Sekedar Catatan

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Bagaimanakah makna sebuah hadits Rasulullah saw: 
أن الله خلق آدم على صورته
أن الله خلق آدم على صورة الرحمن

Dan Apakah kedua hadits tersebut shaheh?

jawab: 

Untuk hadits yang pertama (أن الله خلق آدم على صورته) sebagaimana ayat dan hadits mutasyabihat lainnya terdapat dua pandangan ulama yaitu para ulama salaf dan ulama khalaf. Ulama salaf cenderung tidak memberikan pemahaman terhadap semua nash mutsyabihat karena memang kondisi pada masa tersebut tidak ada pemahaman yang melenceng serta menimbulkan tasybih Allah ta`ala dengan mahkluk.

Pada era ulama khalaf hal ini telah berobah, pada saat itu telah banyak muncul ta`wil-ta`wil yang sesat, sehingga menurut ijtihad para ulama khalaf kalau saja ayat-ayat mutasyabihat tersebut tidak ditafsirkan dengan makna yang layak bagi Allah ta`ala maka kedepan akan makin banyak timbul pemahaman-pemahan yang menentang dengan syariat.  Read the rest of this entry »

Dalam video yang di-upload di youtube ini ditampilkan antara dua pendapat yang belakangan hangat dibicarakan, yakni mengenai AYNA ALLOH atau Dimana Alloh SWT. Dalam video yang berdurasi selama 8 menit dan 6 detik dijelaskan mengenai pandangan antara Ahlus Sunnah dan Wahhabiyah terkait dengan hal yang sangat asasi ini. Keduanya melandaskan apa yang dibicarakannya dengan Al Qur’an dan Hadits Rasululloh SAW. Yang membedakannya dalam video ini adalah rujukan yang menjadi penjelas dari apa yang disampaikan.

Seperti yang kita sering dengan bahwa Wahhabi keukeuh (bersiteguh/istiqomah) Alloh ada di langit berdasarkan hadits Jariyah ketika Rasul SAW bertanya kepada seorang budak wanita tentang Ayna Alloh? (Dimana Alloh?) Maka jariyah tersebut menunjuk ke arah langit. Lantas Rasul SAW bertanya kembali man ana? (Siapa aku?) Maka dijawab : Anta Rasululloh (Engkau Rasululloh). Kemudian syaikh Jiel Shadiq menjelaskan tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan hadits jariyah ini. Syaikh Jiel Shadiq menerangkan bahwa pertanyaan yang diajukan Rasul SAW kepada budak perempuan ini bukanlah terkait dengan arah atau tempat dimana Alloh melainkan arah para hamba ke dalam ‘menghadap’ kepada Rabbnya, bukan menunjukkan pada keberadaan Dzat Alloh SWT. Demikian seperti yang dituliskan Syaikh As Sindi dalam Hasyiyahnya.

Imam as Suyuthi dalam syarah kitab sunan Imam an Nasai menjelaskan tentang hadits jariyah, berkata imam an Nawawi : Ini adalah ayat tentang shifat Alloh dan terdapat dua pendapat mengenai hal ini :
1. Mengimaninya tanpa tawfidh dengan mengi’tiqodkan Alloh SWT tidak sama dengan makhlukNYA
2. Menta’wil dengan sesuatu yang sesuai dengan maksud yang dituju

Wahhabi mengetangahkan salah satu ayat dalam surah Al Mulk guna mendukung hadis jariyah dengan menyebutkan ayat : A amintum man fis samaa’  Apakah kalian tidak beriman kepada yang dilangit (QS. Al Mulk ayat 17). Sekali lagi syaikh Jiel Shadiq mengemukakan argumennya dengan menyebutkan kitab Shahih Muslim yang disyarah oleh Imam an Nawawi ra. berkata al Qodhi ‘Iyadh tidak terjadi ikhtilaf di antara kaum muslimin terkait dengan kata as Samaa-i seperti dalam kalimat a amintum man fis samaa-i dan yang semisalnya bukanlah dimaknai atas dzohirnya. Juga terkait dengan hal ini Imam Al Qurthubi  dalam tafsirnya mengatakan bahwa ini (a amintum man fis samaa-i) adalah isyarah bagi malaikat yakni Jibril yang bertindak sebagai wakil dari malaikat adzab. Jadi maknanya adalah : apakah kalian merasa aman kepada yang menciptakan man fis samaai (Jibril atau malaikat)  akan menjungkirbalikkan bumi sebagaimana telah dijungkirbalikkan bumi terhadap Qorun.

Berkata imam Abu Mashur al Baghdadi dalam kitabnya yang masyhur : Al Farqu bayna al Firoq :

Dan Ahlus Sunnah wal Jama`ah telah ijma` bahawasanya Allah s.w.t. tidak bertempat dan tidak berlaku atas-Nya masa, berbeda dengan pegangan golongan al-Hisyaamiyyah dan al-Karaamiyyah yang mendakwa Allah bertempat di arasyNya. Dan telah berkata Amirul Mu’minin ‘Ali r.a.: “Sesungguhnya Allah ta`ala telah menciptakan arasy untuk memperlihatkan kekuasaanNya dan bukan untuk dijadikan tempat bagi DzatNya”. Baginda SAW juga berkata: “Dan adalah Allah ta`ala ada tanpa tempat dan Dia berada sekarang sebagaimana sediakalanya”.

http://www.youtube.com/watch?v=xelYVyXbQkU

To view this music player you need to have Flash Player 9 or newer installed and JavaScript enabled. PodSnack is a flash MP3 player that allows you to create music playlists and integrate them into your website or blog.

To view this music player you need to have Flash Player 9 or newer installed and JavaScript enabled. PodSnack allows you to build a flash audio player for your website.

”LAU KAANA KHAIRAN LASABAQUUNAA ILAIHI”

(Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para Shahabat telah mendahului kita mengamalkannya)

Patutlah kaidah yang besar ini dihafal oleh setiap muslim untuk menghancurkan berbagai macam bid’ah yang orang sandarkan dan masukkan ke dalam agama Allah yang mulia ini, Al-Islam. 

Begitu di antara kandungan yang ada pada buku yang ditulis oleh Ustadz  Abdul Hakim bin Amir Abdat

BENARKAH INI KAIDAH BESAR SEHINGGA DIJADIKAN TOLOK UKUR HALAL HARAM DALAM AGAMA KITA ?

Berikut yang saya temukan sehingga akhirnya dapat disimpulkan bahwa ini sebenarnya

bukan kaidah besar melainkan kaidah yang membuat pola pikir muslim menjadi dangkal.

1. Mirip kaidahnya orang kafir ketika menolak al qur’an

Silakan dilihat :

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya dia (Al Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”. (QS 46: 11)

Dengan demikian dapat ditanyakan, 

apa pantas golongan yang menisbatkan diri pada SALAF membuat kaidah baru yang berawal dari ucapan kaum kafir untuk kemudian dijadikan kaidah haram halal ?

2. Menyalahi nash Al Qur’an

Sebagaimana kita tahu kaidah besar dalam agama ini di antaranyaAyat ini

وَمَا اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ َانْتَهُوْا

‘Apa saja yang dibawa oleh Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa saja yang dilarang oleh Rasul maka berhentilah (mengerjakannya). (QS. Al-Hasyr : 7)

Dalam AYAT ini disebutkan  bahwa perintah agama adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW, dan yang dinamakan larangan agama adalah apa yang memang dilarang oleh Rasulullah SAW.

Dan tidaklah  dikatakan:

وَماَ لَمْ يَفْعَلْهُ فَانْتَهُوْا

“Dan apa saja yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulul maka berhentilah (mengerjakannya).”

3. Menyalahi hadist mauquf dari Ibnu Ma’ud ra.

ما رءاه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رءاه المسلمون سيئا فهو عنداالله سيء

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, maka menurut Allah-pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab Al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Hadits ini dalam kitab-kitab ushul fiqh dijadikan salah satu dalil ijma’ (konsensus ulama mujtahidin) dan dalam kitab-kitab 

kaidah FIQH dijadikan dalil dalam kaidah al-‘Adah Muhakkamah. Hadits ini marfu’ sampai Rasulullah sehingga dapat dijadikan hujjah (dalil) untuk mentakhsish keumuman hadits tentang semua bid’ah adalah sesat.

Berikut ini komentar beberapa ulama :

‫ما جاء في أثر ابن مسعود رضي الله عنه:(ما رآه المسلمون حسناً فهو عند الله حسن وما رآه المسلمون قبيحاً فهو عند الله قبيح). كشف الأستار عن زوائد البزار” (1/81)، و “مجمع الزوائد‬” (1/177)

Dari atsar Ibnu Mas’ud ra. “Apa yg menurut umat islam umumnya itu baik, maka baik menurut Alloh dan apa yg menurut umat islam umumnya itu buruk, maka buruklah menurut Alloh [Kitab Kasy al-Astar an jawaz al-Bazzar juz 1 hal. 81 dan Kitab Majmu’ zawaid juz 1 hal 177]

‫قال ابن كثير: “وهذا الأثر فيه حكايةُ إجماعٍ عن الصحابة في تقديم الصديق، والأمر كما قاله ابن مسعودٍ‬“.

Ibnu Katsir berkata, Atsar ini didalamnya menjelaskan kesepakatan sahabat yg telah mendahului dlm hal2 kebenaran sebagaimana yg dikatakan Ibnu Mas’ud

‫وقال الشاطبي في “الاعتصام‬” (2/655):(

‫إن ظاهره يدل على أن ما رآه المسلمون بجملتهم حسناً؛ فهو حسنٌ، والأمة لا تجتمع على باطلٍ، فاجتماعهم على حسن شيءٍ يدل على حسنه شرعاً؛ لأن الإجماع يتضمن دليلاً شرعياً‬”)

Imam Syathibi dlm Kitabnya Al-I’tishom juz 2 hal. 655 [sesungguhnya yg secara zhohir apa yg menurut penglihatan org muslim umumnya mengandung kebaikan maka itu adalah baik, dan umat manusia tidak mgkn sepakat dalam kebatilan. Kesepakatan mereka pada seseuatu akan kebaikannya menunjukkan kebaikan menurut syari’at agama, karena kesepakatan umum mengandung hukum syara’ [hukum agama].

KESIMPULAN :

• Amalan-amalan yang selama ini dipermasalahkan sebenarnya memang dianggap baik oleh para ulama sehingga tidak patut kaidah seperti ”LAU KAANA KHAIRAN LASABAQUUNAA ILAIHI” karena ucapan seorang sahabat nabi lebih didahulukan• Legitimasi kebaikan tidak terbatas kurun Salaf melainkan juga berasal dari dari kaum mukmin.
Hal ini diperkuat oleh ayat :

‫ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غيـر سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيـرا‬ ( (‫سورة النساء : 115‬ )“Dan barang siapa yang menentang Rasulullah setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mukmin, maka kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang ia kuasai itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam neraka jahannam. Dan jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali” (Q.S. an-Nisa: 115)Penyebutan ” jalan orang mukmin” merupakan faidah bahwa legitimasi kebaikan ada juga pada orang-orang mu’min.

Andaikata format atau kulitnya sama dengan rasulullah maka dalam ayat tersebut (terj) pasti tercukupi dengan  :

““Dan barang siapa yang menentang Rasulullah setelah jelas baginya kebenaran , maka kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang ia kuasai itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam neraka jahannam. Dan jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali”Catatan :

Hadist ini juga bisa dipakai sebagai dasar menetapkan sesuatu dengan cara istihsan atas sesuatu yang pada kurun sahabat tidak ada .Secara etimologi istihsan berarti “memperhitungkan sesuatu lebih baik”, atau “adanya sesuatu itu lebih baik”, atau ” mengikuti sesuatu yg lbh baik”, atau “mencari yg lbh baik untuk diikuti, karena memang disuruh untuk itu.”

Adakalanya ada yang mengatakan istihsan dilarang oleh imam syafi’i. Namun sebenarnya istihsan yang dilarang ternyata tidak sama dengan yang dimaksud dalam madzab hanafi.

Ulama madzab syafi’i  yakni Imam Subki mendefinisikan istihsan yang diperbolehkan  sbb:

‫عدول عن قياس الى قياس أقوى منه‬ [beralih dari penggunaan satu qiyas kepada qiyas yg lain yg lbh kuat dari padanya [qiyas pertama]]

Wallahu a’lam

(Oleh: Dhimas, http://warkopmbahlalar.com)


Shalawat

Al Qur’an Online

Tawassul

Pengunjung

  • 633,985 Pembaca Setia

اهلا وسهلا بحضوركم

Ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Kebenaran datangnya dari Alloh SWT, kesalahan datangnya dari kelemahan diri saya pribadi. Jika ingin copy-paste silakan. Mohon masukan dan tegur sapa serta do'akan semoga tetap istiqomah di jalanNYA. Amien

Terima kasih atas kunjungan Anda

Allah exists without a place!

Sahabat Ali Ibn Abi Thalib berkata : "Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir." Seseorang bertanya kepadanya : "Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?” Sahabat Ali Ibn Abi Thalib menjawab : "Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah SWT) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan." (Imam Ibn Al-Mu'allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu'tadi)

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,017 other followers

December 2017
M T W T F S S
« Oct    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Twitter

Follow me

Shalawat

  1. preview.mp3
  2. M%2BArifin%2BIlham%2B-%2BYa%2BNabi%2BSalam%2BAlaika.mp3



Asas

Page Rank

Online

tracker

My 4shared

%d bloggers like this: