Sekedar Catatan

Same same but different lah….

Posted on: December 16, 2008

Biar gue jauh di negeri orang tetep lah berusaha ikuti perkembangan  berita di tanah air lewat internet . Buat hal-hal serius gue baca kompas , pengen tau perkembangan wanita di indo , liat femina dan pengen liat berita-berita Seleb yang bikin ketawa karena lucu atau norak detikhot.com hihi…. Dari situ kecipratan juga cerita Malaysia selalu mengklaim banyak hal yang sebenarnya asliii ..hak milik kita . Berita tentang lagu “Ayo mama” yang dianggap asli mereka bahkan  berani bilang batik asli dari mereka . Rada kesel ada dong tapi…ya gak terlalu dipikirin…sampai kejadian minggu ini.

Hari senin gue wara- wiri di “Hugendubel ” ( Gramedianya jerman ) liat-liat buku yang mau dibeli bulan ini ( abis gajian ceritanya nihhh ….hehe…) pergi ke sudut paling gue gemari  buku masakan…liat-liat ehh  terbaca dengan jelasnya di suatu buku masakan asia kalau “otak-otak” itu  makanan asli dari Malaysia…hiks…. dan sebel tentunya…

Terus kemarin di Toko Asia, lagi ngantri dengan manisnya di depan kasir, ada dua  cowok , satu jerman dan satu lagi berwajah Asia ,mereka nyari-nyari bumbu gado-gado jadi. Berhubung gue baik dan sering ke tuh toko ,gue unjukin deh rak yang ada bumbu gado-gadonya ( ssttt… jangan nuduh aye pernah beli tuh bumbu…asli… bikin sendiri kalo pengen bikin gado-gado ). Abis terima kasih dengan senyum manis ( ehm… mungkin dia pikir nih cewek udah manis , baik pula …hihi…) mereka baris dibelakang gue, terus berkicau nanya apa gue orang malaysia ( enggak lah tong aye kan cakepan ) beritain kalo dia sering liburan ke Malaysia dan temen sebelahnya orang negeri jiran. Terus… ( ini yang bikin darah batak gue keluar ) dia paling seneng makan makanan Malaysia, terutama GADO-GADO duhhhh …..

Mata gue kedip-kedip , hidung pesek gue tambah gue krenyitin… dan meluncur lah rasa ” Indonesia tanah air beta tetap kupuja sampai menutup mata ” Wie bitte…. mulailah kita bersilat lidah…dan temennya yang nge iya in gado gado makanan Malaysia..sambil senyam -senyum kayak kurcaci abis dicium Cinderella .. Liat reaksi gue  dan jawaban gue ” Niemals…” tuh awak jiran bilang ” jangan problem la… Indonesie, Malaysie…ape bede… same-same ( bacanya kayak lagi cas cis cus inggris ) lah kite…..
Untung aja pas  gue giliran bayar , ke orang jerman gue suruh liat  Google , ke si item keling sebelahnya gue bilang ” same same but different lah…datuk… indonesie better ….. hihi….

Salam dari München yang dingin,

Neta
yang selalu ngulek sendiri bumbu gado-gado

71 Responses to "Same same but different lah…."

Duh si butet Neta….. I proud about who you are. Saat orang mulai luntur cinta tanah airnya, surut rasa kebanggan terhadap bangsa ini, tapi dari cerita bumbu gado2 pun, masih ada cerita anak bangsa yang bangga terhadap negeri leluhurnya.

Mudah2an jadi contoh bagi masyarakat indonesia di manapun berada, dimana langit kita junjung dan bumi kita pijak, tetap negeri kita harus kita bela, kita majukan, kita bangun, biar tercapai masyarakat sejahtera , yang bermartabat dan tercapai masyarakat yang madani.

Perlu waktu untuk memperbaiki negeri kita, tapi harus kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dulu.

Banyak yg harus diperbaiki, mencakup sistem ketatatanegaraan dan birokrasi, dan reinforcement tatanan bermasyarakat di bumi indonesia.

Di banding negara serumpun aja kita sudah mulai tertinggal apalagi dibanding dengan Eropa dan Amerika,

Seyogyanya yang tua2 dan berpikiran jadul mulai saatnya minggir dari panggung pemerintahan ,

Negeri ini harus di suplay chain management, saatnya yang muda2 harus mulai tampil untuk me manage negeri ini .

Banyak generasi muda yang layak dan pantas untuk mengelola negeri ini. Banyak diantara mereka yang mempunyai wawasan kenegaraan yang memadai, silahkan tampil untuk memimpin bangsa ini dengan elegant.

Ember niy, apa sih yang gak diakuin dan gak di caplok malaysia ? Jangan2 lagu Indonesia Raya juga akan di akui juga hehehe. Tadi malem gw juga liat iklan pariwisatanya malaysia di CNN. Bagus banget “jualannya”. Asli gw iri banget, ngeliat iklan mereka. Dari iklan tsb, bahkan baru tau gw, klo ternyata malaysia juga punya wayang kulit, padahal budaya wayang kulit di indonesia sangat beragam dan koleksinya paling lengkap di dunia . Sayang banget pemerintah Indonesia kurang aktif, memperkenalkan indonesia ke dunia luar, faktanya Indonesia lebih kaya ragam budayanya dan lebih indah alamnya di banding negara tetangga. Nah yang ada Indonesia, jadi lebih dikenal karena bencana alamnya, demo dimana2, kerusuhan,bahkan karena korupsinya yang merajalela. Sayang banget kan , klo didiamkan trus sperti ini, lama2 gak ada lagi yang bisa dibanggakan dari negara tercinta ini dan mungkin juga kelak penerus bangsa ini gak punya jati diri lagi, krena kekayaan budaya n alamnya perlahan terkikis diakui negara2 lain. Habis gimana, batik , krajinan perak, lagu2 n tarian daerah bahkan seperti kata neta makanan indonesia juga diaku mereka.

hidup budiiiiiiiiiiiiiiiiii, kl seandainya semua ato sebagian besar org indo berpikiran spt budi, maka indo itu akan selamat dari keterbelakangan. gue pribadi merasa melawan arus di indo dan diantara masyarakat indo, makanya gue menyingkir jauh2….

saluut buat neta,tetap pertahankan rasa kebangsaanmu ya.serumpum sih serumpun tapi gw bt bgt kalo orang malaysia nyebut gw indon.

buat budi,ck ck ck,nggak nyangka gw,loe bisa wise gitu.
coba loe jadi caleg bud

SELAMATKAN NEGERIKU

Luar biasa kehancuran negeri kita, negeri yang dibangun dengan tertatih2 leh orang tua2 kita.

Baru berdirinya Republik yang kita cintai tertatih2 dan sulit untuk menyatukan persepsi, yang akhirnya timbul pemberontakan2 sepanjang 1945 hingga yang terakhir ujung sebalah baratpun menginginkan memisahkan diri dari pangkuan ibu pertiwi.

Mudah2 an tidak ada lagi pemberontakan. Dan mudah2an tidak akan terjadi disintegrasi.

Bentuk negara dan sistem ketatanegaraan yang ada amburadul implementasinya.

Sistem demokrasi yang kita pake juga tidak pada tempatnya, sistem ekonomi juga berantakan, Apakah kta sedang mencari sistem yang sebenarnya……

Banyak politikus dan negarawan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk negeri ini. Yang ada rebutan posisi. Belum ada yang benar2 memikirkan kelanjutan berbangsa dan bernegara untuk rakyat Indonesia.

Beliau2 tidak terpikirkan mungkin, bahwasanya negeri ini dibentuk dengan pilar2 yang tidak ditemukan dinegeri manapun dimuka bumi ini. Yaitu perbedaan yang amat banyak.

Beratus2 etnis baik yang asli maupun pendatang, beratus2 bahasa daerah, dan beribu2 pulau dibentuk satu negara. Republik Indonesia.

Dengan kesepakatan bersama untuk negara dan berbangsa, Republik Indonesia.

Sumber alam yang melimpah yang ada di bumi Indonesia tidak dikelola secara proporsional hingga tidak bisa untuk memakmuran rakyat, jangankan untuk memakmurkan rakyat, hanya untuk mencukupi kebutuhan rakyat saja masih jauh arang dari panggang.

Gas melimpah tapi kita kekurangan gas, walau hanya untuk memasak air putih, apalagi untuk kebutuhan energi yang lainnya. Steam Coal( batu bara) melimpah ruah, tapi mash ada daerah yang belum menikmati indahnya sinar listrik.

Semua di tambang secara semena2, kedepan yang akan kita nikmati adalah kerusakan alam, anak cucu kta yang akan menangung dampaknya.

Hutan melimpah kayunya, tapi aneh, kita juga tidak memaksimalkan manfaatnya. Beribu2 kubik mungkin telah jutaan kubik kayu dijual dengan cara yang tidak wajar.

Mungkin ada yang salah dengan negeri ini, apakah rakyatnya, atau cara mengelolanya atau orang2 tertentu yang tidak pada tempatnya memanfaatka situasi demi kepenting tertentu juga.

Sudah saatnya kita perangi kebodohan dan kemiskinan, supaya kita sederajat dan tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain di dunia, kita harus tunjukan bahwa kita juga punya kemampuan dan keunggulan,

Kita punya sumber alam yang melimpah, kita punya sumber daya manusia yang memadai, juga punya pangsa pasar yang besar untuk industri kita sendiri,

Kita punya modal yang luar biasa untuk existensi negeri ini, dibanding beberapa negara lain kita tetap punya modal yang tidak tertandingi,

Sudah saatnya kita semua menata kembali negara kita yang tercinta ini.

Sektor pertanian, perikanan,pertambangan, industri , pertahanan dll sudah saatnya kita benahi dari sekarang.

seratus persen gue setuju budi…. tadinya gue pikir cuma sendirian berpikir begitu budi, syukur………. ternyata masih ada yg berpikir sama dan membuka mata apa sebenarnya masalah di indo. semoga para politikus juga ada niat memperbaiki dan menyelamatkan indo sebelum makin terperosok di lembah keterbelakangan dan korupsi, bukan hanya serakah dan menyelamatkan posisi dan diri masing2. karena merasa sendirian dan gak akan digubris di indo akhirnya gue menyinkirkan diri dan merasa damai tinggal di jerman, krn memang pola mereka sesuai dg prinsip gue, jadi bukan krn gak cinta tanah air atau kacang lupa kulitnya dsb, tapi krn gue justru terlalu cinta ke tanah air yang akhirnya membuat rasa anti pati segala sistim politik di indo.

semoga yang membaca tulisan elo juga akan membuka mata betapa indo itu sudah sangat jauh terperosok dan mau menyelamatkan negeri mereka. amien…..

To : Neta, Dian Savitri,Sri Astutie, Mayati Maria….

Membaca Komentar kalian di room ini dan tanggapan Neta serta Tutie di room ku, mengingatkan aku kejadian 1998.

Berikut aku tulis cuplikan dari buku harianku yang aku tulis dini hari tanggal 01 Januari 1999………

….366 hari telah aku lewati dan aku jalani, seolah aku menjalaninya tidak terasa, Seperti jalan di atas angin. Walau masih ada setitik arah dan tujuan.

Tidak ada yang membekas perjalanan tahun 1998, hanya sedikit ganjalan saat aku menyaksikan bangsa Indonesia larut dalam kesulitan yang sangat parah dan berakibat kerusuhan, penjarahan,demonstrasi,hingga pembunuhan anak-anak bangsa yang tidak berdosa.

Berkali-kali setiap menyaksikan di TV maupun menyaksikan langsung kejadian-kejadian di tahun 1998 aku meneteskan air mata.

Pilu rasa hati menyaksikan Indonesia di ambang kehancuran untuk berbangsa dan bernegara.
Menyaksikan antrian sembako di pertengahan 1998 sudah cukup menyayat hati, tapi akhirnya meluluhkan semua perasaanku saat menyaksikan kerusuhan di bulan Mei dan berlanjut dengan kekerasan hingga akhir November.

Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, fenomena apa sebenarnya yang sedang terjadi di negeri tercinta ini.

Apakah kejadian-kejadian ini karena perilaku bangsa Indonesia yang telah lupa terhadap jati dirinya, ataukah Tuhan sedang meng azab anak cucu Adam di bumi Indonesia?

Aku selalu berdoa kepada Tuhan, kalau Engkau berkenan dan kami diberi kesempatan, kirimlah utusanMu untuk menyadarkan bangsa ini agar kembali ke jalan yang lurus.
Agar kami anak cucu Adam yang di Indonesia bisa menegakkan hukumMu.

Kalau kejadian-kejadian di tahun 1998 itu suatu keharusan yang harus kami alami(keharusan historis) aku hanya berharap semoga ini bukan suatu awal dari akhir kehidupan bangsa kami.
Karena yang kami alami adalah bukan kehidupan, tapi suatu kegilaan.

Karena aku masih selalu membaca firmanMu………..

Net…

Dua jempol untuk elo…!!!!

Gw stuju kali ini ma elo pe , hihihihi
Artikelnya ringan, simple, apa adanya tapi tetep punya bobot. Lha, gw kayak komentator sepakbola aza niy.

@ dee

hahaha..

gak papa..yang penting komennya nongol…

Tahun lalu saat rame rame berita tentang anggauta DPR akan dapet jatah Laptot, aku pernah dipermalukan oleh siapa, aku juga ga tahu, tapi juga menggelikan.

Waktu itu aku kedatangan tamu 3 orang pengusaha garment dari NY dan CA ketiganya Yahudi, dan partner di Indonesia , temenku orang chinese. Saat kami lagi duduk2 santai sambil ngopi, temenku nyuruh aku baca salah satu rubrik di koran kompas. Nah ke 3 orang tamuku nanya ada apa ko serius budi suruh baca koran. Setelah aku baca aku geleng2 kepala, sialnya temenku yang chinese menerangkan ke orang yahudi.

Di koran yang aku baca,Wartawan kompas tanya ke anggauta DPR, apakah bapak biasa menggunakan EMAIL.

Dengan gaya birokratis penuh percaya diri dan wibawa, anggauta DPR tersebt menjawab bahwa dia lebih suka produk dalam negeri.

Nah yang satunya juga menjawab dengan wibawa juga bahwa dulu pernah pakai email tapi skarang sudah dijual. Coba kalau aku bisa bikin icon kesukaan Sondang mata kedip2 dan tengok kanan kiri.Pasti aku tampilin icon tersebut berkali2.

Ke tiga orang Yahudi waktu diterangkan bahwa yang menjawab spt itu anggauta DPR, mereka bilang serentak “unbelieveable” sambil geleng2 kepala, terus salah seorang dari mereka bilang kasihan Negara besar ada wakil rakyatnya di DPR very stupid. Mereka bilang kalau di Israel atau di USA akan diekspose besar2an cerita semacam tsb.

Waktu itu aku malu banget dibilang wakil rakyat kita stupid, tapi bagaiman orang ga akan komentar seperti itu, dilihat dari jawabannya wakil rakyat kita waktu ditanya oleh wartawan, memang wajar dan pantas orang akan berkomentar seperti itu.

Aku juga heran tapi geli, bagaimana seorang wakil rakyat yang harusnya mempersiapkan visi dan misi bangsa, mempersiapka perundang2an dan kebijakan2 lainnya untuk yang di implementasikan dalam menjalankan roda pemerintah oleh eksekutive, mempunyai keterbelakangan wawasan dan informasi.

Saya jadi punya pertanyaan ke Sri Astutie, harus darimana kita bangsa Indonesia akan memerangi kebodohan agar bangsa ini tidak terbelakang? Apakah harus dari lapisan masyarakat yang paling bawah atau dari mana?

( Thank’ to my friends Elan Eiger, Syam Levi, Brad Scott, and Rudy Subrata)

teman-teman yang baik….
kadang bikin kita pusing harus melihat,mendengar apa yang ada di indo.Tolong deh…gak perlu cuap-cuap lama…gak perlu mengeluh lama…gak perlu bersedih lama. Ambil tindakan…meskipun hanya langkah kecil…tapi kadang -kadang dari ribuan batu-batu kecil dapat berdiri suatu bangunan yang kokoh. Tak perlu cuap-cuap , mengumpat dan berjanji untuk sesuatu yang besar… cukup dengan awal memberi senyum dengan sekitar, berusaha tindak angkuh dihadapan yang tidak memiliki, menjaga silahturahmi antara kita tampa memandang ” ich bin besser als die andere ” dan berterima kasih atas apapun dan sekecil apapun karunia yang kita dapat dalam menjalani hari-hari kita….es ist doch schön oder…..

neta,
justru sebaliknya, kita harus melihat lingkungan kita, kl gak bisa kuper, buta dan gak tau situasi yg sebenarnya. sikap cuek dan tak mau peduli inilah yg dimiliki masyarakat indo, cuma bisa cekikikan tapi mengaku mencintai indo. apaan tuh? jadi tolong biarkan juga kita diskusi. coba buktikan kl indo itu negara demokrasi semua bisa mengeluarkan pendapatnya, jangan dilarang2. kl seandainya saad yg punya rumah gak setuju, silakan menghapus tulisan ini.

budi,
apa maksud pertanyaan elo budi? serius atau sindiran?

Sebetulnya pertanyaanku ditujukan ke semua pihak yang peduli dg negeri kita yang tercinta.

Mungkin yang dimaksud Neta ada benarnya juga , kita sumbangkan sesuai dengan kemampuan kita dalam bentuk karya nyata.

Atau dengan sumbangan pikiran dan ide2.Nah kita berdiskusi juga bagian dari sumbangsih pikiran dan ide2 kita untuk negeri kita tercinta.

Mudah2an ide2 atau gagasan yang kita diskusikan di forum ini, menambah wawasan kita, Mungkin suatu saat dengan karya nyata yang besar, tapi andaikan orang lain yang melaksanakan juga bagus, yang penting demi kemajuan Indonesia.

Dan kita akan bersyukur, walau kecil sumbangsih kita tapi suatu saat mudah2an ide kita bermanfaat bagi kemajuan bangsa indonesia.

Kalau sedang punya waktu teruskan diskusi kita,Neta dan Tutie, banyak yang membaca dan komentar ko, bukan hanya dilingkungan Alumni bhs Jerman aja ko yang membaca .

Mereka apreciate banget ke kalian…..bahkan ada yang berdecak kagum ke Neta dan Tutie.

P.S. bener budi, jadi tema dan topik kita bukan hanya ttg makanan, dapur, anak dan pasangan hidup. tapi silakan buka wawasan lebih dari itu. toh, blog ini dibuat oleh saad untuk berdiskusi bukan hanya untuk cekikikan. bener gak saad?

pertanyaan elo akan gue jawab besok budi.

Betul Tie, memang tag-nya sekedar catatan, namun terbuka untuk didiskusikan dan diambil faedahnya.

Tulisan dari ustadz Yusuf Mansyur tentang ‘tidakberharganyanegeriini’ cukup membuka mata kita. silakan baca aritkel yang ini : https://jerman90.wordpress.com/2008/12/20/apakah-bangsaku-tidak-lagi-diperhitungkan/

Danke

makasih saad, tulisan ustadz yusuf mansyur akan gue simak bener2. jadi lebih banyak topik lain lagi yg menarik dibahas disini selain soal makan, dapur, anak dan suami. ada saatnya untuk bercekikikan dan ada saatnya untuk berbicara serius apalagi ttg negara kita bukan hanya gak mo pusing ttg negara kita tapi bisa berteriak cinta indo. menurut gue gak ada gunanya. kl ada yg gak nyambung mendingan diam spt kuburan.

he he he…

Jaka sembung naik ojek dong Tie.😆

Ada zitat dari J.F Kennedy swaktu bliau berkunjung ke Berlin yang intinya ,”Frage nicht was dein Land für dich tun kannst, sondern was du für dein Land tun kannst. Nah, makna inilah yang tersirat dari tulisan Neta diatas selain “nur reden, keine Aktion”. Nah lagi, gw mulai bertanya pada diri sendiri dulu dong. “Apa siy, yang udah gw perbuat untuk kejayaan negeri ini?”. Terus terang rasa nasionalisme gw terhadap negeri ini smakin menguat, stelah gw lama terdampar di negara orang. Gw ini bukan siapa2 dan gak ada yang istimewa banget dari gw, tapi gw ingin mempersembahkan yang terbaik bwat negara Ina, walaupun nilai dan artinya gak besar2 banget, tapi ini karena gw perduli dengan nasib bangsa ini, gw gak mau negeri ini tambah terpuruk, gw gak mau borok bangsa ini makin melebar sampe mungkin nantinya luka bangsa ini sama sekali gak bisa tersembuhkan.

Sambil ngemil rengginang dari Neta yang baik hati n tidak sombong(hihihi), gw bertanya lagi, apa siy wujud kecintaan gw terhadap tanah air , taelah …!!! Akhirnya ktemu, gak banyak .., cuma sikit .., tapi adalah ..!

Gue gak pernah malu menunjukan jati diri gw sebagai bagian dari bangsa ini. Bila memungkinkan, gw berusaha mengenakan pakaian bermotifkan batik di beberapa kesempatan, tentu aza gw gak pake kebaya or kain panjang lah, maklum slera gw blum sampe sgitu hihihi.
Ke beberapa teman, gw sengaja menghadiahkan mereka tanda mata dari indonesia, sperti batik, pajangan dari ukiran kayu, perhiasan dari perak dsb, gak perlu yang mahal, tapi yang penting niatnya, ya nggak ?? Tentu aza mereka smangat banget nerimanya, nah saat itu juga gw langsung dekh “promosi” tentang Ina, yang intinya Ina itu gak seburuak yang mereka kira dan lihat.
Gw sngaja juga membuat atau bisa dibilang memindahkan swasana Indonesia ke rumah, slain untuk mengobati Heimweh ,juga untuk membuat rumah yang lain dari yang lain. Barang2 perabot gw sbagian besar berbau Asia tepatnya Ina. Untung laki gw manut2 aza, klo deko2 ala “made in Germany” harus migrasi ke Duren Sawit jalan Pendidikan hihihi.

Walopun gak jago2 amat, gw lagi giat2nya mengajarkan 1 wanita asal Liechtenstein beserta anaknya bahasa Ina, tanpa memungut bayaran (eits ntar dulu akhirnya stelah dipaksa gw mau menerima tanda jasa dari mereka berupa Portait gambar Jasmine hasil karya mereka sndiri) krn gw takjub dengan ketertarikan dan keseriusan mereka belajar bahasa Ina.
Toh itung2 jasmine bisa skalian mengasah kemampuan berbahasa Inanya baik lisan maupun tulisan.

Dari sedikit simpenan yang gw punya disini, gw juga coba sisihkan dana untuk membiayai 1 anak asuh gw di Jakarta. Niat gw mah blum sampe untuk mencerdaskan bangsa, tapi paling gak untuk mencerdaskan anak gw sendiri dan anak tetangga lah. Tapi ini belum seberapa, dibanding dengan apa yang sobat baik gw Ninin, teman seangkatan gw lakukan. Stahu gw bliau mendirikan TK Sosial , dimana hampir seluruh siswanya berasal dari kaum Dhuafa yang bermukim di skitar perumahan tempat Ninin tinggal. Sluruh bea pendidikan slama bersekolah disana ditanggung oleh yayasan yang diketuai oleh Ibu Ninin sendiri. Bravo Nin ….!!!

Sudah 2 x gw ikut aktif dalam penggalangan dana kemanusiaan untuk Ina. Yang pertama tuk korban musibah Tsunami di Aceh, dimana terkumpul dana skitar 500 Sfr dari tetanga2 gw skitar. Kemudian usaha yang cukup heboh, waktu kami mengadakan Spendenaktion für Jokjakarta bzw. Bantul yang terkena dampak paling parah dari gempa bumi beberapa tahun yang lalu. Warga Ina yang bermukim di Liechtenstein sangat minim, hanya 3 orang termasuk gw. Kami bahu membahu berjualan bakwan sayur dan lumpia di pusat kota Vaduz yang pada saat itu suhu udara lumayan dinginnya. Dari hasil berjualan gorengan tersebut, kami bisa kumpulkan dana skitar 800 Sfr. Pada saat yang bersamaan di Landes Museum Vaduz, beberapa seniman terkenal dari Liechtenstein melelang hasil karya mereka yang hasilnya disumbangkan seluruhnya untuk korban gempa di Yog. Terkumpul dana dari hasil lelang tersebut sebesar 12.000 Sfr. Perlu diketahui mereka ini sbelumnya hanya pernah bermukim di Yog slama 3 mingguan berkaitan dengan proyek work shop mereka dgn suatu kampus seni rupa di Yog. Bayangkan, tanpa diskusi berkepanjangan, tanpa ribut2 mereka menggelontorkan ide smacam ini. Bahkan dengan setianya mereka juga membantu kami mengolah dan berjualan gorengan, bahkan sampe beberes sgala prabotan tetek bengek bekas masak. Makanya gw sempet terharu banget waktu itu.

Jujur, gak ada niat untuk narsis, tuk menyombongkan diri, karena apa yang gw lakuin ini, gak berarti banyak dibanding misalnya dengan apa yang kakak kelas gw , mbak Dyah Narang or Andi si preman Konstaz torehkan. Angkat topi stingi-tinginya bwat mereka berdua. Ini hanya skedar sharing, sapa tau dari tulisan teman2 yang lain nanti, gw or teman2 yang lain jadi punya banyak masukan untuk berbuat demi kemajuan bangsa ini.

MORAL dari tulisan diatas : Ternyata pegel juga nulis panjang2 …

ps : hebat artikelnya si neta, bisa bikin gw nulis lama gini , hihihihi

Salut unt semua yg punya semangat dan berbuat untuk orang lain.

Jadi inget kata bijak 3M Aa Gym :
1. Mulai dari yg kecil-kecil
2. Mulai dari diri sendiri
3. Mulai dari sekarang

Jadi inget juga kata mutiara imam Hasan al Banna : Al Wajibaat aktsaru minal awqoot [menunaikan kewajiban lebih byk dari waktu yg tersedia]. Intinya berlomba2 berbuat kebajikan.

Yuuukk…

salut juga dr gue buat dian. tapi yg gue maksud tuh biarkan kita diskusi, tanpa dilarang2 dan dituduh seenaknya hanya bercuap, bersedih dan mengumpat lama tanpa melakukan apapun, toh yg kita kerjakan untuk negara gak perlu harus ditulis semua disini. jadi gak perlu mengurui deh, gue tau apa yg gue tulis, bukan asal cuap aja.

Mari kita berusaha untuk bisa lebih memahami yang lain seperti kita ingin dipahami yang lain. Dunia akan lebih indah.

Smile for all my best friend, whoever you are.
🙂😛

To: Neta, Tutie ,Dian , Kyai Saad, dan semua pembaca….

Awalnya saya terperanjat membaca tulisan Neta ” same-same but different”, Yang akhirnya membuka pikiran kita semua tentang Indonesia.Dalam bentuk rasa keprihatinan kita ke pada negeri yang kita cintai.

Tidak ada kepentingan apapun bagi kita semua, tapi kita berpikir bahwa sudah saatnya kita untuk ikut memikirkan kehidupan berbangsa dan bernegara, walau awalnya dalam bentuk diskusi di forum ini.

Walau tidak disadari namun sebenarnya banyak yang telah diperbuat oleh teman2.

Dari usaha menerangkan produk Indonesia, usaha melestarikan satwa,membantu korban bencana , dll yang semuanya adalah ujud nyata rasa cinta terhadap negara dan bangsa Indonesia.

Memang butuh effort dan inovasi besar dan waktu yang tidak singkat untuk memajukan Indonesia.

Merubah paradigma,dan pola berpikir dan berperilaku masyarakat Indnesia, merupakan pekerjaan yang tidak mudah, tapi mau tidak mau kita semua bangsa Indonesia harus melakukannya, supaya tidak tertinggal dengan bangsa2 lain di dunia. Kita harus memulainya dari sekarang.

Dan itu semua bukan hanya tanggung jawab politisi, pemerintah , penegak hukum , dll. Tapi tanggung jawab kita semua sebagai anak bangsa.

Dulu Malaysia belajar ke kita, Petronas belajar ke Pertamina, dan penasehat ekonominya adalah Alm. Prof. Sumitro Joyohadikusumo. Tapi kita saksikan semua bgmn Malaysia sekarang. Begitu pula Vietnam yang nota bene baru merdeka 1979, kita nyaris tertinggal.

Benar kata Sri Astutie komen di Room ku ( Kalau bisa di copy paste ke room ini Kyai) tentang pendidikan dll.

Sudah saatnya tidak ada lagi warga Indonesia yang diperbudak dan dilecehkan di negeri orang (baca TKW) andaikan hidup dinegeri sendiri sudah sejahtera.

Sangat memalukan dan menyinggung perasaan kita semua sebagai bangsa yang besar. Banyak faktor yang mempengaruhi, kesulitan ekonomi, pendidikan rendah dan tidak ahli, yang menyebabkan, juga dipengaruhi sistem pendidikan yang tidak memadai serta tidak ada solusi yang tepat supaya seluruh masyarakat mendapatkan pendidikan yang layak dan wajar.

Maka suatu saat akan banyak warga Indonesia yang bekerja diluar negeri sebagai expatriat, tidak lagi menjadi pembantu atau sejenisnya.

Saya kagum terhadap seorang gadis dari Medan, yang tekun dan ikhlas keluar masuk pedalaman Jambi, mendidik anak2 suku terasing( Suku anak dalam).

Tanpa mengharapakan imbalan apapun dari negara, yang ada dibenaknya hanya ingin anak2 suku dalam bisa membaca dan menulis. Saat beliau ditawari untuk jadi PNS pun oleh President gantian dia balik tanya PNS itu apa? Dan beliau menolak untuk jadi PNS

Mungkin sistem pendidikan perlu di perbaharui,salah satu faktor adalah biaya pendidikan yang mahal dan tidak terjangkau semua lapisan masyarakat.

Dari SD hingga SMA buku sangat mahal , dan tahun berikutnya tidak bisa dipakai lagi, kenapa tidak pake buku cetak dan sebagai inventaris sekolah seperti waktu lalu, dan harus ada renewal umpamanya setiap 5 tahun .Karena akan menekan education cost yang cukup besar bagi siswa dan orang tua.

Semua Universitas harus dijadikan sebagai pusat penelitin dan pengembangan semua ilmu dan tehnologi. Saat ini mungkin hanya ITB dan IPB yang concern thd penelitian2.

Seperti kata Tutie, masalah sampah aja kita tidak mampu menangani, Awalnya juga dari kebiasaan masyarakat yang tidak perduli lingkungan. Juga kurang pengetahuan tentang cara penanganan sampah, serta kurang perduli terhadapa dampaknya sampah .
Padahal sampah kalau ditangani secara benar, akan banyak manfaatnya, jug banyak dampaknya. seperti Lingkungan yang bersih, indah sehat dll. juga bisa dimanfaatkan untuk energi , juga bisa di daur ulang.
Bukan bau busuk yang menyengat, kotor dan banjir seperti yang terjadi sekarang.

Di Indonesia hanya masyarakat Bali yang saat ini peduli terhadap sampah ( sebatas memisahkan sampah organik dan unorganik), mereka sadar bahwa industri pariwisata harus di bangun dari segala aspek,seperti keindahan dan kesehatan.

Berlanjut……..

trimakasih banyak atas komentnya budi,

akhirnya gue merasa perlu juga untuk buka mulut soal sumbangan ke indo yg tadinya gue berprinsip gak perlu ngoceh soal ini, tp krn gak mau dianggap cuma “reden ohne aktion” akhirnya gue tulis juga). waktu terjadi tsunami, gue dan kollega2 mngumpulkan uang dan pakaian bekas di kantor. gue extra keliling dan cerita sedikit ke mereka krn gue satu2nya pegawai disana yg org indo. begitu juga pernah banting tulang untuk memasak makanan indo untuk dijual di acara malam indo dsb yg hasilnya disumbangkan ke indo. tapi, berapapun dana yg terkumpul dan dikirim ke indo tak akan merubah mental dan pola pikir orang indo. dan akhirnya gue sadari dan berhenti berbuat kegiatan ini krn; ada pepatah atau omongan org bijak yg kira2 begini; kalau mau menolong berikan pancingnya bukan ikannya. dg arti kata, walaupun kita bisa sumbang 1 juta euro ke indo, tapi gak akan merubah nasib mereka. karena hanya merekalah yg bisa merubah nasib mereka sendiri, bukan sumbangan dlm bentuk uang. atau bisa dan mungkin sumbangan dlm bentuk uang harus mereka olah sedemikian rupa untuk modal merubah nasib, spt yg dilakukan (siapa namanya gue lupa) di bangladesh atau di india? gue lupa juga. tapi setahu gue, belum ada org indo yg bisa untuk itu.

trus, dimana dunia sibuk memikikan kelestarian alam dan mengurangi polusi udara, ehhh pemerintah indo malah mumusnahkan becak yg merengut banyak tempat pencaharian rakyat indo, dg alasan tidak berperikemanusiaan. omong kosong! betapa bodohnya. sedang bajaj2 yg dijadikan pengganti becak hanya mengakibatkan polusi udara lebih parah. mereka gak tahu kalo co2 yg diproduksi si bajaj itu ikut menambah naiknya suhu bumi, yg spt dah gue tulis mempercepat proses melelehnya es dikutup utara dan selatan. permukaan air laut naik pesat dlm bbrp tahun terakhir ini, kira 3-4 cm per tahun. kalau begini terus, jakarta akan tenggelam dlm waktu 30 tahun. sedangkan di jerman (münchen) gue liat banyak becak2 dari indo yg digenjot oleh mahasiswa2 untuk turis di musim panas. tidak ada yg protes bahwa itu tidak berperikemanusiaan. nah, apa tidak pernah terpikirkan hal spt ini?

Ketika banyak orang Indo yang umumnya cuek dengan peraturan, ke luar negeri [ke S’pore misalnya], perilakunya kok bisa tiba2 berubah. Tidak buang sampah sembarangan, tidak merokok seenak udelnya, mau ngantri, tidak nyebrang di luar jalur. Loh kok bisa? Tapi ketika kembali ke ‘Tanah Air’ [yang sudah banyak dijual penguasa] perilaku positif tadi kembali menjadi kebiasaan semula. Jorok, tidak peduli, egois dlsb. Sepertinya orang2 semacam ini punya ‘swicth on-off’ yang bisa distel sesuai sikon.

Ini banyak dipengaruhi mental dan aturan yang kuat. Bukan berarti semua orang Singapura punya mental yang ekselent sementara orang kita bermental bejat semua. Tapi harus kita akui, jumlah orang yang bermental baik di sini masih minoritas. Harus juga diakui tetap ada orang baik dan bersih di negeri yang katanya Jambrut Katulistiwa ini.

Potensi orang berbuat curang, korup, merusak dlsb adalah sama. Sama seperti potensi berbuat adil, baik, peduli dlsb. Karena sikap baik dan buruk telah diilhamkan pada setiap diri, tinggal manusia itu yang memilih. Life is choice.

Untuk mengatur ‘Potensi Baik dan Buruk’ itulah perlu aturan yang kuat…..

Silakan om Budi, Dian, Neta, Utie dll meneruskan diskusi yang menarik ini. No hurt feeling…

I like this thema

benar kata saad, gak semua org indo bermental jelek, hanya yg bermental baik terlalu sedikit (termasuk gue, he..he..). sebagian dr mereka krn tidak tahan melihat kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan dan merasa melawan arus akhirnya melarikan diri ke negeri yg mereka anggap sesuai dg prinsip mereka. gue akui, tindakan ini salah, tapi gimana gak dilakukan, berbicara dan mengeluarkan pendapat aja di indo bisa ditangkap dan masuk penjara. ogahh masuk penjara.

tambahan untuk koment gue di kapling budi ttg sistim pendidikan dan kurukulum.

di jerman, anak umur 19 thn adalah tenaga kerja siap pakai dibidang mereka masing2. ada juga yg melanjutkan ke perguruan tinggi, tapi pd dasarnya dg umur 19 thn mereka sudah selesai sekolah dan berufschule atau ausbildung. sedang di indo bisa apa anak umur 19 tahun? begitu juga dg lulusan perguruan tinggi. banyak yg jadi penggangur atau bekerja yg tidak sesuai atau selayak pendidikan mereka (tentu ada pengecualian, ini hanya pada umumnya). kenapa? salah satunya, krn semasa kuliah terlalu banyak dibebani mata kuliah yg tak berguna.

waktu gue ke jerman thn 1996 dg menenteng ijazah ikip yg gue peroleh dg susah payah dan banyak mengorbankan harga diri, dg entengnya si personalabteilung tempat gue skr bekerja bilang, “schön, daß Sie studieren haben, aber wir können Sie nicht bezahlen.” artinya, walaupun gue lulusan perguruan tinggi tapi mereka tidak mau membayar gue sesuai ijazah yg gue punya dan memberi tugas yg gampang dan rendah yaitu jadi tukang ketik dan foto kopi. krn gak mau jadi tukang ketik selama hidup akhirnya gue putuskan untuk kerja keras, sekolah sambil bekerja. alhamdullillhah, hasilnya boleh dibilang sukses. dr tahun ke tahun gue diberi kepercayaan dan tanggung jawab yg lebih berat dan baik (tidak gampang sbg orang asing untuk merebut kepercayaan orang jerman, apalagi orang bayern).

mir macht auch Spaß über dieses Thema zu sprechen

p.s. inti atau moral dr tulisan ini adalah semua org bisa merubah nasib kl mau dan siap kerja keras.

Waaahhhhh pulang shopping ngelonjor kaki di sofa dan buka ” sekedar catatan ” …busyeet… jadi heboh oiwww… ini baru tema gado-gado ya… apalagi gue bikin tema ” nasi kuning lengkap ” hahah….
ya wish …gak ada tuh tersirat ngelarang diskusi . Gue lagi capek aja abis teleponan ama proyek “nias” gue di indo dan baca tulisan mas Budi yang panjangggg banget.
Menurut gue asik lah bisa berdikusi tampa ada rasa sakit hati ( saad..tulisanmu itu loh…indah sekali… dafür liebe ich dich hihi….)
Buat gue jujur aja udah buat senyum aja dan bawaannya capek saling kuat-kuatan ngomong. Keadaan dah morat-marit banget, ibaratnya borok..udah jauh banget masuk ke daging. Udah gak bisa disembuhkan lagi. Jadi gue berusaha dan alhamdulillah tambah banyak anak negri yang berusaha berbuat suatu untuk ibu pertiwi.Tampa banyak pengumuman..tampa merasa ” gue cuma bisa ngasih sedikit “…
Selagi terbaring di rumah sakit bulan lalu, gue baca buku dari David safir ” Mieses Karma ” …dari situ gue berusaha belajar setiap saat ” Carpe Diem ” melakukan sesuatu yang baik , ngumpulin karma baik setiap hari atas rasa syukur setiap saat masih dikasih kesempatan masih bernapas dan menikmati kehidupan.

Gue bersyukur banget dikaruniakan seorang suami yang ngajarin gue untuk selalu mengisi kehidupan ini sebaik-baiknya, memberi kepada yang lain dan berilmu padi , dan entah kenapa…balik lagi ke soal ” Karma ” kebaikan itu balik lagi ke kita… dan es tut uns sehr gut…sehr schönes Gefuhl ….
Also Leute…. komm… denk an Saads Wörter… sie sind sehr schön… wir sind erwachsen und gute Freunde oder….
Tausende Küsse….. Mhuahhhh

P.s : mbak Uti… biar kita diskusian kaga ngerubah hubungan kita bukan, gue tetep bisa tk..tok.. ke leo kalo gak punya garem lagi…hihi…
Ach yaa tu orang Bangladesh namanya Muhammad Yunus…. eine Person mit Personlichkeit

yaaaa neta, suami lagi, suami lagi. sebaiknya elo tulis artikel ttg suami, biar kl ada yg tertarik bicara ttg para suami mereka bisa nimbrung disini. gue gak ikut ahhhhhhhhhh…he..he..

To Kyai Saad

Benar mengenai Singapura. Tapi kita harus lihat juga bahwa populasi Singapura sedikit, juga hanya ada 3 etnis, yaitu mayoritas keturunan cina, sebagian kecil melayu dan India, Begitu juga Malaysia, populasinya sedikit, juga 3 etnis, ,mayoritas melayu, sebagian kecil keturunan China dan India, jadi ke 2 negara lebih mudah diatur.

Bandingkan dg negara kita, seperti tulisanku diatas bahwa negara kita dibentuk dengan pilar beratus2 etnis dll. Hal yang tidak mudah, karena untuk menyamakan persepsi aja sulitnya bukan main, padahal tiap2 etnik punya tradisi dan karakter yang berbeda beda. Sebetulnya bisa dianggap salah satu kekayaan kita, yaitu kekayaan budaya dan tradisi. Nanti aku tulis yang panjang sekalian, mudah2an teman2 ga bosen. Trims

Waduh Tie, berat dekh klo becak harus kembali dihadirkan, bukan karena masalah gak berprikemanusiaan or gak cinta lingkungan lho.Kali ini gw berbicara ttg penggusuran becak di Jakarta , krn dibeberapa daerah sperti di kampung gw Kalimantan or bahkan di Yog, becak masih exis kok. Wong gak ada becak aza, kemacetan di Jakarta udah jadi momok yang menjengkelkan stiap saat, apalagi klo di tambahkan dengan hadirnya becak kembali. Bwat Jakarta dengan luas skitar 750 km2 dan jumlah penduduk skitar 10-11 jutaan becak bukan merupakan sarana transportasi yang efisien. Jakarta butuh alat trasportasi yang massal, layak, manusiawi dan ramah lingkungan tentunya untuk mangatasi kemacetan.Stahu gw pemda DKI sudah mengupayakan langkah untuk itu, diantaranya dengan menyediakan busway (untuk jelasnya mungkin teman2 yang di jakarta bisa memberikan masukan tentang busway ini), walaupun masih banyak cerita2 miring didalam tapi immerhin…
Kalaupun ditanya apakah kehadiran busway bisa mengatasi kemacetan ? Maka akan gw jawab , gak juga. Karena masalah kemacetan (tentu ada dong hubungan yang signifikan antara kemacetan dengan pencemaran lingkungan baik suara maupun udara)di Jakarta udah kayak benang kusut, terlalu banyak Knotennya. Pemerintah terkesan bimbang or katakanlah stengah stengah mengambil keputusan, nah beberapa waktu yang lalu gw pernah membaca klo pemprov Dki menggelontorkan ide yang intinya memajukan jam pelajaran di sekolah, dari jam 7.00 menjadi jam 6.30.Trus ide ini akan direalisasikan per January 08(gw gak tau jelasnya apakah kputusan ini sudah disetujui apa blum). Gw cuma bisa mesèm, kok sektor pendidikan yang harus dikorbankan untuk atasi masalah diatas. Kok sepihak gitu keputusannya. Kasihan banget anak2 sekolah dan para guru harus berangkat lebih pagi lagi , bahkan mungkin bisa samprukan nanti sama maling yang baru pulang operasi. Kenapa gak dibatasi jumlah kendaraan yang beredar di jalan, kenapa pemerintah gak menerapkan denda setingi2nya tuk para pemakai jalan yang melanggar lalu lintas, bila perlu pasang radar dimana2 (walaupun awalnya mungkin tu radar bakalan keteteran saking banyaknya pelanggaran lalu lintas) kendaraan si pelanggar di foto, di cetak dan bea tagihan besarnya pelanggaran langsung dikirim ke alamat si pelanggar, biar sedikit celah uang yang bisa dikorupsi para petugas kepolisian. Sbagai gambaran , mungkin lo udah tau kan tie, nerobos lampu merah denda z.B di Li skitar 100-150 sfr, kecepatan nyupir melebihi ketentuan , misalnya lebih dari antara 3-5 kmh itu udah di denda 30 sfr.
Ikh nulis apa siy gw , gini dekh cewek, dari ngomongin becak sampe merembet ke radar.Bila perlu uang parkir dinaikan stinggi2nya , biar orang jadi males pake kendaraan pribadi, malah jadi berganti mengunakan transportasi masal yang itu tadi manusiawi, layak, modern dan ramah lingkungan. Gw yakin suatu saat pasti terjadi dah. Udah balik ke tema, coba kita bandingankan dengan München yang luasnya etwa 300 km2 dengan penduduk skitar 1,3 jt (data ini gw contek dari mas Wiki). Nah disana becak bisa exis, walaupun stahu gw becak bukan alat transportasi umum, tapi hanya untuk wisatawan yang berkunjung kesana,khususnya ke Zentrum jadi otomatis radiusnya juga gak jauh2 amat.

Yang jelas niy, gw punya mimpi besar, bahwa suatu saat di daerah Kota Beos dan skitarnya yang dulu terkenal dengan Zentrumnya Batavia (disana sampe skarang kita masih bisa liat bangunan2 lama peninggalan Belanda),akan dijadikan daerah Fussgängerzone, dimana nanti kita bisa belanja, cuci mata, belajar bahkan juga berekreasi disana. Kanal2 yang sekarang warna airnya ireng banget, berubah jadi jernih skali, trus kita bisa naik prahu getek yang udah di desain sperti Gondola gitu, trus yang gereknya pake baju kebangsaan ala bang jampang gitu lah. Trus akan ada jalur bwat speda dan becak disana, yang paling gak mengobati rasa kangen gw naik becak sperti waktu jaman jepang dulu hihihi.

Ah ya, kemarin gw baca di koran ttg ucapan dari bapak wapres. Yusuf Kalla, ttg pentingnya menjaga kelestarian alam tepatnya di bumi Kalimantan, tuk gak terus menerus dikeruk kekayaan alamnya, demi anak cucu penerus bangsa ini. Walaupun mungkin hanya retorika nurut gw tapi immerhin …udah ada niat untuk menjaganya, tinggal reasisasinya aza, moga aza gak jadi kelamaan atau bahkan kelupaan hihihihi.

@ Saad n Pakde
Kesalahan besar yang ada di ina adalah, hukum itu dibuat untuk dilanggar bukan ditaati, jadi gimana warganya mo disiplin. Jadi kesannya hukum di Ina itu lentur banget, gampang diubah2 seenak pembuat undang-undang itu sendiri.

Teman2 semua…..

Apa yang kita diskusikan di room ini mengenai harapan agar Negeri kita maju,sejahtera dan tidak tertinggal dengan bangsa2 lain di dunia, hari ini koran kompas di halaman 36 memuat Misi dan misi, pembangunan jangka panjang Republik Indonesia, Yang menjadi masterplan KEMENTERIAN NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (BAPPENAS).

Saya sudah minta tolong kepada administrator kita untuk bisa di muat di forum ini ( Mudah2an bisa).

Semoga bisa terwujud sesuai dengan visi dan misi,karena menjadi harapan dan keinginan seluruh rakyat Indonesia.

Dilihat dari visi dan misi, bagus sekali, tinggal bagaiman bangsa Indonesia akan meng implementasikannya.

Butuh kerja keras semua pihak, serta moralitas yang normal dan wajar sebagaimana jati diri bangsa Indonesia.

Juga para pelakunya harus mempunyai kearifan dan bijaksana, dan yang paling utama adalah kejujuran hati dan perilaku.Juga masing2 pihak tahu diri.

Bahu membahu untuk membangun bangsa, bukan dengan cara2 yang tidak elegant, yaitu saling menjatuhkan.

Hal itu bisa terwujud dengan produk perundang2an sebagai payung hukum, yang harus dipatuhi semua pihak.
Perlu sekali perubahan yang mendasar perubahan perundang2an. Dan diharapkan satu sama lain tidak saling tumpang tindih.

Bila semua pihak berpegang teguh pada aturan2 hukum, maka cita2 untuk memajukan bangsa bisa terwujud.

Konstitusi kita yang merupakan kesepakatan bersama para pendiri negara saat mendirikan republik tercinta ini, sudah mengatur dasar2 kehidupan berbangsa dan bernegara. Dari sistem ketatanegaraan, sampai sistem kehidupan berbangsa, yang meliputi politik , ekonomi, sosial, dll.

Dengan diperinci petunjuk dan pelaksanaannya (Juklak) oleh berbagai UU, peraturan pemerintah,Tap MPR, dll. Juga telah mulai disempurnakan, seperti kewenangan daerah yang diatur oleh UU otonomi daerah.Juga amandemen konstitusi.

Sistem demokrasi juga telah diperbaharui, tapi kita tidak tahu demokrasi apa yang sedang kita jalani, kalau menurut pribadi saya, demokrasi kita saat ini SANGAT ULTRA LIBERAL,dan ber biaya sangat tinggi.

Tiap tahun kita mengadakan PILKADA, dari tingkat Bupati hingga Gubernur, berapa anggaran negara untuk melaksanakan pilkada, sangat besar! Dan tidak efisien. Mungkin ratusan milyar bahkan trilyun Rupiah tiap tahun uang yang dikeluarkan untuk biaya pilkada.

Belum lagi masalah kepatuhan para kepala daerah terhadap pemerintah pusat, karena merasa dipilih langsung oleh masyarakat, juga dengan adanya UU otonomi daerah, mereka merasa jadi penguasa, raja kecil di wilayah masing2.

Ada daerah yang meminta pengelolaan listrik (PLN), hal yang sangat aneh. Mereka tidak berpikir bahwa hal tersebut jangka panjangnya akan jadi benih disintregasi bangsa.

Dalm hal birokrasi, negeri kita termasuk paling rumit dan tumpang tindih, yang akhirnya mempunyai celah,kelemahan, yang sering kali dimanfaatkan pihak2 tertentu.

Contoh sistem tataniaga gula. Tahun 2006 Produk nasional kita 2,4 jt Ton per tahun, padahal kebutuhan gula kita rata rata 3,5 jt ton per tahun. Akhirnya pemerintah mengambil kebijaksanaan mengimpor gula sejumlah 400 rb ton lebih.
Nah kekurangan sekitar 600rb Ton darimana, karena kita tidak pernah merasa kekurangan gula.

Dulu yang ditunjuk Bulog,Dan sekarang adalah : 1.PT.PPI 2.PT.RNI, 3.PT. Perkebunan Nusantara(PTPN)IX,4.PTPN X, dan 5.PTPN XI.

Pemerintah melalui dirjen perdagangan luar negeri Deperindag mengeluarkan ijin impor.

Sesuai dengan ketentuan tender pengadaan gula, Suplier harus menjadi anggauta RSAL (Refign Sugar Asociation London)

Akhirnya pemenangnya adalah trader2 Internasional.

Aneh , seminggu kemudian gula sudah masuk ke pelabuhan tanjung periok, padahal kalau dilihat dari asalnya adalah Thailand, jarak tempuh yang dibutuhkan kapal dari Thailand ke Tg,priok paling cepat 12 hari,Padahal untuk loading di perairan Bangkok butuh waktu, karena gula dibawa oleh perahu2 kecil terlebih dahulu melalui sungai Chaopraya ke lepas pantai Bangkok,

Kalau dilihat dari waktunya, mungkin dari Portklang Malaysia, berarti gula sudah disiapkan di Portklang.

Kejadian aneh lagi, setelah Quota salah satu PT. PN yaitu 108 rb ton sudah masuk semua, di kemudian hari masuk lagi sejumlah tersebut.

Masalah gula saya ceritaka dititik beratkan pada sistem birokrasi dan kemampuan memproduksi gula.

Andaikan hal import gula setiap instansi terkait terintegrated informasinya, tidak akan ada usaha2 memasukan gula yang tidak sesuai prosedur dan ketentuan, karena akan menimbulkan kerugian banyak pihak, terutama petani gula, dan pendapatan pajak negara

Instansi yang dimaksud adalah Deperindag, Bea Cukai dan Pelabuhan, serta pengawasan maritim. Hal yang aneh adalah kenapa bea Cukai dan Pelabuhan bisa menerima gula pengiriman yang ke 2, karena dilihat dari bill of loadingnya, sudah jelas.

Sudah saatnya dibenahi kordinasi antar instansi, karena yang rugi bukan cuma pendapatan negara, tetapi juga masyarakat, khususnya petani tebu. Perlu semua pihak untuk arif, bijak dan jujur.

Bertahun2 kita mengimpor gula, padahal seperti lagunya Koes plus, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Memang ada usaha dari produsen gula dalam negeri (Yg sebagian besar BUMN) untuk merevitalisasi pabrik, tapi usia pabrik2 tersebut sudah lebih dari 100 tahun, mau direvitalisai model apapun tidak akan mencapai hasil yang memuaskan, baik kuantitas maupun kualitasnya.

Kenapa kita tidak memikirkan untuk merelokasi pabrik gula, dan membangun pabrik dengan mesin2 yang baru, perbankan kita mampu membiayai, lebih baik daripada uangnya dibawa kabur orang2 tertentu, seperti kasus BLBI, berapa uang negara yang hilang?

Pulau jawa sudah saatnya tidak menjadi produsen gula, karena lahan untuk menanam tebu sudah terbatas. Kenapa tidak dipindahkan ke Sulawesi. Tentuya harus dipersiapkan infrastrukturnya terlebih dahulu, seperti sarana transportasi dan sumber energinya.
Kadang kita membangun suatu idustri tidak dipersiapkan infrastrukturnya . Juga harus diperhitungkan dampak lingkungannya.

Untuk sampai memenuhi kebutuhan gula nasional, akan menyerap tenaga kerja yang sangat banyak, meliputi petani tebu, pekerja pabrik, pekerja transportasi angkutan dll.
Dan uang yang berputar di dalam negeri yang berawal dari pabrik gula cukup besar. Banyak manfaatnya. Menghemat devisa negara,menciptakan lapangan kerja, tidak tergantung pada pasar gula internasional dan tidak tergantung produsen luar negeri.

Bertahun2 kita impor gula, tapi tidak terdengar ada usaha memenuhi kebutuhan gula dalam negeri karena produk sendiri(Swasembada Gula). Apakah sengaja supaya menjadikan keuntungan pihak2 tertentu karena mengimpor gula? Apakah karena ketidak mampuan bangsa Indonesia yang meliputi kemampuan tehnologi, kemampuan financial, kemampuan menyediakan lahan dan infrastruktur?
Sangat tidak bisa dipercaya dan sangat menyedihkan.

Iyu baru contoh mengenai gula,sektor pertanian. Bagaimana dengan sektor lainya?

Berlanjut

To Tutie

Aku baca komentarmu di roomku, jadi inget bahwa, kebijakan2 Alm. Pak Harto banyak yang bagus dan relevan,. Mengenai pertumbuhan penduduk, dulu Pak Harto mencanangkan KB untuk menekan pertumbuhan jumlah penduduk.
Saat awal digulirkannya program tersebut banyak tantangannya, seperti dari MUI, tapi kenyataannya sangat bermanfaat. Sat itu pertumbuhan penduduk mencapai 14%/ annum, hingga bisa ditekan ke 2,5%. Saat ini kita tdk tahu, yang jelas kita jalan ke manapun, walau dikampung, banyak sekali anak kecil. Layaknya negara kita seperti pabrik anak, pabrik bocah.

To Neta…

Iya Banglades punya DR. Mohhamad Yunus. Beliau menggulirkan program ekonomi kerakyatan dan banyak menolong kaum miskin di Banglades.

Waktu berkunjung ke Indonesia beliau bilang bahwa dia justru belajar dari Indonesia, sebelumnya memang beliau pernah di Indonesia.

Begitu juga ahli ekonomi dari amerika latin, yang sekarang direktur program di PBB, beliau juga bilang justru belajar dari Indonesia utuk program mengentaskan kemiskinan di negara2 miskin di dunia.

Aneh, orang belajar dari Indonesia, kita malah tidak mengembangkanya ya?

Mungkin Indonesia bisa dengan model ekonomi syariah. Dan kita punya ahlinya, yaitu DR Antoni Syafii, (Moslem keturunan Chinese). Beliau penasihat Ekonomi syariah di Islamic Development Bank. Mudah2an beliau punya formula untuk membangun ekonomi kerakyatan yang cocok buat negeri kita tercinta.

Membangun fundamental ekonomi yang kuat, hingga tidak terpengaruh ataupun terpuruk akibat efek krisis keuangan ataupun krisis ekonomi global suatu saat.

Dari artikel yg ringan pembicaraan meluas dan berisi. Kayaknya kita duduk bareng di salah satu ruang di gedung E yg penuh kenangan. Padahal kita lintas angkatan dan berjauhan. Kita sudah lebih arif memandang satu permasalahan. Seneng baca tiap komen yg masuk. Jadi pengen kembali ke kampus hijau dan melanjutkan diskusi di bawah rindangnya beringin atau pendopo depan gd F. Es ist aber fast unmöglich.

Salam kangen dari bumi Nanggroe,

Sa’ad & istri, Fathimah, Salman und Aisyah

setuju, themnya bukan krn sepiring gado2, ya saad? tapi masalah yg serius dan penting banget, yg sebenarnya dimulai oleh pakde budi. hidup budi…

dari semua komentar teman2, ini kesimpulan sementara gue ttg masalah indo;

1. kurikulum dan sistim pedidikan harus diperbaharuri. karena pentolannya disini dan yg harus diperbaiki, tp sayangnya kita sbg orang awam gak akan digubris oleh pemerintah.
melakukan hal2 (mendirikan sekolah dsb) bukannya jelek tapi kurang effektiv, krn tetap memakai kurikulum yg tak berguna (walaupun bgt gue tetap salut buat yg telah mengerjakannya,spt mendirikan sekolah, anak asuh dsb).

2. terlalu banyak penduduk yg sebagian besar kurang bermutu (sorry, tapi ini kenyataan). walaupun demikian mereka tetap membutuhkan sandang, pangan dan pemukiman. kebudayaan mencetak anak ini yg gue bingung mencari jalan keluarnya, bisa dibilang gak waras nti gue ma org indo. ada yg punya idee?

3. memisahkan sampah. ini bisa dimulai dan dikerjakan oleh siapa saja.

4. yang ini dr dian; peraturan dibuat untuk dilanggar, buat untuk ditaati. yang ini juga bisa dirubah oleh siapa saja.

pertanyaan ke teman2;

apa bisa dg mental yg tidak terlalu bagus ini, kl seandainya kita mencoba melakukan spt yg dilakukan oleh muhammad yunus? krn gue gak tau siapa dan usaha apa yg mau dicoba di ind (gue gak baca koran indo).

To Tutie,teman2 dan pembaca semua …

Please never give up, kita semua tidak akan pernah menyerah!
Dan tidak akan kita dikalahkan oleh kondisi apapun! Bangsa kita sudah teruji bisa survive dalam kondisi apapun.

Mengambil contoh keteladanan Eyang Soedirman (Panglima besar Jenderal Sudirman),didampingi Pak Suparjo Rustam, dalam kondisi sakitpun, tanpa pamrih beliau berusaha keras agar Republik ini tetap exist dan berdiri.
Dengan memimpin TKR (cikal bakal TNI), walau penyakit TBC nya sedang kambuhpun, walau dipanggul pakai tandu, beliau tetap memimpin gerilya selalu memberi komando dan memotivasi prajurit untuk mempertahankan negeri tercinta.

Saat presiden RI menyerah, dengan lantang beliau bilang, silahkan Presiden, wakil presiden dll menyerah, Tapi saya dan tentara tidak akan menyerah sampai titik darah penghabisan, dan terbukti. Walau penyelesain dan pengakuan kedaulatan nya tetap melalui jalur diplomasi

Dengan niat yang tulus dan ikhlas, kita semua wajib untuk memperbaiki situasi di negeri tercinta. Dan harus diawali dari diri kita masing2. Dengan merubah mental yang tidak bagus menjadi lebih bagus suatu kewajiban bagi seluruh warga negeri ini.

Mentaati peraturan2 hukum yang berlaku, diperlukan kejujuran diri, akan menjadikan budi pekerti setiap nurani insani yang menjadi dasar untuk memperbaiki negeri.

Kita tata kembali semua sendi2 kehidupan di negeri ini.

Tetapi bagi pihak2 yang selama ini telah mempergunakan kesempatan, telah memanfaatkan kelemahan2 dan celah hukum yang berlaku, sudah saatnya mengakhiri sepak terjangnya. Dan harus dengan ikhlas untuk mendapatkan perlakuan hukum yang setimpal dan seimbang. Yaitu para koruptor, para penyelundup, para penerima sogokan(upeti) dll yang sejenisnya.

Kalau tidak dengan suka rela untuk meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia dan menyerahkan kembali materi yang diambil dengan cara2 tidak wajar dan melanggar hukum, dari kekayaan negara yang notabene adalah milik rakyat, mereka harus mendapatkan ganjaran, imbalan hukuman yang setimpal, baik besar maupun kecil nilainya .

Sudah saatnya mereka dicabut dari peredaran di bumi ini! Harus segera semua di eksekusi mati , alias dihukum mati.

Bila perlu dihukum gantung,atau dipancung atau ditembak mati.Dipertontonkan kepada umum bila perlu di Semanggi atau bundaran HI dan disiarkan langsung oleh seluruh Televisi nasional, supaya seluruh rakyat Indonesia menyaksikan orang2 yang selama ini mencuri kekayaan negara,yaitu para pengkhianat bagi negeri dan bangsanya. Yaitu orang2 yang sangat memalukan bagi bangsa ini. Semua itu biar timbul efek jera.Dan hukum harus ditegakan sebagaimana mestinya.

Andai waktu itu aku jadi orang penting di lembaga hukum indonesia, dengan kewenanganku, akan aku masukkan para koruptor dan yang sejenisnya yg telah divonis, tiap 2 hari sekali dimasukkan satu sel dengan Sumanto di penjara purbalinggaper ataupun satu sel dengan Siswanto robot gedek.
Biar mereka terkencing2 dan stress karena ketakutan setiap saat.

Dan harus dipermalukan habis2an mereka . Dengan shock theraphy seperti itu. kita tidak butuh waktu lama untuk memperbaiki perilaku masyarakat, dan semua aturan hukum akan ditaati secara ketat.

Dan uang rakyat tidak akan diambil semena2 dengan cara2 licik , oleh para penghianat bangsa.

( Ck, ck, ck, keras banget Budi kali ini ya,sesekali gpp kan )

Walaupun pemisahan jenis sampah di Ina blum begitu populer, tapi sudah banyak pihak baik individu maupun kelompok yang mempraktekan langkah ini, bahkan gw pernah lihat di tv, tentang 1 kampung di pinggiran kota Jakarta, yang notabene masyarakatnya kebanyakan berpendidikan rendah, sudah mulai melakukan pemisahan sampah menjadi 3 jenis yaitu sampah organik, sampah kertas/kardus dan sampah plastik sejak beberapa tahun yang lalu.

Menurut gw, tema ini bukan sesuatu yang baru dimata pemerintah, dimana mereka sudah sangat-sangat seringnya mengirimkan wakil2 rakyat untuk study banding ke beberapa negara maju(walaupun tujuan utamanya adalah blanja dan jalan2 hihiihi). Kalaupun pemikiran ini blum terealisasikan dengan baik, bukan berarti pemerintah tutup mata dan telingga. Masalah sampah di Ina bukan masalah yang sepele, slain wilayahnya yang sangat luas di tambah jumlah penduduk yang sangat padat, pemerintah sendiri juga blum menemukan formula yang manjur untuk proses pendaur ulang sampah2 yang ada.

Walaupun terkesan kotor dan bau, tapi gak bisa dipungkiri ada ratusan bahkan ribuan orang yang menggantungkan hidupnya dari sampah, mulai dari kelas teri seperti para pemulung, tukang loak dsb sampai kelas kakap seperti para jurangan penjual besi2 bekas dari Madura. Jutaan rupiah berputar tiap harinya hanya dari sampah. Kalau saja ide pemisahan sampah terealisasi dan di organisir pemerintah, maka otomatis mata rantai pencaharian mereka akan terputus dan tentu saja nanti akan timbul gesekan2 dalam kehidupan masyarakat. Pemerintah juga membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk itu. Pertanyaannnya darimanakah dana itu didapat ? Secara logika, gak mungkin pemerintah sanggup menanggung sendiri dana tersebut, lha wong dana belanja untuk sektor pendidikan yang ketahuan tujuannya untuk mencerdaskan bangsa saza masih minim kok. Nah ujuk2nya akhirnya rakyatlah yang dibebankan.Pertanyaannya sanggupkan rakyat dibebani bea untuk itu ?

Penanganan sampah yang dikelola negara di Li sendiri sudah lama berjalan, warga hanya diperbolehkan membuang dan memasukan sampah ke dalam kantong sampah khusus yang bisa dibeli di kiosk2 dan supermarkt di Li dan ditempelkan sticker/Kehrrichtgebühren sebagai tanda pembayaran iuran sampah tsb. Nah bea per kantong + sticker tersebut skitar 2.20 Sfr or skitar Rp.21.000 untuk volume sebanyak 35L. Sampah yang sudah dikumpulkan tersebut ,kita letakkan di pinggir jalan yang nantinya akan diambil oleh truk pengangkut sampah pada hari2 tertentu sebanyak 1 X dalam 1 minggu. Pemisahan sampah di Li sendiri tidak terlalu rumit dibandingkan di Jerman,kita gak perlu repot2 memilah2 sampah yang ada, karena sampah yang terkumpul akan disortir dan didaur ulang oleh suatu deponie khusus. Tentu saja untuk menghemat biaya, warga hanya memasukan sampah organik ke dalam kantong sampah tersebut, sedangkan sampah non organik sperti Altpapier, dikumpulkan oleh pramuka pada hari2 tertentu yang hasilnya akan disumbangkan untuk kepentingan sosial. Sementara sampah2 lainya spt obat-obatan, batu batre bekas, bahan2 cairan kimia, juga alat2 elekronik bekas bisa kita serahkan ke Sammelstelle di masing2 kelurahan/Gemeinde tanpa ada pungutan biaya apapun.

Bea yang kami keluarkan per bulannya untuk sampah rata2 skitar 22 Sfr, produksi sampah basahpun tidak terlalu banyak dikarenakan dapur yang tidak selalu tiap hari ngebul di rumah kami. Nah bandingkan dengan di Ina, yang kalaupun tokh akan direalisasikan, pasti akan cukup menguras kantong warga sendiri, dikarenakan produksi sampah yang lumayan tinggi, dimana mungkin rata2 penghuni suatu rumah tangga sebanyak 4-5 orang. Katakanlah per bulannya masing2 rumah tangga memproduksi sampah sebanyak 15 kantong sampah, dengan biaya per kantong sebesar Rp.3000, otomatis bea yang dikeluarkan hanya untuk sampah skitar Rp.45.000 lebih. Gw yakin, sebagian warga pasti akan sangat keberatan dengan tingginya bea tersebut, lha wong untuk memenuhi kebutuhan dasar merekapun azapun mereka masih kekurangan koq.

Bagaimana juga dengan kontrol pembuangan sampah tersebut ? Apakah masyarakat secara umum bisa diharapkan untuk jujur membayar bea sampah yang di tentukan ? Lha wong di Li aza yang notabene kehidupannya lebih baik dari masyarakat di Ina, masih ada individu2 yang scara sembunyi2 membuang sampah ke perbatasan negara,ke hutan, bahkan ke tempat2 sampah yang tersedia di tempat2 peristirahatan di pinggir jalan tol.

Masalah sampah bukan PR yang mudah bwat pemerintah, langkah awal mungkin adalah mensosialisasikan pemisahan sampah organik dan non organik di banyak pemukiman penduduk, dengan menyediakan/menyebarkan 2 or 3 macam macam tempat sampah dibanyak tempat. Tanamkan rasa cinta lingkungan untuk smua lapisan masyarakat, bila perlu ajarkan anak dari usia dini untuk aktif menjaga dan memelihara lingkungannya. Pada intinya gw stuju dengan koment dari Saad, mulai dari diri kita sendiri lalu menyebar ke keluarga, tetangga skitar dll , untuk menjaga kebersihan dan bila perlu menghijaukan lingkungan tempat kita bermukim.

MORAL dari tulisan diatas : Kok kayaknya lebih suka menyumbangkan barang bekas ke tukang loak bwat nambah sdikit penghasilan mereka ,daripada nyerahin ke Sammelstelle ya. Cuma leider bin sayang disini gak ada tukang loak yang dorong gerobak sperti di Jakarta.

gue seneng deh diskusi ma dian (schleimer! ga dong dee,tulus neh!). tulisan dian padat dan berisi dan sesuai realita (bukan schleimer lho dee). nyimpang bentar sbl diskusi; ibu2 yg gue kenal di münchen pada umumnya (gak semua) cuma bisa diskusi soal arisan dan intan berlian. bayangin, bbrp tahun yg lalu gue diajak ikut arisan 500 euro sebulan, gila! krn gak cukup peminat ada bbrp ibu2 yg ikut 2 x, alias 1000 euro sebulan. dapat duit dr mana coba? itu dah salah satu alasan kenapa gua gak mau lagi bergaul ma ibu2 indo di mchn.

also, menurut gue, cara memisahkan sampah di german gak beda jauh ma di li dan ch, cuma kita gak perlu pake dan beli kantong2 dan sticker khusus spt di li dan ch. pd dasarnya sampah rumah tangga dibagi bbrp jenis; bio (organic kl di indo), kertas, botol dipisah secara warna, kaleng dan plastik. sedangkan batre, sampah eletronic dan obat2 bekas ada tempat khusus untuk itu. kemudian ada restmüll yg udah gak mungkin dipisah lagi, ini dikirim ke pabrik sampah untuk diproses menjadi energy.

memisahkan sampah bisa dilakukan di indo tanpa banyak merengut tempat kerja dan biaya. mereka bisa melanjutkan dan mendaur ulang di pabrik sampah. ini akan menyedot banyak sekali tenaga kerja. juga gak perlu pake plastik dan sticker khusus, cukuplah dg plastik dr matahari store. o ya, sebelum lupa mengenai plastik dr store juga penting. dianjurkan supaya matahari store dan temen2nya agar tidak terlalu banyak “menghadiahkan” kantong plastik kepada pembeli, cukup seperlunya. cara inikan lebih praktis dan murah dari pd mengirim tenaga khusus ke luar negeri (toh spt kata dian kebanyakan waktu juga untuk belaja dan jalan2).

anjuran buat warga: kl mo belanja bawalah tas belanja dan temen2nya, alias jangan melenggang kangkung dan mengharapkan kantong plastik dari tempat perbelanjaan. ini akan mengurangi sampah plastik anda!

gue juga seneng baca tulisan dian bahwa ada sebuah kampung yg sudah mulai memisahkan sampah sejak bbrp tahun. mudah2an bisa ditiru warga kampung lainnya.

ini semua hanya “pendapat” ya, silakan dikritik kl ada yg kurang bener. gue terbuka untuk semua kritik tapi bukan tuduhan yg tak beralasan.

@dian, gue tunggu komentar elo ttg produksi anak alias pabrik bocah, kata budi.

Dee und Tutie….

Permasalahan di negara kita bukan cuma masalah sampah yang real.

Ada lagi sampah yang penangannya memang ga tahu dari mana dimulainya. Karena sudah seperti mendarah daging bagi sebagian masyarakat Indonesia, dan menyentuh semua lini, menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan di negara kita.

Bisa dibilang SAMPAH MASYARAKAT. Sepeperti tulisanku diatas yaitu orang2 yang mengambil ,mencuri uang negara. Koruptor, penyelundup, dan semua pihak yang mengambil kesempatan dan keuntungan dari celah hukum dan perundang2an yag berlaku. Penyelesain hukumnya harusnya keras,seperti komentarku yang sangat keras di atas,

Kita semua tahu, apabila pemeintah akan membangun proyek, kendalanya adalah keuangan, padahal kalau tidak dicuri oleh tangan2 jahat yang biadab sebetulnya negara tidak terlalu sulit untuk membangun proyek2. Dan tidak perlu mengandalkan investasi asing sepenuhnya.

Untuk mencukupi kebutuhan energi listrik , kita kesulitan mebangun power plant. Padahal untuk PLTU kita punya sumber bahan bakarnya, yaitu batu bara.

Tahun 2007 pemerintah melakukan tender untuk pembangunan Power plant kapasitas 10×2 MW,14×2 MW dan ada yang lebih besar.
Melalui PLN akhirnya dimenangkan tender oleh 12 pihak swasta. Melalui perjanjian pembelian listrik yang disebut PPA (Power Purchase Agreement). Yaitu di Sampit, Bintan, dan bbrp tempat di Sulawesi serta Jayapura.

Untuk sekala besar 2x700MW sampai 3×700 MW dibangun di Cilacap, dan dalam proses pembangunan di beberapa tempat lainnya seperti di Banten.

Permasalahannya adalah swasta lokal tidak semua siap
financialnya.

Padahal seyogyanya sebelum PPA ditandatangani pihak swasta lokal harus menunjukan kesiapannya, seperti kesiapan tehnologi dan financial. Akhirnya pembangunnannya tidak sesuai jadwal, seperti kasus Pembangkit Sampit Kalbar.

Akhirnya masuklah investor dari China untuk membangun beberapa ower plant.
Kalau semua yang akan kita bangun mengandalkan investor asing, pada akhirnya mereka yang mengambil keuntungan, sedangkan kita masyarakat indonesia hanya menjadi pangsa pasar.

Padahal investor asing biasanya meminta partner lokal untuk menyediakan minimum 20% equity, itupun banyak yang tidak mampu.

Tidak ada lagi kebanggan kita. kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, karena kita tidak mengandalkan kemampuan anak2 bangsa.

Kenapa perbankan kita tidak dilibatkan untuk membiayai mayoritas kebutuhan financial, sedangkan sebagian kecil silahkan mencari partner asing. Jadi kita tidak merasa bangsa kita dijajah secara ekonomi.

Ibaratnya negara kita adalah tukang jahit. Yang mesin jahit,jarum, hingga kain nya semua dari luar negeri. Sedangkan pakain nya setelah jadi kita semua yang memakai.

Utie, Dee dan Kanjeng Budi.

Diskusi ini tambah menarik. Mengenai sampai di republik ini kayaknya gak perlu dipilah dan dipilih ketika dibuang. Toh nanti ada pemulung yang akan memilah dan memilih mana yang bisa dipakai dan dijual. He he he…

Becanda dikit boleh kan.

Mengenai arisan beberapa ibu2 di Munich yang iurannya guede banget, mungkin itu ‘bawaan orok’ kali ye. Gak mesti di Jerman atau di Kebumen, kalo bawaan oroknya begitu, ya begitu aja. Sense of crisis mah -mungkin- urusan sekian. Tapi mungkin aja hasil dari yang dapat sebagiannya langsung disumbangkan. Mungkin loh. ‘Kapan’ kite gak tahu. He he he…

To Kyai

He he he….. kalau sampah beneran dipungut pemulung… nah kalau sampah masyarakat spt koruptor, penyelundup dlll bagaimana nasibnya ya, ada yang mungut ga kira2 …. wuakakakakkkkkk

Kalau menurut aku jangan ada yang mungut, ditimbun aja langsung di kuburan kale ya…. he he he

wah rame kali diskusinya, gue nggak bisa baca semua nih kommentarnya, jadi infonya spenggal penggal gini, terakhir gue baca rada lama ya itu maryamah, sonst hanya baca headline doang hehehehe…….
Sekarang Alhamdulillah kalo kita mau belanja ke supermarket besar mereka sudah menawarkan pake kantong plastik ato pake kardus bawa belanjaanya, tapi para konsumen milih kantong plastik. knapa? ya karena gunanya byk sekali kantong plastik ajaib itu, dari tempat sampah di rumah , untuk tempat tempat apalah di rumah, multi fungsi, dari pada beli tas karton yg untuk ukuran kita lumayan costnya. Supermarket menjual tas tas mereka yg bisa dipake berulang ulang tapi itu harganya mahal 50 ribu, bisa bayangin khan beli tas belanja aja 50 ribu, mending buat bayar air pam. tapi di negara maju tas blanjanya cuma 1 ato 2 uero kali, blm bisa buat bayar air tiap bulan, beda kan jumplang bgt.
Soal pemisahan sampah, rakyat akan ikut kalo pemda strict ama peraturan, tapi itu memakan waktu satu generasi, contohnya dina dari umur 3 thn di sekolah udah dikenalin dgn pemisahan sampah, mana yg organik mana yg unorganik, tapi control yg tdk penuh dan semua org yang terlibat tdk secara konsisten menjalankan akhirnya 3 tahun dpat pembelajaran itu menguap ke udara, krn toh anak anak masih tetap mencampurnya, itu gue liat di tong samph sekolah dina.
Nah….piye dong
Waktu tahun 2001 gue balik ke indo, di tambak jakpus di daerah rumah gue, sudah ada pembagian kantong kantong plastik dari kelurahan ke rw rw, kebetulan om gue rw, jadi gue ngerti dikit mekanisme kerjanya, pak rw ngambil itu kantong ke kelurahan sesuai jumlah warga, baru nanti rt yg ambil en bagi ke warga, gue sempet tkjub dengan perubahan ini, walau orang rumah sendiri gak ngeh mana yg harus di pilah, akhirnya byk kecampurnya, padahal kantong kantongnya sudah beda warnanya. Tapi sekarang udah gak jalan lagi, gue pikir kagak berhasil kali ya, daerah gue khan termasuk daerah menteng, kagak berhasil, apalagi daerah lain, mungkin kata pemda capek dech………. hihihihihi
Nyambung lagi, cara belanja org kita, kalo ke pasar tradisional liat aja apa gak yg dibungkus dgn plastik warna hitam warnanya aja udah serem hihihhi, mau yg panas dingin basah kering, dibungkus ama si hitam, praktis sekali, dulu waktu gue kecil, nyokap gue blanja selalu bawa tas keranjang plastiknya yg dianyam berwarna merah, beli ikan dibungkus ama daun pisang, ato jati, beli sayur kagak perlu dibungkus, karena udah diiket, tarok di keranjang, beli bawang dibungkus kertas koran, beli cabe dibungkus kertas bekas ujian sekolah, beli roti dibungkus bekas kertas pajak hihihi, go green bgt dech, sampah gak usah dipisah, membusuk sendiri, kalo ketemu tas plastik syeneng, disimpen rapi ama nyokap buat tempat utk bawa bawa barang, apalagi kalo dari depstore matahari, dijaga bgt hihihihi, nah sekarang siapa yg mengenalin teknolgi polymer ke negara ini?
capekkkkkkkk ach nulisnya, mau makan cireng dulu nih, ngomong2 cireng ada plastiknya ga sih, soalnya kenyal banget nih serem dech

To Kyai Saad, Dian Savitrie, Sri Astutie, Soneta Thamrim, Nengssih… dan teman2 semua.

Mau diskusi apalagi ayo, sebagai yang paling tua aku ngikutin aja, bikin topik yang menarik lagi dong, nanti kan aku sautin, apa mau diterusin tema cinta negeriku, karena diawali cerita bumbu gado2 hayo?

Trim’s untuk semua ‘” Selamat Tahun Baru 2009. Prossit Neu Jahr 2009″

budi dan teman2 semua,

tentu kita kan lanjutkan diskusi kita. gue sekeluarga sedang pilek berat, uhuk-uhuk bersahut2an, münchen lagi dingiiiiiiiiiiiin banget dan gue lagi males mikir.

selamat tahun baru untuk semua, semoga membawa kemajuan ke arah positiv untuk bangsa kita.

uti, rob dan alessia

Cool…keren deh

Tutie, Dian, Neta, Nengsih, und Kyai… lama kita ga komentar di room ini

PULAU PULAU TERLUAR DI WILAYAH INDONESIA ( Situasi , kondisi dan penangannya)

Lama kita tidak berdiskusi di blog Kyai Saad. Kali ini saya mulai dengan judul diatas, seperti biasanya hanya prologue dulu. Untuk memenuhi permintaan beberapa teman yang kepingin berdiskusi lagi.

Tulisan ini bentuk keprihatinan, bukan sebagai kritik terhadap Pemerintah. walau bagaimana harus kita hargai pemerintahan SBY dan JK yang sudah berbuat sekuat tenaga sesuai dg situasi dan kondisi.

( Berlanjut )

Siapa pun yang menjadi pemimpin Indonesia tidaklah dapat mengubah situasi dan kondisi ke arah sempurna bangsa ini dalam sekejap. Memang tidak ada yang sempurna, apalagi tataran dan acuan berfikir beragam. Namun ada prestasi yang telah dihasilkan SBY-JK selama memimpin negeri ini. Kekurangan pun ada. Tinggal bagaimana kita bersikap adil dalam melakukan penilaian.

Silakan dilanjut…

Pulau Miangas adalah salah satu pulau terluar, di bagian utara Indonesia, yang berbatasan langsung dengan Philipina.

Disebelah selatan ada satu pulau terluar juga, letaknya disebelah selatan wilayah Malang. dan di barat adalaha gugusan pulau Sabang.

Tahun 1996 saya pernah ke kepulauan seribu, melalui labuhan Pandeglang saya menyelurusi bagian selatan kepulauan seribu, yang mendekati wilayah ujung genteng, ujung kulon.
Saya masuk ke pulau tak berpenghuni , mungkin luasnya sekitar 50 HA. Waktu itu saya hanya mencoba untuk mencari suasana lain, sehari terasa sangat membosankan, karena tdk ada apapun, hari kedua terasa berat sekali, tidak ada pasokan logistik, saya berusaha untuk survive, krn wkt itu sdh persiapkan bawa air tawar cukup, sedangkan makanan hanya dipersiapkan untuk 1 hari.

2 hari teras seperti mati dalam hidup, tanpa ada listrik dan makanan yg memadai. Sore hari sesuai dengan perjanjian saya dijemput lagi oleh motor boat.

Bisa dibayangkan betapa sulitnya warga di pulau terluar yang jauh dari mana2. Dan pulau2 tersebut bisa dibilang pulau kecil, tapi berpenghuni. Untuk pasokan logistik hal yang tidak mudah, Apalagi kalau musim ombak tinggi.Untuk mencukupi kebutuhan sehari2 mungkin terasa seperti jaman batu, yang harus memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri ( berlanjut keburu ngantuk)

biasa orang indon, dikit-dikit tersinggung, apa lagi masalh klaim2 budaya. Seni budaya itu kan universal, memang ada yang bisa mengklaim dari mana asalnya, kalo masalah reog gak usah ribut2, kalau ada sejarawan yang mau meneliti ujung-ujungnya kan ke ponorogo juga. jadi bukan masalah.
Makanan agak susah mengklaimnya, tapi serahkan saja ke sejarawan atau antropologist untuk membuktikan itu.
temen-temen yang sedang bergaul di luar negeri pun paling gampang tersinggung, saya juga pernah mengalami itu, tapi kalau dipikir teknokrat-teknokrat kita kan sekolahnya di LN juga ya, bahkan founding father kita banyak mengadop undang-undang atau istilah undang-undang dari tempatnya belajar.
nasionalisme sepertinya gak sesempit klaim gado-gado atau tempe, atau reog ponorogo.
ali sadikin pernah bilang:”tahun empat lima Jepang hancur lebur, sepuluh tahun kemudian jadi jagoan ekonomi dunia, ke bangsa apapun orang Jepang selalu menunduk, tapi bangsa mana yang tidak menunduk soal utang piutang terhadap jepang?”
seperti jepang, jerman juga mengalami Wirtschaftwunder 10 tahun dari kehancurleburan negaranya.
bedanya orang indon dengan bangsa lain adalah, peradaban dan sejarah mereka sebagai bangsa sudah berabad-abad, sedangkan pemikiran berbangsa indonesia itu kira-kira baru tahun 1908 tercetus, dan 20 tahun kemudian baru bersumpah.
sumpah satu nation, satu bahasa, bertanahair satu yang secara hakikat selalu dikhianati.
Di sini, cth di Tangerang, gak ada kepala sekolah yang gak islam, harus sunda.
kita semua bisa terbuka(sebenar-benarnya terbuka) atas segala perbedaan dulu baru kita start sebagai bangsa. Kalau ada yang terlupa di pinggir garis otoritas di Indonesia, itu wajar, di kota saja banyak yang termarginalkan kok.
.. karena kita belum pernah memulai sebenar-benarnya sebagai bangsa…
Ada promosi, kalau bukan jawa, kalau bukan islam, kalau bukan batak, kalau bukan china, kalau bukan kristen, kalau bukan … gak bakal dipilih.
Mau bikin gereja di sini susah, coba deh bikin proposal masjid di Bali, atau flores … apalagi synagoge hahhahaha
segala latar belakang primordial itu di bawa, dijadikan prioritas sebagai pembeda, dan ditanamkan secara turun temurun di masyarakat bahkan di keluarga masing-masing orang indon, itu semua susah dirubah.

mulailah menanamkan persatuan sebagai bangsa di keluarga masing-masing, kalau ini dilakukan oleh generasi kita, mungkin 50 tahun lagi kita bisa menuai hasil, orang-orang indon yang bisa mengaku sebagai bangsa indonesia, dan catat… pada titik itulah kita sebenarnya baru memulai nation kita.
andai…

konyolnya, (ini cuma khayalan) waktu kita bisa bangga mengaku sebagai bangsa indonesia,pemikiran pengkotakan sebagai bangsa sudah gak laku, orang-orang tidak lagi berpikir nation, tapi internation, cosmopolisme, jadi sekali lagi kita bakal ketinggalan berpikir

Akhirnya bangkit juga Bayudha dari tidurnya, sudah lama aku tunggu , kapabilitasmu sangat memadai untuk membahas pluralisme.Melihat ke Indonesiaan kita, dari sisi lain.

Semakin banyak manusia Indonesia yang memiliki wawasan kenegaraan dan kebangsaan yang luas, suatu saat akan menjadi kan terwujud cita cita memakmurkan bangsa dengan karya nyata

gue setuju dg yudha. tulisan dg thema gado-gado diatas sebenarnya gak pernah pernah menarik perhatian gue kalo seandainya budi gak menulis dg judul “selamatkan negeriku”. gue juga gak akan ribut dari mana sebenarnya asal gado-gado dsb. krn dg cara itu bukan berarti kita menunjukkan rasa kebangsaan dsb. jadi yg menarik sebenarnya adalah yg ditulis oleh budi, bukan si gado-dago yg terkenal itu.

harus diakui, walaupun kita sama2 pernah mengecap pendidikan di perguruan tinggi, tapi tetap kita tidak mempunyai ‘wellenlänge’ yg sama, auf gut deutsch: “WIR LIEGEN NICHT AUF DER GLEICHEN WELLENLÄNGE.” yg membuat gue akhirnya males berkomentar lagi di sini, krn bbrp komentar yg tidak nyambung apa yg sedang didikusikan.

Kita lanjutkan diskusi, mudah2an semua pihak, teman2 nyambung. Trims

wah rame nih diskusinya, nimbrung ah…
Udah fithrah manusia bersikap primodial hata orang itu bersikap nasionalis.Sikap nasionalis akan berujung pada pemikiran sekuler atas nama kebebasan.
Banyak sudah korban bangsa dan negara karena bualan seperti ini. Yahudi dihancurkan Naziisme Jerman yang berujung Zionisme n melahirkan penjajahan Palestina.AS bersikap standar ganda terhadap dunia Islam dengan pengaburan “terorisme”. Lihat penghancuran Irak dan Afghanistan secara sistematis atas nama ham dan demokrasi. HAMAS menang pemilu demokratis diboikot n diperangi. Ujungnya AS bangkrut secara ekonomi kapitalisme.Mo adopsi pemikiran kayak gini ? gak janji deh….!
Kehebatan bangsa Indonesia lepas dari penjajahan karena memiliki ruh aqidah Islamiyah yang universal. Saksikan dan simak penggalan sejarah perlawanan Cut Nyak Dien n Bung Tomo. Bangsa kita terpuruk karena kehilangan ruh yang ditelanjangi n dipermak atasnama nasionalisme dan berujung pda generasi Snouck Hugronje baru.. Harus lahir generasi baru Indonesia yang membangkitkan ruhnya kembali. Bangkitlah bangsaku…Harapan itu masih ada…berjuanglah…jalan kemenangan kan terbentang…
Pantun dikit ah..
Sebelum kerja sarapan pagi
Dengan sayur yang ada kuah
Berkeluh kesah, tidaklah rugi
Sebagai cermin merasa lemah

Cantik selendang dipakai ratu
Ratu duduk diatas nampan
Kalau pengen Indonesia maju
Contreng aja PKS nomor delapan

Ingat 9 April 2009 jangan golput….
Yuk ah temanz,he..he..he..

Nah yang ini dari sudut pandang Spiritualisme makin banyak sudut pandang, nanti akan mengerucut pada satu tujuan,demi kebaikan bangsa dan negara…. Indonesia

inget lagu John Lennon gak?
imagine there’s no country, no religion too, imagine …
fitrahnya manusia berkumpul ya kita jadi cukup memahami saja kenapa banyak kejadian karena sentimen-sentimen perbedaan kelompoknya.

nation sbenernya seperti perusahaan, perusahaan yg dimenej dengan baik akan go international dengan karakter-karakternya yg unggul, sedangkan perusahaan kecil dan tidak bisa besar karena pikiran cara memenejnya juga kerdil

perusahaan besar memiliki manajer yag memiliki visi bagus dan didukung semua personal perusahaannya. Sampai tukang sapu juga tahu, bahwa perannya adalah sebagai personal perusahaan adalah semata-mata juga membantu kemajuan perusahaan yg berakibat baik pada dirinya juga.

Visi yag baik akan terlaksana bila dijalankan dengan konsisten, memiliki strategi memanfaatkan karakter-karakter sumber daya personal perusahaan dengan tepat. Adalah anugrah bila masing-masing personal perusahaan memiliki perbedaan karakter, yang bisa dimanfaatkan.

Adakah pak polisi, politisi, pesepakbola, guru, tukang blogging, tukang cat dll berpikiran memiliki satu tujuan: alinea terakhir preambul UUD’45?

Sedangkan masalah gado-gado?
analoginya: ada pihak yg ngaku-ngaku pentium itu merk dari produknya, bukan Intel, gak usah dipeduliin semua orang jg tau Pentium itu milik Intel, gitu aja kok repot

Nyambungnya: Kalau you punya bangsa yang berkarakter, mutu dunia, biar orang klaim ini itu,
bergeming aja

aduh yudha, gue seneng baca tulisan elo. kenapa baru nongol dan komentar sekarang? komentar elo diperlukan “dringend” awal desember saat si gado-gado sialan ini menghebohkan dunia. tp msh untung elo nongol juga , he..he..

Seneng bisa ngumpulin semua di blog ini. Kayaknya kita ada di dalam kelas dan diskusi bareng. Padahal lokasi kita berjauhan.

Pendapat pasti gak akan sama. Meski kita berada dalam satu ruang yang sama. Namanya juga manusia. Tuhan pun memberikan kebebasan untuk memilih, setelah memberikan definisi baik dan buruk secara gamblang tentunya.

Diskusi ini jauh lebih menarik dari sekedar Gado-Gado. Tapi spirit gado2 dalam berpikir jelas ketara. Namanya juga gado2. Kalo serupa bukan gado2 lagi namanya.

Si Bayudha dari gua hantu sudah nongol. Persis sama dengan Bayudha yang gue kenal tahun94 yang lalu. Nakal dan susah diatur. Uti juga begitu. he he he. Mayati, tentu dengan sudut spiritual yang kental. Om Budi layaknya seperti alm. Herr Wib, yang mengayomi dan sabar luar biasa. Meski gue ama Taufik nyontek, tetep aje beliau menegur dengan sopan. Neta, tipe pekerja keras yang berusaha sederhana dalam berpikir dan terbukti cukup NASIonalis. Maklum masih doyan NASI. Irda, Dian, Evi dll juga punya pandangan yang brilian.

Kita lahir dari produk yang sama, IKIP Jakarta. Sekarang tinggal dan bekerja di tempat yang jauh berbeda. Pola pikir dan sudut pandang banyak dipengaruhi oleh waktu, tempat dan situasi yang melingkupi kita.

Lanjutkan diskusi dengan kepala dingin dan kopi hangat. Ich bin stolz auf Euch.

Akhirnya dikusi kita tambah hidup. karena semakin lengkap ,dari berbagai sudut pandang. Dari satu almamater kata Kyai Saad, timbul berbagai pemikiran yang saling mengisi dan terintegrated. Tidak ada yang saling menonjolkan diri karena memamerkan kemampuannya, yang ada adalah saling mengisi dan tukar wawasan.Dan kita tetap memakai kaidah etika dan estetika.
Sungguh diskusi yang sangat indah, dan secara pribadi saya belajar banyak dari diskusi ini.

Seperti tulisanku terdahulu, bahwa negara ini dibentuk oleh orang tua2 kita atas pondasi perbedaan yang sangat banyak, dari sisi budaya, etnik bahasa dll.

Begitu juga diskusi ini ditulis oleh beberapa karakter dan wawasan para penulisnya. Tapi intinya seperti kata Kyai Saad dari produk yang sama IKIP Jakarta, khususnya Jurusan bahasa Jerman. “HIDUP JURUSAN BAHASA JERMAN IKIP JAKARTA”! ( Kaya lagi kampanye aja) Trims

saad, berbeda pendapat emang boleh, tapi kenapa kalo orang mengeluarkan pendapat tentang suatu yg kurang bagus ada yg tersinggung dan bukannya ngomong lansung tapi mengumpat ke lain pihak dibelakang punggung? apa maunya hanya mendengar yg bagus2 aja? gak mau dan gak tahan dikritik dong. politikus aja (kecuali politikus indonesia) dikritik habis-habisan tapi mereka gak ngambek dan mengumpat segala. wah, klo mereka ngambek kan rugi sendiri. ternyata jujur itu masih tabu. ternyata dg cara ABS (asal bapak senang) masih jadi budaya spt pemerintahannya indonesia jaman bapak kita. parahnya lagi menilai orang lain sok pintar untuk menutupi kekurangan diri sendiri. apa diskusi semacam itu yang ingin kita teruskan? klo seandainya begitu gue pamit deh, adieu.

Kak Saad,

Masukin nama saya di angkatan 94 dunk….sedih dech ga kedata…hiks hiks..

Vielen Dank…
Yulhaida’94

salam buat temen-temen yang rajin nulis blog ini, saya si tadinya cuma menapak tilas perjalanan hidup yang salah satunya melewati Deutschabteilung.
Jadi saya menulis cuma menyambung-nyambung komentar demi komentar, walaupun ini awalnya dari gado-gado, seperti bang Sa’ad bilang. Namanya juga Blog.

Untuk teman-teman yang masih berada di LN, kami sangat butuh perspektif kalian, karena keterbatasan kami melihat masalah di sini tidak bisa obyektif secara maksimal.

salam dari Ciputat pinggir Jakarta yang selalu macet😳

Utie, jangan ngambek gitu dong. Justru kalau kita gentle, orang akan melihat, membaca dan menilai. Kalo ada yang ngomongin di belakang kita, gue yakin antar mereka juga saling ngomongin. he he he. Teman gosip itu gak ada yang permanen. Kalo menurut gue santai aje. Ngutip kata Bayudha, gitu aja kok repot.

Soal digosipin, dari dulu juga udah ada dan akan selalu ada. Biarin aja lah. Yang menarik kan bukan pembahasan di belakang, tapi argumen yang jelas, logis dan meyakinkan. Meski pun kita tidak berhak untuk memaksakan pendapat kita pada orang lain.

Politikus yang tahan kritikan, cercaan dan hujatan bukan monopoli negara maju. Di Indonesia pun ada. Harus diakui jumlah mereka masih minoritas. Tapi tetap ada.

@Yulhaida : Ok, dibuatin. Datanya dong. Kirim ke email aja : jerman90@gmail.com

Danke

bukan ngambek saad, cuma dah mau muntah gue ngebaca smua omong kosong dan pamer bla..bla..bla tak bermutu. juga bukan iri, gue punya yg lebih malah (bukan juga mo sombong). yg ngomong belakang ini justru klo ke orangnya ngomong kebalikannya, munafik dan primitiv banget. gue sih menerima klo dikritik asal ada argument yg jelas dan nyata dan gak suka disindir2. gue juga jujur aja menilai sesuatu, buat di puji klo emang gak pantes dipuji?

Sudah saatnya kita cooling down, menahan diri segala amarah, dan perasaan. Kita dipertemukan melalui blog ini sudah suatu keberuntungan, buat saya pribadi sangat2 bermanfaat, untuk menyambung tali silaturahmi, yang sekian tahun tidak terjalin, Karena ada yang lebih dari 15 tahun tidak komunikasi, sekarang bisa saling menyapa walau dibentangkan oleh jarak ribuan kilometer. Seperti dengan Mba Lili Silap di Australia, dan teman2 di Eropa.Dan juga teman2 semua yg di Tanah air. Kita semakin bertambah umur, semakin bijak dalam mengambil keputusan, dan semakin sabar dan legowo menghadapi tantangan hidup, termasuk dalam bergaul.

Kita tanggapi setiap persoalan dan permasalahan, termasuk dalam pergaulan kita, dengan pikiran jernih dan hati yang sejuk,dan dengan lapang dada. Termasuk memaafkan kesalahan dan kekhilafan orang lain dalam hal ini teman.Mudah2an menjadikan kita erat dalam menjaga pertemanan dan persahabatan kita semua. Kita jalani dan manfaatkan hidup yang hanya sekali di dunia dengan perasaan ikhlas dan legowo. Mari kita lanjutkan diskusi ini dengan karakter masing2 penulis, dengan tanpa ada rasa dan maksud untuk menyakiti, atau menyinggung perasaan teman lain, sekali lagi mohon untuk saling memaafkan diantara kita semua. Selamat menjalankan aktivitas kepada teman2 semua, dengan harapan semua sehat dan sukses,

Apa pun yang Utie tulis, seneng gue bacanya. Maaf kalo ada tulisan gue yang nyinggung lo. Herr Budi juga, Neta, Andi, Dian dll. Semua saling melengkapi.

Dunia makin sempit dengan bantuan tekhnologi. Indahnya kalau bisa kita isi sempitnya dunia dengan senyuman…

Piiissss….

Saad dan Budi, ini hanya pengalaman pribadi gue ttg kritik di lingkungan orang Indo dan Jerman.

Waktu gue di SMP pernah gue kritik guru bhs indo kita yg membahas bahan pelajaran ttg produksi itik dan bebek selama 3 minggu berturut2, sangat membosankan (dan tidak hubungan antara produksi intik ama bhs baku). Si guru kita tersinggung dan ngadu ke kepala sekolah. Pdhal yg kita pelajari di IKIP seorang guru harus kreativ menciptakan bahan pelajaran untuk muridnya dan bisa memotivasi murid untuk belajar. Si guru ini bukan menerima kritik sbg masukan tapi sebaliknya ngambek dan ngadu ke kepala sekolah.

Waktu gue tanya ke guru agama kita yg sedang bercerita ttg Adam dan Hawa, bahwa apa benar manusia itu berasal dari kera (krn menurut di buku yg gue baca begitu dan tidak tahu apa itu bener). Si guru lansung ngomelin gue bahwa itu tidak benar, bahwa manusia tidak berasal dari kera. Si guru ini hanya melihat dari segi keagamaan tapi tidak dari segi penelitian dan pengetahuan.

Dosen kita di IKIP juga sama. Tidak tahan menerima kritik. Semua yg mengkritik langsung dimusuhi dan di cap sbg mahasiswa bandel dan akhirnya menjadi mahasiswa bermasalah. Dan akhirnya menilai si mahasiswa secara subjektiv.

Sama spt kasus indomie bbrp th yll. Ssorg mengkritik agar pemerintah indonesia melarang produsen indomie untuk memproduksi indomie dg tujuan agar si produsen kreativ menciptakan produk baru yg lebih bermutu yg dimakan sebagian besar rakyat indo (krn spt kita tahu produk ini banyak mengandung bahan kimia dan bahan penyedap lainnya). Tapi ya gak digubris dan rakyat indo dibiarkan selamanya makan makanan sampah ini.

Kesimpulan: Typisch orang indo tidak bisa menerima kritik dan tetap memelihara cara berpikiran sempit. Padahal tidak semua kritik itu negativ, ada juga yg positiv dan membangun, tergantung mau dilihat dari segi mana. Apa saja di dunia ini dibangun dan berkembang melalui kritik, spt system politik dan negara, buku2 dan bahkan Hollywood sekalipun berkembang lewat kritik. Gimana bisa maju klo orang indo tidak bisa dikritik. Sebuah kritik lansung diartikan sbg penghinaan, lansung mengadu ke pihak ketiga meminta belas kasihan dan berperan sbg korban. Pemerintahnya juga begitu, yg mengkritik dan mengeluarkan pendapat dimasukkan ke penjara.

Di tempat kerja, boss gue sll minta dikritik. Kita para pegawai biasa sll diminta kritik dan pendapat untuk perkembangan perusahaan dan kenyamanan pegawainya. Satu kali setahun ada interview antara pegawai dan boss untuk membicarakan hasil yg telah dicapai dan rencana ditahun mendatang, dan sekalian saling mengkritik antara si pegawai dan si boss. Tidak ada yg merasa “beleidigt” dan tersinggung stl interview ini. Sebaliknya saling berlomba berkreativitas yg positiv untuk perusahaan. Klo seandainya gak tahan kritik akan tergilas di dunia kerja yg keras baik dari boss sendiri maupun dari kollega.

Moral dr tulisan ini: kritik diperlukan untuk lebih kreativ, berkembang dan melangkah ke depan.

Ini hanya pengalaman pribadi, tentu ada pengecualian, bahwa gak semua orang indo punya mental spt ini. Trims.

Bicara kritik mengkritik itu juga asyik, biar tambah asyik ngritiknya jangan terlalu berisik, nah lho ?
Bedanya orang beradab dan biadab jelas harus ada adab. Begitu juga urusan kritik kudu ada adabnya. Salah satu peradaban ada karena kritik yang beradab.
Islam memberikan tuntunan yang solutif agar kritik tidak menjadi gibah dan namimah.Bahaya lho bagi hati…!
Kritik disampaikan dalam kerangka perbaikan bukan penjatuhan. Nabi Musa as mengingatkan Firaun dengan bahasa yang lembut. Fithrahnya manusia tidak mau disalahin walaupun tempatnya salah dan masalah. Penyampaian yang bilhikmah akan merasuk dalam jiwa ketimbang debat tak ada ujung.Gimana frenz…?

Kangen banget nulis di tempat ini, pengin dengar pendapat dari teman2 semua, Kapan kita akan mulai diskusi lagi disini?

I have to point out my affection for your kind-heartedness giving support to those individuals that need help with in this situation. Your special commitment to getting the message all through has been exceedingly invaluable and has all the time allowed employees like me to arrive at their endeavors. Your own insightful guideline entails this much a person like me and much more to my office colleagues. With thanks; from everyone of us.

Apple now has Rhapsody as an app, which is a great start, but it is currently hampered by the inability to store locally on your iPod, and has a dismal 64kbps bit rate. If this changes, then it will somewhat negate this advantage for the Zune, but the 10 songs per month will still be a big plus in Zune Pass’ favor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Shalawat

Al Qur’an Online

Tawassul

Pengunjung

  • 608,256 Pembaca Setia

اهلا وسهلا بحضوركم

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kebenaran datangnya dari Alloh SWT, kesalahan datangnya dari kelemahan diri saya pribadi. Jika ingin copy-paste silakan. Mohon masukan dan tegur sapa serta do'akan semoga tetap istiqomah di jalanNYA. Amien

Terima kasih atas kunjungan Anda

Allah exists without a place!

Sahabat Ali Ibn Abi Thalib berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir." Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sahabat Ali Ibn Abi Thalib menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah SWT) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,017 other followers

December 2008
M T W T F S S
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Twitter

Follow me

Shalawat

  1. preview.mp3
  2. M%2BArifin%2BIlham%2B-%2BYa%2BNabi%2BSalam%2BAlaika.mp3



Asas

Page Rank

Online

tracker

My 4shared

%d bloggers like this: