Sekedar Catatan

Ibnu Taymiyah

Posted on: April 27, 2009

Menarik membaca dan membahas tentang pemikiran Salafi Wahabi. Berbicara tentang ajaran yang menjadi mazhab resmi kerajaan Saudi kita tak lepas dari ulama yang menjadi rujukan mereka, Ibnu Taymiyah al Harrani. Berikut satu artikel menarik tentang pandangan ulama Ahlus Sunnah tentang beliau yang saya dapat dari blog pak Qitori. Ibnu Taymiyah dipuji sebagai ulama yang teguh pendirian bahkan mendapat gelar syaikhul Islam dari para pembelanya. Namun beliau mendapat catatan khusus dari para Ulama Ahlus Sunnah utamanya tentang pandangan beliau tentang Tauhid dan ‘ketidakadilan’ terhadap sahabat sekaligus menantu Rasululloh SAW, Ali bin Abi Thalib r.a

Bukti-Bukti Kemunafikan Ibnu Taymiyah Di Mata para Ulama Ahlussunnah (Bagian I)

Ibn Taymiyah yang kita ketahui merupakan salah seorang tokoh yang dipuja-puja kaum Wahaby-Salafy ternyata di mata para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah seorang munafik dengan bukti-bukti sbb:

1. Al-Durar al-Kaamina fi A`yaan al-Mi’at al-Tsaamina, karya Ibn Hajar al-`Asqalani yang membongkar asal-usul, akidah dan pemikiran Ibn Taymiyah yang jauh menyimpang dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Cet. Hydrrabad: Daa’irat Al-Ma`aarif al-`Utsmaaniyyah, 1384 H, Jil. 1, hlm. 153-155)

“Ulama-ulama lainnya bahkan menganggap dia (Ibn Taymiyah) adalah seorang munafik, karena dia telah mengatakan bahwa “Ali (bin Abi Thalib) telah diabaikan (madkhûlan) kemanapun dia pergi. Dia (Ali bin Abi Thalib) berkai-kali mencoba untuk memperoleh kekhalifahan namun tak pernah mendapatkannya.”

Ibn Taymiyah bahkan dengan jelas telah mengatakan bahwa “Dia (Ali bin Abi Thalib) mencintai kedudukan (sangat menginginkan kekhalifahan), sebagaimana Utsman (bin Affan) mencintai uang.”

Dia juga mengatakan bahwa, “Abu Bakar menyatakan keislamannya dengan kesadaran penuh karena dia (Abu Bakar) sudah tua (dewasa) sedangkan Ali (bin Abi Thalib) masih kecil (belum baligh) ketika menyatakan keislamannya, dan keislaman anak-anak belumlah memiliki arti sama sekali.”

Ibn Taymiyah mengatakan : “Sebelum Allah Swt mengutus Muhammad sebagai Rasul tak seorang pun ada orang beriman di kalangan orang-orang Quraisy. Mereka semua menyembah berhala, termasuk anak-anak. Jika seseorang bisa menyimpulkan bahwa tidak sama kekufuran orang dewasa dengan kekufuran anak kecil maka tentu saja iman orang dewasa (Abu Bakar) berbeda dengan iman anak-anak (Ali bin Ab Thalib).”

Jika anda tidak percaya lihat dan baca kitabnya yang menjadi pegangan kaum Wahabi-Salafy : Minhaj al-Sunnah Jilid 8 halaman 285!

Laki-laki dungu ini juga mengatakan bahwa hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pntunya.” sebagai hadis palsu!

Padahal kitab-kitab hadis ahlus sunnah yang meriwayatakan hadis tersebut dengan komentar bahwa hadis tersebut adalah : shahih! [1]

Ibn Taymiyah menambahkan bahwa “Muadz bin Jabal lebih mengetahui halal dan haram ketimbang Ali bin Abi Thalib.”

Ucapan-ucapan kebenciannya kepada Ali ini tertera di dalam kitabnya yang menjadi rujukan kaum Wahaby-Salafy : Minhaj al-Sunnah, Jil. 7, hlm. 513-515.

Padahal banyak ulama Ahlus Sunnah yang mengetahui bahwa Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan : “Wahai manusia! Tanyakanlah apa pun kepadaku selama aku masih berada di antara kalian!” Sahabat Nabi, Said al-Musayyab mengeomentari kata-kata ini bahwa tak seorang sahabat pun yang berani membuat tantangan seperti ini kecuali Ali!” [2]

Pernah dua orang laki-laki datang kepada Khalifah Umar bin Khatab untuk bertanya tentang hukum istri yang berstatus hamba sahaya (amatun). Sang Khalifah tidak menjawab. Dia berdiri dari tempatnya dan mengajak kedua orang ini pergi bersamanya ke Masjid.

Dalam sebuah halaqah inilah, tampak seorang yang berkepala botak tengah mengajar di sana.

“Bagaimana pendapat anda tentang hukum mentalaq amatun?” tanya sang khalifah kepadanya. Sang, guru halaqah ini hanya memberi isyarat dengan mengangkat jari telunjuk dan tengahnya saja.

“Diperlukan 2 kali bersuci untuk memelihara waktu ‘iddah-nya”, kata Umar menerjemahkan kepada 2 orang penanya yang ikut bersamanya.

“Subhanallah! Kami datang untuk bertanya kepadamu selaku Amirul Mukminin, namun anda mencari jawaban dari orang ini,” protes mereka.

“Tahukah anda siapa orang itu?” kata Umar mencoba menenangkan.

“Dia adalah Ali bin Abi Thalib. Aku pernah menyaksikan Rasulullah (Saw) berkata tentangnya:

“Sungguh, seandainya 7 lapis langit dan bumi diletakkan di satu sisi timbangan dan Ali di sisi yang lain, pasti Ali akan lebih berat dari langit dan bumi itu.” [2b]

Bukan hanya khalifah Umar. Sahabat-sahabat lainnya juga pernah memberikan kesaksian serupa. Ummul Mukminin A’isyah juga pernah berkata: “Ali adalah orang yang paling paham tentang sunnah Nabi.”. [2c]

Abdullah bin Abbas juga diriwayatkan berkata: “Dibandingkan ilmuku dan ilmu para sahabat yang lain dengan ilmu Ali bin Abi Thalib perbandingannya seperti setetes air dengan 7 samudra lepas.” [2d]

Abdullah bin Mas’ud juga diriwayatkan pernah berkata: “Ilmu hikmah terbagi ke dalam 10 bagian. Ali telah dianugerahi Allah 9 bagiannya, dan manusia lain 1 bagian saja. Dalam 1 bagian yang tersisa itu Ali adalah yang paling arif.” [2e]

Dari pernyataan-pernyataannya Ibn Taymiyah inilah – kata Ibn Hajar al-Asqalani – para ulama menyimpukkan bahwa dia (Ibn Taymiyah) adalah seorang munafik berdasarkan hadis Nabi Saw kepada Ali bin Abi Thalib : “Hanya orang munafik yang membencimu.”

Kita juga mengingat banyak sekali hadis-hadis Rasulullah Saw yang serupa seperti yang telah dikatakan oleh Ibn Hajar al-Asqalani ini, sebut saja :

* Salah satu hadis sahih dari Nabi Saw yang keshahihannya tak diragukan oleh para pakar hadis. Diriwayatkan oleh para sahabat seperti ‘Abdullah ibn ‘Abbas, ‘Imran ibn al-Husain, Ummul Mukminin Ummu Salamah ra dan lain-lain, serta Imam Ali bin Abi Thalib as sendiri mengatakan :

“Demi Dia yang membelah benih dan menciptakan jiwa, sesungguhnya Rasulullah (Saw) memberikan kepada saya suatu janji bahwa tak seorang pun selain mukmin akan mencintai saya, dan tak seorang pun selain orang munafik akan membenci saya.” [3]

** Karena itulah para sahabat Nabi biasa menguji keimanan atau kemunafikan kaum Muslim melalui kecintaan dan kebencian mereka kepada Ali bin Abi Thalib, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Dzarr al-Ghifari, Abu Said al-Khudri, ‘Abdulldh ibn Masud dan Jabir ibn ‘Abdullah, bahwa:

“Kami (para sahabat Nabi) biasa membedakan orang munafik dengan kebencian mereka kepada ‘Ali ibn Abi Thalib.” [4]

Karena banyak bukti kebencian Ibn Taymiyah terhadap Imam Ali bin Abi Thalib inilah maka:

2. Ibn Hajar di dalam kitabnya Fatawa al Haditsah hlm. 86 mengatakan tentang Ibn Taymiyah:

“Ibn Taymiyah adalah orang yang semoga Allah menghinakannya, membiarkan dia dalam kesesatan, membutakan dan membisukannya!”

3. Muhammad Syaukani, di dalam kitabnya Al-Badr al-Tsalai, Jil. 1, hlm .67 menyatakan bahwa Ibn Makhluf telah memfatwakan bahwa jika tidak dihukum mati paling tidak Ibn Taymiyah mesti dipenjara seumur hidup!

Masih banyak fatwa-fatwa yang cukup tegas dari para ulama Ahlus Sunnah atas kemunafikan Ibn Taymiyah ini yang tidak seluruhnya saya ungkap di sini.

4. Ada 40 ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menyatakan kekufuran Ibn Taymiyah yang antara lain adalah : Muhammad bin Ibrahim Shaafi, Muhammad bin Abu Bakr al-Maliki, Muhammad bin Abu Bakr Jarir Anshari al-Hanafi, Abdullah bin Umar Muqaddis al-Hanbali.

Pernyataan 40 ulama ini dinyatakan di Suriah bahwa jika seseorang menyebarkan paham Ibn Taymiyah ini maka dia harus dihukum mati. Pernyataan ini bisa anda baca di dalam kitab : Durar al-Kamina karya Ibn Hajar al-Asqalani Jil. 1 hlm. 147.

5. Syekh Alauddin Bukhari al-Hanafi juga berfatwa : “Siapa pun yang menganggap Ibn Taymiyah sebagai Syaikhul Islam maka dia telah menjadi kafir!”

Lihat dan baca kitabnya yang termasyhur : Tadzkirah al-Huffazh hlm. 316, Cet. Damaskus.

6. Syekh Zainuddin bin Rajab al-Hanbali juga mencatat apa yang diungkapkan Syekh Alauddin di dalam kitab Anwar al-Bari Jil. 11 :192 [Multan].

Yang ingin saya garis bawahi tentang fatwa-fatwa ini adalah bahwa bukan keinginan saya untuk mengkafirkan apalagi memvonis hukuman mati bagi orang ini – toh orang ini sudah sedang mempertanggungjawabkan amal buruknya di alam barzakh –, akan tetapi poin yang ingin saya sampaikan adalah agar khalayak bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini mengetahui siapa sebenarnya Ibn Taymiyah di dalam pandangan para ulama Ahlus Sunnah. Karena sudah sedemikian banyak buku-buku Ibn Taymiyah yang beredar di sini atas prakarsa Kerajaan Saudi Arabia yang kita tahu bersekte Wahaby. Inilah kepentingan saya menyampaikan semua bukti-bukti penyimpangan pemikiran Ibn Taymiyah yang dianggap sebagai Syekh al-Islam oleh pengikut sekte Wahaby. Pada bagian selanjutnya saya akan buktikan betapa masih banyak pemikiran lelaki ini yang jauh menyimpang dari ajaran-ajaran Islam yang dianut oleh kaum Muslim Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Insya Allah!

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

(Bersambung)

Catatan Kaki :

* kata madkhul juga bisa berarti : orang yang tidak waras pikirannya (gila). Lihat Kamus al-Munawir, hlm. 424, Cet. 1984.

[1] – Shahih al-Tirmidzi, Jil. 5, hlm. 201, 637;

– Al-Mustadrak al-Hakim, Jil. 3, hlm. 126-127,226, hadis ini diriwayatkan oleh dua sahabat terpercaya : Abdullah bin Abbas dan Jabir bin Abdullah al-Anshari yang keduanya mengatakan bahwa hadis ini shahih;

– Fadha’il al-Shahaba li Ahmad Ibn Hanbal, Jil. 2, hlm. 635, hadis no. 1081;

– Jami’ al-Shaghir li Jalaluddin al-Suyuthi, Jil. 1, hlm. 107,374; Suyuthi mengatakan bahwa hadis ini Hasan;

– Al-Isti’ab li Ibn Abd al-Barr, Jil. 3, hlm. 38; dan jil. 2, hlm. 461;

– Kanz al-Ummal li al-Hindi al-Muttaqi, Jil. 15, hlm. 13, hadis no. 348-379;

– Al-Sawa’iq al-Muhriqah li Ibn Hajar al-Haytsami, Bab 9, bagian ke:2, hlm. 189;

[2] Lihat : Fadha’il al-Shahabah li Ahmad Ibn Hanbal, Jil. 2, hlm. 647, hadis no. 1098;

– Al-Ishabah li Ibn Hajar al-Asqalani, Jil. 2, hlm. 509;

– Al-Sawa’iq al-Muhriqah li Ibn Hajar Haytsami, Bab. 9, bagian 3, hlm. 196;

– Al-Faqih wal Mutafaqih, li al-Khatib al-Baghdadi, Jil. 2, hlm. 167;

– Tarikh al-Khulafaa li Jalaluddin Suyuthi, hlm. 171.

[2b] Riwayat di atas dilaporkan oleh Daraquthm dan Ibnu Asakir, 2 hafiz hadits yang sangat ternama. Juga dilaporkan oleh Al-Kunji, Thabari, Saftiri dan banyak lagi yang lain. Sanad haditsnya sangat terpercaya. Tetapi kita tidak akan membahasnya di sini. Redaksinya juga sangat istimewa di mana khalifah Umar bin Khattab mengakui secara jujur akan tingkat keilmuan Ali bin Abi Thalib yang sedemikian tinggi dibandingkan sahabat-sahabat lainnya.

[2c] Ibn Hajar Haitsamy, Al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 76

[2d] Ahmad Zaini Dahlan dalam kitabnya Futhat al-Islamiyyah 11: 337

– Abu Nu’aym al-Isfahany, Hilyah al-Awliya’, hlm. 65

[2e] Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal Jil. 5 hlm 156.

[3] – Lihat Shahih Muslim, I :60; Di dalam kitabnya tersebut, Muslim memandang cinta kepada ‘Ali sebagai suatu unsur keimanan dan merupakan salah satu tandanya; dan kebencian kepada `Ali sebagai tanda menyembunyikan kebenaran.

– Al-Jami’ al-Shahih, 5 : 653, 643;

– Sunan Ibn Majah, 1 : 55;

– Sunan Al-Nasa’i, 8 : 115-117;

– Musnad Ahmad ibn Hanbal, Jil. 1 : 84, 95, 128; pada Jil 6 : 292;

– Abu Hatim, ‘Illal al-Hadits, 2 : 400;

– Ibn Atsir, Jami’ al-Ushûl, 9: 473;

– Majma’ Al-Zawa’id, 9: 133;

– Ibn al-Maghazili, Manaqib ‘Ali ibn Abi Thalib, h. 190-195;

– Al-Isti’ab, 3: 1100;

– Asad al-Ghabah, 4 : 26;

– al-Ishabah, 2 : 509;

– Tarikh Baghdad lil Khathib, 2: 255; dan Jil. 8: hlm. 417; Jil. 14 : hlm. 426;

– Tarikh Ibn Katsir, 7 : 354

[4] – Tirmidzi 5 : 635;

– Al-Mustadrak Al-Hakim 3: 129;

– Hilyah al-Aulia 6: 294;

– Majma’ al-Zawa’id, 9: 132-133;

– Jami’ al-Ushul, 9: 473;

– Al-Durr al-Mantsur li al-Suyuthi 6: 66-67;

– Tarikh al-Baghdad, 8: 153;

– Al-Riyadh al-Nadhirah 2: 2143-215;

– Al-lsti’ab, 3: 1110;

– Asad al-Ghilbah, 4: 29-30

53 Responses to "Ibnu Taymiyah"

Tapi sayangnya paham Salafi (Neo Wahabi) malah justru lagi NAIK DAUN di negeri Indonesia….

saya juga seperti Anda!Ibnu Taimiyah itu mensifati Allah dengan Sifat Makhluk dan itu adalah Akidah kebliger yang nyata tapi digandrungi

Terima kasih Sharingnya dan sungguh saya senang sekali membacanya!

Salam ‘alaik ya Shohibi!

saudaraku…kita harus TABAYYUN/PERIKSA DG TELITI ketika kita mendengar sebuah berita apalagi berita tentang ulama besar, jgnlah kita menjeruskan diri dalam perkara yg sangat BERBAHAYA yaitu menfitnah ulama

seharusnya sikap kita agar tak terpancing berita fitnah adalah:
1. tdk semua berita hrs kt dengar dan kt baca khususnya yg membahas AIB dan membahayakan pikiran
2. tdk trburu2 dlm menanggapi brt, akan tetapi periksa dg teliti dan pelan2 dlm penelusuran krn Rosulloh saw bersabda ” Pelan2 itu dr Alloh sedangkan trburu2 itu dr syetan “( musnad Abu Ya’la 7/247 ) dan Hasan Al basri berkata ” Orang mukmin itu pelan2 sehingga jelas perkaranya ”
3. hendaknya waspada menanggapi berita pelecehan Ulama Sunnah. Karena Alloh berfirman ” Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah ” QS;al-Hujurot;6
4. jauhilah berita yg bersumber dari penghibah dan pemfitnah.

sebagai penyeimbang tulisan diatas coba anda bandingkan dengan bantahan2 di blog dibawah ini, selanjutnya kita bandingkan keilmihannya.

http://syaikhulislam.wordpress.com/2009/11/18/ali-dimata-ibnu-taimiyah/

http://syaikhulislam.wordpress.com/2009/07/22/pujian-ibnu-hajar-al-atsqalani-kepada-ibnu-taimiyah/

http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/03/03/ibnu-taimiyah-dikafirkan-ibnu-hajar-meradang/

http://syaikhulislam.wordpress.com/2009/07/31/hukum-safar-untuk-menziarahi-kubur-nabi-shollallahu-alaihi-wasallam/

http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/07/02/506/

http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/05/12/tazkiratul-huffaz-al-imam-al-zahabi_serial-biografi-ibnu-taimiyah-i/

http://syaikhulislam.wordpress.com/2009/07/15/ulama-ulama-yang-menjuluki-ibnu-taimiyah-syaikhul-islam/

semoga bermanfaat….

Akidah Ibnu Taimiyah banyak yang menyimpang dari Agama dan benar sekali kalau Ulama Ahli Sunnah itu menganggap dia Muna!

salam kenal Akhi……..terima kasih sharingnya!

jika anda membaca buku-buku yang dikarang ibnu Taimiyah tentu engkau akan tau yang sebenarnya,islam telah mengajarkan kita untuk membuktikan sesuatu itu dengan kapastian yang kita lihat dan bertanya apakah berita ini benar apa palsu,dan hendaklah kita menanyakan bukti-bukti tentang itu jika tidak terbukti maka berita itu tertolak,bukankah rosulullah bersabda :barang siapa yang mengada-ada yang berita itu bukan dari kami maka berita itu tertolak(mutafaqun `alaih)

Karena Anda telah membaca hasil karya IT, apa pendapat Anda terhadap pendapat IT mengenai imam Ali karromallohu wajhah? Jika Anda setuju dengannya, maka saya turut menyaksikan sabda Rasul bahwa yg membenci imam Ali adalah golongan munafik. Allohu al musta’aan

Bismillah Mencela Ulama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tapi pasang gambar muka …narsis…jangan lebay. saya jadi tahu ini yang mencela ulama memotong lihyahnya (janggut…) pake topi pet tasyabuh.

gak lucu akhi….mau tahu hujjah kenapa gambar/ photo di larang….afwan yaa kalo tersinggung…saling nasehat menasehati adalah rahmah..

“Demi massa, sesungguhnya manusia dalm keadaan merugi kecuali orang2 yg beriman dan beramal sholeh dan saling menasehati di atas ketaqwaan” (al ashr)

“Asy Syaikh Al Albany berkata:

Mereka yang membolehkan menggambar gambar potret, membatasi hanya kepada cara menggambar yang dulu ma’ruf di zaman ketika hal itu dilarang. Mereka tidak mengolongkan pada hukum menggambar, terhadap cara yang baru ini, berupa gambar potret, dalam keadaan proses tersebut dinamakan menggambar secara bahasa, syar’i, akibat dan bahayanya. Seperti halnya yang demikian akan jelas dengan memperhatikan akibat dari pembedaan yang tersebut di atas. Aku pernah berkata kepada salah satu dari mereka, beberapa tahun lalu, “kalau demikian itu, berarti Mengharuskan kalian untuk membolehkan patung-patung yang tidak dipahat, hanya dengan menekan tombol listrik yang bersambung dengan alat khusus, terproduksilah puluhan patung dalam waktu beberapa detik saja…Apa yang kalian katakan pada hal yang demikian ini? Maka diapun bungkam!” (Adabu Az Zifaf)”

“Beberapa fatwa dari Al Lajnah Ad Daimah:

Pertanyaan: “Apakah fotografi masuk dalam hukum menggambar dengan tangan atau tidak?”

Jawaban: “Perkataan yang shohih yang ditunjukkan oleh dalil-dalil syar’i, dan merupakan perkataan jumhur ulama adalah bahwasanya dalil-dalil pengharaman menggambar makhluk-makhluk yang bernyawa mencakup fotografi dan gambar tangan, 3 dimensi atau 2 dimensi karena keumuman dalil-dalil.

Pertanyaan: “Terdapat bentuk baru dalam menggambar yaitu apa yang kami saksikan di televisi dan video dan selainnya berupa fita film, dimana gambar seseorang seperti yang mereka katakan, nyata. Dan gambar bisa tersimpan padanya, dalam waktu yang lama. Apa hukum jenis yang seperti ini termasuk hukum menggambar?”

Jawaban: “Hukum menggambar mencakup apa yang engkau sebutkan tersebut” (5807)

Pertanyaan: “Apakah menggambar dengan menggunakan kamera video hukumnya termasuk dalam hukum gambar fotografi?”

Jawaban: “Ya, Hukum menggambar dengan video adalah hukum menggambar dengan fotografi, yaitu terlarang dan haram karena keumuman dalil-dalil.” (16259)

Bismillah Mencela Ulama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tapi pasang gambar muka …narsis…jangan lebay. saya jadi tahu ini yang mencela ulama memotong lihyahnya (janggut…) pake topi pet tasyabuh.

Loh kok ke Janggut dan topi? Ente pake komputer apa gak tasyabbuh? Ente pake mobil buatan kafir apa gak tasyabbuh?

gak lucu akhi….mau tahu hujjah kenapa gambar/ photo di larang….afwan yaa kalo tersinggung…saling nasehat menasehati adalah rahmah.

Sebaiknya nasihat antum buat introspeksi Wahhabi dan mara muqollidnya

Raja2 Wahhabi
Ada lukisan indah dalam ruang khusus menerima tamu resmi kenegaraan. Fatwa Albany apa tidak pernah sampai ke mereka, atau tidak berlaku bagi mereka? Oh ya mas, dalam kitab yang sama dengan yg antum sebutkan, Albany juga mengharamkan emas untuk wanita. Nah istri antum make gak? Kalo pake segera tanggalkan karena wajib taqlid dengan fatwa Albany.

Uang Wahhabi
Ini mata uang siapa ya?
Bandingkan dengan yang ini. Mana yang sunnah dan mana yg bid’ah?
Mata Uang Eropa

Sekarang lihat yang ini
US Dollars
Mana yang tasyabbuh?

Maka ambillah i’tibar wahai orang2 yg berakal…

saudara ikhsan. kita harus tabayun dalam menerima subuah berita, memang aqidah Ibnu Taimiyyah berbeda dengan ulama2 penentangnya, tapi bukan berarti banyaknya penentang berarti diatas kesesatan. sebaigai contoh ;

1. imam Ahmad bin Hambal pada jamannya, nasibnya sama persis Ibnu Taimiyyah pada jamannya yaitu dipenjara demi memperjuangkan sunnah

2. Nabi kita sendiri yang dianggap menyalahi akidah mayoritas manusia, dimusuhi dan dikejar2.

sebagai penyeimbang berita bacalah blog dibawah ini agar kita tidak terjebak perkara yg besar yaitu MEMFITNAH ULAMA, juga sebagai pembanding aqidah yg benar

1. IBNU TAIMIYYAH DAN FITNAH :

http://syaikhulislam.wordpress.com/category/fitnah/

2. MAJMU FATAWA : ARAH (jihat) TERKAIT SIFAT ALLOH :

http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/03/11/majmu-fatawa-arah-jihat-terkait-sifat-allah/#more-105

3. DIMANA ALLOH ?? adalah salah satu aqidah Ibnu Taimiyyah yg dianggap menyimpang yang gembar gemborkan ABU SALAFI / SALAFI TOBAT di sini bantahannya :

http://www.firanda.com/index.php/home/31/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs

semoga informasi ini mengurangi manusia yang termakan fitnah untuk memfitnah ulama.

mas surya, jangan langsung percaya dengan suatu berita mas, apalagi ini menyangkut seorang ulama. manusia kalo tidak senang bisa menghalalkan segala cara. makanya kita jangan mengambil berita dari salah sutu pihak saja, kita juga harus merujuk dari kitab2 ulama yang tertuduh, apa iya memang begitu?

coba anda periksa di sini mas :

1. http://syaikhulislam.wordpress.com/category/fitnah/

2. http://syaikhulislam.wordpress.com/category/pembelaan-ulama/

3.http://syaikhulislam.wordpress.com/category/pembelaan/

4. http://syaikhulislam.wordpress.com/2009/11/18/ali-dimata-ibnu-taimiyah/

masih banyak artikel2 di blog itu yang bisa kita jadikan sumber untuk meneliti kebenaran berita berita tentang Ibnu Taimiyyah. semoga bermanfaat dan Alloh menjauhkan kita dari terjatuh dalam kubangan fitnah.

Cukup lah imam Ahlus Sunnah Taqiyuddin As Subki ra dan dibenarkan imam Ibnu Hajar al Asqolani menjadi rujukan

Allohu musta’an

Ijin mendownload dan ngeprint artikelnya ya Mas

silakan mas

Matur Nuwun mas Artikele. Mugi Allah mbalas kaliyan ingkangluwih sae,,,,

( Terima kasih atas artikelnya, Semoga Allah membalas dengan yang lebih Baik )

hey goblok.
jangan asal upload

ulama itu juga manusia, tidak ma’shum.
gak seperti kamu. goblok

belajar aqidah wasithiyyah, dll.
orang islam pake nama jerman.
dah gitu mencela ulama lagi.
Ittaqillah akhi.

Yang mencela itu bukan saya mas Iwan. Yang mencela Ibnu Taymiyah beserta akidah sesatnya itu para ulama yang diakui kredibilitas keulamaannya. Gak perlu emosi, baca baik2.

Kalau seperti ini komentar mas Iwan, kami paham kadar keilmuan dan akhlak bertutur mas Iwan.

Semoga Alloh beri kemudahan segala hal mas Iwan. Amien

Orang yang blogging rata2 punya muka banyak, kepribadian ganda, makanya saling hujat, padahal yang menghujat adalah dirinya sendiri (tulis sendiri-jawab sendiri), kasihan.

Jika ada dua orang islam saling berkelahi maka dua2nya masuk NERAKA….gimana pendapat antum? Jika ada orang islam memfitnah orang islam lain tanpa bukti yang pasti…apa hukumannya? Untuk menentukan seseorang munafiq atau tidak bagaimana caranya? Hiiiii kayanya antum baru belajar dikit…trus bikin blog. Ana kasihan ma antum. Belajarlah lebih banyak lagi dan mohonlah petunjuk KEBENARAN….jangan cari PEMBENARAN. Maaf…..

Bacalah artikel ini secara lengkap, maka Antum tidak akan berkomentar seperti itu. Karena Antum malas membaca, maka yang muncul komentar dangkal. Ane kasihan ama Antum…

mas lukman, sebagai penyeimbang berita bagaimana kalo pembaca kita sarankan juga membaca artikel2 diblog dibawah ini sebagai bantahan tulisan diatas, insya alloh nanti akan adil dan seimbang. Harapan saya agar kita tidak terjatuh ikut ikutan memfitnah seorang ulama, yang resikonya AMAT BESAR dan BERBAHAYA

sebagai muqodimah:

memang aqidah Ibnu Taimiyyah berbeda dengan ulama2 penentangnya, tapi bukan berarti banyaknya penentang berarti diatas kesesatan. sebaigai contoh ;

1. Nabi kita sendiri yang dianggap menyalahi akidah mayoritas manusia, dimusuhi dan dikejar2 mayoritas kaumnya.

2. imam Ahmad bin Hambal pada jamannya, nasibnya sama persis Ibnu Taimiyyah pada jamannya, yaitu dipenjara demi memperjuangkan AQIDAH yang sesuai sunnah

DAN INILAH ARTIKEL2 PENYEIMBANG BERITA fitnah ITU :

1. IBNU TAIMIYYAH DAN FITNAH :

http://syaikhulislam.wordpress.com/category/fitnah/

2. MAJMU FATAWA : ARAH (jihat) TERKAIT SIFAT ALLOH :

http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/03/11/majmu-fatawa-arah-jihat-terkait-sifat-allah/#more-105

3. DIMANA ALLOH ?? adalah salah satu aqidah Ibnu Taimiyyah yg dianggap menyimpang yang digembar gemborkan ABU SALAFI / SALAFI TOBAT di sini bantahannya :

http://www.firanda.com/index.php/home/31/76-mengungkap-tipu-muslihat-abu-salafy-cs

4. SAHABAT ALI ra DIMATA IBNU YAIMIYYAH :
http://syaikhulislam.wordpress.com/2009/11/18/ali-dimata-ibnu-taimiyah/

5. PUJIAN IBNU HAJAR KPD IBNU TAIMIYYAH :
http://syaikhulislam.wordpress.com/2009/07/22/pujian-ibnu-hajar-al-atsqalani-kepada-ibnu-taimiyah/

6. IBNU TAIMIYYAH DIKAFIRKAN – IBNU HAJAR MARAH :
http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/03/03/ibnu-taimiyah-dikafirkan-ibnu-hajar-meradang/

7. HUKUM SAFAR KE KUBUR NABI versi IBNU TAIMIYYAH :
http://syaikhulislam.wordpress.com/2009/07/31/hukum-safar-untuk-menziarahi-kubur-nabi-shollallahu-alaihi-wasallam/

8. IBNU TAIMIYYAH :
http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/07/02/506/

9. IMAM DZAHABI menulis BIOGRAFI IBNU TAIMIYYAH :
http://syaikhulislam.wordpress.com/2010/05/12/tazkiratul-huffaz-al-imam-al-zahabi_serial-biografi-ibnu-taimiyah-i/

10. ULAMA ULAMA YANG MENJULUKI ” SYAIKHUL ” :
http://syaikhulislam.wordpress.com/2009/07/15/ulama-ulama-yang-menjuluki-ibnu-taimiyah-syaikhul-islam/

semoga informasi ini mengurangi manusia yang termakan fitnah untuk MEMFITNAH ULAMA

Justru karena Ana masih dangkal…ana ga mau kecebur kaya antum sampe ke kerak nya…..Hehehehe
Kalo antum kasihan……makasih. Tapi ga cukup cuma kasihan doang….karena ada yang LEBIH antum perlu kasihani…Hehehe. Dikasih saran malah marah…hahaha. Yuk BELAJAR bareng ana…..

Makanya mas Joko kalo baca sampai tuntas jadi gak perlu sewot. Ha ha ha. Saya gak perlu menanggapi komentar yang jauh panggang dari api. Capek deh…

Bismillah…..

bukannya ini artikel ini COPAS dari http://qitori.wordpress.com/2008/02/25/bukti-bukti-kemunafikan-ibn-taymiyah/#comment-5140

ketahuan kalo ini orang asal comot terus komentar sana sini jadi corong FIRNAH…

hati-hati akhi… “Al Ilmu qoblu qoulu wal ‘amal” berilmu dulu sebelum berbicara dan beramal….

“takutlah kalian kepada dholim karena sesungghunya dholim itu akan ditertanggung-jawabkan di yaumul kiamah”(muttafaqun alaihi)

Allahu yahdik…Ittaqillah…

Mas Rofiif, kalimat al ilmu qobla … itu perkataan siapa? Redaksinya seperti yang antum sebutkan? Riwayat siapa ya. Jangan2 antum salah kutip atau salah copy-paste.

Monggo dikoreksi dulu

Makasih komentarnya mas. Allohu yahdik

Mas Sa’ad antum pinter ya…memutar balikkan fakta….Hiiii
Yang sewot tu sapa…?
……Ataw memang kerjaan antum seperti ini….”MEMUTAR BALIKKAN FAKTA”,….haaahhhh, yang harusnya cape…tu, kang beca bukan antum.
Dan perlu antum ketahui kang beca sekarang banyak lho yang punya BLOG…..hehehe
Hai….Saudaraku Bertaqwalah hanya pada ALLAH Subhanahu wata’ala….?

Aduh jadi muter muter gini om.
Ini adalah artikel yang mengulas tentang sisi lain sosok yang ditahbiskan sebagai ,syaikhul Islam’ oleh sebagian kalangan pemujanya. Namun ternyata banyak ulama ahlus sunnah yang memberikan penilaian lain. Justru yang memberikan koreksi keras adalah para ulama ahlus sunnah yang mu’tabar yang diakui kualitas keilmuan dan kejujurannya. Jadi bukan ane memfitnah tentang Ibnu Taymiyah yang agak miring dalam menilai seorang sahabat sekaligus menantu Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Kalau antum membaca dari awal dengan baik, maka komentar yang antum tulis tidak mengena. Kalau antum memuji Ibnu Taymiyah ya monggo, gitu aja kok repot. Ibnu Taymiyah itu bermasalah tauhidnya dan tidak jujur menilai imam Ali karromallohu wajhah. Ini perkataan dan penilaian ulama Ahlus Sunnah, bukan kata ane om. Fahimtum?

Baca lagi baru komentar ya om…

Makasih lo dah mampir. Allohu yahdik

diliat dari fotonya aja, ente (sa’ad) orang yang gmn ya? gak islami banget. pa lagi ente nulis tentang Ibnu Taimiyah? SIAPE LU…. NGACA…. ENTE BELAJAR AGAMA SEHARI BERAPA KALI? SHALATE WES BENER GAK? ILMU AGAMA GAK ADA, DAH BERKOMENTAR MACEM2…. huh… sabar sabar…. Intinya, entee gak warasss…. gak bisa bedain yang bener n yang salah… karena ilmu agama yang ente pelajari pasti gak bener, kayak to ilmu kalam, lo pasti demen banget ama yang gituan…. makanya bikin blog jangan ssembarangan… biar gak ngundang komentar yang lo gak stuju…. kalo mau nyari jalan ke Neraka, cari sendiri aja, jangan ngajak-ngajak orang melalui blog lo ini… OK?

Mas Bio yang dirahmati Alloh,

Terima kasih komentarnya. Namun sebaiknya antum fokus terhadap materi bukan malah lari. Bawalah hujjah yang kuat tentang syaikh antum dan insya Alloh ane akan membawa hujjah juga dari ulama Ahlus Sunnah lainnya.

Sanggahan terhadap Ibnu Taymiyah sudah dilayangkan oleh ulama mu’tabar yang hidup sezaman dengannya, Imam Taqiyyuddin as-Subki. Imam Ibnu Hajar al Haitami (kedua ulama tsb adalah ulama besar mazhab Syafi’ie) pun merinci lagi dan mengomentari dengan mengatakan

Jangan tertipu dengan pengingkaran Ibn Taimiyah terhadap kesunahan ziarah ke makam Rasulullah, karena sesungguhnya dia adalah manusia yang telah disesatkan oleh Allah; sebagaimana kesesatannya itu telah dinyatakan oleh Imam al-’Izz ibn Jama’ah (Hasyiyah al-Idlah Ala Manasik al-Hajj Wa al-’Umrah – Imam Ibnu Hajar al Haitami) -cuplikan kitabnya klik ini dan ini

Mari diskusi dengan baik dan fokus

Eh, …. Coy, ente tuh baru belajar dikit jadi ga usah pake nulis yang beginian, ente bener aja …. masih salah, apalagi ente salah….ANCUR dah. Belajar dulu deh…kalo ga ente tutup aja ni blog…ga ada manfaatnya. Kecuali ente orang Shiah…ana paham dah.
Sorry dah ganggu……hehehe Wa’alaikum, coy.

Ini kah tradisi diskusi yang baik? Pembaca yang menilai. Tulisan antum adalah representasi pribadi antum. Syiah? He he he. Emangnya mencintai imam Ali karromallohu wajhah monopoli orang Syiah? Imam Syafi’i ra, bermadah: jika mencintai ahlul bayt disebut rafidhi (syiah), maka saksikanlah kalangan jin dan manusia bahwa aku rafidhi. Berdiskusilah dengan baik ya ahlal ‘ilmi.

afwan kayanya antum perlu banyak belajar islam…..apa jangan2 baru belajar.

Syukron akhi :
Pendapat Ibnu Taymiyah tentang sahabat Nabi Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma, tentang imam Ali karromallohu wajhah, sayyidah Fathimah bintu Rasul radhiyallohu ‘anhu dapat antum lihat di sini

Bagaimana pendapat antum ya akhi terhadap pandangan Ibnu Taymiyah kepada generasi terbaik ummat ini (generasi sahabat)?

Mari sama sama belajar, yuukk…

salam kenal…

mampir bentar ahhh 🙂
http://lelidee.wordpress.com

malah pada kelahi ki gimana,perbedaan pendapat tu wajar biasa tur SING AYEM WAE, yang pasti jangan sampai murtad

Waduh…….susah ane mau mendo’akan sampeyan agar dapet hidayah,walaupun 1000 manusia sekalipun mendo’akan sampeyan agar mendaptkan hidayah dari allah ane rase gak bakalan dapet,masalahnya ente udah jauh sekali dalam kesesatan dan menyesatkan,yah…….kasian…………..

back to laptop Bet. Baca baik2 artikelnya. Kalo sampeyan gak setuju dan merasa itu fitnah, cek kembali rujukan yang ada.

wa jaadilhum bil latiy hiya ahsan
(bantah lah mereka dengan cara yang baik/elegan)

Bahwa IT memandang sebelah mata terhadap Imam Ali ra -padahal semua ahlus sunnah mengakuinya sebagai khalifah min khulafa’ur rosyidin- itu sudah jelas. Sampeyan mungkin punya bukti lain, sok monggo ajukan hujjah sampeyan.

Bahwa IT tidak berlaku adil dalam berpendapat mengenai ahlul bayt -padahal Rasul SAW mengingatkan agar berperilaku baik terhadap mereka- itu dapat dilihat dan dirujuk dari kitab ulama2 ahlus sunnah. kalau sampeyan punya dalil lain, monggo diajukan. Boleh jadi sampeyan benar dan saya salah.

Monggo Bet…

monggo dilihat lagi ceramag berikut. Semoga mencerahkan sampeyan Bet

MOHON DI BACA JG PAKE NAFSU MBACANYA…….

Hingga saat ini, di dalam kalangan umat Islam sering terjadi perbedaan pandangan, yang tidak jarang menimbulkan gep antara satu kelompok dengan kelompok yang lain yang berakibat perpecahan umat. Hal ini tentunya tidak kita harapkan karena akan merusak ukhuwah Islamiyah.
Hal-hal tersebut di atas sering terjadi karena beda pengkajian serta pengambilan sumber keilmuan, baik yang diperoleh dari kitab-kitab maupun pendapat “ulama” yang mereka anut sehingga menimbulkan fanatisme kelompok yang berlebihan yang akhirnya berdalil berdasarkan taqlid buta.
Dampak hal tersebut dapat kita lihat antara lain adanya golongan yang sering menyatakan “Bid’ah”. Termasuklah dikatakan bahwa peringatan yang dilakukan oleh umat dalam merayakan hari-hari besar Islam seperti peringan Maulid Nabi saw dikategorikan bid’ah, dan mereka secara sesumbar mengatakan, “seluruh bid’ah adalah sesat, dan kesesatan tempatnya di neraka”!!
Terhadap permasalahan tersebut di atas maka denga kerendahan hati kami sampaikan tulisan singkat sekitar “Apakah Peringatan Maulid Itu Bid’ah?”

DALIL-DALIL TENTANG BID’AH
Beberapa dalil yang berkaitan dengan bid’ah antara lain :
Sabda Rasulullah saw :

من احد ث فى امرنا هذا ماليس منـه فـهـو رد

“Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak ada sumbernya (dalam agama) maka dia tertolak.” (H.R. Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Sabda Rasulullah saw

ان الخـيـر الحديث كـتاب الله, وخـير الـهدى هدى مـحمد وشر الأمـور محد ثا تـها, وكل بد عـة ضلا لة.
“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan sebaik-baik urusan adalah yang baru, dan segala yang diadakan adalah sesat.”

Sabda Rasulullah saw :

كل مـحدثـة بدعـة, وكل بـدعـة ضلا لة.
“Setiap yang diada-adakan (muhdatsat) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Sabda Rasulullah saw :

كل بدعـة ضلا لة, وكل ضلا لة فى الـنار.
“Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat di neraka tempatnya.”

ARTI BID’AH

Dalam kamus Al-Munjid kata Bid’ah disebutkan :
الـبد عـة ج بدع: ما احدث على غـير مـثال سابـق.
Bid’ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu.

Pada dasarnya, semua kamus bahasa Arab mengartikan bid’ah secara bahasa dengan : “sebuah perkara baru yang diadakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu”. Langit dan bumi dapat juga disebut sebagai bid’ah sebab keduanya diciptakan oleh Allah SWT tanpa adanya contoh terlebih dahulu. Allah SWT berfirman :

بـديـع السمـوات والارض

“Allah Pencipta Langit dan Bumi (tanpa contoh)” (Q.S. Al-Baqarah : 117)

PENJELASAN

Jika dalam pembahasan hadits-hadits tentang bid’ah sebagaimana dalil-dalil bid’ah di atas menyatakan kullu bid’atin dhalalah diterjemahkan secara tekstual (sesuai dengan makna lahiriahnya), akan berarti semua bid’ah adalah sesat. Yang menjadi pertanyaan adalah : ”benarkah kata kullu selalu berarti semua?”

Didalam Al-Qur’an terdapat beberapa kata kullu yang pada kenyataannya tidak berarti semua. Coba perhatikan Firman Allah SWT berikut ini :

تـد مر كل شيء بامر ربـها فـاصبـحوا لا يرى الا مـساكـنهم كذا لك نجـزى الـقوم الـمجرمين
”(angin) yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya maka jadilah mereka tidak ada kelihatan lagi, kecuali tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa. ” (Q.S. Al-Ahqaf : 25)

Dalam ayat di atas Allah SWT menggambarkan bagaimana angin menghancurkan segala-galanya sehingga orang-orang kafir tersebut terkubur di dalam bumi. Walaupun disebutkan bahwa angin tersebut menghancurkan kulla syai-in (segala-galanya), ternyata rumah-rumah mereka yang dimaksud tidak ikut hancur. Ini membuktikan bahwa kata kullu tidak selalu berarti semua, buktinya rumah orang-orang kafir yang tidak hancur tersebut merupakan salah satu pengecualian. Begitu pula dalam hadits kullu bid’atin dhalalah, di sana ada sesuatu yang dikecualikan. Rasulullah saw bersabda :

من احـدث فى امرنا هذا ما لـيس مـنه فـهو رد
“Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam masalah (agama) kami ini yang tidak ada sumbernya (dalam agama) maka dia tertolak”

Perhatikan kalimat maa laisa minhu (yang tidak ada sumbernya) !!! Inilah kalimat yang yang menjelaskan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat. Berdasarkan hal tersebut, maka hadits kullu bid’atin dhalalah dapat diartikan : semua bid’ah itu sesat, kecuali yang bersumber dari Qur’an dan Sunnah.
Para ulama menyatakan bahwa kata muhdatsat (hal-hal baru) dalam hadits tersebut adalah segala hal yang baru yang tidak sesuai dengan Qur’an dan Hadits. Hal ini berarti bahwa hanya hal-hal yang baru yang tidak bersumbar dari agama saja yang tertolak, sedangkan yang ada sumbernya dapat diterima.

PEMBAGIAN BID’AH

Imam Syafi’i rhm berpendapat bahwa bid’ah terbagi 2, yaitu :
1. Bid’ah Hasanah (baik) atau Mahmudah (terpuji)
2. Bid’ah Sayyi-ah (buruk) atau Madzmumah (tercela)

Pendapat ini berlaku bagi semua hal baru yang terjadi setelah zaman Rasulullah saw dan zaman Khulafaur Rasyidin.
Rabi’ rhm menceritakan bahwa Imam Syafi’i rhm berkata : “Hal-hal baru itu ada 2 :
1. Hal baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, Atsar, maupun Ijma’. Inilah bid’ah yang sesat
2. Segala hal baru yang baik yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, Atsar, maupun Ijma’. Hal yang baru ini merupakan bid’ah yang tidak tercela.”

Imam Nawawi rhm membagi bid’ah menjadi 5 bagian, beliau rhm berkata :

قـال الـعلماء الـبد عـة خـمسة اقـسام وا جـبة ومنـدو بة ومحـرمة ومـكروهـة ومـباحـة.
Para Ulama menyatakan bahwa bid’ah itu terbagi 5 yaitu bid’ah wajib, mandub (sunnah), haram, makruh, dan mubah.

Sejalan dengan itu Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Abbas Al-Maliki Al-Hasani, seorang mufti Mekkah menyebutkan di dalam kitabnya yaitu Haulal ihtifal bil Maulidin Nabawiyyisy Syarif (Sekitar Peringatan Maulid Nabi Yang Mulia) menyatakan bahwa kelima bid’ah tersebut adalah sebagai berikut :

1. Bid’ah wajib, seperti menyanggah orang yang menyelewengkan agama, dan belajar bahasa Arab, khususnya ilmu Nahwu.
2. Bid’ah mandub / boleh, seperti membentuk ikatan persatuan kaum muslmin, mendirikan sekolah-sekolah, mengumandangkan adzan di atas menara dan memakai pengeras suara, berbuat kebaikan yang pada masa pertumbuhan Islam belum pernah dilakukan.
3. Bid’ah makruh, menghias mesjid-mesjid dengan hiasan-hiasan yang bukan pada tempatnya, mendekorasi kitab-kitab Al-Qur’an dengan lukisan-lukisan dan gambar-gambar.
4. Bid’ah mubah, seperti menggunakan saringan (ayakan), makan dengan sendok dan garpu, dsb.
5. Bid’ah haram, yaitu semua perbuatan yang tidak sesuai dengan dalil-dalil umum hukum syari’at dan tidak mengandung kemaslahatan yang dibenarkan oleh syari’at.

MAULID NABI SAW

Dasar Hukum Peringatan Maulid
A. Nabi saw telah memperingati maulidnya sendiri
Peringatan artinya kegiatan tertentu yang dilakukan untuk mengenang atau memuliakan sesuatu atau peristiwa tertentu. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad, disebutkan bahwa ketika beliau saw ditanya oleh sahabat ra tentang alasan mengapa beliau saw berpuasa di hari Senin, beliau menjawab:

فـيه ولـدت وفـيه انـزل علـي
“Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari tu pula aku memperoleh wahyu (Al-Qur’an)”

B. Teladan Nabi saw yang berpuasa pada Hari ‘Asyura
Setiba Nabi saw di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyura. Ketika beliau saw menanyakan hal itu, mereka menjawab :

هـذا يـوم عـظـيم وهو يـوم نـجى الله فـيه مـوس وا غـرق ال فـرعـون فـصام موس شكرا لله
“Ini adalah hari yang agung, hari dimana Allah SWT menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun. Kami berpuasa di hari ini sebagai rasa syukur kepada Allah.”

Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah menjawab :

فـأ نا احـق بـموس مـنكم.
“Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian” (HR Bukhari Muslim)

Dalam riwayat lain beliau saw menjawab :

نـحن اولى بـموس مـنكم.
“Kami lebih berhak memperingati Musa daripada kalian (orang-orang yahudi)”

Atas dasar hadits tersebut di atas maka Rasul berpuasa pada hari ‘Asyura dan menyuruh umatnya untuk berpuasa juga.

C. Allah SWT menyuruh kita bergembira atas kelahiran Nabi saw
Firman Allah SWT :

قل بـفضل الله وبـرحـمتـه فـبذا لك فـليـفرحوا
“Katakanlah : atas karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah mereka bergembira.”

Sesungguhnya rahmat terbesar bagi kita Umat Islam, umat Nabi Muhammad saw adalah diutusnya beliau saw.
Firman Allah SWT :

ومـا ارسلـناك الا رحـمة للـعالـمين
“Dan tidaklah Kami mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Q.S. Al-Anbiya : 107)

D. Peringatan maulid meneguhkan keimanan
Firman Allah SWT :

وكلا نـقصو عـليك من انـباء الرسل ما نـثبت بـه فؤا دك.
“Dan semua kisah para Rasul kami ceritakan kepadamu, dengannya kami meneguhkan hatimu.” (Q.S. Hud : 120)

Ayat tersebut di atas diturunkan Allah SWT pada saat Nabi saw mengalami cobaan yang berat dari kaum kafir, sehingga nabi merasa sedih dan untuk itu Allah SWT menceritakan cobaan yang dialami Nabi-nabi terdahulu sehingga denga turunnya ayat tersebut hati beliau menjadi terobati dan lebih memantapkan keimanan dan kesabarannya. tentunya dengan memahami perjuangan dan suri tauladan yang telah dicontohkan oleh Nabi saw mudah-mudahan akan menjadikan mu’min sejati.

E. Allah SWT memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Nabi saw.
Firman Allah SWT :

ان الله ومـلا ئـكتـه يصـلون عـلى النـبـي يا أيـها الذيـن امـنوا صلوا عـليه ويـسلم تـسليـم.
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah atasnya dan ucapkanlah salam (Q.S. Al-Ahzab : 56)

SEJARAH PERINGATAN MAULID

Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan : “Orang pertama yang menyelenggarakan peringatan Nabi saw adalah seorang penguasa dari Arbil (sebuah kota di Iraq) yaitu Sultan Muzhaffar Abu Said. Peringatan tersebut dihadiri para ulama terkemuka dan orang-orang shaleh dari kaum sufi dengan niat memperingati maulid Nabi saw semata-mata untuk taqarrub kepada Allah SWT. Untuk mengisi acara tersebut beliau memerintahkan Ibnu Dihyah untuk menulis kitab khusus mengenai maulid Nabi saw. Kitab tersebut disusun dan dinamakan : At-Tanwir fi Maulid Al-Basir An-Nadzir. Kitab tersebut ditulis pada tahun 604 H. Atas penulisan tersebut Sultan menghadiahkan 1000 dinar kepada Ibnu Dihyah. Setelah itu Sultan membuat acara maulid. Dengan maulid tersebut beliau bisa mempersatukan umat sehingga bisa mengalahkan orang-orang kafir. Untuk keperluan maulid tersebut ia mengeluarkan dana sebanyak 300.000 dinar dan di dalam jamuan tersebut dihidangkan : 500.000 ekor kambing panggang, 10.000 ayam, 100.000 buah alpukat, dan 30.000 piring manisan, beliau turun dari singgasana dan menyemprotkan wewangian kepada khalayak yang hadir.

PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG MAULID

1. Imam Hasan Al-Bashri (27 H – 116 H)
Beliau adalah salah seorang tabi’in agung. Beliau pernah dido’akan oleh Sayyidina ‘Umar ra, “Ya Allah, jadikanlah ia sebagai seorang yang memiliki pemahaman salam agama dan dicintai oleh masyarakat.” Beliau bertemu dengan kurang lebih 100 sahabat ra. dan beliau mendapat tempat terhormat dalam pandangan mereka. Sayyidina Anas bin Malik ra suatu ketika ditanya tentang agama, beliau menjawab, “Bertanyalah kepada Al-Hasan, sebab dia masih ingat sedangkan kami telah lupa.” Maka kita lihat pendapat beliau, sayyidina Hasan Al-Bashri. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa beliau ra berkata :

ورد ت لو كان لي مـثل جـبل أحـد ذهـبا لأنـفـقـتـه على قـراءة مـو لد الرسـو ل.
“Andaikata aku memiliki emas sebesar bukit Uhud, maka akan kudermakan semuanya untuk penyelenggaraan pembacaan Maulid Rasul.”
2. Imam Junaid Al-Baghdadi (wafat 297 H)
Beliau rhm sangat memuliakan Maulid Nabi. Beliau rhm berkata :

من حـضر مولد الرسـول وعـظم قـدره فـقـد فـاز بـالإ يـمان.
“Barangsiapa menghadiri maulid Rasul dan mengagungkan (memuliakan) kedudukannya saw, maka dia telah sukses dengan keimanan.”

3. Syeikh ‘Abdullah bin As’ad Al-Yafi’I (Wafat 768 H)
Beliau seorang ulama terkemuka dalam dunia Islam. Mengenai persoalan Maulid Nabi saw beliau rhm berkata : “barangsiapa mengumpulkan teman-temannya, mempersiapkan hidangan, menyediakan tempat, melakukan kebaikan untuk Maulid Nabi dan semua itu menjadi sarana (sebab) pembacaan maulid Rasul, maka di hari kiamat kelak Allah SWT akan membangkitkannya bersama orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan kaum shalihin. Dan kelak ia akan berada di Surga-surga yang penuh kenikmatan.

4. Imam Suyuthi
Dalam kumpulan fatwanya beliau menulis satu bab khusus yang menjelaskan keutamaan peringatan maulid Nabi. Di bawah ini kami nukilkan 2 pernyataan beliau. beliau menyatakan :
a. “Menurutku, inti dari peringatan Maulid Nabi adalah berkumpulnya masyarakat, pembacaan sebagian ayat Al-Qur’an, pembacaan riwayat yang menjelaskan awal perjuangan Nabi saw dan berbagai peristiwa besar yang terjadi saat kelahiran beliau, penyajian makanan kepada hadirin dan mereka pun menyantap dan kemudian pergi tanpa melakukan kegiatan lain. kegiatan semacam ini merupakan sebuah bid’ah hasanah yang pelakunya akan mendapat pahala. Sebab, di dalam peringatan maulid itu terdapat kegiatan pemuliaan Nabi dan perwujudan rasa senang dan bahagia atas kelahiran beliau saw yang mulia.”
b. “Tidaklah sebuah rumah Muslim dibacakan Maulid Nabi di dalamnya, melainkan Allah singkirkan kelaparan, wabah penyakit, kebakaran, berbagai jenis bencana, kebencian, kedengkian, pandangan buruk, serta pencurian dari penghuni rumah itu. Dan jika ia meninggal dunia, maka Allah akan memberinya kemudahan untuk menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir. dan dia kelak akan berada di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Berkuasa.”

5. Syekh Ibnu Taimiyyah
Beliau rhm menyatakan : “Memuliakan hari Maulid Nabi saw dan menyelenggarakan peringatannya secara rutin banyak dilakukan orang. Mengingat maksudnya yang baik dan bertujuan memuliakan Rasulullah saw adalah layak jika dalam hal itu mereka beroleh ganjaran pahala besar.” Lebih lanjut dalam dilihat dalam kitab beliau Iqtudha Ash-Shirath Al-Mustaqim

Dalam kitab Hadits juga disebutkan tentang keutamaan memuliakan Rasulullah saw. Di antaranya adalah :

1. Imam Abu Nu’aim dalam kitab Hilyah mengutip dari Wahb bin Munabbih, bahwa ia berkata, : “Seorang dari bani Israil yang berdosa kepada Allah SWT. Laki-laki itu meninggal. Kemudian orang-orang melemparkannya ke waduk tinja. Allah SWT mewahyukan kepada Musa as untuk mengeluarkannya dari sana dan menshalatkannya. Musa berkata, “Ya Tuhanku, Bani Israil telah menyaksikan bahwa orang itu telah bermaksiat kepada-Mu selama 100 tahun.” Allah SWT berfirman, “Memang benar, hanya saja setiap kali ia membuka Taurat dan melihat nama Muhammad, ia menciumnya dan mendekatkannya ke kedua matanya. Karena itu, Aku menerima hal itu sebagai syukurnya. Aku mengampuninya dan akan Aku nikahkan ia dengan tujuh puluh bidadari.”
2. Imam Bukhari meriwayatkan dari Sayyidina ‘Abbas ra bahwasanya Abu Lahab diringankan siksaannya pada setiap hari Senin karena ia memerdekakan Tsuwaibah lantaran bergembira dengan kabar kelahiran Rasulullah saw yang disampaikan Tsuwaibah kepadanya.

Jika orang yang bermaksiat saja sudah mendapatkan perlakuan seperti itu karena gembira dengan Nabi saw, apakan lagi umatnya yang mencintai Nabi saw, mengorbankan diri karena mencintainya, mengagungkannya, bersahalawat padanya dan malakukan hal-hal dalam memuliakannya dan menolong agama yang dibawanya saw!!!

Berdiri Dalam Peringatan Maulid NABI SAW

Kebiasaan berdiri dalam peringatan Maulid Nabi pada detik-detik kisah kelahiran Rasulullah saw disebut, dilakukan oleh kaum muslimin diberbagai negeri. Para Ulama di Timur dan Barat juga memandangnya sebagai kebiasaan yang baik. Sebab, tujuannya adalah memuliakan Rasulullah saw. Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin baik pula dalam pandangan Allah SWT, begitu pula sebaliknya. Dasar-dasar lainnya yang dapat dijadikan hujjah adalah :
Sebuah Hadits Muttafaq ‘alaih memberitakan bahwa Rasulullah menyuruh orang-orang Anshar untuk berdiri menghormati pemimpin mereka yaitu sayyidina Sa’ad bin Mu’adz, beliau berseru :

قـو مـوا لـسيد كـم
Hendaklah kalian berdiri untuk menghormati pemimpin kalian

Jika kaum Anshar diperintahkan Rasulullah saw untuk berdiri menghormati pemimpinnya maka Rasulullah saw lebih pantas untuk kita hormati sebab beliau saw adalah pemimpin seluruh manusia, beliau bersabda :

انـي سـيد ولد ادم ولا فـخر
Aku pemimpin semua Bani Adam, ini bukanlah untuk menyombongkan diri.

Al-Barzanji dalam syairnya menyatakan :
Para ahli ilmu, ahlul fadhl dan ahli taqwa
mensunnahkan berdiri di atas kaki sambil merenung sebaik-baiknya
Membayangkan pribadi Al-Mushthafa karena beliau senantiasa
hadir di tempat di manapun beliau disebut, bahkan beliau mendekatinya

Bahkan Ibnu ‘Abdissalam dan Ibnu Shalah berfatwa bahwa pada zaman ini berdiri itu wajib. Tidak melakukannya pasti merupakan suatu pertanda. Kita tidak pernah mendengar ada orang yang dinyatakan kafir karena berdiri untuk menghormati bendera atau untuk menyambut seorang raja, padahal perbuatan itu sangat berjauhan dengan ajaran agama. Dengan demikian, sangat tidak punya malu, betapa hina, dan alangkah tidak baiknya seseorang yang mengkafirkan orang yang berdiri karena beretika, cinta, dan memuliakan Rasulullah saw junjungan seluruh alam, penyelamat dari semua keburukan, ketika kelahirannya diceritakan.

Penggunaan Rebana
Dalilnya antara lain :

1. Saat Nabi saw hijrah bersama sahabat beliau yaitu sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra ke Madinah, sesampainya di Madinah beliau disambut oleh penduduk Madinah dengan tabuhan rebana mengiringi syair :

طـلـع الـبد ر عـليـنا من ثـنـيات الوا داع
وجـب الـشكر عـلينـا ما دعا لله د ا ع
“Telah terbit bulan purnama, menyinari kami dari bukit Wada’
Maka kita wajib bersyukur, karena tibanya Sang Da’I yang menyeru ke jalan Allah.”

2. Ketika Rasulullah saw tiba dari perang Tabuk, warga Madinah kembali menyambut beliau saw denagn tabuhan rebana dan lantunan syair tersebut di atas.

3. Dalam Sunan Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad disebutkan bahwa ketika Nabi saw tiba dari suatu peperangan seorang wanita datang menemui beliau dan berkata:

يـارسول الله انـي كـنت نـذ رت ان رد ك الله سا لـما ان اضرب بـين يـد يـك با الـدف وا تـغنـى.
“Wahai Rasulullah, aku telah bernadzar jika Allah mengembalikan dirimu dalam keadaan selamat, maka akau akan menabuh rebana dan menyanyi di hadapanmu.” Rasul saw menjawab, “Jika kau telah bernadzar maka tunaikan nadzarmu, jika tidak maka janganlah.” Lihatlah! Nabi saw tidak melarang wanita itu untuk menyanyi dan menabuh rebana.

Lantunan Syair Di Dalam Masjid

Dahulu, di hadapan Rasulullah saw pernah dibacakan syair dan beliau juga pernah minta dibacakan syair. Rasulullah saw juga acap kali mengucapkan satu atau dua bait syair yang pernah dibacakan kepada beliau. Salah satu sahabat yang diangkat secara khusus sebagai penyair beliau adalah sayyidina Hassan bin Tsabit ra. Bahkan Rasulullah membuat mimbar khusus di dalam mesjid untuknya. Dari mimbar itulah Sayyidina Hassan melantunkan bait-baitnya memuji dan membela Rasulullah saw. Sikap Rasulullah saw ini mengukuhkan bahwa pembacaan syair di dalam mesjid itu dibolehkan. Meskipun syair-syair tersebut di zaman Rasulullah tidak dilagukan, melagukannya pun tidaklah haram, kecuali jika ada Hadits yang jelas-jelas mengharamkannya. Dan ternyata tidak ada satu pun dalil yang mengharamkannya. (Dinukil dari kitab An-Nafaisul ‘Uluwiyyah, Habib ‘Abdullah bin ‘Alwi Al-Haddad)

Suatu hari (setelah wafatnya Rasulullah saw), Sayyidina Hassan bin Tsabit ra melantunkan syair di dalam mesjid. Sayyidina ‘Umar bin Khattab ra menegurnya. Sayyidina Hassan bin Tsabit pun berkata, “Dahulu aku pernah melantunkan syair di dalam Masjid dan di sana ada manusia yang jauh lebih baik darimu (Rasulullah saw).” Hassan kemudian menoleh kepada Sayyidina Abu Hurairah ra dan berkata, “Kusumpah engkau dengan nama Allah, bukankan engkau mendengar Rasulullah saw mendo’akanku : “Belalah aku. Ya Allah, tolonglah (kuatkanlah) dia dengan Ruhul Qudus (Jibril)”. “Ya, benar” jawab Abu Hurairah. Setelah mendengar itu sayyidina Umar kemudian membiarkan dan tidak melarang sayyidina Hassan bin Tsabit melantunkan syair di dalam Masjid.
Sayyidina Abdurrahman Asseggaf bin Muhammad Maulad dawilah seorang ahli fiqh yang dikenal Faiqihul Muqaddam Tsaanii dan seorang Wali Quthb dizamannya (739 H – 819 H) dalam setiap kesempatan di majelis beliau yang dilaksanakan di dalam Masjid beliau, setelah Shalat Isya pada setiap malam Kamis dan Senin, biasanya dibacakan beberapa nasyid kaum sufi yang diiringi dengan beberapa alat musik seperti rebana dan suling. Hal ini kemudian dilanjutkan oleh Sayyidina As-Syeikh al-Kabir Ahmad bin Husain Alaydrus dengan mengajak beberapa ahli pembaca nasyid dari Mesir dan Iran. Ritual atau kebiasaan ini masih berlangsung hingga sekarang terhitung sudah berjalan selama lebih kurang 600 tahun.

Demikianlah, semoga bermanfaat.

Wassalam,
Pontianak, Jum’at 30 Maret 2007

Salah Pemahaman Salafi: Salah Memahami Makna Bid’ah Posted on 9 Juli 2009 by dalamdakwah Mari kita mengupas apa yang dimaksud Bid’ah menurut syari’at Islam serta wejangan/ pandangan para ulama pakar tentang masalah ini. Dengan demikian insya Allah buat kita lebih jelas bidáh mana yang dilarang dan yang dibolehkan dalam syari’at Islam. Sunnah dan bid’ah adalah dua soal yang saling berhadap-hadapan dalam memahami ucapan-ucapan Rasulallah saw. sebagai Shohibusy-Syara’ (yang berwenang menetapkan hukum syari’at). Sunnah dan bid’ah masing-masing tidak dapat ditentukan batas-batas pengertiannya, kecuali jika yang satu sudah ditentukan batas pengertiannya lebih dulu. Tidak sedikit orang yang menetap- kan batas pengertian bid’ah tanpa menetapkan lebih dulu batas pengertian sunnah. Karena itu mereka terperosok kedalam pemikiran sempit dan tidak dapat keluar meninggalkannya, dan akhirnya mereka terbentur pada dalil-dalil yang berlawanan dengan pengertian mereka sendiri tentang bid’ah. Seandainya mereka menetapkan batas pengertian sunnah lebih dulu tentu mereka akan memperoleh kesimpulan yang tidak berlainan. Umpamanya dalam hadits berikut ini tampak jelas bahwa Rasulallah saw. menekankan soal sunnah lebih dulu, baru kemudian memperingatkan soal bid’ah. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shohihnya dari Jabir ra. bahwa Rasulallah saw. bila berkhutbah tampak matanya kemerah-merahan dan dengan suara keras bersabda: ‘Amma ba’du, sesungguhnya tutur kata yang terbaik ialah Kitabullah (Al-Qur’an) dan petunjuk (huda) yang terbaik ialah petunjuk Muhammad saw. Sedangkan persoalan yang terburuk ialah hal-hal yang diada-adakan, dan setiap hal yang diada-adakan ialah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat’. (diketengahkan juga oleh Imam Bukhori hadits dari Ibnu Mas’ud ra). Makna hadits diatas ini diperjelas dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jarir ra. bahwa Rasulallah saw. bersabda: ‘Barangsiapa yang didalam Islam merintis jalan kebajikan ia memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya sesudah dia tanpa dikurangi sedikit pun juga. Barangsiapa yang didalam Islam merintis jalan kejahatan ia memikul dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya sesudah dia tanpa dikurangi sedikit pun juga’ (Shohih Muslim V11 hal.61). Selain hadits ini masih beredar lagi hadits-hadits yang semakna yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud dan dari Abu Hurairah [ra]. Sekalipun hadits ini berkaitan dengan soal shadaqah namun kaidah pokok yang telah disepakati bulat oleh para ulama menetapkan; ‘Pengertian berdasar kan keumuman lafadh, bukan berdasarkan kekhususan sebab’. Dari hadits Jabir yang pertama diatas kita mengetahui dengan jelas bahwa Kitabullah dan petunjuk Rasulallah saw., berhadap-hadapan dengan bid’ah, yaitu sesuatu yang diada-adakan yang menyalahi Kitabullah dan petunjuk Rasulallah saw. Dari hadits berikutnya kita melihat bahwa jalan kebajikan (sunnah hasanah) berhadap-hadapan dengan jalan kejahatan (sunnah sayyiah). Jadi jelaslah, bahwa yang pokok adalah Sunnah, sedangkan yang menyimpang dan berlawanan dengan sunnah adalah Bid’ah . Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam kitab Mufradatul-Qur’an Bab Sunan hal.245 mengatakan: ‘Sunan adalah jamak dari kata sunnah .Sunnah sesuatu berarti jalan sesuatu, sunnah Rasulallah saw. berarti Jalan Rasulallah saw. yaitu jalan yang ditempuh dan ditunjukkan oleh beliau. Sunnatullah dapat diartikan Jalan hikmah-Nya dan jalan mentaati-Nya. . Contoh firman Allah swt. dalam surat Al-Fatah : 23 : ‘Sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu. Kalian tidak akan menemukan perubahan pada Sunnatullah itu’ . Penjelasannya ialah bahwa cabang-cabang hukum syari’at sekalipun berlainan bentuknya, tetapi tujuan dan maksudnya tidak berbeda dan tidak berubah, yaitu membersihkan jiwa manusia dan mengantarkan kepada keridhoan Allah swt. Demikianlah Ar-Raghib Al-Ashfahani. Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Iqtidha’us Shiratul Mustaqim hal.76 mengata- kan: ‘Sunnah Jahiliyah adalah adat kebiasaan yang berlaku dikalangan masyarakat jahiliyyah. Jadi kata sunnah dalam hal itu berarti adat kebiasaan yaitu jalan atau cara yang berulang-ulang dilakukan oleh orang banyak, baik mengenai soal-soal yang dianggap sebagai peribadatan maupun yang tidak dianggap sebagai peribadatan’. Demikian juga dikatakan oleh Imam Al-Hafidh didalam Al-Fath dalam tafsirnya mengenai makna kata Fithrah. Ia mengatakan, bahwa beberapa riwayat hadits menggunakan kata sunnah sebagai pengganti kata fithrah, dan bermakna thariqah atau jalan. Imam Abu Hamid dan Al-Mawardi juga mengartikan kata sunnah dengan thariqah (jalan). Karena itu kita harus dapat memahami sunnah Rasulallah saw. dalam menghadapi berbagai persoalan yang terjadi pada zamannya, yaitu persoalan-persoalan yang tidak dilakukan, tidak diucapkan dan tidak diperintahkan oleh beliau saw., tetapi dipahami dan dilakukan oleh orang-orang yang berijtihad menurut kesanggupan akal pikirannya dengan tetap berpedoman pada Kitab Allah dan Sunnah Rasulallah saw. Kita juga harus mengikuti dan menelusuri persoalan-persoalan itu agar kita dapat memahami jalan atau sunnah yang ditempuh Rasulallah saw. dalam membenarkan, menerima atau menolak sesuatu yang dilakukan orang. Dengan mengikuti dan menelusuri persoalan-persoalan itu kita dapat mempunyai keyakinan yang benar dalam memahami sunnah beliau saw. mengenai soal-soal baru yang terjadi sepeninggal Rasulallah saw. Mana yang baik dan sesuai dengan Sunnah beliau saw., itulah yang kita namakan Sunnah, dan mana yang buruk, tidak sesuai dan bertentangan dengan Sunnah Rasulallah saw., itulah yang kita namakan Bid’ah. Ini semua baru dapat kita ketahui setelah kita dapat membedakan lebih dahulu mana yang sunnah dan mana yang bid’ah. Mungkin ada orang yang mengatakan bahwa sesuatu kejadian yang dibiarkan (tidak dicela dan tidak dilarang) oleh Rasulallah saw. termasuk kategori sunnah. Itu memang benar, akan tetapi kejadian yang dibiarkan oleh beliau itu merupakan petunjuk juga bagi kita untuk dapat mengetahui bagaimana cara Rasulallah saw. membiarkan atau menerima kenyataan yang terjadi. Perlu juga diketahui bahwa banyak sekali kejadian yang dibiarkan Rasulallah saw. tidak menjadi sunnah dan tidak ada seorangpun yang mengatakan itu sunnah. Sebab, apa yang diperbuat dan dilakukan oleh beliau saw. pasti lebih utama, lebih afdhal dan lebih mustahak diikuti. Begitu juga suatu kejadian atau perbuatan yang didiamkan atau dibiarkan oleh beliau saw. merupakan petunjuk bagi kita bahwa beliau saw. tidak menolak sesuatu yang baik, jika yang baik itu tidak bertentangan dengan tuntunan dan petunjuk beliau saw. serta tidak mendatangkan akibat buruk ! Itulah yang dimaksud oleh kesimpulan para ulama yang mengatakan, bahwa sesuatu yang diminta oleh syara’ baik yang bersifat khusus maupun umum, bukanlah bid’ah, kendati pun sesuatu itu tidak dilakukan dan tidak diperintah- kan secara khusus oleh Rasulallah saw.! Mengenai persoalan itu banyak sekali hadits shohih dan hasan yang menunjukkan bahwa Rasulallah saw. sering membenarkan prakarsa baik (umpama amal perbuatan, dzikir, do’a dan lain sebagainya) yang diamalkan oleh para sahabatnya.(silahkan baca halaman selanjutnya). Tidak lain para sahabat mengambil prakarsa dan mengerjakan- nya berdasarkan pemikiran dan keyakinannya sendiri, bahwa yang dilakukan- nya itu merupakan kebajikan yang dianjurkan oleh agama Islam dan secara umum diserukan oleh Rasulallah saw. (lihat hadits yang lalu) begitu juga mereka berpedoman pada firman Allah swt. dalam surat Al-Hajj:77: ‘Hendaklah kalian berbuat kebajikan, agar kalian memperoleh keberuntungan’ . Walaupun para sahabat berbuat amalan atas dasar prakarsa masing-masing, itu tidak berarti setiap orang dapat mengambil prakarsa, karena agama Islam mempunyai kaidah-kaidah dan pedoman-pedoman yang telah ditetapkan batas-batasnya. Amal kebajikan yang prakarsanya diambil oleh para sahabat Nabi saw. berdasarkan ijtihad dapat dipandang sejalan dengan sunnah Rasulallah saw. jika amal kebajikan itu sesuai dan tidak bertentangan dengan syari’at. Jika menyalahi ketentuan syari’at maka prakarsa itu tidak dapat dibenarkan dan harus ditolak ! Pada dasarnya semua amal kebajikan yang sejalan dengan tuntutan syari’at, tidak bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw, dan tidak mendatangkan madharat/akibat buruk, tidak dapat disebut Bid’ah menurut pengertian istilah syara’. Nama yang tepat adalah Sunnah Hasanah, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Rasulallah saw. yang lalu. Amal kebajikan seperti itu dapat disebut ‘Bid’ah’ hanya menurut pengertian bahasa, karena apa saja yang baru ‘diadakan’ disebut dengan nama Bid’ah. Ada orang berpegang bahwa istilah bid’ah itu hanya satu saja dengan berdalil sabda Rasulallah saw. “Setiap bid’ah adalah sesat…” (“Kullu bid’atin dholalah”), serta tidak ada istilah bid’ah hasanah, wajib dan sebagainya. Setiap amal yang dikategorikan sebagai bid’ah, maka hukumya haram, karena bid’ah dalam pandangan mereka adalah sesuatu yang haram dikerja- kan secara mutlak. Sayangnya mereka ini tidak mau berpegang kepada hadits–hadits lain (keterangan lebih mendetail baca halaman selanjutnya) yang membuktikan sikap Rasulallah saw. yang membenarkan dan meridhoi berbagai amal kebajikan tertentu (yang baru ‘diadakan’ ) yang dilakukan oleh para sahabat- nya yang sebelum dan sesudahnya tidak ada perintah dari beliau saw.! Disamping itu banyak sekali amal kebajikan yang dikerjakan setelah wafatnya Rasulallah saw. umpamanya oleh isteri Nabi saw. ‘Aisyah ra, Khalifah ‘Umar bin Khattab serta para sahabat lainnya yang mana amalan-amalan ini tidak pernah adanya petunjuk dari Rasulallah saw. dan mereka kategorikan atau ucapkan sendiri sebagai amalan bid’ah (baca uraian selanjutnya), tetapi tidak ada satupun dari para sahabat yang mengatakan bahwa sebutan bid’ah itu adalah otomatis haram, sesat dan tidak ada kata bid’ah selain haram. Untuk mencegah timbulnya kesalah-fahaman mengenai kata Bid’ah itulah para Imam dan ulama Fiqih memisahkan makna Bid’ah menjadi beberapa jenis, misalnya : Menurut Imam Syafi’i tentang pemahaman bid’ah ada dua riwayat yang menjelaskannya. Pertama, riwayat Abu Nu’aim; اَلبِدْعَة ُبِدْعَتَانِ , بِدْعَة ٌمَحْمُودَةٌ وَبِدْعَةِ مَذْمُوْمَةٌ فِيْمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُومْ. ‘Bid’ah itu ada dua macam, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah, maka itulah bid’ah yang terpuji sedangkan yang menyalahi sunnah, maka dialah bid’ah yang tercela’. Kedua, riwayat Al-Baihaqi dalam Manakib Imam Syafi’i : . اَلمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ, مَا اُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًا اَوْ سُنَّةً اَوْ أثَرًا اَوْ اِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضّلالَةُ وَمَا اُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ يُخَالِفُ شَيْئًا ِمْن ذَالِكَ فَهَذِهِ بِدْعَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٌ ‘Perkara-perkara baru itu ada dua macam. Pertama, perkara-perkara baru yang menyalahi Al-Qur’an, Hadits, Atsar atau Ijma’. Inilah bid’ah dholalah/ sesat. Kedua, adalah perkara-perkara baru yang mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan salah satu dari yang disebutkan tadi, maka bid’ah yang seperti ini tidaklah tercela’. Didalam kitab tafsir Imam Qurtubi juz. 2 halaman 86-87 mengatakan: “ Imam Syafi’i berkata, bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau ber- dalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih: ‘inilah sebaik-baik bid’ah’ “. Selanjutnya Al-Hafidh Muhammad bin Ahmad Al-Qurtubiy rahimahullah berkata: “Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafi’i), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi: ‘seburuk buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah’ (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal-hal yang tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw., atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah di perjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya: ‘Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barang siapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosa dan dosa orang yg mengikutinya’ (Shahih Muslim hadits no.1017–red) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal. 87) Menurut kenyataan memang demikian, ada bid’ah yang baik dan terpuji dan ada pula bid’ah yang buruk dan tercela. Banyak sekali para Imam dan ulama pakar yang sependapat dengan Imam Syafi’i itu. Bahkan banyak lagi yang menetapkan perincian lebih jelas lagi seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu ‘Abdussalam, Imam Al-Qurafiy, Imam Ibnul-‘Arabiy, Imam Al-Hafidh Ibnu Hajar dan lain-lain. Al-Muhaddits Al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi) “Penjelasan mengenai hadits: ‘Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang dosanya….’, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : ‘semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua yang Bid’ah adalah sesat’, sungguh yang di maksudkan adalah hal baru yang buruk dan Bid’ah yang tercela ” . (Syarh An-nawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105) Dan berkata pula Imam Nawawi “ bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi lima bagian, yaitu bid’ah wajib, bid’ah mandub, bid’ah mubah, bid’ah makruh dan bid’ah haram. Bid’ah wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan-ucapan yang menentang kemungkaran, contoh bid’ah mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila di tinggalkan) adalah membuat buku-buku ilmu syariah, membangun majelis ta’lim dan pesantren. Contoh bid’ah mubah adalah bermacam-macam dari jenis makanan dan bid’ah makruh dan haram sudah jelas di ketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jama’ah tarawih bahwa ‘inilah sebaik-baik bid’ah’ ”. (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155) Menurut Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari 4/318 sebagai berikut: “Pada asalnya bid’ah itu berarti sesuatu yang diadakan dengan tanpa ada contoh yang mendahului. Menurut syara’ bid’ah itu dipergunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan sunnah, maka jadilah dia tercela. Yang tepat bahwa bid’ah itu apabila dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka dia menjadi baik dan jika dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap jelek oleh syara’, maka dia menjadi jelek. Jika tidak begitu, maka dia termasuk bagian yang mubah. Dan terkadang bid’ah itu terbagi kepada hukum-hukum yang lima”. Pendapat beliau ini senada juga yang diungkapkan oleh ulama-ulama pakar berikut ini : Jalaluddin as-Suyuthi dalam risalahnya Husnul Maqooshid fii ‘Amalil Maulid dan juga dalam risalahnya Al-Mashoobih fii Sholaatit Taroowih; Az-Zarqooni dalam Syarah al Muwattho’ ; Izzuddin bin Abdus Salam dalam Al-Qowaa’id ; As-Syaukani dalam Nailul Author ; Ali al Qoori’ dalam Syarhul Misykaat; Al-Qastholaani dalam Irsyaadus Saari Syarah Shahih Bukhori, dan masih banyak lagi ulama lainnya yang senada dengan Ibnu Hajr ini yang tidak saya kutip disini. Ada golongan lagi yang menganggap semua bidáh itu dholalah/sesat dan tidak mengakui adanya bidáh hasanah/mahmudah, tetapi mereka sendiri ada yang membagi bidáh menjadi beberapa macam. Ada bidáh mukaffarah (bidáh kufur), bidáh muharramah (bidáh haram) dan bidáh makruh (bidáh yang tidak disukai). Mereka tidak menetapkan adanya bidáh mubah, seolah-olah mubah itu tidak termasuk ketentuan hukum syariát, atau seolah-olah bidáh diluar bidang ibadah tidak perlu dibicarakan. Bila semua bid’ah (masalah yang baru) adalah dholalah/sesat atau haram, maka sebagian amalan-amalan para sahabat serta para ulama yang belum pernah dilakukan atau diperintahkan Rasulallah saw. semuanya dholalah atau haram, misalnya : a). Pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an, penulisannya serta pengumpulannya (kodifikasinya) sebagai Mushhaf (Kitab) yang dilakukan oleh sahabat Abubakar, Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit [ra] adalah haram. Padahal tujuan mereka untuk menyelamatkan dan melestarikan keutuhan dan keautentikan ayat-ayat Allah. Mereka khawatir kemungkinan ada ayat-ayat Al-Qur’an yang hilang karena orang-orang yang menghafalnya meninggal. b). Perbuatan khalifah Umar bin Khattab ra yang mengumpulkan kaum muslimin dalam shalat tarawih berma’mum pada seorang imam adalah haram. Bahkan ketika itu beliau sendiri berkata : ‘Bid’ah ini sungguh nikmat’. c). Pemberian gelar atau titel kesarjanaan seperti; doktor, drs dan sebagai- nya pada universitas Islam adalah haram, yang pada zaman Rasulallah saw. cukup banyak para sahabat yang pandai dalam belajar ilmu agama, tapi tak satupun dari mereka memakai titel dibelakang namanya. d). Mengumandangkan adzan dengan pengeras suara, membangun rumah sakit, panti asuhan untuk anak yatim piatu, membangun penjara untuk mengurung orang yang bersalah berbulan-bulan atau bertahun-tahun baik itu kesalahan kecil maupun besar dan sebagainya adalah haram. Sebab dahulu orang yang bersalah diberi hukumannya tidak harus dikurung dahulu. e). Tambahan adzan sebelum khotbah Jum’at yang dilaksanakan pada zamannya khalifah Usman ra. Sampai sekarang bisa kita lihat dan dengar pada waktu sholat Jum’at baik di Indonesia, di masjid Haram Mekkah dan Madinah dan negara-negara Islam lainnya. Hal ini dilakukan oleh khalifah Usman karena bertambah banyaknya ummat Islam. f). Menata ayat-ayat Al-Qur’an dan memberi titik pada huruf-hurufnya, memberi nomer pada ayat-ayatnya. Mengatur juz dan rubu’nya dan tempat-tempat dimana dilakukan sujud tilawah, menjelaskan ayat Makkiyyah dan Madaniyyah pada kof setiap surat dan sebagainya. g). Begitu juga masalah menyusun kekuatan yang diperintahkan Allah swt. kepada ummat Muhammad saw… Kita tidak terikat harus meneruskan cara-cara yang biasa dilakukan oleh kaum muslimin pada masa hidupnya Nabi saw., lalu menolak atau melarang penggunaan pesawat-pesawat tempur, tank-tank raksasa, peluru-peluru kendali, raket-raket dan persenjataan modern lainnya. Masih banyak lagi contoh-contoh bid’ah/masalah yang baru seperti mengada kan syukuran waktu memperingati hari kemerdekaan, halal bihalal, memper- ingati hari ulang tahun berdirinya sebuah negara atau pabrik dan sebagainya (pada waktu memperingati semua ini mereka sering mengadakan bacaan syukuran), yang mana semua ini belum pernah dilakukan pada masa hidup- nya Rasulallah saw. serta para pendahulu kita dimasa lampau. Juga didalam manasik haji banyak kita lihat dalam hal peribadatan tidak sesuai dengan zamannya Rasulallah saw. atau para sahabat dan tabi’in umpamanya; pembangunan hotel-hotel disekitar Mina dan tenda-tenda yang pakai full a/c sehingga orang tidak akan kepanasan, nyenyak tidur, menaiki mobil yang tertutup (beratap) untuk ke Arafat, Mina atau kelain tempat yang dituju untuk manasik Haji tersebut dan lain sebagainya. Sesungguhnya bid’ah (masalah baru) tersebut walaupun tidak pernah dilakukan pada masa Nabi saw. serta para pendahulu kita, selama masalah ini tidak menyalahi syari’at Islam, bukan berarti haram untuk dilakukan. Kalau semua masalah baru tersebut dianggap bid’ah dholalah (sesat), maka akan tertutup pintu ijtihad para ulama, terutama pada zaman sekarang tehnologi yang sangat maju sekali, tapi alhamdulillah pikiran dan akidah sebagian besar umat muslim tidak sedangkal itu. Sebagaimana telah penulis cantumkan sebelumnya bahwa para ulama diantaranya Imam Syafi’i, Al-Izz bin Abdis Salam, Imam Nawawi dan Ibnu Atsir ra. serta para ulama lainnya menerangkan: “Bid’ah/masalah baru yang diadakan ini bila tidak menyalahi atau menyimpang dari garis-garis syari’at, semuanya mustahab (dibolehkan) apalagi dalam hal kebaikan dan sejalan dengan dalil syar’i adalah bagian dari agama”. Semua amal kebaikan yang dilakukan para sahabat, kaum salaf sepeninggal Rasulallah saw. telah diteliti para ulama dan diuji dengan Kitabullah, Sunnah Rasulallah saw. dan kaidah-kaidah hukum syari’at. Dan setelah diuji ternyata baik, maka prakarsa tersebut dinilai baik dan dapat diterima. Sebaliknya, bila setelah diuji ternyata buruk, maka hal tersebut dinilai buruk dan dipandang sebagai bid’ah tercela. Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Iqtidha’us Shiratil-Mustaqim banyak menyebutkan bentuk-bentuk kebaikan dan sunnah yang dilakukan oleh generasi-generasi yang hidup pada abad-abad permulaan Hijriyyah dan zaman berikutnya. Kebajikan-kebajikan yang belum pernah dikenal pada masa hidupnya Nabi Muhammad saw. itu diakui kebaikannya oleh Ibnu Taimiyyah. Beliau tidak melontarkan celaan terhadap ulama-ulama terdahulu yang mensunnahkan kebajikan tersebut, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Abbas, Umar bin Khattab dan lain-lainnya. Diantara kebajikan yang disebutkan oleh beliau dalam kitabnya itu ialah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal diantaranya : Mensunnahkan orang berhenti sejenak disebuah tempat dekat gunung ’Arafah sebelum wukuf dipadang ‘Arafah bukannya didalam masjid tertentu sebelum Mekkah , mengusap-usap mimbar Nabi saw. didalam masjid Nabawi di Madinah, dan lain sebagainya. Ibnu Taimiyyah membenarkan pendapat kaum muslimin di Syam yang mensunnahkan shalat disebuah tempat dalam masjid Al-aqsha (Palestina), tempat khalifah Umar dahulu pernah menunaikan sholat. Padahal sama sekali tidak ada nash mengenai sunnahnya hal-hal tersebut diatas. Semua- nya hanyalah pemikiran atau ijtihad mereka sendiri dalam rangka usaha memperbanyak kebajikan, hal mana kemudian diikuti oleh orang banyak dengan i’tikad jujur dan niat baik. Meskipun begitu, dikalangan muslimin pada masa itu tidak ada yang mengatakan: “Kalau hal-hal itu baik tentu sudah diamalkan oleh kaum Muhajirin dan Anshar pada zaman sebelum- nya”. (perkataan ini sering diungkapkan oleh golongan pengingkar). Masalah-masalah serupa itu banyak disebut oleh Ibnu Taimiyyah dikitab Iqtidha ini, antara lain soal tawassul (doá perantaran) yang dilakukan oleh isteri Rasulallah saw. ‘Aisyah ra. yaitu ketika ia membuka penutup makam Nabi saw. lalu sholat istisqa (sholat mohon hujan) ditempat itu, tidak beberapa lama turunlah hujan di Madinah, padahal tidak ada nash sama sekali mengenai cara-cara seperti itu. Walaupun itu hal yang baru (bid’ah) tapi dipandang baik oleh kaum muslimin, dan tidak ada sahabat yang mencela dan mengatakan bid’ah dholalah/sesat. Sebuah hadits yang diketengahkan oleh Imam Bukhori dalam shohihnya jilid 1 halaman 304 dari Siti ‘Aisyah ra., bahwasanya ia selalu sholat Dhuha, padahal Aisyah ra. sendiri berkata bahwa ia tidak pernah menyaksikan Rasulallah saw. sholat dhuha. Pada halaman 305 dibuku ini Imam Bukhori juga mengetengahkan sebuah riwayat yang berasal dari Mujahid yang mengatakan : “Saya bersama Úrwah bin Zubair masuk kedalam masjid Nabi saw.. Tiba-tiba kami melihat ‘Abdullah bin Zubair sedang duduk dekat kamar ‘Aisyah ra dan banyak orang lainnya sedang sholat dhuha. Ketika hal itu kami tanyakan kepada ‘Abudllah bin Zubair (mengenai sholat dhuha ini) ia menjawab : “Bidáh”. ‘Aisyah ra seorang isteri Nabi saw. yang terkenal cerdas, telah mengatakan sendiri bahwa dia sholat dhuha sedangkan Nabi saw. tidak mengamalkannya. Begitu juga ‘Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) mengatakan sholat dhuha adalah bid’ah, tetapi tidak seorangpun yang mengatakan bahwa bid’ah itu bid’ah dholalah yang pelakunya akan dimasukkan keneraka! Dengan demikian masalah baru yang dinilai baik dan dapat diterima ini disebut bid’ah hasanah. Karena sesuatu yang diperbuat atau dikerjakan oleh isteri Nabi atau para sahabat yang tersebut diatas bukan atas perintah Allah dan Rasul-Nya itu bisa disebut bid’ah tapi sebagai bid’ah hasanah. Semuanya ini dalam pandangan hukum syari’at bukan bid’ah melainkan sunnah mustanbathah yakni sunnah yang ditetapkan berdasarkan istinbath atau hasil ijtihad. Dalam makalah As-Sayyid Muhammad bin Alawiy Al-Maliki Al-Hasani rh yang berjudul Haulal Ihtifal bil Mauliddin Nabawiyyisy Syarif tersebut disebut- kan: Yang dikatakan oleh orang fanatik (extreem) bahwa apa-apa yang belum pernah dilakukan oleh kaum salaf, tidaklah mempunyai dalil bahkan tiada dalil sama sekali bagi hal itu. Ini bisa dijawab bahwa tiap orang yang mendalami ilmu ushuluddin mengetahui bahwa Asy-Syar’i (Rasulallah saw.) menyebutnya bid’ahtul hadyi (bid’ah dalam menentukan petunjuk pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya) sunnah, dan menjanjikan pahala bagi pelakunya. Firman Allah swt. ‘Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung’. (Ali Imran (3) : 104). Allah swt. berfirman : ‘Hendaklah kalian berbuat kebaikan agar kalian memperoleh keuntungan”. (Al-Hajj:77) Abu Mas’ud (Uqbah) bin Amru Al-Anshory ra berkata; bersabda Rasulallah saw.; وَعَنْ أبِي مَسْعُوْدِ (ر) عُقْبَةُ ِبنْ عَمْرُو الأ نْصَارِيُّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله .صَ. : مَنْ دَلَّ عَلىَ خَيْرٍ فَلَهُ مِثْـلُ أَجْرُ فَاعِلُهُ(رواه مسلم) ‘Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala sama dengan yang mengerjakannya’. ( HR.Muslim) Dalam hadits riwayat Muslim Rasulallah saw. bersabda: ‘Barangsiapa menciptakan satu gagasan yang baik dalam Islam maka dia memperoleh pahalanya dan juga pahala orang yang melaksanakannya dengan tanpa dikurangi sedikitpun, dan barangsiapa menciptakan satu gagasan yang jelek dalam Islam maka dia terkena dosanya dan juga dosa orang-orang yang mengamalkannya dengan tanpa dikurangi sedikitpun”. Masih banyak lagi hadits yang serupa/semakna diatas riwayat Muslim dari Abu Hurairah dan dari Ibnu Mas’ud ra. Sebagian golongan memberi takwil bahwa yang dimaksud dengan kalimat sunnah dalam hadits diatas adalah; Apa-apa yang telah ditetapkan oleh Rasulallah saw. dan para Khulafa’ur Roosyidin, bukan gagasan-gagasan baik yang tidak terjadi pada masa Rasulallah saw dan Khulafa’ur Rosyidin. Yang lain lagi memberikan takwil bahwa yang dimaksud dengan kalimat sunnah hasanah dalam hadits itu adalah; sesuatu yang diada-adakan oleh manusia daripada perkara-perkara keduniaan yang mendatangkan manfaat, sedangkan maksud sunnah sayyiah/buruk adalah sesuatu yang diada-adakan oleh manusia daripada perkara-perkara keduniaan yang mendatangkan bahaya dan kemudharatan. Dua macam pembatasan mereka diatas ini mengenai makna hadits yang telah kami kemukakan itu merupakan satu bentuk pembatasan hadits dengan tanpa dalil, karena secara jelas hadits tersebut membenarkan adanya gagasan-gagasan kebaikan pada masa kapanpun dengan tanpa ada pembatasan pada masa-masa tertentu. Juga secara jelas hadits itu menunjuk kepada semua perkara yang diadakan dengan tanpa ada contoh yang mendahului baik dia itu dari perkara-perkara dunia ataupun perkara-perkara agama!! Kami perlu tambahkan mengenai makna atau keterangan hadits Rasulallah saw. berikut ini: “Hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah para Khalifah Rasyidun sepeninggalku”. (HR.Abu Daud dan Tirmidzi). Yang dimaksud sunnah dalam hadits itu adalah thariqah yakni jalan (baca keterangan sebelumnya), cara atau kebijakan; dan yang dimaksud Khalifah Rasyidun ialah para penerus kepemimpinan beliau yang lurus .Sebutan itu tidak terbatas berlaku bagi empat Khalifah sepeninggal Rasulallah saw. saja, tetapi dapat diartikan lebih luas, berdasarkan makna Hadits yang lain : “Para ulama adalah ahli-waris para Nabi “. Dengan demikian hadits itu dapat berarti dan berlaku pula para ulama dikalangan kaum muslimin berbagai zaman, mulai dari zaman kaum Salaf (dahulu), zaman kaum Tabi’in, Tabi’it-Tabi’in dan seterusnya; dari generasi ke generasi, mereka adalah Ulul-amri yang disebut dalam Al-Qur’an surat An-Nisa : 63 : “Sekiranya mereka menyerahkan (urusan itu) kepada Rasulallah dan Ulul-amri (orang-orang yang mengurus kemaslahatan ummat) dari mereka sendiri, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahui dari mereka (ulul-amri)”. Para alim-ulamabukan kaum awamyang mengurus kemaslahatan ummat Islam, khususnya dalam kehidupan beragama. Sebab, mereka itulah yang mengetahui ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum agama. Ibnu Mas’ud ra. menegaskan : “Allah telah memilih Muhammad saw. (sebagai Nabi dan Rasulallah) dan telah pula memilih sahabat-sahabatnya. Karena itu apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, baik pula dalam pandangan Allah “ . Demikian yang diberitakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal didalam Musnad-nya dan dinilainya sebagai hadits Hasan (hadits baik). Dengan pengertian penakwilan kalimat sunnah dalam hadits diatas yang salah ini golongan tertentu ini dengan mudah membawa keumuman hadits kullu bid’atin dholalah (semua bid’ah adalah sesat) terhadap semua perkara baru, baik yang bertentangan dengan nash dan dasar-dasar syari’at maupun yang tidak. Berarti mereka telah mencampur-aduk kata bid’ah itu antara penggunaannya yang syar’i dan yang lughawi (secara bahasa) dan mereka telah terjebak dengan ketidak pahaman bahwa keumuman yang terdapat pada hadits hanyalah terhadap bid’ah yang syar’i yaitu setiap perkara baru yang bertentangan dengan nash dan dasar syari’at. Jadi bukan terhadap bid’ah yang lughawi yaitu setiap perkara baru yang diadakan dengan tanpa adanya contoh. Bid’ah lughawi inilah yang terbagi dua yang pertama adalah mardud yaitu perkara baru yang bertentangan dengan nash dan dasar-dasar syari’at dan inilah yang disebut bid’ah dholalah, sedangkan yang kedua adalah kepada yang maqbul yaitu perkara baru yang tidak bertentangan dengan nash dan dasar-dasar syari’at dan inilah yang dapat diterima walaupun terjadinya itu pada masa-masa dahulu/pertama atau sesudahnya. Barangsiapa yang memasukkan semua perkara baru yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulallah saw, para sahabat dan mereka yang hidup pada abad-abad pertama itu kedalam bid’ah dholalah, maka dia haruslah mendatangkan terlebih dahulu nash-nash yang khos (khusus) untuk masalah yang baru itu maupun yang ‘am (umum), agar yang demikian itu tidak bercampur-aduk dengan bid’ah yang maqbul berdasarkan penggunaannya yang lughawi. Karena tuduhan bid’ah dholalah pada suatu amalan sama halnya dengan tuduhan mengharamkan amalan tersebut. Kalau kita baca hadits dan firman Ilahi dibuku ini, kita malah diharuskan sebanyak mungkin menjalankan ma’ruf (kebaikan) yaitu semua perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah swt. dan menjauhi yang mungkar (keburukan) yaitu semua perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya agar kita memperoleh keuntungan (pahala dan kebahagian didunia maupun diakhirat kelak). Begitupun juga orang yang menunjukkan kepada kebaikan tersebut akan diberi oleh Allah swt. pahala yang sama dengan orang yang mengerjakannya. Apakah kita hanya berpegang pada satu hadits yang kalimatnya: semua bid’ah dholalah dan kita buang ayat ilahi dan hadits-hadits yang lain yang menganjurkan manusia selalu berbuat kepada kebaikan? Sudah tentu Tidak! Yang benar ialah bahwa kita harus berpegang pada semua hadits yang telah diterima kebenarannya oleh jumhurul-ulama serta tidak hanya melihat tekstual kalimatnya saja tapi memahami makna dan motif setiap ayat Ilahi dan sunnah Rasulallah saw. sehingga ayat ilahi dan sunnah ini satu sama lain tidak akan berlawanan maknanya. Berbuat kebaikan itu sangat luas sekali maknanya bukan hanya masalah peribadatan saja. Termasuk juga kebaikan adalah hubungan baik antara sesama manusia (toleransi) baik antara sesama muslimin maupun antara muslim dan non-muslim (yang tidak memerangi kita), antara manusia dengan hewan, antara manusia dan alam semesta. Sebagaimana para ulama pakar Islam klasik pendahulu kita sudah menegaskan bahwa pelanggaran hak asasi manusia tidak akan diampuni kecuali oleh orang yang bersangkutan, sementara hak asasi Tuhan diurus oleh diri-Nya sendiri. Manusia manapun tidak pernah diperkenankan membuat klaim-klaim yang dianggap mewakili hak Tuhan. Dalam konsep tauhid, Allah lebih dari mampu untuk melindungi hak-hak pribadi-Nya. Karena itu, kita harus berhati-hati untuk tidak melanggar hak-hak asasi manusia. Dalam Islam, Tuhan sendiri pun tidak akan mengampuni pelanggaran terhadap hak asasi orang lain, kecuali yang bersangkutan telah memberi maaf. Contoh-contoh bid’ah yang diamalkan para sahabat Marilah kita sekarang rujuk hadits-hadits Rasulallah saw. mengenai amal kebaikan yang dilakukan oleh para sahabat Nabi saw. atas prakarsa mereka sendiri, bukan perintah Allah swt. atau Nabi saw., dan bagaimana Rasulallah saw. menanggapi masalah itu. Insya Allah dengan adanya beberapa hadits ini para pembaca cukup jelas bahwa semua hal-hal yang baru (bid’ah) yang sebelum atau sesudahnya tidak pernah diamalkan, diajarkan atau diperintah- kan oleh Rasulallah saw. selama hal ini tidak merubah dan keluar dari garis-garis yang ditentukan syari’at itu adalah boleh diamalkan apalagi dalam bidang kebaikan itu malah dianjurkan oleh agama dan mendapat pahala. a. Hadits dari Abu Hurairah: “Rasulallah saw. bertanya pada Bilal ra seusai sholat Shubuh : ‘Hai Bilal, katakanlah padaku apa yang paling engkau harapkan dari amal yang telah engkau perbuat, sebab aku mendengar suara terompahmu didalam surga’. Bilal menjawab : Bagiku amal yang paling kuharapkan ialah aku selalu suci tiap waktu (yakni selalu dalam keadaan berwudhu) siang-malam sebagaimana aku menunaikan shalat “. (HR Bukhori, Muslim dan Ahmad bin Hanbal). Dalam hadits lain yang diketengahkan oleh Tirmidzi dan disebutnya sebagai hadits hasan dan shohih, oleh Al-Hakim dan Ad-Dzahabi yang mengakui juga sebagai hadits shohih ialah Rasulallah saw. meridhoi prakarsa Bilal yang tidak pernah meninggalkan sholat dua rakaat setelah adzan dan pada tiap saat wudhu’nya batal, dia segera mengambil air wudhu dan sholat dua raka’at demi karena Allah swt. (lillah). Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitab Al-Fath mengatakan: Dari hadits tersebut dapat diperoleh pengertian, bahwa ijtihad menetapkan waktu ibadah diperbolehkan. Apa yang dikatakan oleh Bilal kepada Rasulallah saw.adalah hasil istinbath (ijtihad)-nya sendiri dan ternyata dibenarkan oleh beliau saw. (Fathul Bari jilid 111/276). b. Hadits lain berasal dari Khabbab dalam Shahih Bukhori mengenai perbuatan Khabbab shalat dua rakaat sebagai pernyataan sabar (bela sungkawa) disaat menghadapi orang muslim yang mati terbunuh. (Fathul Bari jilid 8/313). Dua hadits tersebut kita mengetahui jelas, bahwa Bilal dan Khabbab telah menetapkan waktu-waktu ibadah atas dasar prakarsanya sendiri-sendiri. Rasulallah saw. tidak memerintahkan hal itu dan tidak pula melakukannya, beliau hanya secara umum menganjurkan supaya kaum muslimin banyak beribadah. Sekalipun demikian beliau saw. tidak melarang, bahkan membenarkan prakarsa dua orang sahabat itu. c. Hadits riwayat Imam Bukhori dalam shohihnya II :284, hadits berasal dari Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqi yang menerangkan bahwa: “Pada suatu hari aku sesudah shalat dibelakang Rasulallah saw. Ketika berdiri (I’tidal) sesudah ruku’ beliau saw. mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Salah seorang yang ma’mum menyusul ucapan beliau itu dengan berdo’a: ‘Rabbana lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubarakan fiihi’ (Ya Tuhan kami, puji syukur sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya atas limpahan keberkahan-Mu). Setelah shalat Rasulallah saw. bertanya : ‘Siapa tadi yang berdo’a?’. Orang yang bersangkutan menjawab: Aku, ya Rasul- Allah. Rasulallah saw. berkata : ‘Aku melihat lebih dari 30 malaikat ber-rebut ingin mencatat do’a itu lebih dulu’ “. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Fath II:287 mengatakan: ‘ Hadits tersebut dijadikan dalil untuk membolehkan membaca suatu dzikir dalam sholat yang tidak diberi contoh oleh Nabi saw. (ghair ma’tsur) jika ternyata dzikir tersebut tidak bertolak belakang atau bertentangan dengan dzikir yang ma’tsur dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad saw. Disamping itu, hadits tersebut mengisyaratkan bolehnya mengeraskan suara bagi makmum selama tidak mengganggu orang yang ada didekatnya…’. Al-Hafidh dalam Al-Fath mengatakan bahwa hadits tersebut menunjukkan juga diperbolehkannya orang berdo’a atau berdzikir diwaktu shalat selain dari yang sudah biasa, asalkan maknanya tidak berlawanan dengan kebiasa- an yang telah ditentukan (diwajibkan). Juga hadits itu memperbolehkan orang mengeraskan suara diwaktu shalat dalam batas tidak menimbulkan keberisikan. Lihat pula kitab Itqan Ash-Shan’ah Fi Tahqiq untuk mengetahui makna al-bid’ah karangan Imam Muhaddis Abdullah bin Shiddiq Al-Ghimary untuk mengetahui makna al-bid’ah d. Hadits serupa diatas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik ra. “Seorang dengan terengah-engah (Hafazahu Al-Nafs) masuk kedalam barisan (shaf). Kemudian dia mengatakan (dalam sholatnya) al-hamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi (segala puji hanya bagi Allah dengan pujian yang banyak, bagus dan penuh berkah). Setelah Rasulallah saw. selesai dari sholatnya, beliau bersabda : ‘Siapakah diantara- mu yang mengatakan beberapa kata (kalimat) (tadi)’ ? Orang-orang diam. Lalu beliau saw. bertanya lagi: ‘Siapakah diantaramu yang mengatakannya ? Sesungguhnya dia tidak mengatakan sesuatu yang percuma’. Orang yang datang tadi berkata: ‘Aku datang sambil terengah-engah (kelelahan) sehingga aku mengatakannya’. Maka Rasulallah saw. bersabda: ‘Sungguh aku melihat dua belas malaikat memburunya dengan cepat, siapakah diantara mereka (para malaikat) yang mengangkatkannya (amalannya ke Hadhirat Allah) “. (Shohih Muslim 1:419 ). e. Dalam Kitabut-Tauhid Al-Bukhori mengetengahkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra. yang mengatakan: “Pada suatu saat Rasulallah saw. menugas- kan seorang dengan beberapa temannya ke suatu daerah untuk menangkal serangan kaum musyrikin. Tiap sholat berjama’ah, selaku imam ia selalu membaca Surat Al-Ikhlas di samping Surah lainnya sesudah Al-Fatihah. Setelah mereka pulang ke Madinah, seorang diantaranya memberitahukan persoalan itu kepada Rasulallah saw. Beliau saw.menjawab : ‘Tanyakanlah kepadanya apa yang dimaksud’. Atas pertanyaan temannya itu orang yang bersangkutan menjawab : ‘Karena Surat Al-Ikhlas itu menerangkan sifat ar-Rahman, dan aku suka sekali membacanya’. Ketika jawaban itu disampaikan kepada Rasulallah saw. beliau berpesan : ‘Sampaikan kepadanya bahwa Allah menyukainya’ “. Apa yang dilakukan oleh orang tadi tidak pernah dilakukan dan tidak pernah diperintahkan oleh Rasulallah saw.. Itu hanya merupakan prakarsa orang itu sendiri. Sekalipun begitu Rasulallah saw. tidak mempersalahkan dan tidak pula mencelanya, bahkan memuji dan meridhoinya dengan ucapan “Allah menyukainya”. f. Bukhori dalam Kitabus Sholah  hadits yang serupa diatas dari Anas bin Malik yang menceriterakan bahwa: “Beberapa orang menunaikan shalat dimasjid Quba. Orang yang mengimami shalat itu setelah membaca surah Al-Fatihah dan satu surah yang lain selalu menambah lagi dengan surah Al-Ikhlas. Dan ini dilakukannya setiap rakaat. Setelah shalat para ma’mum menegurnya: Kenapa anda setelah baca Fatihah dan surah lainnya selalu menambah dengan surah Al-Ikhlas? Anda kan bisa memilih surah yang lain dan meninggalkan surah Al-Ikhlas atau membaca surah Al-Ikhlas tanpa membaca surah yang lain ! Imam tersebut menjawab : Tidak !, aku tidak mau meninggalkan surah Al-Ikhlas kalau kalian setuju, aku mau mengimami kalian untuk seterusnya tapi kalau kalian tidak suka aku tidak mau meng- imami kalian. Karena para ma’mum tidak melihat orang lain yang lebih baik dan utama dari imam tadi mereka tidak mau diimami oleh orang lain. Setiba di Madinah mereka menemui Rasulallah saw. dan menceriterakan hal tersebut pada beliau. Kepada imam tersebut Rasulallah saw. bertanya: ‘Hai, fulan, apa sesungguhnya yang membuatmu tidak mau menuruti permintaan teman-temanmu dan terus menerus membaca surat Al-Ikhlas pada setiap rakaat’? Imam tersebut menjawab: ‘Ya Rasulallah, aku sangat mencintai Surah itu’. Beliau saw. berkata: ‘Kecintaanmu kepada Surah itu akan memasukkan dirimu ke dalam surga’ “.. Mengenai makna hadits ini Imam Al-Hafidh dalam kitabnya Al-Fath mengatakan antara lain; ‘Orang itu berbuat melebihi kebiasaan yang telah ditentukan karena terdorong oleh kecintaannya kepada surah tersebut. Namun Rasulallah saw. menggembirakan orang itu dengan pernyataan bahwa ia akan masuk surga. Hal ini menunjukkan bahwa beliau saw. meridhainya’. Imam Nashiruddin Ibnul Munir menjelaskan makna hadits tersebut dengan menegaskan : ‘Niat atau tujuan dapat mengubah kedudukan hukum suatu perbuatan’. Selanjutnya ia menerangkan; ‘Seumpama orang itu menjawab dengan alasan karena ia tidak hafal Surah yang lain, mungkin Rasulallah saw. akan menyuruhnya supaya belajar menghafal Surah-surah selain yang selalu dibacanya berulang-ulang. Akan tetapi karena ia mengemukakan alasan karena sangat mencintai Surah itu (yakni Al-Ikhlas), Rasulallah saw. dapat membenarkannya, sebab alasan itu menunjukkan niat baik dan tujuan yang sehat’. Lebih jauh Imam Nashiruddin mengatakan ; ‘Hadits tersebut juga menunjukkan, bahwa orang boleh membaca berulang-ulang Surah atau ayat-ayat khusus dalam Al-Qur’an menurut kesukaannya. Kesukaan demikian itu tidak dapat diartikan bahwa orang yang bersangkutan tidak menyukai seluruh isi Al-Qur’an atau meninggalkannya’. Menurut kenyataan, baik para ulama zaman Salaf maupun pada zaman-zaman berikutnya, tidak ada yang mengatakan perbuatan seperti itu merupa- kan suatu bid’ah sesat, dan tidak ada juga yang mengatakan bahwa perbuat- an itu merupakan sunnah yang tetap. Sebab sunnah yang tetap dan wajib dipertahankan serta dipelihara baik-baik ialah sunnah yang dilakukan dan diperintahkan oleh Rasulallah saw. Sedangkan sunnah-sunnah yang tidak pernah dijalankan atau diperintahkan oleh Rasulallah saw. bila tidak keluar dari ketentuan syari’at dan tetap berada didalam kerangka amal kebajikan yang diminta oleh agama Islam itu boleh diamalkan apalagi dalam persoalan berdzikir kepada Allah swt. g. Al-Bukhori mengetengahkan sebuah hadits tentang Fadha’il (keutamaan) Surah Al-Ikhlas berasal dari Sa’id Al-Khudriy ra. yang mengatakan, bahwa ia mendengar seorang mengulang-ulang bacaan Qul huwallahu ahad…. Keesokan harinya ia ( Sa’id Al-Khudriy ra) memberitahukan hal itu kepada Rasulallah saw., dalam keadaan orang yang dilaporkan itu masih terus mengulang-ulang bacaannya. Menanggapi laporan Sa’id itu Rasulallah saw.berkata : ‘Demi Allah yang nyawaku berada ditanganNya, itu sama dengan membaca sepertiga Qur’an’. Imam Al-Hafidh mengatakan didalam Al-Fathul-Bari; bahwa orang yang disebut dalam hadits itu ialah Qatadah bin Nu’man. Hadits tersebut diriwayat- kan oleh Ahmad bin Tharif dari Abu Sa’id, yang mengatakan, bahwa sepanjang malam Qatadah bin Nu’man terus-menerus membaca Qul huwallahu ahad, tidak lebih. Mungkin yang mendengar adalah saudaranya seibu (dari lain ayah), yaitu Abu Sa’id yang tempat tinggalnya berdekatan sekali dengan Qatadah bin Nu’man. Hadits yang sama diriwayatkan juga oleh Malik bin Anas, bahwa Abu Sa’id mengatakan: ‘Tetanggaku selalu bersembahyang di malam hari dan terus-menerus membaca Qul huwallahu ahad’. h. Ashabus-Sunan, Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Hibban dalam Shohih-nya meriwayatkan sebuah hadits berasal dari ayah Abu Buraidah yang menceriterakan kesaksiannya sendiri sebagai berikut: ‘Pada suatu hari aku bersama Rasulallah saw. masuk kedalam masjid Nabawi (masjid Madinah). Didalamnya terdapat seorang sedang menunaikan sholat sambil berdo’a; Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Engkau. Engkaulah Al-Ahad, As-Shamad, Lam yalid wa lam yuulad wa lam yakullahu kufuwan ahad’. Mendengar do’a itu Rasulallah saw. bersabda; ‘Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, dia mohon kepada Allah dengan Asma-Nya Yang Maha Besar, yang bila dimintai akan memberi dan bila orang berdo’a kepada-Nya Dia akan menjawab’. Tidak diragukan lagi, bahwa do’a yang mendapat tanggapan sangat meng- gembirakan dari Rasulallah saw. itu disusun atas dasar prakarsa orang yang berdo’a itu sendiri, bukan do’a yang diajarkan atau diperintahkan oleh Rasulallah saw. kepadanya. Karena susunan do’a itu sesuai dengan ketentu- an syari’at dan bernafaskan tauhid, maka beliau saw. menanggapinya dengan baik, membenarkan dan meridhoinya. i. Hadits dari Ibnu Umar katanya; “Ketika kami sedang melakukan shalat bersama Nabi saw. ada seorang lelaki dari yang hadir yang mengucapkan ‘Allahu Akbaru Kabiiran Wal Hamdu Lillahi Katsiiran Wa Subhaanallahi Bukratan Wa Ashiila’. Setelah selesai sholatnya, maka Rasulallah saw. bertanya; ‘Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi? Jawab sese- orang dari kaum; Wahai Rasulallah, akulah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi. Sabda beliau saw.; ‘Aku sangat kagum dengan kalimat-kalimat tadi sesungguhnya langit telah dibuka pintu-pintunya karenanya’. Kata Ibnu Umar: Sejak aku mendengar ucapan itu dari Nabi saw. maka aku tidak pernah meninggalkan untuk mengucapkan kalimat-kalimat tadi.” (HR. Muslim dan Tirmidzi). As-Shan’ani ‘Abdurrazzaq juga mengutipnya dalam Al-Mushannaf. Demikianlah bukti yang berkaitan dengan pembenaran dan keridhaan Rasulallah saw. terhadap prakarsa-prakarsa baru yang berupa do’a-do’a dan bacaan surah di dalam sholat, walaupun beliau saw. sendiri tidak pernah melakukannya atau memerintahkannya. Kemudian Ibnu Umar mengamalkan hal tersebut bukan karena anjuran dari Rasulallah saw. tapi karena mendengar jawaban beliau saw. mengenai bacaan itu. Pada hadits-hadits tadi Rasulallah saw. juga tidak melarang orang untuk berdo’a dalam waktu sholat dengan lafadz-lafadz do’a yang tidak pernah diajarkan atau diperintahkan oleh beliau saw. dan membaca surah Al-Ikhlas berulang-ulang baik dalam waktu sholat maupun diluar sholat, malah beliau memberi kabar gembira bagi orang yang mengamalkannya. Mengapa justru golongan pengingkar berani mengharamkan, membid’ahkan munkar orang membaca tahlilan/yasinan berulang-ulang yang mana dimajlis itu bukan hanya satu surat saja yang dibaca tetapi bermacam-macam surah dari Al-Qur’an dan do’a-do’a yang baik? Kalau mereka mengatakan sebagai pengikut para Salaf, mengapa tidak mencontoh bagaimana cara Rasulallah saw. Raja dan Guru terbesarnya para Salaf menanggapi amalan-amalan bid’ah (baru) yang telah dikemukakan tadi? Yang lebih mengherankan lagi ialah ada golongan yang bependapat lebih jauh lagi yaitu menganggap do’a qunut waktu sholat shubuh sebagai bid’ah. Padahal do’a tersebut berasal dari hadits Rasulallah saw. sendiri yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Turmudzi, Nasa’i dan selain mereka dari Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib kw. juga oleh Al Baihaqi dari Ibnu Abbas. Sedangkan waktu dan tempat berdirinya untuk membaca do’a qunut pada waktu sholat Shubuh, ini juga berdasarkan hadits-hadits yang diketengahkan oleh Anas bin Malik; Awam bin Hamzah; Abdullah bin Ma’qil; Barra’ (ra) yang diriwayatkan oleh sekolompok huffaz dan mereka juga ikut menshahih-kannya serta para ulama lainnya diantaranya Hafiz Abu Abdillah Muhammad Ali al-Bakhi, Al Hakim Abu Abdillah, Imam Muslim, Imam Syafi’i, Imam Baihaqi dan Daraquthni dan lain lain). Bagaimana mungkin do’a qunut yang berasal dari Nabi saw. tersebut dikatakan bid’ah sedangkan tambahan-tambahan kalimat dalam sholat yang tersebut diatas atas prakarsanya para sahabat sendiri tidak dipersalahkan oleh Nabi saw. malah diridhoi dan diberi kabar gembira bagi yang membaca nya ? j. Hadits dari Abu Sa’id al-Khudri tentang Ruqyah yakni sistem pengobatan dengan jalan berdo’a kepada Allah swt. atau dengan jalan bertabarruk pada ayat-ayat Al-Qur’an. Sekelompok sahabat Nabi saw. yang sempat singgah pada pemukiman suku arab badui sewaktu mereka dalam perjalanan. Karena sangat lapar mereka minta pada orang-orang suku tersebut agar bersedia untuk menjamu mereka. Tapi permintaan ini ditolak. Pada saat itu kepala suku arab badui itu disengat binatang berbisa sehingga tidak dapat jalan. Karena tidak ada orang dari suku tersebut yang bisa mengobatinya, akhirnya mereka mendekati sahabat Nabi seraya berkata: Siapa diantara kalian yang bisa mengobati kepala suku kami yang disengat binatang berbisa? Salah seorang sahabat sanggup menyembuhkannya tapi dengan syarat suku badui mau memberikan makanan pada mereka. Hal ini disetujui oleh suku badui tersebut. Maka sahabat Nabi itu segera mendatangi kepala suku lalu membacakannya surah al-Fatihah, seketika itu juga dia sembuh dan langsung bisa berjalan. Maka segeralah diberikan pada para sahabat beberapa ekor kambing sesuai dengan perjanjian. Para sahabat belum berani membagi kambing itu sebelum menghadap Rasulallah saw.. Setiba dihadapan Rasulallah saw, mereka menceriterakan apa yang telah mereka lakukan terhadap kepala suku itu. Rasulallah saw. bertanya ; ‘Bagaimana engkau tahu bahwa surah al-Fatihah itu dapat menyembuhkan’? Rasulallah saw. membenarkan mereka dan ikut memakan sebagian dari daging kambing tersebut “. (HR.Bukhori) k. Abu Daud, At-Tirmudzi dan An-Nasa’i mengetengahkan sebuah riwayat hadits berasal dari paman Kharijah bin Shilt yang mengatakan; “Pada suatu hari ia melihat banyak orang bergerombol dan ditengah-tengah mereka terdapat seorang gila dalam keadaan terikat dengan rantai besi. Kepada paman Kharijah itu mereka berkata: ‘Anda tampaknya datang membawa kebajikan dari orang itu (yang dimaksud Rasulallah saw.), tolonglah sembuhkan orang gila ini’. Paman Kharijah kemudian dengan suara lirih membaca surat Al-Fatihah, dan ternyata orang gila itu menjadi sembuh”. (Hadits ini juga diketengahkan oleh Al-Hafidh didalam Al-Fath) Masih banyak hadits yang meriwayatkan amal perbuatan para sahabat atas dasar prakarsa dan ijtihadnya sendiri yang tidak dijalani serta dianjurkan oleh Rasulallah saw.. Semuanya itu diridhoi oleh Rasulallah saw. dan beliau memberi kabar gembira pada mereka. Amalan-amalan tersebut juga tidak diperintah atau dianjurkan oleh Rasulallah saw. sebelum atau sesudahnya. Karena semua itu bertujuan baik, tidak melanggar syariát maka oleh Nabi saw. diridhoi dan mereka diberi kabar gembira. Perbuatan-perbuatan tersebut dalam pandangan syari’at dinamakan sunnah mustanbathah yakni sunnah yang ditetapkan berdasarkan istinbath atau hasil ijtihad. Dengan demikian hadits-hadits diatas bisa dijadikan dalil untuk setiap amal kebaik- an selama tidak keluar dari garis-garis yang ditentukan syari’at Islam itu mustahab/baik hukumnya, apalagi masalah tersebut bermanfaat bagi masyarakat muslim khususnya malah dianjurkan oleh agama. Kalau kita teliti hadits-hadits diatas tersebut banyak yang berkaitan dengan masalah shalat yaitu suatu ibadah pokok dan terpenting dalam Islam. Sebagaimana Rasulallah saw. telah bersabda : صَلُُوْا كَمَا رَأيْتُمُوْنِي أصَلِي (رواه البخاري ‘Hendaklah kamu sholat sebagaimana kalian melihat aku sholat’. (HR Bukhori). Sekalipun demikian beliau saw. dapat membenarkan dan meridhoi tambahan tambahan tertentu yang berupa do’a dan bacaan surah atas prakarsa mereka itu. Karena beliau saw. memandang do’a dan bacaan surah tersebut diatas tidak keluar dari batas-batas yang telah ditentukan oleh syari’at dan juga bernafaskan tauhid. Bila ijtihad dan amalan para sahabat itu melanggar dan merubah hukum-hukum yang telah ditentukan oleh syari’at, pasti akan ditegur dan dilarang oleh Rasulallah saw. Mungkin ada orang yang bertanya-tanya lagi; Bagaimanakah pendapat orang tentang penetapan sesuatu yang disebut sunnah atau mustahab, yaitu penetapan yang dilakukan oleh masyarakat muslimin pada abad pertama Hijriyah, padahal apa yang dikatakan sunnah atau mustahab itu tidak pernah dikenal pada zaman hidupnya Nabi saw.? Memang benar, bahwa masyarakat yang hidup pada zaman abad pertama Hijriyah dan generasi berikutnya, banyak menetapkan hal-hal yang bersifat mustahab dan baik. Pada masa itu banyak sekali para ulama yang menurut kesanggupannya masing-masing dalam menguasai ilmu pengetahuan, giat melakukan ijtihad (studi mendalam untuk mengambil kesimpulan hukum) dan menetapkan suatu cara yang dipandang baik atau mustahab. Untuk menerangkan hal ini baiklah kita ambil contoh yang paling mudah dipahami dan yang pada umumnya telah dimengerti oleh kaum muslimin, yaitu soal kodifikasi (pengitaban) ayat-ayat suci Al-Qur’an, sebagaimana yang telah kita kenal sekarang ini. Para sahabat Nabi saw. sendiri pada masa-masa sepeninggal beliau saw. berpendapat bahwa pengkodifikasian ayat-ayat suci Al-Qur’an adalah bid’ah sayyiah. Mereka khawatir kalau-kalau pengkodifikasian itu akan mengakibatkan rusaknya kemurnian agama Allah swt., Islam. ‘Umar bin Khattab ra. sendiri sampai merasa takut kalau-kalau dikemudian hari ayat-ayat Al-Qur’an akan lenyap karena wafatnya para sahabat Nabi saw. yang hafal ayat-ayat Al-Qur’an. Ia mengemukakan kekhawatirannya itu kepada Khalifah Abu Bakra ra. dan mengusulkan supaya Khalifah memerintahkan pengitaban ayat-ayat Al-Qur’an. Tetapi ketika itu Khalifah Abu Bakar menolak usul ‘Umar dan berkata kepada ‘Umar; Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulallah saw.? ‘Umar bin Khattab ra. menjawab; Itu merupakan hal yang baik. Namun, tidak berapa lama kemudian Allah swt. membukakan pikiran Khalifah Abu Bakar ra seperti yang dibukakan lebih dulu pada pikiran ‘Umar bin Khattab ra, dan akhirnya bersepakatlah dua orang sahabat Nabi itu untuk mengitabkaan ayat-ayat Al-Qur’an. Khalifah Abu Bakar memanggil Zaid bin Tsabit dan diperintahkan supaya melaksana- kan pengitabatan ayat-ayat Al-Qur’an itu. Zaid bin Tsabit ra. juga menjawab kepada Abu Bakar; Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulallah saw.? Abu Bakar menjawab kepadanya; Itu pekerjaan yang baik! Untuk lebih detail keterangannya silahkan membaca riwayat hadits ini yang dikemukakan oleh Imam Bukhori dalam Shohih-nya jilid 4 halaman 243 mengenai pengitaban ayat-ayat suci Al-Qur’an. Jelaslah sudah, baik Abu Bakar, ‘Umar maupun Zaid bin Tsabit [ra] pada masa itu telah melakukan suatu cara yang tidak pernah dikenal pada waktu Rasulallah saw masih hidup. Bahkan sebelum melakukan pengitaban Al-Qur’an itu Khalifah Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit sendiri masing-masing telah menolak lebih dulu, tetapi akhirnya mereka dibukakan dadanya oleh Allah saw. sehingga dapat menyetujui dan menerima baik prakarsa ‘Umar bin Khattab ra. Demikianlah contoh suatu amalan yang tidak pernah dikenal pada zaman hidupnya Nabi saw. Secara umum bid’ah adalah sesat karena berada diluar perintah Allah swt. dan Rasul-Nya. Akan tetapi banyak kenyataan membuktikan, bahwa Nabi saw. membenarkan dan meridhoi banyak persoalan yang telah kami kemuka kan yang berada diluar perintah Allah dan perintah beliau saw. Hadits-hadits diatas itu mengisyaratkan adanya bid’ah hasanah, karena Rasulallah saw. membenarkan serta meridhoi atas kata-kata tambahan dalam sholat dan semua bentuk kebajikan yang diamalkan para sahabat walaupun Nabi saw. belum menetapkan atau memerintahkan amalan-amalan tersebut. Begitu juga prakarsa para sahabat diatas setelah wafatnya beliau saw. Darisini kita bisa ambil kesimpulan bahwa semua bentuk amalan-amalan, baik itu dijalankan atau tidak pada masa Rasulallah saw. atau zaman dahulu setelah zaman Nabi saw. yang tidak melanggar syariát serta mempunyai tujuan dan niat mendekatkan diri untuk mendapatkan ridha Allah swt. dan untuk mengingatkan (dzikir) kita semua pada Allah serta Rasul-Nya itu adalah bagian dari agama dan dapat diterima. Sebagaimana hadits Rasulallah saw.: اِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْنـِّيَّاتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى, فَمَنْ كَانَتْ هجْرَتُهُ الَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلى اللهِ وَرَسُوْلِهِ (رواه البخاري ‘Sesungguhnya segala perbuatan tergantung kepada niat, dan setiap manusia akan mendapat sekadar apa yang diniatkan, siapa yang hijrahnya (tujuannya) karena Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya itu adalah karena Allah dan Rasul-Nya (berhasil)’. (HR. Bukhori). Sekiranya orang-orang yang gemar melontarkan tuduhan bid’ah dapat memahami hikmah apa yang ada pada sikap Rasulallah saw. dalam meng- hadapi amal kebajikan yang dilakukan oleh para sahabatnya sebagaimana yang telah kami kemukakan dalil-dalil haditsnya tentu mereka mau dan akan menghargai orang lain yang tidak sependapat atau sepaham dengan mereka. Tetapi sayangnya golongan pengingkar ini tetap sering mencela dan mensesatkan para ulama yang tidak sepaham dengannya. Mereka ini malah mengatakan; ‘Bahwa para ulama dan Imam yang memilah-milahkan bid’ah menjadi beberapa jenis telah membuka pintu selebar-lebarnya bagi kaum Muslim untuk berbuat segala macam bid’ah ! Kemudian mereka ini tanpa pengertian yang benar mengatakan, bahwa semua bid’ah adalah dhalalah (sesat) dan sesat didalam neraka!”. Saya berlindung pada Allah swt. atas pemahaman mereka semacam ini. Dalil-dalil yang membantah dan jawabannya Hanya orang-orang egois, fanatik dan mau menangnya sendiri sajalah yang mengingkari hal tersebut. Seperti yang telah kemukakan sebelum ini bahwa golongan pengingkar ini selalu menafsirkan Al-Qur’an dan Sunnah secara tekstual oleh karenanya sering mencela semua amalan yang tidak sesuai dengan paham mereka. Misalnya, mereka melarang semua bentuk bid’ah dengan berdalil hadits Rasulallah saw. berikut ini : كُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةُ “Setiap yang diada-adakan (muhdatsah) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat’. Juga hadits Nabi saw.: مَنْ أحْدَثَ فِي اَمْرِنَا هَذَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري و مسلم) ‘Barangsiapa yang didalam agama kami mengadakan sesuatu yang tidak dari agama ia tertolak’. Hadits-hadits tersebut oleh mereka dipandang sebagai pengkhususan hadits Kullu bid’atin dhalalah yang bersifat umum, karena terdapat penegasan dalam hadits tersebut, yang tidak dari agama ia tertolak, yakni dholalah/ sesat. Dengan adanya kata Kullu (setiap/semua) pada hadits diatas ini tersebut mereka menetapkan apa saja yang terjadi setelah zaman Rasul- Allah saw. serta sebelumnya tidak pernah dikerjakan oleh Rasulallah saw adalah bi’dah dholalah. Mereka tidak memandang apakah hal yang baru itu membawa maslahat/kebaikan dan termasuk yang dikehendaki oleh agama atau tidak. Mereka juga tidak mau meneliti dan membaca contoh-contoh hadits diatas mengenai prakarsa para sahabat yang menambahkan bacaan-bacaan dalam sholat yang mana sebelum dan sesudahnya tidak pernah diperintahkan Rasulallah saw.. Mereka juga tidak mau mengerti bahwa memperbanyak kebaikan adalah kebaikan. Jika ilmu agama sedangkal itu orang tidak perlu bersusah-payah memperoleh kebaikan. Ada lagi kaidah yang dipegang dan sering dipakai oleh golongan pengingkar dan pelontar tuduhan-tuduhan bid’ah mengenai suatu amalan, adalah kata-kata sebagai berikut: “Rasulallah saw. tidak pernah memerintahkan dan mencontohkannya. Begitu juga para sahabatnya tidak ada satupun diantara mereka yang mengerja- kannya. Demikian pula para tabi’in dan tabi’ut-tabi’in. Dan kalau sekiranya amalan itu baik, mengapa hal itu tidak dilakukan oleh Rasulallah, sahabat dan para tabi’in?” Atau ucapan mereka : “Kita kaum muslimin diperintahkan untuk mengikuti Nabi yakni mengikuti segala perbuatan Nabi. Semua yang tidak pernah beliau lakukan, kenapa justru kita yang melakukannya..? Bukankah kita harus menjauhkan diri dari sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi saw., para sahabat, ulama-ulama salaf..? Karena melakukan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi adalah bid’ah”. Kaidah-kaidah seperti itulah yang sering dijadikan pegangan dan dipakai sebagai perlindungan oleh golongan pengingkar ini juga sering mereka jadikan sebagai dalil/hujjah untuk melegitimasi tuduhan bid’ah mereka terhadap semua perbuatan amalan yang baru termasuk tahlilan, peringatan Maulid Nabi saw dan sebagainya. Terhadap semua ini mereka langsung menghukumnya dengan ‘sesat, haram, mungkar, syirik dan sebagainya’, tanpa mau mengembalikannya kepada kaidah-kaidah atau melakukan penelitian terhadap hukum-hukum pokok/asal agama. Ucapan mereka seperti diatas ini adalah ucapan yang awalnya haq/benar namun akhirnya batil atau awalnya shohih namun akhirnya fasid. Yang benar adalah keadaan Nabi saw. atau para sahabat yang tidak pernah mengamal- kannya (umpamanya; berkumpul untuk tahlilan, peringatan keagamaan dan lain sebagainya). Sedangkan yang batil/salah atau fasid adalah penghukum- an mereka terhadap semua perbuatan amalan yang baru itu dengan hukum haram, sesat, syirik, mungkar dan sebagainya. Yang demikian itu karena Nabi saw. atau salafus sholih yang tidak mengerja- kan satu perbuatan bukanlah termasuk dalil, bahkan penghukuman dengan berdasarkan kaidah diatas tersebut adalah penghukuman tanpa dalil/nash. Dalil untuk mengharamkan sesuatu perbuatan haruslah menggunakan nash yang jelas, baik itu dari Al-Qur’an maupun hadits yang melarang dan mengingkari perbuatan tersebut. Jadi tidak bisa suatu perbuatan diharamkan hanya karena Nabi saw. atau salafus sholih tidak pernah melakukannya. Telitilah lagi hadits-hadits diatas yakni amalan-amalan bid’ah para sahabat yang belum pernah dikerjakan atau diperintahkan oleh Rasulallah saw. dan bagaimana Rasulallah saw. menanggapinya. Penanggapan Rasul- Allah saw. inilah yang harus kita contoh ! Demikian pula para ulama mengatakan’ bahwa amalan ibadah itu bila tidak ada keterangan yang valid dari Rasulullah saw., maka amalan itu tidak boleh dinisbahkan kepada beliau saw. !! Jelas disini para ulama tidak mengatakan bahwa suatu amalan ibadah tidak boleh diamalkan karena tidak ada keterangan dari beliau saw., mereka hanya mengatakan amalan itu tidak boleh dinisbahkan kepada Rasulallah saw. bila tidak ada dalil dari beliau saw. ! Kalau kita teliti perbedaan paham setiap ulama atau setiap madzhab selalu ada, dan tidak bisa disatukan. Sebagaimana yang sering kita baca dikitab-kitab fiqih para ulama pakar yaitu Satu hadits bisa dishohihkan oleh sebagian ulama pakar dan hadits yang sama ini bisa dilemahkan atau dipalsukan oleh ulama pakar lainnya. Kedua kelompok ulama ini sama-sama ber- pedoman kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulallah saw. tetapi berbeda cara penguraiannya. Tidak lain semuanya, karena status keshahihan itu masih bersifat subjektif kepada yang mengatakannya. Dari sini saja kita sudah bisa ambil kesimpul an; Kalau hukum atas derajat suatu hadits itu masih berbeda-beda diantara para ulama, tentu saja ketika para ulama mengambil kesimpulan apakah suatu amal itu merupakan sunnah dari Rasulullah saw. pun berbeda juga !! Para ulama pun berbeda pandangan ketika menyimpulkan hasil dari sekian banyak hadits yang berserakan. Umpamanya mereka berbeda dalam meng- ambil kesimpulan hukum atas suatu amal, walaupun amal ini disebutkan didalam suatu hadits yang shohih. Para ulama juga mengenal beberapa macam sunnah yang sumbernya langsung dari Rasulallah saw., umpama- nya; Sunnah Qauliyyah, Sunnah Fi’liyyah dan Sunnah Taqriyyah. Sunnah Qauliyyah ialah sunnah di mana Rasulullah saw. sendiri menganjur-kan atau mensarankan suatu amalan, tetapi belum tentu kita mendapatkan dalil bahwa Rasulllah saw. pernah mengerjakannya secara langsung. Jadi sunnah Qauliyyah ini adalah sunnah Rasulallah saw. yang dalilnya/riwayat- nya sampai kepada kita bukan dengan cara dicontohkan, melainkan dengan diucapkan saja oleh beliau saw. Di mana ucapan itu tidak selalu berbentuk fi’il amr (kata perintah), tetapi bisa saja dalam bentuk anjuran, janji pahala dan sebagainya. Contoh sunnah qauliyyah yang mudah saja: Ada hadits Rasulallah

Jika ingin mengetahui lebih banyak tentang kebohongan Ibnu Taimiyah lihat di http://ibnutaymiah.wordpress.com.

Ga bermutu…,

Debat kusir,….!!!

Bodoh sama bodoh, tetapi ga nyadar dirinya masih bodoh… Seolah2 dirinya lebih baik dari para ulama2 yang mencela. Bahkan menganggap dirinya lebih faqih dari para ulama2 yang dicela maupun dibela…

Copy paste…!!! siapa aja bisa.

Mengekor, orang kafir2 dahulupun juga demikian.

banyak2lah belajar. Menuduh dan tertuduh sama2 akan dimintai keteranggannya di akherat kelak. SUDAH SIAP BELUM…???

Atau yang copy paste ini, SUDAH HAFAL AL-QURAN 30 JUZ DENGAN SEMPURNA…??? BISA BERBAHASA ARAB DENGAN FASIH GA…??? BIASA MEMBACA KITAB2 ULAMA AHLUL SUNNAH Ga…???

TAU GA’ DEFENISI TAUHDI…???

Urus diri sendiri dan selalu introfeksi diri lebih ahsan…

Jika yang disampaikan fakta dan diambil dari kitab syaikh Ibnu Taymiyah kok dikatakan fitnah. Anda paham terminologi fitnah tidak, atau Anda buta terhadap fatwa miring syaikh Anda itu tentang sahabat rodhiyallohu ‘anhum. Apa yang dilakukan sahabat Rasululloh SAW yang dicela oleh syaikh Anda, kok malah Anda bela? Aneh.

Anda mengaku sebagai hamba Alloh, lho bukannya membela sunnah yang dijalankan para sahabat Rasul yang mendapat gelar ‘khoiru ummah’, malah membabi buta membela syaikh Anda. Yang mengecam syaikh Anda ulama Ahlus Sunnah bukan orang bodoh.

Saya tidak mengerti dengan gaya berpikir mas Hamba Alloh, kok tiba2 membicarakan hal di luar konteks. Inget pesan Tukul mas, kembali ke Laptop!

Nih mas saya kasih lihat lagi bedah kitab syaikh Anda yang bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh generasi terbaik ummat ini. Kalau Anda belum paham isinya, tolong tanya ustadz Anda. Mari diskusi dengan elegan


هذا كتاب الأذكار المنتخبة من كلام سيد الأبرار صلى الله عليه وسلم تأليف الإمام الحافظ شيخ الإسلام محي الدين أبي زكريا يحى بن شرف النووي الشافعي المتوفى سنة 676 هـ، طبع دار الكتب العربي الطبعة الخامسة عشر. يقول في الصحيفة 183 : فصل في زيارة قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم وأذكاره.اهـ. ثم يقول في الصحيفة 184 : ثم يرجع إلى موقفه الأول قبالة وجه رسول الله فيتوسل به في حق نفسه ويتشفع به إلى ربه سبحانه وتعالى ويدعو لنفسه ولوالديه وأصحابه وأحبابه ومن أحسن إليه وسائر المسلمين وفي هذا دليل على جواز التوسل برسول الله بعد وفاته وزيارة قبره للتبرك والدعاء عنده. وهذا مما يكشف عور وعورة بدعة ابن تيمية والوهابية في تكفير المتوسلين برسول الله ويبين للناس فسادها وزيغها وضلالها فالحمد لله الذي جعلنا على خطى بدور العلم وشموس الهدى علماء الأمة الأكابر من كل بحر زاخر كالنووي وغيره من أساطين علماء أهل السنة والجماعة والله ولي التوفيق

Berikut keyakinan Ibnu Taymiyyah yang bersebrangan dengan sahabat besar Imam Ali bin Abi Thalib ra. Ini bukan hal sembarangan, namun masalah aqidah!

Silakan mengambil sikap, taklid dengannya atau dengan selainnya.

Ini Blognya orang yang tidak berilmu. Oraknya kotor. Blog ini berisi fitnah…

Mas Wajib sudah tertutup mata hatinya dari kebenaran. Apa anda sudah membaca keseluruhan diskusi ini sehingga anda berkesimpulan seperti ini? Anda ternyata muqollid buta terhadap Ibnu Taymiyah sehingga apa pun pendapat syaikh -meskipun mencaci sahabat Ali bin Abi Thalib, menjisimkan Alloh dlsb-, menjadi pandangan Anda. Komentar Anda menunjukkan kualitas diri Anda.

Poor Wajib!

artikel e oye… mugi paring berkah mas…

Ad Durrah al Mudliyyah Fi ar Radd Ala Ibn Taimiyah : Mutiara yang bersinar dalam bantahan terhadap Ibnu Taimiyah
==============================================
Ini adalah sebuah kitab karya Qadli al Qudlat al Imam al Hafizh al Mufassir al Mujtahid Ali ibn Abdil Kafi as Subki (w 756 H), Seorang ulama besar yang telah mencapai derajat mujtahid mutlaq. Hidup semasa dengan Ibnu Taimiyah dan telah mengkafirkan Ibnu Taimiyah karena kesesatan-kesesatannya.

Berikut terjemah bebas dari pembukaan kitab tersebut (alenia 2):

Sesungguhnya Ibnu Taimiyah telah membuat perkara-perkara baru dalam dasar-dasar aqidah, merusak pokok-pokok ajaran Islam dan keyakinan-keyakinan di dalamnya; ia “membungkus dirinya (bersembunyi untuk mengelabui orang lain)” dengan mengaku sebagi orang yang memegang teguh al Qur’an dan Sunnah, ia menampakan (seolah-olah) sebagai penyeru kepada kebenaran dan membawa petunjuk ke jalan surga, sungguh sebenarnya ia telah keluar dari jalan ittiba’ (ikut kepada ajaran al Qur’an dan Sunnah) kepada jalan ibtida’ (menjadi ahli bid’ah menyesatkan), ia membawa ajaran “nyeleneh” dengan menyimpang dari ajaran mayoritas umat Islam (Ahlussunnah Wal Jama’ah) dengan menyalahi perkara-perkara yang telah menjadi ijma’ (kensensus) di antara mereka, ia membawa ajaran (kufur) mengatakan bahwa Dzat Allah adalah benda yang memiliki susunan-susunan, mengatakan tidak mustahil bahwa Allah membutuhkan kepada anggota-anggota badan, mengatakan alam ini (segala sesuatu selain Allah) menyatu dengan Dzat-Nya, mengatakan bahwa al Qur’an itu baharu dan Allah mengeluarkan huruf-huruf al Qur’an tersebut dari yang semula Dia diam (menurutnya Allah berkata-kata dengan lafazh-lafazh al Qur’an, lalu diam, lalu berkata-kata, lalu diam.. demikian seterusnya), mengatakan bahwa Allah memiliki kehendak-kehendak yang baharu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh para hamba-Nya, bahkan ia mengatakan bahwa alam ini qadim; tidak memiliki permulaan, ………..
================================
Kitab Karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami berjudul Hasyiyah al-Idlah Ala Manasik al-Hajj Wa al-’Umrah (Kitab Penjelasan terhadap Karya Imam an-Nawawi)
Bab VI: Menjelaskan tentang ziarah ke makam Junjungan kita Rasulullah (Shallallahu Alyhi Wa Sallam) dan segala permasalahan yang terkait dengannya
syarahnya

Kitab Karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami berjudul Hasyiyah al-Idlah Ala Manasik al-Hajj Wa al-’Umrah (Kitab Penjelasan terhadap Karya Imam an-Nawawi)

Bab VI: Menjelaskan tentang ziarah ke makam tuan kita dan baginda kita Rasulullah (Shallallahu Alyhi Wa Sallam) dan segala permasalahan yang terkait dengannya

Terjemah:

“… Jangan tertipu dengan pengingkaran Ibn Taimiyah terhadap kesunahan ziarah ke makam Rasulullah, karena sesungguhnya dia adalah manusia yang telah disesatkan oleh Allah; sebagaimana kesesatannya itu telah dinyatakan oleh Imam al-’Izz ibn Jama’ah, juga sebagaimana telah panjang lebar dijelaskan tentang kesesatannya oleh Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya tersendiri untuk itu (yaitu kitab Syifa’ as-Siqam Fi Ziyarah Khayr al-Anam). Penghinaan Ibn Taimiyah terhadap Rasulullah ini bukan sesuatu yang aneh; oleh karena terhadap Allah saja dia telah melakukan penghinaan, –Allah maha suci dari segala apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir dengan kesucian yang agung–. Kepada Allah; Ibn Taimiyah ini telah menetapkan arah, tangan, kaki, mata, dan lain sebagainya dari keburukan-keburuan yang sangat keji. Ibn Taimiyah ini telah dikafirkan oleh banyak ulama, –semoga Allah membalas segala perbuatan dia dengan keadilan-Nya dan semoga Allah menghinakan para pengikutnya; yaitu mereka yang membela segala apa yang dipalsukan oleh Ibn Taimiyah atas syari’at yangsuci ini–”.

http://www.facebook.com/home.php?#!/note.php?note_id=150951658255085

SYIAH SYIAH SYIAH!!!!!!!!!!! TUTUP BLOG INI

Kalau ente bener Cinta Hidayah, mestinya ente benar2 mencari Hidayah itu sendiri. Cari ulama2, guru2, ustadz2 yang benar. Jangan cari yang sembarangan. Kalau Cinta Hidayah dan ente bersungguh2 dalam mencari hidayah. Alloh akan mudahkan.

Apa yang dibahas berdasarkan pengakuan ulama2 Ahlus Sunnah dengan kitab rujukan yang jelas. Pembahasan mengenai Ibnu Taymiyah tidak ada hubungannya dengan Syiah. Yang membuka kedok ‘syaikhul Wahhabi’ Ibnu Taymiyah adalah ulama2 Ahlus Sunnah yang mu’tabar (kredibel). Atau ente ingin bilang bahwa Imam Ibnu Hajar itu Syiah?! Imam As Subki itu Syiah?! Imam Adz Dzahabi juga Syiah?!

Tutup blog? Ente buat aja blog sendiri dengan puji-pujian buat Wahhabi. Tidak perlu minta tutup blog orang. Belajar lagi ya nak

Semoga Allah tetap menjaga Ulama ulama Ahlussunah sebagaimana dari awal sampai akhir, juga ummat ummatnya yg terus berpegang pada tali yg teguh,ialah mengikuti para ulama dan kyai kyai yg berpaham ahlussunah waljama’ah

Al Hafizh Ibnu Hajar (W 852 H) menukil dalam kitab ad-Durar al Kaminah juz I, hlm. 154-155 bahwa para ulama menyebut Ibnu Taimiyah dengan tiga sebutan: Mujassim, Zindiq, Munafiq.

Ibnu Hajar menyatakan; Ibnu Taimiyah menyalahkan sayyidina ‘Umar ibn al Khaththab – semoga Allah meridlainya-, dia menyatakan tentang sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq –semoga Allah meridlainya- bahwa beliau masuk Islam di saat tua renta dan tidak menyadari betul apa yang beliau katakan (layaknya seorang pikun). Sayyidina Utsman ibn ‘Affan –semoga Allah meridlainya-, – masih kata Ibnu Taimiyah- mencintai dan gandrung harta dunia (materialis) dan sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib –semoga Allah meridlainya-, – menurutnya- salah dan menyalahi nash al-Qur’an dalam 17 permasalahan, ‘Ali menurut Ibnu Taimiyah tidak pernah mendapat pertolongan dari Allah ke manapun beliau pergi, dia sangat gandrung dan haus akan kekuasaan dan dia masuk Islam di waktu kecil padahal anak kecil itu Islamnya tidak sah.

Ibnu Hajar al Haytami (W 974 H) dalam karyanya Hasyiyah al Idlah fi Manasik al Hajj Wa al ‘Umrah li an-Nawawi, hlm. 214 menyatakan tentang pendapat Ibnu Taimiyah yang mengingkari kesunnahan safar (perjalanan) untuk ziarah ke makam Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam: “Janganlah tertipu dengan pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap kesunnahan ziarah ke makam Rasulullah,karena sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang disesatkan oleh Allah seperti dikatakan oleh al ‘Izz ibn Jama’ah. At-Taqiyy as-Subki dengan panjang lebar juga telah membantahnya dalam sebuah tulisan tersendiri. Perkataan Ibnu Taimiyah yang berisi celaan dan penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad ini tidaklah aneh karena dia bahkan telah mencaci Allah, Maha Suci Allah dari perkataan orang-orang kafir dan atheis. Ibnu Taimiyah menisbatkan hal-hal yang tidak layak bagi Allah, ia menyatakan Allah memiliki arah, tangan, kaki, mata (yang merupakan anggota badan) dan hal-hal buruk yang lain. Karenanya, Demi Allah ia telah dikafirkan oleh banyak para ulama, semoga Allah memperlakukannya dengan kedilan-Nya dan tidak menolong pengikutnya yang mendukung dusta-dusta yang dilakukan Ibnu Taimiyah terhadap Syari’at Allah yang mulia ini”.
Pengarang kitab Kifayatul Akhyar Syekh Taqiyy ad-Din al Hushni (W 829 H), setelah menuturkan bahwa para ulama dari empat madzhab menyatakan Ibnu Taimiyah sesat, dalam kitabnya Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa tamarrada beliau menyatakan:
“Maka dengan demikian, kekufuran Ibnu Taimiyah adalah hal yang disepakati oleh para ulama”.

Adz-Dzahabi (Mantan murid Ibnu Taimiyah) dalam risalahnya Bayan Zaghal al Ilmi wa ath-Thalab, hlm 17 berkata tentang Ibnu Taimiyah: ”Saya sudah lelah mengamati dan menimbang sepak terjangnya (Ibnu Taimiyah), hingga saya merasa bosan, setelah bertahun-tahun menelitinya. Hasil yang saya peroleh; ternyata bahwa penyebab tidak sejajarnya Ibnu Taimiyah dengan ulama Syam dan Mesir serta ia dibenci, dihina, didustakan dan dikafirkan oleh penduduk Syam dan Mesir adalah karena ia sombong, terlena oleh diri dan hawa nafsunya (‘ujub), sangat haus dan gandrunguntuk mengepalai dan memimpin para ulama dan sering melecehkan para ulama besar. ”

Adz-Dzahabi melanjutkan:
“Sesungguhnya apa yang telah menimpa Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya, hanyalah sebagian dari resiko yang harus mereka peroleh, janganlah pembaca ragukan hal ini”. Risalah adz-Dzahabi ini memang benar adanya dan ditulis oleh adz-Dzahabi karena al Hafizh as-Sakhawi (W 902 H) menukil perkataan adz-Dzahabi ini dalam bukunya al I’lan bi at- Taubikh, hlm. 77.

Al Hafizh Abu Sa’id al ‘Ala-i (W 761 H) yang semasa dengan Ibnu Taimiyah juga mencelanya. Abu Hayyan al Andalusi (W 745 H) juga melakukan hal yang sama, sejak membaca pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Kitab al ’Arsy yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah duduk di atas Kursi dan telah menyisakan tempat kosong di Kursi itu untuk mendudukkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam bersama-Nya”, beliau melaknat Ibnu Taimiyah. Abu Hayyan mengatakan: “Saya melihat sendiri hal itu dalam bukunya dan saya tahu betul tulisan tangannya”. Semua ini dituturkan oleh Imam Abu Hayyan al Andalusi dalam tafsirnya yang berjudul an-Nahr al Maadd min al Bahr al Muhith.. IIbnu Taimiyah juga menuturkan keyakinannya bahwa Allah duduk di atas ‘Arsy dalam beberapa kitabnya: Majmu’ al Fatawa, juz IV, hlm. 374, Syarh Hadits an-Nuzul, hlm. 66, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, juz I , hlm. 262. Keyakinan seperti ini jelas merupakan kekufuran. Termasuk kekufuran Tasybih; yakni menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya

sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Ahlussunnah. Ini juga merupakan bukti bahwa pernyataan Ibnu Taimiyah Mutanaaqidl (Pernyataannya sering bertentangan antara satu dengan yang lain). Bagaimana ia mengatakan -suatu saat- bahwa Allah duduk di atas ‘Arsy dan –di saat yang lain- mengatakan Allah duduk di atas Kursi ?!, padahal kursi itu jauh sangat kecil di banding ‘Arsy. Setelah semua yang dikemukakan ini, tentunya tidaklah pantas, terutama bagi orang yang mempunyai pengikut untuk memuji Ibnu Taimiyah karena jika ini dilakukan maka orang-orang tersebut akan mengikutinya, dan dari sini akan muncul bahaya yang sangat besar. Karena Ibnu Taimiyah adalah penyebab kasus pengkafiran terhadap orang yang ber-tawassul, beristighatsah dengan Rasulullah dan para Nabi, pengkafiran terhadap orang yang berziarah ke makam Rasulullah, para Nabi serta para Wali untuk ber-tabarruk. Padahal pengkafiran seperti ini belum pernah terjadi sebelum kemunculan Ibnu Taimiyah. Sementara itu, sekarang ini para pengikut Ibnu Taimiyah juga mengkafirkan orang-orang yang ber-tawassul dan ber-istighatsah dengan para nabi dan orang-orang yang Saleh, bahkan mereka menamakan Syekh ‘Alawi ibn Abbas al Maliki dengan nama Thaghut Bab as-Salam (ini artinya mereka mengkafirkan Sayyid ‘Alawi), karena beliau -semoga Allah merahmatinya-mengajar di sana, di Bab as-Salam, al Masjid al Haram,

buat yang punya blog dan memposting artikel ini.
bila memang ingin berduskusi, maka tanggapi komentar yang ingin mengajak diskusi dengan benar, jangan hanya mengkomentari tanggapan yang mencemooh saudara saja. bukankah itu menunjukkan kalau saudara hanya punya semangat berolok-olok saja, bukan bersemangat diskusi atau belajar?
mengenai topik yang saudara kemukakan, saya berpendapat bahwa perlu juga menyertakan refrensi yang lebih luas agar lebih adil, bukan hanya refrensi dari ulama2 dari beberapa golongan saja. misalnya dari sunni saja. memang saya sendiri memegang ahl al-sunnah wa al-jama’ah, namun kita pun harus sadar, jangan jadi eksklusif dengan menyatakan kebenaran mutlak ahl al-sunnah dan yang lain tidak benar, itu namanya memaksakan keyakinan yang masih sama2 bersifat dzonny al-dalalah. bukan qoth’iy al-wurud. apalagi secara terang-terangan saudara mencantumkan nama golongan seperti wahabi dll. dalam “menyerang” pendapat. menurut saya itu kurang etis.
mengenai tanggapan orang yang menyerang saudara, itu merupakan respon dan refleksi dari pernyataan saudara sendiri. menurut saya, bila saudara menggunakan bahasa dan cara penyampaian yang berbeda, insyaallah tanggapan yang saudara terima berbeda pula. dan kemungkinan besar tidak menanggapi dengan bahasa yan, maaf, sangat kasar seperti itu.
untuk yang lain, memang sudah jadi hak saudara untuk mengungkapkan pemikiran saudara.
terimakasih, semoga bisa jadi bahan refleksi dan kontemplasi

Istighfar antum! Sudah berapa ratus ribu buku yang antum baca! Sudah berapa ULAMA yang antum datengi kalau sampai berani menuduh dan memfitnah ibnu Taimiyah rahimahullah! Berilmu sebelum berucap dan beramal!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Shalawat

Al Qur’an Online

Tawassul

Pengunjung

  • 615,867 Pembaca Setia

اهلا وسهلا بحضوركم

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kebenaran datangnya dari Alloh SWT, kesalahan datangnya dari kelemahan diri saya pribadi. Jika ingin copy-paste silakan. Mohon masukan dan tegur sapa serta do'akan semoga tetap istiqomah di jalanNYA. Amien

Terima kasih atas kunjungan Anda

Allah exists without a place!

Sahabat Ali Ibn Abi Thalib berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir." Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sahabat Ali Ibn Abi Thalib menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah SWT) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,018 other followers

April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Twitter

Follow me

Shalawat

  1. preview.mp3
  2. M%2BArifin%2BIlham%2B-%2BYa%2BNabi%2BSalam%2BAlaika.mp3



Asas

Page Rank

Online

tracker

My 4shared

%d bloggers like this: