Sekedar Catatan

Kecermatan Dalil

Posted on: January 25, 2010

Dalam satu artikel manarik yang disajikan Alexandaricairo tentang Menyambut Kekasih Dengan Kecermatan Dalil, perlu kiranya saya tulis ulang sebagai bagian dari turut menyampaikan dan menyebarluaskan hal yang baik bagi pembaca.

Setidaknya ada dua cara berpikir manusia dalam menentukan dan mengambil satu kesimpulan terhadapa satu kejadian/perbuatan:

  1. Menetapkan Hukum. Kemudian mencari hujah untuk mendukung hukum yang telah diputuskan
  2. Mencari berbagai hujah untuk mendapatkan hukum yang mencakup tuntutan berbagai hujah

PENDEKATAN A

Pendekan ini tidak mudah juga tidak sukar. Mereka akan menetapkan satu hukum berdasarkan satu metode pemikiran tertentu. Atas tuntutan metode yang mereka pilih mereka berusaha mencari berbagai dalil untuk mendukung ketetapan hukum yang telah dibuat.

Namun pendekatan ini memiliki beberapa resiko:

  1. Ketidaktepatan Dalil yang digunakan
  2. Kemungkinan Penyembunyian Dalil karena bimbang hukum yang telah ditetapkan disanggah dalil lain
  3. Berat menerima dalil lain yang membantah hukum yang telah ditetapkannya
  4. Menetapkan hukum lebih kepada ‘pemuasan’ nafsu secara sadar atau tidak
  5. Enggan menerima hukum lain, meskipun hukum yang telah ditetapkannya tertolak dengan dalil lain

Kita ambil satu permisalan, Anda benci seseorang. Anda telah meletakkan hukum benci terhadap orang tersebut. Dengan kebencian itu Anda meniadakan keberadaan orang tsb agar orang tidak mengenalnya. Ketika orang yang Anda benci dikenali oleh orang lain, maka Anda berupaya menggiring orang dengan mengatakannya dia tidak benar. Namun ketika orang tsb mampu menunjukkan bahwa ia benar, Anda akan mengatakan bahwa ia salah bertindak. Pun jika orang itu tidak melakukan tindakan yang salah, Anda tetap akan mengatakannya bahwa ucapannya tidak benar dst… Anda/kita dipenjara oleh ketetapan hukum yang sudah kita buat kemudian kita mencari2 dalil untuk mendukung ketetapan tadi.

Apabila seseorang mengambil cara pemikiran seperti ini, ada kemungkinan ketidaktepatan dalam mengambil dalil [wajhul istidlal = proses memahami dalil hukum]. Karena hukum telah ditetapkan terlebih dahulu maka implikasinya pencarian dalil lebih mengarah bagaimana ketetapan hukum itu tak terbantah.

Ketika otak disetting menetapkan hukum ‘tidak boleh’ terlebih dahulu, bagaimana dengan otak yang sama  memungkinkan dalil yang dapat menolak setting awal ‘tidak boleh’. Apakah mungkin otak yang telah menetapkan satu hukum dapat menerima dalil yang menyanggah hukum yang telah ditetapkannya?

PENDEKATAN B

Pendekatan berfikir ini jauh lebih selamat dari pendekatan pertama.  Sebab apabila seseorang tidak menjatuhkan hukum terlebih dahulu, ia akan memberi satu ruang untuk lebih terbuka dalam memproses dalil. Orang terbiasa memperhatikan semua dalil untuk dilakukan pertimbangan. Pendekatan ini pun meniadakan penyembunyian dalil karena proses menetapkan membutuhkan segala dalil secara fair. Pola ini pun tidak terbeban dengan desakan hukum, maksudnya otak tidak terbebani dengan satu ketetapan hukum yang telah diambilnya. Sehingga pertimbangan jadi lebih matang dan selamat.

Kebebasan dan kelapangan berfikir inilah yang banyak digunakan para alim ulama dalam mengambil satu hukum terhadap satu permasalahan. Mereka mengkaji dalil dengan seluruh pendekatan, dengan wajhul istidlal yang terperinci supaya natijah atau ketetapan hukum yang diperoleh benar-benar pasti sebagai satu keputusan syara yang tulus dan tepat.

Resiko penyembunyian dalil dan menghukum dalil sebagai tidak syah sangatlah minim. Sikap Isti’jal atau terburu-buru menghukum juga dapat diperkecil. Ini karena otak tidak dibebani satu frame ketetapan hukum yang sudah diambil sejak awal. Dalil dikaji sedwmikian rupa untuk mencari ketetapan hukum bukan sebaliknya.

KELAHIRAN RASULULLOH [MAULIDUR RASUL]

Mendengar kata ini manusia terbagi menjadi dua, tergantung pendekatan mana yang diambilnya. Pendekatan A terikat dengan hukum bid’ah –> sesat –> neraka. Sejurus ia akan mencari berbagai dalil yang mendukung frame hukum bid’ah. Hukum telah tebentuk melalui pendekatan berfikir. Segala dalil tersekat dengan pola hukum yang tetap : Bid’ah! Apa pun dalil yang dikemukakan adalah dalil yang mendukung kesimpulan yang sudah dibuat. Dengan cara berpikir seperti ini, orang akan tetap bertahan meskipun ada sanggahan. Namun sanggahan tinggalah sanggahan, karena benak sudah dikelilingi tembok tebal. Padahal kita kita bahwa hal ini adalah masalah khilafiah. Namun dorongan kuat hukum tsb menjadikan seseorang sanggup membuat  hal tsb menjadi perdebatan besar tanpa ujung.

Bagaimana dengan orang yang memiliki pendekatan B menanggapi hal ini. Ia akan menikmatinya selama Maulid ini berpayungkan dalil syar’I baik yang umum maupun yang khusus. Jika ada kesalahan dalam prosesi Maulid, orang tersebut akan melihat bahwa kesalahannya bukan pada Maulid, namun lebih kepada kesalahan itu sendiri. Pertimbangan akan lebih lurus dan terpimpin, akan lebih lapang dada dan tidak emosi.

RENUNGAN

Saya tertarik dengan sikap agung Rasululloh SAW ketika melihat orang Yahudi merayakan selamatnya  Nabi Musa AS beserta kaumnya dan ditenggelamkannya Fir’aun beserta bala tentaranya. Hal ini terekam dalam kitab Al-ajwibah Al-Mardhiah karya Al-Imam Al-Hafidz As-Sakhawi (murid Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani) yang menaqalkan sebuah hadis dalam sahihain :

Mengomentari hadis ini, imam Al Hafidz As Sakhawi mengatakan:

( Al-Ajwibah Al-Mardhiah, jilid 3, 1116-1120 )

Apakah dengan terburu-buru kita meyimpulkan bahwa Rasululloh meniru (tasyabbuh =menyerupai) puasa atau amalan Yahudi? Atau kita tetap tidak mau memahami bahwa boleh saja merayakan kesyukuran terhadap satu nikmat atau diangkatnya satu bala dengan satu peringatan? Bukankah perayaan maulid berulang setiap tahun sebagaimana perayaan puasa Asyura?

Rasululloh menyambut kemenangan Nabi Musa AS. Dengan kesyukuran. Bersyukur dapat dimanifestasikan dengan berbagai macam ibadah seperti sujud syukur, puasa, sedekah, nazar atau pun sholat. Kalau lah kemenangan Nabi Musa AS dirayakan Rasululloh setiap tahun (meskipun juga dirayakan oleh Yahudi sendiri), bukankah nikmat kelahiran makhluk termulia di sisi Alloh (Rasululloh) lebih besar nikmatnya? Jika Rasululloh sebagai sayyidul anbiya (pemimpin para Nabi) merayakan nikmat kemenangan Nabi Musa AS, apakah kita sebagai ummat tidak berhak merayakan kelahiran Rasululloh? Apakah merayakan nikmat atas kelahiran manusia termulia (maulidur Rasul) tidak sama dengan cara Nabi Muhammad merayakan nikmat selamat atas Nabi Musa dengan ibadah puasa?

Jadi apakah kiranya menyamakan ummat Islam yang merayakan maulid dengan kaum Nasrani merayakan kelahiran Isa (Natal)? Adakah dengan tuduhan itu ingin menyamakan Rasululloh dengan Yahudi yang berpuasa atas kejayaan Nabi Musa AS? Apakah semudah itu qiyas dan pendalilan yang dibuat hanya karena cara berpikir yang sudah keburu diset Bid’ah dan hati yang tertutup dari dalil lain?

Jawabanya tergantung pada cara berpikir mana yang dipilih, A atau B?

2 Responses to "Kecermatan Dalil"

Eh bang Saad, ketemu lagi. Tulisan nya berat euy…

Eh lettu Rafiq (jangan2 dah Letkol) pa kabar nih? Lama gak sua. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Shalawat

Al Qur’an Online

Tawassul

Pengunjung

  • 619,981 Pembaca Setia

اهلا وسهلا بحضوركم

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kebenaran datangnya dari Alloh SWT, kesalahan datangnya dari kelemahan diri saya pribadi. Jika ingin copy-paste silakan. Mohon masukan dan tegur sapa serta do'akan semoga tetap istiqomah di jalanNYA. Amien

Terima kasih atas kunjungan Anda

Allah exists without a place!

Sahabat Ali Ibn Abi Thalib berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir." Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sahabat Ali Ibn Abi Thalib menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah SWT) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,017 other followers

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Twitter

Follow me

Shalawat

  1. preview.mp3
  2. M%2BArifin%2BIlham%2B-%2BYa%2BNabi%2BSalam%2BAlaika.mp3



Asas

Page Rank

Online

tracker

My 4shared

%d bloggers like this: