Sekedar Catatan

Dialog di Masjidil Haram

Posted on: September 20, 2011

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin–ulama Wahhabi kontemporer di Saudi Arabia yang sangat populer dan kharismatik-, mempunyai seorang guru yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahhabi, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di. Ia dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di. Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti paradigma pemikiran Wahhabi. Tafsir ini di kalangan Wahhabi menyamai kedudukan Tafsir al-Jalalain di kalangan kaum Sunni.

Syaikh Ibnu Sa’di dikenal sebagai ulama Wahhabi yang ekstrem. Namun demikian, terkadang ia mudah insyaf dan mau mengikuti kebenaran, dari manapun kebenaran itu datangnya. Suatu ketika, al-Imam al-Sayyid ‘Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani (ayahanda al- Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjidil Haram bersama murid-muridnya dalam halaqah pengajiannya.

Di bagian lain serambi Masjidil Haram tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di juga duduk-duduk bersama anak buahnya. Sementara orang-orang di Masjidil Haram sedang larut dalam ibadah. Ada yang shalat dan ada pula yang thawaf. Pada saat itu, langit di atas Masjidil Haram diselimuti mendung tebal yang menggelantung. Sepertinya sebentar lagi hujan lebat akan segera mengguyur tanah suci umat Islam itu. Tiba-tiba air hujan itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka’bah mengalirkan air hujan itu dengan derasnya. Melihat air begitu deras dari saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang berbentuk kubus itu, orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju saluran itu dan mengambil air tersebut. Air itu mereka tuangkan ke baju dan tubuh mereka, dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.

Melihat kejadian tersebut, para polisi pamong praja Kerajaan Saudi Arabia, yang sebagian besar berasal dari orang Baduwi daerah Najd itu, menjadi terkejut dan mengira bahwa orang-orang Hijaz tersebut telah terjerumus dalam lumpur kesyirikan dan menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala dengan ngalap barokah dari air itu. Akhirnya para polisi pamong praja itu menghampiri kerumunan orang-orang Hijaz dan berkata kepada mereka yang sedangmengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka’bah itu, “Hai orang-orang musyrik, jangan lakukan itu. Itu perbuatan syirik. Itu perbuatan syirik. Hentikan!” Demikian teguran keras para polisi pamong praja kerajaan Wahhabi itu.

Mendengar teguran para polisi pamong praja itu, orang-orang Hijaz itu pun segera membubarkan diri dan pergi menuju Sayyid ‘Alwi yang sedang mengajar murid-muridnya di halaqah tempat beliau mengajar secara rutin. Kepada beliau, mereka menanyakan perihal hukum mengambil berkah dari air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu. Ternyata Sayyid ‘Alwi membolehkan dan bahkan mendorong mereka untuk terus melakukannya.

Menerima fatwa Sayyid ‘Alwi yang melegitimasi perbuatan mereka, akhirnya untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun berhamburan lagi menuju saluran air di Ka’bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh darinya, tanpa mengindahkan teguran para polisi Baduwi tersebut. Bahkan ketika para polisi Baduwi itu menegur mereka untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu menjawab, “Kami tidak peduli teguran Anda, setelah Sayyid ‘Alwi berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini.” Akhirnya, melihat orang-orang Hijaz itu tidak mengindahkan teguran, para polisi Baduwi itu pun segera mendatangi halaqah Syaikh Ibnu Sa’di, guru mereka.

Mereka mengadukan perihal fatwa Sayyid ‘Alwi yang menganggap bahwa air hujan itu ada berkahnya. Akhirnya, setelah mendengar laporan para polisi Baduwi, yang merupakan anak buahnya itu, Syaikh Ibnu Sa’di segera mengambil selendangnya dan bangkit berjalan menghampiri halaqah Sayyid ‘Alwi. Kemudian dengan perlahan Syaikh Ibn Sa’di itu duduk di sebelah Sayyid ‘Alwi. Sementara orang-orang dari berbagai golongan, berkumpul mengelilingi kedua ulama besar itu. Mereka menunggu-nunggu, apa yang akan dibicarakan oleh dua ulama besar itu.

Dengan penuh sopan santun dan etika layaknya seorang ulama besar, Syaikh Ibnu Sa’di bertanya kepada Sayyid ‘Alwi: “Wahai Sayyid, benarkah Anda berkata kepada orang-orang itu bahwa air hujan yang turun dari saluran air di Ka’bah itu ada berkahnya?” Mendengar pertanyaan Syaikh Ibn Sa’di, Sayyid ‘Alwi menjawab: “Benar.
Bahkan air tersebut memiliki dua berkah.” Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di terkejut dan berkata: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”
Sayyid ‘Alwi menjawab: “Karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam
Kitab-Nya tentang air hujan:


“Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah.” (QS. 50 : 9).

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman mengenai Ka’bah:

http://www.freeimagehosting.net/a57f2
“Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah (Makkah), yang diberkahi (oleh Allah).” (QS. 3 : 96).

Dengan demikian air hujan yang turun dari saluran air di atas Ka’bah itu memiliki dua berkah, yaitu berkah yang turun dari langit dan berkah yang terdapat pada Baitullah ini.”

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di merasa heran dan kagum kepada Sayyid ‘Alwi. Kemudian dengan penuh kesadaran, mulut Syaikh Ibnu Sa’di itu melontarkan perkataan yang sangat mulia, sebagai pengakuannya akan kebenaran ucapan Sayyid ‘Alwi: “Subhanallah (Maha Suci Allah), bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini.”

Kemudian Syaikh Ibnu Sa’di mengucapkan terima kasih kepada Sayyid ‘Alwi dan meminta izin untuk meninggalkan halaqah tersebut. Namun Sayyid ‘Alwi berkata kepada Syaikh Ibnu Sa’di: “Tenang dulu wahai Syaikh Ibnu Sa’di. Aku melihat para polisi baduwi itu mengira bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu sebagai perbuatan syirik. Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan dan mensyirikkan orang dalam masalah ini sebelum mereka melihat orang seperti Anda melarang mereka. Oleh karena itu, sekarang bangkitlah Anda menuju saluran air di Ka’bah itu. Lalu ambillah air di situ di depan para polisi Baduwi itu, sehingga mereka akan berhenti mensyirikkan orang lain.”

Akhirnya mendengar saran Sayyid ‘Alwi, Syaikh Ibnu Sa’di segera bangkit menuju saluran air di Ka’bah. Ia basahi pakaiannya dengan air itu, dan ia pun mengambil air itu untuk diminumnya dengan tujuan mengambil berkahnya. Melihat tindakan Syaikh Ibnu Sa’di ini, para polisi Baduwi itu pun akhirnya pergi meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan malu. Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Abdul Fattah Rawwah, dalam kitab Tsabat (kumpulan sanad-sanad keilmuannya). Beliau murid Sayyid ‘Alwi al-Maliki dan termasuk salah seorang saksi mata kejadian itu. Syaikh Ibn Sa’di sebenarnya seorang yang sangat alim. Ia pakar dalam bidang tafsir. Apabila berbicara tafsir, ia mampu menguraikan makna dan maksud ayat al-Qur’an dari berbagai aspeknya di luar kepala dengan bahasa yang sangat bagus dan mudah dimengerti. Akan tetapi sayang, ideologi Wahhabi yang diikutinya berpengaruh terhadap paradigma pemikiran beliau. Aroma Wahhabi sangat kental dengan tafsir yang ditulisnya.

source : Buku Pintar

7 Responses to "Dialog di Masjidil Haram"

Coba anda membaca counter cerita ini dari perawi langsung riwayat Ini di link berikut :http://qiblati.com/bantahan-syubhat-%E2%80%98alawi-al-maliki-dan-%E2%80%98abdurrahman-bin-sa%E2%80%99di.html
disitu Syaikh Mamduh Al Buhairi mengklarifikasi langsung riwayat ini dari Putra Syaikh Abdul Fattah Rawwah, yang kebetulan Syaikh Abdul Fattah Rawwah merupaka tetangga dekat Syaikh Mamduh (sangat dekat cuman beda serumah doank). Dan AL hamdulilah beliau kenal dengan Syaikh Abdul Fattah Rawwah, dan beliau siap untuk mempertemukan dengan Syaikh kapan saja diinginkan utk mengklarifikasi kisah tsb. Bgmn….?maukah?

web ini cukup menyesatkan..

sungguh dusta

Biar dusta khan puas

Yang lebih dusta itu agama Wahhabi dan para pengikutnya

ISTIGHFAR BUNG!!!! TAUBAT!!!
JANGAN TERLALU FANATIK TERHADAP IMAM MADZHAB TIDAK ADA DASARNYA KITA WAJIB MENGIKUTI IMAM MADZHAB TPI HRUS PADA AL-QUR’AN DAN HADITS. PARA IMAM MADZHAB JGA MENGANJURKAN ITU.
TDAK ADA YG NAMANYA AGAMA WAHHABI..
KOREKSI DULU AJARANNYA APAKAH BERASAL DARI AL-QUR’AN DAN HADITS SOHEH?
ISLAM ITU SDAH SEMPURNA. JGN DI TMBAH DAN JGN DIKURANGI.

Untuk orang yang tidak mencapai derajat mujtahid TIDAK MASALAH memahami Alquran dan Assunnah tetapi mesti dengan cara dan metode femahaman ulama ahli fiqih[fuqoha],dan ketika tanpa itu,maka akan membuat orang tersesat.
Telah berkata Imam Sufyan bin uyainah;
” الحديث مضلة إلا للفقهاء

:Al-Hadits itu menyesatkan, kecuali bagi fuqaha/ulama’
Maka maksud perkataan beliau [Imam Sufyan] adalah terkadang orang yang mencoba memahami alquran dan alhadis tanpa fiqih itu akan hanya memahaminya secara textual padahal ada maksud lain di dalamnya yang terkandung dalam text2 lain atau ada dilalah yang samar di dalamnya,atau text tersebut matruk;di nasakh dll yang mana semua itu tidak bisa di ketahui kecuali oleh orang yang sudah luas ilmunya dan faqih,sebagaimana di katakan oleh Ibnu Abi Zaid Alqoironi dalam aljami hal 118.
oleh sebab itu berkata Ibnu wahab RA:

: ” لولا مالك بن أنس والليث بن سعد لهلكت ، كنت أظنّ أنّ كلّ ما جاء عن النّبي صلّى الله عليه وسلّم يفعل به “.]رواه ابن عساكر

;Seandainya tidak ada Malik bin anas dan al laist bin saad,maka aku akan celaka,aku sebelumnya mengira bahwa setiap yang datang dari Nabi SAW di amalkan semua[riwayat ibnu asakir]
Abdulla bin Wahab r.h.l. (seorang ahli hadis juga sahabat Imam Malik r.h.l.) juga pernah berkata: “saya telah berjumpa dengan tiga ratus enam puluh ulama’, (bagi saya) tanpa Imam Malik dan Imam Laith r.h.l (ulama’-ulama’ Fiqh), nescaya saya akan sesat dalam ilmu.”[Ibn Hibban, muqoddimah Kitab “Al-Majruhin”]

oleh sebab itu maka sesungguhnya orang yang mengajak mengambil hukum langsung dari alquran dan assunnah tanpa di batasi dengan adanya keahlian dalam istimbat,maka itu di larang oleh para ulama,dan para ulama menghukumi batilnya buah istimbat mereka walaupun istimbatnya itu mengenai haq;kebenaran.

Dalam hal ini telah berkata Imam Al khotobi dalam maalim assunan ketika mengomentari hadis:

: “إذا حكم الحاكم فاجتهد ثم أصاب فله أجران وإذا حكم فاجتهد ثم أخطأ فله أجر” -:

“Jika seorang hakim memutuskan lalu berijtihad, kemudian ia be-nar, maka ia mendapat dua pahala. Dan jika ia memutuskan lalu berijtihad kemudian salah, maka ia mendapat satu pahala. ia berkata:

“وإنما يؤجر المخطئ على اجتهاده في طلب الحق؛ لأن اجتهاده عبادة …، وهذا فيمن كان من المجتهدين جامعاً لآلة الاجتهاد، عارفاً بالأصول وبوجوه القياس، فأما من لم يكن محلاً للاجتهاد فهو متكلف، ولا يعذر بالخطأ في الحكم ، بل يخاف عليه أعظم الوزر، بدليل حديث ابن بريدة عن أبيه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” القضاة ثلاثة: واحد في الجنة، واثنان في النار. أما الذي في الجنة: فرجل عرف الحق فقضى به. ورجل عرف الحق فحار في الحكم فهو في النار، ورجل قضى للناس على جهل فهو في النار” .

: Sesungguhnya di beri pahalanya orang yang salah dalam ijtihadnya itu karena telah berusaha dalam mencari al haq,karena ijtihadnya itu ibadah…hal ini hanyalah bagi orang dari kalangan mijtahid yang telah mengetahui alat alat ijtihad,mengetahui usul usul dan jalan jalan qiyas,dan adapun orang yang bukan ahli ijtihad,maka ia hanya mempersulit diri sendiri,dan ia tidak mendapat maaf ketika salah dalam penyimpulan hukumannya,malah di hawatirkan ia dapat dosa yang sangat besar dengan dalil hadis ibnu buraidah dari bapaknya dari Nabi SAW,BELIAU Bersabda: “Qadhi/hakim itu ada tiga macam: 1.Qadhi yang memberi keputusan dengan benar dan mengetahui kebenarannya itu, maka tempat baginya adalah surga. 2.Qadhi yang memberi keputusan dengan kezaliman, sedangkan dia tahu atau tidak tahu, maka tempat baginya ialah neraka. 3.Qadhi yang memberi keputusan dengan kebodohan, maka tempat baginya neraka.

lihat juga perkataan Imam Nawawi dalam syarah muslim 12/12:

” قال العلماء: فأما من ليس أهلا للحكم فلا يحل له الحكم، فإن حكم فلا أجر له، بل هو آثم ، ولا ينفذ حكمه ، سواء وافق الحق أم لا؛ لأن إصابته اتفاقية، ليست صادرة عن أصل شرعي، فهو عاص في جميع أحكامه سواء وافق الصواب أم لا، وهي مردودة كلها، ولا يعذر في شيء من ذلك” ا.هـ.

; berkata para ulama;adapun orang yang tidak memiliki keahlian untuk istimbat hukum,maka tidak halal baginya menghukumi [atas sesuatu],kalau pun dia menyimpulkan sesuatu hukum,maka ia tidak dapat pahala,bahkan ia berdosa dan tidak lulus penghukumannya tersebut ,apakah penyimpulan hukumnya itu sesuai haq atau pun tidak,karena ketika pun istimbatnya itu sesuai haq,maka itu hanya kebetulan saja dan hukumnya itu tidak berdasarkan dari usul syariat,maka ia berdosa dalam semua penyimpulan hukumnya,apakah mengenai haq atau pun tidak,maka semua penyimpulan hukumnya tertolak secara keseluruhan,dan tidak bisa di maafkan dalam sesuatu dari apa yang telah di sebutkan.

Maka, para penuntut ilmu yang ingin mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah s.a.w. melalui hadis-hadis Baginda s.a.w. yang diriwatkan oleh para ulama’ hadis dalam kitab-kitabnya, perlu juga merujuk kepada kitab-kitab fiqh yang dikarang oleh ulama’-ulama’ fiqh. karena, didalamnya terdapat adunan adunan daripada hadis-hadis Rasulullah s.a.w. dalam bentuk praktikal yang dikenali sebagai ilmu fiqh.

Seperti yang dapat dilihat dari kaca mata sejarah, sebagian ulama’-ulama’ hadis yang agung di zaman salaf yang soleh juga, amat menghormati dan memuliakan ulama’-ulama’ Fiqh yang mahir dalam bidang Hadis juga, yang Allah pelihara mereka daripada menyelisihi dengan Hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam). Bahkan, mereka turut mempelajari makna-makna hadis yang mereka riwayatkan daripada ulama-ulama fiqh yang muktabar.

Abdullah bin Mubarak (seorang ulama’ Hadis dari Khurasan) r.h.l. pernah berkata: “Jika Allah s.w.t. tidak membantu saya dengan perantaraan Abu Hanifah dan Sufian (dua ulama’ Fiqh), nescaya aku sama saja seperti orang awam (yang tidak memahami Hadis-hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam)Kitab “Tibyiidh As-Shohafiyyah” m/s 16

Imam As-Syafi’e r.h.l. pernah menegaskan: “Seseorang tidak boleh memberi fatwa dalam agama Allah kecuali dia mengetahui keseluruhan Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya seperti nasikh dan mansukh, ayat muhkam dan mutasyabih, ta’wil dan tanzil, ayat makkiyah atau madaniyyah. Dia juga perlu mengetahui tentang hadis-hadis Nabi (sallallahu’alaihi wasallam), serta ilmu-limunya (‘ulumul hadis) seperti nasikh dan mansukh, dan lain-lain. Setelah itu, dia juga pelu menguasai Bahasa Arab, Sya’ir-sya’ir Arab, dan sastea-sasteranya (kerana Al-Qur’an dan Hadis dalam Bahasa Arab dan mengandungi kesasteraannya. Setelah itu, dia juga pelu mengetahui perbezaan Bahasa Arab di kalagan setiap ahli masyarakat Arab. Jika dia sudah menguasai keseluruhan pekara-perkara tersebut, barulah dia layak memberi fatwa mengenai halal dan haram. Jika tidak, dia tidak layak untuk memberi fatwa.”[Al-Faqih wal Mutafaqqih” karangan Al-Khatib Al-Baghdadi.]

Salah faham ini sebenarnya membawa kepada pepecahan dikalangan penuntut-penuntut ilmu dan akhirnya membawa kepada permusuhan dan saling jauh menjauhi antara satu sama lain. Hal ini akan menyebabkan terputusnya tali persaudaraan yang Allah s.w.t. menyuruh umat Islam menyambungkannya (tali persaudaraan Islam).

Kita perlul mempelajari ilmu dari ahli ilmu yang muktabar dari sudut ilmunya, bukan sekadar membaca buku-buku imiah tanpa dibimbingi oleh seseorang guru yang alim. krna, barangsiapa yang tiada guru yang membimbingnya dalam mendalami samudera ilmu Islam dalam kitab-kitab, maka syaitanlah yang akan menjadi pembimbingnya. Bahkan, para ulama’ muktabar turut menyeru agar ilmu agama dipelajari oleh kaedah isnad, di mana femahaman tentang agama Islam diambil dari para ulama’ yang jelas sanad ilmunya bersambung kepada Rasulullah s.a.w.

Nas-nas di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bagaikan bahan mentah bagi Syariat Islam. Ia perlu diadon dengan acuan-acuan ilmu-ilmu Islam yang lain seperti ilmu Asbabun Nuzul, Asbabul wurud, ilmu rijal, ulumul Qur’an, ulumul Hadis, usul Fiqh dan sebagainya. Sheikhuna As-Syarif, Al-Habib Yusuf Al-Hasani h.f.l. pernah menyebut bahwa “siapa yang tidak menguasai ilmu-ilmu tersebut, namun ,mencuba mengamalkan hadis-hadis yang dibacanya tanpa bimbingan guru-guru yang alim, bagaikan mengambil daging mentah dari peti sejuk dan memakannya begitu saja. Bukankah itu memudaratkan diri sendiri”

Jika kita dikalangan orang awam, bukan ahli ilmu, maka bertanyalah kepada orang yang ‘alim, dan janganlah beijtihad sendiri terhadap nash-nash. Allah telah berfirman:

(( فسئلوا أهل الذكر ان كنتم لا تعلمون))

Maksudnya: Bertanyalah kepada yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui (akan sesuatu perkara).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Shalawat

Al Qur’an Online

Tawassul

Pengunjung

  • 629,688 Pembaca Setia

اهلا وسهلا بحضوركم

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kebenaran datangnya dari Alloh SWT, kesalahan datangnya dari kelemahan diri saya pribadi. Jika ingin copy-paste silakan. Mohon masukan dan tegur sapa serta do'akan semoga tetap istiqomah di jalanNYA. Amien

Terima kasih atas kunjungan Anda

Allah exists without a place!

Sahabat Ali Ibn Abi Thalib berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir." Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sahabat Ali Ibn Abi Thalib menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah SWT) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,017 other followers

September 2011
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Twitter

Follow me

Shalawat

  1. preview.mp3
  2. M%2BArifin%2BIlham%2B-%2BYa%2BNabi%2BSalam%2BAlaika.mp3



Asas

Page Rank

Online

tracker

My 4shared

%d bloggers like this: