Sekedar Catatan

Jangan Membentak Anak

Posted on: March 2, 2009

“Bid…ayo mandi! Disuruh mandi saja kok malas amat!” bentak ibu Abid (7) seraya menyeret paksa anaknya yang sedang asyik bermain. “Fatma…jangan dekati kompor itu! Bahaya, tahu!” Bentak ayah Fatma yang memergoki putrinya (2) sedang mengutak-atik kompor minyak. Ketika bocah kecil itu menangis mendengar bentakan ayahnya, sang ayah malah kembali membentak, “Heh…diam!” Si kecil pun semakin ketakutan.
Membentak anak, sepertinya sudah menjadi kebiasaan sebagian orang tua. Saat melihat anak melakukan kesalahan, atau ketidakpatuhan, orang tua memang sering dibuat jengkel. Secara refleks, karena emosi, orang tua sering bermaksud ‘menasihati’, tapi diucapkan dengan nada tinggi. Kebiasaan ini juga lebih sering dilakukan oleh orang tua yang temperamental. Pertanyaannya, efektifkah menasihati anak dengan bentakan? Tentu tidak, sebab kalau anak terlalu sering dibentak, maka ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang minder, tertutup, bahkan pemberontak. Ia pun bisa menjadi temperamental dan meniru kebiasaan orang tuanya, suka membentak. Dalam Nikah edisi Juni 2006 sudah dibahas cara menasihati anak secara efektif (Menegur Perilaku, Menghargai Pelaku). Pada edisi kali ini, akan dipaparkan beberapa akibat bila anak terlalu sering menerima bentakan. Selain itu, akan dibahas pula bagaimana kiat menumbuhkan kepatuhan.

SALAH KAPRAH ORANG TUA
Seringkali orang tua baru bertindak ketika kesalahan telah dilakukan oleh anak. Bukan mencegah, mengarahkan, dan membimbing sebelum kesalahan terjadi. Seharusnya orang tua mempertimbangkan tingkat perkembangan kejiwaan anak, sebelum membuat aturan. Jangan menyamakan anak dengan orang dewasa. Orang tua hendaknya menyadari bahwa dunia anak jauh berbeda dengan orang dewasa. Jadi, ketika menetapkan apakah perilaku anak dinilai salah atau benar, patuh atau melanggar, jangan pernah menggunakan tolok ukur orang dewasa. Harus diakui, orang tua yang habis kesabarannya sering membentak dengan kata-kata yang keras bila anak-anak menumpahkan susu di lantai, terlambat mandi, mengotori dinding dengan kaki, atau membanting pintu. Sikap orang tua tersebut seperti polisi menghadapi penjahat. Sebaliknya, orang tua sering lupa untuk memberikan perhatian positif ketika anak mandi tepat waktu, menghabiskan susu dan makanannya, serta memberesi mainannya. Padahal seharusnya, antara perhatian positif dengan perhatian negatif harus seimbang.

PENGARUH TERHADAP ANAK
Anak-anak yang sering diberi perhatian negatif, apalagi dengan teguran keras atau bentakan, akan mudah tertekan jiwanya. Kemungkinan ia bisa berkembang menjadi anak yang:

– Minder
Bila anak selalu dicela dan dibentak, dan tak pernah menerima perhatian positif saat ia melakukan kebaikan, maka ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri atau minder. Akan tertanam dalam jiwanya bahwa ia hanyalah anak yang selalu melakukan kesalahan, tidak pernah bisa berbuat kebaikan atau menyenangkan orang lain. Akibatnya, ia sering ragu-ragu atau tidak percaya diri untuk melakukan atau mencoba sesuatu karena takut salah. Misalnya, ia jadi tidak pede untuk mengaji atau membaca Al-Quran, gara-gara orang tuanya selalu membentaknya bila mendengar bacaannya salah.

-Cuek/ tidak peduli
Anak yang selalu dibentak juga bisa berkembang menjadi anak yang cuek dan tidak peduli. Akibat sudah terlalu sering menerima bentakan, ia malah jadi apatis, tidak peduli. Ia pun sering mengabaikan nasihat orang tuanya. Mungkin saat dibentak atau dimarahi ia terlihat diam mendengarkan, tapi sesungguhnya kata-kata orang tuanya hanya dia anggap angin lalu. Masuk ke telinga kanan lalu keluar lewat telinga kiri.

– Tertutup
Orang tua yang temperamental dan suka membentak, tentu akan menakutkan bagi anak. Ya, anak menjadi takut pada orang tuanya sendiri, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. Ia tak pernah mau berbagi cerita dengan orang tuanya. Buat apa berbagi kalau nanti ujung-ujungnya ia akan disalahkan? Dengan demikian, komunikasi antara orang tua dan anak tidak bisa berjalan lancar. Hal ini tentu berbahaya, karena bila menghadapi masalah dan hanya disimpan sendiri, jiwa anak bisa sangat tertekan.

– Pemberontak/ penentang
Anak yang bersikap menentang bisa digolongkan dalam 3 tipe. Pertama, tipe penentang aktif. Mereka menjadi anak yang keras kepala, suka membantah dan membangkang apa saja kehendak orang tua. Mereka marah karena merasa tidak dihargai oleh orang tua. Untuk melawan jelas tak bisa, karena ia hanya seorang anak kecil. Maka ia pun berusaha menyakiti hati orang tuanya. Ia akan senang bila melihat orang tuanya jengkel dan marah karena ulahnya. Semakin bertambah emosi orang tua, semakin senanglah ia. Kedua, tipe penentang dengan cara halus. Anak-anak ini jika diperintah memilih sikap diam, tapi tidak juga memenuhi perintah. Sebagaimana Abid yang disuruh mandi oleh ibunya, tapi tak juga mau beranjak dari tempatnya bermain. Saat ia ditinggalkan sendiri di kamar mandi pun, ia tidak segera mandi, malah bermain air atau kapal-kapalan. Ketiga, tipe selalu terlambat. Anak seperti ini baru mengerjakan suatu perintah setelah terlebih dahulu melihat orang tuanya jengkel, marah, dan mengomel atau membentak-bentak karena kemalasannya.. Misalnya Angga yang belum mau beranjak dari tempat tidurnya bila belum dibentak atau diomeli ibunya.

– Pemarah, temperamental dan suka membentak
Anak sering meniru sikap orang tuanya. Bila orang tua suka marah atau ‘main bentak’ karena sebab-sebab sepele, maka anak pun bisa berbuat hal yang sama. Jangan heran bila anak yang diperlakukan demikian, akan berlaku seperti itu terhadap adiknya atau teman-temannya.

BAGAIMANA MENUMBUHKAN KEPATUHAN?
Setelah jelas bila bentakan tidak efektif untuk menumbuhkan kepatuhan, bahkan berpengaruh negatif bagi kepribadian anak, lalu bagaimanakah cara yang baik untuk menumbuhkan kepatuhan?

– Beri penjelasan pada anak
Jelaskan pada anak dengan bahasa yang ia mengerti, mengapa suatu hal diperintahkan dan hal lain dilarang. Jangan sekali-sekali memberi keterangan dusta dalam hal ini.

– Perintahkan sebatas kemampuannya
Perintah di luar kesanggupan dan kemampuan anak justru bisa menyebabkan krisis syaraf (neurotic) dan buruk perangai. Ada pepatah mengatakan, “Jika engkau ingin ditaati, maka perintahkanlah apa yang dapat dipenuhi.” Sebaiknya perintah itu dibagi-bagi dan tuntutan pelaksanaannya pun bertahap. Untuk mengetahui sampai di mana batas kemampuan anak sesuai perkembangan usianya, diperlukan pengetahuan tersendiri. Sebaiknya orang tua memahami perkembangan anak ini.

– Tidak berdusta atau menakut-nakuti
Kadang orang tua mengatakan akan membelikan ini atau itu jika anak mematuhi perintahnya, tapi ternyata setelah anak patuh, orang tua tidak menepati janjinya. Itu berarti orang tua berdusta, dan bisa jadi anak tidak akan percaya lagi pada orang tuanya. Kedustaan seperti ini harus dihindari. Selain itu, orang tua juga sering menakut-nakuti anak dengan sesuatu yang seharusnya berguna baginya. Itu dilakukan karena ingin anaknya segera memenuhi perintah mereka. Misalnya menakut-nakuti anak dengan dokter, suntikan dan sebagainya. Ketakutan anak pada hal-hal tersebut bisa terbawa hingga ia dewasa.

– Jangan bertentangan dengan naluri anak
Gharizah atau naluri adalah kekuatan terpendam dalam diri manusia yang mendorongnya untuk melakukan beberapa pekerjaan tanpa berlatih terlebih dahulu. Janganlah orang tua melarang anak bermain, atau membongkar dan memasang sesuatu. Jangan pula melanggar kebiasaan anak kalau tidak ingin mereka menggunakan jerit tangis sebagai senjatanya. Lebih baik gharizah itu diarahkan sedemikian rupa sehingga anak bisa mengatur dirinya sendiri. Misalkan diberi perintah, “TPA nanti mulai ba’da asar lho, sekarang kan udah setengah tiga. Adik udah aja ya mainnya, dilanjutin besok aja, sekarang mandi dulu, kan udah mau adzan…”. Ungkapan itu tidak melarang anak bermain, dan tidak melanggar kebiasaan mereka bermain di tengah hari. Pemberian ‘masa terbatas’ ini dimaksudkan agar anak bisa mengatur jadwal kegiatannya sendiri, dan akan sangat menolong untuk melatih anak disiplin waktu. Selain itu mereka merasa dianggap mampu untuk mengatur dirinya sendiri tanpa harus didikte begini dan begitu.

19 Responses to "Jangan Membentak Anak"

Just dropping by.Btw, you website have great content!

______________________________
Unlimited 24/7 Movie Downloads!!! No time limits, no bandwidth limits, no content limits!!!

bagus, bs mengerti & mengenal karakter anak.

Tks banget…aku banyak dapet informasi berharga dari forum ini..mudah2an kedepannya aku bisa jadi orang tua yang lebih baik

Mohon maaf, tiga postingan dari salah satu pembaca bersifat iklan pribadi saya hapus. Tempat ini bukan untuk promosi pribadi. Terima kasih atas perhatiannya.

Thanks artikelnya Saad. Memang tidak mudah utk mendidik anak, perlu kesabaran yg tinggi, pengertian dan kompromis. Jangan lupa juga pujian, ciuman, belaian dr orang tua sangat perlu untuk menumbuhkan kasih sayang dan kepercayaan diri mereka jika mereka tidak melakukan kesalahan.

Betul Da. Kalo belaian, pujian, ciuman bukan cuma anaknya yang perlu. Papa-nya juga. he he he

Kalo itu sih number one yaa biar cinta teyuus🙂

Kadang menjadi orang tua tidak gampang. Tidak ada gelar kesarjanaan, bachelor, profesor dsb yang harus dimiliki sebelum menjadi orang tua. Kebanyakan orang tua mendidik anak sesuai naluri mereka. Tapi, apakah benar bisa mendidik anak tanpa berteriak dan membentak anak?

Situasi sehari-hari spt: membereskan kamar, menyikat gigi, berangkat tidur dan menonton TV kadang sulit dijalankan dengan harmonis. Orang tua sebenarnya bisa belajar cara positiv mendidik anak. Pertama harus jelas siapa yang mendidik dan siapa yang dididik. Apakah orang tua yang mendididk anak atau sebaliknya anak yang mendididk orang tua.
Anak-anak meniru semua yang dilakukan orang tuanya. Seorang ibu yang membentak anak akan dibentak oleh anaknya. Seorang ayah yang merendahkan anaknya akan direndahkan oleh anaknya. Kesalahan terbesar yang dilakukan orang tua adalah memotivasi perangai jelek anak tanpa disadari. Sering kali sangsi, ancaman atau makian hanya mengakibatkan feed back yang tak diinginkan orang tua dari anaknya. Anak-anak dilatih untuk menjadi agresiv. Contoh: Seorang anak ingin makan sepotong kue. Ibu bilang tidak. Anak merengek. Ibu tetap diam. Anak mulai menangis. Ibu tetap bersiteguh. Anak berguling-guling di lantai sambil menangis yang dilanjutkan dengan berteriak-teriak. Setelah semua situasi meninggi, ada ibu yang akhirnya memberikan sepotong kue kepada si anak karena tidak tahan mendengar tagisan anak. Dengan demikian si anak belajar dengan mengeluarkan keagresivan akan meraih apa yang diinginkannya.

Yang penting adalah keseimbangan antara konsekuen dan dukungan yang positiv. Jika orang tua memberikan kasih sayangnya, aturan yang jelas dan konsekuen akan menunjang kepribadian dan kerativitas anak.

Kesimpulan: PENUH KASIH SAYANG TAPI KONSEKUENT:

Besyukurlah bahwa kita telah diberi kesempatan untuk menjadi orang tua, karena tidak semua manusia dapat menikmati anugrah dan karunia ini.

Walaupun praktek tidak semudah teori, tapi marilah kita mencoba menjalankan tugas kita sebagai orang tua dengan sebaik mungkin.

Zitat:
Wer sagt, es gibt sieben Wunder auf dieser Welt, hat noch nie die Geburt eines Kindes erlebt.
Wer sagt, Reichtum ist alles, hat nie ein Kind lächeln gesehen
Wer sagt, diese Welt sei nicht mehr zu retten, hat vergessen, dass Kinder Hoffnung bedeuten.
Wir sind stolz und überglücklich uns für Dich entschieden zu haben.

Danke.

Gue seneng dengan yang ini :

Wer sagt, es gibt sieben Wunder auf dieser Welt, hat noch nie die Geburt eines Kindes erlebt.
Wer sagt, Reichtum ist alles, hat nie ein Kind lächeln gesehen
Wer sagt, diese Welt sei nicht mehr zu retten, hat vergessen, dass Kinder Hoffnung bedeuten.
Wir sind stolz und überglücklich uns für Dich entschieden zu haben.

Thanks Uti

Sebagai Orang Tua kita butuh sabar dalam mengambil sesuatu tindakan ke Anak.

Wassalam

betul Yan. Sabar itu mudah diucapkan tapi berat dalam pelaksanaan. Semoga kita diberi kemudahan oleh Alloh untuk menjadi manusia yang sabar. Amien

saat belum nikah dan punya anak begitumudah kita bilang sabar, bahkan seakan-akan kita seperti orang suci didepan orang yang tidak sabar (dalam mendidik anak), kini kesabaranku diuji oleh anak. ah bagiku anak anugrah terindah, jadikan aja sebagai hiburan, dan didik dengan naluri kasih sayang. meski sabar sulit dipraktikkan, saya setuju pada mas ahmad lukman, senantiasalah minta pertolongan pada Alloh.

Alhamdulillah, walau orang tua ku petani dan tinggal di desa dipelosok wilayah Banyumas, seingetku beliau tidak pernah membentak putra putrinya yang jumlahnya 8(kandung) dan 2 (adopsi)

haduh harus extra sabarnya…latihan ga’ membentak anak…semoga aku BISA Aminn

hi,
nice artikel. saya jadi malu sama anak. soalnya tanpa sadar emg suka ngebentak, padahal niatnya mah baik. ternyata niat baik aja ga cukup ya😀

tengkyu artikelnya,

Posting bagus. Memang mendidik anak usia dini itu tidak mudah sesai posting saya di http://skbjepara.wordpress.com. Salam kenal

Terima kasih kunjungannya pak. Saya dah mampir di blog panjenengan. Blognya bagus dan kreatif. Tks

Setuju banget,cz bapakku juga dr dulu suka bentak2 q tiap salah,sekarang q jd suka minder,ma gak suka cerita tentang masalah2q kesiapapun,cz menurutq diam lbh baik,,

aku juga ngalami karena orang tua suka bentak perkembangan psikisku labil jadi pendiam n pemarah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Shalawat

Al Qur’an Online

Tawassul

Pengunjung

  • 608,256 Pembaca Setia

اهلا وسهلا بحضوركم

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kebenaran datangnya dari Alloh SWT, kesalahan datangnya dari kelemahan diri saya pribadi. Jika ingin copy-paste silakan. Mohon masukan dan tegur sapa serta do'akan semoga tetap istiqomah di jalanNYA. Amien

Terima kasih atas kunjungan Anda

Allah exists without a place!

Sahabat Ali Ibn Abi Thalib berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir." Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sahabat Ali Ibn Abi Thalib menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah SWT) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,017 other followers

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Twitter

Follow me

Shalawat

  1. preview.mp3
  2. M%2BArifin%2BIlham%2B-%2BYa%2BNabi%2BSalam%2BAlaika.mp3



Asas

Page Rank

Online

tracker

My 4shared

%d bloggers like this: