab demikian, tentu saja saya akan bertanya kepada mereka, siapa yang mewajibkan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan dan melarang menta’wil ayat-ayat yang kalian sebutkan tadi?</p>
<p style="text-align:justify;">Seandainya mereka mengklaim adanya ijma’ ulama yang mengharuskan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan tadi, tentu saja saya akan menceritakan kepada mereka informasi beberapa ulama seperti al-Hafizh Ibn Hajar tentang ijma’ ulama salaf untuk tidak menta’wil semua ayat-ayat sifat dalam al-Qur’an, bahkan yang wajib harus mengikuti pendekatan tafwidh (menyerahkan pengertiannya kepada Allah subhanahu wa ta‘ala).” Demikian kisah al-Imam al- Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari dengan tiga ulama terhebat kaum Wahhabi.</p>
<br />Filed under: <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/ahlus-sunnah/'>Ahlus Sunnah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/al-quran/'>Al Qur'an</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/bidah/'>Bid'ah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/bil-hikmah/'>Bil Hikmah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/dunia-islam/'>Dunia Islam</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/mazhab/'>Mazhab</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/muhaddits/'>Muhaddits</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/nahdhiyyin/'>Nahdhiyyin</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/nyeleneh/'>Nyeleneh</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/syafaat/'>Syafaat</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/syariat-islam/'>Syariat Islam</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/syirik/'>Syirik</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/tauhid/'>tauhid</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/ulama/'>Ulama</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/category/wahabi/'>Wahabi</a> Tagged: <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/ahli-hadits/'>Ahli Hadits</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/ahlus-sunnah/'>Ahlus Sunnah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/al-ghumary/'>Al Ghumary</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/islam/'>Islam</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/muhaddits/'>Muhaddits</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/wahhabi/'>wahhabi</a>, <a href='http://jerman90.wordpress.com/tag/wujud/'>Wujud</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jerman90.wordpress.com/2673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jerman90.wordpress.com/2673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jerman90.wordpress.com/2673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jerman90.wordpress.com/2673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jerman90.wordpress.com/2673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jerman90.wordpress.com/2673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jerman90.wordpress.com/2673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jerman90.wordpress.com/2673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jerman90.wordpress.com/2673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jerman90.wordpress.com/2673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jerman90.wordpress.com/2673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jerman90.wordpress.com/2673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jerman90.wordpress.com/2673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jerman90.wordpress.com/2673/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jerman90.wordpress.com&amp;blog=1280582&amp;post=2673&amp;subd=jerman90&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jerman90.wordpress.com/2011/09/15/ulama-maroko-dan-wahhabi-tuna-netra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5ab322812e10a039e12fc4becb6cd3e9?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">jerman90</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-ash2/23302_111655275546406_9152_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Al Ghumary</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
