Sekedar Catatan

Kedudukan Khaliq dan Makhluq

Posted on: July 25, 2007

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنََ

Sesungguhnya kami dengan anugerah Alloh SWT mengetahui hal-hal yang wajib bagi Alloh SWT, hal-hal yang wajib bagi RasulNYA, mengatahui hal-hal yang merupakan hak nurani bagi Rasululloh SAW. tanpa Ghuluw dan Ithra’ (berlebih-lebihan) yang sampai kepada batas yang memberikan sifat kepada Nabi SAW. dengan sifat-sifat ketuhanan (Rububiyyah dan Uluhiyah), dalam hal menahan kenikmatan dan memberinya, kemanfaat, kemelaratan yang independen (tanpa Alloh SWT.), kekuasaan yang sempurna, kekuasaan yang lengkap, menciptakan merajai, mengatur, menyendiri (dengan sifat) kesempurnaan, keagungan, kesucian, menyendiri dengan ibadah dengan berbagai macamnya, hal ikhwalnya dan tingkatan-tingkatannya.

Adapun Ghuluw (berlebih-lebihan) dalam dalam mencintainya, menaatinya, maka hal ini merupakan sesuatu yang dicinta dan dianjurkan sebagaimana tersebut dalam hadits,

“Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku sebagaimana berlebih-lebihannya orang-orang Nasrani kepada Isa bin Maryam”

Maksud dari hadits tersebut adalah larangan berlebih-lebihan kepada Nabi SAW. dan larangan memujinya. Sesungguhnya Alloh Ta’ala mengagungkan Nabi SAW. dalam Al Qur’an dengan berbagai pengagungan yang tinggi, maka wajib bagi kita menggagungkan orang yang diagungkan Alloh SWT. dan diperintahkan mengagungkannya, tetapi kita tidak boleh menyifatinya dengan sifat-sifat Rububiyyah Alloh.

Maka tidak ada sedikitpun kekufuran dan kemusyrikan dalam mengagungkan Nabi SAW. dengan selain sifat Rububiyyah, bahkan hal itu termasuk ketaatan dan ibadah mendekatkan diri yang paling agung. Demikian pula semua orang yang diagungkan Alloh SWT. seperti para Nabi, Rasul, Malaikat, Orang-orang Jujur dan para orang Shalih. Alloh berfirman:

“Demikianlah (perintah Alloh). Dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Alloh, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati” (QS. Al Hajj : 32)

Termasuk hal yang diagungkan adalah Ka’bah (Baitullah), Hajar Aswad dan Makam Ibrahim ‘alayhis salam, maka sesungguhnya itu semua adalah batu-batu dan Alloh memerintahkan kita menggagungkannya dengan melakukan thawaf di Baitullah, memegang Rukun Yamani, mencium Hajar Aaswad, shalat di belakang Makam Ibrahim, berdiam diri (berhenti) untuk berdoa di pintu Ka’bah dan Multazam. Dalam hal semua tersebut kita tidak menyembah kecuali kepad Alloh SWT. Kita juga tidak berkeyakinan adanya pengaruh, manfaat, dan kemelaratan selain dari Alloh.

Source : Pemahaman yang Harus Diluruskan, hal 38-40, Muhammad bin Alwi al Maliki al Hasani, Pustaka Azzam, Juli 2002, Terjemahan Biqodarin Hariri Lc. S.Ag

4 Responses to "Kedudukan Khaliq dan Makhluq"

ass. piye kabare kang, sehat sehat wae? ojo lali karo awake

Wa ‘alaykum salam, alhamdulillah bi du’atika ya akhie. Antum gimana kabarnya?

Biqodarin Hariri Lc. S.Ag teman saya, bisakah anda tahu alamat nya trims

Saya tidak kenal secara personal. Saya hanya mengutip terjemahan beliau dari tulisan Abuya Muhammad bin Alwi al Maliki al Hasani.

Coba antum cari lewat google. Syukron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Shalawat

Al Qur’an Online

Tawassul

Pengunjung

  • 608,256 Pembaca Setia

اهلا وسهلا بحضوركم

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kebenaran datangnya dari Alloh SWT, kesalahan datangnya dari kelemahan diri saya pribadi. Jika ingin copy-paste silakan. Mohon masukan dan tegur sapa serta do'akan semoga tetap istiqomah di jalanNYA. Amien

Terima kasih atas kunjungan Anda

Allah exists without a place!

Sahabat Ali Ibn Abi Thalib berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir." Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sahabat Ali Ibn Abi Thalib menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah SWT) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,017 other followers

July 2007
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Twitter

Follow me

Shalawat

  1. preview.mp3
  2. M%2BArifin%2BIlham%2B-%2BYa%2BNabi%2BSalam%2BAlaika.mp3



Asas

Page Rank

Online

tracker

My 4shared

%d bloggers like this: