Sekedar Catatan

Benarkah Wahhabiyah Pewaris Sejati Mazhab Salaf ? (2)

Posted on: July 30, 2008

Mazhab Tafwîdh Adalah Mazhab Salaf Shaleh

Setelah kami terangkan sebelumnya bawa ta’wîl adalah mazhab Salaf yang telah tetap berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah, kini mari kita teliti masalah tafwîdh.

Tafwîdh dimaksud di sini ialah menyerahkan pemaknaan kata atau kalimat kepada Allah SWT. dengan tidak menafsirkannya, baik makna maupun kaif-nya [1]

Imam Ahmad ibn Hanbal berkata ketika ditanya tentang hadis-hadis sifat:

نُؤْمِنُ بِها و نُصَدِّقُ بها ولا كيف ولا مَعْنَى.

“Kami mengimaninya, mempercayainya, dan tanpa kaif dan makna.”

Pernyataan ini telah dinukil dengan sanad shahih oleh al Khallâl. Dan penegasan para imam Salaf bahwa sikap yang harus ditempuh adalah memberlakukan kata-kata sifat itu sebagimana datang dalam ayat atau riwayat dengan tidak memberikan makna apapun dan terjun dalam menerangkan apa maksudnya adalah sangat banyak untuk dinukil di sini. Di antaranya apa yang ditegaskan Imam at Turmudzi dalam kitab Sunan-Nya:“ Mazhab yang benar dalam masalah ini menurut ahli ilmu dari para imam, seperti Sufyan ats Tsawri, (Imam) Malik ibn Anas, Ibnu Mubârak, Ibnu Uyainah, Wakî’ dan selain mereka ialah mereka meriwayatkan hadis-hadis seperti ini kemudian mereka berkata, ‘Hadis-hadis seperti itu diriwayatkan, kita imani dan tidak berkta kaif (bagaimana)?

وَ هذا الذي اختارَهُ أهلُ الحديثِ أنْ تُرْوَى، ولا تُفَسَّر، ولا تُتَوَهَم، ولا يُقالُ كيفَ، و هذا أَمْرُ أهلِ العلمِ الذي اختاروه و ذهبوا إليهِ

Inilah mazhab yang dipilih oleh Ahli Hadis, hadis-hadis seperti ini diriwayatkan sebagaiamana datangnya, (1) diimani, (2) tidak ditafsirkan, (3) tidak dibayang-bayangkan dan (4) tidak dikatakan kaif?. Inilah pandangan Ahli Ilmu yang mereka pilih dan tempuh.”

Abu Salafy berkata:

dan kata-kata beliau ولا تُفَسَّر (tidak ditafsirkan) adalah senada dengan ucapan sebagian ulama Salaf ketika berkata:

قِراءَتُها تَفْسِيْرُها

“Membacanya itulah tafsirnya.”

Sedangkan maksud kata: ولا تُتَوَهَم (tidak dibayang-bayangkan) ialah hendaknya dipalingkan dari makna dzahirnya yang mengesankan adanya penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, dengan menyerahkan makna yang sebenarnya kepada Allah SWT. Adapun kaif (bagaimana) bentuk dan modelnya maka tidak perlu diserahkan maknanya kepada Allah SWT sebab kaif itu adalah mustahil bagi Allah SWT. seperti ditegaskan Imam Malik:

ولا كيفَ و كيفٌ عنْهُ مرفُوْعٌ

“Tidak boleh dikatakan kaif, sebab kaif itu terangkat (mustahil bagi Allah).

”Maksudnya ialah tidak boleh dibayang-bayangkan bagaimana bentuk dan modelnya sifat Allah itu. Inilah mazhab Salaf. Adz Dzahabi mengutip pernyataan Imam Malik tentang hadis-hadis sifat:

أَمِرُّها كما جاءَتْ بِلا تفسيْرٍ.

“Berlakukan hadis-hadis itu sebagaiaman datangnya tanpa ditafsirkan.” (Siyar A’lâm an Nubalâ’, 8/105).

Pada beberapa lembar adz Dzahabi berkata:

“Ucapan kami dalam masalah ini: menerimanya, memberlakukannya dan menyerahkan maknanya kepada penyabdanya yang ma’shum.”Di sini adz Dzahabi menegaskan bahwa yang harus ditempuh adalah tafwîdh/menyerahkan maknanya kepada yang ma’shum! Dan pandangan seperti ini sesuai dengan pandangan Imam Ahmad di atas:

ولا كيف ولا مَعْنَى.

“… Tanpa kif dan makna.”

Dengan demikian jelaslah bahwa mazhab Salaf; Imam Ahmad dan para imam dan ahli hadis seperti adz Dzahabi dan lainnya adalah tafwîdh dan ini adalah akidah yang diyakini para pemuka agama ini dari kalangan Salaf dan Khalaf yang sesuai dengn firman Allah SWT.:

“… Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.”

Ibnu Hajar al Asqallani menyebutkan bahwa ada tiga aliran dalam menyikapi nash-nash tentang sifat…. “Aliran Ketiga: Memberlakukannya sebagaimana datangnya dengan menyerahkan maknanya kepada Allah –Ta’alâ-“ Setelahnya beliau berkomentar, “Ath Tahyyibi berkata, ‘Ini adalah mazhab yang mu’tamad (dipegangi) dan dengannya para Salaf Shaleh bermazhab.

”Ibnu Hajar sendiri cenderung mendukung poendapat tafwîdh, ia berkata, “Yang benar adalah menahan diri dari pembahasan seperti ini dan menyerahkannya kepada Allah dalam semuanya dan bercukup-cukup dengan mengimani semua yang Allah tetapkan dalam Kitab-Nya atau atas lisan Nabi-Nya.” (Fathu al Bâri,13/383)

Beberapa halaman setelahnya, Ibnu Hajar berkata mengutip al hafidz Ibnu Daqîqil Ied, “Ibnu Daqîqil Ied berkata, ‘Kami berpendapat tentang sifat-sifat yang musykil bahwa ia benar dan haq, sesuai dengan makna yang dikehendaki Allah. Maka barang siapa mena’wilnya, kami akan perhatikan ta’wilnya, jika ia dekat dengan penggunaan bahasa Arab, kami tidak menentangnya, jika jauh menyimpang maka kami berhenti dan kembali kepada hanya mengimaninya dengan meniadakan penyerupaan, tanzîh.” (Fathu al Bâri,13/383)

Abu Salafy berkata:

Keterangan Ibnu Daqîqil Ied di atas adalah kokoh, darinya dimengerti bahwa ta’wil dan juga tafwîdh adalah metode yang ditempuh para pemuka Salaf. Dan pandangan ini didukung oleh Al Qur’an dan Sunnah! Jadi salahlah anggapan sementara orang yang mengatakan bahwa tafwîdh adalah mazhab Salaf dan ta’wil adalah mazhab Khalaf. Sebab para tokoh Salaf juga melakukan ta’wil dan kondisi tertentu dan menyerahkan maknanya kepada Allah dalam kondisi dan kasus lain.

Dari sini dapat dimengerti bahwa tuduhan Kaum Wahhabiyah yang diambilnya dari panutan mereka; Ibnu Taimiyah al Harrâni bahwa tafwîdh adalah mazhab paling keji dan menyimpang di antara mazhab-mazhab ahli bid’ah adalah kepalsuan belaka! Ibnu Taimiyah berkata:

فَتَبَيَّنَ أَنَّ أقْوالَ أهلِ التفويضِ الذينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ مُتَّبِعُونَ لِلسُّنَّةِ و السلفِ مِنْ شَرِّ أَقوالِ أهلِ البِدَعِ و الإلْحادِ.

“Maka jelaslah bahwa ucapan ahli tafwîdh yang mengaku-aku mengikuti Sunnah dan para Salaf adalah sejelek-jeleknya ucapan ahli bid’ah dan kaum pengingkar Tuhan, ilhâd.” [2]

Tuduhan palsu ini segera mendapat tempat istimewa di kalangan penggede Sekte Wahhabiyah dan dijadikannya hujjah seakan ia wahyu suci yang tiada kebaitilan datang kepadnya baik dari arah depan maupun belakang, firman yang diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijak dan Mengetahui!

Ibnu Utsaimin, seorang pimpinan tertinggi Sekte Wahhabiyah setelah kematian Abdul Aziz ibn Bâz, mengatakan,

“Dengannya kita mengetahui kesesatan atau kebohongan mereka yang berkata, ‘mazhab Salaf adalah tafwîdh’. Mereka sesat jika mengatakannya dengan dasar kebodohan akan thariqah Salaf, dan mereka berbohong jika mereka menyengaja memalsu…Ringkas kata, tidak diragukan bahwa mereka yang berkata bahwa mazhab Ahlusunnah adalah tafwîdh telah salah, sebab mazhab Ahlusunnah adalah menetapkan makna (apa adanya, seperti telah disinggung sebelumnya_Abu Salafy) dan menyerahkan kaif.Ketahuilah bahwa tafwîdh -seperti dikatakan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah- adalah sejelek-jeleknya ucapan Ahli Bid’ah dan pengingkar Tuhan.” [3]

Selain Ibnu Utsaimin, tokoh Wahhabiyah lain seperti Syeikh Nashiruddin al Albani– yang hanya kenyang dengan uraian Ibnu Taiymiah dan miskin dari siraman uraian para ulama Ahlusunnah- juga terjatuh dalam lembah kebodohan tersebut. Ketika mengomentari kitan Sunnah karya Ibnu Abi Âshim:212, pada ucapan Ibnu Abbas ra., “Mengapakah mereka berpaling dari ayat-ayat yang muhkamât dan binasa dalam ayat-ayat mutasyâbihât.” Ia berkata, “Mereka dipalingkan darinya oleh ta’wîl dan tafwîdh.”

Kata-kata Syeikh Albani ini sungguh mengelikan dan terasa lucu bagi santri abangan sekalipun… tetapi apa hendak dikata, sebab ia pengetahuannya hanya terbatas pada kitab-kitab akidahk Ibnu Taimiyah dan kaum Mujassimah lainnya. Maka atas dasar ini, para tokoh Salaf yang telah kami kutip keterangan dan pandangan mereka tentang tafwîdh adalah sejelek-jelek ahli bid’ah dan mereka adalah kaum Mulhidûn,pengingkar Tuhan dan tentunya tidak sungkan-sungkan mereka juga akan menvonis mereka sebagai telah kafir!Dan inilah Wahhabi… semua ahli bid’ah! Semua kafir! Semua mulhid! Yang muwahhid dan ahlusunah hanya Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdul Wahhâb dan para pengikutnya.

Selamat atas umat Islam dengan lahirnya Jama’ah Takfiriyah ala Ibnu Taimiyah dan Ibnu Abdil Wahhâb!

____________________________

[1] Kaif maksudnya ialah model atau bentuk sesuatu. Para ulama Salaf tidak menafsirkan ayat atau hadis sifat dengan menyebutkan bagaimana bentuk atau model dari sifat itu, seperti kata فَرِحَ – ضَحِكَ -غَضِبَ ketika disandarkan kepada Allah SWT. mereka tidak melibatkan diri dalam memaknainya, mereka menyerahkan pemaknaannya kepada Allah SWT. dan salahlah orang yang menganggap bahwa para ulama Salaf mengatakan bahwa sifat-sifat seperti itu memiliki kaif hanya saja ia majhûl tidak diketahui. Ini adalah kebohongan atas nama Salaf!! Perhatikan ini!

[2] Al Muwâqah,1/180. Adapun apa yang ia sebutkan untuk membuktikan ucapannya di atas bahwa para sahabat telah menafsirkan Al Qur’an adalah tidak benar, sebab, memang benar bahwa para sahabat telah menafsirkan Al Qur’an, tetapi mereka dalam banyak kali menyerahkan hakikat makna ayat-ayat sifat kepada Allah… mereka men-tafwidh-kannya kepada Allah SWT. Inilah yang inti dari sikap mereka, dan bukan menafsirkan dengan menetapkan sifat-sifat itu sesuai apa adanya tanpa melibatkan unsur majazi, seperti yang dimaukan Ibnu Taimiyah dan kaum Mujassimah; Musyabbihah lainnya!

[3] Syarah Aqidah al Wâshithiyah:43-44.

Sumber : Abusalafy

3 Responses to "Benarkah Wahhabiyah Pewaris Sejati Mazhab Salaf ? (2)"

Para Pendukung Sunnah Di Malaysia Hanyalah Pengikut Gerakan Wahabiyyah Dan Bukannya Ahli Sunnah Yang Sebenar.

Dalam Memahami Ancaman Terhadap Ahli Sunnah Wal Jamaah, Hal: 2, Al-Ghari menggelar para pendukung Sunnah yang ingin menegakkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan gelaran Wahabiyyah. Beliau mendakwa bahawa aliran Wahabiyyah itu diasaskan oleh Muhammad Ibn ‘Abd Al-Wahhab kesan daripada sikap fanatiknya terhadap pendapat Ibn Taimiyyah.

Dalam Menjawab Kritikan Terhadap Fahaman Wahabiyah Di Malaysia, Hal: 3-4 (Memahami Ancaman Terhadap Ahli Sunnah Wal Jamaah, Hal: 4-5) Al-Ghari mentohmah Ibn Taimiyyah[1] dan muridnya Ibn Al-Qayyim[2] sebagai pencetus fahaman tajsim (memvisualisasikan Tuhan) dan tashbih (menyerupakan Tuhan dengan makhluk). Beliau cuba membuktikan tohmahan itu berdasarkan kenyataan Ibn Taimiyyah yang dikatakan menolak takwilan terhadap ayat-ayat sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab Munazarah Aqidah Al-Wasitiyyah, manakala tuduhan ke atas Ibn Al-Qayyim pula didasarkan kepada kitab Mukhtasar As-Sawa’iq Al-Mursalah.
Kemudian, dalam Menjawab Kritikan Terhadap Fahaman Wahabiyah Di Malaysia, Hal: 6, Al-Ghari menuduh Ibn Taimiyyah ada menyatakan dalam kitabnya At-Ta’sis Fi Ar-Radd ‘Ala Asas At-Taqdis bahawa aqidah tajsim dan tasybih tidak dicela dalam Al-Quran dan tidak ada seorangpun dari kalangan ulama salaf yang mengkritik aqidah tersebut.

PENJELASAN:

http://www.hafizfirdaus.com/ebook/SiapakahAhliSunnah/Tohmahan1.htm

PENJELASAN:

Pendapat Para Ulama’ terhadap Ibn Taimiyah

Berdasarkan kpd bbrp masalah yg telah dicetuskan oleh Syeikh Ibn Taimiyah, para ulama’ masing2 mengemukakan pendapat ttg beliau. Selain daripada ijma’ ulama’ yg mengkafirkan sesiapa yg beri’tiqad dg Qidam al-’Alam, batasan dan binasanya neraka. Kita juga akan dpt melihat pandangan ulama’ ttg beberapa masalah yg lain yg menjadi pegangan beliau. Secara ringkasnya, kami bawakan pandangan bbrp ulama’ ttg beliau dibawah ini:

(1) Imam al-Hafiz ibn Hajar al-Asqalani berkata di dlm kitabnya “al-Durar al-Kaaminah” (ketika menterjemahkan pribadi Ibn Taimiyah), m.s. 144, jld. berbunyi:

“para ulama’ telah menggelarkan Ibn Taimiyah dg tajsim berdasarkan apa yg telah beliau tulis di dlm kitabnya “al-Aqidah al-Wasithiyah, al-Hamawiyah” dan lain2nya. Sebagai contoh, beliau berpendapat bhw tangan, kaki, betis dan wajah adl sifat2 hakikat bagi Allah Ta’ala, Allah beristiwa’ ditas ‘arasy dg zat-Nya..”

Imam Ib Hajar menambah lagi:

“Dia dihukum dg munafiq kerana perkataannya (kritikan) terhadap Sayidina Ali..”

Katanya lagi:

“Ibn Taimiyah juga dihukum zindiq kerana berpendapat bhw tdk boleh beristhighathah (meminta pertolongan) daripada Nabi saw”

Di dlm kitab Fath al-Bari, m.s. 66, jld. 3 pula, beliau menegaskan:

“…Hasilnya, mereka telah berpegang dg pendapat Ibn Taimiyah ttg haramnya bermusafir utk menziarahi maqam Rasulullah saw dan kami mengingkarinya. Inilah seburuk2 masalah yg dinuqilkan daripada Ibn Taimiyah.”

(2) Imam al-Hafiz al-Zahabi berkata di dlm kitabnya Zaghl al-Ilmu, m.s. 23 (ulasan oleh Imam al-Kauthari, dicetak oleh percetakan al-Taufiq 1347H, Damsyik):

“Sesungguhnya aku telah melihat sesuatu yg telah menimpa Ibn Taimiyah. Beliau telah disingkir, dihukum sesat dan kafir serta tdk dipercayai antara kebenaran dg kebatilan. Sebelum beliau menceburi bidang ini (falsafah), beliau merupakan cahaya yg menerangi kehidupan, lebih2 lagi ttg al-Salafnya. Kemudian cahayanya itu menjadi gelap gulita..”

(3) Imam Taqiyuddin al-Husni (pengarang kitab Kifayah al-Akhyar) berkata di dlm kitabnya “Daf’u Syabah man Syabbaha wa Tamarrad”, m.s. 123, (cetakan Isa al-Baabi al-Halabi) berbunyi:

“Syeikh Zainuddin Ibn Rajab al-Hanbali adl salah seorang daripada ulama’ yg menghukum kafir Ibn Taimiyah. Dia mempunyai penolakan keatas Ibn Taimiyah. Dia juga pernah mengangkat suara dg keras mengkufurkan Ibn Taimiyah di dlm beberapa majlisnya. Disamping itu, Imam al-Subki juga mempunyai hujah utk mengkufurkannya..”

Pada halaman yg lain, beliau mengatakan:

“banyak masalah2 yg dilakukan oleh Ibn Taimiyah menyimpang daripada kebenaran.”

(4) Imam al-Subki berkata di dlm kitabnya “al-Durrar al-Madiyah fi Rad ‘ala Ibn Taimiyah: “kesemua perkataan beliau diatas tadi berkenaan dg masalah usul merupakan kekufuran yg amat jelas disamping byk lagi masalah cabang yg lain.” Lihat al-Taufiq al-Rabbani karangan Jama’ah ulama’, m.s. 31.

(5) Imam Ibn Hajar al-Haitami berkata di dlm kitabnya “al-Fatawa al-Hadithiyah” berbunyi:

“Ibn Taimiyah ialah seorg hamba yg dikecewa oleh Allah, disesatkan-Nya, dibodohkan-Nya, dibutakan-Nya dan dihina-Nya. Dg alasan inilah para ulama’ tampil utk menjelaskan betapa rosak keadaannya dan betapa dusta perkataannya. Sesiapa yg ingin mengetahui keadaan ini, maka hendaklah mengkaji perkataan Imam al-Mujtahid yg disepakati keimamamannya iaitu Abi Hasan al-Subki, anaknya al-Taj al-Subki, Syeikh al-Imam al-I’z Ibn Jama’ah dan para ulama’ lain yg sezaman dg mereka yg terdiri daripada al-Syafi’ieyah, al-Malikiyah dan al-Hanafiyah..”

(6) Imam Waliyuddin al-Iraqi berkata di dlm kitabnya “al-Ajubah al-Mardiyah an al-A’silah al-Makkiyah” [23] berbunyi:

“Syeikh Ibn Taimiyah sebagaimana yg diketahui, ilmunya mengatasi akalnya. Keadaan ini membawanya kpd ijtihad yg mencarikkan ijma’ dlm masalah yg banyak. Dikatakan mencapai 60 masalah.” “Dengan masalah tersebut, maka ramai orang memperkatakan ttg dirinya, mencela dan mengujinya. Para ulama’ yg sezaman dengannya pula segera tampil menolak pendapat Ibn Taimiyah menjelaskan kepincangannya dan membid’ahkannya.”

Beliau mati di dlm penjara kerana perbuatannya itu. Penyokong2 Ibn Taimiyah menganggap bhw beliau adl seorang daripada ulama’ yg mengatakan dg tegas bhw tdk ada kemudharatan sekiranya terdapat perselisihan pendapat di dlm masalah furu’ jika perkara itu terhasil daripada ijtihad. Tetapi org yg berselisih pendapat dg beliau mengatakan bhw beliau bukan sahaja berselisih pendapat di dlm masalah furu’, bahkan byk lagi masalah2 usul yg bertentangan dg pendapatnya. Tdk semua perkara furu’ boleh berselisih apabila telah disepakati oleh para ulama’.

(7) Imam al-Kattani pula di dlm kitab “Fahras al-Faharis”, m.s. 201-2, jld. 1, mengatakan:

“Seburuk2 dan sejahat2 apa yg dinuqilkan daripada Ibn Taimiyah ialah perkataannya terhadap hadith “turun Tuhan kita pd satu pertiga malam..” seperti turunnya aku ini.

( 8 ) Imam Ahmad Muhammad al-Siddiq al-Ghumari di dlm kitabnya “Ali al-Imam al-’Arifin” menjelaskan sedikit sebanyak kedangkalan pendapat Ibn Taimiyah terhadap Sayyidina Ali r.hu. Pada m.s. 55, beliau menegaskan dg katanya:

“Apa yg telah dijelaskan oleh Ibn Taimiyah terhadap Sayyidina Ali r.hu itu menunjukkan bhw beliau seorang ketua munafiq pd zamannya.” Hal ini terbukti mengikut apa yg dijelaskan oleh Baginda saw kpd Ali r.hu di dlm satu hadith sahih yg diriwayatkan oleh Imam Muslim, maksudnya:

“Tidak ada org yg menyintaimu melainkan dia seorang yg beriman. Tdak ada yg membencimu melainkan dia seorang yg munafiq.”

(9) Imam al-Kauthari di dlm kitab “Maqalat” m.s. 35 menyifatkan bhw Ibn Taimiyah adl seorang pengikut Ibn Malikan, ahli falsafah yahudi apabila beliau (Ibn Taimiyah) menisbahkan suara kpd Allah Swt dan pendapatnya yg mengatakan menjelmanya benda2 yg baharu pd zat Allah Swt. Pada m.s. 241 pula, beliau mengkritik tindakan Ibn Taimiyah yg menuqilkan hasil2 penulisan al-Mujassimah ke dlm kitabnya. Manakala pd m.s. 242 beliau mengemukakan beberapa contoh nuqilan Ibn Taimiyah yg menunjukkan kpd aqidah al-Tasybih.

(10) Syeikh Mansur ‘Awais pula menyifatkan pendapat Ibn Taimiyah ini lebih cenderung kpd tajsim. Sebagai contoh, di dlm kitabnya “Ibn Taimiyah Laisa Salafiyan” (Ibn Taimiyah bukanlah seorang Salafi, m.s. 216), beliau secara tegas mengemukakan satu bab yg khusus berbunyi

“Ibn Taimiyah menuju ke arah tajsim.”

Sebenarnya byk lagi pendapat ulama’ dan hukuman yg dikenakan keatas beliau. Tetapi, sudah memadai dg beberapa ucapan yg jelas daripada ulama’ yg mu’tabar. Penjelasan Sultan Qolaawoon, perbicaraannya dg ulama’ di mahkamah sehingga beliau dihukum penjara, fatwanya tentang talak, serta fatwa dpd fuqaha mazhab yg empat cukup utk membuktikan kpd kita ttg kontroversinya.

Sungguhpun Ibn Taimiyah salah seorang ulama’ ahl al-sunnah wa al-jama’ah, namun kredibiliti beliau sbg seorang tokoh dipertikai oleh para ulama’. Bahkan mereka mengenakan hukuman yg berat thdp beliau. Hukuman yg sebegini pula tdk akan berlaku sekiranya berkisar ttg perkara yg kecil atau masalah furu’iyyah (cabang). Apa yg nyata, tentunya Ibn Taimiyah melakukan satu kesilapan yg amat besar sehinga beliau menerima hukuman yg sedemikian.

Namun begitu, dlm beberapa penilaian, kita akan mendapati penyokong Ibn Taimiyah tetap berpegang teguh dan ta’sub kpd pendapatnya. Manakala penentang beliau akan terus menentang kerana kebatilannya yg menyalahi ijma’ dan pandangan ulama’ besar yg lain.

Natijahnya, perlulah bagi kita membuat pertimbangan yg wajar antara pro dan kontra terhadap pemikiran Ibn Taimiyah utk mencari jalan penyelesaiannya. Masih ramai lagi para ulama’ muslimin yg mu’tabar utk diijadikan qudwah atau ikutan. Pendapat Imam Mujtahid Mutlak dlm mazhab yg empat amat sesuai dipraktikkan. Begitu juga dg kredibiliti dan kreativiti syeikh2 mazhab itu sendiri. Tinggalkanlah pembawa masalah dan pencetus kesamaran kerana aqidah itu perlu dibina diatas dasar yg mantap. Hal ini penting supaya kekuatan dalaman kita dpt dicernakan bagi menyemarkkan kefahaman yg mampan dan semangat jihad dlm saf perjuangan Islam. Wallahu a’alam.

_____

[23] Kitab tulisan tangan ini masih terdapat di Maktabah Dzohiriyyah Damsyik, Syria.
sumber : abaizzat

ustadz artikelnya bagus sekali, tapi kalau bisa lebih sopan, karna biar bagaimanapun orang-orang wahhabi itu saudara kita, hanya saja keyakinan mereka ada sebagian yang berbeda, dan kalau memang keyakinan itu benar-benar salah maka kita punya tugas untuk membenarkan, dalam arti amar ma’ruf nahi mungkar, dan sebisa mungkin kita harus sopan biar apa-apa yang mau kita sampaikan gampang diterima oleh mereka. dan lagi saya meragukan kalau Ibnu Taimiyah itu menganggap Tafwid itu Bid’ah, karna yang saya baca justru beliau itu yang Tafwid sehingga beliau menganggap orang yang ta’wil itu keliru, karna gak mengikuti sahabat. Dan aku setuju kalau ta’wil itu juga benar, karna disebagian keterangan alasan ayat mutasyabihat itu dita’wil karna saddan li al-Dara’i’ tapi kalau ta’wil itu dikatakan mahdzabnya salaf saya gak setuju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Shalawat

Al Qur’an Online

Tawassul

Pengunjung

  • 610,933 Pembaca Setia

اهلا وسهلا بحضوركم

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kebenaran datangnya dari Alloh SWT, kesalahan datangnya dari kelemahan diri saya pribadi. Jika ingin copy-paste silakan. Mohon masukan dan tegur sapa serta do'akan semoga tetap istiqomah di jalanNYA. Amien

Terima kasih atas kunjungan Anda

Allah exists without a place!

Sahabat Ali Ibn Abi Thalib berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir." Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sahabat Ali Ibn Abi Thalib menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah SWT) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,018 other followers

July 2008
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Twitter

Follow me

Shalawat

  1. preview.mp3
  2. M%2BArifin%2BIlham%2B-%2BYa%2BNabi%2BSalam%2BAlaika.mp3



Asas

Page Rank

Online

tracker

My 4shared

%d bloggers like this: