Sekedar Catatan

Apa yang Dipelajari Anak di Sekolah

Posted on: February 11, 2008

Cica mencuci cangkir dan piring
“Cuci tanganmu sebelum makan,Cica!” kata Ibu
“Ya, Bu,” jawab Cica.
“Coba cari adikmu!” Cica mencari adiknya. Adik Cica sedang membaca.
“Badanmu kotor, Yun. Bersihkan dulu badanmu!”
“Ya, Kak,” kata Yuyun.
Mereka biasa hidup bersih. Bersih itu sehat.

Teks dialog tanpa judul tersebut terdapat dalam buku Aku Cinta Bahasa Indonesia terbitan Tiga Serangkai Solo (2002). Buku ini dimiliki oleh hampir setiap siswa kelas satu di beberapa sekolah dasar di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang menjadikan buku ini sebagai buku utama dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Teks di atas memang dibuat untuk siswa kelas satu SD yang sedang belajar membaca permulaan, yang biasanya terfokus pada latihan melisankan bacaan mulai dari melafalkan huruf, suku kata, kata dan kalimat secara benar, jelas dan lancar. Tetapi apakah dengan demikian teks boleh dibuat sembarangan tanpa mempertimbangkan logika berbahasa? Perhatikan saja urutan deskripsi peristiwanya. Bagi umumnya anak-anak, logika peristiwa yang lebih mudah dipahami tentunya mencuci cangkir dan piring dilakukan setelah makan, bukan sebelum makan seperti pada bacaan di atas. Juga lebih mudah dipahami jika badan adik kotor ketika sedang bermain pasir atau tanah, bukan ketika sedang membaca . Sementara itu dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas lima SD, Bina Bahasa Indonesia terbitan Erlangga Bandung (2003) terdapat teks bacaan seperti berikut:

Wajib Belajar

Desa kelahiran orang tua Indri tergolong tandus. Penduduk hanya panen setahun sekali. Itu pun kalau ada air hujan. Hasil  pertanian penduduk umumnya singkong dan ubi jalar. Keadaan seperti itu bukan menandakan penduduknya miskin. Justru penduduknya tergolong makmur. Banyak hal yang dapat mereka kerjakan. Kaum ibu membentuk Home Industry atau Industri Rumah Tangga Jika kita masuk ke toko suvenir, hampir semua suvenir di sana adalah karya ibu-ibu. Begitu pula kalau kita berbelanja kue-kue tradisional. Semua itu hasil dari desa kelahiran ibunya Indri. Bagaimana dengan aktivitas bapak-bapak dan para remaja? Di sana tidak kita jumpai penduduk yang duduk di pojok gang atau di warung kopi. Konon sebagian besar remaja bekerja di kota lain. Mereka mengirimkan sebagian gaji ke desa untuk membeli sawah dan menyekolahkan adik-adik mereka. Jika ada anak usia sekolah berkeliaran pada waktu tersebut, setiap orang wajib menegur. Jika ternyata orang tua atau kakaknya yang menyuruh, pasti mendapat sanksi.

Teks bacaan ini berada dalam salah satu bab berjudul Membaca Pemahaman, yakni bab yang khusus dibuat untuk melatih siswa memahami bacaan. Setelah teks, diajukanlah pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan isi teks seperti: apa mata pencaharian ibu-ibu, apa yang dilakukan para remaja, mengapa penduduk desa makmur, bagaimana kesimpulanmu mengenai hasil perjuangan penduduk. Setelah itu pembahasan untuk memahami teks pun selesai. Kalaupun siswa dapat menjawab semua pertanyaan tersebut secara benar sesuai dengan isi bacaan, yakinkah kita bahwa mereka telah belajar memahami bacaan secara benar pula? Kita pasti tidak yakin akan keberhasilan pembelajarannya jika teks yang mereka baca adalah teks seperti tersebut di atas.

Dengan mempertimbangkan logika bahasa yang baik atas sebuah teks, perlu dipertanyakan dimana kita bisa temukan gagasan pokok yang dimaksud oleh judul yakni wajib belajar, sementara sebagian besar teks membahas industri rumah tangga ? Lalu jika kita perhatikan kalimat pada alinea terakhir, “mereka mengirimkan sebagian gaji ke desa untuk membeli sawah…?” , tentulah timbul pertanyaan, sawah mana yang dibeli? Sebuah kalimat yang kontradiktif dengan deskripsi pada alinea pertama. Dimana ada sawah jika kondisi desa dilukiskan sangat tandus dan hanya bisa menghasilkan singkong dan ubi jika ada hujan ?

Teks-teks bacaan yang buruk dalam pengaturan logika berbahasa seperti ini cukup banyak terdapat dalam buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk anak-anak SD. Kekacauan logika terlihat mulai dari teks yang tidak memiliki judul, judul yang kurang menggambarkan isi teks, alinea yang tidak jelas gagasan utamanya, kalimat-kalimat dalam alinea yang tidak padu, dan sebagainya. Teks dialog penuh dengan tanya-jawab basa-basi tak bermakna. “Selamat pagi Firman”. “Selamat pagi Indri”. “Kamu sudah baca pengumuman belum?” “Pengumuman apa? Dimana? Aku belum membacanya tuh.” Dan seterusnya. Teks bacaan dan dialog dengan kualitas seperti ini umumnya teks yang dibuat sendiri oleh penulis buku yang biasanya adalah para guru atau sarjana ilmu pendidikan.

Kondisi yang memprihatinkan dari teks-teks bacaan buku pelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya terjadi pada logika berbahasa, tetapi juga pada pilihan tema. Tema kebersihan dan kesehatan mulai dari mandi, sikat gigi, menyapu, mengepel, membuang sampah, menanami halaman rumah, kerja bakti di kampung, pemberantasan nyamuk, makan sayur, muncul berkali-kali dalam banyak bacaan terutama untuk siswa kelas satu sampai kelas tiga.

Tema yang tidak menarik, tidak menumbuhkan minat seperti ini menjadi semakin membosankan karena dibahas berulang-ulang. Sementara teks buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas empat hingga kelas enam, sarat dengan tema program pemerintah dan konsep-konsep yang terlalu kompleks untuk diajarkan kepada anak-anak sekolah dasar seperti urbanisasi dan gerakan kembali ke desa, transmigrasi, ekonomi koperasi, perlindungan tenaga kerja, krisis moneter, cara-cara memberantas hama, dan sebagainya. Teks bacaan dengan tema seperti itu disajikan dengan bahasa penyuluhan sehingga tidak menimbulkan kesan yang bermakna bagi siswa. Apalagi kondisi di lapangan memperlihatkan kecenderungan guru-guru juga terbatas wawasannya mengenai program-program pemerintah tersebut.

Salah satu contoh teks berisi tema program pemerintah adalah teks dialog bejudul Posko Korban Banjir dalam buku pelajaran bahasa Indonesia untuk siswa SD kelas tiga. (Tim Bina Karya Guru, Bina Bahasa Indonesia 3A, Penerbit Erlangga, 2000, hal 134-135). Dengan maksud menanamkan kesan dan makna kepada siswa, teks dialog ini harus diperagakan sebagai permainan peran. Latar belakang dialog adalah rapat di Balai desa, tokoh yang diperankan adalah Kepala Desa, Sekretaris Desa, dan dokter Puskesmas. Teks berisi tanya jawab antara ketiga tokoh seputar kondisi pengungsi, kesiapan Puskesmas, dan kesiapan dapur umum. Bisa kita bayangkan bagaimana canggungnya anak-anak usia 10 tahun kelas tiga SD memainkan peran aparat pemerintahan desa. Terbayang pula bagaimana repotnya guru-guru memandu siswa masuk ke suasana rapat desa yang menjadi konteks dialog itu. Setelah teks, siswa diminta menyebutkan nama tokoh, sifat-sifat mereka dan alasan mengapa menyebutkan sifat itu. Bagaimana mungkin siswa dapat menggambarkan sifat tokoh dari dialog singkat tidak lebih dari 25 kalimat, dari sebuah peristiwa rapat di Balai Desa yang berlangsung datar-datar saja tanpa dinamika, dan tanpa pelukisan karakter tokoh-tokohnya? Kesan dan makna apa yang bisa diharapkan muncul dari anak-anak kelas tiga SD dari bacaan dan dialog dengan tema yang sama sekali tidak mengundang minat semacam ini? Contoh-contoh di atas memperlihatkan kepada kita bahwa materi pembelajaran bahasa di kalangan siswa sekolah dasar sulit diharapkan dapat berperan dalam meletakkan bahasa sebagai sarana berolah pikir dan sarana ekspresi.

Anak-anak mulai mempelajari konsep-konsep ilmu sosial pada saat duduk di kelas 3 SD. Diawali dengan mengenal lingkungan keluarga, kemudian lingkungan sekolah, lingkungan tetangga sekitar dan seterusnya. Apa yang digambarkan oleh buku-buku pelajaran IPS kelas 3 SD tentang lingkungan tetangga ? Keadaan wilayah RT yang satu mungkin berbeda dengan keadaan wilayah RT yang lain. Ada wilayah RT yang terletak di tanah datar, ada yang di tanah berbukit. Wilayah RT di daerah perkotaan umumnya terletak di atas tanah datar. Wilayah RT yang terdapat di daerah pedesaan sebagian terletak di atas tanah berbukit. Wilayah RT 06/ RW 03 terletak di daerah perkotaan. Wilayahnya terdiri atas tanah datar dan rata. Di sana tidak ada bukit. Juga tidak ada sungai yang mengalir. (IPS Terpadu Kelas 3 SD, Tim Bina Karya Guru Penerbit Erlangga, 2000).

Dua alinea di atas membuka pembahasan mengenai lingkungan RT, RW, Kelurahan, hingga provinsi. Tanpa ada penjelasan yang memadai mengenai lembaga RT, tiba-tiba lembaga administratif itu dihubungkan dengan kondisi geografis yang secara konsep berbeda konteksnya. Deskripsi menjadi lebih kacau dengan kalimat: tidak ada bukit dan tidak ada sungai di perkotaan. Dalam memperkenalkan konsep-konsep ekonomi, buku pelajaran memulainya dengan menyebutkan jenis-jenis mata pencaharian. Mata pencaharian penduduk desa bertani, beternak, berkebun. Penduduk daerah pantai bermatapencaharian sebagai sebagai nelayan. Penduduk kota sebagian besar bekerja sebagai pegawai negeri, pegawai perusahaan swasta dan perusahaan daerah.

Berbagai jenis mata pencaharian disebutkan bagai sebuah daftar jenis pekerjaan. Konsep “bekerja” itu sendiri tidak banyak mendapat porsi dalam penjelasannya. “Bekerja” yang merupakan aktivitas ekonomi produksi, menyempit maknanya menjadi sekedar jenis pekerjaan. Tidak ada gambaran yang memadai mengenai proses. Peran Guru Deskripsi isi buku di atas hanya merupakan cuplikan kecil saja dari seluruh isi buku pelajaran yang dipakai anak-anak di sekolah dasar. Buku pelajaran adalah media pembelajaran yang paling umum dipakai di sekolah-sekolah di Indonesia. Jika isi buku pelajaran kondisinya sangat buruk, kita tentu berharap guru dapat berperan menutup kelemahannya, misalnya dengan memberikan bahan bacaan lain yang lebih baik atau menyusun sendiri bahan bacaan yang diperlukan. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Dari pengalaman penulis bergaul dengan para guru sekolah dasar dan mengamati keseharian mereka dalam mengajar siswa, ada kecenderungan yang memprihatinkan yakni ketergantungan guru yang sangat tinggi terhadap buku pelajaran dalam proses belajar mengajar di kelas. Ketergantungan ini mematikan daya kritis guru terhadap kualitas isi buku pelajaran.

Ketergantungan terjadi karena beberapa faktor. Pertama, sebagian besar guru tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai teks yang baik. Kedua, sebagian besar guru memiliki minat baca yang rendah sehingga sulit bagi mereka untuk berkreasi menyusun sendiri bahan pelajaran untuk siswa. Ketiga, akses mereka terhadap bahan bacaan sangat terbatas. Dana untuk buku tidak ada, perpustakaan sekolah tidak tersedia dan sekolah tidak punya referensi bacaan yang memadai selain koran. Kondisi menjadi lebih parah karena waktu di luar jam sekolah lebih banyak digunakan para guru untuk memberikan les privat dalam rangka menyiasati pendapatan yang rendah.

Kondisi kurang kritisnya guru terhadap kualitas teks antara lain juga tampak pada hasil penelitian staf pengajar FKIP Universitas Terbuka, Suparti dkk tentang persepsi guru terhadap penggunaan buku teks Bahasa Indonesia SD di Kabupaten Jombang. (Jurnal Pendidikan Vol.3 No 1, Maret 2002, Lemlit UT). Dalam hal persepsi terhadap isi buku, para guru lebih menyoroti kualitas gambar yang kurang menarik, daripada kualitas teks. Yang terjadi kemudian, lebih penting bagi guru adalah menyelesaikan pembahasan materi yang ada di dalam buku pelajaran tepat pada waktunya. Kalau bisa lebih cepat sehingga lebih banyak waktu bisa dicurahkan untuk mengajak siswa berlatih mengerjakan soal. Soal-soal pun diambil dari buku pelajaran itu lagi, atau buku pelajaran yang diterbitkan oleh penerbit lain yang isinya nyaris sama. Wacana guru dan siswa akhirnya hanya berkembang sebatas apa yang ada di buku pelajaran. Bagi umumnya guru, buku dianggap sudah lengkap mewakili konten kurikulum dan organisasi materi sehingga mereka seringkali merasa kurang aman kalau tidak mengikutinya. (Arsyar, 1989). Dampak pada Anak-anak Kualitas isi buku yang rendah ditambah dengan kemampuan guru yang kurang memadai, sangat tidak mendukung perkembangan kemampuan literasi dan pemahaman siswa.

Hasil penelitian yang dilakukan Tim Program of International Student Assessment (PISA) Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas menunjukkan kemahiran membaca anak usia 15 tahun di Indonesia sangat memprihatinkan. Sekitar 37,6 persen hanya bisa membaca tanpa bisa menangkap maknanya dan 24,8 persen hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan (Kompas 2 Juli 2003).

Sangat menyedihkan mengingat kemampuan membaca dan menulis merupakan kompetensi paling dasar yang dibutuhkan seseorang untuk mengembangkan pengetahuan dan meraih kompetensi yang lain. Membaca buku yang tidak menarik dan sulit dicerna isinya, menjadi beban berat bagi anak-anak. Yang kemudian dilakukan akhirnya hanya menghafal saja isi buku. Kebiasaan menghafal menumpulkan daya nalar dan kreativitas dalam memecahkan masalah dan menghasilkan karya cipta. Penghafalan juga mematikan rasa ingin tahu, padahal keingintahuan adalah kunci dari eksplorasi dalam perkembangan ilmu. Banyak penelitian mengungkapkan, kesulitan paling besar yang dhadapi siswa dalam memecahkan soal matematika berbentuk cerita adalah dalam membuat model atau memetakan masalahnya dan membuat kalimat matematika. (Hilum, 1997). Ini menunjukkan bahwa kemampuan analisa anak-anak sangat rendah akibat tidak berkembangnya logika berpikir. Kebiasaan menghafal diperkuat oleh dorongan yang diberikan para guru. Karena wawasan yang terbatas mengenai bahan yang diajarkan, guru juga selalu mendorong anak-anak untuk menghafal saja apa yang ada di buku. “Jangan cuma dibaca teksnya. Latihan-latihan soal juga harus dikerjakan. Hafalkan jawabannya. Ibu kan sudah berkali-kali mengingatkan soal-soal itu nanti pasti keluar waktu ujian,” kata seorang guru PPKn (pendidikan kewarganegaraan) kepada siswa-siswa kelas enam.

Seorang anak bisa saja hafal nama tokoh pahlawan dan tahun kejadian, tetapi belum tentu paham apa yang membuat para pahlawan memberontak, melawan dan berjuang. Buku pelajaran sejarah hanya memuat nama tokoh,tahun kejadian, urut-urutan kejadian, tanpa memberi penjelasan logis latar belakang terjadinya peristiwa-peristiwa itu. Buku Pelajaran, Kurikulum dan Pendidikan Tradisional Sebagai salah satu media pembelajaran, buku pelajaran memang harus memenuhi validitas kurikuler yakni disusun sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan. Dapat dikatakan, buku pelajaran mencerminkan kurikulum.

Jika kondisi buku pelajaran sekolah anak-anak sangat memprihatinkan seperti terpapar di atas, bagaimana dengan kurikulum pendidikan kita ? Kurikulum di Indonesia baru mulai populer pada tahun 1950an, dan digunakan oleh mereka yang memperoleh pendidikan Barat. Definisi kurikulum beragam. Dalam arti sempit, kurikulum didefinisikan sebagai “a plan for learning”, sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh anak-anak di sekolah. Namun para ahli pendidikan saat ini mendefinisikan kurikulum secara lebih luas, yakni semua pengalaman dan pengaruh yang diperoleh anak di sekolah.

Konsep kurikulum adalah konsep pendidikan moderen, pendidikan formal sekolah. Konsep kurikulum tidak dikenal dalam pendidikan tradisional yang ada di masyarakat, baik sosialisasi maupun pendidikan agama atau pendidikan ketrampilan. Pendidikan tradisional tidak memerlukan kurikulum, tidak memerlukan perencanaan karena tujuannya adalah mewariskan nilai dan tradisi, Materi pendidikannya relatif tetap dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pendidikan formal sekolah memerlukan kurikulum karena tujuan pendidikannya bukan sekedar mewariskan pengetahuan dan ketrampilan secara turun temurun kepada anak-anak.

Tujuan pendidikan sekolah lebih luas dan kompleks karena dituntut selalu sesuai dengan perubahan. Kurikulum harus selalu diperbarui sejalan dengan perubahan itu. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan, kurikulum harus disusun secara strategis dan dirumuskan menjadi program-program tertentu. Karena harus selalu relevan dengan perubahan masyarakat, penyusunan kurikulum harus mempertimbangkan berbagai macam aspek seperti perkembangan anak, perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan kebutuhan masyarakat dan lapangan kerja dan sebagainya.

Kondisi materi buku pelajaran yang memprihatinkan seperti digambarkan di atas, menunjukkan betapa kurikulum pendidikan sekolah yang ada saat ini belum disusun dan direncanakan dengan baik. Hal ini terjadi kemungkinan disebabkan oleh pertama, kelemahan manajemen perencanaan di tingkat operasional, dalam hal ini Pusat Kurikulum. Kedua, visi dan tujuan pendidikan belum dirumuskan secara jelas sehingga menimbulkan kebingungan dalam menerjemahkannya ke dalam strategi dan program. Ketiga, masih kuatnya pengaruh sistem pendidikan tradisional yang cenderung tidak responsif terhadap perubahan membuat sistem pendidikan sekolah cenderung hanya mengadopsi aspek formalitasnya sementara esensi sistem yang bersifat dinamis belum terbentuk.

Pustaka Arsyar, Mohammad (1989). Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Proyek Pengembangan LPTK Ditjen PT Departemen P&K.
Kompas (2003). Kemahiran Baca di Indonesia Menyedihkan. (2 Juli 2003)
Mulder, Niels (2001). Indonesian Images. Yogyakarta: Kanisius
Nasution, S (1986). Asas-asas Kurikulum. Bandung: Jemmars
Hilum, Rium (1997). Pengaruh Kemampuan Memecahkan Masalah-masalah cerita dalam aljabar terhadap prestasi siswa. Skripsi S1 FMIPA IKIP Yogyakarta.
Supriadi, Dedi (2001). Anatomi Buku Sekolah di Indonesia. Yogyakarta: Adicita
Shaver, James P ed. (1991). Handbook of Research on Social Studies Teaching and Learning. New York: National Council for the Social Studies.
Anis Suryani
Sumber: http://antropologi.fib.ugm.ac.id/artdetail.php?id=14

30 Responses to "Apa yang Dipelajari Anak di Sekolah"

AKU sich sebagai pelajar ya kewajibanku hanya belajar dan belajar

Betul Puj. Tugas pelajar ya belajar. Tugas pemerintah ya mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan murah [kalo bisa gratis]…. Yang lain silakan tambahkan.

Gak enak, banyak pendidik yang mampir di blog ini. Silakan tambahkan…

Betul tugas siswa adalah belajar (dengan rajin lo…) dan tugas guru menyampaikan bahan ajar dengan baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan maksimal.
sebenarnya ada banyak faktor dalam keberhasilan belajar, tapi yang paling utama yang sering gw sampaikan ke murid2 gw adalah:
1. Siswa jangan benci pelajarannya
2. siswa jangan benci gurunya
3. siswa harus belajar dengan perasaan senang, gak tertekan, bebas dan tidak takut dalam berbicara dalam kelas
4. Tidak ada jarak antara siswa dan guru (seperti teman)
5. Metode pengajaran yg interaktif (dua arah)
6. dlllllllll, masih banyak lagi

kalau yang 5 itu saja sudah terpenuhi, insya Allah semua orang Indonesia yg sekarang belajar bahasa Inggris di sekolah ca. 9 tahun, bisa bicara bahasa inggris yang ok setelah lulus SMU. Sekarang ???? 😦

ya memang betul. belajar itu harus diberi kebebasan dalam berekspresi dan berkarya….pemerintah kudu bisa memberikan ruang dan kenyamanan supaya bangsa ini tetap kreatif

Saya Sekretaris Dewan Pengurus Propinsi Kamar Dagang Induk Usaha Mikro Kecil Menengah (KADIN UMKM) menyampaikan pada pemerhati pendidikan, pelaku dan pakar bahwa hasil survey, riset dan uji coba melalui pelatihan produktifitas yang kami lakukan pada 10.000 pekerja, staff, pengusaha kecil sampai mahasiswa menunjukkan rendahnya produktifitas, kualitas dan efisiensi kerja SDM Indonesia. Ini sebabnya produk Indonesia tidak mampu bersaing dipasar global, meskipun sampai 100 tahun kedepan. Pendidikan hanya mendidik dan melatih siswanya baca, tulis, hitung, gambar dan hapalan selama 16 tahun dibalik bangku. Tidak ada orientasi untuk membuat produk barang atau jasa, akibatnya hanya menghasilkan perencana dan pembuat wacana saja. Pendidikan harus berorientasi pada produktifitas dan kreatifitas, persaingan sudah masuk pada produk inovatif, Indonesia kian jauh tertinggal. KADIN UMKM mengajak sekolah dasar menengah bekerja sama meluruskan arah pendidikan, untuk mengetahui program ini silahkan masuk http://www.umkm-online.com

Terima kasih tambahan informasinya mas Guntur. Perlu kebijakan yang integral menyelesaikan permasalahan misorientasi pendidikan.

100 tahun ke depan masih tertinggal? Luar biasa. Harus segera dimulai!

Menurutku sih emang SDM kita aja yang memang belum siap bersaing dengan negara lain. Salah satu penyebabnya ya memang dari sistem pendidikan yang kita punya saat ini.
Tetapi faktor lain di luar sekolah pun sangant berpengaruh, terutama keluarga. Ini pengalaman pribadiku lho. Banyak orang tua yang masih berorientasi pada ‘kuantitas’ daripada kualitas pendidikan anak-anaknya.. Misalnya di tempatku kerja, ada murid yang tidak naik kelas karena memang anak ini belum mampu untuk melanjutkan ke level berikutnya, tetapi si orang tua tidak terima. Menurutnya, dia yakin jika anaknya mampu untuk naik ke level berikutnya. Padahal kenyataannya tidak demikian. Si anak jadi terbebani karena tuntutan orang tuanya. Jadi yang lebih penting bagi orang tua si anak ini adalah ‘naik atau tidak naik’, bukannya ‘bisa atau tidak bisa anaknya berbahasa Inggris’.. 😦
Kadang kadang aku suka geram terhadap orang tua yang demikian. Masukan juga nih buat yang sudah jadi orang tua, jangan selalu memaksakan anak anak anda untuk mendapatkan nilai yang bagus, tetapi mereka juga hendaknya memahami apa yang mereka pelajari.

neng ina….., kalau emang si anak faham pelajarannya tentu saja otomatis nilainya bagus dong 😉

Yang paling salah kaprah adalah bahwa banyak anak indo yang berorientasi terhadap nilai, dan tidak berorientasi pada kemampuan (bahasa contohnya), yang yg paling penting buat mrk adalah nilai, gak perduli gimana caranya; nyontek kunci jawaban di blk buku themen, belajar habis2an satu hari sebelum test dan pada saat test mereka bisa mengerjakan. Padahal penekanan pembelajaran bahasa kan bukan di test, tapi pada kemampuan berbahasa ,oder ???

Ente ngomongin ane ya Nang.

pmp,pspb dan solche schmarrn lainnya masih di pelajari gak ?

ngomongin murid2 jerman gw, k yg S1 biasanya pada doyan nyontek, dan ngadalin gurunya, padahal kan dia membodohi dirinya sendiri dengan pura2 bisa karena nyontek.
Kalau yg S2 biasanya lbh dewasa dan budaya nyonteknya gak ada.

Emang dulu gitu juga ya 😕

@Danang:

Kalo yang pinter mah laen cerita donk Pak Danang :p

Kalo murid2 gue tuh kan rata2 SMP, SMA, atau anak kuliahan. Nah, orang tua yang rese itu biasanya complain kalo anaknya itu pinter di sekolah. Padahal kan pinter matematika blom tentu pinter bahasa, ya nggak? Malah ada yang sampe anaknya tertekan banget dan sampe malsuin tandatangan guru supaya ortunya nggak marah.

@ Danang n Ina92: Anak pertama gue paling susah kalo disuruh ngerjain Matematika. Sering ‘ribut’ ama Ntus tentang PR Math. Dia lebih seneng menggambar, maen pianika, baca komik2 jepang, ikut pramuka. Memang pendidikan gak bisa dipaksain. Anak kita punya dunia sendiri, kita mengarahkan dan support. Anak orang lain pun demikian. Ya gak?

@ Neta: PMP ganti nama jadi PPKN artinya gue lupa. PSPB ganti nama jadi PSDS (Persatuan Sepakola Deli Serdang) Wakakakakak….

oh ya ada satu lagi yang salah kaprah di Indo;
seorang ibi akan repot sekali kl nilai matematika anaknya jelek, dia akan berusaha sekuat tenaga mencari jalan untuk meningkatkan kemampuan anaknya tsb, baik dengan belajar di rumah sampai panggil guru privat, sebaliknya kl nilai Ilmu sosial anak tsb jelek dia akan cuek aja dan mentolellirnya. di Indo ada anggapan bahwa siapa yg bagus dalam bidang matematika (exacta) itu anak yang pinter, sementara kl pinter di Bidang sosial ekonomi itumah biasa. Makanya gak ada kan guru privat yang mengajarkan bidang sosial ?
Kalau perhatikan bidang mana yang nantinya akan menciptakan orang kaya, jawabannya tentu bukan bidang Exacta (Insinyur, teknisi, dosen, peneliti dll), melainkan biang sosial ekonomi yang menciptakan bisnisman2, oder 😕

Konnte sein aber nicht eigentlich… Oder?

Jain, aber zumindest so denken die westliche Leute. Wenn man reich werden moechte, sollte man selbstaendig arbeiten, nicht bei einer Firma arbeiten, obwohl es auch eigentlich viele Leute mit naturwissenschaftlichen Hintegrund Geschaeft machen.

di sana ada sekolah yang namanya ” waldorfschule ” anak-anak didiknya di bebaskan milih bidang yang dia sukai. tentu aja dasar spt mathe dll diajarin.tapi yang terpenting bahasa dan seni ( die zwei werden man im ganzen leben gebraucht ) . gue suka geleng – geleng kepala kalo liat dan denger pelajaran ( terutama di sd ) mens …wer braucht solche sachen wie pmp oder berminggu -minggu study soal majapahit. als hintergrund ist oke. es macht die kids doch mehr spaß , draussen zu sein oder die natur beobachten . meine meinung nach,die kiddies müssen mehr beweglich sein .mensana in corperisano…

Yap, pendidikan gaya ini sekarang mulai bermunculan di bbrp kota di Indonesia. Sekolah alam namanya.

ya betul sekolah alam mempunyai konsep yg hampir sama dengan yg neta ceritakan, tapi jangan lupa di setiap kreatifitas yang tidak sesuai dengan sistem pendidikan yang ada pasti ada kendala penyesuaian. Salah satu sekolah alam yg pertama muncul adalah yg di Ciganjur (deket rumah) jaksel, dan (kalau tiidak salah) sayangnya sekolah tsb blm terakreditasi oleh pemerintah, karena ketidaksesuaiannya dengan program standard nasional, jadi murid-murid harus ikut test nasional (sama dgn Ujian negara untuk PT), dan banyak tetangga gw yang ngeluh anaknya ada kesulitan utk mengerjakan soal2 tsb krn ketidaksesuaian kurikulumnya.

Die Gedanken sind frei…

Die Regierung ist…

Teman-teman doakan saja semoga cita2ku bikin sekolah sendiri dengan konsep aseli dari otak gue akan segera terlaksana…amin..

Dialog antar anggota keluarga:

GUE : (I’m sorry Jovita, mami harus bikin kamu jadi bahan percobaan dulu..kalo sukses pasti kamu akan mami jadikan icon sekolah mami….;) )

ANAK GUE : It’s ok mami, tapi jangan lupa komisi sepuluh persennya ya…..;)

Six months later…

kayak pelem aje. Wakakakakak

dan guru-gurunya harus sering dikirim ke fortsbildung oder weiterbildung. contoh pendidik tampa weiterbildung ya kayak beberapa dosen di ikip yang gak bisa ngebedain jaman rikiplik kolonial ama jaman mahasiswa itu manusia dewasa atau si labbahasa dedi 92 sering ngebenerin artikel salah yang di bilang si dosen .or kayak nasib gue yang di panggil ke ruang dosen dan diheranin kok nyambil kerja statt konsentrasi kuliah dan masa ortu gue gak bisa ngadain uang kualih…cek..cek… pendidik … oh pendidik…

kualih apaan Net?

mungkin maksud Neta:

Potong bebek angsah, Masak di KUALIH, Nona minta dansah, Dansah empat kalih, Sorong ke kirih, Sorong ke kananh, lah lah lah lah lah….

Wakakakakakak

well, biar pendidikan bermutu, tenaga pendidik harus diberikan pelatihan-pelatihan mengenai pendidikan. tapi harus merata, ga cuma di sekolah negeri aja. maklum kita-kita yang di swasta jarang banget dapet pelatihan. jadi ilmu kita terbatas. gimana mo ngajarin murid wong ilmu kita aja ga nambah:>

Setuju pak. Perusahaan swasta ada yg peduli thd pelatihan guru2 termasuk guru2 swasta. Saya punya teman dosen bhs Inggris yg memberikan pelatihan gratis atas biaya yayasan perusahaan swasta.

Ngomong2 soal pelajaran sekolah, bulan lalu gw bantuin PR matematika keponakan yg baru kelas 1 sd, tapi udah dikasih soal yg begini :
4,2,6,4,8,6,….. berapa angka2 selanjutnya ? (berapa hayooo 😕 ?) nah kita ngerti, anak kelas 1 baru bisa saja udah untung !

Saad: Kalo sewaktu di sama2 di Gedung E, kita cuma mikir gimana supaya dapat nila A. Dan kalo laper tinggal ke kantin belakang dan mikir makan apa hari ini yg rada murah dan nggak harus dgn ikan asin lagi.

soal2 mit semester 2 ini emang gampaNG2 SUSAH???

yg kita pelajarin sering nggak sama sekali masuk.
apa sih susahnya kasih tau soalny or kisi2 nya .

mudah kan ???

bwat guru2.

n temend2 di web ini.

gw n temend2 gw sering bgt belajar utk uas besok TAPI nggak ada 1 pun soal yg masuk disoal2 uasbn itu.

gw n temend2 gw sering bgt kesel n marah…

kasih solusinya dunk…

or soal-soalnya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Shalawat

Al Qur’an Online

Tawassul

Pengunjung

  • 629,780 Pembaca Setia

اهلا وسهلا بحضوركم

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kebenaran datangnya dari Alloh SWT, kesalahan datangnya dari kelemahan diri saya pribadi. Jika ingin copy-paste silakan. Mohon masukan dan tegur sapa serta do'akan semoga tetap istiqomah di jalanNYA. Amien

Terima kasih atas kunjungan Anda

Allah exists without a place!

Sahabat Ali Ibn Abi Thalib berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir." Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sahabat Ali Ibn Abi Thalib menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah SWT) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,017 other followers

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Twitter

Follow me

Shalawat

  1. preview.mp3
  2. M%2BArifin%2BIlham%2B-%2BYa%2BNabi%2BSalam%2BAlaika.mp3



Asas

Page Rank

Online

tracker

My 4shared

%d bloggers like this: