Sekedar Catatan

Syaikh Al Albani

Posted on: February 10, 2010

Beberapa tahun belakangan banyak kitab, buku, artikel, atau postingan di internet yang memuat kalimat : disahihkan oleh Syaikh Al Albani. Selama ini orang setidaknya hanya mengenal seperti : diriwayatkan oleh Syaikhon (Imam Bukhari dan Imam Muslim) atau diriwayatkan oleh Imam Bukhari, sahih Bukhari, sahih Muslim dan yang semisalnya dari Imam2 Muhaddits yang mu’tabar (kredibel). Dengan munculnya seorang yang dianggap sebagai ahli hadits abad ini, kini muncul istilah baru yang jadi icon dan ‘jaminan mutu’, apabila sebuah hadits sudah dapat stempel : disahihkan oleh Al Albani. Para pemuja syaikh kelahiran Albania ini kadang bersikap ghuluw (berlebihan) dalam mempromosikan hadits  yg ditakhrijnya dan memuji pribadinya. Mereka menyebutnya Al-Imam Al-Mujaddid Al ‘Allamah Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Sayangnya pemujaan terhadap syaikh yang satu ini tanpa disebutkan dari mana sang Mujaddid wal Muhaddits ini mendapatkan sanad hadits (klik ini). Meskipun salah satu situs resmi Wahhabi di Indonesia mencoba membantahnya dengan menyebutkan guru2nya syaikh, namun tidak dapat membuktikan sanad yang muttashil (bersambung) sampai kepada Rasululloh shallallohu ‘alayhi wa aalihi wa sallam.  Adakah seorang yang bergelar/diberi gelar Muhaddits tidak memiliki sanad yang muttashil? Dalam sebuah artikel dituliskan :

Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah, meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits). –source

Sebagai perbandingan salah seorang Muhaddits Indonesia, syaikh Muhammad Yasin ibn Muhammad ‘Isa al-Fadani memiliki rantaian sanad yang bersambung sampai kepada Rasululloh SAW. Sementara syaikh al Albani dapat dikatakan lebih sebagai kutu buku yang banyak menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mempelajari hadits, ketimbang sebagai ahli hadits (Muhaddits). Sebab persyaratan untuk dapat dikatakan sebagai Ahli Hadits (Muhaddits) amatlah berat.  Setidaknya ada 3 syarat menurut Imam Ibnu Hajr al Asyqolani Asy Syafi’ie :

1 – Masyhur dalam menuntu ilmu hadits dan mengambil riwayat dari mulut para ulama, bukan dari kitab-kitab hadits saja
2 – Mengetahui dengan jelas Thabaqat generasi periwayat dan kedudukan mereka
3 – mengetahui Jarah dan ta`dil dari setiap periwayat, dan mengenal mana hadit yang shahih atau yang Dhaif, sehingga apa yang dia ketahui lebih banyak dari pada yang tidak diketahuinya, juga menghapal banyak matan haditsnya –source

Berikut adalah penjelasan salah seorang nara sumber menjawab satu pertanyaan tentang siap syaikh Al Albani.

Syaikh Nashiruddin Al-Albani adalah salah satu tokoh yang pernah hidup di abad 20 sebagai ulama yang mendalami masalah kritik sanad hadits. Menjadi tenar -salah satunya- karena pendapat-pendapat beliau yang cenderung berbeda dari kebanyakan pendapat yang sudah dianut oleh umat Islam, baik di bidang ilmu hadits atau pun di bidang fiqih.

Salah satunya adalah pandangan beliau yang mengajak orang untuk tidak terpaku kepada pandangan dari mazhab-mazhab fiqih peninggalan para ulama. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu asing, karena sudah banyak dikampanyekan oleh para tokoh sebelumnya seperti Muhammad Abduh atau Rasyid Ridha. Namun beliau menyampaikan dengan format yang berbeda dan lebih spesifik serta didukung oleh keahlian beliau di bidang kritik sanad hadits.

Kelahiran di Albania dan Hijrah ke Damaskus

Syeikh Nashiruddin Al-Albani lahir tahun 1914 masehi atau bertepatan dengan tahun 1333 hijriyah, di ibukota Albania saat itu, Asyqodar.

Keluarga beliau boleh dibilang termasuk kalangan kurang berada, namun bertradisi kuat dalam menuntut ilmu agama. Ayahanda beliau bernama Al-Haj Nuh, lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari”ah di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul) dan menjadi rujukan orang-orang dalam masalah agama.

Keluarga beliau kemudian berhijrah ke Damaskus, ibu kota Syria, dan menetap di sana setelah Ahmad Zaghu raja Albania saat itu menyimpangkan negaranya menjadi kebarat-baratan.

Pendidikan Agama

Beliau boleh dibilang tidak menyelesaikan pendidikan formal yang tinggi, kecuali hanya menyelesaikan sekolah madrasah ibtidaiyah dengan baik. Kemudian beliau meneruskan ke madarasah An-Nizhamiyah yang sangat fenomenal di dunia Islam. Namun setelah itu ayahnya punya pendapat tersendiri tentang madrasah An-Nizamiyah sehingga beliau keluar dan belajar dengan sistem tersendiri pelajarannya, seperti Quran, tajwid, nahwu, sharf serta fiqih mazhab Hanafi.

Beliau mengkhatamkan Al-Quran di tangan ayahnya sendiri dengan bacaan riwayat Hafsh dari Ashim. Beliau belajar kitab fiqih mazhab Al-Hanafi yaitu Maraqi al-Falah kepada Syeikh Said Al-Burhani, selain juga belajar lughah dan balaghah.

Secara pendapatan finansial, beliau bekerja sebagai tukang jam, sebuah keahlian yang diwariskannya dari ayahnya sendiri. Bahkan beliau sampai menjadi termasyhur di bidang service jam di Damaskus.

Sesungguhnya ayah beliau telah mengarahkan beliau untuk mendalami agama khususnya pada mazhab Al-Hanafi serta memperingatkan beliau untuk tidak terlalu menekuni ilmu hadits. Namun beliau tetap belajar ilmu hadits dan ilmu-ilmu lainnya yang menunjang. Sehingga paling tidak beliau menghabiskan 20 tahun dari hidupnya dalam mempelajari ilmu hadits, karena pengaruh dari bacaan beliau pada majalah Al-Manar yang diterbitkan oleh Syaikh Rasyid Ridha rahimahullah.

Mendalami Ilmu Hadits di Perpustakaan

Beliau menyenangi ilmu hadits dan semakin asyik dengan penelusuran kitab-kitab hadits. Sampai pihak pengelola perpustakaan adz-Dzhahiriyah di Damaskus memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau.

Bahkan kemudian beliau diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, beliau menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula pulangnya ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, beliau justru pulang setelah sholat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.

Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai beliau menutup kios reparasi jamnya. Beliau lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan azh-Zhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan.

Kontroversi Tentang Sosok Beliau

Syeikh Nashiruddin Al-Albani oleh beberapa kalangan sangat dihormati sebagai ulama yang setuju dengan pandangan-pandangannya, namun memang ada juga sebagian lainnya yang kurang suka kepada pendapatnya serta cara penyampaiannya yang khas.

Mereka yang gemar dengan pendapat beliau umumnya adalah kalangan muda yang getol mempelajari ilmu hadits. Namun kurang dalam mempelajari ilmu fiqih serta perangkat-perangkatnya. Paling tidak, sistematika fiqih yang beliau kembangkan beliau tidak sebagaimana umumnya sistematika ilmu fiqih yang digunakan oleh para ahli fiqih umumnya.

Misalnya buat beliau, kesimpulan hukum suatu masalah lebih sering ditetapkan semata-mata berdasarkan kekuatan riwayat suatu hadits. Sedangkan pertimbangan lainnya sebagaimana yang ada di dalam ilmu fiqih, termasuk pendapat para imam mazhab, seringkali ditepis oleh beliau.

Ketidak-sukaan sebagian orang kepada beliau biasanya dilatar-belakangi oleh kekurang-mengertian mereka kepada sosok beliau. Sehingga melahirkan pandangan yang kurang baik pada citra diri beliau. Bahkan beliau pernah mengalami dua kali dipenjara, yang konon disebabkan oleh masalah seperti ini.

Memang terkadang bahasa yang beliau gunakan boleh dibilang agak terbuka dan terlalu apa adanya. Sehingga membuat telinga sebagian orang yang membacanya dan kebetulan kena sindir beliau menjadi merah telinganya.

Selain itu beliau memang dikenal sebagai tokoh di bidang ilmu hadits yang cenderung tidak mau berpegang kepada pendapat-pendapat dari mazhab-mazhab fiqih yang ada. Kesan itu akan sangat terasa menyengat bila kita banyak mengkaji ceramah dan tulisan beliau, terutama yang menyangkut kajian fiqih para ulama mazhab.

Bagi beliau, pendapat para ulama mazhab harus ditinggalkan bila bertentangan dengan apa yang beliau yakini sebagai hasil ijtihad beliau dari hadits-hadits shahih. Apalagi bila menurut beliau, pendapat para ulama mazhab itu tidak didasari oleh riwayat hadits yang kuat sanadnya.

Bahkan beliau mudah menjatuhkan vonis ahli bid”ah kepada siapa saja yang menurut beliau telah berdalil dengan hadits yang lemah. Maksudnya lemah di sini adalah lemahmenurut hasil penelitian beliau sendiri. Termasuk juga pada masalah-masalah yang umumnya dianggap sudah final di kalangan para ahli fiqih. Buat beliau, semua itu harus diabaikan, bila berbeda dengan pandangan beliau dengan landasan ijtihad beliau di bidang ilmu hadits.

Barangkali hal-hal inilah yang sering menimbulkan pandangan tertentu di kalangan sebagian orang tentang sosok beliau.

Namun apa yang beliau sampaikan itu sebenarnya bukan sekedar omongan belaka, namun berangkat dari hasil ijtihad beliau pribadi. Dengan kapasitas ilmu hadits yang beliau miliki serta banyaknya beliau membaca di perpustakaan, maka apa yang menjadi pendapat beliau punya landasan ilmiyah, bukan asal bunyi.

Namun sebagaimana tradisi keilmuwan di dalam peradaban Islam, boleh saja para ulama saling berbeda pandangan satu dengan yang lainnya, namun kita diharamkan untuk saling ejek, saling cemooh, saling cela dan saling boikot, hanya lantaran perbedaan pandangan.

Apa yang menjadi pandangan Albani harus dihormati sebagai sebuah hasil ijtihad seorang yang telah menguasai satu cabang ilmu. Tentunya beliau berhak atas pendapatnya. Namun ijtihad yang dihasilkan oleh seorang ulama tidaklah harus menggugurkan ijtihad ulama lain yang juga telah mengerahkan semua kemampuannya. Biarlah hasil-hasil ijtihad saling berbeda, sehingga memberikan ruang gerak yang luas kepada umat Islam ini.

Beberapa Tugas yang Pernah Diemban

Syeikh al-Albani Beliau pernah mengajar hadits dan ilmu-ilmu hadits di Universitas Islam Madinah meski tidak lama, hanya sekitar tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H.

Setelah itu beliau pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh al-Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu.

Pada tahun 1395 H hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam”iyah Islamiyah di sana. Mendapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H.

Wafat Beliau dan Warisannya

Beliau wafat pada hari Jum”at malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yoradania. Karya-karya beliau amat banyak yang menjadi warisan kepada dunia Islam, sebagian sudah dicetak, namun ada yang masih berupa manuskrip, bahkan ada yang hilang, semua berjumlah 218 judul. Antara lain:

1. Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
2. Al-Ajwibah an-Nafi”ah ”ala as”ilah masjid al-Jami”ah
3. Silisilah al-Ahadits ash-Shahihah
4. Silisilah al-Ahadits adh-Dha”ifah wal maudhu”ah
5. At-Tawasul wa anwa”uhu
6. Ahkam Al-Jana”iz wabida”uha

Wallahu a”lam bishshawab, wassalamu ”alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Beberapa artikel menarik lainya terkait : Agus Zainal, Salafytobat, Allangkati, Ilmu Hadits, Kritik Ulama, Al Albani,

42 Responses to "Syaikh Al Albani"

Tentang Albani ;

beliau itu bukan Muhaddits, karena Muhaddits adalah orang yg mengumpulkan hadits dan menerima hadits dari para peiwayat hadits, albani tidak hidup di masa itu, ia hanya menukil nukil dari sisa buku buku hadits yg ada masa kini, kita bisa lihat Imam Ahmad bin Hanbal yg hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits), berikut sanad dan hukum matannya, hingga digelari Huffadhudduniya (salah seorang yg paling banyak hafalan haditsnya di dunia), (rujuk Tadzkiratul Huffadh dan siyar a’lamunnubala) dan beliau tak sempat menulis semua hadits itu, beliua hanya sempat menulis sekitar 20.000 hadits saja, maka 980.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman,

Imam Bukhari hafal 600.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya dimasa mudanya, namun beliau hanya sempat menulis sekitar 7.000 hadits saja pada shahih Bukhari dan beberapa kitab hadits kecil lainnya, dan 593.000 hadits lainnya sirna ditelan zaman, demikian para Muhaddits2 besar lainnya, seperti Imam Nasai, Imam Tirmidziy, Imam Abu Dawud, Imam Muslim, Imam Ibn Majah, Imam Syafii, Imam Malik dan ratusan Muhaddits lainnya,

Muhaddits adalah orang yg berjumpa langsung dg perawi hadits, bukan jumpa dg buku buku, albani hanya jumpa dg sisa sisa buku hadits yg ada masa kini.

aswaja: antum ngaku aswaja…
antum hafal hadis arbain aj belom! udah mau mencela syaikh albani yang telah hafal 100ribu hadis, baca kitab hayatul albani yang telah dipersaksikan ulama…bahkan para ulama telah memngakui keilmuannya…sebelum antum lahir syaikh albani udah berjihad ke palestine…konstribusi antum apa???? apa sudah seperti syaikh albani?? sudah mau menghujat ulama secara membabi buta!!!!!!!!!! kitab syaikh albani banyak dipake sama muhamadiyah, pks, ikhwanul muslimin , hidayatullah, persis,…antum apa kitabnya??? baca kitab arab asli beliau dulu ata kitab arab para ulama yang asli??? baru dapat sumber dari internet udah berani posting??? ga cukup…diinternet banyak bertebar kepalsuan!!!!!!!! tabayun sebelum menyebarkan berita liat surat alhujurat..yaa eayuhalladzina amanu injaakum fasiqun binabaiin fatabayanu” tabayun sebelum menyampaikan beritaa!!!!!!! ngaji tafsir aj belum tamat lo ??/ dah khatam ibnu katsir apa lo??/ syaikh albani dah khatam kitab tafsir!!!!! 50tahun hidupnya mengkaji kitab!!!!!!!!! baca kitab…nama lo aja pake nama samaran pengecut lo

Komentar yang berulang dan sudah dijawab

Albani bukan pula Hujjatul Islam, yaitu gelar bagi yg telah hafal 300.000 hadits berikut sanad dan hukum matannya, bagaimana ia mau hafal 300.000 hadits, sedangkan masa kini jika semua buku hadits yg tercetak itu dikumpulkan maka hanya mencapai kurang dari 100.000 hadits.

AL Imam Nawawi itu adalah Hujjatul islam, demikian pula Imam Ghazali, dan banyak Imam Imam Lainnya.

Albani bukan pula Alhafidh, ia tak hafal 100.000 hadits dengan sanad dan hukum matannya, karena ia banyak menusuk fatwa para Muhadditsin, menunjukkkan ketidak fahamannya akan hadits hadits tsb,

Abani bukan pula Almusnid, yaitu pakar hadits yg menyimpan banyak sanad hadits yg sampai ada sanadnya masa kini, yaitu dari dirinya, dari gurunya, dari gurunya, demikian hingga para Muhadditsin dan Rasul saw, orang yg banyak menyimpan sanad seperti ini digelari Al Musnid, sedangkan Albani tak punya satupun sanad hadits yg muttashil.

berkata para Muhadditsin, “Tiada ilmu tanpa sanad” maksudnya semua ilmu hadits, fiqih, tauhid, alqur;an, mestilah ada jalur gurunya kepada Rasulullah saw, atau kepada sahabat, atau kepada Tabiin, atau kepada para Imam Imam, maka jika ada seorang mengaku pakar hadits dan berfatwa namun ia tak punya sanad guru, maka fatwanya mardud (tertolak), dan ucapannya dhoif, dan tak bisa dijadikan dalil untuk diikuti, karena sanadnya Maqtu’.

apa pendapat anda dengan seorang manusia muncul di abad ini lalu menukil nukil sisa sisa hadits yg tidak mencapai 10% dari hadits yg ada dimasa itu, lalu berfatwa ini dhoif, itu dhoif.

saya sebenarnya tak suka bicara mengenai ini, namun saya memilih mengungkapnya ketimbang hancurnya ummat karena tipuan seorang tong kosong.

erkata para Muhadditsin, “Tiada ilmu tanpa sanad” maksudnya semua ilmu hadits, fiqih, tauhid, alqur;an, mestilah ada jalur gurunya kepada Rasulullah saw, atau kepada sahabat, atau kepada Tabiin, atau kepada para Imam Imam, maka jika ada seorang mengaku pakar hadits dan berfatwa namun ia tak punya sanad guru, maka fatwanya mardud (tertolak), dan ucapannya dhoif, dan tak bisa dijadikan dalil untuk diikuti, karena sanadnya Maqtu’. —————-maaf perkataan ini salah sasaran maksudnya adalah tiada ilmu tanpa sanad artinya segala hal mengenai islam itu harus ada sanadnya yang shahih bukan menurut kehendak nafsu sendiri.teliti dulu sanadnya dari mana.jadi perkataan ini ditujukan krn banyak mnyebarnya hadit2 palsu cek kembali sejarah penulisan hadits

Ada artikel menarik mengenai tidak adanya ijazah (sanad yg muttashil) syaikh Albani. Ini di dapat dari seorang ahli hadits, syaikh Shu‘ayb al-Arna’ut yang merupakan satu kampung dengan Sykeh Albani. Sama-sama merantau dari Albania ke Damascus. Artikel dalam bahasa Inggris. Silakan rujuk ke http://www.masud.co.uk/ISLAM/nuh/masudq6.htm

Syukron

Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menshahihkan atau mendha’ifkan hadits bukan karena sekehendak hawa nafsunya ataupun kepentingan politik dia.Akan tetapi hal tersebut ada syarat-syarat yang memang harus dipenuhi,dan syarat-syarat tersebut telah ada pada diri beliau.Beliau pernah ditanya tentang syarat-syarat seseorang disebut Al Hafidz,maka beliau menjawab bahwa diantaranya adalah harus hafal lebih dari 100.000 hadits beserta matan dan sanadnya.Maka ditanyakan kepada Syaikh Al Albani,”bagaimana dengan anda ya Syaikh?” maka Syaikh Al Albani tidak menjawab secara langsung karena kerendahan hatinya.Dikatakan lagi kepadanya “Apakah diamnya anda merupakan jawaban dari anda ?(bahwa engkau telah hafal 100.000 hadits lebih).Maka Syaikh Al Albani kemudian tersenyum.Orang-orang disekelilingnyapun kemudian bertakbir dan mengatakan bahwa guru kita adalah Al Hafidz.Beliau bisa menshahihkan dan mendha’ifkan hadits karena beliau memang mempelajari ilmu tentang hal tersebut,yaitu ilmu tentang sanad,perawi dan sebagainya.Sehingga dia tahu tentang kedudukan orang yang membawakan hadits dari Rasulullah Z,apakah orangnya terpercaya atau tidak,mungkarul hadits atau tidak,majhul atau tidak dan sebagainya.Sehingga ketika ada hadits yang perawinya dikenal suka lupa atau pendusta atau dari orang-orang syi’ah,atau orangnya tidak dikenal,maka haditsnya tidak dipakai,begitu juga sebaliknya.Maka itulah pentingnya ilmu sanad,untuk mengetahui para pembawa hadits dari Rasulullah Z,apakah orangnya dipakai atau tidak didalam menentukan kedudukan hadits,shahih atau dha’if.Sedikit yang saya sampaikan semoga bermanfaat.Barakallahu fiikum.

Beliau memang menghabiskan waktu berjam2 di perpustakaan untuk mengkaji hadits. Beliau mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk meneliti hadits dari refernsi perpustakaan di Syria, sampai pemilik perpustakaan memberi duplikat kunci kepadanya. Mengenai ini semua orang sepakat.

Dapatkah dikatakan ia seorang sebagai ahli hadits/muhaddtist berdasarkan apa yang dilakukannya. Sementara beliau -maaf- tidak memiliki jalur yang muttashil sampai kepada Rasululloh. Beliau tidak pernah keluar Syiria untuk mendapatkan satu hadits dari seorang ahli hadits di zamannya.

Saya tidak tahu tentang cerita takbirnya pengikut beliau ketika mendapat signal bahwa Albani adalah al hafidz karena telah hapal 100.000 hadits. Karena cerita berhenti pada senyuman yang diartikan sebagai ketawadhu’an.

Beliau juga dianggap tidak jujur karena landasan akidah dengan membuang sebagian hadits dalam Adabul Mufrad karya Imam Bukhari. Coba perhatikan apa yang dijelaskan Dr. Tahir Al Qadri dalam video di atas.

Bolehlah Wahhabiyun mendakwa bahwa beliau muhaddits abad ini. Namun banyak ulama ahlus sunnah membantahnya.

Wassalamu ‘alaykum

apakah ada syarat seorang muhaddits harus mempunyai sanad yg muttasil sampai kepada Rasulullah.maka celaan ini lebih baik diarahkan kpd pimpinan tariqat yang mengklaim sanad dengan mimpi

andaikata aku banyak menyebutkan hadist yang aku baca dari buku dan aku pun belajar seperti albani ( tentu dari buku juga ) dan anda bertanya ke aku, apaka aku al hafidz,?? tentu saja tidak kan..?? aku yakin anda orangnya cerdas makanya tidak bertanya sepeti itu ke aku..sebab anda telah mengetahui bahwa aku belajar hadist dan ilmu hadist dari buku…bukan begitu kawan.?!

Maaf adakah ulama dahulu tidak mempunyai buku untuk belajar ilmu hadits.so buat apa dong para ulama menulis kitab?

Ass…akhi muliakanlah ulama yang shalih lagi benar akidahnya … apalagi beliau adalah salah satu ulama besar yang diakui dunia islam saat ini. Mungkin antum tidak sependapat dgnya namun itu bukan berarti antum layak mencacinya .. Bercerminlah pd diri antum sndri siapa antum dan siapa Syaikh Albani Rahimahullah

Maaf akhi kita berbeda pendapat tentang beliau. Syukron

maaf bos akhi…kalimat mana di atas yang merupakan cacian..?? tolong tunjukkan sebab bolak -balik aku baca kalimatnya baik2 saja…saya yang salah baca atau anda yang “kurang terima” dengan pendapat ahmad lukman mengenai albani..?!

Untuk saudara Ahmad Lukman,sebaiknya membaca tentang fatwa2 para ulama besar Arab Saudi berkenaan dengan kedudukan Asy Syaikh Nashiruddin Al Albani,tidaklah engkau akan dapati suatu fatwa kecuali mereka para ulama akan memuji beliau.Bahkan Syaikh Bin Baz pernah mengatakan kemungkinan beliau adalah mujaddid abad ini.Tidaklah ada orang yang mencela ulama ahlus sunnah,kecuali pasti dia adalah ahlul bid’ah.Semoga bisa bermanfaat untuk diri kita.Jazakumullahu khairan..

Terima kasih mas Abu Falah atas komentarnya. Mengenai fatwa atau pendapat ulama Saudi berkenaan dengan Al Albani hampir semuanya memujinya, wa bil khusus ulama salafi aw wahhabi (moqollid ibnu abdul wahhab). Tidak aneh mas, karena mereka satu fikroh, yang satu menguatkan yang lain. Namun banyak ulama ahli hadits yang menulis dan membantah pemikiran/fatwa Al Albani al:

1.Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-’Adhzmi yang menulis “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” (Albani, penyimpangan dan kesalahannya) dalam 4 jilid;

2.Dahhan Abu Salman yang menulis “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara angsuran);

3.Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Irgham al-Mubtadi` ‘al ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd ‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”; “Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;

4.Muhaddits Maghribi, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari yang menulis “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;

5.Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-’Alawi yang menulis “Hidayatul-Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”;

6.Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah yang menulis “Radd ‘ala Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta pendukung keduanya);

7.Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama yang menulis “Adab al-Ikhtilaf” dan “Atsar al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”;

8.Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh yang menulis “Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin terkait serangan al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-kitab sunan kepada shohih dan dho`if);

9.Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Ismail bin Muhammad al-Ansari yang menulis “Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani” (Kritikan atas buku al-Albani “Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”); “Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih” (Kesahihan tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani yang mendhaifkannya); “Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;

10.Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab yang menulis “Anwar al-Masabih ‘ala dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih”.

Penyimpangan2 Al Albani
1. Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya berjudul Almukhtasar al Uluww hal. 7, 156, 285.

2. Mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para nabi dan orang-orang soleh seperti dalam kitabnya “at-Tawassul” .

3. Menyerukan untuk menghancurkan Kubah hijau di atas makam Nabi SAW (Qubbah al Khadlra’) dan menyuruh memindahkan makam Nabi SAW ke luar masjid sebagaimana ditulis dalam kitabnya “Tahdzir as-Sajid” hal. 68-69,

4. Mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Salsalatul Ahadits Al-Dlo’ifah” hadits no: 83.

5. Mengharamkan ucapan salam kepada Rasulullah ketika shalat dg kalimat “Melarang Assalamu ‘alayka ayyuhan-Nabiyy”. Dia berkata: Katakan “Assalamu alan Nabiyy” alasannya karena Nabi telah meninggal, sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul “Sifat shalat an-Nabi”.

6. Memaksa umat Islam di Palestina untuk menyerahkan Palestina kepada orang Yahudi sebagaimana dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.

7. Dalam kitab yang sama dia juga mengharamkan Umat Islam mengunjungi sesamanya dan berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.

8. Mengharamkan bagi seorang perempuan untuk memakai kalung emas sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Adaab az-Zafaaf “,

9. Mengharamkan umat Islam melaksanakan solat tarawih dua puluh raka’at di bulan Ramadan sebagaimana ia katakan dalam kitabnya “Qiyam Ramadhan” hal.22.

10. Mengharamkan umat Islam melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebagaimana disebutkan dalam kitabnya yang berjudul “al Ajwibah an-Nafiah”. –> http://www.forsansalaf.com/2009/albani-muhaddits-tanpa-sanad-andalan-wahabi/

dlsb.

Banyak ulama hadits yang menyangsikannya memiliki sanad/guru yang sampai kepada Rasululloh SAW. Karena beliau banyak mendapatkan ilmu hadits melalui kajian pustaka dan tidak mengembara mencari ilmu melalui ulama2 ahli hadits. Kemampuan beliau mengupas hadits lebih karena intensitas beliau mengkaji kitab2 hadits di perpustakaan –> http://www.masud.co.uk/ISLAM/nuh/masudq6.htm
Dalam website resmi Salafi Wahhabi bahkan tidak dapat menjelaskan dengan detil siapakah guru Albani –> http://www.almanhaj.or.id/content/2324/slash/0

Bahkan ketika ia diminta oleh seseorang untuk menyebutkan 10 hadis beserta sanadnya yang nyambung sampai Rasululloh, ia dengan entengnya menjawab, “Aku bukan ahli hadis sanad, tapi ahli hadis kitab.” –> http://www.forsansalaf.com/2009/albani-muhaddits-tanpa-sanad-andalan-wahabi/

Allohu a’lamu

Syaikh albani sangat ahli dalam sanad,bukankah beliau yang menghidupkan kembali metode takhrij yg dilakukan ulama terdahulu.ini adalah kesalahpahaman jangankan sepuluh hadits arbain nawawi aja beliau sanggup menyebutkan sanadnya sampe ke Rasulullah. Lantas kalo sdh jelas di kitab hadits ada sanadnya buat apa kita buang2 waktu nyari2 sanad dari zaman sekarang sampai ke Rasulullah.yg penting adalah pelajari sanadnya, rawi2nya,jarh dan ta’dilnya.percuma mas seseorang punya sanad eh yg dipake hadits palsu buat apa sanadnya kalo begitu.

walah…dah basi…lagian masa…syaikh albani ketemu sama ulama abadnya imam ibnu hajar sih? kalo mau ngeles yang pinter dikit napa mas!…kaya gini ni tipudaya orang yang dengki…jelas-jelas yang ketemu ama ulama jaman dulu ya….ulama yang kitabnya tertulis,jelas dan dijadikan rujukan oleh syaikh al albani…lagian cukup buat yang cinta kejujuran pujian para ulama seluruh dunia terhadap beliau(yang diakui kejujurannya lho, bukan syiah atau pendengki)…hidayah itu tidak bisa diganti dengan apapun juga…semoga kita bisa tetap di atas hidayah islam sunnah dan mengikuti generasi terbaik dalam agama….amin

Pujian terhadap Albani dari para ulama Wahhabi. Mereka saling puji. Nothing new

@basahi lisan dengan ocehan
kalo anda ndak ngerti dgn yg dimaksudkan sbg sanad yg harus dibuktikan oleh seorang yg mengaku sbg muhaddist, anda tak perlu ikut berkomentar.
membaca koment anda, dipastikan anda tak mengerti dgn yg anda tulis.
Tak punya sanad muttashil = bukan muhadits = tak layak utk mentashih ataupun mentadh’if. Bisa rusaklah agama ini kalau setiap orang dibiarkan menshohihkan atau mendho’ifkan hadist-hadist hanya dgn selera masing-2.

Ahmad Lukman

Saya orang awam tetapi jika yang diajarkan oleh orang yang anda anggap ulama seperti tawasul kepada orang yang telah meninggal boleh, saya merasa berbangga diri walaupun bukan murid atau pengagung Al bani ketika saya menolak ajaran tawasul kepada orang yang telah meninggal. Allah tidak perlu perantara ketika hambanya meminta, memohon, atau menginginkan sesuatu. Pakai logika yang Allah telah berikan kepada kita manusia.

Mas Johnny yang baik, mengerjakan atau meninggalkan sesuatu itu berdasarkan dalil bukan berdasarkan perasaan. Anda bertawassul kepada orang yang hidup dan tidak kepada yang meninggal berdasarkan dalil apa? Adakah Anda meyakini bahwa manfaat tawassul itu berasal dari jiwa yang masih hidup atau hanya karena DZAT YANG MAHA HIDUP?

Tawassul, istighasah, tabarruk bagi Ahlus Sunnah ada dan bisa karena izin dan keridhoan Dzat yang Maha Memberi. Makhluk yang kita jadikan wasilah, istighasah dan bertabarruk padanya hanyalah kepada mereka yang memiliki tempat mulia di sisi Khaliq. Yang dengan izin Alloh SWT, pertolongan dan permohonan dimungkinkan.

Anda boleh berdoa, meminta dlsb langsung kepada Alloh SWT tanpe melalui wasilah. Tidak ada yang larang. Namun tidak ada yang salah dengan amalan Tawassul yang dilakukan kaum muslimin. Mereka yang membolehkan tawassul kepada makhluk yang hidup dan membid’ahkan bahkan mendakwa syirik jika bertawassul kepada makhluk yang sudah dipanggil Alloh, sejatinya tidak memahami HAKIKAT Tawassul. Bahkan terjerumus kepada pengertian bahwa yang dapat memberi adalah yang di-wasilah-i. Na’udzubillah

Hakikat hidup dan mati bagi kita adalah rantai perjalanan makhluk semata. Bahwa Nabi Musa Alayhis Salam dapat memberi manfaat bagi ummat Muhammad dengan keringan ‘beban fardhu shalat’ dalam peristiwa Isra Mi’raj, adalah sesuatu yang tidak dapat dibantah. Manfaat tsb kita dapatkan justru setelah ribuan tahun Nabi Musa wafat.

Alloh SWT maha hidup dan maha memberi. KepadaNYA lah kita memohon dengan memanfaatkan kedudukan makhluk2 yang dikasihiNYA. Kita tidak meminta dan meyakini hakikat yang memberi Khaliq kepaa makhluk.

Ambil lah pelajaran wahai orang2 yang berakal…

saya sangat setuju dengan AHMAD LUKMAN,,,!!
hehehehe

assalamualikum….telah berkata si fulan,,si fulan mendengar dari albani, dan albani mengetahui dari buku2 hadist di perpustakaan..lantas trusnya gemana..??? apakah berenti sampai perpustaakn saja..??? maaf bila fikiran saya keliru sebab sebagai manusia ( sama halnya dengan albani ) hanyalah manusia biasa…wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Dalam riwayat yang menceritakan tentang Syaikh Al Albani di http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/26/syaikh-muhammad-nashiruddin-al-albani/ dikabarkan tentang betapa gigihnya Al Albani dalam mempelajari hadits. Namun sayangnya, tak ada dicantumkan di sana siapa guru2 Al Albani dalam ilmu Hadits. Sehingga beralasan bahwa beliau seorang otodidak Hadits. Namun hal ini tidak cukup untuk menjadikannya sebagai Ahli Hadits. Sebab sanad menjadi standar baku!

yup saya setuju dengan pendapat anda. dan sebagai bahan penilaian dan ” sekedar catatan” terhadap tokoh kita ini adalah apakah menurut anda seorang albani ini sudah mempunyai ” hak” atau “posisi’ dalam mensahihkan atau mendaifkan hadist dari bukhori, muslim dll yang sedangkan kita tau bahwa dalam melakukan peninjauan suatu hadist sangat beda antara bukhori, nasai, muslim dan cara albani…saperti yang pernah saya liat di salah satu situs ( maaf saya lupa alamtnya ) disitu di jelaskan dan di sampaikan terkadang albani mensahihkan satu hadist sementara dalam halaman lain dia mendaifkan hadist tersebut padahal masih dalam satu buku dan satu hadist riwayat bukhari…

Ijazah Hadits Imam Al-Albany

Syaikh Al-Albany memiliki ijazah hadits dari ‘Allamah Syaikh Muhammad
Raghib at-Tabbagh yang kepadanya beliau mempelajari ilmu hadits, dan
mendapatkan hak untuk menyampaikan hadits darinya. Syaikh Al-Albany menjelaskan tentang ijazah beliau ini pada kitab Mukhtasar al-‘Uluw (hal 72) dan Tahdzir as-Sajid (hal 63). Beliau memiliki ijazah tingkat lanjut dari Syaikh Bahjatul Baytar (dimana isnad dari Syaikh terhubung ke Imam Ahmad). Keterangan tersebut ada dalam buku Hayah al-Albany (biografi Al-Albany) karangan Muhammad Asy-Syaibani. Ijazah ini hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar ahli dalam hadits dan dapat dipercaya untuk membawakan hadits secara teliti. Ijazah serupa juga dimiliki murid Syaikh Al-Albany, yaitu Syaikh Ali Hasan Al-Halabi.

Jadi, adalah tidak benar jika dikatakan bahwa Syaikh hanya belajar dari buku, tanpa ada wewenang dan tanpa ijazah.

Syaikh Al-Albany dilahirkan pada taun 1914 M di Asykodera,
ibukota pertama Albania.

Syaikhnya yang pertama adalah ayahnya, Al-Hajj Nuh An-Najjati, yang
telah menyelesaikan belajar Syari’ah di Istanbul dan kembali ke Albania
sebagai seorang ulama Hanafiyah. Di bawah bimbingan ayahnya, Syaikh Al-Albany belajar Quran, tajwid dan bahasa Arab, dan juga fiqh Hanafiyah.

Beliau belajar fiqh hanafiyah lebih lanjut dan bahasa Arab dari Syaikh
Sa’id al-Burhan.

Beliau mengikuti pelajaran dari Imam Abdul Fattah dan Syaikh Taufiq Al-Barzah

Syaikh Al-Albany bertemu dengan ulama hadits zaman ini, Syaikh Ahmad Syakir, dan beliau ikut berpartisipasi dalam diskusi dan penelitian mengenai hadits.

Wallahu a’lam

Berikut info lain mengenai syaikh Al Albani :

Question 6
The Ijazas of Ibn Baz and al-Albani
The Salafis allege that both Ibn Baz and al-Albani have ijazas (authorizations of mastery of a book, etc. in Islamic knowledge from the scholar it was studied with) from great sheikhs. They say that al-Albani has an ijaza from some sheikhs in Syria, do you have any information on this?

Answer
Our teacher in hadith, Sheikh Shu‘ayb al-Arna’ut, tells my wife and me that Sheikh Nasir al-Albani learned his hadith knowledge from books and manuscripts in the Dhahiriyya Library in Damascus, as well as his long years working on books of hadith. He did not get any significant share of his knowledge from living hadith scholars, according to Sheikh Shu‘ayb, for the very good reason that there wasn’t anyone in Damascus at the time who knew much about hadith, and he didn’t travel anywhere else to learn. I have heard Salafis say that he has an ijaza from one person in Syria, but it could only be (according to Sheikh Shu‘ayb) from someone with far less knowledge than himself

I believe Sheikh Shu‘ayb about this, because his family, like Sheikh Nasir’s, were of the Albanians who emmigrated to Damascus at the collapse of the Ottoman Empire, and they all know each other rather intimately. The impression one gets is that Sheikh Nasir’s father, Sheikh Nuh al-Albani, was so strict a Hanafi that he produced something of an over-reaction in Sheikh Nasir not only against Abu Hanifa and his madhhab, but against traditional Islamic sheikhs as well. According to Sheikh Shu‘ayb, Sheikh Nasir studied tajwid or ‘Qur’anic recitation’ and perhaps the Hanafi fiqh primer Maraqi al-falah [The ascents to success] with his father Sheikh Nuh al-Albani, and possibly other lessons in Hanafi fiqh from Sheikh Muhammad Sa‘id al-Burhani, who taught in Tawba Mosque, in the quarter of the Turks on the side of Mount Qasiyun, near Sheikh Nasir’s father’s shop. Sheikh Nasir subsequently found that his time could be more profitably spent with books and manuscripts at the Dhahiriyya Library and in reading works to students, and he did not attend anyone else’s lessons

As for his ijaza or ‘warrant of learning,’ Sheikh Shu‘ayb tells us that it came when a hadith scholar from Aleppo, Sheikh Raghib al-Tabbakh, was visiting the Dhahiriyya Library in Damascus, and Sheikh Nasir was pointed out to him as a promising student of hadith. They met and spoke, the sheikh authorized him “in all the chains of transmission that I have been authorized to relate”—that is to say, a general ijaza, though Sheikh Nasir did not attend the lessons of the sheikh or read books of hadith with him. Sheikh Raghib al-Tabbakh had chains of sheikhs reaching back to the main hadith works, such as Sahih al-Bukhari, the Sunan of Abu Dawud, and hence had a contiguous chain back to the Prophet (Allah bless him and give him peace) for these books. But this was an authorization (ijaza) of tabarruk, or ‘for the blessing of it,’ not a ‘warrant of learning’—for Sheikh Nasir did not go to Aleppo to learn from him, and he did not come to Damascus to teach him

This type of authorization (ijaza), that of tabarruk, is a practice of some traditional scholars: to give an authorization in order to encourage a student whom they have met and like, whom they find knowledgeable, or hope will become a scholar. The reason I know of such ijazas is because I have one, from the Meccan hadith scholar Sheikh Muhammad ‘Alawi al-Maliki, which authorizes me to relate “all the chains of transmission that I [Muhammad ‘Alawi al-Maliki] have been authorized to relate by my sheikhs,” including chains of transmission reaching back to the hadith Imams Malik, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidhi, al-Nasa’i, Ibn Majah (Mecca: Muhammad ‘Alawi al-Maliki, 1412/1992). Though my name is on the authorization, and it is signed by the sheikh, it does not make me a hadith scholar like he is, because aside from some of his public lessons, my hadith knowledge is not from him but from Sheikh Shu‘ayb, whom I have actually studied with. Rather, Sheikh al-Maliki knows my sheikhs in Damascus, that I am the translator of ‘Umdat al-salik [Reliance of the traveller] in Shafi‘i fiqh, that we have known each other for some time, and he approves of my way. The scholarly value of such ijazas is merely to establish that we have met.

As for Ibn Baz, more

Jadi klaim ijazah sebagaimana ijazah seorang yang diberikan Ahli Hadits kepada muridnya tidak pernah terjadi. Ijazah yang diberikan adalah ijazah yang bersifat umum untuk tabarrukan. Syaikh Al Albani ternyata tidak pernah menuntut ilmu hadits dari Muhaddits ‘Allamah Syaikh Muhammad Raghib at-Tabbagh sebaimana yang diceritakan oleh

Sheikh Shu‘ayb al-Arna’ut

Perhatikan bagaimana pendapat ‘Muhaddits’ Al Albani yang bertentangan dengan ijma’ para ulama termasuk di dalamnya ulama skaliber Al Qodhi ‘Iyadh. Bahkan beliau pun bertentangan pendapat dengan Imam-nya pengikut Wahhabi, syaikh Ibnu Taymiyah terkait hadits ‘Utsman bin Hunaif. Inikah Muhaddits abad ini?

Allohu a’lam

antum hafal hadis arbain aj belom! udah mau mencela syaikh albani yang telah hafal 100ribu hadis, baca kitab hayatul albani yang telah dipersaksikan ulama…bahkan para ulama telah memngakui keilmuannya…sebelum antum lahir syaikh albani udah berjihad ke palestine…konstribusi antum apa???? apa sudah seperti syaikh albani?? sudah mau menghujat ulama secara membabi buta!!!!!!!!!! kitab syaikh albani banyak dipake sama muhamadiyah, pks, ikhwanul muslimin , hidayatullah, persis,…antum apa kitabnya??? baca kitab arab asli beliau dulu ata kitab arab para ulama yang asli??? baru dapat sumber dari internet udah berani posting??? ga cukup…diinternet banyak bertebar kepalsuan!!!!!!!! tabayun sebelum menyebarkan berita liat surat alhujurat..yaa eayuhalladzina amanu injaakum fasiqun binabaiin fatabayanu” tabayun sebelum menyampaikan beritaa!!!!!!! ngaji tafsir aj belum tamat lo ??/ dah khatam ibnu katsir apa lo??/ syaikh albani dah khatam kitab tafsir!!!!! 50tahun hidupnya mengkaji kitab!!!!!!!!! baca kitab…

Sepertinya antum tidak terlalu menyimak pembicaraan. Jika sabar membaca pasti antum paham benang merahnya.
Antum gak mesti marah dan emosi. Cukup paparkan bukti saja

1. Yang mencela bukan saya. Yang membeberkan cela syaikh antum itu seorang Muhaddits yang diakui keilmuannya dan memang beliau Muhaddits ‘Allamah Syaikh Muhammad Raghib at-Tabbagh sebaimana yang diceritakan oleh Sheikh Shu‘ayb al-Arna’ut => baca ini
2. Hapal 100 ribu hadits? Jangan berlebihan memuji. Ketika diminta menyebutkan 10 hadits yang mutawashshil kepada Nabi saja beliau tidak bisa, kok hapal 100 ribu hadits. Kalau antum tahu imam Ahmad men-syaratkan minimal hapal 500 ribu hadits berikut sanadnya, baru orang disebut Muhaddits. Syaikh antum?
3. Syaikh antum berjihad ke Palestine? Coba tengok lagi fatwa beliau tentang Palestina dengan jernih. Siapa yang memfatwakan ummat Islam keluar dari bumi Palestina dan menyerahkannya kepada Yahudi, selain syaikh antum. Jangankan berjihad, malah memfatwakan keluar dari Palestina. Antum dapat kabar darimana ini?
4. Banyak dipakai oleh mereka yang berpaham Wahhabi, nothing new
5. Lima puluh tahun umurnya untuk mengkaji kitab, bisa jadi. Namun ilmu hadits itu mengharuskan sanad, bukan peneliti

Sebaiknya baca-baca lagi mas dan tidak perlu emosi. Cheers…

Sebaiknya baca dulu Sirah Albani bro 🙂
Nggak apa-apa anda membenci Beliau, thoh anda pun merasa punya referensi yang berisi alasan-alasan anda membenci Beliau.
Sekarang anda pun sebaiknya bersikap adil, disamping membaca buku-buku dari orang-orang yang membenci Beliau, ada baiknya juga anda membaca buku-buku Ulama & Professor-professor yang memuji Beliau.

Karena suatu kemustahilan seorang yang tak berilmu bisa dijadikan hujjatul Islam oleh sebagian besar Muhaddits abad ini. Lantas apakah Ulama yang dijadikan banyak rujukan itu adalah orang-orang Bodoh? Sebut saja Syaikh Ahmad Syakir & Syaikh Abdusshamad Syarafuddin, dua pendekar Hadits India abad 20, salah satu dari mereka bahkan mengatakan dengan tegas dalam suratnya bahwa dia mengakui Syaikh Albani sebagai Ulama Hadits terbesar abad ini.

Ada banyak buku Biografi Beliau yang ditulis oleh Ulama-ulama yang mendukung Beliau, namun sayangnya pendapat mereka terbuang begitu saja seiring tuduhan demi tuduhan “Wahhabi” dialamatkan pada orang-orang yang respect terhadap Beliau & membaca bukunya, sehingga mereka yang ingin menukilnya pun menjadi takut. Namun disamping itu, masih banyak juga orang-orang yang berani mengatakan kebenaran dari sudut pandang mereka atas dukungan mereka pada Syaikh Albani.
– “Al-Imam Al-Mujaddid Al-Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani” (Karya: Umar Abu Bakar)
– “Biografi Syaikh Albani, Mujaddid dan Ahli Hadits Abad ini” (Karya: Mubarak B. Mahfudh Bamualim)
– “Syaikh Albani dan Manhaj Salaf” (Karya: Umar Abdul Mun’im Salim)
– DLL

Atau silahkan anda ber-Tabayyun pada Ulama-ulama Muhadits Indonesia seperti Ustadz DR Arifin Badri, atau Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, atau Ustadz DR Abdullah Taslim.
Mungkin anda akan berfikir, “ngapain gw bertabayyun sama Ulama wahhabi yang notabene akan membela Albani?”, tunggu dulu, sebelum berfikir seperti itu, saya yakinkan pada anda bahwa mereka akan membawakan hujjah dan referensi juga untuk anda pertimbangkan 🙂

Oh iya, diatas ada yang mengatakan hafal 300.000 Hadits dulu baru disebut Muhadits ya? Itu persyaratan yang bikin siapa bro?
Kalau setau saya sih yang pernah ngomong gitu habib Munzir, tapi pada faktanya dia sendiri pun nggak tau patokan seperti itu dulu yang bikin siapa.
Karena Bapak Muhadits (Imam Bukhari) saja nggak menyebutkan sama sekali dengan patokan-patokan semacam itu dalam berbagai macam bukunya.

Anda mengatakan bahwa beliau disuruh menyebutkan 10 hadits beserta sanadnya hingga Rasul pun tak bisa, apakah anda sudah pernah bertemu dengannya? Atau hanya kata “fulan wa fulan” mas?
Berhati-hatilah ketika anda bicara tentang diri seorang Muslim yang sebenarnya anda sendiri kurang tahu menahu tentangnya melainkan hanya sedikit saja, itupun dari referensi-referensi asing yang bahkan sekalipun belum terbukti kebenarannya 🙂

Hati-hati, karena Rasul sudah menegaskan:
“Barangsiapa yang mengatakan terhadap seorang mukmin apa yang tidak ada padanya, maka Allah akan tempatkan dia didalam lumpur racun penghuni neraka” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Baihaqi, dari Ibnu Umar, di shahihkan Imam Ali bin Hasan Al-Halabi di dalam Ruyah Waqiiyyah hal: 84)

“Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan, dan tidaklah dia menuduh orang lain dengan kekafiran, kecuali tuduhan itu kembali kepadanya jika yang dituduh tidak seperti itu” (HR. Bukhari dari Abu Dzar).

Kalau saya lihat, anda banyak sekali menukil referensi dari website-website orang Liberalis Barat yang mengaku Islam ya mas?
Seperti Islamic Awakening & Masud.co.uk

Anda meninggalkan sejarah/biografi yang ditulis Ilmuwan Sunnah Muslim, kemudian merujuk pada orang-orang Barat & selebihnya Liberalis yang mana mereka adalah kaum yang paling getol berusaha menghancurkan Islam.

ngaji lagi mas….penjelasan diatas sudah manteb.
kalau cuma 10 saja tidak mampu…bisa di bayangkan dengan para imam yg hapal ratusan ribu…kamu mau milih yg 10 saja gak bisa menujukan…heheheh

manteb apanya mas,itu penjelasan yang dibumbui kebencian yang sangat kepada syaikh albani. karena apa, jelas sekali buat apa jadi muhaddits kalo dia pembohong.mas saya tanya ya ciri2 rawi yang dhoif itu apa?

Oh iya, buku Imam Ahmad yang manakah yang menyebutkan Muhadits harus hafal 500rb hadits beserta sanadnya bro? 🙂
Judulnya apa, saya mau tabayyun dulu.

Ulama yang menggeluti hadits apalagi sampai pada derajat muhaddits atau hafidz selalu memiliki atsbat atau faharis yang menunjukkan ia mengambil periwayatan hadits dari siapa. Syaikh Mahfudz At Tarmasi aja memiliki “Kifayah Al Mustafid” Syaikh Abu Ghuddah memilki “Imdad Al Fatah”, Syeikh Yasin memiliki “Al Waraqat” dan “Faidh Ar Rahmani” untuk ijazah, Syeikh Al Ghumari memiliki “Al Mu’jam Al Wajiz”, sebagaimana para huffadz memiliki “Al Mu’jam As Syuyukh”. Nah, Syeikh Al Albani? Kenapa ini penting? Karena ilmu hadits adalah ilmu riwayah dan sima’ (menyimak hadits dari syekh) adalah sarat mutlak muhaddits (baca permulaan Tadrib Ar Rawi).

Ada kabar bahwa Syeikh Al Albani memperoleh ijazah dari Al Muhaddits Raghib Tabakh, tapi yang jadi pertanyaan adalah ijazah apa? Karena ijazah ada rukunnya “Al Mujiz” (pemberi ijazah), “Al Mujaz Lahu” (yang diijazahi), “Al Mujaz bihi (yang diijazahkan) dan “Shighah” (Ungkapan). Yang sampai saat ini tidak terjelaskan adalah “mujaz bihi” . Sehingga klaim ijazah itu, jika tidak bisa diterima karena tidak memenuhi rukunnya.

Adapun persepsi dari murid Syeikh Al Albani bahwa beliau hafal 100 ribu hadits tidak bisa dinila hanya dari diam dan senyumnya beliau sesuai kaidah “La yunsabu li sakit qaul” Orang yang diam tidak bisa dinisbatkan kepadanya pernyataan, kecuali dalam beberapa masalah seperti diamnya bikr ketika ditawari menikah. Sehingga senyum beliau tidak berarti jawaban “iya”.

Ijazah memang sangat penting. tapi sumber sanad bukan ijazah tok.lagi pula kapasitas ilmu hadits albani benar-benar teruji dari dialog-dialog, kitab-kitabnya dan pujian ulama2 hadits yang lain. Jadi mereka2 yang membenci albani disebabkn krn tidak mampu menjawab hujjah2 albani padahal mereka punya ijazah, jadi sayang ijazah kalo ga bisa mempergunakannya.

coba deh baca kitab-kitabnya albani.saya yakin anda tdk akan sanggup menelaah satu hadits saja seperti telaahnya albani.albani sanggup menelaah hadits sampai rinci ke lafal-lafalnya hingga kata per kata.riwayat imam A lafalnya begini, riwayat imam B ada tambahan lafal, dsb

Dalam masalah sanad,di sana banyak nama2 rawi.tapi sudah teruji beliau mampu menyebut sanad hadits sesuai urutan rawinya.padahal sdh jamak sering ada kesalahan menyebutkan urutan rawi2 suatu hadits

Saya punya beberapa buku Terjemahan yg ditahqiq MNA ini…Misalnya ..Jamius Shagir ( jalaludin as suyuti), Riyadus Sholihin ( Imam Nawawi).. Kesan yg saya dapat :

1. Jadi Bingung..cirinya khas sih wahabi..hal2 shohih by Imam Bukhori dan Imam Muslim tapi gak cocok dengan Ideologi Wahabi pasti di jadi dhoif bahkan maudu tapi sering juga masih ada juga yg terlewat.malah ada hadits yg di kitab aslinya dibilang dhaif dari isinya juga agak aneh.malah shahih menurut MNA.jadi kalau baca foot notenya sih buat lucu2an saja kalau ada comment dari MNA…gak penting lah..

2. Di Indonesia saja sangat banyak Ulama2 kampung yg sampai saat ini hafal semua Hadits Bukhori Muslim sampai sanad2nya.. bahkan saking Hafalnya sangat lazim ketika kami salah membaca kitab hadits dia hanya mendengarkan tanpa bawa kitabnya tapi dia bisa tahu kita salah di halaman berapa baris berapa …kemampuan seperti ini saya kira gak bisa didapat dari belajar Otodidak….seminar..jadi tidak berlebihan kalau yg disebut ulama hadits harus hafal minimal 10ribu hadits lengkap beserta sanad dan Matannya..karena yg level ulama kampung pun sudah begitu di Indonesia…apakah MNA ini punya kemampuan seperti ini ?

3.Perbedaan lafal dari Imam yg berbeda itu sih sejak dulu juga banyak yg nulis contohnya..Jalaludin as suyuti pun juga menuliskan hal itu di jamius Shagir

4.Menurut saya MNA ini kalau jaman sekarang hanya seperti ustadz2 TV bentukan Media jaman sekarang…nama besarnya karena Publikasi..

Great post. I used to be checking constantly this blog and I am inspired!
Very useful information specially the final phase 🙂 I care for such information much.
I used to be looking for this certain information for a very lengthy time.

Thanks and best of luck.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Shalawat

Al Qur’an Online

Tawassul

Pengunjung

  • 616,044 Pembaca Setia

اهلا وسهلا بحضوركم

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kebenaran datangnya dari Alloh SWT, kesalahan datangnya dari kelemahan diri saya pribadi. Jika ingin copy-paste silakan. Mohon masukan dan tegur sapa serta do'akan semoga tetap istiqomah di jalanNYA. Amien

Terima kasih atas kunjungan Anda

Allah exists without a place!

Sahabat Ali Ibn Abi Thalib berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir." Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sahabat Ali Ibn Abi Thalib menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah SWT) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,018 other followers

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Twitter

Follow me

Shalawat

  1. preview.mp3
  2. M%2BArifin%2BIlham%2B-%2BYa%2BNabi%2BSalam%2BAlaika.mp3



Asas

Page Rank

Online

tracker

My 4shared

%d bloggers like this: