Sekedar Catatan

Meminta Syafaat [Pertolongan]

Posted on: January 10, 2008

PARA SAHABAT MEMOHON SYAFA’AT KEPADA NABI صل الله عليه وسلم

Telah berkembang di sekitar kita kelompok yang memiliki pandangan bahwa memohon syafa’at kepada Nabi صل الله عليه وسلم di dunia tidak diperbolehkan. Bahkan dituduh sebagai perbuatan syirik dan sesat. Mereka menggunakan argumentasi dari firman Allah Ta’ala:

قل لله الشفاعة جميعا

Ayat di atas, jika dijadikan landasan pemikiran atas larangan meminta syafaat, perlu dikaji ulang. Bahkan Abuya Maliki memberi jawaban, bahwa menggunkan dasar ayat tersebut merupakan kekeliruan. Beliau menjelaskan, bahwa kekeliruan tersebut karena dua hal: Pertama, tidak ditemukan ada nash baik dari Al Qur’an maupun Al Sunnah yang melarang memohon syafa’at kepada Nabi صل الله عليه وسلم. Kedua, ayat tersebut secara umum maupun secara khusus tidak menunjukkan adanya larangan memohon syafa’at kepada Nabi صل الله عليه وسلم. Ayat tersebut sebagaimana ayat lainnya yang memberi keterangan perihal kekhususan Allah Ta’ala. Makna ayat tersebut bahwa Allah Ta’ala merupakan Dzat yang mengaturnya. Makna yang demikian tidak berarti meniadakan kehendak dan kekuasaan Allah Ta’ala akan memberi kepada siapa yang dikehendaki. Dia adalah pemilik kekuasaan yang bebas memberikan dan mencabut kekuasaan dari siapa yang dikehendaki. Persis dengan ayat di atas adalah ayat :

له الملك وله الحمد

Allah Ta’ala juga mensifati diri-Nya dengan pemilik kekuasaan sebagaimana ayat:

تؤتي الملك من تشاء وتنزع الملك ممن تشاء

من كان يريد العزة فلله العزة جميعا

ولله العزة ولرسوله وللمؤمنين

قل لله الشفاعة جميعا

لايملكون الشفاعة إلا من اتخذ عند الرحمن عهدا

ولايملك الذين يدعون من دونه الشفاعة إلا من شهد بالحق وهم يعلمون

Terkait dengan kekuasaan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala juga bebas memberi sesuatu kepada yang dikehendaki. Allah ta’ala juga bebas, sebagian kemuliaan (‘izzah) yang dimiliki-Nya diberikan kepada Rasulullah صل الله عليه وسلم. Bahkan kepada sebagian kaum mu’minin yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Kita menyepakati, bahwa syafa’at secara keseluruhan merupakan milik Allah Ta’ala. Apakah salah jika Allah Ta’ala memberikan kekuasaan atas syafaat ini kepada para Nabi صل الله عليه وسلم. Dan juga kepada para hamba-hamba-Nya yang shalih. Semua pantas. Semua mungkin. Semua itu kekuasaan Allah Ta’ala.

Syafaat tidak lain hanyalah do’a. Do’a merupakan prilaku yang dapat dimaklumi oleh semua kalangan. Apalagi do’a para Nabi. Orang-orang shalih baik pada saat masih hidup, sesudah mati di dalam kubur dan hari kiamat. Syafa’at diberikan kepada orang yang mengambil komitmen iman di sisi Allah Ta’ala.

Di kalangan para sahabat dapat ditemukan fakta bahwa sebagian sahabat memohon syafaat kepada Nabi صل الله عليه وسلم. Saat para sahabat berprilaku yang demikian, Nabi صل الله عليه وسلم tidak menolaknya dan tidak pula mengatakan, “Memohon syafaat dariku adalah tindakan syirik. Carilah syafaat dari Allah Ta’ala dan jangan engkau sekutukan Tuhanmu dengan siapapun.”

Anas ibn Malik mengatakan, “Wahai Nabi Allah, berilah aku syafaat di hari kiamat.” “Insya Allah aku akan melakukannya,” jawab Nabi صل الله عليه وسلم. HR Turmudzi dalam Al Sunan dan mengkategorikannya sebagai hadits hasan dalam Babu Maa Jaa’a fi Shifati al-Shiraathi.

Demikian pula sahabat lain selain Anas, mereka memohon syafaat kepada Nabi صل الله عليه وسلم.

Sawaad ibn Qaarib mengucapkan syair di hadapan Nabi صل الله عليه وسلم :

Aku bersaksi, sungguh tiada Tuhan selain Allah
Dan engkau dapat dipercaya atas semua hal ghaib
Engkau rasul paling dekat untuk dijadikan wasilah
kepada Allah, wahai putra orang-orang mulia nan baik

sampai tiba pada :

Jadilah engkau pemberi syafaat pada hari di mana
pemberi syafaat tidak mencukupi Sawad ibn Qaarib.

(HR. Al Baihaqi dalam Al Dalaailu al Nubuwwah dan Ibnu ‘Abdil Baarr dalam Al Istii’aab).

Dalam Fathul Baari syarh Shahih Al Bukhari vol. VII hlm. 180 pada Baabu Islaami ‘Umar RA, Ibnu Hajar juga menyebutkannya. Rasulullah صل الله عليه وسلم menetapkan perkataan Sawad dan tidak mengingkari permintaan syafaat dari dirinya.

Mazin ibn Al ‘Adlub juga memohon syafaat kepada Rasulullah صل الله عليه وسلم ketika datang untuk memeluk Islam dan mengucapkan :

Kepadamu, wahai Rasulullah, untaku lari
Melintasi padang sahara dari Oman hingga ‘Arj
Agar engkau memberiku syafa’at, wahai sebaik-baik orang yang menginjak kerikil
Hingga akhirnya Tuhan mengampuniku dan aku pergi membawa kemenangan

(HR. Abu Nu’aim dalam Dalaailu Al Nubuwwah).

‘Ukasyah ibn Mihshan, meminta syafa’at kepada Rasulullah صل الله عليه وسلم ketika beliau menyebutkan ada 70.000 orang yang masuk sorga tanpa proses hisab.

“Do’akan aku agar termasuk salah satu dari mereka,” pinta ‘Ukasyah.
“Engkau termasuk mereka,” jawab beliau spontan.

Pemahaman umum adalah pemahaman adanya proses dalam masuk surga. Siapapun tidak akan masuk sorga tanpa proses hisab kecuali setelah mendapat syafaat agung beliau sholallah alahi wassalam. Syafaat saat berada di padang mahsyar, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits mutawatir. Permintaan ‘Ukasyah di atas, mengandung pengertian memohon syafa’at.

Jika kita mengkaji hadits yang memiliki makna sama dan atau hampir sama dengan hadits ‘Ukasyah akan didaptkan banyak jumlahnya dalam kitab-kitab hadits. Simpulan pemahamannya adalah menunjuk diperbolehkan memohon syafa’at kepada Nabi صل الله عليه وسلم di dunia.

Cara memohon syafaat ada yang dengan perkataaan:

“Berilah aku syafa’at”
“Masukkan surga, yaitu meminta termasuk rombongan pertama yang masuk sorga”
“Ada yang memohon termasuk golongan mereka yang bisa mendatangi telaga Nabi”
“Saya mohon kepadamu untuk menemanimu di sorga,” Rabi’ah Al Aslami.
Nabi صل الله عليه وسلم lalu menunjukkan jalan untuk menempuhnya. “Bantulah dirimu sendiri dengan memperbanyak sholat,” saran beliau صل الله عليه وسلم.

Beliau صل الله عليه وسلم tidak memarahi dan tidak pula mengatakan, “Tindakan ini (memohon hal-hal di atas kepada beliau) haram, permohonan tidak bisa diajukan sekarang, waktu memohon syafaat belum tiba, tunggulah sampai datang izin Allah untuk memberi syafaat, atau masuk sorga, atau minum dari telaga” kepada Rabi’ah dan yang lain dari orang-orang meminta masuk sorga, meminta bersama beliau, atau berharap agar termasuk penghuni sorga, termasuk mereka yang mendatangi telaga, atau termasuk yang mendapatkan ampunan.

Padahal semua permohonan tersebut tidak tidak akan terjadi kecuali pasca syafaat agung. Semua permohonan di atas mengandung arti memohon syafaat dan Nabi صل الله عليه وسلم pribadi memberi kabar gembira akan adanya syafaat tersebut serta menjanjikan mereka dengan sesuatu yang memuaskan mereka.

Sangat tidak mungkin bila memohon syafaat itu dilarang lalu beliau صل الله عليه وسلم, tidak menjelaskan kepada mereka status hukumnya. Dan tidak mungkin tindakkan membiarkan prilaku para sahabat tersebut hanya untuk menghormati atau menyenangkan mereka. Hal ini dikarena beliau صل الله عليه وسلم merupakan sosok yang tidak takut akan kecaman dalam membela kebenaran. Beliau صل الله عليه وسلم memberi toleransi jikalau segala sesuatu masih dalam lingkaran kebenaran. Lebih dari itu memilki sumber dari dasar agama. Tentu jauh dari kebatilan, kerusakkan dan melanggar sendi-sendi agama.

Bagaimana keyakinan kita tentang permohonan syafa’at kepada Nabi صل الله عليه وسلم di dunia sebelum di akhirat? Boleh atau tidak? Inilah yang harus dikaji. Salahkah jika pemahaman kita, bahwa yang memohon syafa’at saat di dunia ini akan memperolehnya secara hakiki di tempatnya pada hari kiamat. Paling tidak akan mendapatkan sesudah Allah Ta’ala mengizinkan kepada orang yang memberi syafa’at untuk memberikannya.

Abuya Maliki menegaskan kembali, bahwa apabila memohon syafa’at kepada Nabi صل الله عليه وسلم di dunia pada saat beliau masih hidup itu sah. Beliau menyatakan bahwa tidak apa-apa memohon syafa’at kepada Nabi صل الله عليه وسلم sepeninggal beliau. Hal demikian merupakan pemahaman yang telah ditetapkan oleh ahlussunnah wal jama’ah. Ahlu sunnah memilki pemahaman, bahwa para Nabi hidup dengan kehidupan barzah.

Nabi kita Muhammad صل الله عليه وسلم merupakan nabi yang tersempurna, teragung dalam permasalahan ini. Beliau صل الله عليه وسلم mampu mendengar pembicaraan. Amal perbuatan ummat disampaikan kepadanya. Memohonkan ampuan buat mereka. Memuji Allah. Dan sampainya shalawat orang yang menyampaikannya kepada beliau meskipun ia berada jauh di ujung dunia. Semua keterangan dijelaskan oleh hadits kategori shahih dalam pandangan kelompok huffadz (pakar hadits) yaitu:

حياتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم ومماتي خير لكم تعرض أعمالكم علي فإن وجدت خيرا حمدت الله وإن وجدت شرا استغفرت الله لكم .

Hidupku lebih baik untuk kalian. Kalian bisa berbicara dan mendengar pembicaraan. Dan kematianku lebih baik buat kalian. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan amal baik maka aku memuji Allah dan bila menemukan amal buruk aku memohonkan ampunan kepada Allah untuk kalian.

Yang menilai shahih adalah: Al ‘Iraqi, Al Haitsami, Al Qasthalani, Al Suyuthi, dan Isma’il Al Qadhi.

Nabi صل الله عليه وسلم jika dimohoni syafaat maka beliau mampu untuk berdo’a dan memohon kepada Allah Ta’ala sebagaimana beliau melakukan hal ini saat masih hidup, demikian penjelasan Abuya Maliki. Selanjutnya, mereka yang meminta akan mendapat syafaat tersebut di tempatnya setelah diizinkan Allah.

Diperkenankannya memohon syafaat kepada Nabi صل الله عليه وسلم di dunia dan akhirat adalah keyakinan kami dan menjadi keteguhan hati kami.

(Kajian Mafahim Kediri, sumber kajian Kitab Mafahim)

3 Responses to "Meminta Syafaat [Pertolongan]"

Semakin bagus penampilan tulisannya, semoga bermanfaat. Salam

Jazakallohu khoir ustadz

subhanallah..smg bacaan ini bermanfaat untukku dan umat islam yg ingin memperkokoh iman dan islam,smg allah senantiasa memberi syafa~at pd umat nabi muhammad swt.amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Shalawat

Al Qur’an Online

Tawassul

Pengunjung

  • 608,256 Pembaca Setia

اهلا وسهلا بحضوركم

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kebenaran datangnya dari Alloh SWT, kesalahan datangnya dari kelemahan diri saya pribadi. Jika ingin copy-paste silakan. Mohon masukan dan tegur sapa serta do'akan semoga tetap istiqomah di jalanNYA. Amien

Terima kasih atas kunjungan Anda

Allah exists without a place!

Sahabat Ali Ibn Abi Thalib berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir." Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sahabat Ali Ibn Abi Thalib menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah SWT) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,017 other followers

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Twitter

Follow me

Shalawat

  1. preview.mp3
  2. M%2BArifin%2BIlham%2B-%2BYa%2BNabi%2BSalam%2BAlaika.mp3



Asas

Page Rank

Online

tracker

My 4shared

%d bloggers like this: